Headlines News :

Kesalahan Pria Saat Berhubungan Seks

Written By ansel-boto.blogspot.com on Friday, September 25, 2009 | 11:49 AM

Jika Anda merasa paling tahu soal seks, salah! karena menurut penelitian yang dilansir Mens'Health, ada beberapa kesalahan yang acap dilakukan pria saat berhubungan seksual dengan pasangannya.


Anda mungkin bisa belajar lewat film bagaimana melakukannya. Tapi menurut beberapa pihak, justru film semakin menjauhkan Anda dari realita seks sebenarnya. Adegan-adegan dalam blue film kadang tidak runtut, dan hanya menampilkan klimaksnya. Anda justru disarankan belajar dari pengalaman, dan memperhatikan apa yang menjadi keinginan pasangan.


Ada beberapa kesalahan umum yang kerap dilakukan para pria di ranjang, di antaranya:


Merasa paling tahu apa yang wanita inginkan


Pria sering membuat asumsi tentang apa yang seorang wanita inginkan berdasarkan apa yang telah mereka lakukan dengan wanita lain. Padahal, tidak semua wanita sama. Anda seharusnya tidak berpikir bahwa apa yang Anda lakukan kepada wanita ini akan sama apabila Anda lakukan kepada wanita itu.


Hal ini tidak hanya berlaku pada hubungan intim tetapi juga hubungan biasa. Ada wanita yang sulit melakukan hubungan intim, ada yang mudah dan ada yang diantara keduanya. Anda harus bisa memahami keinginan pasangan Anda.


Merasa memiliki semua yang wanita butuhkan


Beberapa wanita tidak dapat mencapai orgasme kurang dari 10 menit. Diperlukan lebih banyak variasi foreplay. Demikian pula, tidak semua lidah dan jari manusia dapat membangkitkan vibrasi, karena itu, jangan ragu menggunakan alat bantu bila memang perlu. Tapi, biasanya pria berpikir, ada yang salah jika seorang wanita membutuhkan vibrator. Ia merasa tidak dibutuhkan lagi. padahal, vibrator hanyalah alat bantu, bukan pengganti Anda. Banyak pasangan menggunakan vibrator bersama.


Merasa paling tahu apa yang wanita rasakan


Ketika berhubungan intim, pria dan wanita cenderung kesulitan untuk mencapai kenikmatan bersama. Ketika seorang pria sedang berhubungan intim dengan wanita, dan penis masuk ke dalam vagina, pria biasanya merasakan sensasi paling hebat. Namun hal itu belum tentu sama dengan apa yang wanita rasakan. Bagian dalam vagina mungkin lebih sensitif daripada di bagian luarnya. Sehingga, mendorong penis lebih dalam belum tentu sama nikmatnya dengan menerimanya. Jika penis terlalu panjang, bagi wanita rasanya seperti menghantam perut. Jadi, sekali lagi, komunikasikan semuanya dengan pasangan Anda!


Merasa paling memahami antomi wanita


Kebanyakan pria tahu apa itu klitoris dan di mana menemukannya. Tapi, itu tidak berarti bahwa pria benar-benar memahami seluruh anatomi dan fungsi tubuh wanita. Sentuhan pada klitoris pada wanita bisa menjadi stimulasi, bisa juga tidak. Wanita bisa merasa senang tapi bisa juga malah sebaliknya. Lalu, bagaimana Anda mengetahuinya? "coba tanyakan saja!".


"basah=mulai"


Pria kadang-kadang menyerah jika seorang wanita tidak cukup licin untuk penetrasi, karena berpikir bahwa saat wanita telah mengeluarkan cairan vaginanya, berarti ia telah siap memulai. Padahal, tingkat 'kebasahan' seorang wanita tidak selalu bisa jadi patokan.




Beberapa wanita cenderung lebih basah dibanding wanita lain. Pengeluaran cairan itu juga sangat bergantung pada fase menstruasi, pengaruh dari stres, atau obat yang dikonsumsinya.


Diam adalah emas


Kebanyakan pria berpikir mereka seharusnya diam selama melakukan hubungan intim, padahal belum tentu pasangan enjoy dengan hal itu. Asal Anda tahu, wanita akan senang ketika Anda memberikan beberapa petunjuk. Kadang,s memang percakapan cukup diperlukan.
Sumber: Suara Merdeka, 27 Februari 2009

Dana Multi Years Rp 58 M Agar Dikaji Ulang

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lembata diminta mengkaji atau membahas ulang persetujuan alokasi anggaran multi years sebesar Rp 58.639.540.287. Alokasi dana sebesar ini sudah disetujui DPRD periode sebelumnya (2004- 2009) untuk membiayai sejumlah proyek jalan raya dan kantor tahun 2010-2011.

Pembahasan ulang perlu dilakukan agar anggaran sebesar itu tidak dihamburkan percuma. "Saya sudah sampaikan gagasan ini kepada banyak teman anggota dewan yang baru supaya kaji ulang dan koreksi lagi alokasi anggaran ini," kata Direktur Florata Corruption Watch, Piter Bala Wukak, S.H kepada Pos Kupang di Lewoleba, Rabu (23/9/2009).

Dia menilai, DPRD periode 2004-2009 terkesan terburu-buru menyetujui alokasi anggaran tersebut di penghujung masa tugas mereka. Piter juga mempertanyakan mengapa pemerintah mengusulkan alokasi dana begitu besar di akhir masa tugas DPRD 2004-2009.

"Selama ini pemerintah ke mana? Kenapa baru berpikir ketika DPRD akan berakhir dan ketika kepimpinan kedua ini juga mau berakhir baru ajukan alokasi dana sebesar itu untuk kerja proyek? Apakah supaya nanti ada penilaian setelah turun dari jabatan ada pekerjaan fenomenal yang bisa diwarisi?" tanya Piter.

Menurut dia, terlampau banyak proyek jalan, jembatan, gedung pemerintahan dan fasilitas air bersih yang mubazir dan tidak berdaya guna bagi kepentingan rakyat Lembata. Contohnya, pabrik es di Waijarang, tempat pelelangan ikan, yang tidak pernah digunakan sejak dibangun beberapa tahun silam. Banyak ruas jalan dan jembatan rusak dalam hitungan bulan, kantor bupati di Lusikawak dan rumah jabatan pun mubazir dan menjadi "gedung hantu" karena tidak ditempati.

"Saya khawatir proyek multi years nasibnya juga sama seperti proyek bermasalah terdahulu. Uang puluhan miliar dihabiskan untuk membangun fasilitas umum dan sosial, tapi tidak dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Saya sarankan kaji kembali persetujuan alokasi dana sebesar Rp 58 miliar lebih itu. Kalau argumentasi pemerintah diiragukan, batalkan saja karena yang susah nanti bukan pemerintah tetapi masyarakat banyak," tandas Piter.

KETUA sementara DPRD Lembata, Yohanes de Rosari menyatakan, DPRD Lembata periode 2009-2014 akan mempertimbangkan untuk meninjau ulang keputusan DPRD periode sebelumnya yang menyetujui anggaran multi years sebesar Rp 58.639.540.287.

"Banyak suara di kalangan anggota Dewan yang menghendaki agar alokasi dana multi years ini ditinjau kembali. Dewan periode sebelumnya boleh saja beri persetujuan, tetapi pelaksanaan anggaran pada dewan periode yang baru. Kami berhak mengkaji dan memberikan pertimbangan lain," katanya di rumahnya, Selasa (22/9/2009).

Ketua DPD II Golkar Kabupaten Lembata ini, menambahkan, peruntukan dana itu harus obyektif. Alokasinya harus benar-benar untuk sektor yang sangat dibutuhkan dan disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. Sebab, sektor-sektor vital lainnya juga membutuhkan angaran yang besar pula.

"Kasih kami waktu untuk mengkajinya. Aspirasi dan pikiran yang berkembang di masyarakat tentu menjadi pertimbangan dan perhatian kami," janji de Rosari.

Menurut de Rosari, sekecil apa pun alokasi anggaran pembangunan harus bisa memberi manfaat kepada masyarakat. Kasus-kasus proyek mubasir harus menjadi perhatian pemerintah memberikan persetujuan anggaran dan memaksimal fungsi control anggaran dan pekerjaan pemerintah. (ius)

Sumber: Pos Kupang, 25 September 2009

Ket foto: Ilustrasi

Merauke, Surga Kecil yang Jatuh di Bumi

Tanah Papua, tanah yang kaya. Surga kecil jatuh ke bumi. Itu adalah petikan syair lagu berjudul Aku Papua.

Merauke adalah bagian dari surga itu. Sebuah kabupaten di bagian selatan Papua seluas 4,5 juta hektar dan berpenduduk sekitar 300.000 orang.

Pertengahan Agustus 2009 lalu, rombongan yang dipimpin pimpinan perusahaan Medco, Arifin Panigoro, datang ke tanah ini atas undangan Bupati Merauke Johanes Gluba Gebze.

Di antara rombongan ada Duta Besar Amerika Serikat Cameron R. Hume, pejabat politik (political officer) Kedutaan Besar AS di Indonesia Matthew A Cencer, Direktur Bank Rakyat Indonesia Bambang Soepeno, serta wartawan senior Fikri Jufri dan Aristides Katopo.

Di kawasan Nilam Wasur, sebuah tempat jauh dari kota Merauke, Arifin Panigoro diangkat sebagai salah seorang warga marga Gebze dengan sebuah upacara sakral suku besar di tanah Merauke, Marind Anim.

Dalam pidatonya, Johanes Gebze mengatakan, kini roh Marind Anim telah merasuk dalam diri Arifin Panigoro. Pengusaha besar dari Jakarta itu diberi nama Namek Arifin Warfuk Gebze.


Anggrek wangi

 
Dalam pidatonya, Arifin mengatakan, upacara ini sudah pasti dengan restu alam dan Yang Maha Transenden. ”Buktinya, di tepi jalan sepanjang jalan menuju tempat itu bunga-bunga anggrek yang beraneka ragam jenisnya mekar. Mengherankan sekali, anggrek ini menebarkan aroma wangi bagaikan melati. Hanya di Merauke ada bunga anggrek wangi,” ujarnya.
 

Arifin juga mengatakan, upacara kekeluargaan ini tidak boleh berhenti di sini saja, tapi harus berlanjut dengan menolong membangun Merauke.
 

Johanes Gebze mengatakan, pembangunan di Merauke harus memerhatikan lingkungan alam keragaman hayati yang ada. Arifin juga mengakui, Papua termasuk Merauke adalah tanah yang sakral dan magis. Untuk membangun kawasan ini tidak bisa sembarangan.
 

Dari Johanes Gebze selaku pengusaha pemerintahan tanah Merauke, Medco yang dipimpin Arifin Panigoro mendapat konsesi mengelola tanah dan hutan seluas 350.000 hektar. Tanah yang sudah digarap sampai kini antara lain sekitar 160.000 hektar berupa penanaman padi dan berbagai macam tanaman seperti pohon minyak kayu putih (tanaman asli setempat). 

Proyek Medco berada di tepi Sungai Bian, sekitar 20 menit dengan pesawat dari Merauke. Di kawasan itu telah dibangun sebuah base camp yang telah ditempati oleh sekitar 500 karyawan, termasuk 100 orang dari berbagai suku asli Papua.
 

Setelah upacara adat, rombongan berkumpul di Bandar Udara Mopah, Merauke. Sebelum makan malam, menyanyi, dan menari, rombongan berdiskusi tentang strategi membangun Merauke.
 

Dubes AS Cameron R. Hume berbicara soal menjaga kelestarian alam dalam menghadapi perubahan iklim, sementara Arifin bicara soal keistimewaan tanah Merauke yang bisa dinikmati banyak orang dari luar Merauke. Di tanah ini bisa dibangun pusat wisata. Merauke adalah sebuah wilayah tanah datar.
 

Di Merauke ada kanguru, ribuan rumah semut seperti pondok-pondok rumah manusia, ribuan buaya, rusa, dan pantai yang amat luas. Selain itu, juga terdapat puluhan sungai besar yang bisa dilayari dengan perahu-perahu besar.
 

Dalam diskusi itu, dua pejabat Conservation International (lembaga penjaga kelestarian alam internasional) untuk Indonesia, Jatna Supriatna dan Neville Kemp (orang Inggris yang pernah hidup 15 tahun di pedalaman Papua), mengingatkan, Merauke punya keunikan yang tiada tara. Menurut Kemp, pendekatan sosial dan menghormati adat setempat juga bagian dari pembangunan Merauke. ”Kesalahan pendekatan dan penghinaan terhadap adat bisa menimbulkan kerugian dahsyat,” ujarnya.
 

Kehadiran Dubes AS tanpa pengawalan petugas keamanan menunjukkan Merauke adalah tanah yang aman dan damai. Namun, keamanan dan kedamaian itu bisa terusik bila tidak memerhatikan peringatan Neville Kemp.
 

Mindiptana, sebuah kecamatan di Kabupaten Boven Digoel, tetangga Merauke yang berbatasan dengan Papua Niugini, hingga kini masih bergolak.
 

Berkaitan dengan kelekatan dengan NKRI ini, Mindiptana masih rentan karena keunikan setempat yang tidak dihormati sejak masa Orde Baru dulu. (J Osdar)

Ket foto: Rumah semut setinggi satu hingga dua meter banyak dijumpai di Taman Nasional Wasur, Kabupaten Merauke, Papua, seperti terlihat beberapa waktu lalu. Sumber: Kompas, 25 September 2009

Thomas Ataladjar, Anak Kampung Lembata Penulis Sejarah Jakarta

Seorang putra Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) Thomas Ataladjar diam-diam ternyata sangat paham dengan dinamika kota Jakarta yang dulu bernama Batavia.

Thomas, akhirnya menuangkan pengetahuan dan pengalamannya itu dalam buku berjudul Toko Merah, Saksi Kejayaan Batavia Lama di Tepian Muara Ciliwung yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.

“Buku itu sudah lama terbit namun sangat menarik sehingga kerap menjadi rujukan bagi wartawan nasional maupun internasional dalam menyelami dan menulis sisi lain sejarah Jakarta tempo dulu. Buku saya itu juga dipajang di gedung-gedung bersejarah di kota Jakarta,” ujar Thomas Ataladjar di rumahnya, Perumahan Bojong Gede, Depok, Jawa Barat belum lama ini.

Judul buku tersebut, terinspirasi oleh Toko Merah yang merupakan salah satu bangunan tua bersejarah. Usianya 300 tahun lebih. Toko Merah, kata gubernur DKI (1996-1997) Ali Sadikin (almahrum) juga merupakan salah satu dari 216 monumen cagar budaya yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta.

“Toko Merah merupakan satu-satunya bekas rumah tinggal elit dari zaman VOC, yang paling utuh dan paling terawat serta terus mempertahankan keasliannya hingga kini. Sebagai salah satu bangunan cagar budaya, bangunan Toko Merah perlu terus dijaga kelestariannya,” ujar Bang Ali, sapaan akrab Ali Sadikin.

Sukses menulis buku tersebut bertolak dari pengalamannya menjadi wartawan di sejumlah surat kabar dan majalah terbitan Jakarta. Juga pengalamannya sebagai karyawan di sejumlah kantor swasta di Jakarta.

Thomas pun melirik bangunan Toko Merah untuk menelusuri sisi lain sejarah Jakarta. Bangunan Toko Merah, diceritakan Thomas, berada di kawasan Kota Batavia Lama, Jalan Kali Besar Barat Nomor 11 Jakarta. Baik Thomas maupun Ali Sadikin berpendapat, Toko Merah merupakan salah satu bangunan tua bersejarah dan cagar budaya yang perlu terus dilindungi, dilestarikan, dan dipromosikan.
Hal ini penting karena merupakan aset sejarah budaya dan aset wisata sejarah Jakarta yang bisa mendatangkan nilai ekonomis yang tinggi bila dikelola secara profesional. Tak ayal, masyarakat penghuni kota diingatkan agar jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Menurut Thomas, ada dua hal mendasar ia menulis sejarah Jakarta dengan starting point bangunan Toko Merah. Pertama, sebagai karyawan PT Dharma Niaga yang bertahun-tahun berkantor di bangunan ini teramat sering ia melihat wisatawan asing, mahasiswa, dan wartawan yang mengunjungi gedung ini.

Namun, tak satupun karyawan kantor perusahaan itu yang dapat memberikan keterangan sedikitpun tentang bangunan itu kepada mereka. Kebanyakan karyawan bahkan tidak tahu kalau kantor tempatnya bekerja merupakan sebuah bangunan bersejarah. Katanya bangunan bersejarah, tapi tak ada yang tahu di mana letak kesejarahannya.

Apalagi kisah dan riwayat para penghuninya serta aspek arsitekturnya. Inilah yang merupakan awal pemacu inner-drive Thomas untuk mencoba mencari tahu perihal riwayat kesejarahan gedung ini.

Kedua, setelah membaca buku Historical Sites for Jakarta karya Adolf Heuken, Thomas mulai menemukan sebuah titik terang paling tidak sebagai pijakan awal untuk memulai pelacakan. Keterangan yang diberikan mengenai Toko Merah dalam buku karya seorang imam Katolik dari Serikat Jesuit yang banyak menulis tentang sejarah Kota Jakarta itu pun sangat sedikit.

Dalam bukunya, Thomas mengemukakan bahwa warga Jakarta, khususnya suku Betawi, mungkin tak banyak yang belum tahu sejarah gedung Museum Pusat di Jl Merdeka Barat No. 12 Jakarta atau lebih beken dengan sebutan Gedung Jodoh.

Setelah dirampungkan pembangunan fisiknya pada 1868, gedung ini menjadi tempat mangkal muda mudi Betawi. Kehadiran mereka bukan untuk menontong arca gajah perunggu hadia raja Thailand yang dipajang di halaman depan gedung. Bukan pula menyaksikan ratusan arca bisu di gedung itu. Kehadiran noni-noni Betawi juga bukan sekadar mejeng tetapi mereka berharap bisa dilirik para lelaki yang ngetem di sana.

Bowo, seorang tenaga satpam Toko Merah punya sebuah kisah unik saat berjaga malam di gedung itu. Kisanya, menjelang maghrib semua pintu dan jendela di kantor ini (Toko Merah-pen) telah mereka tutup dan kunci rapat-rapat. Semua ruangan di dalam bangunan ini telah mereka tutup rapat-rapat.

“Gagang pintu itu kutarik. Sialan, terkunci dari dalam. Siapa di dalam?’ Ada suara perempuan merintih,” lanjut Bowo. Satpam itu menyiapkan pentungan. Apa yang ia lakukan? Benarkan para soldadu Kompeni melakukan perkosaan?

Thomas juga menyuguhkan kisah unik yang menyertai perjalanan waktu Toko Merah. Menurutnya, pada masa Kolonial Belanda, ada budak Timor yang pernah menjadi pekerja kantoran. Setelah meninggal, hantu-hantu budak Timor pun bergentayangan di bangunan Toko Merah.

“Kulitnya hitam manis dan rambutnya ikal. Profil wajah pria asal daerah Timor, yang banyak saya kenal di Jakarta. Saya berusaha senyum dan hendak menyapanya, tapi lidah saya kelu,” cerita Isaac Ririmasse, seorang karyawan PT Dharma Niaga yang diwawancarai Thomas Ataladjar.

Menurut Prof Dr Adrian B Lapian, buku karya putra Lembata ini membawa pembaca kepada suatu jaman yang masih mengenal perbudakan. Di samping gambaran tentang pemilik gedung yang banyak berperan dalam panggung sejarah kolonial, di samping tokoh-tokoh sejarah yang termasuk high society di Batavia, kita dapat membayangkan penghuni-penghuni lainnya yang berstatus budak yang berasal berbagai penjuru nusantara, India, Sri Langka, Taiwan bahkan Afrika.

“Pendeskripsian dengan gaya jurnalistik yang ringan namun mendalam membuat buku karya Thomas sangat penting digunakan bagi siapa saja yang mau mengetahu lebih banyak dan mendalam tentang Jakarta tempo doeloe. Dengan demikian dapat memperkaya khasanah penghetahuan tentang Jakarta,” katanya. 
Ansel Deri
Ke foto: Thomas B Ataladjar (gbr 1), putra Lembata penulis buku Toko Merah yang melukiskan sisi lain sejarah Jakarta tempo dulu dan (gbr 2) buku Toko Merah karyanya.

Resensi: SBY Sosok yang Paling Seksi karya MF Noeh

Written By ansel-boto.blogspot.com on Wednesday, September 23, 2009 | 12:43 PM

Siapa tak kenal Susilo Bambang Yudhoyono yang akrab dengan sapaan SBY? Beliau adalah sosok presiden dan pemimpin politik fenomenal. Sebagai presiden, ia termasuk pemimpin bertangan dingin. Ia mendulang sukses di berbagai bidang kehidupan sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia.

Sebagai pemimpin politik, SBY adalah arsitek yang membidani lahirnya Partai Demokrat. Partai berlambang bintang segitiga ini akhirnya meloloskan SBY menuju kursi presiden periode 2004–2009. Kemudian, pada pilpres 8 Juli 2009 lalu, bersama Boediono ia terpilih kembali untuk masa jabatan kedua.

Mengapa pilihan rakyat jatuh pada SBY? Jawaban atas pertanyaan ini bisa beragam, tergantung siapa dan dari sudut mana menjawabnya. Hemat saya, pilihan rakyat itu karena SBY adalah pemimpin yang sukses menggelontorkan sejumlah program pro rakyat.

Misalnya, Bantuan Langsung Tunai (BLT), Beras untuk Keluarga Miskin (Raskin), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Kredit Usaha Rakyat (KUR), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Program Keluarga Harapan (PKH), dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM).

Apakah sebatas itu alasan rakyat memilih kembali SBY? Tidak juga. Menurut MF Noeh dalam 99 Alasan Pilih Lagi Presiden SBY, ada 99 alasan lain. Salah satunya, di mata dan hati pemilih perempuan dan kaum ibu, SBY diminati dengan penuh antusias sebagai calon presiden paling seksi.

Mengapa? SBY memiliki ketampanan dan kepantasan yang mempesona sebagai seorang pemimpin. Ia juga memberikan kebanggaan dan kebahagiaan sebagai seorang kepala negara dan kepala pemerintahan. Seringkali publik menyikapi SBY layaknya selebriti, idola, dan impian yang memberikan kebahagiaan bagi yang memandang (hal. 96).

Meski ada 99 alasan mengapa rakyat memilih lagi SBY, namun sebagaimana dijelaskan di bagian awal buku ini, terdapat lima aspek yang menjadi kekuatan pada sosok dan ketokohan seorang SBY.

Kelima aspek itu adalah (i) integritas pribadi dan kepribadian, (ii) kapasitas dan kualitas kepemimpinan, (iii) pengalaman dan prestasi, (iv) kepercayaan dan legitimasi publik dalam dan luar negeri, dan (v) keunggulan dan kelengkapan yang teruji sebagai seorang negarawan sejati yang menjadi kebutuhan bagi kepemimpinan nasional saat ini dan mendatang (hal. v).

Siapa MF Noeh (selanjutnya Noeh)? Noeh lahir di Cibarusah, Bekasi, Jawa Barat. Ia seorang penulis dan aktivis penggiat perubahan. Pernah menulis beberapa buku terkait pemikiran SBY antara lain SBY dan Islam, (2004), Keislaman dan Kebangsaan SBY dan Ziarah Nurani SBY, (2005), 99 Nasihat Sang Negarawan, (2009), dan bersama Kurdi Mustofa menjadi editor Mengatasi Krisis, Menyelamatkan Reformasi, (2000).

Noeh dipercaya menjadi staf khusus SBY dalam kampanye Pemilihan Presiden tahun 2004. Ia juga pernah menjadi tim ahli Menteri Pertambangan dan Energi Susilo Bambang Yudhoyono 2000–2002.

Sebanyak 99 alasan mengapa memilih kembali SBY menjadi presiden dapat ditemui dalam buku ini. Berbagai alasan itu hemat saya mewakili suara hati masyarakat Indonesia tatkala menjatuhkan pilihannya.

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Hayono Isman mengapresiasi buku ini. Kata Hayono, melihat penyajian tulisan dan gambar sederhana yang saling terkait, terkadang jenaka, penuh canda, dan memikat publik di segala usia, ini menjadi buku pertama dan satu-satunya yang secara lengkap menggambarkan dengan amat tegas, jelas, dan tepat sosok seorang presiden di mata rakyatnya.

Politisi yang saat ini masih menjabat anggota Dewan Pembina Partai Demokrat dan anggota DPR RI, juga memahami lahirnya buku ini karena penulisnya bersikap obyektif, jujur, dan amat mengenal presiden SBY dari dekat dan secara mendalam secara lahir-batin, secara intelektual maupun spiritual.

“Semoga saja buku ini bermanfaat. Bukan menjadi doktrin dan dogma bagi publik melainkan karena isi dan pesan moralnya benar-benar sesuai dengan hati rakyat dan arus besar aspirasi rakyat. Bukankah masih relevan, suara rakyat adalah suara Tuhan?,” ujar Hayono (hal. v-vi). Ya, siapa tahu suara rakyat merupakan suara Tuhan hingga seorang SBY terpilih lagi menjadi presiden periode kedua?

Buku ini sangat menarik bagi siapa saja karena tak hanya menyajikan teks tetapi juga menyertakan karikatur di hampir seluruh halamannya. Buku ini benar-benar –meminjam moto TEMPO– enak dibaca dan perlu di tengah hingar bingar jagad politik Tanah Air, terutama pilpres yang berhasil mengantar seorang anak bangsa yang “seksi” bernama Susilo Bambang Yudhoyono dan pasangannya, Boediono, menuju kursi presiden dan wakil presiden 2009-2014.
Hermien Botoor, S.Pd
peresensi guru honorer SMP Tri Ratna Jakarta Barat

Judul : 99 Alasan Pilih Lagi Presiden SBY
Penulis : MF Noeh
Pengantar : Hayono Isman
Ilustrator : U’by Marjan Baidury
Penerbit : SBY.COM dan GERBAG
Terbit : I, Mei 2009
Tebal : 104
Harga : -

Resensi: Jejak Inspiratif Ndoro Menggung

SUATU siang pada Kamis, 25 Juni 2009, di tengah hiruk pikuk Jakarta saya bersua dengan seorang pria berambut putih. Diapit seorang ibu muda, ia berjalan dengan bantuan tongkat setinggi pinggang orang dewasa.

Masih energik pula. Ia hadir dalam sebuah acara penting yang diikuti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI dan bekas Sekjen dan Presiden OPEC Purnomo Yusgiantoro dan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan.

Pria itu tak lain Prof Dr Subroto, (84), mantan menteri di jaman Orde Baru dan mantan Sekjen OPEC yang berkedudukan di Wina, Austria. “Dulu, yang dicita-citakan ayah dan ibu saya saat saya besar adalah supaya saya dapat berdharma. Berdharma artinya, berbuat sesuatu bagi orang lain. Setelah kita sudah berbuat sesuatu bagi orang lain maka hidup kita baru ada artinya. Itu yang disampaikan ayah dan ibu saya,” kata Pak Broto kepada saya.

Meski Pak Broto sudah memasuki usia senja, ia nampak sehat dan bugar. Ia pun buka rahasianya. Paling utama yakni bersyukur kepada Allah karena sudah diberi umur panjang, kesehatan dan tetap bermanfaat bagi banyak orang. Untuk membuat badannya tetap sehat ia juga berenang, rutin jalan kaki dan bermain tenis secara teratur.

Nah, di usianya yang kian uzur muncul ide menuangkan jejak pengabdian Subroto melalui Subroto Tak Kenal Lelah yang diarsiteki dua wartawan senior: Parni Hadi dan Mustofa Kamil. Meski sudah terbit beberapa tahun silam, buku itu inspiratif kapanpun.

Sejumlah kolega dan bekas mahasiswa juga ikut menulis sisi lain Subroto. Sebut saja Widjoyo Nitisastro, Mohammad Sadli, Emil Salim dan Sri Edi Swasono. Tujuan penulisannya, sejauh saya baca, tak lain untuk mengenal sosok Subroto dan rekam jejaknya sejak kecil, masa pergerakan, dan menduduki jabatan penting di tingkat nasional maupun internasiona hingga memanfaatkan sisa pengabdian meski sudah pensiun.

Jejak inspiratif

Siapa Subroto? Pria ramah dan murah senyum ini lahir di Kampung Sewu, Solo, 19 September 1923. Ia terlahir sebagai anak ketujuh dari delapan bersaudara pasangan Martosuwignyo Ibu Sindurejo.

Saat kecil ia dipanggil dengan nama kesayangan Ndoro Menggung oleh orangtua dan saudara-saudaranya. Pemilihan nama Subroto pun punya makna khusus. Bahwa kelak diharapkan menjadi seseorang yang mau melakukan pengabdian demi memayu-ayuning bawono atau kemaslahatan banyak orang.

Meski anak priyai, ia tak memperoleh hak istimewa, termasuk mengenyam pendidikan di HIS maupun pendidikan luar sekolah seperti Gerakan Kepanduan.

Selepas HIS, Subroto melanjutkan sekolah di MULO dan Sekolah Menengah Tinggi (SMT). Situasi pada saat itu memaksa Subroto mendaftarkan diri masuk PETA. Sayangnya, ia harus ditolak karena terlalu kurus. Pada 1 November 1945, ia diterima sebagai kadet (taruna) di Militer Academie (MA) di Yogya. Ada kebanggaan karena dari 197 angkatan pertama ia adalah lululusan Terbaik II dan menyandang pangkat Letnan II.

Sebagai tentara Subroto bersama rekan-rekannya seperti Wiyogo Atmodarminto, Soesilo Soedarman, Himawan Sutanto, Ali Sadikin, Yogi Supardi, dan Sayidiman Suryohadiprodjo ikut bertempur melawan penjajah hingga tahun 1950.

Selepas medan pertempuran, Subroto kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) hingga meraih gelar Sarjana Muda tahun 1952. Kesempatan terbuka lebar. Subroto melanjutkan kuliah di Mc Gill University, Montreal, Canada. Pada 1958 meraih gelar doktor ekonomi di UI. Gelar guru besar segera diperoleh.

Berbagai kepercayaan terus diberikan. Pernah menjabat Dirjen Penelitian dan Pengembangan Departemen Perdagangan RI. Tahun 1971–1973 menjabat Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi Kabinet Pembangunan II. Tahun 1978 menjadi Menteri Pertambangan dan Energi. Program Listrik Masuk Desa adalah program yang ia rintis kala itu.

Tahun 1988, Subroto mendapat kepercayaan menjadi Sekretaris Jenderal Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang berkedudukan di Wina, Austria. Dari Wina, Austria ini ia masih sempat memikirkan nasib anak bangsa yang masih terbelit kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dan keterpurukan.

Kondisi ini mendorong Subroto dan sekretarisnya, Rizal Sikumbang mendirikan Yayasan Bina Anak Indonesia (YBAI) yang concern di bidang pendidikan. Di usia senja ia terus berkarya dan mengabdi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengaku buku ini lahir dari sebuah inspirasi waktu Subroto menyampaikan pidatonya di Lengkong Wetan, pilot project YBAI di bidang pendidikan.

Ada teladan yang bisa dipetik dari buku ini yaitu bagaimana anak-anak dan remaja belajar, berpikir, bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Ke depan bangsa ini harus bangkit mengejar ketertinggalan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan teknologi dan sosial ekonomi, dengan fokus perubahan di desa-desa di seluruh pelosok Tanah Air.

Buku ini bisa menjadi insiprasi bagi siapa saja, terutama anak-anak sekolah, yang menjadi generasi pewaris masa depan bangsa. Sebagaimana inspirasi yang ditunjukkan Ndoro Menggung, anak kampung Sewu, Solo sejak kecil hingga memasuki usia senja.
Ansel Deri
Peresensi adalah penulis lepas, tinggal di Jakarta

Judul : Subroto Tak Kenal Lelah
Penulis : Tim
Prakata : Dr Rizal Sikumbang
Pengantar : Parni Hadi
Prolog : Prof Dr Widjojo dan Prof Dr M Sadli
Editor :Parni Hadi dan Mustofa Kamil Ridwan
Penerbit : Yayasan Bina Anak Indonesia
Pencetak : PT Penebar Swadaya Jakarta
Terbit : I, Mei 2004
Tebal : 434

Empat Masalah Guru

Oleh Linus Lusi
Ketua Forum Ilmiah Guru SD (FIGUR)/MK2S SD Kota Kupang

KETERPURUKAN mutu Pendidikan NTT dalam pentas nasional, menggugah Harian Umum Pos Kupang menggelar diskusi terbatas tentang permasalahan pendidikan di NTT di redaksi Pos Kupang, Kamis, 12 Maret 2009 silam. Tepat sekali diskusi tersebut dilakukan mengingat banyak hal yang perlu dibedah untuk menemukan berbagai solusi sesuai topik yang diberikan oleh panitia.
Narasumber yang diundang antara lain Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurekmaking, pakar kurikulum dari Undana Prof. Elyas Kopong, mantan Kadis P&K NTT, Drs. Jhon Manulangga, Ketua Yaswari Keuskupan Agung Kupang, Perwakilan siswa SMKN 6, SMAK Giovani. Diskusi berlangsung dinamis. Tidak hanya dihadiri oleh Kadis PPO NTT, Ir. Thobias Ully, hadir juga Kepala Bidang Pemberdayaan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan beberapa kepala sekolah pilihan dari jenjang SMP hingga SMA Kota Kupang.

Diawali sekapur sirih dari Pemimpin Umum Harian Umum Pos Kupang, Damyan Godho, dengan retorika retoris, apakah benar manusia NTT bodoh? Menghilangkan stigma demikian, salah satu akar masalahnya terletak pada guru. Karena itu, sebagai narasumber yang mengkaji permasalahan guru dalam kelas, setidaknya ada empat masalah yang menghantui guru dan solusi dalam meretas pernyataan tersebut. Diperkaya berbagai tambahan gagasan pasca diskusi sesuai realitas pembelajaran dituangkan kembali dalam tulisan ini untuk didiskusikan lebih lanjut.

Terperangkap Rutinitas

Bahaya terbesar sebuah organisasi apabila organisasi itu berjalan statis. Out pout-nya sebagai landasan dalam menentukan suatu keberhasilan. Begitupun dialami sekolah dalam aras pendidikan. Masalah pertama, pada umumnya para guru terperangkap dalam rutinitas pembelajaran yang berjalan secara statis. Padahal sebagai salah satu komponen utama pembelajaran dengan dwifungsi sebagai pendidik dan pengajar, para guru perlu melakukan dinamika pembelajaran yang progresif.

Ciri pembelajaran yang progresif pada aspek guru adalah tidak cepat puas terhadap hasil pencapaian siswa. Kenapa? Karena selama ini ilmu sekadar dipelajari, diketahui, diuji dan diberi nilai. Tetapi ilmu digunakan untuk memecahkan masalah tampaknya masih jauh dari harapan bersama. Hal ini dapat terlihat dari raut kepuasan para guru ataupun siswanya ketika secara teoretis memperoleh nilai yang sangat fantastis. Namun dalam praktek gagal menggunakan konsep ilmu tersebut.

Di sisi lain para guru juga sangat 'kikir' memberi ruang kebebasan akademik berciri sekolah kepada peserta didik. Padahal terdapat sejumlah hasrat yang terpendam dalam diri anak untuk mengubah sebuah kenyataan yang dialami dengan cara berpikirnya.

Secara yuridis formal, kepekaan dan tanggung jawab sosial guru telah diatur dalam UU Guru dan Dosen No.14 Tahun 2005. Dinyatakan dalam UU itu bahwa guru sebagai pendidik profesional ditugaskan untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Terperangkapnya rutinitas pembelajaran secara spesifik diamati dalam aspek mendidik, mengajar, melatih. Kecenderungan guru mengulang ritme kerja yang mestinya dalam poin-poin tertentu tidak perlu terjadi. Karena irama tersebut cenderung tidak inovatif dan gagal mendongrak mutu pembelajaran dalam jangka panjang.

Teori Belajar Kurang

Masalah kedua, para guru belum maksimal menerapkan berbagai teori belajar yang relevan dalam proses pembelajaran. Padahal mendalami teori belajar secara sistimatis dapat mengarahkan siswa belajar bagaimana belajar. Oleh Trianto (2007) dikatakan bahwa teori belajar pada dasarnya merupakan penjelasan mengenai bagaimana terjadinya belajar atau bagaimana informasi diproses di dalam pikiran siswa.

Berdasarkan sebuah teori belajar para guru seyogianya perlu menyeleksi setiap kompetensi dasar pembelajaran dan mendesain skenario pembelajaran untuk peserta didik. Akan lebih tepat guna, apabila ada kesadaran pedagogik dari para gurunya mengajak siswa bersama merancang model pembelajaran versi sebuah teori belajar. Sebagai gambaran, teori belajar behaviorisme memandang belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus dan respon. Teori konstruktivisme secara filosofis memandang belajar sebagai upaya membangun makna pengetahuan secara bertahap dengan cara pandang peserta didik yang kemudian hasilnya diperdebatkan antarsiswa sebagai bahan pengembangan pembelajaran (Don, 2004).

Pernyataan tersebut, pada tataran implementasi pembelajaran di kelas bertolak belakang. Lain halnya di kampus pasca sarjana pendidikan Undana Kupang, para mahasiswanya dilatih mendesain model pembelajaran sesuai teori-teori pembelajaran dalam mata kuliah pembelajaran inovatif yang kemudian dipresentasikan. Salah satunya model pembelajaran 5 W 1 H berbasis konstruktivisme yang selama ini dilakukan. Sebulan berjalan dalam diskusi curah pendapat antarmahasiswa implementasi di kelas, ternyata membawa perubahan sikap dan mental para siswa yang terukur dalam perubahan hasil belajar siswa. Dan yang lebih istimewa lagi sebagian skenario pembelajaran tersebut ditingkatkan menjadi topik kajian dalam proposal penelitian tesis.

Komitmen guru

Akar masalah ketiga ialah lemahnya komitmen guru terhadap paradigma pembelajaran. Akibatnya, berbagai perubahan pembelajaran yang perlu diadaptasi, dinovasi diabaikan. Padahal tidak sedikit para guru telah meluangkan waktu dan tenaga berjam-jam di ruangan workshop mendengar praktek pembelajaran. Kondisi ini turut berperan dalam perubahan cara belajar siswa di kelas. Krisis komitmen guru oleh Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurek, dalam pertemuan diskusi di Pos Kupang, disentil dengan pernytaan "menjadi guru yang terpanggil atau ...."

Pernyataan tersebut merupakan suatu refleksi guru dalam memahami dirinya sebagai seorang guru dalam mengajar, membimbing. Dalam pandangan guru berpestasi nasional asal SDN Kuanino Kota Kupang tahun 2006, HJ Mintarningsih, dalam mengajar guru hanya sebagai penunjuk rambu-rambu dan mentaati rambu-rambu, bukan menciptakan rambu-rambu. Tujuannya agar pembelajaran selalu diingat seumur oleh siswa sekaligus mengembangkan konsistensi diri. Penekanannya perlu dibangun komitmen pembelajaran antara siswa dan guru.

Lainnya Agus Gias, guru berprestasi tingkat nasional asal SDK Ruteng V, Manggarai tahun 2007. Mengajar baginya, tidak cukup memindahkan ilmu ke siswa. Lebih dari itu bagaimana membuat siswa tahu atau memahami ilmu yang dipelajari, sehingga konteks pembelajaran siswa adalah bagaimana siswa menemukan sesuatu dari apa yang dilihat, didengar, dialami sendiri pada proses belajar yang dibangunnya sehingga ada pergeseran paradigma dari mengajar ke membelajarkan. Sebaliknya mengajar berarti mempengaruhi siswa untuk melakukan sesuatu dan harus lebih bisa dari orang lain.

Pernyataan dari para guru berpestasi di atas menempatkan guru sebagai seniman pembelajaran dan memiliki kepekaan terhadap apa yang dibutuhkan oleh siswa sesuai paradigma pembelajaran terkini. Dan komitmen terhadap tugas menjadi kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran di kelas.

Kontak Akademik

Idealnya agar proses pemahaman para guru terhadap pembelajaran memadai, maka kontak akademik berciri ilmiah perlu ditingkatkan. Kontak akademik ini belum optimal dilakukan. Inilah yang menjadi bagian permasalahan guru. Kontak akademik sebagai pertemuan antarguru atau dengan narasumber bersifat keilmiahan untuk membahas berbagai persoalan pendidikan lintas mata pelajaran atau antarmata pelajaran untuk dicari jalan keluar (Linus Lusi, Pos Kupang, 12/9/2008).

Berbagai wadah organisasi profesi guru perlu dioptimalkan untuk penguatan akademik guru. Di sinilah akan ada pertemuan ide untuk melakukan berbagai perbaikan pembelajaran. Dalam pemahaman tersebut, maka kehadiran para guru sebagai solusi persoalan pembelajaran.

Terhadap berbagai permasalahan di atas, maka yang perlu dibangun adalah memperkuat kemampuan profesional guru melalui pendidikan dan pelatihan, pengembangan berbagai metode dan media pembelajaran. Komitmen guru perlu dilihat dari kepuasan kerja yang mutlak diperhatikan oleh pemangku pendidikan. Disamping itu juga perlu diadakan supervisi pembelajaran terhadap para guru maupun siswa. Dan kala penting adanya keberpihakan pemerintah terhadap perbaikan mutu pendidikan dengan sebuah aksi nyata yang legal formal.
Sumber:Pos Kupang, 23 September 2009

Tambang Tanpa Timbang

Oleh Fidel Hardjo
putra Boleng, Manggarai Barat, kini mengadu nasib di Jakarta

Sangat tidak fair kalau saya tidak menjawab koreksi berlapis Abraham Mali atas tulisan saya dan beberapa teman oponen sebelumnya. Judul tulisannya, Tidak Asal Tanggap (PK, 1/9/2009). Pesan jelas, jangan coba nimbrung kalau asal cengenges!

Sebuah kritikan dahsyat. Tetapi sayangnya, kritikannya tidak lebih pada upaya membenteng diri dan menyerang. Tidak tergetar sebuah insight baru dalam menakhodai debat tambang ini. Tidak lebih dari adu ide, losser or winner. Saya pikir, bukan ini tujuan cape-cape kita menulis di media ini. Tesis perdebatan kita perlu timbang, apa tambang sungguh memberi keuntungan bagi rakyat? Dan, jika kita ditolak, apa sungguh membawa petaka dahsyat bagi rakyat?

Selangit-langitnya perdebatan kita, tetapi mesti mendaku kepentingan rakyat. Jika Mali mampu memberi jaminan scientis dan empiris bahwa tambang adalah pintu gerbang menuju kesejahteraan rakyat, maka kita lapang dada setuju tambang. Sebaliknya, jika belum mampu memberi jaminan utuh kepada rakyat, maka perlu lapang dada juga menerima ide berseberangan, yaitu tolak tambang. Itu baru gentleman! Kita perlu pendamkan ego masing-masing, demi bonum commune.

Sekadar penjelasan informatif, tulisan saya terdahulu bukan plagiat. Tulisan itu hasil diskusi di ruang maya Allesaja. Atas persetujuan perumus ide, yaitu Tarsi Sigho, maka tulisan itu saya kemas lagi dan kirim ke Pos Kupang. Sederhana saja alasan saya. Kenapa ide brilian ini tidak dikonsumsi publik? Itulah niat dasar saya. Dalam soft copy tulisan yang terkirim kepada Pos Kupang, tertulis nama saya dan Tarsi Sigho.

Tetapi, karena Pos Kupang punya internal policy tidak menerima artikel penulis duet, maka nama saya muncul dalam publikasinya. Alasannya yang paling pas karena pengirim artikel itu adalah saya sendiri. Tanggung jawab penuh pun saya.

Kembali ke inti perdebatan. Sekali lagi, isi perdebatan kita adalah rakyat. Untuk siapa kita berdebat kalau bukan untuk rakyat? Untuk apa tambang ditambang kalau bukan untuk rakyat? Jadi, rakyat menjadi target penuh, tidak lain dari itu!

Tanah, uang, tambang dan lain sebagainya adalah premis minor. Karena itu, adalah sangat naif kita menempatkan tambang sebagai tesis primer. Memang perlu diakui bahwa kita mengurai benang kusut ini dari perspektif kita sendiri. Dari mana dan hendak ke mana pun kita menelisiknya masalah ini, tetapi kita tetap komit rakyat adalah perspektif terakhir yang perlu dirunut dan diprioritas.

Dari tulisan saya sebelumnya, terkukuh satu kata kunci. Jika pemerintah belum mampu memberi jaminan scientis dan empiris konsekuensi destruktif tambang dan seberapa besar profit untuk rakyat dan bila perlu dipublikasikan di media ini, maka perlu rendah hati mengatakan kita belum layak mengoperasikan tambang.

Mengapa? Hindari kebijakan publik tergopoh-gopoh. Hindari penyesalan terlambat. Hindari aksi saling kambinghitam, bahkan seperti kasus tambang Freeport ada adegan perang yang tidak pantas dilakonkan. Dan lebih dari itu, antisipasi caci maki dan cap generasi durhaka dari cucu-cece kita kemudian hari.

Tentu masih banyak deretan 'penghindaran'. Bukan pula kita terbalut pesimisme berlebihan. Tetapi sebuah wise choice perlu diuji mudarat plus manfaatnya. Sejak zaman Socrates hingga nenek moyang kita selalu percaya filosofi bijak, masalah apa pun tidak pernah tuntas dengan memberi solusi tetapi pertanyaan.

Karena itu pertanyaan dari perspektif rakyat perlu didengar. Apa pemerintah dan penambang sungguh memberi jaminan yang pasti kemanfaatan tambang untuk kemaslahatan hidup banyak orang? Ada kekhawatiran bahwa keputusan melegalkan tambang seperti hiruk-pikuk menangkap tanyangan iklan kecantikan.

Before and after begitulah paras tawaran iklan kecantikan. Eh.. tanpa pikir tedeng aling-aling para ibu berhura-hura membeli produk ini. Nyatanya, tidak semanis yang dijanjikan. Inilah kecemasan kita. Jangan-jangan kebijakan legal tambang di daerah kita terbawa-bawa oleh iklan hot money para mining lobbyst.

Sangat sedih kalau ini sungguh terjadi. Karena iklan para mining lobbyst tak lebih dari gambling. Tuan gambling hampir pada umumnya selalu menang. Biasanya, losser adalah gamblers. Tetapi anehnya, gamblers selalu ketagihan. Belajarlah dari pengalaman. Berapa banyak kebijakan publik di NTT, dan khususnya Flores dan Lembata, yang tidak diawali dengan keputusan matang? Mulai dari bikin rumah jabatan, jalan raya, irigasi, jagung, singkong dan lain-lain. Semuanya bablas di tengah jalan. Umumnya, tidak ada satu pun yang mengakui diri sebagai penanggung jawab. Semua orang cuci tangan, kambing hitam seru. Tentu, inilah yang kita tidak inginkan di balik aksi tambang di Flores.

Saya pikir ini poin penting yang perlu digegap-gempitakan di balik pro kontra aksi tambang di Flores. Tapi sayangnya, Mali tidak sama sekali menyentuh esensi perdebatan. Mali justru bereuforia membolak-balik idenya sakadar membela diri. Ada kesan Mali berwawasan luas dengan parade aksi tambang sejagat. Hanya, orang dan situasi di Flores tidak pas dibanding dengan akrobat tambang di mana pun belahan bumi ini. Jangan bandingkan dengan Australia atau Las Vegas. Jangan pula dibanding ritme hidup orang Flores dan Jakarta. Kalau di Australia dan Las Vegas ada tambang, mereka punya hukum solid dan manusianya pun solid. Apakah kita secara hukum dan homo laborens solid? Susah dijawab.

Demikian pun bicara soal pergerakan kapital. Di Jakarta memang uang di atas segala-galanya. Tanah tidak ada tetapi hidup jalan terus. Sebaliknya, orang Flores meski uang tidak ada, tetapi sejengkal tanah adalah mahkota hidup. Jadi bisa saja orang mengomel. Tambang di Jakarta berbeda dengan tambang di Flores. Kalau begitu, siapa tahu tambang di Flores nanti berbeda outputnya? Pengandaian seperti ini berbahaya karena rakyat menjadi kelinci percobaan.

Itulah sebabnya saya sangat berseberang pendapat dengan Mali. Ketika ia mengait-ngaitkan aksi tambang mulai dari Eropa sampai dengan gaya hidup di Ibu kota Jakarta dengan kampung halaman di Flores. Apalagi, mengaitkan kemajuan orang Flores akhir-akhir ini dengan berapa besarnya royalti tambang. Apa benar bung? Bahkan, menyebut kemegahan gereja sejagat (Flores?) selama ini merupakan kucuran uang-uang tambang.

Jika betul ada kaitan nafas kehidupan orang Flores dengan royalti tambang, tolong tunjukkan data valid supaya kami berubah pikiran. Untuk apa kita tutup-tutupi data itu jika benar? Demikian pun sebaliknya. Tidak perlu main di gelap.

Bukan hanya lobi di ruang gelap tetapi keputusan pun ditancap di dalam kegelapan. Operasionalnya pun lebih gelap lagi. Pintu entrance disegel peringatan keras "Dilarang masuk, kawasan berbahaya". Ada ke(gelap)an?

Rakyat lebih gelap lagi. Sampai tidak tahu, apakah aksi tambang masih ada atau sudah tuntas. Apakah janji investor sudah terpenuhi atau belum? Berapa besar profit tambang tak satu pun yang tahu. Siapa yang bisa kontrol? Dan, ke mana rakyat mengadu jika ada bencana di lokasi tambang? Ini perlu titik terang.

Saya tidak perlu ambil contoh jauh-jauh. Di Manggarai Barat, tepatnya di Tebedo desa Pota Wangka, tempat saya lahir, pada tahun 1990-an diizinkan operasi tambang. Waktu itu saya masih duduk di bangku SMA. Sebagai anak kecil waktu itu, saya merasa tercengang dengan kepungan buldozer masuk kampung kami. Waktu itu tidak ada perjanjian hitam di atas putih dengan orang kampung, selain mempekerjakan anak-anak muda untuk membantu mengeruk tambang itu.

Seingat saya dulu, ada janji dari investor akan dibuka jalan raya (baca: aspal) dari Nggorang menuju Wangkung sebagai kado balas budi penduduk setempat. Sampai sekarang apa yang didapati oleh warga Tebedo dan sekitarnya, yaitu lubang pencungkilan tambang terbentang menganga di mana-mana di sekitar Tebedo. Sampai kami tidak tahu, penambang sudah bawa pergi jarahannya. Tetapi, entah kenapa janji penambang itu tidak terpenuhi sama sekali.

Hutan digunduli sapu bersih meninggalkan kelongsoran tanpa akhir bagi warga. Mata air di Wae Sipi yang menjadi mata air kehidupan orang Tebedo dan Nggorang (penduduk dekat Labuan Bajo) kian terancam pengeringan abadi. Jalan raya yang dibuka pemerintah dari Nggorang menuju Tebedo, yang akan tembus ke Terang tidak berkutik mengatasi bahaya pelongsoran tiap saat di sekitar kawasan bekas pertambangan itu. Siapa yang bertanggung jawab sekarang, semua cuci tangan. Eh, rakyat lagi yang kedapatan pil pahitnya!

Dan, sekarang investor (baru?) datang lagi ke Tebedo untuk menambang kawasan yang sama, yang sejalan dengan munculnya tambang di Batu Gosok yang ramai ditolak akhir-akhir ini. Ini semacam, menginjak-injak anjing sekarat.

Jadi, tolak tambang bukan sekadar aksi cengeng tetapi lahir dari isak tangis warga di ujung mulut kubur. Gali tambang tanpa timbang, nakhoda, destinasi dan meditasi menggigit sama artinya kita menggali kubur untuk diri sendiri.
Sumber: Pos Kupang, 17 September 2009

Konservasi Laut Sawu Diduga Salah Satu Motif

Written By ansel-boto.blogspot.com on Wednesday, September 16, 2009 | 2:57 PM

Hingga kini, penyidik Polres Lembata belum memastikan motif pembunuhan Yoakim Langoday. Selain masalah proyek di Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata, pihak keluarga menduga, salah satu motif pembunuhan Kepala Bidang Pengawasan Pantai dan Laut pada Dinas Perikanan Kabupaten Lembata itu adalah konservasi laut sawu.

Karolus Koto Langoday, adik kandung almarhum, kepada Flores Pos di rumah Yoakim Langoday, Sabtu (12/9) mengatakan, kakak sulungnya itu dibunuh ketika Selasa (19/5) baru tiba dari Menado untuk kegiatan konservasi laut intenasional.

Laut Sawu termasuk dalam area konservasi. Dalam pertemuan itu, katanya, Langoday menyampaikan laporan soal penolakan masyarakat Lamalera terhadap konservasi laut, khususnya di perairan Lamalera, karena selama ini, masyarakat Lamalera melakukan penangkapan ikan secara tradisional.

Karolus mengatakan, tanggal 19 Maret, Yoakim bersama Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Paul Kedang ditolak oleh masyarakat Lamalera saat mereka mau melakukan sosialisasi konservasi laut.

Setelah menyampaikan laporan, almarhum bertemu dengan Dirjen. Yoakim Langoday kembali ke Lewoleba dan ke Jakarta untuk membawa data-data terkait konservasi laut dan juga penolakan masyarakat Lamalera.

Karolus mengatakan, jika Yoakim Langoday membawa data-data itu ke Jakarta, maka bisa saja konservasi laut sawu, khususnya perairan Lamalera tetap dilakukan. Menjawab Flores Pos soal keterkaitan pembunuhan Yoakim Langoday dengan konservasi laut itu, Karolus mengatakan: jika konservasi laut itu dilakukan, maka penambangan emas, tembaga dan lain sebagainya tidak bisa dilakukan di Lembata.

Karolus mengatakan, bukan mau menyampingkan motif lain seperti masalah tender proyek, kasus rumput laut, namun kalau dikaitkan dengan informasi bahwa beberapa pembunuh dibayar Rp.300 juta per orang dan ada yang dapat Rp.100 juta per orang, maka yang menjadi pertanyaan adalah apa mungkin, proyek yang nilainya beberapa miliar itu, para pelaku pembunuhan itu dibayar dengan mahal.

Padahal keuntungan dari proyek itu, kata Karolus Koto Langoday, tidak mencapai satu miliar. “Sekali lagi, kami keluarga tegaskan bahwa motif pembunuhan Yoakim Langoday bisa saja masalah proyek di Dinas Perikanan, tapi juga dugaan kami juga salah satunya adalah masalah konservasi laut,” katanya.

Sumiati, istri korban mengatakan, saat Yoakim Langoday dari Menado di Surabaya, ia sempat menelepon dan menyampaikan kecemasannya bahwa sekembalinya ke Lewoleba ia bisa dibunuh orang. Namun Sumiati tidak tahu masalah apa. ”Dia hanya mengatakan dirinya bisa dibunuh oleh orang,” katanya.

Sebagaimana diberitakan, penyidik Polres Lembata yang di-back up tim khusus penyidik Polda Lembata telah menangkap dan menahan lima tersangka yakni Lambertus Bedy Langoday, Theresia Abon Manuk, Bambang Trihantara, Muhamad Kapitan dan Mathias Bala. Sementara dua Mr X di TKP hingga kini polisi masih melakukan penyelidikan. Dari Lima tersangka, baru Mathias Bala yang mengaku.

Sementara empat tersangka lainnya melakukan aksi tutup mulut.Yohan Langoday saksi kunci dalam kasus ini mengatakan di TKP pada Selasa (19/5) ada lima orang yakni Mathias Bala, Lambertus Bedy Langoday, Muhamad Kapitan dan dua MR X. Mathias Bala mengaku itu semua namun Mathias Bala masih tutup mulut dengan 2 Mr X ini.

Mathias Bala juga mengatakan sebelum mereka membunuh Yoakim Langoday mereka merencanakannya di kediaman Bambang Trihantara. Pertemuan itu dihadiri Muhamad Kapitan, Theresia Abon Manuk, Bambang Trihantara dan satu orang yang tak dikenalnya. (Maxi Gantung)
Ket foto: Keindahan pantai di desa nelayan Lamalera yang terkenal dengan tradisi penangkapan ikan (lefa) paus secara tradisional. Obyek pariwisata di wilayah selatan Pulau Lembata ini sudah mendunia namun masih belum mendapat perhatikan pemerintah pusat dan daerah. Foto: dok. Ansel Deri
Sumber: Flores Pos, 14 September 2009

Hutan Mutis-Timau Terancam Punah

Cagar alam Mutis-Timau yang terletak di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, dan Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, terancam punah. Kekeringan yang berlangsung lebih dari sembilan bulan disertai penebangan liar dan pembakaran tak terkendali menjadi penyebab utama kerusakan.

Konsultan Kyeema Foundation, Johan Kieft, dalam seminar pelestarian cagar alam Mutis-Timau di Kupang, Selasa (15/9), mengatakan, tingkat degradasi hutan di cagar alam Gunung Mutis-Timau memprihatinkan.

”Tingkat degradasi hutan di daerah itu empat sampai lima kali lebih cepat dari kawasan hutan di Kalimantan dan lima sampai enam kali lebih cepat dari Papua. Untuk itu butuh penanganan serius,” kata Kieft.

Seminar diselenggarakan Yayasan Peduli Sesama Kupang, Yayasan Timor Membangun, bekerja sama dengan Kyeema Foundation dan AusAid. Mereka akan memulai kegiatan penghijauan di kawasan Mutis-Timau musim hujan 2009/2010.

Tumbuhan dan satwa khas
Dosen Unika Kupang, Leonardus Bani Lodhu, mengatakan, cagar alam Mutis memiliki kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistem yang perlu dilindungi. Mutis memiliki 1.450 jenis tumbuhan, 230 di antaranya endemik daerah itu. Selain itu, ada 657 jenis satwa khas, seperti rusa timor, nuri timor, dan kakaktua timor.


Mutis merupakan kawasan paru-paru di Pulau Timor. Tak ada lagi hutan di Timor yang memiliki keanekaragaman hayati seunik itu.

Tingkat kerusakan cagar alam Mutis mencapai 1.230 hektar di wilayah Timor Tengah Selatan, 1.112 hektar di Timor Tengah Utara, dan di Kabupaten Kupang seluas 1.456 hektar.

Senada dengan Lodhu, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT Kemal Amas mengatakan, Mutis ditetapkan sebagai cagar alam karena mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan, satwa, dan tipe ekosistemnya mewakili formasi biota di daratan Timor.

”Karena itu, unsur-unsur tersebut harus dijaga dan dipertahankan sebagai sumbangan bagi kehidupan manusia. Hal itu menjadi tanggung jawab masyarakat yang berdiam di Timor Barat,” kata Kemal.

Direktur Yayasan Peduli Sesama Isodorus Kopong menjelaskan, kegiatan penghijauan Mutis melibatkan para tokoh adat dan tokoh masyarakat. (KOR)
Ket foto: Keindahan panorama alam puncak Gunung Timau di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT saat cuaca cerah. Foto: dok. jurnalisntt.blogspot.com
Sumber: Kompas, 16 September 2009

Membuka Perang Terbuka Antar-Mitra

Oleh Fince Bataona

PELANTIKAN DPRD Lembata periode 2009-2014 telah usai. Senin, 1 September 2009, tepatnya. Dua puluh dua (dari 25 orang) wakil rakyat Lembata yang didominasi wajah baru, bahkan sudah mulai beraktivitas, sehari setelah pelantikan.

Dominasi wajah baru DPRD Lembata saat ini, setidaknya memberi gambaran bahwa rakyat Lembata tidak sekadar memilih kucing dalam karung, tetapi menaruh harapan besar akan sebuah perubahan. Lembata berubah menjadi lebih baik, tidak jalan di tempat karena praktek KKN yang tanpa malu-malu dipertontonkan.

Perubahan Lembata bukan sekadar diukur bupatinya saat ini, Drs. Andreas Duli Manuk, dari wartawan yang dulunya berjalan kaki dan kini bersepeda motor, bahkan bermobil (Aktualita, 34/Thn IV). Miris, memang!

Upaya Menunda Pelantikan

Mari kita runut hiruk ketika hari H pelantikan tinggal menunggu jam. Undangan pelantikan DPRD 2009-2014, tanggal 1 September sudah disebar, ketika ada informasi pembatalan yang diikuti tidak dilakukannya gladi bersih tanggal 31 Agustus 2009, sore hari. Bahkan sudah ada surat pembatalan pelantikan yang diberikan kepada anggota DPRD yang lama dan 'ragu-ragu' dibagikan kepada anggota DPRD yang baru, yang tentunya sudah siap lahir batin untuk dilantik.

Adakah keengganan meninggalkan kursi Dewan karena sebuah kepentingan? Hanya mereka yang berusaha menunda pelantikan yang tahu jawabannya. Yang bisa diketahui adalah akibat dari tarik ulur kepentingan pribadi dan kelompok inilah yang mengorbankan 'tak digelarnya' gladi bersih, bahkan nyaris mengacaukan situasi Kota Lewoleba yang damai jelang pelantikan.

Hanya sekitar satu jam sebelum waktu menunjukkan hari berganti ke tanggal 1 September, ketukan palu Ketua DPRD, Drs. Pieter Boliona Keraf, memastikan digelarnya Rapat Paripurna Pemberhentian DPRD Lembata Periode 2004-2009 dan Pelantikan DPRD Lembata Periode 2009-2014 tetap dilangsungkan 1 September 2009.

Namun tak semulus yang seharusnya terjadi. Hari pelantikan pun menyimpan kesan seolah-olah Rapat Paripurna Pemberhentian DPRD 2004-2009 dan Pelantikan DPRD Lembata 2009-2014 hanya sebuah acara arisan yang tidaklah penting. Sesuai undangan, Rapat Paripurna digelar pukul 09.00 Wita. Ruangan sidang yang tidak ber-AC karena AC rusak, sudah dipenuhi undangan sejak pukul 07.30 Wita. Ini lantaran harus dilakukan gladi bersih sesaat sebelum pelantikan karena sehari sebelumnya batal dilaksanakan.

Detik, menit dan jam terus berlalu, gladi bersih juga sudah usai dilakukan, namun rapat paripurna tak juga dibuka. Suara-suara kesal sudah mulai memenuhi ruangan sidang. Di luar gedung DPRD, bahkan sempat terjadi ketegangan karena ada orang-orang yang mempertanyakan mengapa Erni Manuk, salah satu anggota DPRD terpilih -- Erni merupakan salah satu tersangka karena diduga sebagai otak pembunuhan Yohakim Langoday -- tidak dilantik.

Siapa yang ditunggu? Pertanyaan itu baru terjawab ketika akhirnya Wakil Bupati Lembata, Drs. Andreas Nula Liliweri, tiba di gedung Dewan dan Rapat Paripurna Pemberhentian DPRD 2004-2009 dan pelantikan DPRD 2009-2014 mulai dibuka, sekitar pukul 11.00 Wita.

Adalah Alwi Murin, salah seorang anggota DPRD lama yang terpilih kembali menginterupsi pimpinan dan mempertanyakan ketidakhadiran bupati, dan diperoleh jawaban bupati sakit. Sekadar diketahui, malam sebelumnya, bupati hadir dalam Paripurna Penandatanganan Perda tentang APBD Perubahan 2009.

Tidak Salah
Apakah sebagai ayah, Bupati Manuk mungkin tak kuasa menyaksikan pelantikan Dewan tanpa anaknya, Erni Manuk, yang kini mendekam di tahanan? Ataukah Bupati Manuk memang benar-benar sakit? Toh, tidak ada aturan hukum yang memaksa bupati harus hadir pada hajatan penting lima tahun ke depan.

Tapi, apakah masyarakat Lembata marah dan kecewa karena ketidakhadiran bupati sama halnya dengan menyepelekan soal etika dalam sebuah kemitraan, menyepelekan wakil mereka. Itu hak masyarakat untuk menyatakan perasaannya. Maka, tak salah juga kalau siapa pun masyarakat Lembata membaca ketidakhadiran bupati sebagai awal yang buruk dalam hubungan kemitraan pemerintah dan DPRD, sebagai awal ditabuhnya 'perang terbuka' antar mitra di tanah Lembata.

Sebab dalam tugasnya mengontrol jalannya roda pemerintahan, DPRD yang baru dilantik tentu saja tidak menutup mata, telinga dan hatinya terhadap sejumlah proyek bermasalah dan ditengarai berindikasi korupsi yang terjadi di Lembata. DPRD tentu saja butuh pertanggungjawaban pemerintahan di bawah kendali Bupati Drs. Andreas Duli Manuk, terhadap berbagai soal KKN yang sudah menjadi rahasia umum di masyarakat.

Sebut saja yang paling menghebohkan saat ini adalah keterkaitan pembunuhan Yohakim Langoday dengan proyek rumput laut yang anggarannya dari Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Juga, kasus pabrik es yang merugikan negara ratusan juta rupiah.

Penunjukan langsung (PL) dalam proyek tersebut telah menyalahi aturan Keppres 80 tahun 2003. Bagaimana persekongkokolan pemerintah dan kontraktor tak bisa disembunyikan dari mata hati masyarakat Lembata. Apalagi ada temuan yang mengungkapkan adanya mark up harga yang nilainya mengejutkan!

Itu baru pada satu kasus yang secara kebetulan terkait dengan pembunuhan Langoday. Kasus-kasus PL lainnya beraroma KKN tanpa malu-malu kerap dipertontonkan penguasa di Lembata.

Sempat pula diributkan adanya indikasi penyimpangan APBD tahun 2004 yang nilainya puluhan miliaran rupiah.

Tentu saja, itu kasus besar yang butuh sebuah kekuatan besar untuk mampu mengungkap, mendorong terus menerus dan mengawal hingga tuntas penyelesaiannya. Namun yang paling sederhana, tanyakan pada masyarakat di wilayah Selatan Lembata misalnya, atau di Ile Ape dan Kedang, apakah sudah menikmati jalan yang memadai, listrik dan air yang cukup? Mengapa pembangunan Lembata sepertinya jalan di tempat?
Sumber: Pos Kupang, 16 September 2009
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger