Headlines News :

Sr Yuliana Mamuk, SSpS: Di Balik Rahasia Kehidupan

Written By ansel-boto.blogspot.com on Monday, June 18, 2007 | 11:05 AM

Bangun pagi, doa, makan, rekreasi, dan seterusnya adalah rutinitas yang dilalui di biara. Ia sempat mengeluh karena merasa hidupnya terasa seperti robot. Tapi, ia setia menjalaninya hingga menjadi misionaris di Belanda.

Suster Yuliana Mamuk, SSpS merasa, bukan manusia yang mengatur waktu. Tetapi, sebaliknya, waktu yang mengatur manusia. Dalam situasi demikian, ia ingin keluar. Ia mau kembali ke rumahnya di Mano, sekitar 15 KM dari Ruteng, Kota Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Godaan lain menggelitik saat ia jatuh sakit. Ia ingin menggumuli penderitaannya itu di hadapan ayah, ibu, dan saudara-saudarinya. Namun, kasih Tuhan tak beringsut dari bilik hatinya. Justru yang menyeruak adalah beban moril atas jawaban ‘ya’, di saat ia bertelut dalam doa, memohon agar bisa masuk biara.

Ternyata, semua godaan itu sirna. “Saya lebih mantap tinggal di biara. Saya juga memahami gejolak batin sebagai suatu bentuk proses pemurnian motivasi awal dari hidup panggilan saya,” ujar Sr Yuli.

Anak Petani

Sr Yuli lahir sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara. Ia lahir 22 Juni 1970 dari pasangan keluarga petani. Ia mengaku bangga memiliki orangtua sederhana. Bercermin dari sikap sikap orangtuanya, ia selalu optimis menjalani hidup. Teladan iman mereka memantapkan langkahnya.

“Sejk muda sampai saat ini, bapak saya aktif dalam berbagai kegiatan gerejani. Ia menjadi guru agama. Teladan hidupnya banyak membantu saya, termasuk saat saya memutuskan masuk biara,” kenang Sr Yuli.

Benih panggilan membiara sudah muncul sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Orangtuanya adalah sosok yang sangat berpengaruh di balik panggilannya. “Saat berdoaa bersama, bapak selalu punya ujud khusus. Ia memohon panggilan hidup membiara untuk anak-anak di kampung,” tutur Yuli. Awalnya, ia kurang menyadarinya. “Baru setelah melangkah ke biara, saya menyadari bahwa panggilan saya sungguh merupakan buah doa,” tandasnya.

Panggilan itu makin mantap saat adik ayahnya, seorang imam SVD, memperkenalkan Kongregasi Suster-suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) kepadanya. Saat itu, pamannya menjadi misionaris di Hong Kong. “Sampai saat ini kami saling mendukung satu sama lain lewat sharing pengalaman dan misi kami masing-masing,” katanya bangga.

Diajak Menikah

Sebagai gadis desa yang beranjak dewasa, Yuli sempat diajak menikah dengan seorang pria yang mencintainya. Cinta memang sempat tumbuh di antara mereka tapi bukan berarti harus hidup dalam ikatan suami-istri.

“Saya pribadi tidak menanggapi serius. Saya belum berpikir untuk hidup berkeluarga sehingga saya hanya ingin kami berteman. Saat itu, saya sudah putuskan masuk biara. Pria ini akhirnya bisa memahami keputusan saya. Saya bangga karena ia merasa tak disakiti,” kata Yuli. Saat itu, ia sudah memutuskan masuk biara. Akhirnya, pria itu bisa memahami keputusan Yuli. “Saya bangga karena ia bisa menerimanya,” kenang Sr Yuli.

Juli 1991, Yuli menjadi aspiran selama setahun di komunitas SSpS di Reo, Keuskupan Ruteng, Manggarai. Masa itu merupakan masa yang penting baginya untuk mengenal lebih dekat kehidupan biara. “Ini masa menentukan sebelum saya mengambil keputusan lebih lanjut,” kata Yuli memberi alasan.

Pakaian Biara
Juli 1992, Yuli resmi diterima sebagai postulan di Hokeng, Keuskupan Larantuka, Flores Timur. Di Hokeng, ia menjalani masa postulan selama dua tahun. Kemudian 2 Juli 1994, ia menerima pakaian biara sekaligus memulai masa novisiat selama dua tahun.

Tahun pertama masa novisiat, Yuli bersama rekan suster lain lebih banyak menggunakan waktu untuk pendalaman hidup rohani dan belajar mengenal dan menghidupi spiritualitas kongregasi. Setelah itu, diutus ke Komunitas SSpS Balela, Larantuka selama 6 bulan dan mengalami realitas hidup di luar komunitas novisiat.

Sr Yuli mengikrarkan kaul pertama 2 Juli 1996 di Hokeng. Setelah itu, ia diutus ke Maumere, Kota Kabupaten Sikka, Keuskupan Maumere. Di sana ia menjadi guru di SMP Virgo Videlis selama dua tahun. Kemudian ia ditugaskan lagi selama setahun di Asrama Putri Syuradikara Ende.

Usai tugas di Ende, ia kembali ke Hokeng menjalani Tahun Rohani sebagai yunior, tahun 1999 - 2000. Setelah itu, ia kembali mengajar di SMP Katolik Mater Inviolata Larantuka.

Akhir 2001, ia memulai Masa Persiapan Kaul Kekal di Hokeng. Ia mengikrarkan Kaul Kekal 14 Juli 2002 di Hokeng. “Pada saat yang sama, saya mendapat tugas misi ke Negeri Belanda,” kata Sr Yuli.

Perkenalan Kongregasi

Sr Yuli mulai mengenal beberapa suster dari Kongregasi SSpS saat ia duduk di SMA di Ruteng. Saat itu, mereka mengunjungi lingkungan-lingkungan untuk berkatekese.
Ada daya tarik terpancar saat ia melihat para suster berpakaian serba putih.

Sebelumnya, ia telah merasakannya dalam sejumlah kegiatan ekstrakurikuler yang diorganisir para suster SSpS, seperti rekoleksi dan rekreasi. Rangkaian pengalaman itu membuat Yuli jatuh hati pada Kongregasi SSpS.

“Apalagi setelah paman saya yang menjadi pastor SVD memperkenalkan Kongregasi SSpS lebih jauh. Pendiri SVD maupun SSpS sama, yakni Paastor Arnoldus Jansen SVD,” terang Sr Yuli.

Siap Diutus

Sr Yuli sadar bahwa setelah jadi biarawati, berarti siap diutus untuk menjadi pelayan-Nya. Menjadi anggota SSpS juga berarti menjadi misionaris. Meskipun menjadi misionaris tidak berarti harus keluar negeri.

“Di manapun saya berada dan bekerja demi kerajaan Allah, saya juga adalah misionaris. Kebiasaan kongregasi, sebelum mengikrarkan kaul kekal kami memilih tiga nama negara yang diinginkan setiap calon,” ujarnya.

Meski demikian, kongregasi tetap mempertimbangkan kebutuhan di negara misi yang dituju. Lebih dari itu, prioritas misi dari konggregasi menjadi perhatian pertama dan utama.

Setelah mengambil waktu untuk berefleksi, Sr Yuli memilih tiga negara di benua Asia, Afrika, dan Amerika. “Tapi Tuhan punya rencana lain, pimpinan kongregasi mengutus saya ke Eropa, tepatnya di Belanda,” ucap Sr Yuli. Padahal, misi ke Belanda tak pernah terlintas di benaknya. “Sempat muncul keraguan, apa yang bisa saya buat di Belanda?” ujarnya.

Tantangan Awal

Tantangan mulai menghadang saat Sr Yuli mengurus visa. Proses pengurusannya berbelit-belit. Selama hampir setahun ia sempat terkatung-katung. Toh, akhirnya dengan tuntutan Tuhan ia bisa menginjakkan kakinya di Negeri Kincir.

Kini ia tinggal di sebuah komunitas kecil di Tilburg, Belanda bagian selatan, Provinsi Noord-Brabant. Ia tinggal bersama lima anggota komunitas dari empat negara, yakni Belanda, Philipina, India, dan Indonesia (Timor dan Flores).

Di Belanda, muncul tantangan terutama cuaca yang sangat berbeda dengan Indonesia. Dituntut tubuh ekstra kuat untuk menyesuaikan dengan cuaca Belanda.

Pada musim dingin misalnya, ia enggan keluar rumah. Komunikasi dengan pihak luar berkurang. Kondisi ini kadang membuatnya tertantang. Ditambah lagi penguasaan bahasa setempat yang belum memadai.

“Saat musim dingin Tilburg seperi kota mati. Sunyi mendera dan rasanya tidak ada kehidupan. Orang jarang keluar dari rumah kecuali ke tempat kerja. Mereka sibuk dengan rutinitasnya. Bahkan tetangga pun tak saling kenal,” kata Sr Yuli berkisah.

Sebagai tamu baru di Eropa, ia sungguh membutuhkan kekuatan mental spiritual. Ia mengaku mengalami culture shock. Ini sangat terasa ketika ia keluar rumah. Tetapi, seperti motto kaul kekalnya: Tuhan, Engkaulah kekuatanku, selalu saja ada jalan keluar.

Relawan Kaum Migran

Sr Yuli berkarya sebagai relawan Missionair Servicecentrum Tilburg (MST). Organisasi ini membantu para migran dengan berbagai masalah. Banyak orang asing datang ke Belanda karena perang atau situasi politik yang tidak kondusif di negaranya masing-masing. Pada umumnya mereka masih trauma dengan pengalaman perang di negaranya.

Selain itu juga karena problem ekonomi. Selama ini Belanda dianggap sebagai negeri harapan bagi mereka yang hendak menyabung nasib.

“Nyatanya, tidak semudah itu. Banyak dari mereka bingung, tak tahu harus ke mana,” jelas Sr Yuli. Organisasi tempat Sr Yuli bekerja membantu mencarikan solusi, bekerjasama dengan pemerintah Belanda. “Organisasi ini berada di bawah naungan dan kerjasama antara kongregasi para pastor MSC dan suster PBHK Belanda,” tambah Sr Yuli.

Ia sangat yakin bahwa sekalipun hidupnya seperti robot tetapi selalu ada yang mengaturnya. ”Tuhan ada di balik semua rahasia kehidupan,” tegasnya.
Sumber: HIDUP edisi 25, 17 Juni 2007

Biografi Singkat Ansel Deri

Written By ansel-boto.blogspot.com on Monday, June 11, 2007 | 6:23 PM

Lahir di kampung Kluang, Desa Belabaja (Boto), Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, NTT. Anak petani Petrus Samong Mudaj dan Maria Ose Klobor. 

Menyelesaikan studi di SDK St Joseph dan SMP Lamaholot Boto. Masih di kampung ini. Kemudian sempat masuk SPG Kemasyarakatan Lewoleba. Namun akhirnya lulus  SMA Kawula Karya Lewoleba, Lembata. 

Melanjutkan studi di FKIP Undana Kupang dan selesai pada 1998. Panggilan jurnalistik yang kuat mengantar saya menuju Jakarta akhir 1998. Mengawali karir sebagai wartawan di beberapa media Ibu Kota. 

Kemudian bersama Bapak Karl Danorikoe dan rekan-rekan: Helen Laura, Cahyo Adji, Dwi Hartono, Djoko Murnantyo, Franz Pagono, Tri Winarsiyati, Justinus Stirman, dan Natalina Harianja merintis Majalah OZON pada Juni 1999. 

Pada 2003 mundur dari OZON dan sempat menjadi wartawan di beberapa media. Sempat ikut membidani lahirnya situs berita newscaptain.com di Bintaro Jaya, Tangerang, Banten. Kini, penulis lepas dan sejak Oktober 2009 menjadi Tenaga Ahli anggota DPR Dapil Papua.

Bisa hubungi di: anselderie@yahoo.co.id

Adji Massaid Rindu Berkunjung ke Flores

Written By ansel-boto.blogspot.com on Monday, June 04, 2007 | 11:15 AM

Diam-diam aktor ganteng Chandra Pratama Samiadji Massaid atau akrab dengan sapaan Adji Massaid punya kesan khusus tentang Nusa Tenggara Timur (NTT). Manusia, alam, dan budaya NTT ternyata membuatnya kagum.

Anggota DPR RI ini punya pengalaman saat berada di Pulau Alor. “Saya disalamin dan dicium-cium orang Alor saat saya bertemu, tak peduli laki atau perempuan. Bahkan mereka rela berdesak-desakkan hanya sekadar menyentuh tubuh saya. Saya kagum karena mereka begitu polos. Tapi, mereka juga begitu cepat menyesuaikan diri dan berkomunikasi dengan saya dalam suasana penuh kekeluargaan. Terus terang, saya punya kesan khusus dengan saudara-saudara di NTT,” ujar Adji Massaid di ruang kerjanya, Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta.

Kekasih Angelina Patricia Pingkan Sondakh ini juga kagum pada daya tarik wisata Pulau Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Danau Tiga Warna Kelimutu di Ende, dan kampung nelayan Lamalera yang terkenal dengan tradisi lefa, atraksi penangkapan ikan paus secara tradisional di Pulau Lembata.
Selama ini, katanya, Pulau Komodo dengan biawak raksasanya hanya bisa disaksikan melalui National Geographic atau Animal Channel. Pasalnya, informasi tentang Komodo dan Kelimutu masih sedikit, terutama untuk wisatawan domestik.

“Pemerintah daerah di Flores perlu memikirkan untuk bekerja sama guna menambah frekuensi penerbangan ke Flores. Saya yakin wisatawan akan berbondong-bondong ke Flores karena sektor pariwisata luar biasa menarik. Termasuk penangkapan ikan paus di Lamalera yang dilakukan nelayan dengan alat tradisonal. Hal itu ternyata sangat menarik. Makanya saya juga rindu suatu saat mengunjungi Flores dan juga Lamalera di Pulau Lembata,” lanjut Adji Massaid.

Dalam sebuah tulisannya tentang pembangunan negara ia menyebutkan bahwa pembangunan negara minus infrastruktur itu sama dengan nol. Itulah sebabnya, ia melihat NTT belum maju karena memang belum ada pembangunan infrastruktur jalan memadai. Makanya, perlu anggaran lebih besar untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia bagian timur, termasuk NTT.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur akan menggerakkan sektor lain, termasuk pariwisata. NTT memiliki aneka ragam kekayaan budaya dan alamnya yang menarik wisatawan. “Banyak kebudayaan di NTT yang bisa ditonjolkan dan diangkat ke pentas nasional,” imbuh Adji Massaid.

Mantan suami artis cantik Reza Artamevia ini punya kesan khusus dengan orang NTT. Meski menurutnya orang NTT kaku, namun hatinya baik. Orang NTT pun tidak menuntut uang tetapi mereka butuh sebuah relasi kekeluargaan yang erat dan damai.

“Itu yang membuat saya secara pribadi kagum terhadap NTT. Makanya, saya rindu suatu saat bisa menikmati keindahan alam Pulau Komodo, Danau Kelimutu, dan desa nelayan Lamalera di Lembata kemudian bertemu dengan masyarakatnya,” lanjut ayah tiga anak ini. (Ansel Deri/Paulus Lima)
Sumber: Mingguan Flores Pos Jakarta No. 14 Edisi 27 Mei – 3 Juni 2007
Ket foto: Anggota DPR RI Chandra Pratama Samiadji Massaid SE atau Adjie Massaid (gbr 1) dan bersama sang istri Angelina Patricia Pingkan Sondakh SE, M.Si atau Angie (gbr 2).
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger