Headlines News :

Aloysius Tana Botoor: Tak Pensiun dari Urusan Gereja

Written By ansel-boto.blogspot.com on Thursday, July 31, 2008 | 1:30 PM

Ia menderita benjolan di leher. Setelah dioperasi, muncul lagi. Menurut hasil pemeriksaan, ia menderita gondok. Toh, tugas mengajar dan urusan gereja jalan terus.

Penyakit ataupun bencana yang menimpa seseorang merupakan suatu penderitaan. Tapi bagi pasangan Aloysius Tana Botoor dan Paulina Puka Lamak, penderitaan yang dialami, diyakini sebagai berkat Tuhan.

Setidaknya nyata dari penyakit gondok yang diderita Aloysius. Alo, -begitu Aloysius Tana Botoor disapa- lebih meyakini kata-kata Ayub dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, “Tuhan memberi, Tuhan mengambil kembali. Terpujilah Tuhan.”

Bahkan menurut guru Sekolah Dasar Katolik (SDK) Puor, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, Yesus relah menderita di Bukit Golgota agar manusia memperoleh berkat berlimpah.

Alo menceritakan, saat mengajar di SDK Boto, Nagawutun, tahun 1988, ia menderita sebuah benjolan kecil di leher bagian kiri. Anehnya, benjolan itu tak pernah menimbulkan rasa sakit. Karena itu, ia tidak menghiraukan. “Saya tetap mengajar seperti biasa. Tak ada niat memeriksakan diri ke rumah sakit,” cerita Alo.

Begitu juga kesibukan lainnya di gereja Santu Yosep Boto. Sebagai Ketua Seksi Liturgi Paroki Boto, pria yang sejak 1967 mengabdi sebagai guru ini dituntut lebih aktif membantu Pastor Nikolaus Strawn, SVD, pastor paroki untuk melayani umat. Apalagi, umat menyebar di beberapa stasi dengan jarak yang cukup jauh.

Tanpa disadari, benjolan itu makin hari makin membesar dan menggantung. Namun Alo mengaku, lagi-lagi benjolan itu tak menimbulkan rasa sakit. Tugas-tugas di sekolah dan paroki pun berjalan seperti biasa.

Tahun 1991, misalnya, ia masih mewakili paroki untuk mengikuti Kursus Dasar Teologi di Wisma Sesabanu, di Hokeng, Larantuka.

Operasi

Ternyata kelalaian Alo dalam memandang penyakit itu sedikit mengganggu kegiatan pokoknya. Baik rekan-rekan guru dan pengurus dewan paroki menyarankan agar segera memeriksakan diri ke dokter.

Saran itu diturutinya sehingga ia langsung melakukan pemeriksaan awal. Hasil pemeriksaan itu menunjukkan bahwa Alo menderita penyakit gondok. Dan rumah sakit yang ia pilih adalah Rumah Sakit Umum (RSU) Prof Dr WZ Johannes Kupang, ibu kota provinsi NTT.

Pertimbangannya, ia pegawai negeri sipil (PNS) yang bisa berobat dengan jaminan asuransi kesehatan (Askes). Dengan demikian, praktis hampir semua biaya operasi dan obat-obatan bisa teratasi.

Selain itu, ada tenaga dokter ahli bedah. Berikut peralatan rumah sakit pemerintah itu cukup lengkap ukuran di provinsi. Ia menceritakan, tahun 1994 ia ditemani isterinya berangkat ke Kupang untuk menjalani operasi di RSU WZ Johannes.

Pengalaman pertama menjalani operasi gondok membuat isteri Alo sedikit merasa cemas. “Tapi saya katakan pada isteri saya agar dalam kondisi apapun kami harus bersyukur kepada Tuhan. Novena pada Bunda Maria pun tetap kami jalani,” katanya.

Sebagai seorang umat beriman, ia punya prinsip bahwa apapun yang diperoleh dalam hidup harus disyukuri sebagai berkat. Karena itu, operasi berjalan lancar tanpa hambatan.

“Apapun yang kami terima, semua itu berkat Tuhan. Kami harus tersenyum sekalipun itu sakit bagi kami. Dan penyakit gondok ini adalah berkat bagi saya dan keluarga,” katanya. Karena lewat tangan para dokter ahli bedah, katanya, Tuhan telah memberinya berkat sehingga ia bisa sembuh.
Doa dan Kerja

Operasi pertama membuat Alo merasa lega. Selain ia merasa sembuh, tugas pokoknya sebagai guru dan pengurus dewan paroki ia jalani seperti biasa. Berkat kesembuhannya, ia malah semakin menyadari betapa karya Tuhan begitu besar.

“Berdevosi kepada Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus adalah kegiatan rutin keluarga kami,” ujarnya. Ia pun semakin rajin menjalankan tugas-tugas paroki. Kepercayaan yang diberikan dari dewan paroki, ia selalu jalankan. Tapi namanya penyakit, tak mengenal waktu dan siapa orangnya.

Selang setahun, tepatnya tahun 1995, muncul lagi benjolan di bagian kanan lehernya. Dan ia memastikan bahwa itu adalah gondok. “Saya tetap bekerja seperti biasa. Baik mengajar dan aktif di dewan paroki,” kilahnya. 

Mengapa, karena benjolan itu tak terasa sakit. Praktis seperti gondok yang menderanya kali pertama. Sehingga aktivitasnya di gereja dan sekolah tak terganggu. “Tahun 1995 pun saya masih dipercayakan untuk mengikuti latihan fasilitator tingkat dekenat di Lewoleba,” cerita Alo.

Bukan hanya itu. Ia malah dipercaya lagi sebagai utusan paroki mengikuti Pertemuan Umat Katolik Keuskupan Larantuka (Pukel) di Hokeng, Larantuka. Itu tepatnya tahun 1997. Sebagai seorang awam yang aktif dalam membantu tugas-tugas pelayanan gereja, ia pun diangkat Uskup Larantuka Mgr Darius Nggawa, SVD (kini sudah digantikan oleh Mgr Fransiskus Kopong Kung, Pr-Red) sebagai diakon awam di Paroki Boto.

Dalam kesibukannya, ia menyadari bahwa sakit ternyata melenyapkan kesempatan meraih sukses. Karena itu, seiring membengkaknya gondok di leher bagian kanan, ia memilih agar sesegera mungkin dioperasi.

Pertengahan Desember 2001, Alo ditemani isterinya bertolak ke Jakarta. Setelah check in, Alo melakukan serangkaian pemeriksaan oleh tim ahli bedah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dan dibantu mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI). Tepat pada jam 08.00 WIB, hari Kamis 7 Februari 2002, penyakit gondok berhasil dioperasi.

Hujan yang sejak awal Februari bagai dicurahkan dari langit seakan membuat Kota Metropolitan enggan tersenyum. Tapi senyum Alo dan isterinya tetap merekah karena ada kemenangan yang mereka raih.

Di atas tempat tidur, ia berbisik pada Paulina, isterinya, “Doakan saya, Ma. Biar cepat sembuh!” Tapi wanita yang setia di sampingnya itu menimpali, “Tuhan Yesus dan Bunda Maria sudah mendengar doa kita.” Suara sang guru SD itu seperti memberontak.

“Aku ingin pulang. Anak-anak di sekolah sudah lama saya tinggalkan. Umat paroki tentu sudah sangat menanti kehadiran saya,” katanya. Kok tak mau pensiun dari guru dan tugas gereja? “Dua tugas itu sudah jadi panggilan jiwa,” lanjut bapak empat anak dan satu cucu ini. Terima kasih, Pak guru. Jasamu tiada tara. 
Ansel Deri
Sumber: Majalah HATI BARU, Jakarta
Ket foto: Alm. Aloysius Tana Botoor (1) bersama istri terkasih, anak, dan cucu di kampung (2).

Mikael Kosat: Sharing Pengalaman Mantan Guru

Usia lanjut bukan jadi halangan dalam berbagi pengalaman rohani. Itu yang dialami Mikael Kosat. Pak Mikael sudah mengabdi sebagai guru selama puluhan tahun.

Ia pernah dipercaya menjadi kepala SDK Yaswari V SoE tahun 1958–1967. Lepas dari kepala sekolah, ia bukan istirahat.

Pria kelahiran Noemuti, Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur 16 Januari 1933 ini dipercaya lagi menjadi Kepala SDK Yayasan Swastisari (Yaswari) Benlutu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Ia tak hanya dikenal sebagai guru tapi bapak bagi keluarga dan aktivis gereja. Sebagai guru, banyak anak didiknya sudah jadi guru, dosen, dokter, bupati, pengusaha, dan pastor. Salah satu bekas muridnya adalah Bupati TTS, Drs Hendrikus Sakunab (almahrum).

Suami Cornelia Daulima ini juga termasuk berhasil mengantar enam dari delapan anaknya menjadi sarjana. Seorang di antaranya bekerja di kebun anggur Tuhan. Namanya, Pastor Robertus Kosat, SVD atau akrab disapa Pastor Roby.

Kini Pastor Roby menjadi misonaris di negeri Presiden Robert Mugabe. Tepatnya di Kongo, Afrika.

Mikael adalah siswa angkatan pertama Seminari St Imaculata Lalian, Keuskupan Atambua tahun 1950. Warga Paroki St Vinsentius Keuskupan Agung Kupang ini juga memiliki bakat olahraga dan seni. Ia pernah memperkuat kesebelasan TTS pada Pertandingan Olahraga Daratan Timor (Pordat) I tahun 1961 di Kupang.

Di bidang seni, ia pernah jadi duta TTS untuk bermain biola saat berlangsung Pagelaran Teater Tradisional di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta tahun 1990. Meski demikian, tugas sebagai guru dan kepala keluarga selalu ia perhatikan.

“Saya bersyukur karena bisa menyekolahkan enam dari delapan anak saya hingga sarjana. Satu di antaranya menjadi imam. Ini persembahan terindah saya,” katanya.

Di tengah kepungan usia, ia tak pernah lepas dari membaca. Baginya, sampai uzur pun membaca menjadi kewajiban. Dengan membaca ia mengaku bisa menyegarkan pikiran.

Bahkan ia masih diminta berbagi pengalaman soal cara mendidik. “Sekarang malah orangtua yang anak-anaknya sedang sekolah di seminari. Tak ada pengalaman yang luar biasa. Tapi dengan begini anak-anak kita makin dikuatkan,” katanya.

Ia selalu berpedoman pada firman Tuhan. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku.....”
Firmus Kosat
dari Benlutu, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT.
Ket foto: Mikael Kosat

Menteri Meutia: Perempuan Harus Menyiapkan Diri

Saya berkesempatan mewawancarai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Prof Dr Meutia Hatta–Swasono di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu. Wawancara terkait kuota 30 % keterwakilan perempuan di legislatif sebagaimana diamanatkan UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Apa tanggapan Bu Menteri?

Saat mewawancarai menteri yang juga antropolog ini, ia menekankan agar perempuan harus terus-menerus menyiapkan diri. Termasuk meningkatkan kualitas, kapasitas, dan kompetisinya sehingga dapat bersaing secara sehat dengan politisi laki-laki yang selama ini mendominasi arena politik di Indonesia.

“Perempuan perlu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang hal-hal yang berkaitan dengan politik. Misalnya, strategi dan tata krama dalam berpolitik. Mereka perlu memahami mesin politik dan seni membangun opini bahkan ketrampilan berkomuniasi,” kata menteri Meutia kepada penulis.

Di dalam berbicara, jelas istri pakar ekonomi Universitas Indonesia Prof Dr Sri Edi Swasono, dituntut bagaimana perempuan menggunakan kata-kata politik. Nah, kunci keberhasilannya tergantung pada komitmen bersama laki-laki maupun perempuan dan dibutuhkan keiklasan laki-laki. Keiklasan itu tidak boleh ditunggu perempuan tetapi harus dipaksakan karena menjadi amanah Undang-undang. “Keiklasan itu harus “dirampas” dari laki-laki,” tandas Meutia.

“Saya kira jumlah anggota legislatif perempuan nantinya bisa sangat banyak jika UU itu dilaksanakan dengan baik. Memang UU itu bertujuan mengatasi berbagai permasalahan perempuan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maupun kekerasan di luar rumah tangga,” katanya melanjutkan.

Bu menteri menegaskan, perempuan potensial di Indonesia sangat banyak dan berkiprah di mana-mana. Mereka juga terkenal di masyarakat karena aktivitas sosial, kemasyarakatan, hokum, dan hak-hak azasi manusia (HAM). Gelar dan prestasi akademiknya juga tidak diragukan. Banyak yang direkrut jadi pengurus partai dan banyak pula yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS). (Ansel Deri)

Anak Kampung Atawai Kagumi Gunung Fujiyama

Written By ansel-boto.blogspot.com on Tuesday, July 29, 2008 | 4:03 PM

SAYA mendapat kabar dari Sr Amaria Labaona, SSpS (dua kari kanan gambar ini-pen) yang saat ini menjadi misionaris di Jepang.

Sr Amaria dan rekan-rekannya awal April lalu berkesempatan mendaki Gunung Fujiyama dan menikmati puncak gunung
tertinggi di Jepang itu.


“Aduh! Sungguh indah pemandangan Gunung Fujiyama. Saya sungguh menikmati betapa Ia mencintai dan menyertai hidup saya sebagai seorang anak dari kampung terpencil, Atawai (Atawuwur), di pedalaman Pulau Lembata,” kata Sr Amaria, SSpS.

Saya dan Sr Amaria pernah satu kelas saat masih sekolah di SMP Lamaholot Boto dan Sekolah Pendidikan Guru Kemasyarakatan (SPGK) Lewoleba, Lembata. Sebelum menuju Puncak Fujiyama, ia mengabarkan, saat itu cuaca Nagoya, Jepang sangat cerah.

Semua penghuni negeri para pengeran itu bergembira menikmati keindahan-Nya. Begitu pula saat berada di Puncak Fujiyama, ia terus memanjatkan doa mengagumi keagungan Tuhan. Bahkan rasanya ia berada di Puncak Gunung Labalekan, gunung yang juga menjadi salah satu obyek pendakian bagi siswa sekolah dasar dan menengah di selatan Lembata.

“Saat berada di Puncak Fujiyama salju begitu lebat dan dingin sekali. Tapi syukur saya sudah terbiasa dengan empat musim di sini sehingga walau dingin dan panas, itu sudah menjadi bagian dari hidup dan perutusanku di negeri Sakura ini,” cerita biarawati yang tengah merampungkan Program Magister (S-2) Teologi, ini.

Meski mencoba menyesuaikan diri dengan cuaca Jepang, toh, bukan berarti ia terbebas dari sergapan penyakit. Suster Amaria sempat menderita pilek akibat salju dan kepungan dingin Fujiyama.

Namun, selama berada di Puncak Fujiyama, ia terus merenungi perjalanan hidupnya hingga Tuhan berkeputusan menunjuk dirinya menjadi pelayan Tuhan. Ia begitu mengagumi rencana Tuhan atas dirinya.

Ia tak pernah membayangkan kalau Tuhan memanggil dirinya di kampung Atawai atau Atawuwur, nun di pedalaman Pulau Lembata untuk menjadi pelayan Tuhan. Apalagi, harus terbang ke Negeri Sakura demi sebuah janji pada-Nya mewartakan kasih dan cinta bagi sesama.

“Selama seharian di Puncak Fujiyama, air mata sedih, bahagia, syukur, berat, pasrah mengalir tak bisa saya bendung. Saya tak habis bersyukur. Tidak ada kata yang bisa saya ungkapkan. Sungguh. Tuhan punya rencana Ilahi,” kata salah satu putri guru Fransiskus Bako Labaona ini. 
Ansel Deri

Ket foto: Sr Amaria, SSpS (kedua dari kanan) bersama rekan-rekannya sebelum mendaki puncak Gunung Fujiyama, Jepang. Biarawai asal Desa Atawai, Kecamatan Nagawutun, Lembata, NTT, mengungkapkan kekagumannya kepada saya terkait panorama alam gunung tertinggi di Negeri Matahari Terbit. Foto: dok. Sr Amaria, SSpS.

Pantai Bean, Firdaus Terakhir di Pulau Lembata

Written By ansel-boto.blogspot.com on Monday, July 28, 2008 | 4:01 PM

Pantai Bean di Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan surga bagi para wisatawan domestik dan mancanegara. Tatkala cahaya mentari retak di horison langit barat, Bean menyuguhkan panorama alam nan indah. Pantai yang diyakini sebagai firdaus terakhir ini seolah menguak rahasia keagungan Tuhan atas tanah Lembata.

Tapi, kini salah satu pantai di pulau yang kesohor dengan perburuan ikan paus itu berada dalam bayang-bayang kehancuran lingkungan oleh PT Merukh Lembata Coopers. 

Anak perusahaan Merukh Enterprise Corp milik raja tambang nasional Yusuf Merukh itu bakal melebarkan sayap usahanya di Pulau Lembata setelah hengkang dari Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Sulawesi Utara menyusul protes masyarakat akibat tercemarnya Pantai Buyat yang merupakan sumber kehidupan masyarakat.

Gambar di atas merupakan salah satu rekaman fotografer Justice and Peace and Integrity of Creation (JPIC) OFM Indonesia. JPIC adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang kini ikut membantu mengadvokasi masyarakat atas penolakan terhadap rencana Pemerintah Kabupaten Lembata mengijinkan Merukh Lembata Coopers melakukan eksplorasi emas di wilayah Lebatukan dan Kedang. Semua itu dilaksanakan atas nama kelangsungan hidup serta kelestarian alam dan lingkungan di Lembata.

Namun, jika rencana pertambangan itu dipaksanakan demi menggelembungkan pundi-pundi segelintr pejabat dan menambah dollar sang investor, maka bukan tidak mungkin Pantai Bean dengan untaian pasir putih nan indah bakal terperengkap dalam bencana lingkungan.

“Kami hidup dengan jagung dan kemiri. Bukan emas. Saya berhasil menyekolahkan empat anak saya jadi sarjana bukan dari emas tetapi kemiri, kopi, dan ubi-ubian. Saya beryukur satu anak saya meraih gelar S-2. Bukan dari emas tapi kemiri dan jagung,” kata Ana Noe, seorang janda asal Leragere, Lebatukan. (Ansel Deri)

Resensi Buku: Politik di Mata Seorang Dokter

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat kembali mengingatkan hal yang sangat penting dan substansial bagi kader Partai Demokrat seluruh Indonesia.

Di kediaman pribadi yang asri di Puri Cikeas, Gunung Putri, Selasa, 2 Juli lalu, SBY –sapaan akrabnya– mengingatkan para kader tentang politik cerdas, bersih, dan santun yang mesti dipegang dalam politik praktis. “Dengan politik yang cerdas, bersih, dan santun asalkan kita berjuang bersama-sama secara gigih maka Tuhan akan memberi jalan. Jalan itu adalah jalan yang mulia.”

Begitu kata SBY di hadapan peserta Pelatihan Kepemimpinan Kader Partai Demokrat (PKKPD) Angkatan ke-6. Sekadar tahu. SBY adalah arsitek di balik kelahiran Partai Demokrat. Partai yang –meminjam istilah Ketua Umum Partai Demokrat H. Hadi Utomo– lahir bak anak ajaib sehingga melejit dan menarik perhatian dan simpati banyak orang (baca: rakyat).

Ia (Partai Demokrat) hadir bagai oase di tengah padang gurun. Pada kesempatan lain, SBY menegaskan, “Politikus bersih, cerdas, dan santun adalah karakter Partai Demokrat.”

Di mata dr Nizar Shihab, Sp.An. politik kerap dipersepsikan terlalu dekat dengan dusta, tipu daya, dan saling menumbangkan satu sama lain. Akibatnya, kesadaran transedental dan nilai-nilai universal terpinggirkan. Praktik politik kotor tumbuh subur di panggung politik.

Melalui buku Membangun Kultur Politik Bersih, Cerdas, dan Santun, dokter Nizar punya target (politik). Target dimaksud yakni mencoba mengkontekstualisasikan pemikiran SBY guna menempatkan para politikus pada kodrat mulianya dengan membangun kultur politik bersih, cerdas, dan santun demi terwujudnya kesejahteraan rakyat.

Siapa sesungguhnya dr Nizar? Pria kelahiran Ujung Pandang, ini adalah dokter jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar. Ia kemudian melanjutkan pendidikan dokter Anesthesiologi pada FK Universitas Indonesia.

Setelah merampungkan studi, kesempatan luas membentang. Pada 1996, ia mengikuti pelatihan Cancer Pain Theraphy pada Department of Anesthesiology, Faculty of Medicine, Temple University Philadelphia, USA. Kemudian, pada 2001, menjadi visiting scholar pada Department of Health Law, Faculty of Law Loyola University, Chicago, USA.

Tugas dan jabatan pernah dijalani dr Nizar, suami Soraya dan ayah dari: M Rifky Shihab, Raehana Shihab, dan M Fahri Shihab. Misalnya, menjadi dokter rumah sakit pemerintah kurun waktu 1981–2005. Bencana Aceh dan Nias yang merenggut nyawa ribuan manusia, pernah memanggil seorang Nizar mengabdikan tenaganya.

Ia juga masih menjadi Staf Khusus Menteri Kesehatan RI. Di Partai Demokrat, dr Nizar menduduki jabatan Ketua Bidang Kesehatan dan Pemberdayaan Sosial periode 2001–2005. Kini menduduki posisi Ketua Bidang SDA, Lingkungan Hidup dan Bantuan Penanggulangan Bencana periode 2005–2010.

Keputusan masuk Partai Demokrat merupakan pilihan sadar. Pilihan masuk dalam jagad politik praktis tentu punya konsekuensi. Satu hal pasti: dunia politik menyediakan tempat mengaktualisasi diri. Tapi latar belakang sebagai seorang intelektual membuat Nizar bertanya-tanya. “Bukankah sejatinya seorang intelektual itu seharusnya lebih tertarik pada masalah nilai, alam pikiran, dan pembentukan kesadaran dibandingkan dengan minat-minat kekuasaan?” (hal. vii).

Setelah akrab dengan Partai Demokrat, ia pun terus mengikuti pemikiran-pemikiran SBY. Bahwa Partai Demokrat tetap memainkan peran sebagai partai yang bersih, cerdas, dan santun. Nilai-nilai ini yang tentu harus dipegang kader tatkala menjadikan Partai Demokrat media pelayanan.

Pelayanan itu menyata. Misalnya, kata Ketua Umum Partai Demokrat H. Hadi Utomo, kader harus punya kegiatan amal sosial sebagai wujud kecintaan kepada rakyat. Buku dokter ini penting dibaca kader partai politik (terutama Partai Demokrat) dalam membangun kultur politik bersih, cerdas, dan santun dalam rangka ikut melembagakan dan mendewasakan demokrasi di Indonesia. (Ansel Deri)
Sumber: NEWS DEMOKRAT, Juli 2008

Lebih Jauh dengan Frans Lebu Raya (2)

Written By ansel-boto.blogspot.com on Friday, July 25, 2008 | 12:07 PM

Pengantar–Dalam sebuah diskusi dengan penulis di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Frans Lebu Raya tetaplah seorang politisi yang tenang dan santun. Namun soal taktik dan strategi? Jangan tanya. Dialah yang menjadi salah seorang pimpinan sidang dalam Kongres PDI-P di Denpasar, Bali, hingga mengantar Megawati Soekarnoputri menjadi ketua umum partai bergambar banteng gemuk itu.

“Saya dan keluarga menyampaikan terima kasih yang berlimpah atas doa, dukungan, kerjasama, dan kerja keras dalam proses pilkada sehingga saya dan Pak Esthon dipilih dan dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur. Kami mohon dukungan selanjutnya dalam kepemimpinan kami ke depan untuk mewujudkan NTT yang lebih baik. Mohon maaf manakala ada kekurangan dalam seluruh proses ini. Terima kasih. Tuhan memberkati,” ujar Frans kepada penulis, Minggu (20/7 2008).

Itulah cara pria asal Desa Watoona, Pulau Adonara, Flores Timur, ini mengungkapkan “isi hatinya” kepada semua masyarakat dan semua pihak terkait menyusul kemenangan politik dalam pikada yang ia raih bersama Esthon. Tapi apa pandangannya soal politik? Inilah bagian kedua hasil diskusi penulis dengan pria yang kini menjadi Gubernur NTT masa bakti 2008-2013 di Hotel Borobudur Jakarta.


Sebagaimana ia kemukakan sebelumnya, masyarakat NTT terdiri dari berbagai kelompok etnis, suku, agama, dan adat-istiadat. Keragaman ini merupakan kekayaan untuk membangun NTT. Seorang pemimpin, ia mengingatkan, perlu membuka diri dan bisa melihat bahwa ada realitas keberagaman di daerah ini. Dengan demikian, ia tak melihat keberagaman tersebut sebagai ancaman. Ia lebih sebagai kekayaan dan mozaik nan indah.

Dalam konteks pembangunan NTT, ia melihat ada nilai gotong-royong yang hilang. Dulu, misalnya, got-got jalan raya yang rusak diperbaiki bersama. Tapi sekarang mulai hilang. Hal ini merupakan dampak pembangunan yang bermental proyek.

Kondisi ini menuntut seorang bisa membuka diri. Ia perlu melihat bahwa ada realita seperti itu dan mau menerima realita itu. Nah, kalau hal itu dilakukan dengan jujur, maka hambatan yang muncul bisa diatasi dengan baik. Ada banyak syarat yang diperlukan seorang pemimpin. Secara teoritis memang banyak. Semua itu terpulang kepada sikap pemimpin: terbuka atau tidak untuk menerima pendapat orang lain. Nah, hal ini menjadi hal penting.

Frans menceritakan, dalam beberapa kali pertemuan dengan masyarakat NTT di Denpasar, ada kesan yang ia tangkap. Bahwa perlu dialog antara masyarakat di luar NTT dengan para pemimpin di NTT. Banyak orang NTT yang mempunyai niat untuk membangun NTT tapi mereka tidak tahu bagaimana niat itu bisa disalurkan.

Dalam dialog itu, ia memaklumi kalau ada banyak kritik yang terlontar. Jawabannya jelas. ‘Silahkan Anda kritik!. Tapi tentu kita semua sepakat bahwa kritik itu harus memberi motivasi dan solusi mengatasi berbagai soal. Bahkan dalam pertemuan itu, ada suara yang mengatakan tak akan percaya lagi kepada para pemimpin di NTT.

Bagi Frans, kritik seperti itu perlu ditanggapi dengan hati tenang dan pikiran jernih. Jika ditanggapi dengan emosi maka tentu tak ada solusi. Bila ada kritik, ia hanya melihat hal itu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Kritik itu harus menjadi motivasi bagaimana menumbuhkan kepercayaan masyarakat.

Bahkan lebih dari itu, ia menekankan bahwa kepekaan nurani sangat penting karena akan membebaskan kita dari beban berat. Berpolitik dengan menempatkan hati nurani jujur sangat penting. Dengan demikian, semua pihak akan menerima dengan baik. Ketika orang itu hidup dalam ketidakjujuran, ia yakin orang bersangkutan merasa tertekan dalam hidup.

Lera wulan tana ekan

Perjalanan kariernya di dunia politik hingga mengantarnya menjadi Wakil Ketua DPRD hingga Gubernur NTT tak lepas dari gaya ia menerapkan politik yang cerdas, beretika, dan menjunjung tinggi sopan santun. Ia juga selalu diajarkan orangtuanya nun di pedalaman Desa Watoona, Adonara. Ia selalu hidup dalam budaya yang mengajarkan agar selalu mensyukuri dan bersyukur kepada lera wulan tana ekan, Tuhan Penguasa Langit dan Bumi.

Hal ini bagi Frans pribadi merupakan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan. Ia yakin dan percaya bahwa segala sesuatu yang diperjuangkan dan gapai tidak semata karena kemampuan diri. Namun, itu merupakan campur tangan Tuhan. Dalam lingkungan di mana ia dibesarkan oleh agama, kebiasaan, dan adat-istiadat serta budaya begitu mengakar, ia selalu bersyukur atas apa yang ia kerjakan dan bermanfaat untuk banyak orang.

Semua itu ia tanamkan di mana pun ia berada dan membhaktikan tenaga serta pikirannya. Kalau rasa syukur itu tidak ia lakukan maka keberhasilan itu menjadi beban. “Dalam budaya Lamaholot saya selalu bersyukur kepada lera wulan tanah ekan, Tuhan yang berkuasa atas langit dan bumi atas semua berkat yang diberikan kepada kita,” ujarnya.

Tak heran ia tak mau berkomentar lebih jauh tatkala diminta pendapatnya jika dipercayakan menjadi pemimpin NTT? Jawabannya ada di masyarakat. Masyarakatlah yang paling tahu apa yang harus dikerjakan seorang pemimpin. Satu hal yang pasti bahwa pemerintah bergandengan tangan bersama masyarakat untuk memecahkan setiap masalah yang dihadapi.

Ia menangkap sesuatu dari rakyat. Sesungguhnya sekian puluh tahun ada nilai yang hilang dalam pembangunan. Nilai itu tak lain adalah semangat gotong royong. Dulu, misalnya, got-got jalan raya yang rusak diperbaiki bersama-sama. Tapi sekarang? Bagi Frans, hal ini merupakan dampak pembangunan yang bermental proyek. Nah, kini sudah waktunya kita semua merapatkan barisan guna membangun daerah kita dalam kebersamaan. (Ansel Deri, habis)

Lebih Jauh dengan Frans Lebu Raya (1)

Pengantar–Dalam sebuah diskusi dengan penulis di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Frans Lebu Raya tetaplah seorang politisi yang tenang dan santun. Namun soal taktik dan strategi? Jangan tanya. Dialah yang menjadi salah seorang pimpinan sidang dalam Kongres PDI-P di Denpasar, Bali, hingga mengantar Megawati Soekarnoputri menjadi ketua umum partai bergambar banteng gemuk itu.

“Saya dan keluarga menyampaikan terima kasih yang berlimpah atas doa, dukungan, kerjasama, dan kerja keras dalam proses pilkada sehingga saya dan Pak Esthon dipilih dan dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur. Kami mohon dukungan selanjutnya dalam kepemimpinan kami ke depan untuk mewujudkan NTT yang lebih baik. Mohon maaf manakala ada kekurangan dalam seluruh proses ini. Terima kasih. Tuhan memberkati,” ujar Frans kepada penulis, Minggu (20/7 2008).

Itulah cara pria asal Desa Watoona, Pulau Adonara, Flores Timur, ini mengungkapkan “isi hatinya” kepada semua masyarakat dan semua pihak terkait menyusul kemenangan politik dalam pikada yang ia raih bersama Esthon. Tapi apa pandangannya soal politik Inilah bagian pertama hasil diskusi penulis dengan pria yang kini menjadi Gubernur NTT masa bakti 2008-2013 di Hotel Borobudur Jakarta.

Sosok Frans Lebu Raya saya tahu dan kenal karena dalam beberapa kesempatan bertemu dan berdiskusi dengan beliau. Hal ini terjadi saat saya masih di Kupang hingga di Jakarta. Bahkan menjelang detik-detik penetapan paket calon Gubernur dan Wakil NTT yang akan ikut berlaga memenangkan pilkada. Berbeda dengan wakilnya, Esthon Foenay. Jelasnya, Pak Esthon adalah birokrat senior di Pemerintah Provinsi NTT.

Jauh sebelum menjadi gubernur, saya sempat ngobrol hampir satu jam lebih dengan beliau saat mengikuti acara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Saat itu, kami berdua ngobrol soal pentingnya etika yang harus dipegang para politisi dalam setiap momentum politik. Entah pemilihan gubernur, bupati maupun walikota di NTT.

Topik etika dalam berpolitik menjadi penting karena dalam pratiknya, kerap disalahgunakan. Tak ayal, politik dipukul rata sebagai hal yang kotor. Politik sepertinya menghalalkan segala cara guna mencapai tujuan (politik). Nah, sebagai politisi senior PDI-P, ia kurang setuju.

Frans mengamini jika pandangan seperti itu diarahkan kepada segelintir oknum yang melakukan praktik politik dengan cara yang kotor, tidak jujur dan lain sebagainya. Politik tidak identik dengan hal-hal yang tidak benar, tidak jujur, kotor dan negatif. Jika kita lihat dari segi positifnya maka politik itu sebuah ikhtiar untuk mewujudkan kesejahteraan umum.

Untuk merebut kekuasaan, ada oknum politisi yang berusaha merebut kekuasaan tapi dengan cara tidak jujur. Bahkan menggunakan kekerasan. Ada banyak orang menilai politik itu kotor. Tapi, soal bersih atau kotor, tergantung pada para pelaku politik. Jika seorang politisi tetap mengedepankan etika, aturan, dan norma maka penilaian kotor itu dapat dihindari.

Bagi Lebu Raya, dalam berpolitik etika, norma, dan moral politik tetap dipegang dan dikedepankan. Tanpa itu maka bisa muncul cara-cara yang bisa dipandang kotor. Baginya, urusan etika, aturan, dan norma politik selalu ia pegang dalam berpolitik. Bahwa politik membutuhkan taktik dan strategi, ya, tentu harus begitu. Tetapi harus diingat semua itu harus dalam batas-batas aturan dan norma.

Heterogenitas Masyarakat

Lebu Raya juga menyadari. Masyarakat NTT sangat heterogen sehingga kerap memunculkan sentimen primordial dalam setiap momentum politik. Masyarakat sangat heterogen, baik dari bahasa, adat, suku, agama, dan golongan. Ketika ada momentum politik seperti suksesi gubernur dan wakil gubernur, isu-isu politik seperti itu kadang mencuat.

Hal ini perlu kita sadari bahwa di NTT ada kemajemukan. Kita tidak boleh mengabaikan kemajemukan itu. Tetapi bukan berarti kita serta-merta mengakomodir semua kemajemukan. Prinsip kualitas dan kepentingan umum tetap menjadi tujuan kita bersama. Artinya, kita semua harus membuka diri terhadap kemajemukan itu. Kita perlu membuka diri untuk melihat bahwa di NTT ada kemajemukan.

Jika kita menutup diri maka akan sulit dalam melewati proses pembangunan di lewotana (baca NTT). Misalnya seseorang berasal dari etnik A, ia harus menyadari diri bahwa masih ada etnik yang lain di sampingnya. Jika ia menutup diri dari berbagai keanekaragaman maka akan menghadapi kesulitan.

Oleh karena itu, kita semua harus memiliki suatu kesadaran kolektif bahwa kemajemukan yang kita miliki bisa menyatukan kita. Lebu Raya mengingatkan dan perlu menjadi perhatian bersama bahwa perbedaan itu tidak boleh ditajam-tajamkan. Ia tidak boleh dipertentangkan tapi diterima sebagai kekayaan, sebuah mosaik yang memperindah wajah NTT. (Ansel Deri, bersambung)

Sejenak Bersama Adik Bungsu Ibu Negara Hj. Ani Bambang Yudhoyono

Written By ansel-boto.blogspot.com on Tuesday, July 15, 2008 | 11:55 AM

Rabu, 27 Juli sore sekitar pukul 16.00 WIB, tiba-tiba telepon genggam saya berdering. Dan yang menelpon tak lain adalah Pak Brahma, Pemimpin Redaksi NEWS DEMOKRAT, majalah tempat saya bekerja.

“Segera siapkan tape recorder, battere, dan kaset. Minta Mas Cecep siapkan juga camera video. Mas Anto sudah menyiapkan waktu wawancara.” Begitu kata Pak Bram.

Mas Anto yang dimaksud tak lain adalah Hartanto Edhie Wibowo, adik bungsu Ibu Negara Hj. Ani Bambang Yudhoyono.

Sebenarnya, sejak dua hari sebelumnya saya dan Pak Bram sudah meminta waktu Mas Anto melalui orang kepercayaannya untuk wawancara. Minimal, kami bisa diberi waktu wawancara di sela-sela kesibukan beliau mengikuti kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Kader Partai Demokrat (PKKPD) yang berlangsung dua minggu penuh (22 Juni–5 Juli 2008).

Bagi saya, penugasan kali ini merupakan tanggung jawab sekaligus penghormatan bagi saya secara pribadi. Terakhir mendapat kesempatan mewawancarai Edhie Baskoro Yudhoyono alias Mas Ibas, putra bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Begitu pula dengan juru bicara presiden, Dr Andi Alfian Mallarangeng. Misi luhur itu biasanya sukses dan membanggakan saya pribadi.

Nah, kali ini saya mendapat tugas khusus mewawancarai Mas Anto. Segera saja saya berkoordinasi dengan rekan-rekan lain. Terutama menyiapkan video camera sebagaimana permintaan pemimpin redaksi.

Dalam waktu singkat kami segera meluncur ke Villa Halimun, tempat beliau menginap. Villa ini masih dalam kawasan Hotel Yasmin. Di sana beliau sudah stand by ditemani Nurcahyo Anggoro Jati (Mas Yoyok).

Mas Yoyok adalah putra Pak Hadi Utomo dan Ibu Mastuti Rahayu. Ibu Mastuti adalah kakak kandung Mas Anto. Dalam ruang tamu yang lumayan luas, hadir juga ketua panitia pengarah dan panitia pelaksana (OC/SC) Pak Marzuki Alie dan Pak Dudy Gambiro.
Cerdas dan Ramah

Seperti biasa, saya dan rekan-rekan menyalami beliau sembari memperkenalkan diri. Mas Anto juga menyambut dengan ramah. Kesan seperti ini juga saya alami pada sosok Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono dan Ibu Mastuti Rahayu, dua kakak kandung Mas Anto.

Ibu Ani, misalnya. Dalam sebuah pertemuan di rumah Ibu Mastuti di kawasan Condet, Jakarta Timur, ia begitu ramah tatkala saya berkesempatan menyalami beliau. Juga tatkala para tamu undangan bermaksud menjabat tangan beliau. Ia masih menyempatkan diri memberi waktu bersalaman sekalipun dalam pengawalan anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Kesan itu juga saya alami saat melakukan wawancara dengan Mas Anto. Setelah wawancara usai, saya berkesimpulan bahwa ia seorang pemuda yang cerdas dan ramah. Terasa tak ada jarak antara kami. Begitu juga saat ia menjadi peserta PKKPD. Ia berada di dalam kelompoknya dan menempati sebuah deretan kursi di tengah Ball Room Hotel Yasmin.

Apa komentarnya soal pelatihan itu? “Saya sangat senang karena bisa mengikuti dan memahami lebih dalam lagi visi dan misi Partai Demokrat. Ya, karena selama ini saya belum begitu mendalami Partai Demokrat. Apalagi, saya benar-benar baru aktif kurang lebih satu setengah tahun belakangan. Saya lihat kegiatan PKKPD ini sangat bagus karena semua materi diberikan kepada peserta. Karena itu, tentunya materi-materi itu bisa kita pahami dan seterusnya hasilnya bisa diimplementasikan kepada masyarakat dan kader-kader lain di daerah,” ujar Mas Anto kepada penulis.

Dukungan Keluarga

Mas Anto menceritakan, ketertarikan masuk Partai Demokrat muncul awal 2004. Saat itu, keluarga besarnya dikumpulkan H. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar mereka semua menjadi pelopor dukungan kepada SBY dengan kelahiran Partai Demokrat. Saat itu, Mas Anto tak menduduki posisi apapun tetapi hanya sebagai anggota biasa saja. Maklum. Ia lebih banyak mencurahkan perhatiannya di bidang bisnis.

“Saya hanya terlibat dalam mendistribusikan atribut Partai Demokrat saja. Waktu itu, saya mendistribusikan atribut partai ke daerah Kerawang dan Bandung. Saat itu saya sampaikan kepada beliau bahwa sebaiknya saya jadi intelijen partai dari luar. Artinya, nggak terjun langsung. Saat itu, yang terjun langsung Pak Hadi (Hadi Utomo-Red) bersama Ibu (Ibu Mastuti Rahayu-istri Pak Hadi),” kisah Mas Anto.

Mas Anto mengaku, tak bisa dipungkiri bahwa sosok SBY membuat dirinya tertarik dan memutuskan masuk Partai Demokrat. Pasalnya, visi dan misi SBY sangat bagus. SBY juga sudah dianggap sebagai orangtua sendiri.

“Pak SBY itu cerminan dari Pak Sarwo Edhie-lah. Jadi, benar-benar kita mendukung beliau karena kita lihat banyak programnya yang pro rakyat. Hanya saja masyarakat kita banyak yang tingkat pendidikannya belum memadai sehingga banyak pula yang belum memahami program-program beliau. Oleh karena itu, inilah saatnya bagi kader Partai Demokrat untuk menjelaskan visi-misi beliau kepada masyarakat,” ujar Mas Anto.

Di mata Mas Anto, SBY menunjukkan kepribadian yang selalu menjadi panutan bagi siapapun. Rekam jejak atau track record SBY, terutama di lingkungan TNI, juga sangat bagus. Beliau selalu mengayomi bawahannya. Tak ayal, sifat-sifat yang ditampilkan SBY membuat ia sangat dihormati dan disenangi bawahannya.

Pemilih Pemula

Pemilihan Umum Legislatif dan Pemilihan Umum Presiden merupakan dua agenda politik yang akan dihadapi pula Partai Demokrat. Dua agenda besar itu tentu menuntut pula kesiapan para kader Partai Demokrat bisa meraih hasil yang maksimal. Menurutnya, salah satu agenda yang segera dilakukan rekan-rekan kader PD di daerah yakni merekrut pemilih pemula.

“Saya lihat banyak pemilih pemula yang masih gamang dalam menentukan pilihan siapa figur yang pas menjadi presiden pada Pemilu 2009. Nah, mungkin inilah saat yang tepat bagi kader untuk masuk dan menjabarkan visi-misi SBY kepada mereka (pemilih pemula).

Oleh karena banyak yang belum terjun langsung di partai politik maka mungkin itu lebih mudah bagi kader Partai Demokrat untuk menggalang dan merangkul mereka,” kata Mas Anto.

Pada bagian lain, ia juga prihatin masih saja ada anak muda terjebak dalam kehidupan yang kurang menguntungkan seperti mengkonsumsi narkotika dan obat-obat terlarang. Secara pribadi, Mas Anto menyanyangkan masih ada anak muda yang berperilaku negatif seperti itu. Hal itu bisa dimaklum karena influence, pengaruh luar.

“Sebagai generasi muda, tentu alangkah baiknya kalau kita terus melakukan hal-hal yang positif dan berguna bagi orang lain. Tentu dengan demikian, waktu kita pun tak terbuang percuma. “Saya lihat program-program Partai Demokrat terhadap kaum muda sangat bagus,” katanya.

SBY Jadi Presiden
Belakangan dukungan masyarakat agar SBY dicalonkan kembali menjadi Presiden pada Pemilu 2009 terus menguat. Bahkan keluarga besar Mas Anto juga memberikan sinyal positif kepada SBY jika masih dipercaya masyarakat menjadi presiden pada Pemilu 2009.

“Soal dukungan SBY menjadi Presiden pada 2009 juga beliau tanyakan saat kami keluarga besar ngumpul bersama. Ketika beliau menyampaikan hal itu, prinsipnya kami keluarga besar sangat mendukung karena beliau mempunyai visi yang jauh ke depan,” kata Mas Anto.

Kebijakan SBY menaikkan harga bahan bakar minyak atau BBM, lanjut Mas Anto, dalam jangka pendek atau short term dampaknya mungkin dilihat kurang baik. Tetapi, sesungguhnya dampak jangka panjang, long term, sangat positif bagi rakyat. Meski demikian, banyak kampanye hitam, black campaign atas kebijakan SBY tersebut.

“Oleh karena itu, tentu kita sebagai kader berusaha meng-counter isu-isu miring terkait kebijakan kenaikan harga BBM dengan cara yang baik dan santun,” lanjut Mas Anto.

Di mata Mas Anto, almahrum ayahnya adalah sosok militer dan pemimpin yang selalu dekat dengan bawahannya. Ia pemimpin yang sangat merakyat dan selalu merangkul bawahannya. Sifat-sifat almahrum selalu ia pegang dan terapkan dalam hidupnya. “Oleh karena ayah seorang militer maka beliau menekankan bahwa dengan disiplin kita akan membangun membangun jati diri,” kenang Mas Anto. (Ansel Deri)
Ket foto: Penulis (kiri) saat mewawancarai Hartanton Edhie Wibowo (Mas Anto), adik bungsu Ibu Negara Ani Yudhoyono di sela-sela mengikuti kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Kader Partai Demokrat di Hotel Yasmin, Cipanas, Jawa Barat. Foto: dok. penulis
Sumber: News Demokrat Edisi Juli 2008

Edhie Baskoro Yudhoyono: Bangga Mendapat Kepercayaan

Written By ansel-boto.blogspot.com on Monday, July 14, 2008 | 3:01 PM

Mungkin banyak kader Partai Demokrat di daerah yang belum mengenal sosok Edhie Baskoro Yudhoyono, B.Comm, M.Sc atau akrab dengan sapaan Ibas.

Mas Ibas adalah putra bungsu Presiden H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Hj. Ani Yudhoyono. Saat ini, ia mendapat kepercayaan memimpin Departemen Kaderisasi DPP Partai Demokrat.

Tak ayal, belakangan ia nampak berbaur di antara para kader lain yang duduk di pengurus pusat untuk menghadiri rapat-rapat penting.

Pria pemegang dua gelar kesarjanaan: Bachelor of Commerce Finance dan Electronic Commerce dari Curtin University of Technology, Perth, Western Australia, pun buka suara atas kepercayaan memimpin Departemen Kaderisasi.

“Saya senang sekali dan sangat berbangga atas kepercayaan yang diberikan oleh DPP Partai Demokrat,” kata Ibas kepada penulis di di Hotel Bidakara Jakarta, Jumat (22/2 2008).

Ia juga bertekad untuk memajukan dan mengembangkan departemen yang dipimpinnya. Setelah mendapat kepercayaan itu, ia dan rekan-rekan di departemen itu mulai merencanakan konsep-konsep pengembangan kaderisasi guna kemajuan partai.

“Semua ini tentu untuk kemajuan dan kejayaan Partai Demokrat. Kita tahu banyak potensi pemuda yang harus kita berdayakan bersama. Salah satunya melalui departemen (Kaderisasi) yang telah dipercayakan kepada saya,” katanya.

Berbagai undangan kader Partai Demokrat padanya mulai berdatangan. Pada Minggu, (17/2) lalu, ia menuju Gorontalo. Ibas diundang kader Provinsi Gorontalo untuk menghadiri acara silahturahmi fungsionaris DPP Partai Demokrat dengan DPD Partai Demokrat Gorontalo di Aula Keagungan Gorontalo. Dalam pertemuan itu ia juga diminta sumbangan pikirannya tentang kemajuan Partai Demokrat.
Menurutnya, 2008 merupakan tahun yang menentukan bagi kemajuan Partai Demokrat. Oleh karena itu, seluruh kader bekerja serius dan perlu menunjukkan apa yang sudah dilakukan untuk rakyat.

“Ini penting agar ke depan Partai Demokrat semakin besar. Kalau partai sudah besar maka akan semakin mudah melakukan perubahan yang lebih baik bagi rakyat. Begitu pula Partai Demokrat akan memiliki wakil rakyat di parlemen,” kata Ibas di hadapan kader yang setia menunggu hingga larut malam.

Dikatakan, Partai Demokrat telah meramu sebuah landasan program pembangunan yang akan dilaksanakan seluruh kader yang ada di seluruh Indonesia. Semboyan pembangunan Partai Demokrat perlu diperjuangkan dan diwujudkan yakni: Indonesia Sejahtera, Indonesia Pintar, Indonesia Sehat, Indonesia Hijau dan Indonesia Kreatif.

Saat itu, Ketua DPD Partai Demokrat Gorontalo Iwan Bokings menginformasikan bahwa, Demokrat merupakan partai yang fenomenal di Gorontalo. Partai juga telah menghadirkan roh baru dalam jagad politik provinsi penghasil jagung di Indonesia itu. Kini, Partai Demokrat mendapat simpati masyarakat. Bahkan, diprediksi menjadi partai besar di Gorontalo.

“Kita memang tidak mengiming-iming materi, tetapi hanya bermodal semangat. Meski demikian, sekalipun berada di tengah dinamika politik yang didominasi beberapa partai politik besar yang memiliki organisasi dan jaringan yang solid, namun Partai Demokrat perlahan tapi pasti mampu merebut simpati dan dukungan masyarakat. Kami percaya, Partai Demokrat mampu melahirkan kader-kadernya untuk duduk di lembaga legislatif daerah. Termasuk memproyeksikan satu kadernya untuk masuk di DPR RI,” lanjut Iwan.

Lahir di Bandung, 24 November 1980, Ibas Berhasil merampungkan dua gelar sarjana di Curtin University of Technology, Perth, Western Australia: Bachelor of Commerce Finance dan Electronic Commerce, pada 26 Februari 2005. Ibas kemudian meraih gelar M.Sc International Political Economy di S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University (NTU) dalam waktu satu tahun.

Pada Senin, (23/7) lalu, ia berhasil diwisuda. Inti disertasinya: analisa pada dua faktor ekonomi penting di Indonesia yaitu pengangguran dan kemiskinan, serta bagaimana upaya kita menyelesaikan masalah pengangguran dan kemiskinan. Prosesi wisuda dihadiri kedua orangtua: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono serta kakaknya, Agus Harimurti Yudhoyono.

Kini, Ibas mengemban tugas baru di Partai Demokrat sebagai lahan pengabdian kepada rakyat.Ibas diangkat menduduki posisi Ketua Departemen Kaderisasi DPP Partai Demokrat melalui Surat Keputusan (SK) DPP Partai Demokrat No. 04/SK/DPP.PD/II/2008 tanggal 15 Februari 2008. SK tersebut ditandatangani Ketua Umum Partai Demokrat H. Hadi Utomo dan Sekjen H. Marzuki Alie, SE, MM. (Ansel Deri)
Sumber: NEWS DEMOKRAT Edisi Maret 2008
Ket foto: Ibas dan kakaknya, Agus Harimurti Yudhoyono (gbr 1) dan bersama Budiman Sujatmiko (kiri) serta rekan-rekan politisi muda yang kini duduk sebagai anggota DPR RI. Ibas berpidato didampingi Calon Ketua Umum Partai Demokrat, Andi Mallarangeng, saat Silaturahmi DPD Jatim Partai Demokrat di Surabaya, Sabtu (17/4 2010). Foto : Antara/eric Ireng Foto: dok. presidensby.info, matanews.com, dan vivanews.com

Sumardi ke Ende Memburu Cabai dan Tomat


Ternyata tak sia-sia Sumardi (54), petani asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu meninggalkan kampung halamannya merantau ke Kabupaten Ende, di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Tekad bulat dan keberaniannya itu kini telah membuahkan hasil.

Sumardi nekat merantau ke luar Jawa meski hal seperti itu baru kali pertama dilakukannya. Dia meninggalkan Banyuwangi menuju Ende pada Juni 2005. Dengan demikian, genap tiga tahun ini di Ende Sumardi telah mengolah tanah yang disewanya dengan menanam cabai dan tomat.

Modal yang digunakannya untuk bertani seluruhnya telah kembali, bahkan dia juga telah melunasi semua utangnya. Keberhasilan yang telah diraihnya itu pun mendapat perhatian dari pejabat Badan Perencana Pembangunan Daerah setempat dan menetapkan Sumardi sebagai petani ulet di tingkat Kabupaten Ende.

Bapak empat anak itu telah membuktikan bahwa niat baik dan ketulusan, disertai kegigihan dan kerja keras, akan membuahkan hasil.

Sumardi membuktikan pula, wilayah Provinsi NTT yang selama ini lebih dikenal sebagai daerah gersang, terbelakang, dan miskin, kerap dijuluki pula sebagai daerah dengan ”Nasib Tak Tentu” ataupun ”Nunggu Tuhan Tolong”, ternyata dapat dipetik keuntungan berlimpah dari usaha tani berbasis tanaman sayur.

”Dari hasil panen Oktober 2005, modal saya, Rp 13,5 juta, seluruhnya telah kembali dan utang dari uang teman-teman yang saya pinjam, Rp 7.100.000, semuanya dapat dilunasi. Waktu itu hasil panen tomat saja (belum termasuk cabai) sebanyak 8 ton dengan harga Rp 3.000 per kilogram. Jadi, dari hasil penjualan tomat saya mendapat Rp 24 juta,” kata Sumardi.

Keberhasilan Sumardi juga melambungkan namanya. Ada warga sekitar yang memanggilnya Pak Kumis karena kumisnya yang tebal, tetapi banyak pula yang biasa memanggil Sumardi ”Pak Tomat” atau ”Pak Lombok”.

Harga pasar bagus

Sumardi menuju Ende atas dorongan adiknya, Syaifudin, yang sudah lebih dulu tinggal di Ende dan membuka usaha Warung Makan Banyuwangi di Jalan Wolowona.

Sumardi juga mendapat masukan bahwa harga cabai dan tomat sangat bagus di Pasar Ende karena belum banyak petani setempat yang menanamnya. Juga diinformasikan, belum ada petani Ende yang bisa bercocok tanam cabai dan tomat dengan sistem budidaya yang baik.

Tekad Sumardi juga makin kuat karena usaha tani di Banyuwangi dirasakannya sudah jenuh akibat terlalu banyak pesaing. Menurut Sumardi, akibat terlalu banyak petani dengan tingkat persaingan yang begitu tinggi itu, harga komoditas pertanian sering jatuh jauh sekali.

”Ketika semua petani di Jawa berlomba-lomba menanam dengan kualitas terbaik, lalu waktu panen hasil melimpah, harga malah jatuh. Harga cabai di tingkat petani bisa jatuh menjadi Rp 500 per kilogram. Padahal, untuk mendapat keuntungan, petani harus menjual cabainya paling tidak Rp 3.000 per kilogram. Tahun 2004 ada petani di kampung saya meninggal karena stres. Dia rugi Rp 250 juta. Harga cabai waktu itu hanya Rp 1.000 sampai Rp 1.500 per kilogram,” katanya.

Sebelum meninggalkan Banyuwangi, Sumardi juga mendapat informasi bahwa harga pasar cabai tertinggi di Ende dapat mencapai Rp 60.000 per kilogram, sedangkan tomat berkisar Rp 7.000 per kilogram. Harga cabai dan tomat akan melambung ketika pasokan dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) kosong.

Dengan modal di tangan Rp 13,5 juta, saat itu Sumardi tak berpikir lama dan langsung berangkat ke Ende. Dia meminta bantuan Syaifudin mencarikan sebidang tanah guna ditanami cabai dan tomat.

Bersama istri, Sudasemi (45), dan seorang pembantunya, Sumardi meninggalkan empat anak di kampung halamannya. Syaifudin telah mendapatkan lahan seluas 4.000 meter persegi di Kelurahan Lokoboko, Kecamatan Ndona.

Sumardi lalu mengontrak tanah itu senilai Rp 7,5 juta untuk masa 10 tahun. Tahun 2006 dia memperluas lahan garapannya dengan mengontrak lagi 4.000 meter persegi di lokasi yang sama untuk masa tiga tahun.

Perluas lahan garapan

Jiwa petani yang begitu kuat dalam dirinya mengobarkan semangatnya untuk terus maju hingga laki-laki, yang keluarga besarnya di kampung memiliki lahan garapan seluas 7 hektar, itu memutuskan mengontrak tanah lagi di Desa Nanganesa, juga di Kecamatan Ndona, seluas 3.000 meter persegi. Tanah itu disewanya senilai Rp 9.250.000.

Lokasi kebunnya di Nanganesa hanya sekitar 2 kilometer dari Lokoboko. Adapun untuk tempat tinggal, Sumardi di Ende juga mengontrak rumah di Nanganesa seharga Rp 750.000 per tahun.

Menurut Sumardi, dari hasil panen cabai dan tomat pada tahun 2006, ia memperoleh pemasukan Rp 67 juta. Adapun pada tahun 2007, dari 6.000 pohon tomat saja dihasilkan 13 ton dengan pemasukan berkisar Rp 39 juta. Dia memperkirakan, di lahan yang disewanya itu bisa ditanam 20.000 pohon cabai dan tomat jika ditanami secara serentak.

Hasil panen cabai dan tomat memang lumayan. Selain dapat menabung, Sumardi juga bisa mengirim uang untuk anak-anak yang seluruhnya telah berumah tangga.

Di sisi lain, laki-laki tamatan jurusan teknik mesin STM Negeri 4 Jember, Jawa Timur, itu menyatakan tak menyangka tanah di Ende amat subur. Namun, kesuburan tanah saja belumlah cukup. Salah satu kunci keberhasilan budidaya pertanian adalah persediaan air yang memadai.

Meskipun mendapatkan hasil yang berlimpah selama tiga tahun ini, Sumardi belum memutuskan apakah akan tinggal menetap di Ende atau suatu saat akan kembali lagi ke kampung halamannya.

”Yang terpenting saya ingin naik haji. Itu harapan saya sejak dulu. Bagi saya ibadah lebih utama sebab hidup manusia di dunia ibaratnya hanya sehari semalam,” ungkap Sumardi.

Tinggalkan Karier Militer

Cita-cita saya sebenarnya di militer. Saya sudah diterima di Akabri tahun 1974, di kesatuan Angkatan Darat. Tapi, semua itu saya tinggalkan dengan terjun sebagai petani,” kata laki-laki yang dilahirkan dari keluarga petani itu.

Sumardi menceritakan, beberapa waktu setamat dari STM dia mendaftar ke Akabri. Tahun 1975 Sumardi akan ditugaskan ke Timor Timur (saat ini Republik Demokratik Timor Leste). Namun, ketika itu orangtuanya berat melepas kepergian Sumardi.

”Ibu saya waktu itu bilang, kalau kamu berangkat ke Timor Timur, kami harus ikut. Saya berpikir, saya ke sana dalam rangka tugas negara dan taruhannya pun nyawa. Saya tak mau mengorbankan mereka. Akhirnya saya memutuskan keluar dari militer,” kata anak ketujuh dari 10 bersaudara itu.

Sebelum terjun secara total menjadi petani, Sumardi sempat bekerja di bengkel kendaraan. Itu tak lepas dari keterampilan yang diperolehnya di STM.

”Tapi, kemudian saya tak sampai hati melihat orangtua saya bekerja membanting tulang di ladang, sedangkan saya hanya mondar-mandir ke bengkel,” ujar Sumardi. (Samuel Oktora)
Sumber: Kompas, 14 Juli 2008

Marselinus Agot Hijaukan Labuan Bajo

Bila ingin melestarikan alam, mulailah dari diri sendiri. Agaknya prinsip itulah yang dipegang kuat oleh Marselinus Agot SVD (58). Dia pun memulai melakukan hal-hal yang sederhana untuk menghijaukan sebagian wilayah Manggarai.

Awalnya, Marselinus yang akrab dipanggil Marsel gelisah melihat banyaknya kawasan hutan yang sudah mulai gundul di tanah Manggarai. Dia pun merasakan kesedihan ketika alam sudah mulai hancur, sering terjadi longsor, erosi, dan debit air yang semakin menurun.

Kemudian, sedikit demi sedikit, dia membeli lahan untuk penghijauan. Lahan yang dibelinya bukan dengan harga yang mahal. Bahkan, ada yang dibeli pada tahun 1990-an hanya dengan harga Rp 500 per meter persegi. Harga yang sangat murah untuk bisa mewujudkan cita-cita besar, yaitu menghijaukan kota Labuan Bajo.

”Semua itu saya dapatkan karena kebaikan hati orang- orang yang juga ingin ikut menghijaukan wilayah ini. Di samping itu, memberi contoh kepada orang lain tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi kita harus mengerjakannya, yaitu dengan menanam pohon,” kata Marsel.

Sebagai balas jasanya, Marsel menceritakan, dia tetap berhubungan baik dengan para pemilik tanah yang dibelinya. Bahkan, Marsel tidak segan-segan membantu mereka bila sedang menghadapi kesulitan. ”Saya tidak bisa melakukan penghijauan jika tidak mendapat lahan dari mereka, jadi saya harus membantu bila mereka dalam kesusahan,” katanya.

Usaha penghijauan yang dilakukan Marsel dimulai sejak tahun 1997 di Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang baru dibentuk tahun 2003. Sebelumnya, pada tahun 1990-an, Marsel juga menanam sekitar 5.000 pohon di sebidang tanah di Ruteng, Kabupaten Manggarai. Namun, saat ini hanya lahan di Labuan Bajo yang diurusnya, sedangkan lahan di Ruteng dikelola oleh Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Ruteng.

Di Labuan Bajo, Marsel mengelola sekitar 20 hektar lahan yang tersebar di dua tempat, yaitu di wilayah Pantai Pede, Desa Gorontalo seluas 8 hektar, dan di Desa Batucermin seluas 12 hektar. Di lahan tersebut ditanam bibit pohon mahoni dan berbagai jenis kayu lokal, misalnya pohon nara, aor nana, dan ngancar. Semuanya ada sekitar 13 jenis pohon yang ditanamnya. Selain di dua lahan itu, Marsel masih memiliki beberapa areal yang juga akan dijadikan lahan penghijauan.

”Pohon jenis lokal kami tanam supaya tidak menghilang di tanahnya sendiri. Selanjutnya, kami akan terus mengembangkan penghijauan ini untuk menyelamatkan lingkungan. Masih ada 30 hektar lahan yang belum ditanami,” katanya.

Kini, Marsel sudah bisa menikmati sedikit hasil dari hutan buatannya. Siang itu, bersama dengan Kompas, Marsel mengunjungi hutan mahoni yang sudah cukup besar-besar di wilayah Desa Batucermin. Usia pohon rata-rata 6 tahun, dengan jarak tanam 1,5 meter. Dengan jarak tanam 1,5 meter, Marsel berharap pohon-pohon yang ditanamnya tidak terlalu banyak bercabang dan lurus.

Kedatangan kami disambut oleh para tukang yang sedang membangun sebuah rumah kecil. Marsel menceritakan, rumah kecil itu dibangun untuk teman-temannya yang berasal dari luar kota, yang ingin menikmati suasana hutan buatannya.

Sambil terus menceritakan mengenai hutan buatannya, Marsel juga menunjukkan sebuah mata air di tengah-tengah hutan buatannya di Desa Batucermin. ”Munculnya mata air ini yang membuat saya sangat terharu. Anugerah yang tidak ternilai karena di Labuan Bajo sangat sulit mendapatkan air,” katanya dengan mata berbinar-binar.

Mata air yang sudah membentuk sungai kecil itu kemudian ditanami bunga teratai. Di awal bulan Mei itu, bunga teratai sedang mengembang sehingga hutan itu terlihat indah. Meski airnya tidak terlalu jernih, tetapi cukup membuat suasana di hutan terasa sejuk. Padahal, cuaca di kota Labuan Bajo saat itu panas sekali.

Bukan hanya satu mata air. Berjarak sekitar 50 meter, ada lagi dua mata air lain yang membentuk kubangan kecil. Marsel berharap mata air itu juga akan membesar seperti mata air sebelumnya. Ia mengatakan, ketika para pelajar pulang sekolah, mereka sering mampir ke sungai itu. Bahkan, beberapa penduduk di sekitar juga memanfaatkan airnya. Di kota komodo itu memang sulit mendapatkan air.

Marsel menceritakan, semua kegiatan terkait dengan lingkungan itu berada di bawah payung Yayasan Sosial Pemerhati Pendidikan (Yaspemdik). Supaya yayasan dapat dijalankan, Marsel mendirikan berbagai usaha seperti perkebunan, pertanian, bengkel kayu, wartel dan warnet, yang bernaung di bawah PT Predicator Unitatis Mundi (Prundi) yang artinya pemakluman bahwa dunia itu satu.

”Kami menjalankan misi di bidang sosial, kependidikan bagi awam, sosial kemasyarakatan, dan pelestarian lingkungan hidup. Tetapi, kami tidak pernah mau mengerjakan proyek dari lembaga apa pun. Kami hanya bermodal nekat dan kemauan saja,” ungkapnya.

Marsel dilahirkan di Kampung Wela, Kabupaten Manggarai. Karena jaraknya jauh dari Ruteng, pusat kota Manggarai, dia tidak bisa segera mengenyam pendidikan di usia muda. Tahun 1958, Marsel mencoba masuk ke sebuah Sekolah Rakyat (SR) di kampung lain, tetapi ditolak dengan alasan kondisi fisik yang tidak prima. Dia diminta datang lagi tahun berikutnya.

Kebiasaan hidup di desa di wilayah Manggarai membuat Marsel sangat akrab dengan hutan di kampungnya. Karena itulah, ketika banyak kawasan hutan digunduli, dia kehilangan lingkungan yang nyaman dan asri. Ia sempat marah ketika banyak orang ikut-ikutan menebangi pohon. Namun, kemarahan itu kemudian diwujudkan dengan mencari lahan untuk menanam pohon. Semoga saja apa yang sudah dilakukannya akan ditiru banyak orang meski hanya di lingkungan Manggarai Barat. (Susie Berindra)


Nama: Marselinus Agot SVD
Tempat, tanggal lahir: Wela, 2 Juni 1950
Riwayat Pekerjaan: - Dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Ruteng, 1988-2005 - Ketua STKIP Ruteng, April 1988-1997 - Ketua Badan Pelaksana Yayasan Pendidikan St PaulusRuteng, 1997-2005 - Ketua Yayasan Sosial Pemerhati Pendidikan, 2000-sekarang
Sumber: KOMPAS, 11 Juli 2008
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger