Headlines News :

Fransiskus Xaverius Maku Ruto: Anak Ende Jadi Koster di Balikpapan

Written By ansel-boto.blogspot.com on Wednesday, January 14, 2009 | 11:04 AM

Menerima tugas tanpa beban. Hal itu yang ada dalam hati Fransiskus Xaverius Maku Ruto atau akrab disapa Frans. Buktinya, ia menerima tugas sebagai tenaga satuan pengamanan (Satpan) Gereja St Theresia Balikpapan, Keuskupan Samarinda, Kalimantan Timur. Pekerjaan itu dilakoni sejak 2003.

Tak lama berselang, Frans ditawari Pastor I Ketut Timotius, MSF untuk merangkap sebagai koster. Jadilah dua tugas itu ia gabungkan dalam kesehariannya. Tugas kedua itu ia terima setelah tak diminati orang lain. Ia hanya berpikir bahwa menjadi merupaan sebuah tugas mulia.

“Dalam hati, saya hanya ingin melayani Tuhan dan sesama. Saya ingin agar melalui dua tugas ini saya bisa berarti bagi yang lain. Saya tak pernah merasa terbebani dengan dua jabatan sekaligus ini,” kata Frans kepada Flores Pos di Gereja St Theresia Balipapan beberapa waktu lalu.

Sebelum masuk Balikpapan, suami Yustina Tjunino ini hanya seorang karyawan kecil di sebuah art shop di Denpasar, Bali. Art shop ini ditutup pemiliknya menyusul insiden Bom Bali I. Sang pemilik akhirnya memilih kembali ke Prancis sehingga Frans kehilangan pekerjaan.

Anak kesembilan dari sepuluh bersaudara kelahiran Ende, Flores, NTT, ini juga tak pernah memikirkan soal berapa balas jasa atas tugasnys sebagai koster. Dalam hatinya, ia hanya mau bekerja sebagai koster.

Tak ayal, setiap hari ia stand by menunaikan tugasnya sebagai tenaga satpam di gereja yang terletak di Jl Serobong No. 1 A, Prapatan, Balikpapan itu. Ia juga harus menyiapkan segala sesuatu untuk perayaan Misa dan kegiatan-kegiatan umat lainnya di gereja.

“Ternyata dua tugas kecil ini membuat saya sekeluarga sangat bahagia. Kami bisa melayani umat demi memuliakan nama Tuhan,” ujar Frans tersenyum. Selamat bertugas, eja!
Ket foto: FX Maku Ruto. Koster Gereja St Theresia Prapatan, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Sumber:
Flores Pos, 13/1 2009.
Teks & foto:
Ansel Deri

Marlis Mudaj: Mahasiswa Udik Jadi Asisten Dosen di Kota Batik Pekalongan

Seorang anak Lembata, Maria Sesilia Mawar Mudaj, menunjukkan prestasi akademik membanggakan di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer (STMIK) Widaya Pratama, Pekalongan, Jawa Tengah. Marlis, sapaan akrabnya, menjadi asisten dosen mata kuliah: Design Grafis dan Perancangan Basis Data.

Marlis anak pasangan Frans Lua Mudaj dan Kristina Kilok. Kini, guru Frans mengajar di sekolah dasar Katolik (SDK) Atawai, Kecamatan Nagawutun, Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jabatannya kepala sekolah. Sekolah ini di bawah asuhan Yayasan Persekolahan Umat Katolik Flores Timur (Yapersuktim), yayasan milik Keuskupan Larantuka.

Awalnya, Marlis berniat kuliah di kota gudeg Yogyakarta atau Metropolitan Jakarta. Ia memang naksir beberapa perguruan tinggi terkemuka seperti Universitas Gajah Mada (UGM), Unika Atmajaya Yogyakarta, Universitas Indonesia (UI), Trisakti, atau Unika Atmajaya Jakarta.

Apalagi, ia menyadari diri punya prestasi akademik bagus setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) I Nagawutun tahun 2006. Ia pingin kuliah keperawatan agar kelak bisa membantu orang di kampungnya. Namun, keinginannya itu terganjal masalah biaya. Ayahnya, yang hanya guru sekolah dasar tentu tak mampu membiayainya hingga sarjana.

“Saya akhirnya memutuskan kuliah di Pekalongan. Pilihan ini beralasan karena kebetulan adik ayah bertugas di sana. Ia seorang biarawati. Selain menunaikan tugas-tugas kerohanian, beliau juga mengajar di sebuah sekolah Katolik,” kata Marlis kepada Flores Pos, melalui surat elektronik (e-mail), Kamis (18/12) lalu.

Adik ayahnya, Suster Maria Thresiani, SND, kini menjadi Kepala SD Pius Pekalongan. Sekalipun jabatannya kepala sekolah, toh, biarawati yang juga lama menjadi guru di Pulau Lembata, itu masih mengemban tugas tambahan sebagai wali kelas IV.

“Saya selalu mendorong dia agar tetap belajar rajin. Membaca harus dijalani sebagai kebutuhan dan hobby agar banyak informasi bisa didapat. Kalau sudah memutuskan jauh dari orangtua maka konsekuensinya harus rajin belajar karena merekalah yang mendukung dalam urusan biaya. Sebagai anak, merekapun harus belajar tanggung jawab pada orangtua yang telah membiayai kuliah,” kata Sr Thresiani menasehati ponakannya itu.

Asisten Dosen

Menurut Marlis, sejak semester tiga, ia menunjukkan prestasi akademik di antara rekan-rekan mahasiswa di jurusannya. Nilai indeks prestasi kumulatif (IPK)-nya: 3,70. Prestasi itu membuat dosen bangga. Rasa syukur juga datang dari Sr Thresiani, SND.

“Sejak Agustus 2007 hingga Agustus 2008, saya jadi asisten dosen mata kuliah Design Grafis dan Perancangan Basis Data. Kepercayaan ini tak saya terima begitu saja. Itu juga beban karena saya harus siap mentransfer ilmu kepada teman-teman mahasiswa lainnya,” jelas anak kampung lulusan SMP Lamaholot Boto, Lembata, tahun 2003, ini.

Marlis mengaku bangga. Sekalipun dari daerah, ia bisa berprestasi di bangku kuliah. Buktinya, sejak November 2008 ia menerima tawaran lagi dari Pak Rifqi, Ketua Laboratorium Komputer STMIK Widaya Pratama sebagai asisten dosen. Padahal, ia harus punya waktu untuk belajar.

Sejak mendaftar Marlis disarankan langsung Rektor STMIK untuk masuk jurusan Sistem Informasi. Ia menolak karena tak begitu tertarik. Soalnya, anak kampung ini mengaku nggak bisa menganalisa. Ia malah lebih tertarik dengan teknologi informatika.

Dua jurusan ini, kata Marlis, memiliki sedikit perbedaan pendalaman. Kalau Sistem Informatika menjurus ke sistem hardware alias perangkat keras (komputer). Sedangkan Teknologi Informatika menjurus ke hardware-nya.

“Ada yang sudah menawarkan saya bekerja di perusahaan setelah lulus nanti. Tapi, masih saya pertimbangkan karena harus berkonsentrasi kuliah dan tugas tambahan sebagai asisten dosen,” lanjut Marlis, yang mengaku tinggal 3 semester lagi meraih gelar sarjana.

Ada yang lucu jika menengok masa lalu. Saat masih di kampung halamannya, Lembata. Sekolahnya, SMP Lamaholot Boto, saat itu jauh dari sentuhan teknologi informasi apalagi koran dan majalah sekalipun bekas. Tapi, minat baca orang kampung sangat tinggi. Begitu pula saat sekolah di SMAN I Nagawutun, yang katanya, berada di hutan bahan bacaan sangat langka.

“Sekali-kali kami baca Dian, Kunang-Kunang. Juga Mingguan HIDUP yang terbit di Jakarta. Itu pun sudah out of date alias edisi-edisi lama. Sedangkan Dian dan Kunang-Kunang diterbitkan Konggregasi SVD yang berpusat di Ende, Pulau Flores. Saat itu, kami anak-anak sekolah sedikit terbantu dengan sumber informasi dari media itu,” cerita Marlis.

Ia mengharapkan agar Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) melalui Komisi Pendidikan mengirim koran atau majalah bekas melalui kesukupan bagi sekolah-sekolah yang berada di pedalaman Lembata.

“Kalau saat ini orang kota sudah sangat akrab dengan internet, di pedalaman Lembata anak-anak sekolah baru mulai akrab dengan koran dan majalah bekas. Kalau saja KWI mengirim koran atau majalah bekas, minat membaca akan semakin tinggi. Kalau nggak salah banyak wartawan dan penulis besar nasional lahir dari Lembata. Mungkin mereka pernah mengalami kondisi tak menguntungkan itu,” lanjut Marlis.

Tapi, kondisi yang pernah ia alami saat itu bukan berarti mematahkan semangat belajarnya. Bagi Marlis, prestasi adalah segalanya. Prestasi hanya diraih melalui belajar tekun dan diskusi di antara rekan-rekan siswa lain di sekolahnya.

“Saya pernah mewakili SMAN I Nagawutun ikut cerdas cermat tingkat SLTA di Kota Kupang untuk mata pelajaran Fisika. Sedangkan Biologi diwakili siswa dari SMAN Nubatukan 2 Lewoleba,” kenang Marlis.

Ia mengisahkan, kegiatan cerdas cermat tingkat SLTA itu diselenggarakan Universitas Katolik Widya Mandira dan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, NTT. Prestasi itulah yang mendongkrak semangatnya hingga mulai menunjukkan prestasi akademiknya di kota Batik Pekalongan, Jawa Tengah. Proficiat!
Ket foto: Marlis Mudaj, anak Lembata yang perlahan-lahan meraih prestasi akademik di STMIK Widaya Pratama, Pekalongan, Jawa Tengah.
Sumber: Flores Pos 12/1 2009
Teks & foto: Ansel Deri

Menjadi Guru Adalah Panggilan Jiwa

Written By ansel-boto.blogspot.com on Monday, January 12, 2009 | 11:41 AM

Selama tiga puluh tahun jadi guru mereka kerap pindah dari satu kampung ke kampung lain. Urusan gereja pun tak lepas dari tugas pokok. Mereka memahami bahwa profesi guru adalah panggilan jiwa.

“KITA bisa pintar menulis dan membaca karena siapa? Kita bisa pandai beraneka bidang ilmu dari siapa? Kita bisa pintar dibimbing Pak Guru. Kita bisa pandai dibimbing Bu Guru. Guru bak pelita penerang dalam gulita, jasamu tiada tara………”

Penggalan syair lagu yang pernah ditayangkan stasiun Pusat TVRI dari kawasan Senayan, Jakarta telah memantapkan langkah pasangan suami-istri (pasutri) Paulus Sari Kobun dan Edeltrudis Peni Burin untuk mengabdikan diri sebagai guru sekolah dasar (SD). Keduanya sudah bertugas selama tiga puluh tahun lebih di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Betapa tidak. Di saat banyak pilihan profesi yang diyakini menjanjikan kehidupan lebih sejahtera dari segi ekonomi, Pak Polus, -demikian Paulus Sari Kobun disapa- justru memantapkan pilihannya sebagai guru.

Sebuah profesi mulia yang bersinggungan langsung dengan pengembangan sumber daya manusia (human resources development). Padahal, dari segi ekonomi profesi guru justru tak banyak memberikan jaminan kemapanan ekonomi tetapi kepuasan batin.

Ia mengatakan, dari segi ekonomi profesi guru belum memberikan hasil memuaskan. Tapi secara pribadi keduanya mendapat kepuasan batin saat melihat banyak anak didik sampai bergelar sarjana dan mengabdi di tengah masyarakat.

“Kami benar-benar bahagia dan sangat bersyukur bila ada anak didik yang berhasil dan mengabdi di tengah masyarakat. Baik sebagai guru, petani, wiraswasta, imam, suster maupun bruder,” kata Pak Polus saat berbincang-bincang dengan penulis di aula Panti Asuhan Vincentius Putra, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis, 20/10 lalu.

Awal karir

Di sela-sela kesibukan mengikuti anjangsana ilmiah di Jakarta selama tiga hari (18 – 20/10) lalu, Kepala SDK Boto, Nagawutun, Lembata ini menceritakan perjalanan karirnya sebagai guru.

Pak Polus menuturkan, setelah menyelesaikan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Bhaktiarsa Maumere, kota Kabupaten Sikka, Pulau Flores pada 1974 ia kemudian langsung menjadi guru sekolah dasar (SD).

Kecintaan pada anak didik di kampungnya, Pulau Lembata yang saat itu masih terkebelakang mendorong ia pulang kampung dan menjadi guru Badan Penyelenggara Pendidikan (BP3) di SDK Tobiwutung, Kecamatan Ile Ape, Lembata. Ia memilih sekolah itu yang letaknya di bagian utara Pulau Lembata.

Nasib baik memihak pada guru kelahiran Desa Puor, Kecamatan Wulandoni, tahun 1954 ini. Hanya berselang setahun, pada 1975 ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan mendapat tugas baru di sekolah yang sama, SDK Tobiwutung.

Seiring perjalanan waktu, guru Polus memutuskan segera menikah. Keputusan ini diambil setelah ia menjalin cinta dengan gadis sekampung, Edeltrudis Peni Burin yang juga lulusan SPG.

Si Edel, -Edeltrudis Peni Burin- juga gadis desa yang jatuh cinta pada profesi guru. Ia anak seorang guru yang berjiwa seni dari keluarga besar yang banyak melahirkan wartawan. Sebut saja Karolus Kia Burin (kini PNS di Lembata), Vianey K Burin (kini anggota DPRD Lembata), dan Paulus Kopong Burin (redaktur harian Pos Kupang). Edel juga seorang guru berstatus PNS.

“Setelah berkenalan dan saling jatuh cinta, kami memutuskan menikah tahun 1978 di Gereja Santu Petrus Puor. Upacara pemberkatan dipimpin Pater Lambert Paji Seran, SVD. Pastor Lamber saat itu bertugas di Paroki Boto,” kata ayah empat anak: Ati, Evi, Hans, dan Linda Kobun.

Setelah hampir empat tahun mengabdi di SDK Tobiwutung yang terletak di pantai utara Pulau Lembata, pada awal Januari 1979 keduanya dipindahkan ke SDK Boto, Nagawutun yang terletak di pantai selatan. Tempat tugas baru ini berdekatan dengan kampungnya, Puor. Tugas di Boto mereka jalani hingga tahun 1996.

Loyalitas dan pengabdian yang mereka tunjukkan dalam tugas akhirnya dilirik pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Diknas) setempat. Mulai tahun 1996, misalnya, Paulus Sari Kobun diangkat menjadi Kepala SDK Liwulagang sampai tahun 2000. Sekolah ini terletak kurang lebih dua kilo meter dari Boto dan ditempuh dengan berjalan kaki.

Pasrah

Baginya, menjadi guru sebenarnya bukan suatu hal yang memberatkan. Ini terjadi karena ia menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Tak ada yang berat karena sudah jadi panggilan jiwa.

Namun, satu hal yang membuatnya tak berdaya yakni saat menjadi Kepala SDK Liwulagang. Saat itu, ia jatuh sakit dan praktis tugas-tugas harian ditangani istri dan rekan gurunya. Selang beberapa lama, kesehatannya merosot akibat terserang malaria.

“Kondisi ini membuat saya pasrah dan khawatir dengan nasib anak didik. Apalagi, saya sebagai kepala sekolah yang bertanggung jawab atas kelangsungan kegiatan belajar mengajar. Saya berterima kasih kepada rekan-rekan guru karena solidaritas di antara kami begitu tinggi sehingga tugas-tugas saya bisa ditangani,” katanya.

Khawatir kondisi tubuhnya terus merosot, ia mengusulkan kepada Dinas Dikbud setempat untuk pindah ke Boto. Hal ini dimaksudkan agar ia bisa berobat secara rutin di poliklinik milik susteran SSpS. Pasalnya, di Liwulagang tak ada poliklinik ataupun petugas kesehatan.

“Setelah menunggu empat tahun, saya baru pindah di SDK Boto. Saya sangat bersyukur karena Tuhan selalu memberikan kesehatan bagi keluarga kami. Sejak 2000 hingga saat ini saya dipercayakan menjadi Kepala SDK Boto,” cerita Pak Polus.

Pengabdian selama tiga puluh tahun lebih membuat guru Polus dan istrinya makin memahami makna guru sebagai panggilan jiwa, panggilan hidup.

Baginya, guru juga sebuah profesi mulia. Menjadi guru ternyata membuat ia dan istrinya menolong anak yang tak tahu apa-apa menjadi tahu segalanya. Bahkan membuat anak didik pintar melebihi gurunya.

“Itulah kebanggaan saya dan istri. Kami bangga melihat banyak anak didik menjadi sarjana dengan berbagai disiplin ilmu dan mengabdi di tengah masyarakat. Itulah kepuasan batin kami sekalipun tinggal di desa,” katanya bangga.

Tak hanya itu. Ia bangga karena banyak anak didik mengabdikan diri di ladang Tuhan. Baik sebagai imam, suster, dan bruder. Mereka semua berkarya di dalam negeri dan juga di luar negeri sebagai misionaris.

“Rasanya kami tak bisa melukiskan dengan kata-kata manakala melihat begitu banyak anak didik menjadi berguna bagi orang lain. Hal ini pun terjadi setelah sebagai guru kami pun berusaha sekuat tenaga agar anak didik kami boleh berguna bagi orang lain di kemudian hari. Dan ternyata semuanya terjawab oleh kemurahan Tuhan,” timpal Edel Burin.

Banyak pengalaman bertemu dengan bekas anak didik, membuat keduanya nyaris tak mampu mengungkapkan kebahagiaan mereka dengan kata-kata. Misalnya, saat bertemu dengan bekas muridnya dari SDK Tobiwutung.

“Saat bertemu mereka langsung mencium tangan kami dan memperkenalkan diri sebagai bekas murid. Mereka bangga karena sudah meraih gelar sarjana. Saat itu kami pun baru teringat. Kami bangga karena usaha dan pengabdian kami telah membawa hasil menggembirakan. Begitu juga di Boto. Banyak anak didik yang bisa bekerja di Jakarta. Ada juga yang jadi guru dan mengabdi di Boto,” kata mereka bangga.

Sekolah dan gereja

Selain sebagai guru, pasutri ini juga disibukkan urusan gereja. Pak Polus, misalnya, pernah menjadi Ketua Mudika Paroki St Joseph Boto, Kecamatan Nagawutun, Lembata. Ia juga pernah menjadi Ketua Dewan Paroki Boto.

“Selain menjadi guru kami juga dituntut untuk ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan gereja. Menjadi pengurus gereja dan kemasyarakatan merupakan bagian tugas yang tak terpisahkan. Kegiatan-kegiatan ini membuat kami sangat bahagia karena masih dipercayakan untuk tugas seperti ini,” katanya.

Pasutri ini tetap bahagia karena tugas-tugas lain seperti ini merupakan sebuah realitas yang menuntut keterlibatan mereka sebagai umat di sela-sela tugas pokok mengajar. Mereka menyadari bahwa tugas guru bukan hanya di dalam ruang kelas tetapi juga saat berada di luar. Nah, ketika ditunaikan maka sangat membahagiakan karena menjadi bagian panggilan hidup, panggilan jiwa.

Di bidang olah raga dan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan lainnya, mereka juga selalu ambil bagian. Pak Polus juga terlibat aktif dalam kegiatan pertandingan antarstasi di paroki menjelang Perayaan Paskah dan Natal.

“Saya sering menjadi kapten keseblasan dari Boto dalam pertandingan melawan keseblasan lain. Saya termasuk pemain inti bola volley dan bola kaki Persatuan Olahraga Labalimut (POL), klub dari Boto,” kenangnya.

Mereka juga masih menyisahkan waktu untuk mengerjakan kebun yang diberi masyarakat. Selain menanam padi, ada kebun yang ditanami kemiri, kopi, kelapa, dan tanaman-tanaman niaga lainnya. Setelah hampir puluhan tahun dirawat, kini sudah berbuah dan memberi hasil sehingga menambah penghasilan mereka sebagai guru.

Kebahagiaan itu menjadi lengkap ketika mereka berdua bersama para guru di parokinya yang terhimpun dalam Persatuan Guru dan Pegawai Paroki Boto, berkesempatan melakukan anjangsana ilmiah di Jakarta selama seminggu pada 17 – 20 Oktober 2005 lalu.

Mereka bisa mengunjungi tugu proklamasi di Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Museum Lubang Buaya, Tugu Monumen Nasional (Monas) dan Museum Sejarah.

Anjangsana ilmiah itu terselenggara setelah mendapat restu Bupati dan DPRD Lembata. Oleh karena itu, melalui surat Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan Lembata Nomor: UP.II / 647 / 5963 / 2005 yang ditandatangani Kadis Drs Payong Pukan Martinus, mereka melaksanakan anjangsana ilmiah di Jakarta.

“Kalau dulu kami selalu mengajarkan murid-murid tentang Tugu Monas atau Proklamasi, saat anjangsana ilmiah kami bisa melihat langsung,” kata Pak Polus yang dibenarkan sang istri, Edel Burin.

Keduanya sangat bahagia karena mereka bisa bertatap muka langsung dengan Kepala Pusat Kurikulum (Puskur) Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Depdiknas Dr Bambang Indrianto dan Dra Sri Sukabdia, pakar kurikulum nasional yang staf Dinas Pendidikan nasional (Diknas) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.

Mereka mengunjungi sejumlah tempat bersejarah di Jakarta seperti tugu Proklamator RI di Jalan Proklamasi, Tugu Monas, Museum Sejarah, TMII. Selain itu, mereka juga mengunjungi sejumlah sekolah dan bertukar informasi tentang pendidikan. Misalnya, SDN 01 Jl Bondowwoso, Jakarta, SMPN 216 Jl Salemba Raya Jakarta, dan SDK St Joseph di Jl Kramat Raya, Jakarta untuk bertukar informasi tentang pelaksanaan pendidikan di sekolah masing-masing.

“Pengalaman langka ini yang sangat membahagiakan kami berdua. Saat berada di Jakarta rasanya seperti mimpi saja. Bak si pungguk merindukan bulan. Jakarta menyuguhkan kemajuan fisik yang begitu pesat. Sedang di desa kami hanya disuguhkan suara burung malam dan suasana keheningan khas desa. Kalau saja kemajuan teknologi menyentuh kami mungkin kami juga akan maju seperti orang kota,” ujar pasutri guru ini mengagumi Kota Jakarta.

Meski demikian mereka tetap komit menjalankan tugas sebagai guru. Baginya, kalau Tuhan memberi panjang umur mereka akan eksis di jalur pendidikan. Rasanya, tugas guru tak akan pernah selesai selama hayat masih dikandung badan.

“Ya. Kami harus kembali dengan rutinitas karena guru telah menjadi panggilan jiwa. Melalui profesi ini kami mengabdi sebagai warga yang cinta bangsa. Kami berharap agar Pemerintahan Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Bapak Wakil Presiden Yusuf Kalla senantiasa memperhatikan nasib kami sebagai guru yang jauh tinggal di desa demi sebuah tugas mulia,” kata guru Polus yang diikuti senyum sang istri tercinta. Selamat bertugas Bapak dan Ibu guru. Jasamu tiada tara.
Ansel Deri
Ket. foto: Paulus Sari Kobun dan Edeltrudis Peni Burin.
Sumber: Majalah HIDUP Jakarta
Teks dan foto: Ansel Deri

Tirani Ganda Demokrasi

Written By ansel-boto.blogspot.com on Thursday, January 08, 2009 | 11:06 AM

Oleh Boni Hargens
Penulis, mengajar Ilmu Politik di UI;
Direktur Lingkar Pemilih Indonesia

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Taman Margasatwa Ragunan Jakarta atau Kebun Binatang Ragunan (Kompas, 5/1). Sebelumnya, Jumat (2/1), Wakil Presiden Jusuf Kalla mendatangi Bali Safari and Marine Park di Gianyar, Bali.

”Dalam sebuah negara demokrasi, pemimpin tidak cukup hanya membaca buku, tetapi juga harus turun dan menemui rakyat di jalanan. Itu hanya kiasan. Artinya, setelah saya bermitra dengan DPR dan lembaga-lembaga lainnya dalam pemerintahan, saya juga harus sering datang untuk menemui rakyat,” kata Presiden. ”Tujuan lain, saya ingin mengecek sejauh mana dampak krisis keuangan global di masyarakat. Salah satu ukuran untuk mengetahui itu adalah mengunjungi tempat keramaian. Apakah tempat itu makin ramai atau sebaliknya sepi. Ternyata, dari kunjungan dan laporan, tahun ini jumlahnya justru meningkat.”

Presiden melihat ada perputaran perekonomian dengan meningkatnya pengunjung Ragunan dari 85.000 pada tahun lalu menjadi 113.000 pada tahun ini.

Dua hal perlu digarisbawahi. Pertama, SBY menemui rakyat. Kedua, ramainya tempat wisata berarti ekonomi berputar. Soal lokasi, apakah Ragunan atau Gianyar-nya Jusuf Kalla representatif? Apakah adekuat pengunjung wisata disimpulkan sebagai representasi dari 220 juta rakyat? Di mana posisi mereka yang mendekam di rumah pada hari libur karena tak mampu mendanai liburan di mata Presiden? Di mana posisi mereka yang sibuk di jalanan, di sawah, atau di laut mencari makan di hari raya? Bila dilihat dengan hati, tak ada kata libur dalam kamus hidup orang miskin. Mereka tak butuh liburan, mereka butuh makan.

Dibutuhkan kebijaksanaan untuk membedakan, mana rakyat yang mampu dan mana yang tak mampu. Menggeneralisasi seluruh rakyat dengan hanya melihat mereka yang mampu adalah ketidakbijaksanaan. Setidaknya, ada tendensi melupakan mereka yang bergumul di desa-desa atau berkeringat di kota-kota untuk sebuah hidup yang layak.

Jadi, SBY-JK telah keliru menentukan tempat berlibur jika benar menemui rakyat sebagai misi intensional.

Berikut, soal keramaian sebagai parameter ekonomi berputar. Selain diperlukan kajian khusus tentang signifikansi korelasi antara keramaian wisata dan perputaran ekonomi, tesis Presiden ini memperpanjang deret kontroversi. Dulu, saat Lebaran, SBY bilang, ”Sekarang ini makin sedikit penduduk miskin di Indonesia. Buktinya, dulu orang mudik Lebaran naik kereta api, sekarang mereka naik motor.” Kontroversi dilengkapi JK. ”Kemacetan di Jakarta bukti bahwa orang Indonesia makin kaya. Makin banyak yang mampu beli mobil,” kata Wakil Presiden.

Di lain kesempatan, JK berbicara listrik. ”Krisis listrik bukan disebabkan kurangnya pasokan, tetapi justru karena permintaan listrik meningkat karena rakyat banyak yang pakai AC. Itu tandanya makin sejahtera.”

Dua bentuk

Pada dirinya, prinsip demokrasi mengandung dilema. Prinsip mayoritas adalah kekuatan, sekaligus kelemahan. Jack Lively (1975) atau James S Fishkin (1979) mengulas dengan cerdas soal ”tirani mayoritas” sebagai kelemahan demokrasi. Dikatakan, prinsip mayoritas secara natural melahirkan tirani ketika yang dimutlakkan adalah suara terbanyak, bukan prinsip benar-salah. Contoh paling tua, pengadilan Socrates di Athena pada abad ke-5 SM. Socrates dihukum mati bukan karena ia salah, melainkan karena mayoritas memvonis ia salah.

Untuk konteks Indonesia, tirani demokrasi muncul dalam dua bentuk, yakni tirani legitimasi dan tirani popularitas. Tirani legitimasi mengacu pada sikap politik ’kebal kritik’ yang dipamerkan pemerintah atau wakil rakyat yang dipilih secara langsung. Sebagai implikasi, proses politik berlangsung secara monolitik. Selanjutnya, tirani popularitas mengacu pada penekanan berlebihan pada aspek citra sehingga kinerja dinomorsekiankan. Popularitas diutamakan sedemikian rupa sehingga implementasi politik hanyalah sebuah aksi tebar pesona. Indikasi lain tirani popularitas adalah ramainya para selebriti masuk dunia politik. Bahkan, pelaku politik yang tak dikenal pun sibuk memopulerkan diri.

Betul, dalam politik citra penting. Namun, ketika citra dijadikan tujuan, seluruh nilai luhur politik dikesampingkan dengan sendirinya. Integritas dan kualitas pun tak lagi diperhatikan demi sebuah popularitas. Politics as popularity contest, politik sekadar kontes popularitas, tulis Elie Friedman dari Netanya Academic College di Jerusalem Post (3/12/2008). Friedman selaras dengan Ken Black, seorang kolumnis di harian Times-Republican di Iowa, AS. Black mengatakan, politik yang berkaitan dengan integritas hanyalah omongan kosong di bangku sekolah dasar ketika kita memilih ketua kelas. Politik yang sesungguhnya menyangkut siapa yang paling banyak menyebar striker dan membagikan pin. Politik adalah urusan siapa yang paling populer (2/11/2008).

Tirani ganda tengah menghantui kita. Pemilu 2009 akan sulit bermutu, apalagi untuk diharapkan sebagai titik balik pembangunan demokrasi, jika pelaku politik masih menempatkan popularitas di atas integritas. Siapa pun, dari partai apa pun, sulit menjadi pemimpin sejati bila legitimasi yang didapat dalam pemilu langsung dijadikan dasar berbuat semaunya dan menolak segala bentuk kritik dan kontrol.

Tirani ganda ini hanya mungkin dihindari dengan ketajaman setiap kita dalam memilah dan memilih para calon pemimpin dalam pemilu. Untuk itu, dibutuhkan informasi lengkap dan pertimbangan moral dalam menentukan pilihan. 
Sumber: Kompas, 7 Januari 2009

Suara Terbanyak dan Kualitas Parlemen

Written By ansel-boto.blogspot.com on Monday, January 05, 2009 | 11:08 AM


Mahkamah Konstitusi akhirnya menganulir mekanisme penetapan calon anggota legislatif terpilih yang dianut UU No 10/2008 dan menggantinya dengan sistem suara terbanyak. Kedaulatan rakyat dipulihkan. Namun, adakah dampaknya bagi peningkatan kualitas para wakil rakyat dan lembaga perwakilan?

Terlepas dari berbagai kontroversi, inkonsistensi, dan ambivalensi partai-partai politik dalam menyikapi sistem suara terbanyak sejak UU tersebut dibahas di DPR, keputusan MK patut diapresiasi sebagai bentuk penghormatan terhadap suara rakyat. Keputusan tersebut tak hanya memutus mata rantai oligarki pimpinan partai dalam penetapan calon anggota legislatif (caleg), tetapi juga mendorong para caleg untuk bekerja keras meraih dukungan dan simpati publik.

Itu artinya pula, era berpangku tangan bagi pengurus partai yang umumnya berada di urutan teratas daftar caleg telah berakhir.

Pertanyaannya, apakah sistem suara terbanyak berkorelasi dengan meningkatnya kualitas akuntabilitas para wakil di satu pihak dan kualitas lembaga perwakilan di tingkat nasional/lokal (DPR/DPRD) di pihak lain?

Banyak faktor

Sistem penetapan caleg terpilih sebenarnya hanya salah satu dari banyak faktor yang memengaruhi kualitas akuntabilitas wakil rakyat dan parlemen. Sistem nomor urut bisa saja lebih baik apabila parpol-parpol peserta pemilu melakukan seleksi caleg secara transparan, partisipatif, dan demokratis. Artinya, urutan nama dalam daftar caleg disusun atas dasar kompetensi dan kualifikasi para caleg, bukan berdasarkan relasi personal caleg dengan pimpinan partai.

Akan tetapi, dalam situasi di mana sebagian daftar caleg disusun atas dasar selera subyektif pimpinan partai, kedekatan personal, dan kontribusi dana para caleg, sistem suara terbanyak merupakan pilihan terbaik. Namun, masih ada beberapa faktor lain agar pilihan rakyat atas dasar suara terbanyak berkontribusi pada peningkatan akuntabilitas para wakil dan parlemen.

Pertama, kualitas konstituen atau para pemilih. Pengetahuan konstituen tentang sosok para caleg turut menentukan kualitas hasil pilihan rakyat. Persoalannya, dalam era kebebasan pers dan informasi dewasa ini, terbuka peluang bagi para caleg yang memiliki dana besar untuk memanipulasi sosok dan profil ”asli” mereka. Maka, tidak mustahil jika sebagian yang terpilih adalah mereka yang belum tentu berpihak pada kepentingan rakyat.

Kedua, kualitas para caleg. Sudah menjadi rahasia umum bahwa proses seleksi caleg sebagian besar parpol di Tanah Air masih buruk. Gabungan faktor popularitas (artis atau figur publik), kemampuan finansial, dan kedekatan personal/keluarga caleg dengan pengurus partai, masih mendominasi penentuan caleg. Ini tentu berdampak pada kualitas wakil meski terpilih melalui suara terbanyak.

Ketiga, kualitas parpol peserta pemilu. Kecuali penetrasi masif tanda gambar, umbul-umbul, baliho, dan gambar diri para caleg yang mengepung seantero negeri dewasa ini, hampir-hampir tak pernah jelas, apa sesungguhnya yang ditawarkan parpol-parpol untuk memperbaiki bangsa kita. Partai-partai hanya merayu rakyat untuk mendukungnya tanpa program politik genuine yang benar-benar menjanjikan perubahan nasib rakyat.

Keempat, faktor teknis surat suara. Apabila 38 partai politik di setiap daerah pemilihan (3-10 kursi) mengajukan caleg untuk DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dalam jumlah maksimal yang diperkenankan UU Pemilu (120 persen), maka setiap surat suara secara terpisah akan memuat 136-456 nama caleg. Belum termasuk caleg untuk lembaga DPD yang jumlahnya bervariasi di setiap provinsi. Itu artinya, pemilih harus mencontreng empat nama (masing-masing untuk DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota) dari ratusan hingga lebih dari 1.000 nama caleg dalam surat suara. Ironisnya, pemilih hanya memiliki waktu beberapa menit di bilik suara untuk memutuskan pilihannya.

Momentum berubah

Dalam kondisi seperti diuraikan, suara terbanyak sebagai mekanisme penetapan caleg terpilih sebenarnya baru ”seteguk air” di tengah rimba persoalan peningkatan kualitas akuntabilitas para wakil dan lembaga perwakilan. Agenda besar bangsa ini berikutnya adalah mencari terobosan agar mekanisme suara terbanyak berkorelasi positif bagi peningkatan kualitas para wakil terpilih dan parlemen. Itu artinya, sosialisasi pemilu secara intensif dan pendidikan pemilih secara benar diperlukan agar rakyat semakin cerdas dalam menentukan pilihan politiknya.

Jika pemilih semakin cerdas, mekanisme suara terbanyak bisa menjadi momentum bagi rakyat untuk ”mengadili” para wakil dan partai yang tidak bertanggung jawab. Setelah menunggu hampir lima tahun, inilah saatnya rakyat bicara, memilih caleg dan atau partai yang dianggap lebih menjanjikan dibandingkan yang lain.

Karena itu, mekanisme suara terbanyak yang diputuskan MK semestinya menjadi momentum bagi parpol-parpol untuk berubah, dari sekadar ajang merebut kursi menjadi wadah perjuangan untuk mengubah nasib rakyat. Juga, momentum bagi para wakil dan partai-partai untuk berkaca: apa saja yang telah mereka perbuat untuk memperbaiki kehidupan kolektif.

Kalau para politisi dan partai tidak berubah, maka hampir tak ada kontribusi signifikan mekanisme suara terbanyak kecuali sekadar perbaikan prosedur demokrasi. Padahal, yang diperlukan negeri ini bukan hanya prosedur demokrasi, tetapi juga para wakil, parpol, dan parlemen yang lebih bertanggung jawab serta bekerja untuk rakyatnya.
Syamsuddin Haris
Profesor Riset Ilmu Politik LIPI
Sumber: Kompas, 5/1 2009

Petronela Peni Sanga: Berprestasi Demi Soga Naran Lewotana

Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Kamis (5/12) siang. Panas matahari terus membakar. Sesosok wanita berambut ikal turun dari mobil sedan ditemani seorang pria. Sosok wanita itu tak lain Petronela Peni Sanga, AMK, SKM. Bu Nela, begitu sehari-hari disapa, didampingi sang suami, Drs Herman Yosef Loli Wutun, MBA.

Hari itu, Petronela Peni Sanga mengikuti Wisuda Sarjana dan Diploma Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Masyarakat (STIKes) Mitra Ria Husada Jakarta di Gedung Sasono Langen Budoyo, kompleks TMII, Jakarta Timur.

Ada kebanggaan yang membuncah di hati Bu Nela. Pasalnya, perawat kelahiran Kolimasan, Pulau Adonara, Flores Timur (Flotim), 25 November 1959 ini juga meraih prestasi akademik membanggakan.

“Saya tak menyangka menjadi Wisudawati Terbaik I Program Studi S-1 Kesehatan Masyarakat. Informasi itu saya baru terima saat kami gladi bersih sehari sebelum wisuda. Sempat berpikir tak beritahu suami dan anak-anak,” kata Bu Nela kepada Flores Pos di rumahnya, di Kota Wisata, Cibubur, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat.

Ibu empat anak: Mawar, Rose, Pedro, dan Mathilda Wutun, ini berpikir mungkin suami dan anak-anaknya tahu sendiri saat wisuda. Ya, sekalian buat kejutan. Tapi, ia tak sampai hati sehingga malam sebelum wisuda, prestasi akademik membanggakan itu ia bocorkan kepada mereka.

“Mereka kaget, tak menyangka saya jadi wisudawati terbaik pertama di jurusan. Bagi saya, prestasi ini menjadi kebanggaan berkat doa dan dukungan keluarga. Saya bisa mengangkat nama daerah dan tempat tugas. Juga menjadi kebanggaan orangtua dan saudara-saudara karena saya ikut mengangkat nama kampung halaman. Orangtua di kampung bilang soga naran lewotana,” lanjut Bu Nela.

Bu Nela adalah satu dari 302 wisudawan/wisudawati STIKes Mitra Ria Husada yang berhasil diwisuda saat itu. Mereka terdiri dari 12 wisudawan/wisudawati Sarjana Kesehatan Masyarakat dan 59 wisudawati Diploma IV Kebidanan serta 231 Diploma III Kebidanan.

“Secara pribadi maupun sebagai Ketua STIKes bersama seluruh staf, karyawan, dan civitas akademika saya sampaikan terima kasih kalian semua menyelesaikan studi dengan prestasi membanggakan. Bekal ilmu yang kalian terima terus dikembangkan. Kemudian diabadikan bagi pelayanan kesehatan untuk bangsa dan negara,” ujar Ketua STIKes Mitra Ria Husada Prof Dr dr Buchari Lapau, MPH.

Tugas di Kupang

Sehari-hari, Bu Nela bertugas di Rumah Sakit Umum (RSU) Prof Dr WZ Yohannes Kupang. Statusnya, pegawai negeri sipil (PNS). Namun, ia mengikuti suaminya, Herman Wutun, yang kini menjabat Ketua Umum Induk Koperasi Unit Desa Indonesia (Inkud) periode kedua dan berkantor di Graha Inkud, kawasan Warung Buncit, Kecamatan Mampang, Jakarta Selatan.

Nah, di sela-sela mengikuti suami Bu Nela sepertinya tak mau kehilangan momentum berharga selama tinggal di Jakarta terutama dalam menimba ilmu.

“Selain mengurus suami dan anak-anak, saya pikir mungkin bisa sambil kuliah ke jenjang strata satu. Setelah dipertimbangkan bersama, kami mencari kampus yang berada dekat tempat tinggal. Selain tak mengganggu tugas rumah dan pendidikan anak-anak, saya mendaftar dan diterima di STIKes Mitra Ria Husada. Kebetulan jalur angkutannya juga sangat mudah dan terhindar kemacetan,” cerita perawat yang ramah ini.

Pilihan untuk lanjut kuliah S-1 juga atas ijin dari RSU WZ Yohannes Kupang. Jauh sebelum itu, pada 2006 Bu Nela langsung menghadap Direktur RSU WZ Yohannes dr Yovita Anike Mitak, MPH. Pertimbangannya, jika ia bekerja sebagai perawat maka kemungkinan ditempatkan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat sesuai domisili suaminya.

“Saya meminta ijin kuliah saja. Hal ini saya pikir tepat karena apa artinya jika bekerja tetapi mengganggu tugas suami dan anak-anak. Saat itu direktur mengiyakan dan saya langsung melengkapi persyaratan administrasi yang diperlukan. Ya, saat itu saya lebih mantap memilih kuliah,” cerita Bu Nela.

Ilmu Sangat Penting

Bu Nela mengakui, pilihan kuliah ke jenjang S-1 tidak berpengaruh pada kenaikan pangkatnya. Baginya, kuliah lebih termotivasi menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi masa depannya. Apalagi, kuliah juga tak mengenal usia atau life long education. Melalui pendidikan, banyak ilmu pengetahuan dan teknologi bisa dipelajari.

“Sejak sekolah di kampung, saya selalu dinasehati orangtua bahwa ilmu pengetahuan itu sangat penting. Siapapun, baik laki-laki maupun perempuan punya kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Itu yang selalu ditanamkan orangtua saya,” ujar perawat yang terlahir sebagai anak ketiga dari sepuluh bersaudara pasangan Philipus Ola Padji dan Maria Liwat Tena.

Nasehat orangtua itulah yang mungkin dilanjutkan Bu Nela kepada putra dan putrinya. Anak sulungnya, MB Mawarni G Wutun (Mawar) saat ini sedang merampungkan studi Magister (S-2) pada Program Pascasarjana Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atmajaya Jakarta. Anak kedua, Hermawati Rose LT Wutun (Rose) kuliah di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Trisakiti (Usakti) Jakarta.

Sedangkan anak ketiga, Pedro Sarmento Aster Pehan Wutun (Pedro) sedang sekolah di sebuah SMA di kota Kupang. Kemudian si bungsu, Mathilda Oliander NM Wutun (Mathilda) sekolah di sebuah SMP di Jakarta.

Bu Nela merasa bangga. Selama di bangku kuliah, banyak ilmu dan pengetahuan baru diperoleh dengan mudah. Perawat yang satu ini juga lebih gampang beradaptasi dengan teknologi komunikasi melalui internet.

“Kalau dulu masih gagap teknologi, saat kuliah sedikit terobati. Saya bisa memperoleh banyak informasi lewat internet. Banyak bahan kuliah saya akses dari internet kemudian anak-anak ikut membantu menerjemahkan. Suami juga sangat membantu membelikan literatur yang saya butuhkan,” katanya.

Semua itu sangat membantunya selama kuliah. Tak ayal, Bu Nela sepertinya mau membayar dukungan keluarganya melalui prestasi akademik hingga ditetapkan sebagai Wisudawati Terbaik I di jurusan Kesehatan Masyarakat. Perawat yang satu ini menulis skripsi Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penyakit Diabetes Melitus langsung di bawah bimbingan Prof Dr dr Buchari Lapau, MPH.

Ia berhasil meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,46. Uang Rp. 1 juta juga berhak ia terima langsung dari Prof Buchari di sela-sela acara wisuda yang dihadiri ribuan undangan dan tamu. Proficiat, Bu Bidan!
Ket Foto: Petronela Peni Sanga dan suaminya, Herman Wutun.
Sumber:
Flores Pos, 5 Januari 2009. Teks & foto: Ansel Deri
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger