Headlines News :

Cerpen: Penjual Mayat

Written By ansel-boto.blogspot.com on Tuesday, May 29, 2007 | 1:22 PM

Oleh Ansel Deri
Penikmat Sastra;
menulis dari Rawasari, Kelurahan Kayu Putih
Jakarta Timur pada 22 September 2003

Matahari baru saja menyapa pagi. Sisa-sisa gerimis hujan yang mengguyur kota Kupang dari semalam masih bergelantung di pohon-pohon sepanjang jalan El Tari. Suasana sepanjang jalan depan kantor Gubernuran mulai dipadati dengan angkutan kota jurusan Walikota - Oepura yang bolak balik mengangkut penumpang. Begitu juga satu dua bus dalam kota ikut melengkapi suasana kota karang sehingga makin ramai.

Para loper koran sibuk menjajakan koran-koran lokal yang terbit di kota Kupang maupun dari luar kota seperti Ende atau Larantuka. Biasanya para penjual koran lebih memilih ruas jalan El Tari karena peluang untuk terjual lebih besar. Ada yang membentang di bawah rimbunan pohon sepanjang jalan. Suasana menjadi begitu hidup karena aktivitas manusia yang begitu tinggi.

Tapi pagi ini suasana menjadi hingar bingar. Para loper koran lari tunggang langgang tak mau menyaksikan seorang pria tua yang nongkrong di pintu masuk kantor Gubernur.

"Dia membawa potongan-potongan mayat. Tulisan yang tertera pada sehelai kertas menyatakan bahwa bungkusan dalam kantongnya adalah potongan-potongan mayat. Aku tak bisa berbohong karena tertangkap jelas kedua bola mata," kata Verry, loper koran yang biasa menggelar korannya sepanjang jalan El Tari.

"Kamu jangan berbohong. Bagaimana mungkin ada orang menjual potongan-potongan mayat?" Peter, seorang staf Gubernuran tak habis pikir.

"Benar, Pak! Bau amis potongan-potongan mayat itu menyengat hidung ketika aku mendekati bungkusan miliknya. Sampai-sampai sisa koranku tak kuhiraukan. Aku tinggalkan begitu saja," kata Very meyakinkan.

"Kamu tidak menanyakan penjualnya kalau jualannya itu benar-benar potongan mayat?"

"Orang itu tak mau bicara. Di atas secarik kertas tertulis 'Aku hanya bicara kalau ditanyai para pemimpin daerah'. Jadi orang itu tak mau bicara," tegas Verry.

"Jangan sampai orang itu mau bicara dengan Pak Peter. Apalagi Pak Peter kan pejabat juga."

"Kamu sudah mencoba menanyakan orang itu kalau dagangannya itu potongan-potongan mayat?"

"Lelaki itu hanya memberi isyarat. Kayaknya dia itu bisu. Atau...?"

"Maksudnya hanya mau bicara dengan petinggi-petinggi daerah ini?"

"Bisa seperti itu, Pak Peter."

***

DISKUSI di ruang kantor Gubernuran masih berlangsung. Beberapa bulan lalu memang sempat tersiar kabar kalau orang-orang di pedalaman, di pelosok-pelosok desa menderita berbagai penyakit. Ada yang menderita muntah berak kemudian perut membengkak segala. Ada yang demam saban hari kemudian maut memisahkan.

Mengharapkan bantuan poliklinik yang jadi andalan adalah sia-sia. Para petugas media punya alasan yang sama. Persediaan obat-obat untuk menyelamatkan nyawa masyarakat tak ada. Artinya, stok lagi tak ada. Padahal, jauh sebelum itu para petinggi daerah sudah mengumumkan bahwa setiap masyarakat akan diberikan pelayanan secara gratis. Maklum saja. Persoalan kualitas kesehatan masyarakat di pelosok-pelosok desa ternyata mengundang simpati para donatur asing untuk membantu.

Begitu juga petinggi-petinggi pusat tersedot segala rasa keprihatinan mereka menyaksikan kondisi masyarakat setelah berkunjung ke sana.

"Bapa-bapa dari pusat ini datang memberi bantuan kepada kita. Makanya kita harus berterima kasih karena mereka bisa membantu mengatasi masalah kesehatan di daerah kita."

"Termasuk bantuan dana untuk meningkatkan sarana kesehatan?"

"Ya, itu yang paling utama," jawab seorang petinggi daerah. Informasi itu tak pernah dilupakan. Warga berharap agar sarana-sarana kesehatan, semacam sarkes bias ditingkatkan. Biaya-biaya operasional petugas poliklinik diharapkan jangan disunat di tengah jalan.

"Tapi janji itu entah sampai kapan terkabul, saya tidak tahu. Warga saya satu per satu meninggal sia-sia. Saya terpaksa membawa potongan-potongan mayatnya sehingga Bapak-Bapak di sini tahu."

"Bagaimana Bapak bisa seberani ini? Artinya membawa potongan-potongan mayat orang?" tanya Peter di dalam ruang pertemuan.

"Saya juga malah tidak mengerti dengan jalan pikiran saya. Aneh. Aku juga bukan disuruh siapa-siapa. Tetapi menurut petunjuk..."

"Menurut petunjuk siapa? Anda diperalat siapa?" "Oh, bukan begitu. Yang jelas potongan mayat-mayat Aku bawa sendiri."

"Kenapa seperti itu?"

"Ya, itu tadi. Aku hanya mengikuti jalan pikiran saya."

"Tak ada alasan lain?"

"Ya, mungkin karena poliklinik di tempat kami lumpuh total. Bagaimana petugas kesehatan tak nampak batang hidungnya. Kemana kami harus berobat?"

"Bagaimana gambaran sarana-sarana kesehatan sebelumnya?" tanya Peter kepada lelaki penjual mayat itu.

"Begini..." Penjual potongan mayat itu membetulkan posisi duduknya. Serentak para petinggi selevel Pak Peter pun ikut-ikutan membetulkan posisi duduk masing-masing.

"Jauh sebelum Bapak-Bapak dan petinggi-petinggi dari pusat menjanjikan kami untuk memperbaiki dan meningkatkan sarana kesehatan, memang kondisinya jauh di bawah standar. Eh, maksudnya sangat memprihatinkan, begitu."

"Interupsi, Pak Penjual!" "Sabar dulu!" cegah penjual potongan-potongan mayat.

"Ini penting untuk sebuah klarifikasi positif."

"Ada waktu untuk Bapak petinggi yang terhormat."

"Ini penting, Pak!"

"Silahkan. Tapi jangan berlama-lama."

"Ini interupsi dalam rangka informasi."

"Oke, silahkan."

"Bukankah anggaran... Eh, dana untuk meningkatkan sarana kesehatan itu sudah sampai ke tangan orang-orang desa, termasuk Anda?"

"Nah, itu masalahnya."

"Kalau begitu teruskan informasinya!"

* * *

PINTU ruang pertemuan itu tertutup rapat. Para wartawan pun tak diijinkan masuk. Pak Peter dan para petinggi daerah lainnya nampak terkejut dengan pengakuan penjual potongan mayat di hadapannya. Kasak-kusuk di antara petinggi dalam ruang itu masih terkait dana sarana kesehatan yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Pasalnya, dana tersebut ternyata tak sampai kepada masyarakat.

"Padahal mereka benar-benar membutuhkan dana itu, Pak Peter."

"Tapi siapa yang mengatur lalu lintas dana itu untuk masyarakat?" Pak Peter malah balik bertanya.

"Nah, itu yang jadi soal. Selama ini memang pernah tersiar di media massa bahwa ada bantuan dana untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tapi, aneh. Kok tak bisa sampai ke masyarakat?" timpal seorang yang lain.

"Saya tahu. Di tempat ini pula digelar konferensi pers soal dana ini. Tak ada alasan bahwa dana itu belum sampai ke masyarakat," tegas seorang wartawan yang tiba-tiba nongol. Beberapa wartawan malah balik dan menjauh dari ruang pertemuan. Ya, siapa tahu mereka juga kebagian dana sarkes tadi.

"Kita harus segera melakukan klarifikasi soal dana ini," tegas Pak Peter, petinggi daerah itu. Penjual potongan-potongan mayat itu pun diam-diam angkat kaki dari dalam ruangan itu. Ia menyusul wartawan-wartawan tadi. Tanpa disuruh siapa-siapa, lelaki itu begitu saja beranjak mengikuti jalan pikirannya.

Sebuah bungkusan besar yang diyakini penjual koran sebagai potongan-potongan mayat diletakkan di atas pundaknya. Sedang potongan-potongan yang lain dipegang tangannya yang lain. Ia menuruni anak tangga. Bau amis potongan mayat-mayat seperti masih tersangkut di dinding ruangan. (Naskah ini dimuat Harian Fajar Bali, Denpasar)

Cerpen: Pohon Jati

Oleh Ansel Deri
Penikmat sastra;
menulis dari Rawasari, Kayu Putih
Jakarta Timur pada 12 Maret 2003

MAGUN baru saja menerima sepucuk surat dari kantor desa. Ini surat panggilan yang ketiga kali yang ditujukan kepada Magun menyangkut urusan kepentingan banyak orang di desa. Magun memang terkenal keras kepala, sifat khas yang diwariskan ayahnya. Terkadang Magun membandel dan tak mau mengikuti semua keputusan yang dibuat di kantor desa. Itu kesimpulan akhir dari Pak Desa setelah sekian lama hidup berdampingan dengan Magun di desa ini. Tapi menurut Magun yang hanya jebolan sekolah rakyat (SR), sikapnya itu wajar-wajar saja. Magun selalu mempertahankan hak-haknya sebagai seorang warga desa layaknya kepala desa. Justru hal ini membuat tetap teguh dalam prinsipnya. Ini adalah sebuah sikap yang wajar. Tanah yang sekarang ia tempati merupakan warisan orangtuanya. Pada waktu menerima surat panggilan sebelumnya, Magun sudah memberikan jawaban pasti. Bahwa ia tak merelakan tanahnya digusur untuk membuka jalan baru sekalipun diiming-imingi ada ganti rugi.

Semua orang tahu. Luas tanah itu tak seberapa. Lagi pula tanah itu sebenarnya tak begitu subur seperti lokasi lain di pinggiran desa itu. Beberapa jenis tanaman pernah diusahakan tetapi akhirnya tak bertahan hidup karena sepertinya berpacu dengan batu-batu karang mencari makanan di sekitarnya. Sekalipun demikian, tanah itu dianggap sebagai warisan orangtua dan berkat dari Dia Yang di Atas. Warisan ini pun sudah bisa menghidupi keluarganya yang dibangun puluhan tahun.

Dari tanah ini pula, Magun telah menyekolahkan anak-anaknya yang kini telah memiliki pekerjaan tetap. Pada waktu lalu, ketika Magun baru menetap di desa ini, orang-orang sepertinya tak pernah menganggap bahwa tanah ini bakal mendatangkan berkah bagi desa ini. Tapi, seiring perkembangan pembangunan, termasuk desa-desa di berbagai pelosok, banyak investor yang melirik tanah milik Magun. Di kantor desa, Magun merasa heran karena kedatangannya seperti seorang tamu terhormat. Pak Desa dan aparatnya sudah menunggu. Mereka duduk di ruang tunggu dan bersiap-siap menyambut kedatangan Magun. Bahkan sikap yang diperlihatkan Pak Desa dan aparatnya tidak seperti waktu-waktu lalu. Kini mereka sangat ramah, penuh canda. Padahal, untuk urusan-urusan seperti ini paling tidak terlihat sedikit situasi formalnya. Magun tak paham dengan kondisi ini. Biasanya, Pak Desa dan aparatnya menyambutnya dengan sikap acuh tak acuh. Kadang membuat muka Magun memerah bak udang goreng ketika Magun memasuki pelataran kantor desa. Atau kalau melihat Magun sudah menyamping merapat di depan gerbang kantor desa, selalu disambut petugas dengan ucapan, "Pak Desa lagi sibuk." Konsekuensinya, Magun tak mungkin bersua dengan sang kades. Yang jelas, Magun pulang dengan perasaan kecewa.

***

KINI perasaan Magun aneh memenuhi perasaan Magun. Curiga? Barangkali. Dari sikap Pak Desa membuat jidat Magun berkerut. Sesaat Magun memandang ke aparat desa yang sudah duduk melingkar di bawah tenda depan kantor desa. Dalam benaknya magun berpikir kalau Pak Desa dan aparatnya sedang bersekongkol. Jadi Magun tidak mau mengatakan itu secara terus terang bahwa mereka sedang memasang kuda-kuda, katakanlah taktik baru menaklukkan Magun yang sudah sekian lama mempertahankan tanahnya itu.

Jauh sebelum Magun disuruh menempati sofa di bawah tenda itu, dia sudah dipersilahkan mengambil tempat di samping Pak Desa. Keramahtamahan Pak Desa terhadap Magun nampak jelas. Sekali-sekali aparat Desa tersenyum melihat keramahan yang sengaja ditunjukkan Pak Desa. Sebatang sigaret kesukaan Pak Desa tetap setia menemani mereka dalam canda ria.

"Begini, Magun...," kata Pak Desa memulai membangun strategi melunakan hati Magun.
"Kami dari Pemerintahan Desa selalu menghargai hak-hak warga. Dan sikap yang Magun ambil itu sangat kami hargai. Tapi Magun tahu, kan? Kita ini, termasuk Magun adalah warga yang baik. Selalu mau berkorban untuk kepentingan banyak orang."

"Dan seharusnya demikian, Pak Desa. Kalau selagi pengorbanan itu untuk banyak orang, mengapa harus kita tolak. Namanya juga partisipasi dalam memajukan desa kita," kata Magun meyakinkan Pak Desa. Pak Desa tersenyum. Aparat desa pun ikut-ikutan tersenyum. Satu kemenangan nampak mulai diraih Pak Desa dan aparatnya. Kalau saja Magun tetap bersitegang mempertahankan tanah yang kini akan digunakan unuk kepentingan desa, akankah maksud besar ini tercapai?

Pak Desa bertanya-tanya dalam hatinya. Upaya ini sudah dilakukan Pak Desa, namun selalu nihil. Itu tadi. Magun tidak merelakan tanahnya digusur. Namun kini Pak Desa mulai menemui titik terang. Semua aparat desa menampakkan wajah senang setelah Magun mengomentari penjelasan Pak Desa. Kalau sebagai warga desa yang baik kita selalu mau berkorban untuk kepentingan banyak orang.

***

LAMA sekali canda dan tawa diantara mereka. Penantian panjang menunggu jawaban pasti dari Magun suda berada di ambang penyelesaian. Kini Magun pasti bisa ditaklukkan. Pikir pak Desa. Berarti semua kegiatan berjalan mulus. Tanah yang kini ditempati Magun bisa ditimbun untuk jalan kendaraan.

"Jadi itu, Magun." Pak Desa mengulang kata-katanya seperti tadi, "sebagai warga Desa yang baik, kita harus berkorban demi kepentingan umum. Kamu tentu tahu juga kalau desa-desa tetangga kita sudah pada membangun. Ada yang sudah maju sekali. Kita tentu harus meniru desa-desa lain. Begitu, kan?" Pak Desa menatap Magun lama sekali. Sekali-kali dengan senyum yang khas. Sebagai warga desa yang baik tentu Magun juga tidak menghendaki kalau kondisi desa ini begitu begitu saja. Dengan sedikit malu, sambil menyedot pipa rokoknya, Magun mengiakan ucapan Pak Desa tadi.

"Tentu begitu, Pak Desa. Kami juga ingin supaya desa kita ini lebih maju dari desa-desa tetangga kita."

"Itu jawaban yang selalu kami tunggu, Magun. Tak usah menutup-nutupi hal itu. Magun perlu mengungkapkan isi hati agar sebagai pemerintah desa kami bisa tahu."

"Jadi bagaimana dengan kepastian itu?"

Petanyaan itu terasa mengganggu Magun. Rasa benci pada orang nomor wahid di desa ini kambuh lagi. Kenapa Pak Desa selalu memanggilnya hanya untuk mendapatkan kepastian tentang tanah itu sementara sudah ada kepastian kalau dia tidak merelakan tanahnya? Pertanyaan itu muncul lagi. Pak Desa memperbaiki posisi duduknya ketika melihat air muka Magun. Kalau saja tanah itu digusur, kemana mereka harus pegi? Mengadu ke DPRD saja urusannya jadi panjang. Wakil-wakil rakyat di sana pasti bosan melihat kedatangan Magun. Artinya, belum tentu mendapat angin segar. Katakanlah bisa memperoleh lahan baru apalagi harga tanah sekarang sudah mencekik leher. Jelas tidak mungkin memperoleh tanah seukuran milik Magun. Itu pikiran Magun.

"Jadi bagaimana keputusan Magun?" tanya Pak Desa merayu. Magun masih nampak tenang-tanang saja. Kali ini dia mau memberikan jawaban pasti. Sebentar saja Magun menggelengkan kepala. Isyarat itu ditangkap Pak Desa sebagai jawaban yang memojokkan. Kepala Pak Desa nyaris pecah melihat Magun geleng kepala bertanda dia menolak. Dia menyumpah Magun dalam hatinya. Ya, cuma dalam hati karena Pak Desa tidak mau maksudnya ini tidak tercapai.

"Apa perlu kalau ganti rugi itu perluh ditambah?" tanya Pak Desa hati-hati.

"Kami sudah memikirkan kalau alternatif terbaik yang ditempuh Pak Desa yakni dengan memberi ganti rugi. Tetapi itu tidaklah berarti buat kami, Pak Desa," kata Magun sekali lagi.

"Bisa jadi tujuh kali lipat. Atau lebih dari itu. Yang terpenting kamu bersedia atau tidak. Itu saja, Magun."

"Sebenarnya bukan itu yang membuat kami pikiran. Tetapi.."

"Tetapi apa, Magun?" Ada satu kemenangan yang Pak Desa raih.

"Katakan saja, Magun. Tak usah malu-malu. Namanya juga perundingan."

"Pak Desa tentu tahu. Pohon-pohon jati itu. Pohon-pohon jati, Pak Desa. Kami tidak mau kualat dengan leluhur kami. Sungguh. Sungguh, Pak Desa!"

Pak Desa tampak tak memahami pengakuan Magun. Apa sih, hubungan dengan pohon-pohon jati itu? Orang ini memang sudah tidak waras lagi. Pak Desa menyumpah Magun dalam hatinya. Kalau soal kemana mereka harus diungsikan, barangkali hal ini yang harus dipikirkan. Lho, kalau pohon-pohon jati aja nggak mau dipotong, apa salahnya, sih? Umpatan ini biasanya dilontarkan Pak Desa bila menghadapi orang-orang yang keras kepala di desanya.

"Jujur saja, Magun. Kami belum paham dengan pendapat Anda," kata Pak Desa.

"Nenek moyang kami, seperti yang diamanatkan para leluhur, bahwa kami tidak boleh menebang pohon-pohon jati itu. Karena pohon itu adalah sumber hidup kami. Dan kualat bila pohon-pohon itu ditebang. Dosa, Pak Desa."

Magun menghentikan penjelasanya pada Pak Desa dan aparatnya. Dia takut kalau mendapat bogem mentah dari Pak Desa. Seluruh isi ruangan itu meninggalkan Magun seorang diri. Magun diklaim segala sebagai orang yang sudah tidak waras lagi. Karena perundingan dari hati ke hati itu tidak membawa suatu keputusan.

***

BEBERAPA hari kemudian, Magun melihat pohon-pohon jati di belakang maupun di samping rumahnya sudah disensor, termasuk pohon-pohon jati yang dianggap sebagai pohon keramat itu. Magun berteriak-teriak. Ia menangisi pohon-pohon jati yang ludes digilas sebuah loder besar. Lelaki itu ditangkap pihak keamanan karena dianggap gila. Dia dikepit beberapa anggota hansip dan dilarikan ke sebuah klinik yang tidak jauh dari desa itu. Tetapi Magun tidak gila sehingga dia kabur dari rumah sakit tidak lama berselang. Setelah mendapati rumahnya sudah ditutupi aspal butas, dia menangis sejadi-jadinya. Yang ditangisi bukan hanyan karena rumahnya yang tergusur tetapi juga pohon jati. Dia takut dimarahi para leluhurnya karena kehilangan pohon-pohon itu. Karena hukumnya hanya dibayar dengan maut. Orang-orang desa itupun semakin heran karena Pak Desa selalu kebut-kebutan malam hari dengan mobil biru tua yang baru ia beli.

Aloysius Ola Pukan dan Aloysia Kewa de Ona: Saatnya Menuai

Written By ansel-boto.blogspot.com on Monday, May 14, 2007 | 11:33 AM

Pasangan Aloysius Ola Pukan dan Aloysia Kewa de Ona hanyalah petani tradisonal di Lembata, Nusa Tenggara Timur. Namun, delapan dari sembilan anaknya meraih sarjana. Seorang di antaranya menjadi pastor.

MESKI telah memasuki masa senja, Aloysus dan Aloysia masih masih energik. Selama puluhan tahun mereka mengandalkan hidup dari ladang dengan sistem tebas bakar. Warga Dusun Kluang, Desa Belabaja di Pulau Lembata ini mendidik anak-anak mereka dengan memberi contoh. Bukan sekadar kata-kata.

Sebagai orangtua yang bertanggungjawab, mereka membina dan mengarahkan anak-anaknya agar tekun menimba ilmu demi masa depan. Doa dan permohonan kepada Tuhan serta devosi kepada Bunda Maria yang terus-menerus membuahkan hasil.

Anak sulung mereka Payong Pukan Martinus kini menjadi Kepala Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Lembata. Sedang tujuh mereka lainnya juga berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan bertugas di NTT. Sedangkan seorang anak mereka, Stef Smata Pukan, memilih menjadi imam Serikat Sabda Allah (SVD). Kini Pastor Stef menjadi misionaris di uar negeri. Sebelumnya, ia sempat berkarya di Keuskupan Ruteng, Manggarai, Flores.

Menurut Aloysius, anak adalah permata dan titipan Tuhan yang perlu dirawat, didik dan dibesarkan menurut tradisi iman Katolik. Dengan demikian, kelak mereka bisa berguna bagi Gereja, bangsa, dan negara. “Tugas orang tua adalah mengantar anak-anaknya untuk menyongsong masa depan yang cerah,” tandasnya.

Aloysius dan Aloysia sadar, keberhasilan membimbing dan mengarahkan anak-anaknya meraih masa depan mereka tidak bisa lepas dari ketekunan berdevosi kepada Bunda Maria.

“Saat seorang anak saya minggat dari sekolah dan suka keluyuran ke hutan mencari ayam hutan, saya bingung. Saya harus keluar masuk hutan mencarinya hingga ia bisa masuk sekolah kembali. Saya hanya meminta bantuan Bunda Maria agar anak saya disadarkan,” kenang Aloysius. Lalu, ia mencarinya keluar masuk hutan agar anaknya mau masuk sekolah lagi. “Saya meminta bantuan Bunda Maria agar anak saya ini disadarkan,” ungkapnya.

Penuh perjuangan

Aloysiua mengenang masa mudanya yang penuh perjuangan. Ketika usianya memasuki 25 tahun, ibunya menyarankan agar ia segera mencari menyunting gadis desanya untuk menjadi pendamping hidup. Sang ibu khawatir ia menjadi bujang lapuk.

Awalnya, Aloysius menolak. Ia beralasan, sang ayah yang menjadi sandaran hidup keluarga telah meninggal dunia. Apalagi, urusan pernikahan pasti membutuhkan dana yang tidak sedikt. Almahrum ayahnya hanya seorang petani kecil yang tidak mewariskan harta yang cukup. Dan yang Aloysius merasa khawatir adalah karena ia tidak mempunyai pekerjaan tetap.

Aloysius merenungkan kembali kata-kata ibunya yang terus-menerus menganjurkan agar ia segera menikah. “Seandainya sudah ada pekerjaan, sekecil apapun penghasilan, bisa memberikan jaminan untuk menafkahi istri dan anak-anak,” katanya berandai-andai.

Selama beberapa waktu Aloysius menimbang-nimbang nasihat ibunya. “Barangkali Mama akan bahagia kalau melihat saya berumah tangga,” simpulnya.

Lalu, Aloysius berusaha agar bisa memperoleh pekerjaan tetap. Dengan demikian ia bisa mewujudkan keinginan ibunya. Setelah itu, ia mulai membidik gadis desanya, Aloysia Kewa de Ona. Gadis sederhana itu menawan hatinya. Mula-mula ia menulis surat kepada Aloysia untuk mengungkapkan isi hati sekaligus perasaan cintanya. Namun, jawaban surat Aloysia membuatnya kecewa. Gadis itu menolak cinta Aloysius!

Penyebabnya, orangtua Aloysia tidak berkenan melihat watak Aloysius yang dinilai kasar dan keras. Awalnya, orangtua Aloysia menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Aloysius. Kemudian dengan terus terang mereka mengingatkan Aloysius agar tidak boleh main gila dengan putrinya. “Kalau memang benar-benar saya mencintai anaknya, saya harus menghadap keluarganya,” kenang Aloysius.

Karena merasa diancam oleh keluarga Aloysia, Aloysius mengungsi ke Lamalewar, kampung tetangganya. Selama dua minggu ia bertahan di Lamalewar. Selama dua minggu ia bertahan di sana dan rajin mengikuti kebaktian mingguan. Sekembali dari Lamalewar, sang ibu mendatangi rumah orangtua Aloysia. Ia menyampaikan kesungguhan niat Aloysius mempersunting Aloysia.

Setelah melintasi masa pacaran, tahun 1948, kedua sejoli yang dimaduk asmara itu menyatakan akan menjadi pasangan suami-istri. Namun, pernikahan itu sempat tertunda selama dua tahun.

Aloysius memutuskan untuk merantau terlebih dahulu ke Kupang selama beberapa waktu. Setelah mempertimbangkan kembali hingga matang, akhirnya tahun 1950 pasangan Aloysius dan Aloysia saling menerimakan Sakramen Perkawinan di Gereja St. Joseph Boto. Janji saling setia pun berkumandang di hadapan Pastor Bernard Bode, SVD. Saat itu, imam asal Jerman itu berkarya di Paroki Lamalera.

Jatuh sakit

Di awal menjalani kehidupan rumah tangga, Aloysus mengalami cobaan besar. Tahun 1951, ketika anak pertamanya lahir, Alo jatuh sakit. Selama lima tahun ia hanya terbaring di atas tempat tidur karena pendarahan. Dari hidungnya selalu mengalir darah segar. “Saya serahkan hidup dan mati saya kepada Bunda Maria. Selama itu, saya pertaruhkan hidup saya hanya kepada Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus. Setiap malam saya berdoa Rosario,” kenang Aloysius.

Dalam situasi yang serba sulit, ia hanya bisa berpasrah. Ia serahkan penderitaan pada kebesaran Tuhan dan Bunda Maria. Ia berpikir, kalau benar-benar Tuhan memanggil dirinya, maka ia menyerahkan diri sepenuh hati. Dalam kondisi demikian, ia teringat pesan Almahrum ayahnya bahwa meminta berkat dan rahmat dari Tuhan dan Bunda Maria, bukan hanya sekali atau dua kali. Hal itu harus dilakukan terus-menerus. “Menurut ayah saya, kalau hal itu kita lakukan terus-menerus akan ada mujizat dalam hidup kita,” sitir Aloysus.

Ternyata, pesan ayahnya bukan omong kosong belaka. Keajaiban Tuhan dan Bunda Maria sungguh ia rasakan. “Doa Rosario yang kami lakukan setiap malam ternyata sangat ampuh. Bunda Maria mendengar doa dan permohonan saya atas penderitaan saya,” kata Aloysius menegaskan.

Nyatanya, usahanya mendatangi orang-orang di desa tetangga untuk membantu menyembuhkan pendarahan yang menimpanya dibarengi dengan doa, tidaklah sia-sia.

Makin dekat

Kesembuhan dari penyakit pendarahan selama bertahun-tahun membuat Aloysius makin dekat dengan Tuhan dan Bunda Maria. Sejak itu, ia kian menghidupkan devosi kepada Bunda Maria dan keluarga kudus dari Nazareth. Tak ada hari terlampaui tanpa berdoa dengan perantaraan Bunda Maria.

Padahal, untuk berdoa dan berdevosi saat itu mereka menghadapi sedikit kendala. Gambar-gambar suci Bunda Maria, Tuhan Yesus, dan Santu Yoseph merupakan barang langka saat itu. Kalau pun ia memilikinya, gambar suci itu makin buram. Warnanya telah pudar.

Aloysius tak kehilangan akal. Syukurlah, ia bisa menggambar ala kadarnya. Dengan sedikit keahlian menggambar, Aloysius pun menggambar sendiri wajah Bunda Maria, Tuhan Yesus, dan Santu Yosep. Lalu, gambar-gambar itu, ia letakkan di pojok kamar keluarganya. “Gambar itu menjadi salah satu sarana kami untuk berdoa bersama-sama,” imbuh Aloysius.

Tak hanya itu. Aloysius juga mengukir patung Bunda Maria dan Tuhan Yesus yang tergantung di salib. Ia berusaha semampu mungkin agar patung bikinannya bisa mirip dengan wajah Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang ia lihat di gambar-gambar. Setelah patung-patung itu jadi, ia tak ragu membawanya ke Pastor Paroki Boto untuk diberkati. “Semua itu menjadi sarana kami berdoa,” tambahnya lagi.

Sejak anak-anak masih kecil, Aloysius dan Aloysia sudah membiasakan mereka berdoa. Setiap malam mereka selalu berdoa bersama. Begitu juga setiap pagi mereka selalu mengawali aktivitas harian dengan berdoa. Sejak Aloysius masih muda, ia sudah berharap agar Tuhan berkenan memanggil putra sulungnya untuk berkarya di ladang-Nya. "Toh, Tuhan mempunyai rencana lain. Bukan anak pertama yang dipanggil-Nya menjadi imam tetapi justru putra ketujuh.”

Bagi Aloysius dan Aloysia, doa dan kerja merupakan dua hal yang penting yang selalu seiring sejalan. Mereka selalu menegaskan kepada anak-anak agar kapan pun dan di mana pun, selalu mengawali dan mengakhiri tugas masing-masing dengan doa. “Selain itu, disiplin dalam bertugas juga kami tanamkan kepada mereka dalam segala aktivitas mereka,” tandas Aloysius.

Tak mengherankan, seiring waktu yang bergulir, anak-anaknya berhasil menamatkan pendidikan tinggi. Dan, mereka bias menempati posisi yang baik sebagai Pegawai Negeri Sipil. “Saat ini, kami seperti menuai apa yang dulu kami tabur,” tandas Aloysius.

Hingga kini di usia senja, pasangan Aloysius dan Aloysia tetap menggarap lahan mereka. Meski anak-anak mereka telah berhasil, mereka tak mau merepotkan. Dan, hingga kini pula Aloysius dan Aloysia tetap mengawali dan mengakhiri aktivitas keseharian mereka dengan doa. (Ansel Deri/Hermien Botoor)
Sumber: HIDUP No. 19 Tahun ke-61 tanggal 13 Mei 2007

F Djoko Poerwoko: Eks Merto Jadi Penerbang Handal

Ada dua hal penting yang harus dilakukan seorang penerbang jika sukses dalam penerbangan. Siap terbang dan siap menghadapi keadaan darurat.

MARSEKAL Muda Pnb (Purn) TNI Faustinus Djoko Poerwoko adalah satu dari sekian pilot pesawat tempur berprestasi di Indonesia. Ia menjalani tugasnya sebagai pilot di lingkungan TNI, khususnya TNI Angkatan Udara.

Baginya, dua hal di atas penting dimiliki seorang penerbang dalam sebuah misi penerbangan. “Dua hal penting itu harus dilakukan. Kecelakaan terjadi bisa karena kita tidak siap,” ujar Djoko saat ditemui di rumahnya, Kompleks Trikora, Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Pernyataan itu tentu beralasan. Apalagi, belakangan ini kerap muncul kecelakaan pesawat terbang. Apakah ada yang salah dengan dunia penerbangan kita? Menurut pilot tempur yang sempat menjadi siswa Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah ini, ada dua hal penting yang harus dipahami. Pertama, tidak ada penerbang yang ingin celaka. Kedua, tidak ada kecelakaan yang direncanakan. “Kita enggak ingin celaka dan kecelakaan tidak pernah direncanakan. Itu adalah proses alamiah jadi tidak perlu takut,” ujar Djoko.

Sebelum terbang

Selama berada di udara dengan pesawat tempur Djoko tak pernah merasa takut. Ia selalu mencurahkan perhatiannya pada intrumen pesawat. Ketakutan kadang justru muncul saat sebelum dan sesudah terbang. Ayah dari Amelia Dini Poerwoko dan Bernard Deny Poerwoko ini mengemukakan, ada langkah yang harus dipersiapkan seorang penerbang sebelum menjalankan misinya di udara.

Mantan Dan Lanud El Tari/Kupang ini mengatakan, mesin memang bisa rusak kapan saja. Tapi kalau pilot sudah siap menghadapi mesin saat rusak, tidak akan menjadi masalah. Begitu pula menghadapi cuaca jika tiba-tiba buruk, itu yang harus dipelajari dan disiapkan sebelumnya.

Pesawat tempur yang dikemudikan Djoko pernah beberapa kali sempat mati di udara. Ia mengaku tidak cemas karena sudah ada prosedur yang mesti dilalui sehingga tetap bisa terbang dengan aman dan lancar. Umumnya, kalau mesin mati kemudian pilot salah mengoperasikan, mesin tambah mati. “Makanya, kalau ditugaskan untuk terbang maka laksanakan misi itu sebaik mungkin. Persiapkan juga segala sesuatu semaksimal mungkin,” jelas Djoko.

Menurut Djoko, aturan-aturan penerbangan di Indonesia sudah lengkap dan bagus sekali. Meski demikian, kecelakaan tetap saja terjadi. Djoko mengimbau agar aturan-aturan yang sudah dikeluarkan pemerintah dijalankan sebaik mungkin. Jika hal itu sudah berjalan maka semua akan lancar.

Djoko juga mengingatkan, jika seorang penerbang belum waktunya jadi penerbang, janganlah terbang. Jika belum siap, jangan dipaksa terbang karena bisa celaka. “Sekarang kan banyak pemaksaan aturan terbang. Saya lihat kalau di dunia penerbangan sudah ada aturannya dan sekarang tinggal dijalani saja,” tegas Djoko.

Jual koran

Selama menapaki hari-hari dalam hidupnya, Djoko termasuk prajurit yang sangat loyal pada tugas. Ia mengaku, waktu untuk keluarga mungkin hanya tersisa 25 persen. Praktis tugas mendidik anaknya dilakukan istri tercinta, Stefani Nining Poerwoko.

Pengalaman yang tak pernah ia lupakan saat seorang anaknya masuk rumah sakit. Saat itu Stefani harus bergadang sendiri di rumah sakit untuk menjaga anaknya karena mereka tak mampu bayar pembantu.

Pernah seorang anaknya yang lain merengek minta dibelikan mainan. Padahal, saat itu ia tidak punya uang. “Koran-koran dan botol-botol bekas yang ada kami jual. Setelah dapat uang baru kita beli mainan anak. Kehidupan saat itu memang keras karena kita hanya mengandalkan gaji yang pas-pasan. Tapi, semua itu ada hikmahnya,” katanya.

Diam-diam ternyata Stefani menyimpan bakat melukis. Seiring perjalanan waktu, bakat ibu ini terus terasa hingga ia terlibat dalam berbagai kegiatan pameran lukisan. Sedang Djoko menunaikan tugas-tugasnya sebagai penerbang tempur. Kerja keras mereka membuahkan hasil. Anak sulungnya, Amelia Poerwoko berhasil meraih gelar Sarjana Ekonomi. Kini ia tengah mendalami studi tentang design di Kuala Lumpur, Malaysia. Sedang putranya, Bernard Deny Poerwoko, saat ini bekerja di BRI Semarang, Jawa Tengah.

Eks Merto

Djoko Poerwoko lahir di Klaten, Jawa Tengah, 9 September 1950. Ia terlahir sebagai anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Djoko memiliki enam saudara laki-laki dan tiga perempuan. Ia tumbuh dan besar di Delangu, sebuah dusun kecil antara Klaten dan Solo.

Djoko dan keluarga besarnya adalah penganut non Katolik. Saat di kelas 4 SD ia dibaptis secara Katolik. Seiring usia yang bertambah, di akhir tahun 1978, Djoko menyunting gadis pilihannya, Nining, dalam sebuah ikatan perkawinan meski berbeda keyakinan. Saat itu keduanya sepakat bahwa anak pertama lahir dibaptis secara Katolik. Sedang anak kedunya dibiarkan mengikuti keyakinan istrinya.

Namun, setelah 12 tahun mengarungi bahtera rumah tangga dengan perbedaan keyakinan, akhirnya Tuhan memiliki rencana lain. “Saat saya bertugas di Kupang tahun 1992, ibu dan anak kami yang kedua dibaptis secara Katolik. Upacara pembaptisan dipimpin Pastor Sebastianus Wajang, SVD. Saya percaya semua ini adalah rencana Tuhan dan indah adanya,” kata Djoko.

Sejak kecil, Djoko sudah jadi misdinar. Tak ayal, pada perayaan Natal dan Paskah ia selalu ambil bagian dalam tugas. Bersama dua temannya, mereka masuk Seminari Mertoyudan namun karena tidak krasan, Djoko dan seorang temannya berhenti. Seorang rekannya, Ageng Marwoto berhasil menjadi imam Yesuit (SJ). Romo Ageng Marwoto kini jadi dosen sekaligus direktur SMU de Brito Yogyakarta.

Jadi penerbang

Meski gagal bertahan di seminari, Djoko merasa dirinya dibentuk oleh model pembinaan ala seminari. Ia mengaku menjadi sosok yang tertib dan disiplin. Setelah lulus SMA St Joseph Solo, ia masuk AKABRI tahun 1970 dan lulus 1973. Djoko muda melanjutkan studi di Sekolah Penerbang Yogyakarta dan lulus tahun 1975. Sejak lulus hingga 1990, menjadi penerbang tempur di Madiun.

Prestasi yang ia tunjukkan membuatnya mendapat kepercayaan sebagai Kepala Dinas Operasi Pangkalan Udara Hassanudin, Makassar. Selepas dari kota Anging Mamiri, Djoko terbang ke Kupang, NTT, sebagai Komandan Pangkalau Udara El Tari selama tiga tahun. Selepas dari Kupang, ia dipindahkan ke Pekanbaru dan mendapat kenaikan pangkat kolonel.

Kemudian, pada 1997, ia kembali ke Jakarta. Tak lama berselang, sejak 1999 sampai 2002 ia menjadi Komandan Pangkalan Udara Iswahyudi Madiun. Ia mendapat promosi dan naik pangkat Bintang Satu.

Setelah dari Madiun, ia kembali ke Jakarta. Ia sempat bertugas di Mabes AU dan Mabes TNI. Sejak 2003, Djoko menjabat Panglima Komando Pertahanan Nasional (TNI-AU/Mabes TNI?) hingga pensiun 2006. Pria yang murah senyum ini pensiun dengan bintang dua berpangkat Marsekal Muda.

Warga stasi St Agustinus Halim Perdanakusuma, Paroki St Antonius Bidaracina Jakarta ini ternayat punya bakat menulis. Selama masih aktif, artikel-artikel tentang kedirgantaraan kerap muncul di majalah Angkasa dan TSM. Kemudian ia juga meluncurkan tiga buku kedirgantaraan, antara lain Perjalanan dan Pengabdian Skadron Udara 11 (1999), My Home My Base (2001), dan Dog Fight (2001), Great Airman (2002), The Long Journey of Air Combat (versi bahasa Ingrris, 2003), dan Propatria Fulcrum (2005). Buku terakhir Fit Via Vi (2006) merupakan otobiografinya. Sejumlah artikel opininya tentang kedirgantaraan sering muncul di Kompas.

Djoko mengatakan, “Saya percaya sampai saat ini saya masih hidup, itu karena sentuhan tangan Tuhan. Itu sangat saya yakini sehingga hidup ini dijalani apa adanya.” Setiap tugas dan karya,s elalu diawali dan diakhiri dengan doa.

Pria yang punya motto Laksanakan Tugas Sebaik-baiknya dan Kerjakan Tugas Secepat-cepatnya itu, percaya Tuhan selalu hadir sekalipun ia berada di udara. Itulah yang membuatnya tak gentar dalam menerbangkan pesawat. (Ansel Deri)
Sumber: HIDUP No. 19 Tahun ke-61 tanggal 13 Mei 2007
Ket foto: F Djoko Poerwoko bersama istri. Foto: Istimewa

Petrus Bala Pattyona: Putra Lembata di Balik Geger Inu Kencana

Nama dosen Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Inu Kencana Safiie melangit. Inu menguak borok kampus IPDN menyusul tewasnya praja Clif Muntu, mahasiswa utusan Manado, Sulawesi Utara, 2 April lalu.

Petrus Bala Pattyona, SH, MH, kuasa hukum Inu mendorong dosen senior IPDN itu bicara apa adanya. Salah-benar dikatakan sejujurnya. Pasalnya, kasus Cliff Muntu hanya puncak gunung es dari berbagai kasus di kampus pencetak calon birokrat yang terletak di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat itu.

Selama ini ditengarai praktek penyiksaan yang berakibat kematian, narkoba, aborsi, dan lain-lain marak tapi tak pernah terendus pihak berwajib. Uang telah menjadi raja atas segala praktet haram itu. Pihak-pihak berkompeten pun seolah melakukan gerakan tutup mulut karena takut terancam nyawa dan jabatannya.

“Saya minta Pak Inu bicara apa adanya dan jangan takut menghadapi ancaman dan teror. Saya katakan akan setia di belakang beliau. Saya yakinkan Pak Inu bahwa kehidupan dan kematian diatur Dia yang di Atas. Kalau diancam untuk dibunuh saya minta Pak Inu mengatakan kepada peneror bahwa tak usah membunuhnya. Toh, nanti juga akan mati atas perkenan Tuhan. Setelah kita gelar konperensi pers, maka kasus-kasus yang terjadi di IPDN selama ini terkuak. Dan kasus Clif hanya satu bagian kecil kebobrokan model pendidikan di IPDN,” ujar Petrus Bala Pattyona.

Acara wisuda

Perkenalan Petrus –begitu sapaan akrab Petrus Bala Pattyona- dengan Inu Kencana Safiie sebenarnya bermula dari Bandung. Pada 28 Maret lalu, advokat dan pengacara asal Dusun Kluang, Desa Belabaja (Boto), Lembata ini berkesempatan menghadiri ujian promosi doktor koleganya, Tommy Sihotang, SH, LLM di Universitas Pajajaran Bandung.

Pengacara kondang Tommy Sihotang meraih gelar doktor bidang Hak-hak Asasi Manusia (HAM) di hadapan tim penguji antara lain pakar hukum yang juga Gubernur Lemhannas Prof Dr Muladi, Prof Romli Atmakusumah, dan seorang guru besar Unpad.

Saat itu, cerita Petrus, ia bersama sejumlah petinggi TNI seperti mantan Menhankam/Pangab Jendral TNI (Purn) Wiranto, beberapa mantan petinggi militer, dan sejumlah wartawan media cetak dan elektronik.

Usai sidang, mereka mengikuti acara resepsi. Di sela-sela makan bersama, seorang mahasiswa Unpad asal Sumedang berkenalan dengan Petrus. Bersama beberapa mahasiswa lain mereka pun terlibat ngobrol santai.

“Rekan-rekan mahasiswa itu mengaku selama ini hanya mendengar nama saya dari media. Kami akhirnya saling bertukaran kartu nama. Ada yang bertanya kapan saya jadi doktor mengikuti jejak rekan saya Tommy Sihotang. Mahasiswa asal Sumedang ini meminta saya sewaktu-waktu menelpon saya sekadar say hello. Ternyata dua hari setelah kematian Cliff Muntu yakni pada 4 April, saya ditelepon,” kata Petrus.
Om Inu Tertekan

Dalam pikiran Petrus, Inu Kencana Safiie tak pernah terbayang. Saat menerima telepon mahasiswa itu, si penelpon meminta agar Petrus membantu om-nya karena saat itu benar-benar berada dalam kondisi tertekan dan ancaman teror pihak kampus. Baik oleh rektor, dekan maupun mahasiswa. Si mahasiswa itu meminta Petrus membela omnya itu yang belakangan ketahuan bernama Inu Kencana Safiie.

“Saya tak punya bayangan kalau om-nya itu bernama Inu Kencana Safii. Mahasiswa itu meminta kesediaan saya membela om-nya. Saya tanyakan, apa masalahnya. Ia mengatakan bahwa omnya yang melaporkan kasus kematian Cliff Muntu ke Polres Sumedang. Tapi kasus itu mau sengaja ditutup-tutupi agar tak diketahui pihak luar. Saat itu saya bicara langsung dengan Pak Inu,” jelas Petrus.

Setelah berkenalan sebentar via telepon, Inu merasa puas bisa mengungkapkan isi hatinya terkait persoalan yang tengah melilitnya. Dalam perbincangan singkat itu, sang dosen mengaku bahwa sebenarnya kasus yang dihadapinya nggak ada masalah bila ditelaah dari aspek hukum. Namun, Inu merasa sangat tertekan karena diteror dan ditekan habis-habisan oleh lembaganya. Bahkan ia sangat sedih karena diskors tidak bisa mengajar di IPDN.

“Setelah mendengar sepintas, saya mengatakan bahwa melihat problem yang dialamainya, belum ada satu konflik hukum yang perlu saya tangani. Pak Inu kemudian mengatakan, kalau ada masalah serius maka ia segera menghubungi saya. Saat itu ia juga masih menanyakan apa saya bersedia membelanya. Ya, sebagai pengacara tentu saya tak mungkin menolak karena sudah jadi kewajiban sebagai pengacara. Saya masih menayanyakan bentuk ancaman dan teror kepada beliau,” lanjut Petrus.

Sang dosen kalem itu pun buka mulut. Ia mengaku pernah dikirim pesan singkat (SMS) kalau ia akan diusir dari IPDN. Ia juga pernah diancam untuk dibunuh. Istri dan anak-anaknya merasa terancam. Seolah tak percaya dengan kesediaan Petrus, Inu memintanya datang dan menemuinya di Sumedang pada hari Jumat, 6 April.

“Saya bilang nggak bisa karena sebagai penganut Katolik, Jumat Agung itu Tuhan Yesus Kristus wafat di kayu Salib. Jadi, tentu saya tidak bisa bertemu di Sumedang. Saya menawarkan agar kami bertemu besoknya. Itu pun saya minta agar cuma bertemu setengah jam karena saya masih mengikuti Misa. Saya juga mesti ikut menyiapkan kelancaran Misa karena saya pengurus Gereja,” cerita Petrus lagi.

Saat itu, menurutnya, Inu memahami alasan yang dikemukakan. Tapi, sang dosen benar-benar tertekan. Demi memenuhi janjinya, pada Sabtu (7/4) subuh ia bertolak ke suatu restoran tak jauh dari kampus Unpad. Padahal, awalnya Inu memintanya untuk bertemu di Sumedang karena kalau bertemu di Bandung berarti ia harus keluar ongkos.

“Saya bilang kalau soal ongkos nanti kita atur tapi baik bertemu di Bandung karena pertimbangan kelancaran perjalanan. Apalagi, malamnya harus enghadiri Misa Malam Paskah. Jadilah kami bertemu di Bandung. Setiba di sana saya terenyuh melihat Pak Inu didampingi istrinya, seorang kerabat, dan seorang lagi dosen IPDN. Saat itu Pak Inu membawa serta berkas-berkas laporan ke Polres Sumedang dan pihak-pihak terkait sehubungan dengan kekerasan yang terjadi selama ini di kampus IPDN. Setelah membaca berkas-berkasnya saya masih menyampaikan bahwa data-data itu nggak perlu butuh pengacara,” Petrus melanjutkan.

Petrus menegaskan bahwa laporan Inu Kencana sudah masuk ke polisi. Bahwa itu adalah tindak pidana pembunuhan orang sehingga biarkan polisi menangani. Inu akhirnya meminta Petrus menghubungi polisi agar segera memproses laporan itu.

Setelah hampir setengah jam mereka berdiskusi, Petrus berpamitan untuk kembali Jakarta. Sang dosen menyampaikan terima kasih karena di tengah kesibukan menyiapkan diri merayakan Paskah, advokat dan pengacara itu masih menyisikan waktu untuk ikut memikirkan kasus Inu.

“Saya senang karena Pak Inu berjanji memberikan 52 buku hasil karyanya selama menjadi dosen di IPDN. Pertemuan itu rupanya tercium media terbitan Jawa Barat. Mereka menulis di koran-koran lokal bahwa Inu sudah didampingi seorang pengacara dari Jakarta. Tapi mereka tak menyebut nama pengacara karena biar nggak heboh dulu. Ternyata, Minggu Paskah, saat lagi di rumah kakak saya di Menteng Atas merayakan Paskah, Pak Inu menelpon saya. Ia mengabarkan bahwa kasus yang dilaporkan ke Polres Sumedang sudah diketahui para petinggi di Mabes Polri,” kata Petrus. (Ansel Deri/Anton Gelat)
Sumber: Tabloit TAMSIS Kupang Edisi Minggu II Mei 2007
Ket foto: Petrus Bala Pattyona, SH, MH (gbr 1) dan bersama kliennya, Inu Kencana Safei di salah satu hotel di bilangan Senen, Jakarta Pusat. Foto: dok. Ansel Deri

Sr. Marita Benggok, SSpS: Diminta Pasien Belikan Kondom

Di Jerman ia pernah diusir atau diajak menikah. Seorang pasien usia 9 tahun memintanya membelikan kondom karena tak punya uang.

Tapi menurut Suster Sr Marita -begitu ia disapa- pengalaman itu merupakan tantangan baginya. Tak sampai di situ. Memasuki bulan ketujuh, ia mengalami pergumulan berat. Kesepian menemani hidupnya. Saat itu keinginan untuk pulang ke Indonesia makin kuat.

“Saya tak punya semangat untuk berdoa, selalu mencari-cari alasan guna menghindari diri dari kerutinan doa. Suatu hari saya pergi pesiar di taman binatang di kota Ulm dan duduk sendiri di tepi Sungai Donau. Di sana saya menangis tersedu-sedu,” cerita Sr Marita.

Nah, untuk menghindari diri dari kesepian ia menulis sebuah karangan tentang kesepian kemudian dibuang ke dalam sungai. Setelah membuang kertas itu kembali menemukan kekuatan baru.

Ia sadar bahwa pergumulan iman yang dialami akhirnya menjadi sebuah sekolah perjumpaan akan kasih Allah yang setia. Di tepi sungai ia menemukan kembali cinta Allah yang setia dan kuat menyapa dan menghiburnya.

Pada Desember 2001-April 2002 ia menjalani praktek di TK St Mikael Ulm. TK ini adalah TK internasional. Murid-muridnya terdiri dari 10 negara. Pengalaman di TK ini ia rasa sangat membantunya untuk belajar mengenal lagi lebih dalam budaya dan mentalitas anak-anak Jerman.
Sejak Mei 2002 hingga Agustus 2002 ia menjalani praktek di salah satu rumah sakit jompo. Di sana ia menghadapi masalah baru karena umumnya pasien berbicara bahasa daerah setempat.

Hal positip yang ia pelajari adalah konsep berpikir dan tata pergaulan orang Jerman. Banyak orang sakit yang tak punya keluarga lagi. Atau ada keluarga tapi tak peduli dengan keadaan mereka.

Situasi ini yang mendorongnya untuk terus bekerja di rumah sakit bagian Pastoral Care. Kehadirannya di tengah pasien saat itu disambut baik. Umumnya mereka gembira melalui pelayanan dan kehadiran Sr Marita.

Setelah itu, sejak Januari 2003 hingga Mei 2005 ia belajar di salah satu Akademi Katolik di Keuskupan Koeln. Ia Ditugaskan di bagian pastoral psikologi untuk orang sakit.

Diusir Pasien

Selama praktek di beberapa rumah sakit, ia melewati cobaan. Di sebuah rumah sakit Katolik, misalnya, ia pernah diusir oleh pasien.

Pasien ini adalah bekas penganut Katolik yang sudah 20 tahun minggat dari gereja. Sr Marita dikatakan sebagai perempuan gila. Pasien itu tak tanggung-tanngung mengatakan kepada Sr Marita bahwa Allah yang disembahnya adalah Allah yang jahat, Allah birokrat, dan lain-lain. Meski demikian ia tetap berdiri membisu di samping pasien itu.

Sesudah menerima umpatan itu, Sr Marita pamit dan berpesan kepada pasien itu bahwa ia akan kembali bila dibutuhkan. Dua hari kemudian pasien itu meninggal dan Sr Marita setia mendampinginya.

“Sebelum menghembuskan napas, dia meminta maaf dan mohon pengampunan Tuhan karena ia sudah lama meninggalkan Tuhan. Sebenarnya suara hati mereka dikejar dan mempunyai kerinduan untuk kembali kepada Tuhan,” kata Sr Marita.

Sekalipun Sr Marita ditugaskan merawat pasien namun ia sering ditolak dengan alasan mereka tak punya uang untuk membayarnya. Ia juga kerap menjadi tempat pasien mencurahkan isi hati atau kekecewaan terhadap gereja.

Sejak Juli 2005 ia bertugas di sebuah rumah sakit pemerintah di Dortmund, Jerman Barat. Wilayah ini banyak dihuni mayoritas Protestan dan sekte gereja baru. Kehadirannya di rumah sakit ini awalnya sulit. Sebab sebelumnya pihak rumah sakit punya masalah dengan gereja lokal.

Dalam perjalanan waktu ia sering bergulat dengan tantangan para pasien yang mengejeknya telah memilih sebuah hidup yang bodoh dan tolol sebagai biarawati.

Banyak umpatan ia terima. Misalnya, ia datang sebagai pekerja asing yang hanya bermaksud mengumpulkan uang bagi kongregasi dan orang sebangsanya. Ia juga kadang dicerca dengan pertanyaan apakah tidak ada laki-laki yang tak mau menikahinya.

Kondom

Ia menuturkan di Jerman anak-anak usia 10-12 tahun sudah akrab dengan seks bebas. Dunia ini bukan hal yang tabu. Jika memasuki masa usia seperti itu maka orang tua harus siap menjelaskan bagaimana cara menggunakan kondom dan alat-alat lain untuk mencegah kehamilan.

Suatu ketika seorang pasiennya meminta dibelikan kondom. Pasien itu ingin berhubungan intim dengan teman kencannya. Ia mengaku ia tak punya uang untuk bisa membeli kondom.

“Saat itu saya sangat terkejut karena setelah saya mencari tahu berapa usia pasien itu, ternyata ia masih sembilan tahun. Saya tak habis pikir dengan pasien itu,” katanya.

Tak hanya pengalaman nyata seperti itu. Selama lima tahun terakhir ia pernah dapat 25 lamaran dari sejumlah pemuda Jerman. Hal ini membuat ia masuk dalam pergumulan panjang panggilannya sebagai biarawati.

Di tengah cobaan itu ia mengaku teks-teks Kitab Suci telah menyapa hidupnya. Teks-teks itu menjadi sumber kekuatan dan memberi pengertian khusus bagi hidup pribadinya sebagai orang religius.

“Saya sering meditasi tentang perjumpaan Jesus dengan seorang wanita asing di sumur Yakob sebagaimana ditulis dalam Injil Yoh.4:1-42. Juga perjumpaan Yesus dengan Maria Magdalena sebelum kematian Yesus dalam Mrk, 14: 3-9) dan sesudah kematian-Nya dalam Yoh, 20: 11-18,” lanjutnya.

Sr Marita juga tak ingin membuat para pelamar kecewa. Ia menyampaikan kepada mereka bahwa jika mereka mencintai dirinya maka biarkan ia hidup sesuai dengan keputusan dan pilihannya.

“Di ruang kerja, saya diwawancarai beberapa pasien muda. Mereka bertanya dari mana kekuatan saya sehingga mampu hidup tanpa seks. Saya katakan kekuatan saya dari Tuhan,” cerita Sr Marita.

Ada juga yang bertanya apakah salib yang dikenakan menolongnya. Ia dengan enteng menjawab bahwa salib adalah Allah kehidupan dan benteng kekuatan dalam suka dan duka hidup manusia sehari-hari.

“Ada seorang pasien narkoba secara radikal menantang saya. Ia mengatakan bahwa Allah yang saya sembah dan percaya sebenarnya Allah kejam dan bengis. Dalam doa saya meminta, Tuhan ampunilah dia karena dia tidak tahu apa yang dia katakan,” ujar Sr Marita.

Keluarga Sederhana

Sr Marita lahir dari keluarga sederhana di Kampung Joeang, Manggarai, Keuskupan Ruteng, Flores, NTT.

Ia anak bungsu dari lima bersaudara pasangan Thomas Benggok dan Ny Ana Benggok. Ia juga mempunyai tiga saudara angkat yang masih punya hubungan keluarga.

Kedua orangtuanya sudah lanjut usia dan tinggal di kampung. Benih panggilan membiara sudah tumbuh tiga puluh tahun lalu.

Saat itu, Sr. Rosalia Tima SSpS (kini almahrumah) yang juga adik kandung Ny Ana berkesempatan merayakan misa syukur kaul kekalnya di Stasi Langke Majok, Paroki Todo. Sr Rosalia adalah gadis desa pertama dari Todo yang mempersembahkan hidupnya untuk Tuhan.

“Pengalaman tiga puluh tahun lalu menyapa hati saya. Tapi seiring perjalanan waktu, cita-cita saya untuk hidup membiara kadang timbul tenggelam,” kenang Sr Marita.

Tapi sebuah peristiwa lain menyadarkannya. Saat masih di SD setiap bulan Mei dan Oktober ia bersama teman-teman ikut doa Rosario dari rumah ke rumah. Posisi adik ibunya sebagai guru agama saat itu semakin membuka jalan hidupnya.

Saat doa rosario, pamannya selalu memohon panggilan hidup membiara untuk imam, suster dan bruder. Tapi, setelah duduk di bangku SMP cita-cita hidup membiara tak pernah muncul. Yang ada dalam hati yaitu menjadi katekis atau guru.

Seusai tamat SMP ia masuk PGAK St Fransiskus Xaverius Ruteng dan tinggal di asrama St Maria Fatima milik SVD. Saat itu ia mulai aktif mengikuti perayaan Misa di asrama atau di Gereja Katedral Ruteng. Di sini pula ia kerap bertemu dengan para suster KSSY/SLB Ruteng.

“Penampilan dan gaya hidup mereka menggugah hati saya. Selama dua tahun ikut pembinaan di biara itu. Tahun ketiga di PGAK saya tinggal di asrama susteran SSpS Ruteng. Peraturan asrama yang ketat menjadi tantangan bagi saya,” ujarnya.

Anak-anak asrama saat itu ia saksikan seperti suster-suster kecil yang sudah dilatih untuk menjaga silensium dan disiplin. Mereka juga dilatih untuk berdoa tiga kali sehari seperti yang dilakukan oleh para suster.

Menjelang pesta 100 tahun tarekat SSpS 8 Desember 1989, mereka mementaskan drama tentang panggilan hidup membiara tiga kali berturut-turut untuk umat Katolik se-Kota Ruteng. Drama ini disutradarai Sr Gabrielinda, SSpS. Ada juga acara lain yang dibawakan seperti rekoleksi dengan para calon suster, guru-guru, para pegawai dan lain-lain.

Nah, terdorong rasa ingin tahu ia pun ikut rekoleksi. Suster pembimbing saat itu menantang mereka dengan berbagai pertanyaan.

“Saya masih ingat satu pertanyaan yang ditujukan pada saya. ‘Marita, mengapa kamu memilih masuk SSpS?’ Dengan spontan saya jawab, ‘Maaf, saya belum memilih dan memutuskan tapi saya tertarik dengan tarekat ini khususnya spiritualitasnya.’ Itu jawaban saya,” lanjut Sr Marita.

Selesai rekoleksi mereka semua dites kepribadian khususnya dan motivasi umumnya. Saat itu, ia tertantang dengan sebuah pertanyaan pengujinya. Bahwa apakah Marita siap diutus ke luar negeri dan siap belajar bahasa dan adat istiadat orang lain.

Tantangan ini berat sehingga ia memutuskan untuk tak ikut lagi kegiatan dengan calon-calon lain. Setelah tamat PGAK ia belajar satu tahun kursus PKK bersama Sr Rosalia SSpS.

“Beliaulah menjadi tokoh pendoa dan pendamping masa pencarian dan panggilan saya selanjutnya. Padahal, keinginan untuk masuk biara sebenarnya ditolak oleh kedua orang tua dan keluarga besar saya,” jelasnya.

Misi ke Jerman

Untuk kongregasi SSpS, Jerman dan Eropa umumnya telah menjadi daerah misi bahkan daerah misi terberat atau daerah misi frontier. Jika 80 tahun lalu Indonesia menerima misionaris dari Eropa, kini malah sebaliknya.

Sr Marita adalah misionaris SSpS Flores yang pertama di Jerman yang ditugaskan di negara itu lima tahun lalu. Kehadirannya itu ia rasa seperti pelayaran tanpa tujuan.

Hal ini beralasan karena ia sendiri tak tahu apa yang terjadi dalam perjalanan hidup selanjutnya. Masa depan pengabdian dan pelayanan rasanya masih tersembunyi di balik tembok ketidakpastian.

Tapi, rencana Tuhan itu indah adanya. Sr Marita mulai resmi masuk sekolah bahasa Jerman pada April-Oktober 2001 di Ulm, sebuah sekolah bahasa Asing. Ia merasa bersyukur karena ia adalah satu-satunya orang Indonesia di kelasnya.

“Saya punya kesempatan emas untuk tekun belajar bahasa Jerman. Apalagi, di sekolah itu kami dilarang ketat untuk bicara bahasa ibu dan bahasa Inggris. Rekan-rekan suster selalu membantu saya dalam menyelesaikan atau memperbaiki PR,” katanya.

Bahkan setiap hari ia gunakan waktu 30 menit untuk membaca satu artikel di depan salah seorang suster. Tak ayal, dalam waktu singkat ia bisa berbicara dan berkomunikasi dengan sesama suster dan orang lain.

Tapi baru seminggu di sekolah ia mencoba pulang sendiri ke rumah. Dalam perjalanan ia tersesat. Ia mengalami frustasi berat karena salah naik bus yang rutenya ke luar kota.

Sejam kemudian ia turun dari bus pergi ke sebuah sudut dan menangis sendirian. Tak lama seorang pria tua lewat. Bermodal bahasa Jerman yang jatuh bangun ia minta pertolongannya pria itu untuk menelpon para suster sehingga ia bisa diselamatkan.

“Sebulan kemudian saya baru tahu bahwa bapa itu adalah bekas anak didik para suster SSpS di wilayah itu. Pengalaman ini menjadi guru saya selanjutnya untuk lebih teliti dan tekun belajar alat-alat perhubungan dan rute perjalanan kereta api dan bus,” kenangnya.

Meski melewati pengalaman suka-duka, ia selalu memegang teguh spiritualitas tarekat yakni Allah Tritunggal. Spiritual ini menjadi model hidup komunitas dalam relasi satu sama lain. Juga dengan sesama lain.

“Makanya saya sangat bahagia Tuhan selalu menyertai saya dalam tugas dan pengabdian. Tuhan telah membuka mata orang-orang untuk memahami apa sesungguhnya tugas dan karya kami,” katanya bangga. (Ansel Deri)
Sumber: pernah dimuat HIDUP Jakarta
Ket Foto: Sr Marita SSpS, biarawati asal Indonesia (gbr 1) sedang menikmati makan siang di restoran yang terletak di dalam kompleks rumah sakit tempatnya bekerja. Foto-foto: Dokpri.

Soal Investasi Pertambangan: Pemkab Lembata ‘Menghamba’ Investor

Written By ansel-boto.blogspot.com on Friday, May 11, 2007 | 2:34 PM

Sikap pemerintah daerah menganggap sepele protes masyarakat di wilayah yang akan dijadikan lokasi pertambangan mengindikasikan Pemerintah Kabupaten Lembata bersikap oportunis. Pemerintah menghamba kepada investor PT Merukh Enterprises karena bisa mendapat keuntungan daripada membela kepentingan rakyat untuk memenuhi kebutuhan berkelanjutan.

Demikian disampaikan Juru bicara Forum Tambang Lembata, Pater Marsel Vande Raring, SVD, dalam jumpa pers di Sekretariat Forum Pemuda Lembata (Fordata), Kota Baru, Kelurahan Lewoleba Tengah, Jumat (16/2/2007).

Hadir antara lain Ketua Fordata, Piter Bala Wukak, S.H, Anton Liman dari Lembata Center, dan anggota DPRD Lembata, Ahmad Bumi, S.H.

Pater Vande mengatakan, kebijakan pemerintah memberikan izin eksplorasi kepada investor Grup Merukh Enterprises memperlihatkan pemerintah mengobral murah Lembata demi mendapatkan uang. Ujung dari kebijakan itu, Lembata akan bangkrut.

Kerusakan lingkungan tak terelakkan dan muncul kemiskinan, kemelaratan dan menjadi sarang pelanggaran hak asasi manusia masyarakat yang satu terhadap masyarakat yang lain.

Ditegaskan, demonstrasi penolakan warga Leragere, Kecamatan Lebatukan dan akan menyusul warga Kedang di Kecamatan Omesuri dan Buyasuri bukan terutama mau menjelek-jelekkan pemerintah. Aksi demo itu merupakan seruan moral masyarakat yang telah menyadari hak-haknya.

Penolakan warga, kata Pater Vande, karena mereka menyadari suatu saat tidak bisa menikmati lagi air dan udara bersih, tanah yang subur tempat mereka hidup. Karena itu, perjuangan melestarikan lingkungan hidup harus dilakukan untuk generasi sekarang dan yang akan datang.

"Apakah pemerintah harus didorong terus melanggengkan salah urus daerah ini? Bukankah Bupati Lembata telah menyerahkan surat keputusan sementara hak pengelolaan kawasan hutan lindung di Leragere kepada warga setempat karena prestasi yang dilakukan Yaspensel di tingkat nasional? Tetapi mengapa SK hutan lindung menjadi SK tambang? Bagi saya, pemerintah oportunis," kata Pater Vande.

Ditegaskan, penolakan warga Leragere karena sejak awal mereka tak dilibatkan merencanakan usaha tambang itu. Masyarakat marah, dikhianati pemerintah yang dianggapnya bodoh dan mengakui kemauan pemerintah.

"Kenapa sejak proses awal mereka tak dilibatkan, apakah karena mereka di desa orang bodoh?" tanya Pater Vande.

Karena itu ia bersama pengurus LSM menyadarkan masyarakat akan hak-haknya supaya tidak diperkosa oleh kebijakan dan salah urus. Bukan memprovokasi masyarakat menentang pemerintah.

Piter Bala Wukak menambahkan, pemerintah sejak awal tidak transparan mengurusi rencana investasi pertambangan. DPRD setempat juga tak pernah disampaikan, apalagi rakyat yang tinggal di pedesaan, meski proyek ini akan menimbulkan risiko bagi masyarakat itu.

"Siapa yang harus tanggung jawab kalau ada risiko berat dari usaha pertambangan ini? Investor akan cuci tangan, pemerintah bela diri, tapi rakyat terima akibatnya," kata Pieter.

Ahmad Bumi mengatakan, DPRD Lembata belum pernah membahas di paripurna Dewan mengenai rencana investasi pertambangan, meski pimpinan fraksi dan komisi pernah diundang investor PT Merukh ke Jakarta membahas rencana ini.

Ia menyarankan pemerintah maupun investor berlaku jujur dan terbuka membicarakan dengan masyarakat karena dampak dan keuntungan akan dirasakan kedua pihak.

Ia justru mempertanyakan keseriusan Merukh Enterprises menggarap usaha ini karena di tahun 1986 PT Nusa Lontar Maining sudah angkat kaki dari Kedang. Deposit tambang tidak memiliki nilai ekonomis untuk dieksplorasi sehingga mengembalikan izinnya ke Departemen Pertambangan dan Energi.

Tidak ekonomis

SEBELUMNYA pelaku penambangan (geologis), Gerry Mbatemooy, kepada Pos Kupang di Kupang, Minggu (11/2/2007), menjelaskan, pihaknya sudah mempresentasikan masalah penambangan kepada unsur berkompeten dari Kabupaten Lembata dalam sebuah forum seminar di Kupang, Sabtu (10/2/2007).

“Saya sudah menjelaskan kepada semua pihak terkait dalam forum seminar itu bahwa tidak ekonomis untuk penambangan di Lembata karena belum diketahui deposit kandungan mineralnya. Kasarnya tidak ada emas di sana. Kalaupun ada, nilainya tidak ekonomis dan investor mana yang mau melakukan penambangan jika hasilnya tidak ekonomis?” kata Gerry didampingi Djanu Djaya Manafe, anggota DPRD Rote Ndao.

Ia menjelaskan, apa yang dilakukan pihak investor di Lembata saat ini baru sebatas penyelidikan. Hasilnya baru bisa diketahui 10 tahun ke depan. Itu berarti saat ini masih dalam penyelidikan.

“Saya ini ahli bidang pertambangan dan sudah lama bergelut di bidang penambangan. Saya pernah menjadi supervisor perusa-han penambangan terbesar. Jadi di Lembata, siapa yang investasi tanpa diketahui isiperutnya?” kata Gerry yang mengaku akan kembali melanjutkan usaha penambangan tembaga di Pulau Wetar-Maluku setelah sekian tahun melakukan eksplorasi di wilayah itu. (ius/fen)
Sumber: Pos Kupang, 17 Februari 2007

Herfyan Sofyan Danal: Dari Rantau dengan Cinta

Written By ansel-boto.blogspot.com on Wednesday, May 02, 2007 | 1:55 PM

Ia berniat pulang kampung membangun tanah leluhurnya, Muara Enim, Sumatera Selatan. Padahal, di Jakarta ia mengendalikan puluhan perusahaan besar. Ternyata, panggilan tanah leluhur lebih dominan.

SUSES mengejar karier di rantau hingga menggapai kemapanan hidup rohani dan jasmani kadang bisa membuat seseorang lupa tanah leluhur. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Ir. H. Herfyan Sofyan Danal, MM. Herfyan –sapaan akrabnya- menjawab panggilan tanah leluhurnya, Muara Enim, sebagai Ketua DPC Partai Partai Demokrat Muara Enim yang akan ikut memajukan daerah itu bersama masyarakat dan pemerintah setempat. Keputusan itu pun ia terima karena sebagai kader partai, kapanpun dipercayakan tak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu karena merupakan amanah. Apalagi, pengabdian itu untuk masyarakat daerah sendiri.

“Keputusan saya menerima tawaran rekan-rekan pengurus Partai Demokrat Muara Enim untuk memimpin partai ini hanya karena panggilan sebagai putra daerah. Kakek saya, Pangeran Danal, putra asli Muara Enim. Sebagai cucu, paling tidak saya bisa ikut menjaga nama besar keluarga. Peribahasa kami begini. ‘Kalau tidak bisa memperbaiki nama besar ini, menjagapun jadilah’,” ujar Herfyan kepada penulis usai dilantik sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Muara Enim di Gedung Kesenian Putri Dayang Rindu, Muara Enim, Senin (12/3).

Dalam Musyawarah Cabang (Muscab) I Partai Demokrat yang demokratis, Herfyan dan Ridwan, sekretarisnya terpilih secara aklamasi. Keduanya kemudian dilantik Ketua DPD Partai Demokrat Sumatera Selatan Drs. H. Djauhari, MM memimpin Partai Demokrat Muara Enim masa bakti 2007 – 2012. Pemilihan sekaligus pelantikan disaksikan sejumlah petinggi pusat partai. Mereka antara lain Sekjen H. Marzuki Alie, SE, MM, Ketua Bidang Kesra Ustad Agus Abubakar, dan anggota Departemen Keanggotaan H. Sudarman serta sejumlah pengurus provinsi seperti sekretaris H. Sopwatillah Mohzaig, para peserta dan undangan.

Meski mengaku masih sibuk dengan setumpuk tugas, namun panggilan tanah leluhur sepertinya tak bisa beranjak dalam hatinya. Sekalipun, ia tak memberi jaminan yang muluk-muluk bahwa setelah kembali akan melakukan tugas-tugas pengabdian seperti apa. Yang jelas, ia yakin bahwa dengan kehadirannya mungkin ia berbakti lebih banyak. “Daerah ini punya potensi dan pendapatan asli daerah (PAD) demikian besar. Sumber daya alam, baik dari sektor pertambangan, perkebunan rakyat maupun kehutanan sangat besar. Semua ini bisa digali dan dikelola untuk memakmurkan dan menyejahterakan masyarakatnya. Karena itu, saya punya misi ingin berbuat banyak. Saat ini saya hanya “berusaha” di Kahuripan Indonesia yang merupakan kelompok usaha Gudang Garam Group,” lanjutnya.

Pria kelahiran Palembang 24 Januari 1950 ini mengenyam pendidikan dasar (SD) di SD Xaverius IV, kemudian SMP Xaverius II dan SMA Xaverius I Palembang. Selepas dari sana, ia masuk jurusan Teknik Perambangan, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya (Unsri) dan lulus tahun 1986. Semasa mahasiswa, ia aktif dalam berbagai kursus. Tahun 1984, misalnya, Herfyan mengikuti Kursus Ketenagakerjaan Pemuda, Proyek Pembinaan Tenaga Kerja Pemuda, Depnaker RI di Palembang. Kemudian Kursus Pengamanan Peledakan, Ditjen Pertambangan Umum PPTM, Deptamben RI, Kursus Lingkungan Pertambangan dan Teknik Reklamasi Daerah Bekas Tambang, Kursus Juru Ledak Klas II, Ditjen Pertambangan Umum, Detamben RI di Bandung.

Merunut rekam jejaknya, ternyata sarat pengalaman yang tentu tak bisa disebut satu persatu. Yang jelas, selepas kuliah ia langsung bekerja dan mendapat kepercayaan memimpin puluhan perusahaan. Prestasi yang ia ukir mengantarnya menjadi peserta seminar tingkat nasional dan internasional seperti di Italia dan Amerika Serikat. Kariernya terus melejit tatkala pada 2004 hingga saat ini dipercaya sebagai Public Affairs Division Head Makin Group Jakarta. Tak ayal, sejumlah daerah tempat “usaha” itu berada habitat Herfyan karena harus memantau langsung gerak perusahaannya.

Kader partai

Aktif di berbagai perusahaan dengan mobilitas yang tinggi bukan berarti berhenti di situ. Partai politik (parpol) ia masuki untuk mengabdi lebih intens kepada rakyat. Nah, pilihannya jatuh pada Partai Demokrat yang didirikan Dr. H. Suslio Bambang Yudhoyono (SBY). Nah, kepercayaan pun terbuka lebar setelah mulai mengemban tugas sebagai Wakil Ketua Bidang Buruh, Tani, dan Nelayan DPD Partai Demokrat Sumatera Selatan. Dari sana rupanya, niat pulang dan membangun tanah leluhurnya makin terbuka. Apalagi, didesak oleh rekan-rekan sesama kader partai. Bahkan, Marzuki Alie menyinggung bahwa kalau ada panggilan, silahkan baktikan tenaga dan pikiran untuk daerah sendiri.

“Dari sini saya mulai refleksi, apa yang bisa diperbuat untuk Muara Enim. Sebagai putra daerah saya mulai merasa terpanggil. Dalam hati kecil, saya yakin bahwa kalau kembali ke tempat leluhur maka saya akan lebih banyak berbuat untuk daerah ketimbang di luar. Padahal, sekadar mengukur diri, ya, Alhamdulillah! Apa yang saya peroleh untuk keluarga, rasanya cukup. Namun, tak sekadar itu. Saya ingin mengaktualisasikan diri. Saya ingin kembali ke habitat, kampung saya. Karena itu, sebagai kader partai saya juga mau mengabdi di kampung halaman,” katanya.

Posisi wakil ketua di DPD Partai Demokrat Sumatera Selatan ternyata banyak memberi pelajaran bagi Herfyan untuk ikut merasakan nasib dan denyut kehidupan para buruh, tani, dan nelayan. Selama ini, ternyata kelompok masih termarginalkan. Padahal, pergerakan perekonomian bisa diarahkan dengan model ekonomi kerakyatan sebagaimana visi-misi SBY.

“Saya ingin mengangkat harkat dan martabat hidup mereka agar lebih sejahtera. Itu juga salah satu alasan mengapa saya mau pulang ke tanah leluhur saya. Nah, ibarat kata pepatah tadi. Kalau tidak memperbaiki, menjagapun jadilah. Itu yang saya implementasikan dengan keputusan pulang kampung. Saya tahu, potensi Muara Enim sangat besar terutama bahan tambang. Sekarang ada gas metan di daerah Pagar Dewa. Tempat ini merupakan simpul gas yang terbesar di Indonesia. Artinya, sumber daya alam Muara Enim bisa dikelola untuk kesejahteraan masyarakatnya. Bahkan untuk Sumatera Selatan dan Indonesia,” jelas Herfyan.

Terganjal birokrasi

Meski potensi SDA Muara Enim besar, tapi kadang investor yang ingin menanamkan modalnya masih terganjal birokrasi. Sebagai orang swasta, Herfyan mengeritik, birokrat di kabupaten itu belum mencerminkan diri sebagai pamong. Ia punya pengalaman saat perusahaannya mau berinvestasi di sana. Yang dialami justru perijinan yang berbelit-belit. “Saya sudah ikuti aturan dan norma yang berlaku karena investasi itu butuh kepastian. Kami berniat membuka perkebunan berikut pabrik kelapa sawit di Muara Enim. Insyah Allah. Kalau kami bisa merangkul beberapa perkebunan kelapa sehingga kami akan mendirikan industri hilirnya. Itulah cita-cita kami. Nah, perusahaan kami yang demikian besar, saya yakinkan bisa masuk ke kampung saya. Tetapi apa yang saya dapat? Bukan kemudahan tetapi ada hal-hal yang saya rasa tidak adil di saat saya ingin membangun kampung saya,” katanya.

Padahal, aturan-aturan dan norma-norma “sudah diikuti”. Kendala-kendala seperti ini yang juga mendorongnya mau kembali ikut membenahi tanah leluhurnya melalui Partai Demokrat. Ada tantangan dalam hati. Pasalnya, sebagai putra daerah yang berada di luar dan datang membawa investasi besar malah bukan mendapat sambutan hangat namun birokrasi yang berbelit-belit. “Kita tahu. seorang kepala daerah itu sebagai decition maker. Ia sudah punya policy ke bawah. Bawahan kan tinggal memberikan pelayanan publik. Kami datang bukan minta pekerjaan atau uang, tetapi membawa kapital membangun daerah. Malah sampai tiga tahun lebih ada perijinan yang belum kami peroleh. Ini aneh. Ya, kami mengharapkan kemudahan dan birokrasi tidak berbelit-belit,” lanjut Herfyan.

Nah, berkat dukungan rekan-rekan, ia bertekad ikut membangun tanah leluhurnya melalui Partai Demokrat. Ia yakin, melalui kerja sama sinergis antara semua elemen, Partai Demokrat bakal menjadi besar dan berkomitmen menggapai cita-citanya membangun masyarakat yang sejahtera. Ayah empat anak ini juga bahagia karena mendapat restu istri dan anak-anak. Bahkan tugas-tugas seperti ini sudah dipahami keluarga sebagai bagian dari pelayanan. Apalagi, istrinya yang juga peneliti ahli pulp and paper di Departemen Perindustrian RI. Begitu putri sulungnya, yang kini sedang studi di Malaysia dan tak lama lagi menuju Australia guna melanjutkan studinya.

“Kadang teman-teman ngeledek aku seperti pengantin baru. Tapi mau bilang apa. Yang jelas, keputusan ini kami diskusikan bersama. Istri saya malah mengatakan bahwa hidup ini seperti hijrah. Kita berhijrah dari satu tempat ke tempat yang baru. Ini perjalanan ibadah sehingga beliau mendukung. Kita pulang kampung dan kita ingin berbuat lebih baik lagi untuk orang lain atas dasar cinta,” kata Herfyan. Benar juga, Pak! (Ansel Deri)
Sumber: Majalah DEMOKRET NEWS edisi April 2007
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger