Headlines News :
Home » , » RS Lepra Beato Damian Lewoleba: Melayani Pasien Kusta dengan Cinta

RS Lepra Beato Damian Lewoleba: Melayani Pasien Kusta dengan Cinta

Written By Ansel Deri on Sunday, June 04, 2017 | 7:45 PM

Pendekatan pribadi. Ini salah satu bentuk pelayanan para suster dan perawat RS Lepra Beato Damian Lewoleba. “Para pasien lepra sangat sensitif dengan sikap, perilaku, dan kata-kata kita sehingga harus melayani dengan cinta,” ujar Sr Maria Vitalis CIJ, Kepala RS Lepra Beato Damian Lewoleba, Lembata, NTT.

Menurut Sr Maria Vitalis, CIJ jika para suster dan perawat melayani pasien lepra (kusta) tidak dengan hati maka kadang para pasien mudah tersinggung. Itu yang selalu mereka jaga selama memberikan pelayanan kepada para pasien. Dikatakan, para pasien sangat peka dengan sikap atau kata-kata para suster dan perawat saat memberikan pelayanan. Jika mereka sudah tersinggung maka akan berpengaruh atau mengganggu kondisi tubuhnya. Kadang di badan mereka bisa timbul bentol-bentol karena pikiran dengan sikap dan tutur kata kita saat memberikan pelayanan.

“Saya pikir penyakit lepra itu kita tidak hanya sungguh menyembuhkan luka tetapi juga menyembuhkan jiwa pasiennya. Ini bukan apa-apa. Mereka sangat peka dengan sikap, tindakan, dan kata-kata kita. Dan itu juga berpengaruh pada proses penyembuhan fisiknya. Karena itu, kita melayani mereka dengan cinta dan hati,” lanjut Sr Maria Vitalis SCJ, biarawati kelahiran kota pelajar Yogyakarta.

Saat menerima tugas sementara dari konggregasi tahun 2005 sebagai kepala rumah sakit kusta terbesar di NTT tersebut, ia sudah bertekad memberikan pelayanan terbaik bagi para pasien kusta. Apalagi, ia sendiri juga belum memiliki kualifikasi sebagai kepala rumah sakit. Latar belakang pendidikannya adalah apoteker. Sedang di lain pihak, saat ini pemimpin unit di poliklinik RS Lepra Beato Damian Lewoleba dituntut memiliki kualifikasi pendidikan minimal D-3.

“Oleh karena di RS Lepra Beato Damian belum ada suster yang punya kualifikasi pendidikan minimal S-1 untuk mengelola rumah sakit kusta ini maka untuk sementara saya diminta menangani dan menjadi pimpinan. Nah, tak lama lagi akan ada satu suster dokter yang menggantikan saya. Ini memang sesuai dengan tuntutan bahwa pimpinan rumah sakit harus punya kualifikasi pendidikan minimal strata satu,” ujar Sr Vitalis.

Perjalanan Panjang Pengabdian

Kehadiran RS Lepra Beato Damian Lewoleba memiliki sejarah yang panjang. Dahulu, rumah sakit ini lahir seiring banyaknya warga masyarakat di Kabupaten Flores Timur (termasuk Lembata) yang menderita penyakit kusta atau leprofobi. Para penderita dibuang atau dikucilkan oleh anggota keluarga dan masyarakat.

Saat itu, menurut catatan Uskup Larantuka Mgr Darius Nggawa, SVD dalam Menguak Kemanusiaan Dengan Kasih pada peringatan 40 Tahun RS Beato Damian tahun 1999, para penderita kusta diasingkan karena masyarakat merasa jijik. Kondisi ini membuat para penderita mengasingkan diri sendiri akibat merasa minder bila hidup dengan bersama keluarga atau masyarakat. Sebuah organisasi di Jerman ternyata menaruh perhatian pada masalah ini melalui Keuskupan Larantuka. Tak lama berselang, rencana pendirian RS Lepra Beato Damian mulai menemui titik terang.

Pada 4 Juni 1959, Uskup Larantuka Mgr Gabriel Wilhelmus Manek SVD bersama Ibu Isabella Diaz Gonzales menjajaki kemungkinan berdirinya Rumah Sakit Kusta Lewoleba. Tepat pada 8 Juni tahun itu Ibu Isabella menempati rumah Bernardus Weka Lejab. Rumah tersebut dijadikan poliklinik sekaligus Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). Pada tanggal 13 Juli 1959 rumah ini dijadikan tempat khusus demi pewartaan penderita kusta. Namun, karena pasien terus bertambah banyak, maka didirikan lagi dua rumah bambu sebagai asrama penampung bagi pasien pria dan wanita. Tahun 1963, Deutsches Aussatzigen-Hilfswerk-W, Marianhillstr.1c, D-97074, Wurzburg-Jerman (DAHW) memberikan bantuan berupa bahan-bahan untuk pembangunan sebuah rumah sakit. Organisasi itu juga menyertakan Ir Wilfried Jackel sebagai konsultan tekniknya.

“Setelah pembangunan tersebut rampung dalam dua tahun, maka tepatnya pada tanggal 8 Desember 1968 seluruh staf perawat serta para pasien berpindah dari rumah bambu ke rumah sakit baru yang oleh penduduk setempat disebut rumah bintang karena berbentuk bintang. Atau juga rumah besi karena semua terbuat dari besi. Mulai saat itu rumah sakit yang berdiri di atas tanah keuskupan seluas 12,5 hektar ini, beroperasi hanya memberikan pengobatan dan perawatan kepada penderita kusta,” ujar Mgr Darius Nggawa.

Pada tahun 1974, dr Jim Wouters dari Belanda tiba di Lewoleba untuk bertugas sebagai tenaga medis rumah sakit ini. Sebelumnya, dr HF Erben asal Austria juga dikirim pihak Deutsches Aussatzigen-Hilfswerk ke Lewoleba untuk tugas mulia serupa namun hanya bertahan hingga bulan Agustus 1971. Pada 19 Mei 1980, pimpinan RS Lepra Beato Damian yang sebelumnya dipegang Ibu Isabella Diaz Gonzales beralih ke tangan para suster CIJ. Dua suster CIJ yang menerima tugas mulia itu adalah Sr Barbara da Cunha, CIJ dibantu Sr Yuliana Boleng, CIJ.

Nah, sejak 1 Juni 1980 Konggregasi CIJ mengambil alih tanggung jawab untuk pelayanan di RS Lepra Beato Damian hingga saat ini. Sejumlah nama patut dicatat sebagai penjasa dan perintis dalam sejarah keberlangsungan pelayanan rumah sakit kusta tersebut. Mereka antara lain Mgr Gabriel Wilhelmus Manek SVD (uskup pribumi kedua Indonesia), Mgr Antonius Thijssen SVD, Mgr Darius Nggawa, SVD, Mama Isabella Diaz Gonzales, Mama Gisella Borowka, dan Kongggregasi Suster-suster CIJ.

Terapkan Aturan Ketat

Suster Vitalis menjelaskan, hingga saat ini ada 33 pasien lepra yang sedang dirawat di RS Lepra Beato Damian Lewoleba. Sebanyak 8 orang berasal dari Pulau Lembata. Selebihnya berasal dari luar Lembata seperti Pulau Adonara di Kabupaten Flores Timur, Pulau Palue dan Pemana di Kabupaten Sikka, Pulau Flores. Semuanya masih di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dikatakan, tidak semua pasien yang tinggal di rumah sakit itu selalu dikunjungi keluarganya. Oleh karena itu, sebagai kepala rumah sakit, ia menerapkan aturan ketat. Artinya, setiap orang yang datang itu diketahui positif mengidap penyakit kusta dan mau rawat inap maka keluarganya akan dipanggil terlebih dahulu.

“Tujuan aturan ini agar keluarga ikut membantu proses penyembuhan rohani bagi pasien. Bisa kita bayangkan bagaimana suasana batin pasien jika mereka tidak dikunjungi keluarganya. Ya, tentu mereka merasa dibuang atau tidak diperhatikan keluarganya. Hal ini berimbas pada kondisi psikis pasien bersangkutan. Tentu pula ikut memperlambat proses penyembuhannya,” kata biarawati yang juga seorang apoteker ini.

Pengalaman ini pernah menimpah seorang pasien dari Pemana. Pasien itu diketahui tak pernah sembuh. Bahkan ada reaksi yang terus bermunculan berupa benjolan-benjolan di badannya usai meminum obat yang diberikan perawat. Peristiwa itu berlangsung beberapa kali. Suster Vitalis baru sadar. Ia memutuskan memanggil pasien itu dalam ruang kerjanya. Kemudian, ia menanyakan mungkin apa persoalan yang sedang dipikirkan si pasien.

“Saya katakan bahwa sebenarnya saya bukan bermaksud mengetahui rahasia pribadi pasien ataupun keluarganya. Saat itu saya sarankan agar ia terbuka kepada siapa saja yang dirasa bisa jadi teman. Akhirnya pasien itu sedang mengalami ketakutan. Ia sangat takut kehilangan istri dan seorang anak tercinta setelah mereka tahu dirinya mengidap penyakit kusta. Setelah saya telpon istrinya dan meminta ia datang, pasien itu akhirnya sembuh. Artinya, proses penyembuhan bukan hanya secara fisik tetapi juga batin,” ujar Sr Vitalis.

Merasa Takut

Pengabdian Sr Vitalis selaku kepala rumah sakit kusta tak pernah ia bayangkan. Ia mengaku benar-benar tak tahu soal penyakit kusta. Apalagi, ia punya latarbelakang pendidikan apoteker yang sangat berpeluang ditempatkan di apotik rumah sakit. Suster yang asli Yogyakarta ini pun tak pernah membayangkan mendapat tugas sebagai kepala rumah sakit.

“Saat mendengar ditugaskan konggegasi di RS Lepra Beato Damian Lewoleba, awalnya saya merasa takut. Tetapi, setelah saya pelajari ternyata penyakit ini tidak mudah menular. Setelah 48 jam pasien minum obat maka penyakit itu tidak menular lagi. Nah, setelah tahu proses penularannya maka saya mulai akrab dengan pasien. Bahkan menyentuh pun saya sudah tidak takut lagi,” kata biarawati yang lama bertugas di Ende ini.

Pola penerapan pelayanan berlandaskan kasih bagi orang kecil ternyata sudah lama tertanam dalam diri Suster Maria Vitalis CIJ. Hal yang selalu ditanamkan keluarganya di Yogyakarta. Termasuk beberapa suster anggota keluarga dari konggregasi Carolus Boromeus (CB) atau Susteran Sang Timur. “Ketertarikan saya untuk mengabdi di daerah terpencil terus menguat setelah membaca majalah HIDUP. Entah kenapa, sejak awal saya benar-benar tertarik dengan Nusa Tenggara Timur. Saat tiba di Lewoleba, saya kaget karena yang saya tahu Lewoleba sebuah kota kabupaten. Tapi, kok kondisinya seperti ini! Tapi, saya akhirnya betah juga. Situasi Ende, Maumere, dan Lewoleba tak jauh berbeda,” jelasnya.

Pelayanan yang penuh kasih di RS Lepra Beato Damian Lewoleba dirasakan Muhamad Nurdasi. Bekas pasien kusta asal Lamakera, Flores Timur dalam Menguak Kemanusiaan Dengan Kasih mengaku ia sungguh bergembira selama berada di rumah sakit kusta milik misi Katolik ini. Pasalnya, dan dan rekan-rekannya diberdayakan sesuai kemampuan yang dimiliki. Bahkan setelah sembuh, pria ini dilatih untuk selanjutnya ikut membantu para perawat yang bertugas di ruang balut bahkan ikut turne membagikan obat bagi para pasien. Muhamad juga pernah mengikuti Kursus Pemberantasan Penyakit Kusta se-NTT.

Ungkapan isi hati juga datang dari Hidayat Lebai melalui pusinya berjudul Debar Hati di Jantung Puisi. “Aku ternyata bukan seorang diri, bukan tanpa arti.” Begitu penggalan puisi bekas pasien asal Sulawesi Tenggara ini. Sedang bekas pasien asal Sidoarjo, Jawa Timur, Yohanes Baptista punya ungkapan isi hati dalam puisi setelah meninggalkan Sidoarjo dan menghuni rumah sakit itu. Ia menulis, “Sidoarjo kotaku. Engkau pasti masih manis di ranjang Surabaya. Aku tak mengganggumu untuk pilu. Hanya kuulangi salamku padamu.” Mereka masih punya setitik asa berkat pelayanan RS Lepra Beato Damian yang penuh cinta. (Hermien Botoor/Ansel Deri) 
Sumber: Hidup, 13 April 2008
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger