Headlines News :
Home » » Quo Vadis Indonesiaku?

Quo Vadis Indonesiaku?

Written By ansel-boto.blogspot.com on Thursday, July 29, 2010 | 12:41 PM

Oleh Herman Musakabe
Gubernur NTT 1993 – 1998

Ketahanan Daerah NTT sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Ketahanan Nasional, kondisinya tidak jauh berbeda dengan kondisi gatra-gatra yang telah diuraikan di atas. Yang berbeda hanya skala dan intensitas gangguan dan ancaman terhadap gatra-gatra itu dan bagaimana kiat pemimpin lokal (gubernur, bupati/walikota) menangani masalah-masalah yang berkembang di daerahnya. Masalah yang dihadapi di NTT dari waktu ke waktu masih berkisar seputar kemiskinan, pengangguran, masalah pendidikan dan SDM yang harus ditingkatkan kualitasnya, mungkin ditambah masalah lingkungan hidup setelah ada kegiatan pertambangan di daerah dan pencemaran laut akibat tumpahan minyak akhir-akhir ini.

Pada kesempatan ini saya hanya ingin memberi beberapa masukan dan saran untuk kebaikan Flobamora ke depan, sebagai berikut, pertama, pemilihan kepala daerah (pemilu kada) secara langsung oleh rakyat sebagai wujud demokrasi, ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi pemimpin terpilih mendapatkan legitimasi karena dipilih langsung oleh rakyat dan mendapat mandat penuh sebagai pemimpin, namun di sisi lain ekspektasi/harapan rakyat kepada sang pemimpin juga sangat besar.

Seringkali, terdapat kesenjangan/gap antara janji-janji kampanye calon pemimpin dan tim suksesnya dengan pelaksanaan setelah pemimpin terpilih menjalankan kepemimpinannya. Sebaiknya para calon pemimpin jangan berkampanye tentang hal-hal yang mustahil dilaksanakan seperti pendidikan gratis atau iming-iming bantuan sejumlah dana untuk desa-desa, tetapi berkampanyelah hal-hal yang realisitis. Misalnya meningkatkan minat baca masyarakat dengan mendirikan taman-taman bacaan atau perpustakaan di desa-desa. Dengan demikian, terlepas dari kalah atau menangnya calon, ia telah berbuat kebaikan dengan menyediakan fasilitas umum dalam upaya mencerdaskan bangsa. Begitu pula kehadiran sebagian pemimpin di tengah-tengah rakyat terasa berbeda waktu kampanye yang sangat dekat dengan rakyat di desa, tetapi setelah terpilih mengambil jarak dengan rakyat dan jarang turba ke desa-desa, kecuali untuk kegiatan seremonial.

Kedua, tugas para pemimpin pada hakikatnya adalah melayani masyarakat dan model kepemimpinan yang cocok untuk NTT adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership), yaitu lebih berorientasi melayani rakyat yang dipimpinnya dengan standar moral-spiritual ketimbang mengejar kekuasaan, materi dan uang. Materi dan uang itu akan sirna tetapi pelayanan kepada rakyat akan selalu dikenang. Yang penting bukan berapa tahun pemimpin memimpin (5, 10 tahun atau lebih), tetapi apa yang telah pemimpin buat bagi rakyat selama memimpin.

Ketiga, menentukan sasaran yang dapat dicapai dalam program kerja lima tahun ke depan. Kalau sasaran itu diperkirakan tidak dapat tercapai dalam lima tahun kepemimpinannya, sebaiknya jangan dijadikan tema kampanye karena rakyat akan meminta bukti pertanggungjawabannya kepada sang pemimpin.

Keempat, membentuk tim dengan memilih orang-orang berkualitas dan bekerja dengan tim. Sebaik apa pun visi, misi dan program yang dicanangkan, tetapi bila tidak didukung oleh SDM berkualitas dan memiliki komitmen kuat untuk menyukseskan program, maka sulit akan memperoleh keberhasilan. Pilihlah tim kerja manusia-manusia kaya arti yang memberi kontribusi, bukan orang miskin arti, apalagi berlawanan arti yang akan menjadi beban.

Kelima, mengakomodasi para pemimpin informal yang ada di daerah. Pemimpin formal tidak dapat bekerja sendiri tetapi harus didukung oleh para tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat setempat karena mereka memiliki massa atau pengikut. Sering kali komunikasi antara pemimpin formal dan tokoh-tokoh itu terkendala oleh aturan birokrasi yang kaku. Komunikasi ini perlu ditingkatkan demi keberhasilan pemimpin.

Di akhir tulisan ini, saya mendoakan rakyat NTT tercinta, para pemimpin formal dan informal yang ada di pelosok daerah yang sedang menghadapi pergumulan masalah-masalah sulit yang dihadapi. Semoga Tuhan memberi mereka kekuatan menghadapi kesulitan dan para pemimpin bekerja dengan hati nurani melayani rakyat yang dipimpinnya.

Hidup hanya singkat, maka pergunakanlah waktu kronos sebaik-baiknya untuk bekerja dan berdoa (ora et labora) bagi kepentingan rakyat. Pergunakanlah waktu kairos sebagai peluang untuk berbuat kebaikan dengan melayani sesama, terutama rakyat yang sangat memerlukan pertolongan keluar dari kesulitannya. Jadilah manusia kaya arti yang berguna dan memberi kontribusi bagi orang lain dan tanah Flobamora tercinta. Menanam kebaikan bagi sesama akan menuai hasilnya waktu memasuki waktu aion, yaitu waktu abadi dalam kehidupan yang akan datang sesudah kehidupan fana di dunia ini. Tuhan memberkati.
Sumber: Pos Kupang, 29 Juli 2010
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger