Headlines News :

Ratusan Ribu Kelapa di NTT Terserang Hama

Written By Ansel Deri on Thursday, January 31, 2008 | 12:56 PM

Ratusan ribu pohon kelapa milik warga Kabupaten Kupang, Lembata dan Alor mati mendadak setelah terserang hama aspidiotus sp beberapa bulan terakhir.

Serangan ini terjadi hanya dalam tempo beberapa hari, menyebabkan daun kelapa mengering dan batangnya mati mendadak.

Sedangkan kelapa yang bertahan hidup mengalami penurunan produksi sampai seratus persen.
Di Kecamatan Amarasi Barat, Amarasi Timur, Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, ratusan ribu pohon kelapa yang semula tumbuh subur, mengering dan tidak berbuah.

"Kami tidak tahu mengapa sampai serangan hama ini begitu dasyat karena sebelumnya tidak pernah terjadi serangan hama secara sporadis seperti ini," kata Gustaf Amtiran, warga Desa Niukbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kamis (31/1).

Menurutnya, pemerintah melalui dinas teknis sudah berupaya melakukan pengobatan, tetapi nampaknya belum berhasil karena kelapa-kelapa yang semula masih tumbuh subur, justru ikut mati.

"Daun tiba-tiba kering dan batang pohon kelapa akan mati beberapa waktu kemudian," katanya.
Di Lembata, sekitar 33 ribu pohon kelapa di Kecamatan Atadei dan Kecamatan Wulandoni terancam mati apabila pemerintah tidak mengambil langkah darurat untuk mencegah penyebaran hama.

"Dari 33.000 pohon kelapa yang terserang, yang sudah mati 4.000 pohon. Selebihnya dalam kondisi kritis," kata Kepala Dinas Perkebunan Lembata Simon Making.

Simon mengatakan pihaknya telah melakukan tindakan pengendalian dengan memangkas daun yang terserang, kemudian dibakar. Tetapi langkah tersebut tidak mampu melokalisir hama tersebut.

"Saat ini Pemkab Lembata bekerja sama dengan Pusat Studi Pendendalian Hama Universitas Gadjah Mada untuk membantu melakukan pengendalian secara terpadu," ujarnya.

Sementara di Kabupaten Alor, serangan hama kelapa terjadi di Kecamatan Alor Barat Laut, Alor Barat Daya dan sebagian Kota Kalabahi. (Jems de Fortuna )
Sumber: Tempo Interaktif, 31 Januari 2008
Ket foto: Ratusan hektare (ha) tanaman kelapa di Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar), rusak akibat serangan hama pengerat daun atau artona catoxantha. Foto: dok. Media Indonesia, 6 April 2010

Kondisi Gubernur Piet Tallo lebih baik

Dokter spesialis anastesi dari Rumah Sakit (RS) Dr.Soetomo-Surabaya, Jawa Timur, dr.Filia Setiawan, mengatakan, selama empat bulan masa perawatan di RS Dr.Soetomo Surabaya, kondisi kesehatan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Piet A Tallo, S.H, selalu naik turun. Namun, saat ini kondisinya sudah lebih baik.

"Secara umum, fisik, kondisi bapak cukup prima sehingga kembali dan mengalami pemulihan di Kupang. Kondisi cukup baik. Anda semua (wartawan) sudah lihat sendiri, kondisi Pak Gubernur cukup optimal, bisa turun tangga pesawat sendiri. Kalau nggak laik dipulang, tentu kami tidak membawa beliau pulang," kata dr. Filia Setiawan, ketika memberikan keterangan pers kepada wartawan sesaat setelah Gubernur Piet Tallo, bersama rombongan tiba di Bandar Udara (Bandara) El Tari-Kupang, Rabu (30/1/2008).

Dokter Filia memberi penjelasan kepada wartawan tentang kondisi kesehatan Gubernur Piet Tallo, sekitar pukul 18.00 Wita.

Filia mengatakan, intelegensi Gubernur Piet Tallo masih baik. Gubernur menjawab pertanyaan-pertanyaan tim dokter dengan sangat jelas. "Tidak ada sedikit cacat pun dalam hal memikir. Pemikiran beliau sangat terang. Dan, dalam waktu singkat beliau pulih kembali," ujarnya.

Filia menjelaskan, selama pesawat terbang dengan ketinggian di atas 3.000 kaki, Gubernur menggunakan alat bantu pernafasan. "Gubernur membutuhkan tambahan oksigen, tapi tidak banyak," katanya.

Menurut dia, tekanan udara di darat tidak sama dengan tekanan udara pada ketinggian di atas 3.000 kaki. Tekanan oksigen di bawa (darat) lebih rendah yaitu 21 persen, sedangkan semakin tinggi maka tekanan udara menurun.

"Walaupun dalam pesawat kita menggunakan satu press rice cabin tetap saja tekanan udara 21 persen tidak terjaga. Tidak bisa sesempurna itu. Kalau orang normal tanpa gangguan paru-paru bisa tahan dengan penurunan tekanan sedikit. Tapi kalau orang sakit butuh tambahan oksigen," kata Filia, seraya menambahkan, selama perjalanan, menempati tempat duduk baris ketiga, kondisi Gubernur relatif stabil, bisa makan dan minum sendiri.

Gubernur NTT, Piet A Tallo, SH, Rabu (30/1/2008) sekitar pukul 16.00 Wita tiba di Kupang setelah menjalani perawatan di RS Dr. Soetomo Surabaya, Jawa Timur sejak tanggal 22 September 2007.

Gubernur yang didampingi Ny. Erni Tallo, Vera Tallo (anak), dr. Frans Homalesi (anggota tim dokter dari Kupang), dr. Filia Setiawan, Sp.A (dokter dari Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya), Dance dan Ny. Agus (keduanya adalah ajudan dan sekretaris gubernur) tiba di Bandara El Tari Kupang menggunakan pesawat komersil Mandala Air jenis A.320.PK- RMA dengan nomor penerbangan R1 - 280.

Gubernur beserta rombongan turun dari pesawat pukul 16.15 Wita, setelah penumpang lainnya turun. Gubernur dijemput oleh Sekda NTT, Dr. Ir. Jamin Habid, dan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi NTT, dr. Stef Bria Seran, di dalam badan pesawat.

Sementara dikaki tangga pesawat berdiri sejumlah pejabat teras Pemprop NTT, di antaranya Asisten II, Partini Hardjokusumo, Asisten III, Ir. Benny Ndoenboey, Kepala Dinas Sosial, Drs. Fransiskus Salem, M.Si, Kepala Badan Bimas Ketahanan Pangan, Drs. Petrus Langoday, dan Kepala Biro Humas, Drs. Eduard Gana, M.Si. Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe juga ikut menjemput di tangga pesawat dan putri sulung Piet A Tallo, Ina Tallo.

Penjemput lainnya, dan wartawan media cetak dan elektronik berdiri di depan pintu kedatangan ruang tunggu VIP. Petugas bandara melarang wartawan mendekat ke pesawat. Gubernur dipapah dr. Frans Homalesi, dan anaknya Vera, menuruni anak tangga pesawat dan langsung menaiki mobil Nissan Terrano warna hitam metalik nomor polisi DH.798, yang diparkir didekat tangga pesawat.

Ikut menumpang mobil itu adalah dokter dan anggota keluarga inti. Sementara anggota rombongan lainnya menumpang mobil kijang warna biru dengan nomor polisi DH. 275 FA, yang juga diparkir tidak jauh dari mobil Nissan Terrano. Selanjutnya, dua mobil itu dan mobil pejabat lainnya melaju dari Bandara El Tari menuju rumah jabatan Gubernur NTT di Jalan El Tari I.

Pukul 16.45 Wita, mantan Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) dua periode itu tiba di rumah jabatan. Turun dari mobil, Gubernur didudukan pada kursi roda yang sudah disiapkan. Gubernur yang saat itu mengenakan baju coklat lengan panjang dengan motif kotak-kotak mata kecil, dibalut jaket warna biru dan celana panjang biru, menampakkan wajah yang masih pucat dan kurus.

Di leher depan, masih 'melekat' alat trakeostomi. Trakeostomi (tracheostomy) adalah suatu tindakan dengan membuka dinding depan trakea untuk mempertahankan jalan nafas agar udara dapat masuk ke paru-paru dan meminta jalan nafas. Alat trakeostomi ini dihubungkan dengan tabung gas berbentuk portable yang bisa ditenteng.

Gubernur didorong hingga ke pintu kamar. Lalu dipapah turun dari kursi roda dan masuk kamar tidur untuk selanjutnya istirahat. Menghindari dinginnya lantai, di pintu kamar dibentang keset (pengesat kaki) dua susun, masing-masing berlapis empat.

Beberapa saat setelah itu, sejumlah pejabat yang berkumpul di ruang tengah, berdiri membentuk setengah lingkaran, dan memanjatkan doa. Doa dengan intensi mensyukuri kedatangan dan memohon kesembuhan Gubernur Piet Tallo dipimpin Kepala Biro Humas, Eduard Gana.

Putri sulung Gubernur Piet Tallo, Ina Tallo, mengatakan, kepulangan ayahnya ke Kupang atas permintaan ayahnya sendiri. Ina menyatakan bahagia karena bisa berkumpul dengan ayahnya. "Mungkin bapak sudah jenuh dengan situasi di rumah sakit sehingga memilih pulang," kata Ina Tallo. (aca/den)

Sumber: Pos Kupang 31 Januari 2008

Ket foto: Almahrum Piet A Tallo, SH. Foto: dok. bidora.blogspot.com

Seputar jurnalisme sastrawi (Ruang diskusi untuk GH Netti)

"AKHIRNYA, kepada pembaca kami persembahkan buku ini. Segala kritik, koreksi dan saran akan kami terima dengan tangan terbuka. Selamat membaca!"

Itulah kalimat terakhir catatan editor pada buku 15 Tahun Pos Kupang Suara Nusa Tenggara Timur, yang menandai ulang tahun ke-15 Pos Kupang dan diluncurkan serta dibedah 1 Desember 2007 lalu. Para editor, Tony Kleden, Maria Matildis Banda dan Dion DB Putra, merasa yakin bahwa buku yang mereka edit itu belumlah sempurna dan paripurna. Karena itulah, para pembaca yang menjadi tujuan penulisan buku itu mempunyai tugas mengkritisi, mengoreksi, meralat, merevisi, merepurifikasi, memverifikasi bentuk, sistematika, substansi, gaya bahasa dan penggunaan terminus yang dipakai oleh para penulis dalam buku itu.

Syukurlah, bahwa walau sempat benar-benar dikungkung oleh penasaran yang mendera sejak tanggal 3 sampai tanggal 18 Desember, AG Hadzarmawit Netti (selanjutnya disapa HN), memburu buku itu ke Toko Buku Gramedia, menemukannya dan memuaskan dahaga penasarannya secara tuntas pada tanggal 20 Desember malam (bdk. Opini PK 16/1). Bukan cuma itu. Setelah tuntas menyalurkan penasaran, HN pun mengirimkan tulisan tentang "Marginalia atas opini Maria Matildis Banda - Seputar 'imajinasi, fantasi, dan khayalan", yang dimuat di kolom opini Pos Kupang edisi 16 Januari.

Luar biasa. Ini sungguh merupakan sikap seorang pembaca yang bertanggung jawab dan mencintai Pos Kupang. HN merasa bertanggung jawab untuk mengkritisi dan mengoreksi apa yang tertulis dalam buku 15 tahun Pos Kupang itu agar tidak terjebak dalam kebiasaan pembaca yang 'taken for granted' (yang menerima begitu saja informasi dan tulisan yang disajikan tanpa mempersoalkan kebenarannya), tetapi sekaligus membuktikan bahwa kebenaran tidak selalu tunggal dan dimonopoli oleh pihak tertentu, dalam hal ini para penulis buku itu.

Bahkan HN menunjukkan hal positif bahwa pertemanan tidak mesti mengorbankan sikap kritis. HN pernah menjadi seorang pembicara dalam acara bedah novel Surat-Surat Dari Dili karya Maria Matildis Banda (selanjutnya disapa MB) pada 1 Desember 2005 lalu. Pos Kupang dan tentu saja para pembaca setia Pos Kupang di mana saja patut mengapresiasi dan menaruh respek pada seorang HN atas sikap kritisnya itu.

Tidak mengurangi rasa hormat saya pada HN, ada beberapa hal dari opini HN yang perlu disoroti agar kebenaran yang lain tidak turut termarginalisasi. Pada buku 15 tahun Pos Kupang halaman 167-181, MB menulis artikel dengan judul "Imajinasi dan Hasrat Seorang Jurnalis - Catatan tentang Jurnalisme Sastra". MB mulai dengan "Catatan Kenangan" yang ditulis Arief Budiman sebagai salah satu pengantar pada buku Catatan Seorang Demonstran, karya Soe Hok Gie. Selanjutnya, diulas relasi feature dan jurnalisme sastra, aspek imajinasi dalam jurnalisme sastra; imajinasi, hasrat, dan jurnalisme sastra.

Hemat saya, substansi dan orientasi penulisan MB adalah untuk para jurnalis, bukan sastrawan. Mungkin saja HN terjebak dengan penggunaan kata 'sastra' pada jurnalisme sastra. Padahal jurnalisme sastra jelas berbeda dari sastra. Sayang jika HN mengeliminir aspek imajinasi dari jurnalisme sastra karena itu bukan sastra. Mungkin baik jika HN membaca lagi artikel Silvester Ule berjudul "Perlukah 'trenyuh' itu?" (PK, 19/1) pada poin ketiga.

Karena substansi penulisan MB adalah untuk para jurnalis, maka MB sangat yakin bahwa imajinasi adalah aspek yang sangat penting dalam jurnalisme sastra. Penulis yang kehilangan imajinasi adalah penulis 'paceklik' yang menjadi kering kerontang dan layu sebelum berkembang. Hal ini saya alami sebagai seorang wartawan Flores Pos/Dian (2006-2007). Imajinasi itulah yang membuat tulisan menjadi hidup, bergairah, bergelombang, bergetar, apalagi saat menulis feature. Selama kurang lebih setahun menulis feature di Flores Pos, saya tidak dapat lagi menyangkal bahwa imaginasi itu sangat penting dalam jurnalisme sastra. Saya tidak mempersoalkan kerancuan kata-kata ini: imajinasi, fantasi, khayalan, yang sudah diulas secara begitu panjang lebar oleh HN atas artikel MB. Sekali lagi tentang itu, mari kita baca lagi artikel Silvester Ule "Perlukah 'trenyuh' itu (PK, 19/1). Saya masih yakin bahwa imajinasi adalah energy drink dan supplement food bagi seorang jurnalis, sebagaimana keyakinan MB. Bukan fantasi.

Artikel MB, menurut saya sangat berguna bagi bagi para jurnalis untuk bagaimana mengaktifkan tombol imajinasi saat menjalankan tugas jurnalistik. Uraiannya lugas dan terarah. Sayang, hal itu tidak dicermati oleh HN, yang justru tidak melihatnya secara holistik. Berbahaya sekali, jika kita hanya fokus pada satu penggalan dan mengkritisi habis-habisan penggalan itu dengan upaya menghilangkan benang merah yang merangkai satu bagian dengan bagian yang lain. Apalagi jika sampai "memarginalkan" orang lain. HN benar karena sikap kritisnya, tetapi sayang kekritisan itu dibangun di atas pola pikir yang fragmentaris, melihat penggalan-penggalan kecil secara terpisah. Itu baik, tetapi harus melihat juga benang merah dari penggalan demi penggalan yang membentuk keutuhan tulisan.

Berpikir fragmentaris kadang kala melahirkan pemonopolian kebenaran seperti HN yang dalam artikelnya merasa benar dengan argumentasinya, lantas mengeksekusi MB sebagai pihak yang salah karena itu perlu dimarginalkan. Saya memang tidak trenyuh, tetapi saya gelisah jika ada pihak yang menjadikan media sebagai ruang penghakiman atas pribadi lain, ruang marginalia, ruang pembunuhan karakter, hingga monopoli kebenaran (dengan argumentasi dan tumpukan referensi-referensi pendukung) sampai-sampai tidak sanggup lagi membedakan argumentatum ad hominem (argumentasi yang menyerang pribadi seseorang) dan argumentatum ad rem (argumentas berdasarkan fakta).

New journalism

"Kalau di Amerika Serikat mereka punya majalah Time, Newsweek, dan sejenisnya, kita juga punya Tempo, Gatra, dan lain-lain. Kalau Amerika punya harian The New York Times, The Washington Post, kita juga punya harian sejenis. Tapi mengapa kita ompong di jurnalisme sastrawi?" Demikian pertanyaan Andreas Harsono dalam buku Jurnalisme Sastrawi, terbitan Yayasan Pantau (2005), yang disuntingnya bersama Budi Setiyono.
Andreas Harsono dan Budi Setiyono adalah dua punggawa Majalah Pantau Jakarta, yang selama beberapa tahun terakhir bekerja sama dengan harian Flores Pos dalam mewujudkan impian jurnalisme sastrawi, jurnalisme bermartabat dan jurnalisme damai. Selama setahun Andreas membimbing awak Flores Pos untuk menulis feature (kekhasan Pantau adalah penulisan feature yang mendalam dan berbobot) di Flores Pos. Hal yang selalu ditekankan adalah pentingnya mengaktifkan imajinasi.

Dalam buku Jurnalisme Sastrawi (dirumuskan bahwa jurnalisme sastrawi adalah satu dari setidaknya tiga nama buat genre tertentu dalam jurnalisme yang berkembang di Amerika Serikat, di mana reportase dikerjakan dengan mendalam, penulisan dilakukan dengan gaya sastrawi, sehingga hasilnya enak dibaca. Tom Wolfe, wartawan dan novelis, pada 1960-an memperkenalkan genre ini dengan nama "new journalism" (jurnalisme baru). Pada 1973, Wolfe dan EW Johnson menerbitkan antologi dengan judul The New Journalism. Mereka jadi editor. Menurut mereka genre ini berbeda dari reportase sehari-hari karena dalam bertutur ia menggunakan adegan demi adegan (scene by scene construction), reportase yang menyeluruh (immersion reporting), menggunakan sudut pandang orang ketiga (third person point of view), serta penuh dengan detail.

Wawancara bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan lebih sering ratusan narasumber. Risetnya tidak main-main.Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua. Ceritanya juga kebanyakan tentang orang biasa. Bukan orang terkenal. Genre ini menukik sangat dalam. Lebih dalam dari apa yang disebut sebagai in- depth reporting. Ia bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa. Tetapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal itu. Ada karakter, ada drama, ada babak, ada adegan, ada konflik. Laporannya panjang dan utuh-tidak dipecah ke dalam berbagai laporan. Jurnalisme sastra adalah satu langkah lebih maju dari penulisan feature. Saya mengalami bagaimana feature saya tentang Taman Bacaan di Ende diberi catatan untuk riset lagi oleh Budi Setiyono karena kurang detail atau feature tentang Tukang Gamping mendapat catatan Andreas karena kurang menonjolnya unsur konflik. Padahal konflik adalah unsur yang menjadikan tulisan lebih hidup dan bergairah. Melalui latihan penulisan feature inilah para jurnalis sedang diarahkan untuk menggeluti jurnalisme sastrawi secara perlahan-lahan namun terarah.

Roy Pater Clark, seorang guru menulis dari Poynter Institute, Florida, mengembangkan pedoman standar 5W 1H menjadi pendekatan baru yang naratif. 5W 1H adalah singkatan dari who (siapa), what (apa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa) dan how (bagaimana). Pada narasi, menurut Clark, who berubah menjadi karakter, what berubah menjadi plot atau alur, where menjadi setting, when menjadi kronologi, why menjadi motif, dan how menjadi narasi.

Selanjutnya, Robert Vare, yang pernah bekerja pada majalah The New Yorker dan The Rolling Stones mengemukakan tujuh (7) pertimbangan jika kita hendak menulis narasi: pertama, fakta. Jurnalisme menyucikan fakta. Walau memakai kata dasar "sastra" ia tetap jurnalisme. Setiap detail harus berupa fakta. Nama-nama orang adalah nama sebenarnya. Tempat juga nyata. Kejadian benar-benar kejadian. Merah disebut merah. Hitam hitam. Verifikasi adalah esensi dari jurnalisme. Maka apa yang disebut sebagai jurnalisme sastrawi juga mendasarkan diri pada verifikasi.

Kedua, konflik. Sebuah tulisan panjang lebih mudah dipertahankan daya pikatnya bila ada konflik. Konflik bisa pertikaian dengan orang lain, pertentangan dengan hati nurani atau nilai-nilai di masyarakat. Ketiga, karakter. Narasi butuh karakter untuk mengikat cerita. Keempat, akses. Kita mesti mempunyai akses kepada para karakter. Akses bisa berupa wawancara, dokumen, koresponden, foto. Kelima, emosi. Ia bisa berupa cinta. Bisa pengkhianatan. Kesetiaan, dll. Emosi menjadikan cerita itu hidup. Keenam, perjalanan waktu; dan ketujuh, unsur kebaruan.

Dari penjelasan mengenai jurnalisme sastrawi di atas, hemat saya apa yang ditulis oleh MB dalam artikelnya yang dipersoalkan HN merupakan penjelasan yang akurat mengenai jurnalisme sastra. MB berdasarkan kisah Soe Hok Gie dalam "Catatan Kenangan" yang ditulis Arief Budiman berusaha menjelaskan bagian demi bagian yang memudahkan para jurnalis mencerna model penulisan jurnalisme sastrawi. Dengan mengemukakan alur, karakter, dan latar, MB sedang mewartakan bahwa menulis jurnalisme sastrawi sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang ada dalam narasi, yang semuanya sangat dimungkinkan oleh imajinasi seorang jurnalis.

MB dengan kualifikasinya sebagai seorang dosen sastra, redaktur khusus Pos Kupang dan salah seorang editor buku 15 tahun Pos Kupang tentu tidak sedang mencederai dirinya sendiri sebagaimana dikatakan HN dalam catatan akhir opininya. Dalam kaca mata saya sebagai jurnalis, artikel itu merupakan karya MB yang berbobot, yang bisa menjadi alternatif penyembuhan berbagai 'cedera jurnalistik' yang dialami para jurnalis saat ini. Artikel itu hemat saya adalah sebuah arus balik melawan kecenderungan jurnalis yang kadang betah menulis berita hanya dengan pola straight news atau berita lempang.

Padahal dalam zaman di mana media elektronik menguasai masyarakat, kita tidak lagi mendapat breaking news dari surat kabar. Surat kabar tak bisa bersaing cepat dengan media elektronik. Namun media elektronik sulit bersaing kedalaman dengan surat kabar. Jurnalisme sastrawi yang dalam varian penamaannya bisa disebut narrative reporting, passionate journalism, explorative journalism, menjawabi kebutuhan pembaca dengan melibatkan emosi mereka dan melihat realitas konkrit melalui pergumulan imajinasi jurnalis yang obyektif dan rasional.

Tugas utama seorang jurnalis adalah melaporkan (to report a reporter) suatu kejadian atau peristiwa bagi pembaca medianya dalam sebuah bentuk berita. Hal itu dilakukannya setiap hari sampai-sampai semuanya berjalan secara mekanik dan otomatis. Kondisi seperti ini bisa membuat jurnalis jenuh dan pembaca pun jenuh karena berhadapan dengan pola penulisan berita yang itu-itu saja. Jurnalis tidak boleh merasa puas karena bisa menjejali pembaca dengan straight news berpola 5W 1H. Jurnalis harus bisa menyuguhkan kepada pembaca tulisan yang memenuhi hasrat manusia secara utuh, yaitu hasrat ingin tahu (faktor kognitif) dan hasrat akan keindahan (faktor estetis).

Dalam jurnalisme sastra, hasrat pembaca bisa terpenuhi melalui pengisahan berita yang imajinatif namun obyektif, naratif dengan alur, karakter, konflik, latar, namun tetap rasional (non fiksi), menyentuh emosi, namun tetap menegakkan verifikasi. Inilah aliran jurnalisme yang tidak harus menjadi baru lagi bagi para jurnalis. Menulis feature adalah awal yang baik untuk bisa menulis jurnalisme sastra. Syukurlah, bahwa para jurnalis kita saat ini sudah mulai peduli dengan model penulisan yang seperti ini. Pada aras inilah, kehadiran artikel MB sangat penting untuk sekali lagi mengingatkan para jurnalis (bukan hanya jurnalis Pos Kupang) bahwa dengan kekuatan imajinasi, seorang jurnalis akan mengakhiri perjalanan jurnalistiknya secara mengesankan dan tidak menjadi jurnalis yang 'paceklik', yang menjadi kering kerontang, yang layu sebelum berkembang.

Terima kasih buat HN yang telah menjadi inspirasi untuk diskusi ini. Terima kasih juga buat Silvester Ule yang telah mencerahkan HN dan juga pembaca setia Pos Kupang. Ke'trenyuh'an HN adalah pembelajaran yang positif bagi para pembaca agar tidak bersikap "taken for granted" atas berbagai informasi, dan argumentasi yang disampaikan lisan maupun tulisan. Namun, upaya HN mempersoalkan artikel MB yang berujung pada marginalia pribadi MB melalui argumentum ad hominem adalah hal yang tidak perlu diulangi lagi oleh siapa pun yang berusaha mencari kebenaran dan menawarkan kebenaran melalui media massa. Dan dengan itu saya yakin bahwa buku 15 tahun Pos Kupang Suara Nusa Tenggara Timur tidak mengalami cedera serius karena berbagai gelombang 'trenyuh'. Toh buku itu memang belum sempurna dan paripurna. Namun daripadanya kita bisa belajar banyak hal, khususnya bagi para jurnalis agar senantiasa mengaktifkan imajinasi dan mulailah mencintai jurnalisme sastra sebagai cara mewartakan kebenaran dengan sentuhan-sentuhan cita rasa manusiawi.

Isidorus Lilijawa

warga Oebufu, anggota Forum Akademia NTT.

Sumber: Pos Kupang 31 Januari 2008

Kasus ubi kayu di Mabar: Jaksa periksa tiga pejabat

Aparat Cabang Kejaksaan Negeri (Kejari) Ruteng di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) telah memanggil dan memeriksa tiga pejabat dari Dinas Tanaman Pangan, Perkebunan dan Peternakan (TP3) Mabar beberapa waktu lalu.

Kepala Cabang Kejaksaan Negeri (Kacabjari) Ruteng di Labuan Bajo, Dwi Agus Arfianto, S.H, ketika ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Selasa (29/1/2008), mengatakan, ketiga pejabat yang telah diperiksa itu terlibat langsung dalam pengelolaan proyek pengembangan ubi kayu land ras lumajang (ubi aldira) di daerah itu.

Dwi ditemui berkaitan penyelidikan yang sudah dilakukan kejaksaan terhadap kasus proyek ubi kayu aldira senilai Rp. 2,8 miliar yang dialokasikan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2007.

Menurut dia, sampai saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan terhadap kasus dugaan korupsi dari proyek ubi kayu tersebut.

Tentang perkembangan hasil penyelidikan pihak kejaksaan, Dwi mengatakan, sejauh ini selain Cabang Kejari Rutengdi Labuan Bajo telah mengamankan stek-stek ubi kayu yang tidak ditanam, juga sudah memanggil dan memeriksa tiga orang pejabat di dinas teknis.

Dwi menyebutkan, tiga pejabat yang sudah diperiksa, Kepala Bidang (Kabid) Bimas Ketahanan Pangan, Danggur Gayetanus, S.P, Ketua Panitia Swakelola, Subur Yohanes, dan Bendahara Dinas TP3 Mabar, Aloysius Oktovianus Niron, S.Pt.

"Jadi, kami sudah pulbaket dan penyelidkian. Juga sudah memeriksa tiga orang dalam kasus ini. Dan dalam tahap ini kami tidak menjustifikasi siapa-siapa, namun tetap menganut asas praduga tak bersalah," tegas Dwi.

Ditanya kapan kasus ini tuntas, Dwi belum bisa memastikan karena saat ini masih dalam tahap penyelidikan. "Kalau dalam tahapan penyelidikan terindikasi terdapat kasus dugaan korupsi, berarti harus terdapat dua unsur, yakni penyimpangan prosedur dan menentukan kerugian negara. Jika kedua itu sudah ada, maka kami sudah bisa tetapkan tersangkanya," jelas Dwi.

Sebelumnya, aparat kejaksaan mengangkut dan mengamankan ribuan stek ubi kayu aldira. Ribuan stek ubi kayu itu diangkut karena tidak ditanam oleh kelompok tani dengan alasan musim tanam sudah lewat. Pengamanan stek itu juga akan dijadikan barang bukti dalam penyelidikan kasus proyek tersebut.

Saling menghargai

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Mabar, AKBP Butje Hello, dan Kacabjari Ruteng di Labuan Bajo, Dwi Agus Arfianto, S.H, mengatakan, dua intansi tersebut akan saling menghormati dan menghargai dalam setiap tahapan penyelidikan yang dilakukan oleh masing-masing lembaga. Kedua lembaga yang sedang menyelidiki kasus proyek pengembangan ubi kayu aldira di Mabar, juga akan saling berkoordinasi demi penuntasan kasus itu.

"Toh nanti juga seluruh berkas atau data yang ada pada kami terkait kasus ubi kayu akan kami koordinasi dengan pihak kejaksaan. Bahkan hasilnya akan melewati meja jaksa," kata Butje Hello, yang dihubungi secara terpisah di Labuan Bajo, Selasa (29/1/2008).

Butje mengatakan, dua lembaga ini memiliki kewenangan yang sama dalam proses penyelidikan kasus dugaan penyimpangan proyek ubi kayu. Dalam kasus ubi kayu itu, lanjut Butje, pihaknya melakukan pulbaket dan menyelidiki kasus itu.

"Jika nanti kami akan serahkan berkas itu kepada kejaksaan, kami juga akan mengikuti atau mengawasi," katanya.

Dwi Agus Arfianto, mengatakan, dalam penanganan kasus itu tidak ada persoalan. "Kami saling menghargai sesuai aturan masing-masing," ujarnya.

Menyinggung soal adanya dua institusi atau lembaga (kepolisian dan kejaksaan) yang sama-sama menyelidiki kasus ubi kayu, Dwi mengatakan, dalam penanganan setiap kasus dugaan korupsi, apabila diselidiki oleh dua lembaga, maka keduanya akan saling menghormati dan menghargai. (yel)
Sumber: Pos Kupang 31 Januari 2008
Foto ilustrasi: kacierkusuma.wordpress.com

Profil Kabupaten Lembata

Written By Ansel Deri on Wednesday, January 30, 2008 | 2:54 PM


Pemandangan umum di Kabupaten Lembata adalah kondisi jalan yang rusak. Tidak kurang dari 85 persen jalan masuk dalam kategori rusak dan rusak parah.
Jalan bergelombang dan berlubang besar tertutup debu. Aspal tipis pelapis jalan yang telah hancur berkeping-keping menjadi saksi bisu manipulasi pembangunan jalan. Jalan raya yang hanya selebar empat meter kondisinya mirip "sungai kering".

Keadaan terparah terdapat di Kecamatan Wulandoni di bagian pesisir selatan Pulau Lomblen, atau yang lebih dikenal dengan Pulau Lembata. Kecamatan bungsu di Kabupaten Lembata itu masih belum memiliki akses jalan raya yang dapat menghubungkan Wulandoni dengan daerah lainnya, terutama ke ibu kota kabupaten.

Secara khusus Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata telah menyisihkan anggaran tahun 2002 ini sebesar Rp 800 juta untuk pembangunan sarana jalan raya di Wulandoni.

Kondisi jalan di wilayah selatan lebih parah dibanding wilayah utara. Di wilayah ini, truk digunakan sebagai angkutan umum setelah di dalamnya ditata bangku untuk tempat duduk penumpang.

Untuk mendapatkan angkutan umum ke kota, calon penumpang harus rela menunggu berjam-jam lamanya. Bahkan, apabila calon penumpang ketinggalan truk penumpang, ia harus rela menunggu lagi sampai hari berikutnya untuk dapat bepergian ke kota.

Pemerintah kabupaten menyadari bahwa kondisi jalan raya dan angkutan umum merupakan akar permasalahan yang sangat mempengaruhi kegiatan ekonomi daerah.

Tahun anggaran 2002, Pemkab mengalokasikan dana sebesar Rp 14 miliar, turun 22 persen dari tahun sebelumnya, untuk melanjutkan pembangunan dan rehabilitasi jalan raya.

Prioritas utama adalah akses jalan di pusat kota kabupaten dan daerah pusat produksi. Khusus di dalam kota, jalan protokol dilebarkan menjadi 12 meter.

Sementara di luar kota dilakukan rehabilitasi berupa pelebaran jalan dari empat menjadi delapan meter dan perbaikan saluran air di daerah kantong-kantong produksi.

Meskipun dikenal sebagai daerah tandus dan gersang, pertanian tetap menjadi tumpuan kegiatan ekonomi kabupaten dari tahun ke tahun.

Tahun 2000 misalnya, dari nilai total kegiatan ekonomi Kabupaten Lembata sebesar Rp 88,7 milyar, pertanian menyumbang hingga 64 persen. Terhadap pertanian ini, produktivitas menjadi kendala.

Produksi hasil pertanian belum mampu mencukupi kebutuhan lokal. Padi, misalnya. Untuk memenuhi kebutuhan sebagian kecil penduduknya, beras masih harus didatangkan dari Makassar dan Surabaya.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Tanaman Pangan, tahun 2000 produksi beras kabupaten besarnya 2.271 ton yang dipanen dari 2.429 hektar lahan sawah dan ladang.

Ini berarti produktivitas padi per hektar tidak sampai satu ton. Kecilnya produksi dikarenakan sebagian besar padi dihasilkan melalui padi ladang.

Kecamatan Atadei menjadi penghasil padi ladang terbesar. Beruntung masyarakat Lembata bisa melakukan substitusi. Mereka lebih memilih jagung daripada beras sebagai makanan pokok. Sebab, jagung lebih mudah diproduksi dibanding padi.

Dalam setahun, bila musimnya sedang baik jagung dapat dipanen dua kali. Sementara padi hanya dipanen sekali dalam setahun.

Ke depan, perekonomian Lembata masih akan didominasi sektor pertanian yang akan lebih didukung oleh peternakan dan perikanan.

Ternak sapi, kambing, dan babi masih dapat dikembangkan, mengingat terdapatnya padang rumput yang luas. Sebagai contoh, hampir 85 persen wilayah Kecamatan Ile Ape adalah padang rumput.

Begitu pula di Kecamatan Omesuri, Buyasuri, dan Nagawutung masih terdapat padang gembala yang masih dapat didayagunakan.

Perikanan masih menyimpan potensi yang sangat besar karena 73 persen wilayah Lembata adalah perairan. Sumber daya alam terbesar ini belum tergarap secara profesional.

Pemkab lewat Dinas Perikanan dan Kelautan sedang mensurvei potensi kelautan. Dengan data yang akurat dalam bentuk pemetaan potensi kelautan ini diharapkan sumber daya laut dapat dikelola dan dikembangkan menjadi produk unggulan daerah.

Untuk mengolah sumber daya kelautan, tahun 2001 Pemkab telah menggandeng investor dari Jepang. Investor dalam negeri menggarap budi daya mutiara di Teluk Hadakewa, salah satu teluk terindah untuk pengembangan budi daya mutiara.

Selain berharap pada bidang pertanian, Lembata juga menaruh harapan pada potensi sumber panas bumi di Kecamatan Atadei.

Sumber panas bumi ini oleh masyarakat sekitar dan para wisatawan dimanfaatkan untuk memasak makanan secara alamiah.

Dalam waktu kurang dari satu jam, makanan sudah dapat dimakan. Penjajagan kemungkinan dijadikannya sumber panas bumi sebagai sumber tenaga listrik sedang giat dilakukan.

Maklum, dari delapan kecamatan baru tiga kecamatan yaitu Ile Ape, Lebatukan, dan Nubatukan, yang sudah dapat menikmati listrik selama 24 jam.

Penduduk Lembata yang 80 persen di antaranya tergolong miskin ini harus bergelut pula dengan permasalahan listrik dan air bersih.

Memang, permasalahan yang dihadapi Pemkab Lembata tidak ringan. Banyaknya perantau karena tidak adanya lapangan pekerjaan di Lembata, cukup membantu meringankan beban hidup masyarakat.

Mereka bagaikan setetes embun di padang gersang. Kiriman dana dari perantau ini melalui satu-satunya kantor pos di Lewoleba, cukup membantu masyarakat dalam menghidupi keluarga mereka.

Sebagian dana digunakan untuk biaya pendidikan di luar daerah, terutama di Pulau Jawa. (Aritasius Sugiya, Kompas, 12 Mei 2002)

Ket foto: Nampak salah satu kondisi jalan yang rusak di kampung Belame, menuju arah selatan Lembata (gambar 01). Anggota DPRD Lembata Antonius Gelat Wuwur mendorong motornya akibat badan jalan rusak tak jauh dari jembatan Sabutoto di Belame, Nagawutun (02). Oto (mobil 'Firdaus' milik pengusaha lokal Johanes Buga de Ona saat melewati jembatan Sabutoto yang hanya bermodal batang kelapa (03). Foto-foto: dok. Ansel Deri

APBD 2008 banyak di-'by pass'

LEWOLEBA - Pembahasan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kabupaten Lembata 2008 kebanyakan di-'by pass' karena keterbatasan waktu.

Dampaknya sejumlah item kegiatan tidak terakomodir sehingga pemerintah dan DPRD Lembata harus menempuh "tradisi baru" melakukan pembahasan anggaran biaya tambahan.
Hal ini terungkap dalam paripurna penyampaian pendapat panitia anggaran DPRD Lembata, Senin (28/1/2008).
Rapat dipimpin Wakil Ketua, Frans Making, didampingi Felicianus Corpus dan Ketua DPRD, Drs. Piter Boliona Keraf.

Sementara pemerintah dipimpin Wabup, Drs. Andreas Nula Liliweri, Asisten I Setda, Stanis Nunang, para kepala dinas, badan dan bagian.

Frans Making menjelaskan, pembahasan anggaran biaya tambahan merupakan dampak dari pembahasan APBD yang di-'by pass'.

Sebenarnya, pembahasan APBD didahului dengan PPAS oleh komisi dengan SKPD untuk merancang rencana kegiatannya.

Kondisi yang telah terjadi ini harus dipahami dan menjadi pelajaran bagi pemerintah dan DPRD agar tidak mengulanginya pada pembahasan APBD 2009.

Juru bicara panitia anggaran DPRD, Yohanes Vianey Burin, mengatakan, setelah ditetapkan perda perhitungan APBD 2008 terdapat silpa Rp 7.020.320.183.

Dana tersebut dialokasikan untuk membiayai kegiatan dari 14 kantor dinas, badan dan bagian. Berdasarkan kesepakatan komisi dengan satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) diputuskan alokasi anggaran tambahan Rp 7.020.319.956.

Alokasi terbesar untuk membiayai enam program kegiatan di dinas pendidikan dan kebudayaan senilai Rp 2.952.263.500, dan kesbanglinmas sebesar Rp 1.013.489.621 untuk pengadaan pakaian hansip dan pendidikan dan latihan hansip menghadapi persiapan pemilu tahun 2009.

Alokasi terkecil untuk Kantor Polisi Pamong Praja yakni Rp 15.360.000 untuk kegiatan pengendalian kebisingan dan gangguan dari masyarakat.

Vianey menjelaskan, pembahasan anggaran biaya tambahan merupakan tradisi baru di DPRD dan pemda di tahun anggaran 2008. Hal ini diiktiarkan agar tidak terjadi hambatan dalam penyediaan dana APBD maupun pelaksanaanya.

Selain itu, menjadi perhatian pemerintah dan DPRD dalam menyusun APBD induk agar semua kebutuhan belanja diselesaikan dalam PPAS.

Pembahasan anggaran biaya tambahan ini agar tidak terjadi lagi pada tahun anggaran berikutnya.
Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP), Hyasintus Burin, mempertanyakan alokasi anggaran hanya untuk pengadaan pakaian hansip.

Menurutnya, dana yang dialokasikan terlampau besar dibanding banyaknya jumlah anggota hansip yang tersebar di semua wilayah desa dan kecamatan.

Sintus menyarankan dilakukan pendataan ulang untuk mengetahui jumlah anggota hansip.

Menanggapi hal ini Frans Making menjelaskan, alokasi dana tersebut telah dihitung sesuai kebutuhan pengadaan pakaian hansip dan semua atribut lainnya dari kaki sampai kepala.

Jumlah dana yang dialokasikan telah mengalami penambahan dari alokasi sebelumnya. (ius)

Sumber: Pos Kupang 30 Januari 2008

Isu penggal kepala resahkan warga

LEWOLEBA - Isu penggal kepala anak-anak balita yang beredar melalui pesan singkat di ponsel, mulai meresahkan warga Lewoleba.

Dalam pesan singkat itu disebutkan bahwa kepala anak- anak yang dipenggal harus berasal dari wilayah timur Indonesia sebanyak 1.200 kepala untuk dijadikan tumbal bagi bencana lumpur Lapindo di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Informasi ini membuat orangtua, terutama kaum ibu rumah tangga mengkhawatirkan keselamatan anak- anak mereka saat pergi-pulang sekolah atau saat ditinggal sendiri bersama pembantu di rumah.

Bahkan sudah ada ibu rumah tangga yang tidak mau melepas anaknya pergi ke sekolah karena khawatir sesuatu yang buruk menimpa mereka.

Wakil Kepala Polres Lembata, Kompol Erwin, S.E yang dikonfirmasi Pos Kupang, Senin (28/1/2008) siang, mengaku telah mendengar isu penggal kepala itu beredar sejak beberapa waktu lalu.

"Hanya isu saja. Sulit melacak siapa yang menyebarkan isu itu melalui pesan singkat. Orang yang menyebarkan isu tersebut hanya sengaja untuk menciptakan ketidaknyamanan bagi para orangtua," kata Erwin.

Dia menambahkan siapapun para orang orangtua pasti mengkhawatirkan keselamatan putra-putranya setelah menyaksikan isu penculikan anak dan kasus mutilasi yang terjadi di beberapa kota di Indonesia.

Untuk meredam kekhawatiran itu, lanjutnya, Polres Lembata segera menyebarkan imbauan kepada pemerintah daerah, kecamatan, kelurahan dan desa sampai lembaga-lembaga untuk disampaikan kepada masyarakat. Isu itu dihembuskan oknum yang tidak bertanggungjawab.(ius)

Sumber: Pos Kupang 30 Januari 2008

Warga Memprotes Penyerahan Tanah Adat ke Kodam Udayana


Ende, Kompas - Penyerahan tanah warga seluas 2.000 hektar kepada Kodam IX/Udayana, yang sudah dilangsungkan beberapa hari lalu, Selasa (29/1) kemarin dipermasalahkan warga suku Paumere.


Mereka merasa tidak pernah menyerahkan tanah adat tersebut kepada pihak mana pun. Karena itu, mereka menolak pembangunan kantor korem baru atau sejenisnya di sana.

Penolakan itu dikemukakan warga Kampung Kepi, Desa Sanggarhorho, saat Komandan Komando Distrik Militer (Kodim) 1602 Ende Letkol Mohamad Shokir meninjau wilayah tersebut kemarin. Dalam dialog, terutama ketika Shokir menyebut bahwa warga yang bernama Musa telah menyerahkan tanah seluas 2.000 hektar itu kepada TNI, warga langsung emosional.

”Tidak ada warga di sini yang bernama Musa. Kalau ada, silakan yang bersangkutan datang ke sini dan langsung mengucapkan sumpah adat di tubumusu (tugu peringatan). Saya amat sedih ada orang luar yang berani menjual tanah adat di sini. Tak semudah itu memindahtangankan tanah adat,” kata Wilhelmus Mbuja, warga setempat, menanggapi pernyataan Shokir, sambil menangis dan kemudian memeluk susunan batu tubumusu.

Peristiwa itu disaksikan Camat Nangapanda Gabriel Da dan Kepala Kepolisian Sektor (Polsek) Iptu Pua M Noor.

Melihat reaksi itu, Shokir langsung berupaya meredam kemarahan warga suku Paumere. Ia menjelaskan, kedatangannya bukan untuk melakukan pengukuran tanah, melainkan untuk survei. Hasil survei, katanya, akan dilaporkan kepada Panglima Kodam Udayana Mayor Jenderal GR Situmeang. ”Semua yang saya lihat saat ini akan saya laporkan ke atasan saya, termasuk menyangkut persoalan adat yang ternyata belum beres,” kata Shokir menambahkan.

Gunakan hari nurani

TNI, lanjut Shokir, tak akan buru-buru membangun kantor komando resor militer (korem) di areal itu atau langsung main gusur. ”Kami juga menggunakan hati nurani. Yang harus dicatat warga adalah TNI tak akan menyengsarakan rakyat. TNI akan melindungi dan mengayomi rakyat,” katanya menjanjikan.

Shokir menambahkan, rencana pembangunan satuan batalion dan korem di Flores, khususnya di Ende, antara lain atas pertimbangan daerah itu akan berkembang menjadi ibu kota provinsi baru (Flores).

Wilayah adat suku Paumere di Flores meliputi tiga desa, yaitu Kerirea, Sanggarhorho, dan Ndeturea. Luas yang mereka klaim sekitar 6.000 hektar. Tanah yang sekarang dipermasalahkan sebagian terletak di Kerirea dan Sanggarhorho. (SEM)

Sumber: KOMPAS, 30 januari 2008

Pak Harto dan Filosofi Jawa

Aloys Budi Purnomo Rohaniwan
Pemimpin Redaksi Majalah Inspirasi,
Lentera yang Membebaskan, Semarang

Mantan Presiden HM Soeharto meninggal dunia. Betapapun kontroversi tentang kehidupannya saat berkuasa di republik ini, di hari-hari duka setelah kematiannya perlu dikumandangkan filosofi mikul dhuwur, mendhem jero.

Terhadap orang yang memiliki jasa baik terhadap kita, baik secara personal maupun sosial, penghayatan filosofi mikul dhuwur, mendhem jero adalah wajib. Kita perlu menghormati yang telah berpulang karena jasa dan kontribusinya terhadap sesama (mikul dhuwur). Seiring dengan itu, kita tidak mengingat lagi segala kesalahan dan kekhilafannya (mendhem jero).

Dataran personal
Pada dataran personal, filosofi itu tepat dan sepantasnya, dalam tradisi mana pun. Dalam tradisi Jawa ada ungkapan mikul dhuwur, mendhem jero. Dalam bahasa Latin ada ungkapan de mortuis nil nisi bene non male, tentang yang sudah meninggal, yang baik-baik saja (yang perlu dikenang).

Bahkan, terhadap orang biasa pun—bukan penguasa, bukan pejabat, bukan elite politik—sambutan mengiringi upacara pemakaman seseorang selalu disertai puja-puji tentang kebaikannya.

Tidak pernah sambutan pengiring kematian Mbah Kromo, petani dusun Belikrejo, atau Kang Wanto, nelayan kampung Brotojoyo, dan Mbok Inem, pembantu asal Wonogiri, berisi hujatan dan pemaparan kejelekannya.

Pada dataran personal, filosofi mikul dhuwur, mendhem jero adalah kewajiban universal sepanjang masa seluas dunia. Namun, dalam sambutan upacara kematian juga sering didengar ungkapan, ”Apabila ada utang-piutang yang terkait dengan almarhum-almarhumah, segala sesuatunya akan diselesaikan ahli waris dan keluarganya!”

Ungkapan terakhir ini menjadi penting, bukan hanya pada tingkat personal, tetapi juga sosial. Ada tanggung jawab untuk menyelesaikan tiap perkara terkait yang telah wafat. Dalam kasus-kasus ringan, terkait utang-piutang yang tidak terlalu besar, secara ikhlas menghapuskannya, demi meringankan beban keluarga dan ahli waris yang ditinggalkan.

Itulah implikasi personal maupun sosial dalam perspektif paguyuban masyarakat terbatas terkait filosofi mikul dhuwur, mendhem jero. Sebuah kearifan lokal yang juga bersifat universal.

Kasus Soeharto

Apakah filosofi mikul dhuwur, mendhem jero dapat diterapkan untuk Soeharto yang notabene mantan penguasa Orde Baru? Pada tingkatan personal ya dan harus! Terhadap jasanya sebagai pejuang dan Bapak Pembangunan, kita harus mikul dhuwur. Bahkan tidak bisa dimungkiri, jasa-jasa Pak Harto tidak hanya seluas nasional di Indonesia, tetapi juga pada tingkat regional Asia Tenggara, bahkan tingkal global.

Perjuangan untuk mengentaskan rakyat Indonesia dari kemiskinan, ketertinggalan, penguatan ekonomi yang menyejahterakan rakyat, dan pemberantasan buta huruf merupakan jasa-jasanya yang harus dikenang dalam sejarah republik ini. Masih banyak jasa lainnya.

Keterlibatannya untuk mengembangkan politik bebas-aktif pada tingkat internasional dan menjaga ketertiban serta keamanan bangsa-bangsa membuat tokoh-tokoh regional maupun internasional turut berduka atas kematiannya. Ini sebuah reputasi Seoharto sebagai mantan Presiden Republik Indonesia.

Secara personal, segala kekhilafan dan kesalahan pun pasti dengan ikhlas dilupakan, dipendhem jero. Bahkan, lawan-lawan politiknya, korban kebijakan dan kekuasannya tidak sedikit yang melupakan dan memaafkan kesalahannya.

Namun, sama seperti sambutan terhadap Mbah Kromo, Kang Wanto, dan Mbok Inem yang menyebutkan tanggung jawab terkait utang-piutang almarhum-almarhumah oleh keluarga dan ahli warisnya, esensi yang sama tetap berlaku untuk Pak Harto.

Utang-piutang itu terkait warisan sejarah yang serba kabur, menyangkut pelurusan sejarah dan kebenaran Supersemar serta pengalaman traumatik G30S; terkait masalah pelanggaran hak asasi manusia dalam kasus DOM di Aceh, Timor Timur, kasus penembakan misterius (petrus), kasus Trisakti, dan kasus-kasus anarki menjelang kejatuhannya. Utang-piutang yang berlabelkan kemanusiaan itu perlu dibereskan pemerintah melalui proses hukum yang berlaku.

Utang-piutang Pak Harto yang terbebankan pada ahli waris dan keluarga adalah masalah-masalah terkait korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga meninggalnya belum ada titik terang.
Ahli waris dan keluarga Pak Harto tidak melulu sanak saudara terkait ikatan biologis, tetapi juga terkait ikatan ideologis. Artinya, lingkaran kroni politis dan ideologis yang selama kekuasaan Soeharto berlangsung, ikut menikmati kekuasaan secara ilegal, ikut bertanggung jawab terhadap utang-piutang ini. Ini yang harus terus diperjuangkan demi harkat dan martabat berbangsa.

Kita ikhlas dan berdoa untuk kepulangan Pak Harto ke pangkuan Tuhan, juga memohonkan ampun atas segala kesalahan dan dosanya. Namun, kita tidak ikhlas lingkaran kroni yang selama ini menikmati kekuasaan tetap melenggang bebas tanpa pernah tersentuh hukum.
Sumber: Kompas, 29 Januari 2008

Pastor Nicholas Strawn SVD: Rindu yang Tertunda

Pastor Nicholas Strawn, SVD, pernah memendam rasa rindu. Seharusnya, rindu itu terobati pada 24 September 2007 saat imam kelahiran Iowa, AS, ini merayakan Ulang Tahun (Ultah) ke-73 bersama para pasien di Ruma Sakit (RS) Bukit Lewoleba, Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Saat itu, Rosemary dan Tom Mulligan bisa hadir untuk ikut bersyukur dan membagi kebahagiaan bersama pasien. Dua ponakannya itu, jauh-jauh sudah merencanakan meninggalkan California, Amerika Serikat untuk terbang ke Lewoleba melalui Denpasar.

”Mereka sudah mengabarkan saya akan tiba 17 Oktober. Keduanya juga sudah mengajukan cuti enam bulan sebelumnya. Koper juga sudah siap. Eh, pas mau berangkat Rosemary jatuh sakit dan mesti opname empat hari. Ya, bapak dokter bilang tidak boleh keluar negeri sampai tahun depan. Itu rencana Tuhan,” cerita Pater Niko, pastor yang kini bertugas melayani pasien RS Bukit Lewoleba, Dekanat Lembata, Keuskupan Larantuka.

Pastor yang terlahir dari seorang petani jagung di Iowa, menuturkan, dua ponakan itu sedianya akan dibawa keliling Lembata. Pasalnya, mereka berada selama tiga minggu di pulau penghasil pastor dan imam itu. Termasuk Boto dan Lerek, dua paroki yang ia layani selama menjadi misionaris di Indonesia sejak ditahbiskan di Illinois, AS.

“Orang Lerek sudah siap menjemput dengan tari-tarian adat. Tuak dan siripinang juga sudah siap. Di Boto kita akan minum tuak di konok (tempurung kelapa). Tapi, mau bilang apa. Itu rencana Tuhan. Mudah-mudahan tahun ini mereka hadir,” kata imam lulusan Catholic University of California, AS ini.

Pater Niko Strawn SVD memulai tugasnya sebagai misionaris di Pulau Lembata pada Februari 1964. Ia masuk Indonesia pada Desember 1963. Kemudian, terus ke Ende dan dijemput rekan-rekan imam di SVD Ende. Ia kemudian diantar ke Larantuka untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Lembata.

Tiba di dermaga Lewoleba, Lembata, ia langsung dijemput dengan kuda untuk selanjutnya menuju Paroki Lerek. Setelah melayani umat di Lerek, ia pindah ke Boto. Oleh karena makin uzur, ia diperbantukan di RS Bukti Lewoleba. Ya, mudah-mudahan rasa rindunya bisa terobati dengan kehadiran dua ponakannya. Bukan begitu, Pastor. (Ansel Deri)

Dana Petani Rp 100 Juta Per Desa

Departemen Pertanian (Deptan) akan membentuk lembaga mikro ekonomi pedesaan untuk membantu modal petani dalam menggarap lahannya.


Hal itu dikatakan Menteri Pertanian, Anton Apriyantono di Jakarta, Selasa (29/1). Petani melalui kelompoknya nanti, bisa membentuk lembaga keuangan mikro untuk menyalurkan pinjaman lunak secara bergulir pada anggotanya.

Program tersebut, akan digulirkan di sekitar 10.000 desa. Deptan akan membantu atau mengucurkan dana bantuan masing-masing Rp 100 juta/desa.

Dana itu nantinya dapat digunakan petani melalui pinjaman lunak tanpa agunan dan syarat yang mudah untuk modal membeli bibit, pupuk, dan lainnya. Selanjutnya, pinjaman itu dibayar bila sudah panen, lalu digulirkan pada anggota lainnya.

Petani juga bisa mengembangkan lembaga keuangan mikro itu menjadi koperasi simpan pinjam. "Pemerintah akan fokus mengembangkan ekonomi kerakyatan di pedesaan, terutama pada petani, lewat bantuan pinjaman dana dari berbagai instansi terkait," katanya.

Khusus Deptan, dana Rp 100 juta/desa itu diberi nama program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). Instansi lain juga memiliki tujuan yang sama, namun programnya berbeda.

Peningkatan usaha ekonomi kerakyatan itu, bertujuan untuk membangun ketahanan pangan di Indonesia, supaya tidak lagi bergantung pada luar negeri. "Bila mungkin, Indonesia sebagai negara pengekspor kebutuhan pangan dunia," katanya.
Sumber: Suara Pembaruan, 29 Januari 2008

Bendahara Menangis di Forum Pertemuan

Bendahara Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lewoleba, Kabupaten Lembata, Fransiska Tuto menangis saat pertemuan para medis, dokter dan utusan tim Bupati Lembata di aula pertemuan RSUD Lewoleba, Jumat (24/1/2008).
 
Tidak diketahui penyebab menangisnya bendahara yang mengelola uang jasa medis itu. Diduga erat kaitannya dengan pengelolaan dana jasa medis yang belum dibayar sehingga mendapat reaksi keras para medis dan dokter.
 
Utusan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata dipimpin Asisten II Setkab Lembata, Ir.Lukas Witak, Kepala Dinas Kesehatan Lembata, dr.Johnny Laoh, Kepala BPKAD, Drs. Petrus Toda Atawolo, M.Si, dan Direktur RSUD, dr.Maryono memfasilitasi pertemuan ini.

Sekitar 50 para medis dan sejumlah dokter hadir dalam pertemuan ini, tetapi harapan mereka berdialog mengungkapkan unek-uneknya tak kesamapaian. Pasalnya, utusan pemda telah membatasi agenda pertemuan dengan tidak ada dialog.

Fransiska Tuto menempati bangku deretan kedua setelah tempat duduk para kepala seksi. Semula ia mengikuti dan mencermati dengan seksama penjelasan yang disampaikan utusan bupati.

Tuto, mencatat setiap poin yang dianggapanya penting disampaikan kepala dinas, asisten II, kepala dinas kesehatan dan direktur RSUD.

Fransiska mulai menangis sesenggukan ketika Lukas Witak menyampaikan penjelasannya. Tak tahu pernyataan apa disampaikan oleh Lukas Witak yang menyentuh perasaan Fransiskan sehingga dia berurai air mata.

Dua orang peramadis yang duduk bersebelahan tak tahu penyebabnya. Beberapa kali ia mengambil tisu mengeringkan matanya yang basah. Bahunya juga nampak bergoyang, meski tak sempat kedengaran suaranya.

Dalam suatu kasus sebelumnya, Fransiska Tuto pernah menangis. "Sudah biasalah dia menangis. Dulu waktu ada masalah, juga dia menangis," kata seorang perawat usai pertemuan itu.
Pantuan Pos Kupang, penjelasan yang disampaikan utusan pemerintah daerah tak banyak menyentuh esensi persoalan pengelolaan uang jasa pelayanan yang tidak dibayar selama tiga bulan sejak b April-Desember 2007.

Meskipun dana tersebut telah lama diklaim manajemen RSUD kepada PT Askes Maumere dan telah ditransfer ke Bank NTT Cabang Lewoleba.

Dugaan dana tersebut dibungakan cukup menguat. Pasalnya, beberapa kali upaya tim RSUD mengkaji pembagian uang jasa medis ini terhalang informasi besarnya pagu yang menjadi hak para medis dan dokter 40 persen dan 60 persen untuk pendapatan asli daerah.

Beberapa kali janji merealisasikan pembayaran tidak terpenuhi. Akhirnya baru direalisasikan setelah muncul mogok kerja di RSUD, Selasa (22/12008).

Saat itu juga bendahara berada di Kupang untuk sesuatu urusan pribadi, mencairkan dana tersebut dari Bank NTT dan mentransfernya melalui Bank BNI 46 Lewoleba.

Namun tidak seluruh dana jasa pelayanan Rp 273.700.000 bisa ditransfer, tapi bertahap. Dalam pesan singkat (SMS) dikirim ke telepon genggam sejumlah karyawan RSUD, bendahara mengatakan, dana tersebut tidak bisa ditransfer seluruhnya, tapi secara bertahap. (ius)
Sumber: Pos Kupang, 29 Januari 2008
Ket foto: Petrus Toda Atawolo

Chris John Vs Rionet Caballero Jurado: Menunggu Kejutan The Dragon Banjarnegara

Tarung wajib atau mandatory fight antara petinju kelas bulu versi WBA Chris John (27) melawan Rionet Caballero Jurado (24) akan digelar di Istora Senayan Jakarta, Sabtu (26/1) malam. Mampukah The Dragon mengkanvaskan Caballero?

Semua belum pasti karena masih harus dibuktikan Chris John dengan Caballero, petinju asal Panama.

Pastinya, jauh sebelum itu petinju kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah yang mendapat julukan the Dragon ini sudah bermimpi menjadi petinju kelas dunia. Itu pun sudah ia wujudkan dalam beberapa mandatory fight sebelumnya.

Misalnya, dengan Derrick Gainner asal Amerika Serikat di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kemudian dengan Juan Manuel Marques di Tenggarong, dan terakhir dengan Jose Cheo Rojas dari Venezuela di Lapangan Tenis Indoor Senayan Jakarta, Sabtu 3 Maret 2007 lalu.

Publik tinju Indonesia mungkin masih ingat. Saat menghadapi Rojas, Chris John menang angka dalam laga 12 ronde tersebut.

Saat itu, tiga wasit: Fransisco Martinez dari Selandia Baru memberi angka 118–108, Levi Martinez dari Amerika Serikat: 117–107, dan Uriel Aguilera: 116–110 untuk Chris–Rojas.

Tapi, akankah suami Anna Maria Megawati ini mengulang suksesnya saat menghadapi Rionet Caballero Jurado? Belum bisa dipastikan. Pria bernama lengkap Yohannes Christian John kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, 14 September 1981 ini mengungkapkan akan memukul rubuh Caballero jika memang ada peluang.

“Saya berfokus sampai 12 ronde. Tapi, saya tidak akan melewatkan kesempatan jika ada peluang untuk meng-KO-kan dia,” kata Chris John saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (23/1) kemarin.

Saat itu, Chris John didampingi Craig Christian, manajer sekaligus pelatihnya asal Australia. Bahkan Craig yakin, anak asuhnya itu akan mendulang sukses menghadapi Caballero.

“Ini akan menjadi pertandingan yang seru dan Chris sebagai juara dunia akan menjadi juara,” kata Craig seumbar.

Chris John sudah melakukan latihan secara intensif di empat tempat. Di Sasana Mirah Boxing Banyuwangi, Jawa Timur, misalnya, Chris John melakukan sparring partner dengan petinju nasional asal Ngada, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, serta Williams dan Jacksen Asiku dari Australia.

Selain itu, ia juga berlatih di Sasana Mirah Silver Boxing Gym, Kuta, Bali. Kemudian tempat ketiga dan keempat adalah Hery`s Gym Perth, Australia, kemudian Jakarta. Chris John mengatakan saat ini berat badannya berkisar antara 61-62 kilogram.

Sedangkan berat ideal untuk bertarung di kelas bulu adalah 57,1 kilogram. Artinya, ia harus berusaha menurunkan berat badan karena saat ini masih mengalami kelebihan berat badan sekitar tiga kilogram.

Meski demikian, ia disarankan Craig agar frekuensi menyantap makanan malah harus lebih diperbanyak.

Meski demikian, sang penantang Rionet Caballero Jurado tentu tak boleh dianggap sebelah mata. Rekor bertanding menang-kalah sebanyak 22–7–1 dengan 16 kemenangan KO sudah ia kantongi.

Dan jauh-jauh dari Panama hanya satu dalam benak Caballero: menang. “Kami cukup bertahan sampai 12 ronde, tak peduli menang KO atau hukan. Yang penting kami datang sebagai penantang untuk menang,” ujar Caballero melalui penerjemahnya di X2 Plaza Senayan, Jakarta.

Kemauan dan Kerja Keras
Bagi putra pasangan Djohan Tjahyadi dan Warsini ini, dua hal yang jadi resep suksesnya adalah kemauan dan kerja keras. Karena itu, sejak usia 6 tahun Chris John sudah berlatih tinju.

Sang ayah Djohan Tjahyadi, yang juga bekas juara tinju amatir, pertama kali memperkenalkan olahraga berat ini kepada Chris dan adiknya Andrian.

Chris John mengaku, dari besutan ayah ia dan sang adik, Andrian, menjadi terbiasa dan mau berlatih secara intensif. Tapi, saat menyaksikan langsung sebuah pertandingan lokal semangatnya kembali berkobar.

“Menyaksikan seorang petinju bertanding di atas ring dan mendapatkan support dari pendukung yang antusias merupakan hal yang membanggakan,” ujar Chris John.

Nah, pada 1995 ia naik ring untuk pertama kalinya di Kejuaran Amatir Kabupaten Banjarnegara.

Bak air mengalir, dunia tinju mengantarnya menjadi petinju profesional. Chris John terus bersolo karir dan terus berlatih di Sasana Bank Buana Semarang untuk mewakili Jawa Tengah pada Kejuaraan Nasional Tinju Junior di Palangkaraya.

Karirnya terus melangit hingga tingkat dunia (Sekilas tentang Chris John). Banyak petinju dunia takluk di bawah the Dragon ini.

Tapi, apakah Chris John bakal membuat kejukan dengan menaklukkan Rionet Caballero Jurado di Istora Senayan Jakarta pada Sabtu (26/1) malam? Saksikan langsung di layar RCTI! (Ansel Deri)

Sekilas tentang Chris John

Nama : Yohannes Christian John
Lahir : 14 September 1981, Banjarnegara, Jawa Tengah
Pendidikan : SMU Yayasan Pancasila (lulus 1999)
Penghargaan :

-Juara Tinju Amatir Kejurda Jawa Tengah 1995
-Juara Tinju Amatir Piala Maesa 1997
-Gelar Interim Champion WBA (setelah menang angka atas Oscar Leon 25/9 2003)
-Peringkat 5 versi Fightnews dan peringkat 10 versi Boxrec (November 2004)
-Gelar juara dunia kelas bulu versi PBA (2001-2003)
-Gelar juara dunia kelas bulu versi WBA (2003-sekarang) Rekor 36 kali menang, 20 di antaranya KO, sekali seri.
-Medali emas kelas 52 kg di SEA Games Jakarta 1997 (wushu)
-Medali perunggu di SEA Games Kuala Lumpur 2001 (wushu)
-Medali emas kelas 56 kg PON Jakarta 2000 (wushu)


Keluarga
Orangtua : Djohan Tjahyadi (ayah), Warsini (ibu)
Pendidikan : SMU Yayasan Pancasila (lulus 1999)
Sumber: Flores Pos Ende, 25 Januari 2008

Kuda Lumping

Written By Ansel Deri on Thursday, January 24, 2008 | 3:21 PM

Rumah makan Papacili didatangi seorang anak berusia empat belas tahun yang hanya memakai celana tanpa baju.
"Mau makan, Nak?" tanya Papacili.
"Mau, Pak, tapi tidak punya uang."
"Siapa namamu?"
"Lumping, Pak."
"Tidak punya uang kok masuk warung," kata Papacili.
"Sudah berapa hari tak makan?" tanya Papacili.
"Kemarin pagi, sarapan nasi aking karena lagi paceklik di musim banjir. Jarang ada order menari. Terakhir, kebetulan ada hajatan setelah lama menganggur. Habis sarapan nasi aking, bertukas makan beling. Siang hari nasi aking lagi, dan pepaya matang setengah buah. Sehabis makan siang saya lari dengan pakaian di badan. Tadi malam saya jual baju untuk makan malam lalu tidur di emperan toko."
"Nanti dulu, kau bilang bertugas makan beling? Makan roti beling saudaranya sotomi?"
"Bukan roti Pak. Beling kaca."
"Ah, jangan bohong."
"Betul Pak, saya penari kuda lumping. Bosan makan beling dan kupas sabut kelapa dengan gigi, saya lari. Tentu bos saya sedang mengejar saya. Jangan bilang kalau bos mencari saya di sini, Pak," kata si Lumping.
Papacili menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala."
"Perutmu tidak berdarah disilet beling?" tanya Papacili.
"Tidak, Pak. Saya kunyah sampai hancur kemudian makan papaya, dan kelapa tua. Kata bos dalam kelapa tua ada obatnya. Itulah yang menyebabkan saya bertahan lama, tidak sakit tidak mati tapi akhirnya capek dan bosan lalu beginilah. Saya lari meninggalkan bos dengan rombongan penari kuda lumpingnya."
"Nama sebenarnya siapa?"
"Lumping. Nama pemberian kakak mantan penari kuda lumping. Karena nama itu saya diterima menjadi penari kuda lumping. Sejak berumur dua belas tahun, berkeliling dari kota ke kota."
"Kau pernah bersekolah?"
"Tamat SD, tidak mampu meneruskan sekolah karena ayah tidak mampu beli sepatu dan pakaian seragam."
Papacili memanggil istrinya. Setelah mendengar cerita si Lumping, hatinya terharu lalu berkata kepada suaminya. "Dia perlu makan, jangan banyak tanya dan bercanda sadis melihat orang susah," istri Papacili memperingatkan kekurangan suaminya.
Papacili memanggil gadis pelayan.
"Tolong sediakan makanan yang banyak."
"Buat siapa, Pak?" tanya pelayan.
"Buat seekor kuda muda belia!"
Si gadis tersenyum, melangkah meninggalkan Papacili. Ia sudah terbiasa dengan candanya Papacili, bosnya.
"E, eh, jangan pergi, ini namanya Kuda Lumping ... hehe!" Perut Papacili bergerak-gerak karena terkekeh. Dia tidak peduli pada teguran istrinya. "Sekarang namamu bertambah menjadi Kuda Lumping, ya."
Sehabis makan si Lumping disuruh duduk sebentar kemudian Papacili bertanya, "Kuda Lumping mau bekerja di warung ini sebagai pesuruh?"
"Mau saja, Pak. Terima kasih banyak, sudah dapat makan dapat kerja pula. Asalkan Bapak jangan suruh saya makan beling, nasi aking dan cabut kulit sabut kelapa tua dengan gigi," pinta si Lumping.
"Beres. Cuma saya mau supaya di warung ini ada kuda lumping naik kuda besi mengantar makanan kotak ke para langganan. Bisa?"
Si Lumping heran, "Kuda besi?"
"Sepeda, maksud saya, ha ha," kata Papacili.
Papacili menyuruh seorang karyawan lelaki yang bertugas melayani fotokopi untuk mengambil sepeda.
"Maaf, Pak. Saya bisa buang air?"
"O, bisa, bisa. Bagus, tapi jangan buang ampas badanmu di WC. Ambil cangkul, larilah ke kebun sayur di belakang, di balik rimbunnya kacang panjang. Bikin lobang di tanah lalu buang air di sana. Sudah itu jangan ditutup dulu sebelum saya periksa, apakah ususmu ke luar bersama beling-beling. Kalau ususnya ke luar, kita segera ke dokter."

Papacili mengantar si Lumping ke kebun sayur yang cukup luas di belakang rumah makan lalu menunjukkan titik di mana akan ke luar beling-beling dan sabut kelapa. Benar, setelah Papacili memeriksa. Ternyata banyak beling dan sabut kelapa! Setelah ampas badannya itu dikuburkan, keduanya kembali lalu Papacili menyuruhnya mandi dan mengganti pakaian baru yang buru-buru disuruh beli oleh seorang karyawan di toko pakaian seberang jalan di depan rumah makan.

Si Lumping memang cerdas dan rajin. Setiap hari ia mencuci piring dan alat masak sampai bersih. Waktu rumah makan tutup tengah malam, ia mengepel lantai dan melap meja kursi, lemari dan sebagainya. Bangun pagi-pagi ia menyiram sayur di kebun. Waktu istri Papacili masak ia menolong mengiris bawang, mencuci sayur, memasak nasi sambil memperhatikan resep makanan yang dibuat Bu Cili. Bu Cili memang juara masak. Makanannya enak sekali.

Suatu hari ketika Bu Cili dan pelayan seniornya sakit, si Lumping yang masak. Hanya saja setiap ada rombongan sirkus monyet dan para banci bermain di depan rumah makan, si Lumping ketakutan, keringat dingin. Ia bersembunyi ke kebun sayur sampai rombongan banci sirkus monyet itu pergi. Hal ini diketahui ketika pada suatu hari, ada rombongan sirkus monyet kecil kurang gisi bermain di depan rumah makan Papacili. Karena bukan rombongan kuda lumping maka Papacili yang sangat sayang binatang menyuruh si Lumping membawa sesisir pisang untuk monyet kurus kering dijajah oleh manusia. Ternyata si Lumping takut pada semua rombongan pertunjukan keliling. Ia hanya melemparkan pisang ke tengah arena lalu berlari ke rumah makan, keringat dingin. Sejak itu kalau ada rombongan sirkus monyet kecil ia lari bersembunyi ke kebun sayur di belakang rumah makan. Papacili membiarkannya.
Rumah makan Papacili makin ramai saja, karena semua karyawannya, termasuk si Lumping sangat merasa bahwa usaha itu adalah milik mereka sendiri. Memang, Papacili orang yang punya insting, kecerdasan dan intuisi dalam usaha kuliner. Kalau ada turis-turis yang datang makan, ia ngobrol dengan mereka dalam bahasa Inggris dan kalau mereka mau membayar. Papacili menolak dengan alasan bahwa mereka adalah tamunya. Benar, beberapa lama kemudian tamu-tamu itu mengirim uang dari negeri mereka, luar negeri nun jauh di sna. Karena rumah makan itu punya sambal cabe atau cili maka ia disebut Papacili.

Melihat si Lumping cepat menangkap bahasa Inggris dari para turis, Papacili menyekolahkannya. Ia masuk SMP Swasta, kemudian SMA, juga swasta dan lulus ujian nasional tetapi si Lumping tak mau mencari kerja lain selain mengembangkan usaha rumah makan Papacili. Papacili dan Mamacili sudah dianggap lebih dari ayah dan ibu kandungnya. Mamacili sangat sayang padanya. Anak angkatnya diajari masak kemudian tugasnya meningkat menjadi kasir.

Akan tetapi suatu malam, si Lumping bertengkar dengan Papacili karena ayah angkatnya itu punya pacar dan ingin berpoligami.
"Papa," kata si Lumping.
"Apa?" tanya Papacili.
"Kasihan, Mama. Dia curhat kepada semua karyawan, termasuk saya," kata si Lumping pada suatu malam larut.
Papacili membentak si Lumping, "Pergi sana, tidur!"
"Mana bisa tidur, Papa, kalau saya sedih memikirkan sejarah perjuangan Mama yang sejak semula mulai dengan menjual nasi bungkus jalan kaki berkeliling."
"Tapi modalnya dari saya. Bukan saja modal tapi ide dan tenaga saya juga termasuk. Saya yang menanam pisang, menanam sawi, terong, cabe, dan sebagainya, mencuci piring, memasak, ngepel, mencuci, menyapu halaman."
"Alangkah indahnya masa-masa itu, Papa, ketika Papa dan Mama sehati, selangkah walaupun uangnya sedikit," kata si Lumping.
Papacili hanya bangun berdiri, melangkah meninggalkan si Lumping.
Beberapa hari kemudian Papacili memanggil Lumping dan berkata, "Dulu kau naik kuda lumping, kemudian kuda besi. Sekarang saya perintahkan kau naik kapal!"
"Kapal apa Papa?" tanya Lumping.
"Kapal Pelni. Seorang saudara sepupu saya, nakhoda kapal Pelni, datang makan di sini dan dia perlu seorang karyawan yang bekerja di atas kapal."
"Sebagai apa, Papa?"
"Sebagai cook, tukang masak."
Begitulah, maka si Lumping naik kapal laut -- kapal Pelni -- tapi kali ini bukan makan beling melainkan makan enak ikan laut setiap hari. Karena ia terlalu sayang kepada Mamacili, ibu angkatnya yang dimadu, maka sering ia ajak naik kapal, berlayar menglipur lara. Setiap ia menerima gaji, ia berikan sebagian kepada ibu angkatnya.
Beberapa tahun kemudian ia pindah kerja ke kapal yang berlayar ke luar negeri. Setelah lima tahun bekerja, ia mengajak kedua orangtuanya berlayar mengarungi samudra. Ketika tiba di Los Angeles mereka diajak makan di sebuah restoran mungil. Mereka terkejut karena membaca Papachili Restaurant.

"Papa, Mama, saya punya saham di restoran ini," kata Lumping. "Menurut para pakar, orang Indonesia rajin tapi tidak pandai, tidak disiplin dan tidak jujur dalam berorganisasi sehingga makanan Indonesia tidak bisa mendunia. Saya buktikan bahwa bukan saja McDonald yang merambah dunia tetapi juga Papachili."

Tiba-tiba manajer restoran muncul. "Haaaa, Papachili, Mamachili," lalu dipeluk dan diciumnya kedua orang tua itu. "Lupa sama saya? Saya makan gratis di Indonesia Papachili bilang tak usah bayar, tak usah bayar, Anda tamu saya. Ingat?"
Papachili memeluk bule manajer itu. "Di mana yang lain?" "Di kota-kota lain di seluruh dunia. Mereka sudah membuka retoran Papachili, makanan Indonesia dengan slogan you are whta you eat."

Di kamar tidur si Lumping di darat dan di kapal terpampang sebuah poster mungil bertulis:
Ketika aku lapar
Papacili Mamacili membriku kenyang
Ketika aku telanjang
Papacili Mamacili membriku sandang
Ketika aku tidur di emper-emper
Papacili Mamacili bri kamar bri kasur
Ketika aku dungu
Papacili Mamacili membriku ilmu
Maka Tuhan akan memberi mereka surga. (Cerpen Gerson Poyk, Suara Karya, 4 Agustus 2007)

Berlayar ke Miangas


Di atas pesawat yang terbang dari Bandara Sukarno-Hatta menuju Manado, tidak ada yang unik. Rasanya biasa-biasa saja. Sebelum transit sebentar di Makassar, penumpang diberi aqua gelas plastik dan sepotong lemper lebih besar sedikit dari ibu jari. Akan tetapi yang menarik adalah tetangga dudukku. Di sebelah kananku jendela dan di sebelah kiriku seorang wanita muda yang memperkenalkan dirinya sebagai dokter gigi. Ah, gigi lagi, gigi lagi, aku benci gigiku, gigiku pernah diperkosa habis-habisan oleh perempuan dokter seperti yang duduk di sebelah kiriku.
Aku tercenung mengenang pengalamanku dengan perempuan dokter gigi yang pernah mencabut gigiku yang pecah sendiri dan setengahnya tertancap di gusi atas mulutku. Ia mengatakan bahwa sepenggal gigi yang tertinggal di gusi atasku harus dikeluarkan dengan operasi, bukan dicabut. Maka sang dokter gigi itu mengoperasi gigiku. Namun walaupun tinggal setengahnya, kerasnya luar biasa sehingga ia berkeringat dingin mengomel sendiri, begini, "Kalau obat anti nyerinya hilang tenaganya, waduh, akan sakit. Apalagi umur Bapak sudah berkepala empat."
Walaupun mulutku tak boleh berbicara, aku ikut mengomel, "Walaupun sudah tua aku masih mencangkul kebun dan naik sepeda sepuluh kilometer sehari dari kebun ke rumah. Pulang pergi dua puluh kilometer sehari!"
"Wah, Pak Tua kita ini superman. Cuma gigi yang kalah. Wah bagaimana nih, sukar sekali menemukan kepingan gigi yang kecil dalam gusi Bapak. Bagaimana nih?" gerutu sang dokter gigi.
Mendengar itu, rasanya aku mau bangun dan menggigitnya.
Coba suntik lagi obat anti nyeri.
Sang dokter menyuntik lalu alat pencabutnya mengorek-ngorek lubang gusiku.
"Tolong telepon anakku. Bilang aku dalam bahaya," kataku kepadanya.
Ia menyuruh perawatnya menelepon anakku.
Begitu anakku tiba, gigiku telah tercabut!
Aku begitu senang, dengan keberhasilannya sehingga aku berterima kasih kepadanya. Mestinya aku marah tetapi aku tidak sampai hati mengomelinya.
Ada lagi pengalaman buruk dengan dokter gigi di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Dokter gigi yang cantik itu ketika mengebor gigiku, asyik berbicara dengan temannya. Ketika ia mengeluarkan bor gigi, benda berbahaya itu menyerempet bibirku. Hampir saja aku sumbing. Semenjak itu aku tak pernah lagi berobat kepadanya.
"Bapak tinggal di Manado?" tanya dia, sang dokter gigi di sebelah kiriku.
"Tidak," kataku. "Saya akan meneruskan perjalanan ke Miangas," kataku.
"Bapak orang Miangas?" tanya sang dokter gigi.
"Tidak," jawabku.
"Tinggal di Jakarta tapi saya berasal dari pulau Ndana."
"Di mana pulau itu?" tanya dia.
"Pulau paling selatan di peta Indonesia."
"Kawin dengan orang dari pulau paling utara," katanya.
"Mengapa sendirian ke Miangas, tidak dengan nyonya?" sambungnya.
"Nyonya saya tinggal di Miangas, sekarang," kataku.
"Ini namanya pisah pulau," katanya.
"Ya, karena keadaan. Keadaan isteriku meminta ia harus tinggal di pulau kecil, pulau yang dikelilingi ombak samudra."
"Mengapa harus demikian?"
"Dia menderita penyakit jiwa. Lupa pada semua orang, bahkan anak dan suaminya. Lebih celaka lagi ia suka lari dari rumah, mengembara tak tentu arah. Pernah naik mobil sampai Cianjur, Karawang. Untung ada nomor telepon di bajunya sehingga polisi dan satpam serta preman yang menemukannya menelepon kami lalu kami jemput. Akan tetapi suatu hari, sehabis saya mandikan dia, dia berpakaian bagus dan tiba-tiba, walaupun dijaga ketat, dia bisa lari dari rumah tanpa nomor telepon di baju dan hilang selama beberapa bulan. Saya menemukannya secara kebetulan ketika saya ke kebun raya Bogor. Dia duduk di pintu gerbang sambil meminta-minta. Dia lupa bahwa dia masih punya suami dan anak. Semenjak itu keluarga sepakat untuk mengirimnya pulang ke Miangas."
Mengapa tidak masukkan dia ke rumah sakit jiwa?"
Sudah, tetapi anehnya, dia bisa lari dari sana. Di rumah ia sering lari melompati tembok setinggi tiga meter, di rumah sakit jiwa ia bisa lari menembus pagar kawat berduri. Aneh, lecetnya segera sembuh sendiri tanpa obat," tuturku. "Sudah beberapa kali dia ditabrak kendaraan bermotor dan digotong ke klinik dan rumah sakit tetapi kami dapat menemukannya kembali karena ada nomor telepon di bajunya. Sudah beberapa kali pula ia dibuang dari kendaraan umum."
"Tragis sekali," kata sang dokter gigi sambil menggigit bibir bawahnya. "Mengapa tidak tinggal di Pulau Ndana dirawat oleh keluarga pihak suami?" tanya sang dokter.
"Nenek moyang saya memang berasal dari Pulau Ndana tetapi kini pulau itu kosong melompong. Karena takut akan seringnya kapal asing, terutama kapal turis Australia ke sana maka kini ditempati oleh beberapa orang marinir secara bergiliran. Tiap enam bulan ganti orang, seperti juga di Miangas," kataku.
"Saya juga akan bertugas ke Miangas selama enam bulan."
"Seperti para marinir?" tanyaku.
"Ya. Saya perwira TNI Angkatan Laut."
"Wau, mengapa tidak pakai seragam? Lagi menyamar untuk mencari dan menjebak teroris?" kataku.
Dia tertawa.
Aku juga tertawa.
"Kembali ke isteri Anda. Apa kata dokter tentang penyakitnya?"
"Dementia," kataku.
Kapal bertolak dari Pelabuhan Bitung menuju Miangas melalui pelabuhan di beberapa pulau kecil di utara Sulawesi. Ketika kapal bersandar di dermaga Miangas di pagi hari, aku terkejut melihat istriku berdiri di atas timbunan karung-karung ikan asin dan kopra, menari-nari, melompat-lompat, bernyanyi dan berpidato. Aku tak dapat menahan air mataku ketika bersandar di geladak paling atas menunggu pintu kapal dibuka.
Tiba-tiba ada tangan halus menyorongkan tisu kepadaku. Aku memandang wajahnya, wajah dokter gigi perwira TNI Angkatan Laut itu.
Setelah minum obat yang kubawa dari Jakarta, isteriku tenang kembali. Ia tinggal di rumah saja dan makan teratur, tidur teratur selama sebulan tetapi bulan berikutnya ketika obatnya habis dan mesti mengambilnya ke Jakarta, isteriku kumat lagi. Namun ia tak bisa ke mana-mana lagi. Keluarga merasa aman, kecuali semua nahkoda kapal yang bersandar karena istriku selalu masuk ke kapal dengan tas lalu berceloteh bahwa ia ingin naik kendaraan laut untuk mengurus keuangan. Mereka sedikit repot menggotong istriku keluar dan menyuruhnya pulang.
* * *
Selama tiga bulan di Miangas, aku memasang kincir angin di beberapa titik pantai yang anginnya keras untuk memperoleh tenaga listrik. Listrik yang diperoleh dari kincir-kincir anginku membuat Miangas, pulau kecil yang berbatasan dengan Samudra Pasifik dan Filipina itu terang benderang.
Kerajinan rakyat berkembang. Tukang-tukang membuat rumah knock down dari batang kelapa tua, rumah yang indah memenuhi permintaan beberapa Negara terutama Jepang, Eropa dan Amerika. Pabrik ikan kaleng beberapa buah. Berton-ton ikan asin diekspor ke Afrika yang selalu kekurangan gizi itu.
Orang-orang Sangir-Talaud pria dan wanita sangat musikal. Berlatih di terang listrik di malam hari menghasilkan koor yang mendapat penghargaan internasional di luar negeri. Hanya akulah yang masih tetap murung dalam kabut perkawinanku.
Akan tetapi lambat laun Miangas menghilangkan duka nestapa perkawinan kelabuku. Akan tetapi hal itu untuk sementara saja. Pada suatu hari istriku menarik sebuah sampan kecil dan berdayung ke tengah laut untuk mengurus keuangan - katanya kepada seorang anak kecil pemilik sampan kecil pula. Maka hilanglah dia ditelan laut untuk selamanya.
Tidak lama kemudian, ketika kincir anginku sedang membawa cahaya dan tenaga untuk kegiatan industri di pulau itu aku dan dokter gigi itu menikah di sebuah gereja kecil di pulau yang kecil itu. (Cerpen Gerson Poyk. Suara Karya, 13 Januari 2007)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Ramches Merdeka
Copyright © 2011. Ansel Deri - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger