Headlines News :
Home » » Elizabeth Goenawan Ananto: Komunikator Kelas Dunia

Elizabeth Goenawan Ananto: Komunikator Kelas Dunia

Written By Ansel Deri on Friday, May 15, 2009 | 11:33 AM

Hampir tiga puluh tahun lebih berkarya, sebagian besar waktunya ia dedikasikan di bidang public relation (PR). Organisasi PR dunia pun ia rambah. ”Semua ini berkat campur tangan Tuhan,” ujar Elizabeth Goenawan Ananto.

Sosok Elizabeth Goenawan Ananto mungkin tak asing di lingkungan praktisi PR Indonesia dan dunia. Juga perusahaan-perusahaan multi nasional lainnya. Hal ini bisa dimaklumi. Wanita yang akrab disapa Bu Ega sudah makan asam garam di bidang PR. Entah sebagai dosen atau konsultan perusahaan dan kantor-kantor perwakilan negara-negara asing.

”Globalisasi menciptakan pasar bebas, informasi, dan persaingan terbuka. Jika kita tidak melakukan komunikasi, pesaing akan mengambil posisi kita,” ujar Presiden Asosiasi PR Internasional (International Public Relations Association/IPRA) 2010 ini di Jakarta, Sabtu, (6/12 2008). Ia baru terpilih Agustus 2007 untuk posisi bergengsi itu

Dunia PR
Dunia PR sudah lama digeluti Bu Ega sejak bertugas di Universitas Trisakti. Padahal, ia lulusan Sastra Inggris Universitas Padjadjaran Bandung. Saat itu, ia diangkat Rektor Universitas Trisakti Mulyatno Sindhudarmoko (alm) sebagai Kepala Unit Pelaksana Teknis Hubungan Masyarakat.

”Setelah mendapat kepercayaan yang begitu besar, saya berusaha untuk mencari tahu bagaimana public relations untuk universitas. Selama empat tahun,1990–1994, sebagai kepala humas merupakan awal saya meniti karir sebagai praktisi sekaligus akademisi PR,” cerita Bu Ega.

Dari kampus, jalan menuju praktisi PR terbuka. Pada 1992, Bu Ega masuk Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas). Melalui organisasi profesi itu, ia berkesempatan menghadiri konferensi kehumasan di Hongkong dan Beijing yang diselenggarakan IPRA. Organisasi itu berpusat di London, Inggris.

Di konferensi itu, ia juga mengenal kampanye kebersihan dunia, Clean Up the World yang mendapat penghargaan dari IPRA. Setiba di Indonesia Ega mengusulkan Universitas Trisakti melaksanakan kegiatan kampanye kebersihan dunia. Pada 1993, sebanyak 5.000 mahasiswa baru digerakkan untuk membersihkan lingkungan di Jakarta Barat.

”Universitas Trisakti tercatat sebagai perintis gerakan Clean Up the World di Indonesia. Tahun 2008 gerakan ini diikuti 35 juta sukarelawan dari 120 negara,” kata Doctor of Philosophy bidang Business Management Universiti Utara Malaysia, tahun 2004.

Saling Pengertian
PR adalah fungsi manajemen yang dapat diterapkan oleh organisasi apa saja. Esensi PR, jelas Ibu Ega, yakni menciptakan saling pengertian antara organisasi dengan publiknya. ”Dalam situasi krisis global sekarang, karyawan perlu diberi penjelasan secara jujur dan terbuka, sehingga mereka paham dan seharusnya dapat mendukung perusahaan dalam situasi yang sulit,” katanya.

Untuk mencegah buruh mogok, krisis manajemen atau penurunan kepercayaan publik, PR berfungsi sebagai ’early warning system’. Seringkali karena ketidaktahuan manajemen, PR baru difungsikan setelah terjadi krisis. ”The damage has been done! Biasanya PR menjadi pemadam kebakaran. Pendekatan PR seharusnya proaktif, bukan reaktif,” jelas Ibu Ega.

Menurutnya, PR masih relevan di era globalisasi. Globalisasi menciptakan pasar bebas, informasi, dan persaingan terbuka. Jika kita tidak melakukan komunikasi, pesaing akan mengambil posisi kita.

Mengapa Borobudur tidak masuk lagi dalam keajaiban dunia atau batik asli Indonesia dipatenkan oleh negara tetangga? Bagaimana menjelaskan kepada dunia bahwa apa yang dilihat melalui televisi tatkala orang tewas berebut zakat, demonstrasi buruh, kasus multilasi, TKI yang bermasalah dan banyak lagi. Atau mengapa Visit Indonesia Year 2008 kurang berhasil?

”Semua memberi citra negatif. Selama kegiatannya masih ’berjualan’, dan bukan melakukan strategi PR, komunikasi tidak akan efektif. Saat ini yang diperlukan adalah memainkan strategi komunikasi, membentuk persepsi publik. Bukan pasang iklan jor joran, tapi perang strategi PR,” ujarnya.

Ada tahapan dari proses ber-PR. Mulai environmental scanning, scenario building, issue management, crisis management, relationship management dan akhirnya reputation management. Ini tahapan dari proses ber-PR yang harus dilakukan dalam berbagai situasi apalagi dalam era global. Sekarang tak ada lagi berita lokal. Berita lokal bisa menjadi sebuah isu global.

Advisor PresidenMenurutnya, banyak kebijakan publik yang perlu disosialisasikan atau dikomunikasikan secara terbuka. Saat ini publik dalam negeri banyak tidak tahu keberhasilan pemerintah yang justru dinilai positif oleh luar negeri.

KBRI di luar negeri harus dilengkapi dengan personel yang handal untuk menghadapi media internasional, LSM, dan pengamat sosial. Jangan seperti sekarang. Sepi informasi dan baru sibuk kalau ada pejabat Jakarta datang. IT memang diperlukan, tetapi ’personal approach’ lebih efektif.

”Mungkin perlu ada team khusus sebagai pembantu Presiden atau setingkat itu. Bukan juru bicara, tetapi strategic advisor, ”think tank” yang tugasnya memberikan masukan kepada pemerintah dalam bidang kehumasan. Team ini terdiri dari multi disiplin, tetapi harus independen, bukan orang partai,” ujar Bu Ega.

Lama bergelut di bidang PR kemudian mendapat kepercayaan hingga tingkat dunia diakui tak lepas dari campur tangan Tuhan bagi keluarganya. Misalnya, selama 14 tahun ia bergabung dengan IPRA tak lepas dari campur tangan Tuhan.

”Tanpa bantuan Tuhan melalui para sponsor dan klien, saya tidak akan mungkin sampai ke sana (jadi President IPRA-red). Di sini saya dituntut sebagai diplomat publik. Sebagai President IPRA asal Indonesia dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, saya juga terus berjuang menjadi jembatan antara timur dan barat,” kata umat Paroki Maria Bunda Carmel, Tomang, Jakarta Barat.

Keluarga

Antara karier dan keluarga pun tak ada kendala. Dari Senin hingga Kamis adalah waktu bekerja. Sedangkan Jumat dan Sabtu untuk keluarga, jika tidak ada seminar atau workshop. Sebagian urusan rumah tangga, ia serahkan kepada pembantu.

”Kedua anak saya, Erika dan Aryoseto, sudah terbiasa dengan jadwal saya sejak mereka SD. Suami saya, seorang wiraswasta yang dapat mengatur waktunya. Hari Minggu untuk dinikmati bersama,” katanya.

Dalam berbagai kesempatan baik dalam maupun luar negeri, ia menyertakan suami dan kedua anaknya. Dengan demikian, mereka tahu bahwa apa yang ia kerjakan. ”Dukungan, pengertian suami dan kedua anak ini sangat berarti, sehingga saya tidak perlu merasa khawatir urusan rumah. Ditambah dua pembantu dan lima ekor anjing yang berjaga-jaga siang dan malam,” jelas praktisi kelahiran Bandung, 27 Februari 1950 ini.

Dalam bekerja, ia punya filosofi. Pekerjaan haruslah sesuatu yang dapat dinikmati, bukan dilakukan karena tugas atau mengejar uang. Setelah bekerja selama 30 tahun, ia semakin yakin bahwa dalam menjalani hidup harus bertindak sebagaimana apa adanya dan dengan semangat berbagi dan memberi apapun bentuknya. ”Apa yang kita tanam, itu yang akan kita petik,” katanya.
Ansel Deri
Ibu Ega (kedua dari kiri) bergambar bersama para President IPRA di New York, Amerika Serikat pada 24 Januari 2008.
Sumber: HIDUP Jakarta

Riwayat Singkat
Elizabeth Goenawan Ananto

Lahir : Bandung, 27 Februari 1950
Pekerjaan : dosen dan konsultan PR
Suami : Heru Ananto
Anak : 1. Erika Ananto
2.Aryo Seto Ananto
Alamat : Tanjung Duren, Jakarta Barat
Pendidikan : - Sarjana Sastra Inggris Universitas Padjadjaran Bandung, tahun 1976.
- M.Sc bidang PR, University of Stirling, Scotland, 1996 (tdk selesai).
- Magister Managemen (MM) STIE IPWI Jakarta, tahun 1997.
- Doctor of Philosophy, Universiti Utara, Malaysia, tahun 2004.

Pengalaman : - Ketua Bidang Humas Universitas Trisakti, 1990 – 1994
- Koordinator Program Magister Manajemen Komunikasi
Universitas Trisakti 2005–sekarang.
- Staf pengajar FE Universitas Trisakti, 1978–sekarang.
- Pendiri dan direktur EGA sejak tahun 2001.
- Pendiri dan Direktur PR Week sejak tahun 2005.
- Dewan Redaksi Journal of Promotion Management, New York, USA.
- IPRA, President Elect 2010.
- Menjadi konsultan PR pada sejumlah perusahaan dan kantor.
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger