Headlines News :

Mengenang Tragedi Minamata

Written By ansel-boto.blogspot.com on Friday, August 31, 2007 | 10:17 AM

Oleh Ansel Deri
putra Lembata, tinggal di Jakarta

MENGAPA studi banding tambang dilakukan di PT Newmont Minahasa Raya (NMR) di Kabupaten Minahasa Selatan (sekalipun kunjungan hanya di Bolaang Mongondow) dan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) di NTB yang nota bene perusahaan itu milik Pak Yusuf Meruk?


Pertanyaan itu saya ajukan kepada Bupati Lembata Drs Andreas Duli Manuk di Hotel Aston Atrium Senen, Jakarta Pusat, Minggu (19/8) malam. Jawabannya, tentu tidak mungkin ke perusahaan lain.

Saya (dan Pastor Michael Peruhe, OFM dari JPIC-OFM) beruntung diajak Keluarga Besar Leragere Jakarta (KBLJ) yang dipimpin ketuanya, Ola Tukan Agustinus bertemu Bupati Manuk. KBLJ ingin mendapat penjelasan terkait kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata memberikan rekomendasi kepada Merukh Enterprises Coopers (MEC) melalui anak perusahaannya, PT Merukh Lembata Coopers (MLC) melakukan kegiatan eksplorasi tambang di wilayah Kedang dan Lebatukan. 

Sedang Bupati didampingi Paul Tokan, salah seorang dari kurang lebih 80 orang peserta studi banding. Paul masuk dalam rombongan studi banding di NMR. Ternyata, malam itu rekan Paul mengaku ia adalah wartawan yang baru 15 tahun berkutat di dunia jurnalistik. (Saya tidak tahu apa nama medianya. Apa terbit di Jakarta, Kupang atau Lewoleba) Dan setelah mengikuti studi banding selama beberapa waktu, hasil amatan rekan ini juga menginformasikan bahwa suasana lapangan sangat bagus. Artinya, kekhawatiran yang selama ini muncul terutama persoalan lingkungan hidup hanya dilebih-lebihkan.

Dalam pertemuan itu, Bupati mengaku bahwa agar ada gambaran tentang tambang maka masyarakat yang setuju dan tidak setuju (pro-kontra) dengan rencana tambang, maka pihaknya menyuruh masyarakat melihat langsung situasi di lapangan. Kemudian, tentu diharapkan memberikan persepsi tentang pentingnya tambang di Lembata nanti. Saya teringat dengan kehadiran kurang lebih 80 orang peserta di Hotel Ritz Carlton, kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada 13 Agustus 2007. Seorang peserta mengabarkan saya kalau utusan masyarakat itu baru pulang dari lokasi studi banding. 

Pada hari itu, mereka akan memaparkan hasil studi banding di Minahasa dan Nusa Tenggara di hotel itu. Seorang rekan wartawan malah heran. Ia bertanya, “Kenapa mesti sosialisasi di depan calon investor dan bukan di depan masyarakat Lembata? Bukankah perjalanan mereka itu dengan APBD Lembata? Mengapa pula di hotel sekelas Ritz? Berapa besar dana rakyat Lembata yang dikuras untuk membiayai hotel dengan jumlah peserta sebesar itu?” Saya tahu dan bisa memahami pertanyaan rekan ini. Hotel high class itu menjadi tempat pendeklarasian pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Fauzi Bowo – Prijanto yang baru saja terpilih memimpin DKI. Saya termasuk satu dari puluhan wartawan media cetak dan elektronik yang hadir. Tapi, lupakan saja cerita ini.

Janji perusahaan

Bagaimana dengan janji perusahaan kepada masyarakat lokal, terutama para pemilik tanah, misalnya? Inilah pengakuan pihak Merukh Lembata saat berlangsung pertemuan di Ritz Hotel Carlton Jakarta, Senin (13/8) lalu. Pemilik tanah akan diberikan ganti untung satu unit apartemen lengkap dengan fasilitasnya. Tanah dibayar dengan harga sesuai nilai jual obyek pajak (NJOP). Putra-putri dan keturunan pemilik tanah mempeoleh “hak utama dan hak pertama” untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan pada perusahaan.

Hak utama dan pertama? Sabar dulu! Saya pernah diundang Care International Indonesia (CII) bersama sepuluh wartawan dari Jakarta melakukan peliputan di wilayah pertambangan marmer desa Fatumnasi dan sekitarnya, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kebetulan di pesawat saya bertemu dengan Om Anzis Kleden yang saat itu wartawan harian Indonesian Observer. Ia termasuk dalam rombongan wartawan ini. Kami sempat diskusi soal tambang dengan data yang masih sangat terbatas. Di lapangan, ternyata banyak persoalan yang kami temukan terutama menyangkut manfaat kehadiran perusahaan. Begitu pula jangan berharap bisa masuk sampai lokasi. Tapi, jika diundang perusahaan yang sudah kongkalikong dengan Pemda, misalnya? Semua oke. Sejak dari airport menuju hotel, Anda diservis all out. Tapi apa hasil pengamatan Anda nantinya? Ya, idem dito pengundang.

Perlu dicatat, praktek-praktek pembangunan yang bias daratan pasca diberlakukan UU No. 32 Tahun 2004 (sebelumnya UU No. 22 Tahun 1999) tentang Pemerintahan Daerah, telah mendorong percepatan eksploitasi sumber daya alam (SDA) dan lingkungan. Bergesernya kepentingan eksplorasi menjadi eksploitasi meninggalkan prinsip-prinsip keselamatan lingkungan. Jika hal ini dipaksakan di Lembata dengan luas daratan yang begitu kecil, maka tanpa sadar kita sedang mendesain sebuah malapetaka besar bagi masa depan lingkungan kita.

Tragedi minamata

Mungkin sebagian masyarakat Lembata belum pernah mendengar tragedi Minamata, Jepang. Tapi, bagi masyarakat yang bermukim di lokasi pertambangan di beberapa tempat di Indonesia, tragedi ini tentu tak asing. Apalagi, masyarakat Kabupaten Minahasa Selatan, tempat PT Newmont Minahasa Raya, misalnya. Tragedi Minamata yang berlangsung tahun 1953 – 1960 disebabkan oleh pencemaran merkuri yang mengakibatkan 1.800 orang meninggal. Hingga kini kepedihannya masih dirasakan penduduk Minamata. Selain meninggal, ribuan warga lainnya menderita cacat fisik dan mental akibat limbah Chisso Corporation yang digelontorkan ke laut Jepang sejak tahun 1932.

Mau tahu merkuri? Merkuri itu logam berat yang terakumulasi di lingkungan perairan (sedimen, biota) dan tidak terurai. Merkuri (Hg) merupakan unsur cair dan dikenal juga dengan nama air raksa. Dalam industri Khlor-alkali, merkuri digunakan untuk menangkap logam Natrium dari Natrium Chlorida (NaCl). Campaign Manager Walhi Kalimantan Barat, Hendi Chandra menjelaskan, pada industri manufaktur vinilkhlorida di Jepang merkuri digunakan sebagai katalis. Pemakaian merkuri pada industri tersebut mengakibatkan tersebarnya merkuri di perairan teluk Minamata. Di mana limbah industri manufaktur vinilkholrida dibuang ke laut.

Nah, pada tahun 1960 dunia dihebohkan dengan penyakit kerapuhan tulang yang mengakibatkan penderita sama sekali tidak bisa bergerak. Setiap gerakan yang yang dilakukan akan menyebabkan tulang patah. Ternyata, setelah melewati serangkaian uji medis, misteri itu terkuak. Penyebab penyakit tersebut berawal dari keracunan logam berat merkuri yang masuk melalui ikan yang ditangkap nelayan di perairan teluk Minamata. Setelah ikan hasil tangkapan dikonsumsi masyarakat, perlahan-lahan bencana kematian justru mengintai masyarakat Minamata. Nah, bisa dibayangkan bagaimana jika sebuah perusahaan diijinkan menambang di Lembata. Saya tak habis pikir dengan ngototnya Pemerintah Kabupaten Lembata meloloskan ijin perusahaan pertambangan masuk di daerah itu.

Pesan Presiden SBY

Pesan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada acara Peresmian Pembangunan Infrastruktur Nasional di Pacitan, Jawa Timur pada 12 April 2006 lalu masih relevan untuk dipahami para bupati dan walikota di era otonomi daerah. Menurut Kepala Negara, pembangunan infrastruktur itu penting mengingat dalam kehidupan keseharian masyarakat, kita tidak dapat terlepas dari kebutuhan tersedianya infrastruktur yang memadai. Dengan ketersediaan infrastruktur maka diharapkan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kesejahteraan rakyat, makin hari makin meningkat. Infrastruktur sesungguhnya berkaitan erat dengan kebutuhan hajat hidup orang banyak.

Pemerintah dituntut bekerja lebih keras untuk dapat memenuhi keperluan itu sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat. Keberhasilan pembangunan seringkali diukur dengan beberapa banyak ketersediaan infrastruktur yang benar-benar bermanfaat bagi kepentingan rakyat. Rakyat memerlukan jalan yang mulus, bukan jalan yang penuh lubang. Jembatan yang kokoh, bukan jembatan yang sudah miring. Irigasi yang dapat mengatur penyaluran air, bendungan yang memadai serta berbagai infrastruktur lainnya, baik di perkotaan maupun di perdesaan. Di Lembata? Justru yang dikejar adalah industri pertambangan sekalipun ditolak keras masyarakat. Tapi, jika sudah keputusan final maka bencana lingkungan bakal mengintai Lembata dan pulau-pulau sekitarnya seperti Alor, Solor, Adonara, dan Flores. Bukan tidak mungkin, tragedi Minamata menunggu di depan mata.
Sumber: Flores Pos, 30 Agustus 2007

Para Pastor Menolak Tambang

Para pastor di Dekanat Lembata, Keuskupan Larantuka sepakat menolak rencana pertambangan emas dan tembaga di Lembata.

Kesepakatan ke 22 orang pastor itu dibuat dalam sebuah rekoleksi bersama 10 Mei 2007. “Kolegiolitas para pastor di Lembata sudah sepakat untuk bersama masyarakat menolak rencana pertambangan yang akan dilakukan PT Merukh Enterprises Coopers (MEC),” ungkap aktivis Divisi Advokasi JPIC-SVD Provinsi Ende, Pastor Marselinus Vande Raring, SVD melalui telepon jarak jauh, Rabu 15/8.

Penolakan tersebut, lanjut Pastor Vande, didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, dampak kerusakan lingkungan dan ekosistem yang akan terjadi. Kedua, masyarakat tercabut dari dari akar budayanya karena dipindahkan secara paksa. Ketercabutan tersebut akan menimbulkan perpecahan sosial.

Ketiga, masyarakat tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan mengenai hal tersebut. Keempat, masyarakat akan kehilangan hak-hak ulayat atas tanah dan air yang merupakan sumber utama hidup. “Tanah merupakan bagian dari sebab-musabab keberadaan manusia dan tempat akhir riwayat hidup manusia. Mengapa harus merampas hak para petani yang hidupnya bergantung pada tanah,” tegasnya.

Pastor Vande juga menyoroti sikap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata, yang menyetujui pertambangan dengan alasan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). “Untuk meningkatkan PAD dan kesejahteraan rakyat bukan hanya lewat tambang. Kemiskinan yang dialami masyarakat disebabkan oleh salah urusa pemerintah dan kemiskinan struktural,” tambahnya seraya mendesak DPRD Lembata mengambil sikap terhadap kegelisahan masyarakat terkait rencana kegiatan itu.

Berbagai aksi

Para pastor mewujudkan penolakannya dengan mendampingi warga masyarakat menggelar aksi penolakan. Warga masyarakat juga menyelenggarakan ritual adat untuk menolak rencana yang sama.

Aksi damai dilakukan pada 23 – 24 Juli. Pada kesempatan itu sekitar 1.600 warga dari Kecamatan Lebatukan –dari Desa Lewoeleng, Lodoblolong, Seranggorang, Ledotodokowa. Lamadale, Desikare, Tapo Baran dan Tapolangu- Kecamatan Omesuri dan Buyasuri melakukan aksi demonstrasi damai di gedung DPRD. Mereka menuntut bupati mencabut izin yang sudah dikeluarkan.

Namun, Bupati Lembata Andreas Duli Manuk tak mau bertemu masyarakat. “Bupati benar-benar mengkhianati rakyat yang telah memilihnya. Kami harus mengeluarkan mosi tidak percaya pada bupati. Kami menolak tamang apapun. Ini harga mati,” kata Pastor Vande yang juga pastor pembantu Paroki St Arnoldus Jansen Waikomo, Lewoleba.

Menurut Pastor Vande, secara kelembagaan baik Dekanat Lembata maupun Keuskupan Larantuka, belum menunjukkan sikap konkret terkait hal tersebut. “Bapa Uskup hanya menganjurkan dialog dengan berbagai pihak. Tindakan konkret seperti membentuk tim investigasi atau surat gembala pun belum ada,” jelasnya.

Aksi penolakan tersebut disukung berbagai elemen seperti Lembata Center, Forum Komunikasi Antar Petani Leragere (Fokal), Forum Komunikasi Desa Pesisir (Forkomdisir), dan Forum Komunikasi Tambang Lembata (FKTL).

Keputusan Kontroversial

Penolakan rencana tambang bermula dari keputusan kontroversial Pemkab dan DPRD Lembata. Keputusan yang dimaksud adalah penandatanganan nota kesepahaman antara pihak-pihak MEC melalui anak perusahaannya, PT Merukh Lembata Cooper (MLC) dengan kedua institusi tersebut pada 23 Agustus 2006 di Hotel Grand Kemang Jakarta. Selain itu, Bupati Lembata juga mengeluarkan SK Bupati No 37/2005 tentang izin eksplorasi kepada MEC.

Menurut Pastor Vande, tindakan Pemkab dan DPRD Lembata itu tidak pernah melibatkan masyarakat. Tindakan tersebut merupakan pengkhianatan terhadap kepercayaan masyarakat.
Sumber: Mingguan HIDUP edisi 26 Agustus 2007

Fransiskus Lua Mudaj, Amanah yang Harus Dijalankan

Written By ansel-boto.blogspot.com on Tuesday, August 21, 2007 | 12:50 PM

MESKI PENGANUT  Katolik, ia tak menolak ketika warga desa memintanya menjadi Ketua Panitia Pembangunan Masjid Asyamat Luki, Desa Pantai Harapan, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). “Ini amanah yang harus saya jalankan,” katanya.

Fransiskus Lua Mudaj, menjalani tugas “membangun” masjid tersebut ketika menjadi guru SD Inpres Luki, Pantai Harapan, 1989-2000. Umat Muslim Luki sendiri yang meminta kesediaannya menjadi Ketua Panitia Pembangunan Masjid Asyamat Luki. Frans -demikian sapaan akrabnya- saat itu juga menjabat Ketua Lembaga Kemasyarakat Desa (LKMD) Pantai Harapan.

Frans menuturkan, waktu itu warga Muslim Luki sangat membutuhkan tempat ibadah. Yayasan Amal Muslim Pancasila menyumbang sekitar Rp. 100 juta lebih. Kepanitiaan pun segera dibentuk. Sayang, karena masih ada perbedaan satu sama lain maka kegiataannya sempat mandeg.

Kemudian, kepala tukang akhirnya berembuk dengan kepala desa dan tetua adat. “Mereka sepakat dan meminta kesediaan saya menjadi ketua panitia. Sebagai guru saya terpanggil mengemban tugas mulia itu. Akhirnya, atas doa dan kerja keras umat Muslim maka Masjid Asyamat bisa dirampungkan dalam jangka waktu tak sampai satu tahun. Sebagai penganut Katolik saya sangat bangga karena bisa ikut membantu dalam pembangunan rohani umat. Ini pengalaman saya yang tak akan pernah saya lupa selama hidup,” tuturnya.

Frans sangat bangga karena bisa ikut membantu dalampembangunan rohani umat. “Ini pengalaman saya yang tak akan pernah saya lupa selama hidup,” katanya.

Peristiwa aneh

Ada satu peristiwa aneh yang terekam kamera. Sesaat sebelum dipasang menara Masjid, pada malam hari muncul cahaya di atas puncak Masjid. Peristiwa itu terjadi pada Malam Natal. Seorang kameramen dari luar desa mencoba mengabadikan cahaya itu dengan kamera miliknya. Cahaya itu akhirnya terekam jelas.

“Malam itu, para tukang dibantu warga langsung memasang menara Masjid. Menurut warga, mereka heran karena baru pertama kali ada cahaya yang muncul di atas sebuah Masjid yang baru selesai dibangun. Apakah ini sebuah peristiwa aneh atau peristiwa religius, saya tidak tahu. Yang ada dalam hati saya adalah kebanggaan karena bisa menyelesaikan sebuah tugas yang telah dipercayakan kepada saya,” katanya memberi alasan.

Setelah pembangunan fisiknya rampung, dilsaksanakan upacara serah terima dari Yayasan Amal Muslim Pancasila kepada warga Luki. Upacara dilakukan secara simbolis di Larantuka, kota Kabupaten Flores Timur. (kini sudah terpisah dari Lembata). Frans tidak hadir karena ia harus mengawasi anak didiknya yang saat itu sedang menempuh ulangan umum kenaikan kelas.

Masjid pun membutuhkan penerangan. Guru Frans meminta Asisten II Setda Flores Timur, Ir Feliks Sari Kobun (almahrum-red) membantu satu genset untuk penerangan Masjid. Permintaan itu pun bisa dipenuhi.

Pengabdian panjang

Rekam jejak pengabdian guru Frans, terbilang panjang dan penuh dedikasi. Guru yang sederhana ini lulus tahun 1975 di Sekolah Pendidikan Guru Kemasyarakatan (SPGK) Lewoleba, Kabupaten Lembata. Kemampuan ilmu yang ia miliki membuat ia didorong untuk kuliah. Namun, keluarganya keberatan karena masalah biaya.

Nah, dalam sebuah kunjungannya di Boto tahun 1976, camat Nagawutun H. Sengadji memintanya untuk ikut membuka SMP Loang, Kota Kecamatan Nagawutun. Permintaan Pak Haji itu tak ia sia-siakan. Bersama dua rekannya, Aloysius Ose Ama de Ona (almahrum) dan Usmar Adi Sengadji mereka membuka SMP Loang.

Namun, tak lama berselang, pada Desember 1976, mereka langsung mengikuti testing menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Ketiganya akhirnya lulus. Frans menjadi guru di SD Inpres Loang. Di sini, ia mengabdi selama tiga tahun yakni tahun 1976-1979. Selepas dari Loang, ia dipindahkan ke SDK Lamalera. Tugas di desa nelayan ini dijalani dari tahun 1979-1986.

“Saya kemudian diangkat menjadi Kepala SD Inpres Waimuda, Kecamatan Atadei hingga tahun 1989. Saya kemudian dimutasi ke SD Inpres Luki hingga tahun 2000. Setelah 2000, saya dimutasi lagi ke SD Inpres Pasir Putih Mingar hingga tahun 2002,” katanya.

Dua tahun ia mengabdi di Mingar. Ia akhirnya dipindahkan ke SDK Imulolong, Wulandoni. Di sini ia hanya bertahan beberapa bulan karena kepindahannya terpaksa. Meski demikian, karena guru sudah menjadi panggilan jiwa maka ia bertahan menunaikan tugas mulia itu. Ia tetap komit mengingat anak-anak dididknya yang duduk di kelas VI sedang siap-siap menghadapi ujian EBTANAS.

“Usai ujian, saya minta menjadi guru bantu selama satu setengah tahun. Toh, saya akhirnya diminta lagi menjadi kepala SDK Atawuwur mulai 2006 hingga saat ini,” katanya. (Paulus Lima/Ansel Deri)
Sumber: Mingguan Flores Pos Jakarta edisi 19 Agustus 2007

Rikardus Daton Klobor, Raih S-2 Tepat Dua Tahun

Written By ansel-boto.blogspot.com on Friday, August 10, 2007 | 11:44 AM

Keberhasilan harus diraih dengan kerja keras dan ketekunan. Rikardus Daton Klobor membuktikannya. Ia berhasil menyelesaikan materi studi Master (S-2) dalam waktu satu setengah tahun di Universitas Parahyiangan Bandung.

Tapi di atas semua usaha dan karya, doa adalah segalanya. Pengakuan jujur ini keluar dari mulut Ir Rikardus Daton Klobor MT, staf pengajar Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, NTT.

“Bagi saya keberhasilan yang kita raih ibarat seorang petani menanam. Kemudian pada musim panen ia memetik hasilnya dengan penuh suka cita,” ujar Rikar Daton. Tahun 2003, misalnya, ia menerima penghargaan bergengsi di bidang arsitektur dan lingkungan.

Saat itu, ia menerima Suwondo Award dari Yayasan Bismo Sutedjo Jakarta kategori Arsitektur dan Lingkungan. Panitia menilai, tesis master Rikar di Program Pascasarja FT Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung merupakan karya yang orisinal dan aplikatif bagi masyarakat di pedasaan.

Ia bangga karena karyanya itu mengalahkan ratusan tesis master bidang arsitektur dan lingkungan seluruh Indonesia. Ia juga berhak atas uang Rp. 14 juta. “Panitia menilai karya saya bagus sehingga Dewan Juri menetapkan sebagai pemenang pertama. Bagi saya ini merupakan penghargaan yang positif bagi saya sebagai seorang pengajar,” kata Rikar.

Rikar sesungguhnya anak kampung dari Desa Belabaja, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, NTT. Dari penampilannya, tak ada yang istimewa. Namun ketika diajak ber-sharing- soal pengalaman hidup, sosok dosen yang sederhana bisa bercerita panjang lebar.

Setelah menamatkan sekolah dasarnya (SD) di desanya, Belabaja, ia melanjutkan studi ke Sekolah Teknik (ST) dan Sekolah Teknik Mesin (STM) Bina Karya Larantuka, Kabupaten Flores Timur (Flotim). Sekolah ini milik bruderan Bunda Hati Kudus (BHK).

Soal jurusan yang dipilihnya, Rikar bercerita bukan berhubungan dengan teknik. Semula ia ingin masuk jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Tapi karena dorongan Andreas Bera, kakak sulung yang juga seorang guru maka Rikar masuk jurusan teknik. Kendati demikian, diakuinya, hal ini bukan menjadi halangan.

“Proses itu berjalan alamiah, tidak ada rekayasa. Atas saran dari kakak sulung, saya menekuninya dengan senang hati. Bagi saya hidup ini juga sebuah pilihan. Kita tak hanya pangku tangan lalu meraih sukses. Itu sonde (tidak) ada dalam hidup,” cerita Rikar, ayah empat ini.

Menurutnya, walaupun keinginannya berbeda dengan kakak sulung justru menantang dan mendorong dia lebih giat meraih cita-citanya. “Bagi saya masa depan itu ibarat bola yang harus direbut,” ujar suami dari Yuliana Maria Wea ini menganalogikan.

Wujud perjuangannya Rikar itu benar-benar ditunjukkan ketika melanjutkan kuliah di FT Unwira Kupang. Saat itu, untuk mengatasi kebutuhan kuliahnya, kadang ia menjadi buruh bangunan. Anak desa ini tak malu-malu tinggal di gudang bangunan dalam komplek kampus menjalani profesi sebagai buruh bangunan.

Semua itu ia lakukan demi mencari uang guna membiayai hidupnya. Entah karena merasa prihatin, Ir. Paul Iwo, dosennya di FT Unwira mengajak ia tinggal di rumahnya. Rikar diajak untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan desain. Pembawaan yang kalem dan jujur seorang Rikar membuat Paul Iwo dan istrinya menganggapnya seperti keluarga sendiri.

Dari sini, ia terus menunjukkan kematangan dalam bidang desain dan arsitektur. Rikar berhasil menggambar sejumlah gedung di Kota Kupang dan sekitarnya. Misalnya, Gereja Paroki St Imaculata Kapan dan Kapel Seminari Tinggi St Mikhael Penfui di Keuskupan Agung Kupang.

Kemudian bersama Paul Iwo, ia menggambar Dormitorium Seminari St Rafael Kupang, Gereja Paroki St. Maria Assumpta Walikotamadya Kupang, Gedung BKKKS Kupang dan gedung Soverdi Keuskupan Agung Kupang.

Ia juga menjadi staf ahli PT Arsi Konsultan-Kupang dan pernah dipercayakan menjadi Kepala Lembaga Teknologi Bangunan Unwira periode 1994-1998. Ia juga pernah magang sebagai dosen di Institut Teknologi Surabaya (ITS) selama satu semester tahun 1994.

Bagi Rikar, apapun tugas yang diberikan harus dikerjakan dengan tanggungjawab. Ini merupakan garansi bagi yang memberi kepercayaan. Karena itu, sebelum dan sesudah menyelesaikan tugas, ia selalu teringat akan kebaikan Tuhan sehingga perlu waktu sejenak untuk berkomunikasi dalam doa.

“Saya sadar. Kasih Tuhan senantiasa saya terima. Saat semester tiga, mendapat beasiswa dari Asosiasi Pendidikan Tinggi Katolik sehingga saya bisa menyelesaikan kuliah tahun 1984,” cerita Rikar.
Tapi, ia seolah tak percaya jika tesisnya diseleksi dan meraih juara pertama dari sekian banyak tesis yang diseleksi. Bahkan ketika panitia memberitahu ia datang ke Jakarta, Rikar malah menyuruh seorang ponakannya untuk mengecek kebenaran award itu.

“Saya khawatir jangan sampai pemenang harus menyetor uang ke panitia sebelum hadia kita terima. Ternyata, pendiri yayasan itu salah seorang pendiri Fakultas Teknik UI.

Tesis Rikar terpilih untuk kategori Arsitektur dan Lingkungan. Sedangkan juara dua dan tiga diraih Ir. Elfida Agus MT, dosen Fakultas Teknik (FT) Universitas Bung Hatta Padang, Sumatera Barat dan Ir. Cahyo Utomo, MT staf Dinas Tata Kota Pemerintahan Kota (Pemkot) Surabaya, Jawa Timur.

Saat itu, Ketua Pembina Yayasan Suwondo Bismo Sutedjo, Prof. Dr. Ir. Suwondo Bismo Sutedjo mengemukakan, penentuan ketiga pemenang dilakukan setelah panitia menyeleksi tesis magister (S-2) dari kurang lebih 20 universitas di seluruh Indonesia.

“Yang memberikan jawaban itu sebanyak 5 universitas. Satu karya S-2 pertama yang masuk itu dari Universitas Bung Hatta Padang,” jelas Rikar mengutip Suwondo Bismo Sutedjo. Kemudian satu dari Universitas Mercu Buana Jakarta. Setelah itu dua dari Program Pascasarjana Fakultas Teknik (FT) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung.

Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Jawa Tengah juga mengirim dua buah tesis. Delapan tesis itu diseleksi oleh para pakar arsitektur yang tergabung dalam Kelompok Tujuh.

Ketujuh pakar Kelompok Tujuh itu adalah Ir. Achmad Noe’man, Dr. Ir. Bianpoen, Ir. Sonny Sutanto, M. Arch, Ir. Budi A Sukada, Grad. Hons. Dipl. AA, Ir. Triatno Yudo Harjoko, M.Sc, Ph.D, Ir. Atok Wijanarko, MM, dan Ronald L Tambun, MM. Delapan tesis itu diseleksi sesuai dengan topik yang cocok yakni pembentukan komunitas dan lingkungan terutama bagi mereka yang kurang mampu. Topik tesis yang sesuai itu kemudian diteruskan kepada Tim Juri yang terdiri dari Ketua Dr Ir Haryadi, M. Arch (mewakili organisasi profesi), Wakil Ketua Drs Djafar H Assegaf (mewakili masyarakat), dan Anggota Ir. Karnaya, M.A.U.D (mewakili Perguruan Tinggi).

Gempa bumi disertai tsunami yang meluluhlantakkan Pulau Flores pada 1992 menggoda Rikar meneliti bambu sebagai bahan rumah yang tahan gempa. Dosen yang kalem ini akhirnya mengarahkan perhatiannya pada enam desa di Kecamatan Maunori dan Aesesa, Kabupaten Ngada, Flores sebagai sampel penelitiannya.

Desa-desa itu adalah Kota Wuji Timur (Kotim), Kota Wuji Barat (Kobar), Mbae Nua Muri (Mbari), Keli, Maupisa, dan Kota Mbai. Tak hanya desa-desa yang potensial memiliki tumbuh bambu. Hutan bambu dapat ditemukan di seluruh kabupaten Ngada dengan berbagai jenis dan kualitas bambu yang baik.

Rikar melihat, perkembangan teknologi berdampak luas hingga ke seluruh pelosok-pelosok. Hal ini terlihat sepanjang jalur pertumbuan ekonomi yang mengubah pandangan (image) masyarakat sehingga mereka berlomba membangun rumah tembok, sekalipun dalam kondisi kekurangan. Singkatnya, kelompok masyarakat yang belum memiliki rumah tembok, dianggap ketinggalan zaman.

Nah, jika ditelusuri, Ngada merupakan daerah yang labil dan rawan terhadap ancaman gempa. Karena itu, berdasarkan pengalaman maka penggunaan bangunan konstruksi bambu jauh lebih aman dibanding dengan bangunan yang menggunakan materian bata dan semen. Ia memberi gambaran bahwa perbandingan kerusakan saat gempa antara bambu dan beton adalah yaitu 1:9. Ini jika dibandingkan saat terjadi gempa Flores 12 Desember 1992.

Ngada juga merupakan daerah tujuan transmigrasi lokakal (translok). Pada 1998, Pemerinta NTT saat itu sempat memikirkan alternatif rumah bambu sebagai perumahan transmigrasi lokal.

Gagasan tersebut, menurut Rikar, perlu mendapat tanggapan positif. Ini penting karena selain dapat mengantisipasi bahaya dan ancaman gempa, juga dapat menekan serta mempercepat proses konstruksi dan memberi nilai tambah bagi bahan bambu yang hingga saat ini dibiarkan tak berfungsi.

Sayangnya, sejalan dengan derasnya arus komunikasi dan informasi dewasa ini, telah terjadi pergeseran image masyarakat terhadap bambu. Rumah bambu seakan tidak mencerminkan kehidupan modern.

Karena itu, desa-desa yang merupakan pusat pertumbuhan di mana tata nilai kehidupan modern mulai mewarnai kehidupan masyarakat, penggunaan material bambu cenderung ditinggalkan dan diganti dengan rumah yang menggunakan material modern seperti dinding tembok jendela kaca serta atap seng.

Muncul pertanyaan, sejauh mana rumah bambu dapat diterima masyarakat calon pengguna? Jawaban atas pertanyaan itu, ujar Rikar, tidak saja terkait soal bagaimana rumah bambu dapat memenuhi tuntutan fungsional, kekuatan, dan keawetan tertentu hingga layak secara teknis teknologis.

Namun, lebih dari itu terkait pada suka atau tidak suka masyarakat terhadap rumah bambu. Persepsi masyarakat ini menjadi penting artinya. Pasalnya, rumah tidak saja mengemban fungsi fisik dan biologis tetapi juga fungsi sosial dan simbolik yang mencerminkan status sosial dan jati diri penghuninya.

Orisinalitas karya Rikar itu yang dinilai panitia Suwondo Award menarik karena menyentuh masyarakat pedesaan dari aspek arsitektur dan lingkungan. Rikar ingin melihat persepsi dan aspirasi masyarakat Ngada, Flores, NTT mengenai rumah bambu.

Hipotesisnya, rumah bambu sudah dijauhi masyarakat karena mereka sudah berubah. Namun dalam kenyataannya, persepsi dan apresiasi masyarakat masih tinggi. Atas prestasi itu, para pemenang diberikan piagam penghargaan dan uang tunai masing-masing Rp. 14.000.000,00 (juara 1), Rp. 6.000.000,00, dan Rp. 3.000.000,00.

Pengakuan atas karya ilmiah itu, menurut Rikar, merupakan suatu kebanggaan bagi Program Pascasarjana FT Unpar dan almamaternya, Unwira Kupang. Rikar mengakui, pihaknya tidak pernah membayangkan kalau tesisnya terpilih jadi pemenang. “Apalagi ditetapkan masuk juara 1 di antara semua tesis S-2 yang diseleksi panitia. Ini adalah pengakuan bagi saya sebagai orang kampung yang ternyata bisa berprestasi di tingkat nasional,” ujar Rikar merendah.

Ditanya bagaimana hadiah uang sebesar itu akan digunakan, ia merencanakan untuk menerbitkan dalam bentuk buku. Dengan demikian diharapkan bisa digunakan sebagai referensi bagi pengembangan arsitektur, khususnya di NTT.

“Saya akan meminta bantuan Unika dan Bapak Gubernur NTT Piet A Tallo agar membantu saya menerbitkan karya saya ini. Mudah-mudahan bisa menjadi sumbangan berharga bagi NTT,” ujar warga Paroki Santu Yoseph Penfui, Keuskupan Agung Kupang, NTT.

Rikar meraih gelar sarjana pada FT Unwira Kupang. Ia langsung mengabdikan diri sebagai staf pengajar di almamaternya. Rikar kemudian melanjutkan studi pada Program Pascasarjana FT Unpar Bandung, konsentrasi perencanaan arsitektur.

Dosen yang sederhana ini menyelesaikan masternya selama satu setengah tahun dan masuk 10 besar lulusan terbaik. Pada semester keempat, ia diwisuda. Saat itu, ia didampingi istri, anak, dan dua ponakannya yang tinggal di Jakarta.

Saat itu, ia sangat bersyukur dan bahagia karena Tuhan begitu baik hati. Sebagai ungkapan syukur mereka berdoa dalam kamar kos, tak jauh dari kampus. Kemudian mereka menumpang angkutan kota jurusan Ciumbeuleut-Stasiun. Di sekitar Dago, mereka turun dan menikmati makanan dan minuman di sebuah warteg di pinggir jalan.

“Saya sudah bertekad menerbitkan tesis master saya agar bisa jadi referensi mahasiswa teknik. Mudah-mudahan buku ini nantinya bermanfaat bagi adik-adik mahasiswa dalam mempelajari ilmu arsitektur dan desain,” kata Rikar.

Sukses itu, baginya merupakan buah kerja keras dan disiplin yang ditanamkan orangtuanya, Suban Klobor dan Bendikta Ose (keduanya alm). Juga ketiga kakaknya, Andreas Bera Klobor, Juliana Lepang Klobor, dan Wilem Pati Klobor. (Ansel Deri)
Sumber: Mingguan Flores Pos Jakarta
Ket foto: Ir Rikardus Daton Klobor MTA (gbr 1) dan bersama keluarga serta kerabat di kediamannya, Penfui, Kupang, NTT. Foto: dok. Ansel Deri

Petrus CJL Bello SH, MH, Bukan Soal Menang Kalah

Written By ansel-boto.blogspot.com on Thursday, August 09, 2007 | 10:28 AM

“Yang harus diperjuangkan adalah kebenaran dan keadilan. Bukan soal kalah atau menang. Keyakinan merupakan faktor utama bagi pengacara dalam menjalankan profesinya, yaitu keyakinan bahwa kebenaran dan keadilan selalu akan menjadi pemenang,” demikian prinsip yang dipegang Petrus CKL Bello SH, MH.

Sejak kecil, Petrus sudah bercita-cita menjadi pengacara atau dokter. Cita-cita itu terus membuncah saat ingin kuliah di Universitas Airlangga Surabaya. Tahun 1986, ia sebenarnya ingin kuliah kedokteran di Unair, maka ia mencantumkannya sebagai pilihan pertama.


Baginya, sosok dokter sangat menarik dan dibutuhkan masyarakat. Kemudian, pilihan kedua jatuh pada hukum. Pilihan ini juga menarik bagi Petrus. Apalagi, ditopang dengan hobinya membaca biografi tokoh-tokoh sukses. Termasuk novel-novel best seller seperti Shidney Sheldon dan Agatha Christie serta cerita-cerita kriminal lainnya.


“Jadi saat itu, saya mau memilih masuk salah satu dari dua fakultas yaitu kedokteran dan hukum karena saya pikir dua profesi itu sama-sama menolong orang,” ungkapnya. Bedanya, dokter menolong orang yang sakit secara fisik dan psikis. Sedangkan pengacara menolong orang yang sakit secara sosial atau biasa disebut pesakitan. Kalau dokter melihat anatomi penyakit klien yang sakit kemudian memberi obat. “Tapi, pengacara menolong klien yang sakit secara sosial lebih rumit (complicated) daripada usaha-usaha yang dilakukan oleh seorang dokter dalam menolong kliennya,” kata pemilik Kantor Advokat dan Konsultan Hukum Bello & Partners Jakarta ini.


Akhirnya Petrus diterima di fakultas hukum. Awalnya, ia tidak begitu tertarik kuliah di jurusan hukum. Namun, lama kelamaan tertarik ia bisa menikmati juga. “Di sini saya belajar bermacam-macam karekter orang dan agregatnya. Saya juga belajar tentang hukum dalam kaitannya dengan keadilan, kebenaran, kebebasan, persamaan, dan sebagainya,” tutur Petrus.


Menurut Petrus, seorang pengacara harus bisa masuk ke latar belakang kliennya yang mengalami masalah. Untuk itu, seorang lawyer dituntut kemampuan lebih dari sekadar tahu hukum (legalistik), tetapi juga mempunyai pengetahuan lain seperti psikologi, sosiologi, antropologi, filsafat manusia, filsafat hukum, dan sebagainya.


Seorang pengacara juga harus terus menimbah ilmu pengetahuan dan memperbanyak pengalaman. Karena itu, ia terus memperkaya wawasan dan pengalamannya. “Sampai saat ini saya masih terus belajar menimba ilmu pengetahuan (teori) dan filsafat. Hemat saya, teori hukum dan filsafat hukum adalah penting,” tandasnya. Ia menguraikan, keduanya sebagai dasar agar hukum dan praktik hukum tidak sewenang-wenang. Di mana teori hukum dan filsafat hukum tidak membatasi diri pada hukum yang berlaku, melainkan pada usaha pencarian ‘hukum yang benar’. “Jadi sebagai pengacara, saya berjuang untuk lebih mementingkan kebenaran dan keadilan ketimbang hal yang lainnya misalnya hal-hal yang sifatnya teknis,“ ujar ayah tiga anak ini. Karena itu, baginya, memenangkan sebuah perkara bukan segala-galanya atau tujuan utama berperkara.


Seperti air


Di mata Petrus, usaha mendapat keadilan itu seperti air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Ia masih melihat hukum lebih banyak menjangkau orang-orang yang berada di posisi bawah ketimbang yang di atas. Orang miskin selalu jadi korban dalam penegakan hukum. Mereka selalu tidak mendapatkan keadilan. Berbeda dengan orang kaya atau yang mempunyai kedudukan (strata) tinggi di masyarakat, yang bisa membayar pengacara. “Kadang, yang salah pun bisa jadi benar. Yang hitam bisa jadi putih atau yang putih jadi hitam. Padahal, aturan hukum sudah cukup jelas,” katanya.


Selain itu, Petrus mengungkapkan masalah yang berkaitan dengan peraturan perundang-undangan itu sendiri. Di mana kadang terlalu dipaksakan pembuatannya tanpa melihat aspek yang lain. Misalnya, aspek kesadaran hukum masyarakat yang masih rendah, adanya pluralitas moral yang dimiliki oleh warga masyarakat. Juga mentalitas penegak hukum yang belum siap.


Petrus berpendapat, ke depan perlu diupayakan pendidikan hukum bagi masyarakat melalui sosialisasi budaya sadar hukum di masyarakat, pembangunan sikap dan perilaku para penegak hukum yang baik.


Pengacara muda


Setelah merampungkan studi pada Fakultas Hukum Unair awal 1991, Petrus langsung memutuskan bekerja sebagai pengacara. Saat itu ia berumur 23 tahun. Tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menjadi jaksa, hakim, polisi bahkan pegawai negeri sipil (PNS).


Hobi membaca kisah sukses para tokoh dunia menopang cita-citanya menjadi pengacara terkenal. Profesi pengacara adalah panggilan hidupnya yang ingin dapat menolong kesulitan yang dihadapi sesamanya. Ini berbeda dengan kebanyakan orang saat ini yang masuk Fakultas Hukum sekadar ingin jadi pengacara untuk cepat kaya.


Saat Petrus menjadi pengacara tahun 1991, profesi itu belum menjanjikan. Waktu itu, orang beranggapan bahwa supremasi hukum, rule of law belum berjalan karena politik dan kekuasaan masih mendominasi hukum (rule by law). Karena itu, orang tidak tertarik menjadi pengacara dan memilih profesi lain. “Memang saat itu ada juga pengacara tapi jumlahnya nggak sebanyak seperti sekarang. Tahun 1991, saya sudah mengantongi ijin praktek pengacara dan mulai menangani kasus-kasus hukum,” katanya.


Malang melintang di beberapa kantor pengacara, membuat Petrus memutuskan membuka kantor pengacara sendiri. Keputusan ini diambil setelah ia mempertimbangkan pengalaman dan kepercayaan yang diberikan oleh para relasi dan klien selama ini. Februari tahun 2000, ia membuka kantor sendiri.


Ambil bagian


Meski sibuk dengan profesi pengacara, bukan berarti tugas-tugas lain diabaikan. Ia, misalnya, dipercaya sebagai Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Dekanat Jakarta Pusat. Pengacara ini juga duduk sebagai wakil Katolik dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kotamadya Jakarta Pusat.


Kesibukan lainnya yang lain, ia menjadi peserta program Pasca Sarjana (S2) Filsafat STF Driyarkara, mengikuti Program Doktoral Bidang Hukum Universitas Indonesia, dan tampil sebagai pembicara dan moderator dalam berbagai kegiatan seminar dan lokakarya. Baik yang diselenggarakan paroki-paroki maupun seminar-seminar umum.


Di lingkup keluarganya, ia juga termasuk sosok yang sangat peduli dengan urusan pendidikan. Sebanyak tujuh anak dari kampungnya, Adonara, ia biayai sejak di bangku SLTA hingga kuliah. “Ini penting karena pendidikan menjadi jaminan mengatasi sebagian besar persoalan hidup. Saya harus menanamkan pentingnya pendidikan kepada keluarga saya,” tekad Petrus. (Ansel Deri)


Lahir : Surabaya, 19 Mei 1968

Istri : Paulina Surat Geroda
Anak : -Justicia Bello
-Valentino Rosary Bello
-Theresia Bello

Pendidikan : - S-1 Fakultas Hukum Unair tahun 1991.

- S-2 Hukum Ekonomi UI tahun 2006.
- Mahasiswa S-2 STF Driyarkara, 2007- sekarang.
- Mahasiswa S-3 Bidang Hukum UI, 2007 – sekarang.
- Peserta Extention Course STF Driyarkara Jakarta, 2005 – sekarang.

Riwayat Pekerjaan:

- Advokat dan Pengacara sejak 1991.
- Pendiri Law Firm Bello & Partners tahun 2000.

Aktivitas Lain : - Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK)

Dekenat Jakarta Pusat.
-Wakil Katolik dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)
Kotamadya Jakarta Pusat.
-Menjadi pembicara dan moderator dalam berbagai seminar.

Alamat Kantor : Gedung Arthaloka Lt. 16, Suite 1610

Jl Jendral Sudirman Kav. 2 Jakarta Pusat 10350
Tlp/Fax: (021) 2512475-76/2512476 – E-mail:bellopartner@cbn.net.id
Website: www.bellolaw.co.id
Sumber: HIDUP tanggal 5 Agustus 2007

Metode Pembelajaran Bahasa Inggris di SLTP

Written By ansel-boto.blogspot.com on Thursday, August 02, 2007 | 10:52 AM


Oleh Hermien Rosalia Nogo Botoor, S.Pd
guru SLTP Tri Ratna Jakarta

PEMBELAJARAN Bahasa Inggris secara formal di SLTP mencakup empat kemampuan berbahasa yaitu berbicara (speaking), mendengar (listening), membaca (reading), dan menulis (writing) di samping aspek-aspek lain seperti kosa kata, tata bahasa dan ejaan. Aspek-aspek kebahasaan ini harus diperhatikan seorang guru bahasa Inggris dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan anak didik. Hal ini membutuhkan seorang guru yang kreatif dalam menumbuhkembangkan minat siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Inggris karena mata pelajaran ini kerap dirasakan sebagian peserta didik sebagai sebuah pelajaran yang tidak menarik.

Peranan seorang guru dalam mengatasi persoalan ini tergantung kreativitasnya menyajikan materi berupa penggunaan pola-pola atau metode pengajaran yang dapat menarik minat peserta didik dalam mempelajari Bahasa Inggris. Penerapan metode pengajaran harus disesuaikan dengan keadaan sekolah. Juga memperhatikan latar belakang kemampuan siswa. Baik dari segi akademis, psikologis, ekonomi maupun lingkungan anak didik sendiri. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan seorang guru dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Namun, sebelumnya, perlu diingat bahwa pendidikan tidak berproses dalam ruang hampa tetapi mengalami pergeseran yang terus meningkat dengan dunia sekitarnya.

Perkembangan pendidikan di Indonesia pada umumnya tercermin dari aneka metode pengajaran yang diciptakan, baik secara konstitusi maupun secara individual dari guru mata pelajaran yang dapat menunjang pembelajaran di sekolah. Metode pengajaran yang variatif sangat baik dikembangkan dan diterapkan dalam pengajaran Bahasa Inggris khususnya di SLTP. Hal ini dilakukan tanpa mengabaikan tingkat kemampuan (competency), daya, dan perkembangan siswa. Pasalnya, siswa sebagai anak didik yang masih remaja merupakan kelompok yang sedang berkembang menuju kematangan emosional dan intelektualnya. Pemilihan metode dan alat peraga juga sangat tergantung pada eksistensi siswa dalam lingkup pembelajaran itu sendiri. Variasi metode pengajaran yang digunakan akan menstimulasi siswa untuk lebih tanggap terhadap materi pengajaran yang diberikan. Di samping itu dengan adanya metode pengajaran yang bervariasi seperti game baik di dalam maupun di luar sekolah akan lebih melibatkan guru dengan berbagai kesulitan siswa dalam belajar Bahasa Inggris.

Pengalaman sebagai seorang guru bahasa Inggris SLTP baik di daerah pedalaman maupun di daerah perkotaan telah memberikan banyak perbedaan yang menunjukkan latar belakang siswa seperti yang telah disebutkan di atas. Misalnya, ketika mengajar Bahasa Inggris di pedalaman, seluruh materi pengajaran yang digunakan sama sekali tidak sesuai dengan pengalaman, lingkungan, dan ruang lingkup siswa yang masih bernuansa pedesaan yang belum tahu bahkan tidak tahu sama sekali tentang kehidupan perkotaan seperti Jakarta. Mengapa penulis katakan seperti itu karena bertolak dari pengalaman ketika mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di pedalaman Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagai seorang guru (mata pelajaran Bahasa Inggris), penulis harus berusaha maksimal untuk bisa menyesuaikan materi pengajaran yang tidak bergeser jauh dari kurikulum yang pada umumnya materi-materi penyajiannya bersifat Jakartacentris.

Di sini penulis mencoba beberapa metode yang saya terapkan dalam memberikan materi kepada siswa yang saya nilai cukup ampuh dalam mengatasi keawaman siswa menyangkut materi yang disodorkan Pusat. Pertama, Game ala rural. Metode ini berhubungan dengan pengembangan kosa kata yang identik dengan scrabble. Scrabble ala rural bukannya kumpulan huruf-huruf yang didesain secara canggih, di mana setiap huruf-hurufnya dilengkapi dengan magnet dan sebuah papan yang mewah tetapi huruf-huruf itu penulis mencoba menggunting sendiri dari kertas manila dengan sebuah tripleks yang bisa memungkinkan huruf-huruf tersebut bisa berpijak. Ternyata hasilnya memuaskan ketika siswa disodorkan satu topik kemudian mereka diminta untuk menyusun huruf-huruf tersebut menjadi kata yang berhubungan dengan tema yang telah ditentukan dengan limit waktu yang telah ditentukan pula. Dengan metode sederhana ini siswa lebih berminat untuk belajar dengan kondisi yang serba terbatas. Berbeda dengan siswa sekarang, khususnya di kota yang dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung pembelajaran.

Selain pembelajaran kosa kata melalui permainan scrabble, siswa juga dilatih untuk menulis karangan sederhana dengan menggunakan kata-kata yang telah dipelajari dalam permainan. Namun ada satu cara yang paling mudah untuk siswa olah adalah penggunaan alat peraga dan gambar. Gambar merupakan stimulus yang sangat berperan dalam mengarahkan pikiran dan imajinasi siswa terhadap suatu tema atau persoalan tertentu. Menulis dengan menggunakan gambar sebagai media sangat sesuai dengan perkembangan siswa seperti yang telah dikatakan bahwa mereka adalah kelompok yang emosional dan agresif.

Metode ini yang sering saya terapkan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas khususnya menyangkut kemampuan menulis. Sedangkan kemampuan berbahasa lainnya seperti berbicara, siswa diarahkan untuk membuat percakapan sendiri. Siswa diberikan satu topik yang berhubungan dengan tema yang sedang dipelajari untuk menciptakan sendiri dialog baik secara individu maupun secara kolektif kemudian didemonstrasikan di depan kelas dengan memperhatikan penggunaan kosa kata, intonasi, lafal, dan relevansi serta keterpaduan tema yang dibicarakan. Di samping tema, gambar, dan media yang disediakan sangat membantu siswa dalam mengembangkan satu topik dengan mudah. Pendekatan seperti ini perlu diterapkan oleh seorang guru mata pelajaran Bahasa Inggris dalam mengajar.
Sumber: Majalah SUAR edisi 20 Juni-20 Juli 2007

Hendrikus Menikir, Memaknai Otonomi Khusus Papua

Sebagai putera asli Papua, ia mendapat kepercayaan selaku penanggungjawab kampus C Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Keerom, Provinsi Papua. Ia memaknai tugasnya sebagai Salib.

Hendrikus Menikir menyadari kata-kata bahwa putera asli menjadi tuan di negeri sendiri sebagaimana semangat UU Otonomi Khusus Papua dalam realitas pelaksanaan otonomi khusus di provinsi kepala burung itu.

Hengky Menikir –begitu sapaan akrabnya- menyadari makna kata-kata ‘menjadi tuan di negeri sendiri’. Kata-kata itu tak boleh sekadar simbol tapi harus nyata dalam kehidupan.

“Setelah mengabdi beberapa lama sebagai guru di SMP Negeri I Arso, Kabupaten Keerom saya dipercayakan sebagai penanggungjawab Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Keerom. Pihak Yayasan Umel Mandiri Jayapura menganggap saya punya pengalaman dan kemampuan. Sebagai putera daerah, saya pikir inilah tugas yang harus dilaksanakan setelah Papua diberi otonomi khusus,” kata Hengky Menikir kepada HIDUP di Jakarta, Jumat (8/9) lalu.

Sebenarnya, STIH Keerom Kampus C merupakan salah satu cabang sekolah tinggi yang dikelola Yayasan Umel Mandiri dan bermarkas di Baturaja, Jayapura. Keputusan yayasan membuka kampus-kampus jarak jauh di beberapa kabupaten seperti Merauke, Biak, Timika, dan Baturaja sangat membantu mahasiswa untuk menempuh pendidikan sarjana tanpa harus ke Jayapura atau kota-kota lain di Indonesia.

Ketika yayasan memutuskan membuka kampus di Arso, Kota Kabupaten Keerom, Hengky Menikir diminta sebagai penanggungjawab. Meski kampus yang baru berdiri pada tahun 2005 tergolong balita, toh, proses perkuliahan berjalan lancar. Pihak Pemerintah Kabupaten dan mantan Bupati Keerom juga sangat mendukung.

Awalnya, STIH Keerom kebanjiran mahasiswa yang mengikuti program extention. Mereka adalah pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Keerom, anggota TNI/Polri, DPRD, pengusaha, swasta, dan putera-puteri petani Perkebunan Inti Rakyat (PIR).

Pemahaman Hukum

Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa ia bertekad mendirikan STIH Keerom. Pertama, masyarakat yang bermukim di daerah-daerah rawan di perbatasan, termasuk Keerom, harus diberi pemahaman tentang hukum.

Artinya, mereka perlu dibekali ilmu tentang hukum sehingga bisa membangun hidupnya secara baik. Juga mereka bisa hidup sesuai dengan peraturan-peraturan yang dibuat negara, terutama dalam pelaksanaan pemerintahan, terutama otonomi khusus. Masyarakat juga diharapkan bisa bertingka laku sesuai dengan aturan dan norma hukum yang berlaku di tengah masyarakat.

“Saya berpikir bahwa memang perlu ada Sekolah Tinggi Ilmu Hukum. Nah, jika para elit sudah memahami hukum maka tentuh masyarakat juga akan sadar sadar hukum. Mereka akan tahu hak dan kewajibannya sebagai anggota masyarakat. Mereka tentu akan hidup mengikuti aturan main negara dan aturan-aturan lain yang telah disepakati,” kata Hengky Menikir.

Kedua, kehadiran STIH itu juga terkait dengan pemekaran Keerom sebagai salah satu kabupaten baru yang tentunya membutuhkan tenaga-tenaga atau sumber daya manusia (SDM) pada masa akan datang. Tenaga handal atau SDM itu tentunya produksi daerah sendiri.

“Kami berpikir bahwa jika kami membutuhkan tenaga atau SDM yang handal maka tentu harus ada sebuah Perguruan Tinggi yang diharapkan bisa memproduksi SDM handal. Makanya, kami sangat bangga karena STIH ini merupakan yang pertama di Keerom. Kebetulan saya yang merintisnya dan mudah-mudahan menjadi sebuah kampus yang bisa berdiri sendiri untuk menciptakan SDM lokal yang nantinya diharapkan mengabdikan ilmunya di tengah masyarakat,” ujar Hengky Menikir bangga.

Kendala Awal

Hengky Menikir mengakui, awal merintis STIH Keerom banyak kendala yang ia hadapi, terutama menyangkut fasilitas perkuliahan. Masalah ini ia rasakan berat sehingga perlu keberanian dan kesungguhan.

“Sebagai putera daerah saya sudah bertekad untuk terus berjuang. Usaha ini pun harus butuh kesungguhan dan keterpanggilan sebagai orang kampung sehingga apapun kendalanya saya harus maju dan pantang mundur. Sekalipun di rumah saya tidak ada apa-apa tapi saya meniatkan agar sekolah tinggi ini harus berdiri,” katanya dengan semangat.

Jauh-jauh dalam lubuk hatinya sudah tersimpan pertanyaan yang harus ia jawab sendiri. Bagaimana nantinya jika satu kabupaten tak didukung sebuah lembaga pendidikan tinggi pencetak SDM?

Pertanyaan itu yang senantiasa berkecamuk dalam hati pria lulusan D-I jurusan Sejarah dan Pendidikan Moral Pancasila FKIP Universitas Cenderawasi ini. “Saya sadar bahwa kelangsungan pemerintahan yang berkualitas harus ditopang SDM. Masalah ini menjadi sangat penting apalagi dengan hadirnya UU Otonomi Khusus Papua yang mengatakan bahwa putera asli menjadi tuan di negeri sendiri. Bagi saya, kata-kata “tuan di negeri sendiri” tak sekadar simbol. Ia harus mewujud dalam kehidupan,” kata Hengky Menikir.

Awalnya, kegiatan perkuliahan dengan jumlah mahasiswa sebanyak 120 orang pun masih nebeng di gedung SMP Negeri I Arso. Bahkan sang kepala sekolah, Zakarias So dan beberapa staf administrasi menjadi mahasiswanya.

Kesepakatan kerja sama pemakaian gedung ini juga tak ada masalah karena mereka memiliki kesamaan visi ikut membangun daerah melalui jalur pendidikan. “Saat ini ada delapan dosen dari Jayapura dan saya sendiri selaku asisten dosen. Di kantor saya didukung dua staf. Kami semua memiliki kesamaan pandangan bahwa sekalipun dalam kondisi minimalis, toh kami harus bergerak sebagai salah satu bentuk dukungan kepada pemerintah memajukan pendidikan,” ujar suami Maria Yani Musanggor dan ayah dari sembilan anak ini.

Didukung

Kehadiran STIH Keerom tak hanya membawa kebahagiaan bagi pengelolanya. Masyarakat dan pemerintah daerah juga sangat diuntungkan karena swasta mulai ikut membantu pemerintah memajukan pendidikan di daerah.

Karena itu, Hengky berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Keerom karena sangat mendukung usahanya. Buktinya, tahun ini Pemkab Keerom memberi bantuan sebesar Rp 100 juta untuk membeli tanah guna membangun kampus baru. Bantuan itu sudah masuk ke rekening yayasan sehingga diharapkan pada 2007, kampus baru sudah bisa dibangun.

“Memang saya berpikir bahwa untuk membangun Keerom harus terlebih dahulu membangun SDM. Jadi bukan membangun fisik dan lain sebagainya sekalipun hal itu juga penting. Menurut saya yang utama adalah menyediakan SDM. Saya dengar bahwa Pak Nyoman, Sekda Keerom, senang karena menganggap saya selaku putera daerah saya ikut membantu pemerintah membangun SDM daerah saya. Beliau menghargai inisiatif perseorangan terutama swasta sehingga beliau mendukung usaha ini,” lanjut Hengky Menikir.

Kepedulian swasta dan pemerintah dalam hal mensinergikan potensi-potensi yang dimiliki untuk memajukan potensi SDM lokal mulai muncul. Saat ini, kata Hengky, Pemkab Keerom juga sedang memikirkan mendirikan sebuah Akademi Perindustrian di daerah itu. Baik Nyoman maupun Hengky sepaham bahwa dengan kehadiran lembaga-lembaga pendidikan seperti ini, diharapkan potensi SDM bisa lebih diberdayakan untuk membangun daerah.

“Saya pikir rencana ini juga sangat positif dalam rangka ikut memajukan potensi SDM daerah yang belum sepenuhnya ditangani pemerintah. Jika rencana Pak Sekda itu terealisir maka tentu akan menjadi lembaga pendidikan tinggi yang kedua di Keerom,” katanya.

Hengky mengakui, sampai saat ini hampir seluruh tenaga dosen masih didatangkan dari Universitas Cendrawasi (Uncen) maupun Perguruan Tinggi (PT) lainnya di Jayapura. Pihaknya menyadari bahwa hal ini memang membutuhkan biaya transportasi dan akomodasi yang sangat tinggi.

“Kami semua bertekad agar lulusan perdananya bisa menjadi tenaga pengajar. Kemudian tentunya kami berharap agar suatu saat kami tidak lagi mendatangkan tenaga pengajar dari Jayapura. Mudah-mudahan pada wisuda perdana 2007 nanti kami sudah memiliki tenaga dosen lulusan STIH Keerom. Jika itu sudah terlaksana maka tentunya sebuah langkah maju sudah kami mulai,” jelas Hengky Menikir.

Refleksi Iman

Sebagai umat Katolik, Hengky Menikir menyadari bahwa tugas ini merupakan refleksi iman dan kasih kepada sesama sebagaimana diajarkan Yesus, sang Guru Ilahi. Yesus Kristus di mata Hengky Menikir telah mewujudkan kasih dan cinta-Nya dengan penuh kepada manusia.

Ia bahkan merelakan nyawa-Nya di Bukit Golgota. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kasih dan sayang kepada umat yang dicintai. “Inilah yang melatari keputusan saya menerima tugas ini. Sekalipun berat tetapi sesungguhnya ada kebahagiaan tersendiri karena ada kesempatan mengabdi untuk sesama. Saya berdoa dan memohon petunjuk Tuhan agar tugas ini diberikan kemudahan,” kata Hengky, warga Paroki St Wilibrodus Arso, Keuskupan Jayapura.

Hengky mengharapkan agar Gereja Katolik memikirkan pentingnya pendidikan bagi masyarakar Papua, terutama yang bermukim di pedalaman dan masih tertinggal dari segi ketersediaan SDM seperti di Keerom.

“Kita tahu, Keerom sebagai salah satu basis umat Katolik mengharapkan keterlibatan gereja Katolik dalam kaitan dengan pemberdayaan umat sehingga perlahan-lahan mereka terbebas dari belenggu ketertinggalan,” harap Hengky Menikir.

Pulang Kampung

Hendrikus Menikir lahir pada 28 Desember 1955 di kampung Wembi, Kecamatan Arso, Kabupaten (waktu itu) Jayapura. Tahun 1960-an, ia dikirim ke Sekolah Rakyat (SR) Sentani bersama seorang rekan untuk melanjutkan pendidikan.

Keduanya dinyatakan dapat melanjutkan SR di Sentani setelah menjalani seleksi ujian bersama 30 calon siswa lainnya. Jarak Wembi – Sentani sekitar 60 KM harus ditempuh dengan jalan kaki karena saat itu belum ada sarana angkutan, baik laut maupun darat. Jika cuaca cerah dan ada pesawat milik gereja Katolik yang lagi turne ke kampung-kampung, maka bisa menggunakan jasa angkutan udara miliki gereja tersebut.

“Tapi rata-rata selama sekolah di Sentani, kami hanya berjalan kaki. Kami masuk SR Sentani dan selesai tahun 1966. Setelah itu kami melanjutkan sekolah di Seminari Menengah St Paulus Dok 5 Abepura tahun 1969 yang saat itu dipimpin Pastor Jan Could, OFM (kini almahrum-pen). Setelah tiga tahun dari Seminari Pertama hingga ke Seminari Menengah, terjadi perubahan. Saat itu tak lagi menggunakan nama seminari tetapi menjadi SMP dan SMA,” cerita Hengky Menikir.

Setelah dari Seminari Menengah St Paulus, Hengky muda melanjutkan kuliah di Universitas Cenderawasi Jayapura. Setelah meraih D-1, ia ditempatkan sebagai guru di SMP Katolik Bintang Timur, Oksibil, Mabilabol sekaligus Wakil Kepala Sekolah.

Sayang, cuaca dingin pegunungan mengakibatkan kesehatan terganggu sehingga harus dipindahkan ke SMP St Paulus Abepura. Setelah mengabdi beberapa lama, maka ia pulang kampung setelah mendapat tugas dari Dinas Diknas Papua. Setelah pensiun, ia dipercayakan memipin STIH Keerom sekaligus Ketua DPC Partai Demokrat Keerom.

“Bagi saya, inilah kelebihan kita sebagai pengikut Kristus di manapun kita berada dan mengabdi. Menurut saya, semangat dan cinta Kristus kepada manusia harus juga dimanifestasikan sehingga hidup menjadi lebih bermakna bagi sesama. Begitu juga dalam politik karena politik itu identik dengan pelayanan,” kata Hengky Menikir beralasan. (Ansel Deri/Ina Mudaj)
Sumber: HIDUP edisi 18 Februari 2007
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger