Headlines News :

Panglima TNI Resmikan Monumen di Pulau Paling Selatan Indonesia

Written By ansel-boto.blogspot.com on Friday, July 30, 2010 | 1:43 PM

Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, Minggu (1/8), meresmikan Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman di Pulau Ndana, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, sebagai titik terselatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Panglima TNI mengatakan, dipilihnya Jenderal Besar Sudirman sebagai ikon monumen titik terselatan di Pulau Ndana ini, tidak serta-merta ditetapkan oleh TNI, tapi berdasarkan kajian dan saran tokoh masyarakat di Rote Ndao.

“Nilai dan semangat perjuangan Jenderal Sudirman yang tak kenal lelah mempertahankan kemerdekaan sudah melekat dalam jiwa sebagian besar rakyat Indonesia termasuk juga rakyat Rote Ndao," katanya.

Monumen ini dibangun dengan tinggi 13 meter, di antaranya tiang penyanggah tujuh meter dan tinggi patung enam meter serta dilengkapi dengan sebuah rumah jaga di pulau tersebut.

Menurut dia, sesuai Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004, salah satu tugas TNI dalam operasi militer, selain perang adalah mengamankan wilayah perbatasan. Untuk pengamanan perbatasan, TNI telah menempatkan personelnya di dua pulau terluar di NTT, yakni Ndana di Rote Ndao dan Batek di Kabupaten Kupang.

Monumen yang diresmikan di Pulau Ndana tersebut merupakan monumen kedua yang dibangun di era kepemimpimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, setelah sebelumnya di Pacitan.

Pulau Ndana merupakan satu dari lima pulau terluar dalam wilayah NTT, dan tepat berada pada posisi terselatan wilayah NKRI. Empat pulau lainnya yakni Pulau Batek di Kabupaten Kupang, Menggudu dan Salura di Sumba Timur serta Pulau Dana yang merupakan bagian dan gugusan Pulau Sabu.

Lima pulau terluar itu merupakan bagian dari 92 pulau terluar yang dimiliki Indonesia dan telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 tahun 2002 tentang titik-titik dasar garis pangkal kepulauan RI.
Sumber: Tempo Interaktif, 1 Agustus 2010
Ket foto: Panglima TNI Djoko Santoso

Warga Timtim di NTT Peringati Hari Integrasi

Warga eks pengungsi Timor Timur di Nusa Tenggara Timur, Rabu, memperingati 34 tahun integrasi Timor Timur ke dalam NKRI dalam sebuah misa syukur yang dipimpin Romo Primus di Gereja Katolik Maria Assumpta Kota Baru Kupang.

"Misa syukur ini semata-mata untuk menyatukan seluruh warga eks Timor Timur di Indonesia yang selama sepuluh tahun terakhir ini tercerai berai dan berjuang sendiri-sendiri pasca jajak pendapat 1999 di bekas provinsi ke-27 Indonesia itu," kata Armindo Soares Mariano, tokoh sekaligus penggagas peringatan hari integrasi itu kepada ANTARA.

Mantan Ketua DPRD Timtim semasa integrasi mengemukakan hal itu ketika ditanya soal pentingnya merayakan hari intergrasi di mana Timtim sudah menjadi sebuah negara dengan sebutan Timor Leste.

Armondo yang kini menjadi anggota DPRD NTT dari Partai Gerindra itu menambahkan, selain sebagai wadah untuk mempersatukan seluruh warga eks Timtim di perantauan, juga untuk mengenang kembali perjuangan para tokoh integrasi yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk mempertahankan Merah Putih di bumi Timor Lorosae.

"Sekarang kami hidup di tengah saudara-saudara kami yang lain di Tanah Air Indonesia, tetapi kami merayakan hari integrasi itu sebagai wujud nyata kami sebagai orang Indonesia yang lahir dan besar di Timor Lorosae," ujarnya.

"Kewarganegaraan yang kami peroleh sebagai orang Indonesia, setelah mengalami suatu penindasan yang berkepanjangan pada masa koloni Portugis dengan darah dan air mata serta dengan jiwa dan raga," katanya mengenang kekejaman Portugis pada masa itu.

Ia menegaskan bahwa misa syukur untuk mengenang penyatuan Timtim ke pangkuan Ibu Pertiwi, tidak memiliki tendensi politik apapun untuk sebuah tujuan politik pula.

"Sudah lama kami mencari kesempatan dan hari lahir integrasi adalah momentum tepat untuk kami berkumpul, menyatukan pikiran dan langkah untuk memperbaiki masa depan kami di tanah rantau," katanya.

Dia mengakui, nasib sebagian besar warga eks Timtim di Indonesia, khususnya di NTT saat ini masih sangat memprihatinkan.

"Fakta ini pula yang mendorong kami untuk menyatukan semua elemen masyarakat Timtim karena tanpa ada rasa persatuan dan kesatuan, seluruh perjuangan untuk memperbaiki masa depan akan sia-sia," katanya.

"Kami semua harus bersatu dulu untuk menyampaikan kepada pemerintah apa kesulitan yang dihadapi supaya dicarikan jalan keluar, karena selama ini masing-masing jalan sendiri-sendiri, akhirnya pemerintah sendiri bigung mencari alternatif untuk memberi solusi dalam memecahkan persoalan yang dihadapi warga eks Timtim," katanya.

Setelah menggelar misa syukur, para warga eks Timor Timur berarak menuju Taman Makam Pahlawan Dharma Loka Kupang untuk menabur bunga, sebagai bentuk penghormatan terhadap para pejuang integrasi yang telah merelahkan nyawanya demi tegaknya Merah Putih di bumi Timor Lorosae.
Sumber: Antara, 28 Juli 2010
Ket foto: Sejumlah anak eks pengungsi Timor Timur di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Foto: dok. google.co.id

Erni Manuk Cs Bebas dari Bui

Theresia Abon Manuk alias Erni Manuk, narapidana dalang pembunuhan berencana atas Yohakim Laka Loi Langodai bebas dari penjara.

Banding yang diajukan Erni bersama empat terdakwa lainnya dikabulkan Pengadilan Tinggi NTT di Kupang. Erni cs yang kini mendekam di Rutan Larantuka segera pulang ke Lewoleba.

Kabar bebasnya Erni Manuk, putri Bupati Lembata, Drs Andreas Duli Manuk itu dikirim melalui pesan singkat (SMS) berantai pekan lalu kepada warga Lembata. Bebasnya Erni menjadi buah bibir warga Lembata bahkan tersiar sampai ke Maumere, Kabupaten Sikka.

Ternyata pesan singkat yang dikirim berantai itu hanya isapan jempol. Siapa yang pertama kali mengirim pesan itu pun tak ada yang tahu.

Humas Pengadilan Negeri (PN) Lembata, Gustav Bless Kupa, S.H yang dikonfirmasi FloresStar, Rabu (28/7/2010), mengaku sudah mendengar informasi mengenai SMS yang menyatakan Erni Manuk cs bebas dari bui. Pengadilan Negeri Lembata telah mengecek kebenaran kabar itu ke Pengadilan Tinggi di Kupang, ternyata informasi tersebut tidak benar.

Gustav adalah juga salah satu anggota Majelis Hakim bersama Wempy W.J. Duka, S.H, dan Ketua Majelis John PL Tobing, S.H, M.H yang menyidangkan kasus pembunuhan ini.

"Kami sudah cek ke Kupang, sampai saat ini belum ada putusan. Karena kami harus diberitahu. Kami harus waspada jangan sampai karena informasi itu, masyarakat datang demo kami. Karena kami yang putuskan terdakwa bersalah," kata Gustav di Lewoleba.

Koordinator Aldiras, Piter Bala Wukak, S.H, mengatakan pesan singkat berantai itu skenario yang dimainkan oknum tertentu guna memancing emosi keluarga korban dan simpatisan Yohakim Langodai agar mereka melakukan tindakan anarkis. Aldiras mengimbau seluruh masyarakat Lewoleba tidak terpancing dengan opini yang dibangun.

"Saya tidak tahu motivasinya apa sehingga menyebarkan SMS itu. Tidak benar sama sekali bahwa Erni Manuk cs bebas dari hukuman penjara," tandas Piter di Lewoleba, Rabu (28/7/2010).

Pieter mengutip SMS berantai itu, "putusan banding Pengadilan Tinggi terjadi Jumat (23/7), Erni Manuk, cs bebas tak bersalah. Hari Rabu (mungkin maksudnya, Rabu (28/8/2010), mereka bebas."

Piter menambahkan adik kandung korban, Karolus Koto Langodai, berangkat ke Kupang mengecek kebenaran informasi itu ke Pengadilan Tinggi NTT di Jalan El Tari Kupang. Jawaban yang diperoleh, berkas kasus Erni Manuk cs belum sempat dipelajari hakim PT NTT.

"Tadi malam, saya dengan Pak Karl (Karolus Koto Langodai) satu kapal feri dari Kupang ke Lewoleba. Dia sudah cek langsung ke PT NTT, SMS menyatakan Erni Manuk bebas itu bohong. Berkas banding diajukan terdakwa dan penasehat hukumnya belum sempat dipelajari," tandas Piter.

Meski hanya kabar burung, bebasnya Erni Manuk cs dari bui menjadi topik diskusi hangat di Lembata. Ketua DPRD Lembata, Yohanes de Rosari, S.E, menelepon ke Redaksi FloresStar di Maumere menanyakan kebenaran informasi itu. Di Lewoleba, sebagian masyarakat yakin Erni Manuk bebas meski belum ada pemberitaan apapun di media massa.

Pertanyaan serupa disampaikan Koordinator JPIC, Pater Vande Raring, SVD, Senin (26/7/2010). Rohaniwan yang mengikuti proses hukum kasus ini sejak awal tidak yakin Erni akan menang pada pengadilan tingkat banding. Pater Vande juga
sangsi karena bebasnya putri Bupati Lembata itu tidak diwartakan media massa di NTT.

Doni Kares Astrianus (30), warga Lewoleba yang ditemui FloresStar menduga, SMS itu sengaja disebar pihak tertentu guna menyulut emosi warga. Doni harapkan, masyarakat tidak terpengaruh.

"Mungkin ada pihak-pihak yang tidak senang dengan keadaan yang tenang dan nyaman di Kota Lewoleba. Lembata. Saya minta kepolisian menyelidiki oknum penyebar SMS agar diminta pertanggung jawabannya," tegas Doni.

Seperti diketahui, pembunuhan Yohakim Langodai, Kepala Bidang Pengawasan Laut dan Pantai Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lembata digagas Erni Manuk, bersama mitranya Bambang Trihantara.

Yohakim dieksekusi adik kandungnya, Lambertus Bedi Langodai bersama Muhammad Pitang dan Mathias Bala Langobelen, Selasa (19/5/2009) di ujung timur landasan pacu Bandara Wunopito Lewoleba sekembalinya mengikuti Konferensi Kelautan Internasional di Manado.

Motivasi pembunuhan yang paling menyita perhatian ini ditenggarai karena upaya korban menghalang-halangi Erni Manuk, cs memenangkan tender proyek di DKP Lembata tahun 2009.

Jaksa penuntut umum Kejari Lewoleba menuntut Erni, dan Bambang 20 tahun penjara, dan divonis 18 tahun. Sedangkan tiga pelaku lapangan, Bedi, Pitang dan Bala dituntut 17 tahun penjara dan divonis 15 tahun penjara. Setelah vonis majelis hakim PN Lembata pada pertengahan April 2010, para terdakwa dijebloskan ke Rutan Larantuka sampai saat ini.
Sumber: Pos Kupang, 29 Juli 2010
Ket foto: Theresia Abon Manuk alias Erni Manuk, tersangka otak pembunuhan berencana Yohakim Laka Loi Langodai. Foto: dok. google.co.id

Ambros Ceburkan Diri ke Laut

Ambrosius Ata (23), warga Desa Aramengi, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Rabu (28/7/2010) sekitar pukul 11.00 Wita menceburkan diri ke dalam laut di Pelabuhan Lewoleba. Korban baru ditemukan sekitar pukul 15.00 Wita dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

Informasi yang dihimpun FloresStar di Pelabuhan Fery Lewoleba menyebutkan, pada saat kejadian, ada dua kapal kecil dari Buyasuri yang sedang merapat pada Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Ile Boleng untuk membongkar ikan guna dibawa ke Kupang.

Pada saat itulah Ambros datang dari dalam kapal KMP Ile Boleng dan berdiri di bibir pintu kapal. Secara tiba-tiba, dia menjatuhkan diri ke dalam laut. Para nelayan yang sedang memindahkan ikan dari kapal kecil ke KMP Ile Boleng mengira Ambros hendak berenang. Toh tidak ada tanda-tanda minta tolong. Ratusan penumpang KMP Ile Boleng pun menganggap korban sedang berenang.

Para penumpang dan nelayan baru sadar sekitar 30 menit kemudian ketika sepasang sandal yang dipakai korban mengapung di permukaan laut dan tidak ada tanda-tanda gerakan manusia berenang. Beberapa warga spontan melakukan penyelaman mencari korban di sekitar kapal. Sementara yang lain melapor ke polisi di Pos Penjagaan KPPP Laut.

Pihak KPPP Laut merapat ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan melanjutkan laporan tersebut ke Polres Lembata. Tim dari Polres Lembata yang dipimpin KBO Reskrim, Jeffris Fangidae turun ke TKP dan melakukan pencarian bekerja sama dengan dari WWF Lembata. Mereka mengerahkan lima personel untuk mencari korban. Tiga tiga orang menggunakan speedboat mencari sekitar kapal sedangkan dua orang lainnya menyelam.

Proses pencarian sejak sekitar pukul 11.45 Wita baru membuahkan hasil sekitar pukul 15.00 Wita. Korban Ambros ditemukan di dekat pelabuhan jober atau sekitar 100 meter dari lokasi awal korban menjatuhkan diri. Ambroso berada pada kedalaman sekitar satu setengah meter.

"Korban ditemukan sudah mulai terseret ombak ke arah tepian oleh dua anggota penyelam. Jenazahnya kemudian dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Korban ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa lagi," jelas Fanggidae. Pihak kepolisian juga mengambil keterangan dari para saksi mata.

Salah seorang sanak keluarga korban, Atanasius Suda (46) yang ditemui di depan ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lewoleba, kemarin, mengatakan Ambros adalah anak pendiam dan rajin.

"Kita tidak biasa bercanda dengan dia atau diajak bicara banyak. Namun dia anak yang rajin," kata Atanasius yang mengaku sebagai kakak sepupu korban.

Menyangkut kejelasan status Ambros, apakah bekerja atau sedang menuntut ilmu, Atanasius tidak dapat memastikan hal itu karena Ambros tidak lama berada di kampung. Kalau kembali ke kampung pun dia tidak banyak bercerita kepada saudaranya.

"Dia paling lama di kampung satu minggu terus pulang lagi. Dan, dia terakhir kali ke kampung sekitar dua atau tiga bulan lalu. Jadi, mungkin dia mau ke Kupang tadi ikut dengan Kapal Fery. Walau tidak suka bicara banyak dengan kami, dia anak yang baik dan tidak berbuat macam-macam dengan orang lain," kata Atanasius.

Ditambahkannya, Ambros adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Hubungan Ambros dengan saudara kandungnya harmonis.

Kepala Kepolisian Resor Lembata, AKBP Marthin JH Johannis, S.H melalui Kasat Reskrim, Bayu Wicaksono, S.H, S.Ik dan KBO Reskrim, Jeffris Fanggidae, mengatakan, pihaknya menindaklanjuti kasus ini sesuai hasil visim yang akan diperoleh dari RSUD hari ini, Kamis (29/7/2010).
Sumber: Pos Kupang, 29 Juli 2010
Ket foto: Para calon penumpang di Dermaga Lewoleba, tempat Ata menceburkan diri hingga tewas. Foto: dok. Ansel Deri

Inilah Pernikahan Termahal Tahun Ini!

Written By ansel-boto.blogspot.com on Thursday, July 29, 2010 | 7:20 PM

Pernikahan Chelsea Clinton, putri mantan orang nomor satu Amerika Serikat Bill Clinton dan Hillary —mantan ibu negara yang kini menjadi Menteri Luar Negeri AS di bawah kepemimpinan Barack Obama— itu diyakini menjadi pernikahan termahal pada tahun ini.

Bayangkan saja, biaya yang harus dikeluarkan untuk pernikahan yang akan dilangsungkan pada Sabtu (31/7/2010) di Astor Courts, bekas kediaman miliarder John Jacob Astor IV, di Rhinebeck, New York, itu ditaksir mencapai angka 3,2 juta poundsterling atau setara Rp 45 miliar (1 poundsterling = Rp 14.000).

"Ini tentunya akan menjadi pernikahan terbesar tahun ini," ujar Donnie Brown, perancang pernikahan selebriti, seperti dikutip Daily Mail.

Biaya sebesar itu tentu saja melampaui biaya pernikahan yang pernah dilakukan sejumlah kalangan selebriti Hollywood. Pernikahan aktris Liza Minnelli dan David Gest, yang tergolong paling mewah selama ini, dengan biaya mencapai Rp 22 miliar, masih kalah mahal.

Begitu pula dengan pernikahan pasangan aktor Tom Cruise dan Katie Holmes yang menghabiskan biaya mencapai Rp 17 miliar.

Biaya apa saja yang akan dikeluarkan untuk keperluan pernikahan Chelsea dan Marc Mezvinsky (32), anak kedua politikus Marjorie Margolies-Mezvinsky dan Edward M Mezvinsky —keduanya mantan anggota kongres AS— itu? Situs TMZ memberikan gambarannya, yaitu sebagai berikut:

a. Tenda mencapai Rp 5,6 miliar.
b. Meja dan pecah belah Rp 984 juta.
c. Hiasan bunga dengan lillies casablanca dan anggrek Rp 4,5 miliar.
d. Gaun pengantin rancangan Oscar de la Renta atau Vera Wong ditaksir mencapai Rp 225 juta.
e. Perhiasan untuk hari pernikahan Rp 2,25 miliar.
f. Kue pengantin Rp 98 juta.
g. Pengamanan berbiaya Rp 1,8 miliar.
h. 4-6 buah trailer portaloo Rp 135 juta.

Perencana pernikahan Claudia Hanlin mengatakan, tagihan akhir akan melambung sesuai tuntutan kualitas yang diinginkan. Menurutnya, biaya terbesar akan dianggarkan untuk makanan dan minuman. "Clinton dikabarkan telah menyewa sejumlah vendor, di mana hal ini menjadi alasan utama begitu tingginya biaya pernikahan," katanya.

Besarnya biaya yang harus dikeluarkan sangatlah beralasan, mengingat kedua mempelai datang dari keluarga yang berpengaruh di Negeri Paman Sam. Sejumlah orang-orang penting dijadwalkan bakal menghadiri pesta pernikahan yang berlokasi 100 mil sebelah utara Manhattan itu, di antaranya, orang nomor satu di AS saat ini, Presiden Barack Obama.

Di deretan selebriti yang hadir, yakni Oprah Winfrey, Steven Spielberg, dan Barbra Streisand, serta mantan Perdana Menteri Inggris John Major.
Sumber: Kompas.com, 29 Juli 2010
Ket foto: Chelsea Clinton, putri sematan wayang mantan Presiden AS Bill Clinton dan Hillary Rodham Clinton. Dalam kabinet Barack Obama, Hillary menjabat Menteri Luar Negeri.

Patrialis Akbar: Selidiki Pencabulan Anak di LP Cipinang

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar mengatakan bahwa ia telah meminta agar penyelidikan dilakukan terhadap laporan adanya pencabulan puluhan anak yang dilakukan oleh dokter spesialis anak, RS, yang juga narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang pada 2005.

"Saya sudah perintahkan Kakanwil DKI untuk menyelidiki ini secara tuntas," ujar Patrialis singkat sesaat sebelum mengikuti rapat kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (29/7/2010).

Sebelumnya, seperti diwartakan, 15 dari 30 anak korban pelecehan seksual menuntut keadilan dengan menggelar aksi demo di depan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (28/7/2010). Mereka menuntut RS, yang membuka kamar praktik poliklinik di dalam LP Cipinang sejak 2005 sampai Agustus 2009, mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Para korban pelecehan seks itu juga meminta Menhuk dan HAM untuk tidak memberikan keistimewaan kepada RS sebagai narapidana LP Cipinang karena kasus pemalsuan akta dengan pidana 13 tahun penjara. Mereka juga mendesak agar RS tidak mendapatkan SK Pemuka Kesehatan untuk membuka poliklinik di dalam LP Cipinang.
Menurut pengakuan salah satu korban, RS telah melecehkan mereka dengan cara menelanjangi para korban satu demi satu dan dimandikan dengan air kembang yang berasal dari tujuh desa. Semua itu adalah syarat yang diberikan oleh dokter itu kepada korban agar menjadi sakti, gagah, pintar, dan mendapatkan pekerjaan yang mapan.

Setelah anak-anak itu ditelanjangi, sang dokter pun melakukan oral seks terhadap para korbannya. Selanjutnya, sperma mereka ditampung di dalam botol dengan dalih untuk dipersembahkan kepada dewa. Kemudian, para korban diberikan imbalan Rp 200.000 sampai Rp 500.000 agar tidak memberitahukannya kepada siapa pun.

"Awalnya, pada 2005 lalu, saya diantarkan oleh Armal, seorang teman RS, agar mau menemui dokter yang berada di dalam tahanan LP Cipinang. Katanya akan dijanjikan sebuah pekerjaan. Namun sampai sekarang, semua itu tidak terbukti dan saya telah dilecehkan," ucap FR (18), seorang korban pelecehan seksual, Rabu.

Dia mengaku, pengaduannya dilakukan baru-baru ini saja. Pasalnya, dia merasa malu dengan apa yang menimpanya saat berusia 14 tahun itu. Armal, yang juga ikut berdemo, mengaku telah dibohongi oleh RS. Pasalnya, dia juga dijanjikan akan diberikan imbalan jika membawa anak-anak di bawah umur 17 tahun sebanyak 25 anak.

"Saya tidak tahu jika anak-anak yang saya bawa menjadi korban pelecehan seksual oleh RS karena, setelah dibawa ke dalam penjara, anak-anak itu langsung dibawa ke dalam kamar kliniknya, sedangkan saya hanya menunggu di luar," ungkapnya.

Armal mengaku bisa membawa masuk anak-anak ke dalam LP Cipinang dengan alasan membesuk RS. Perbuatannya itu dilakukan pada 2005-2009. Namun, dia mengaku baru sadar setelah anak-anak itu mengadukan apa yang telah terjadi antara mereka dan RS.

Sebelumnya, para korban mengadukan kasus yang menimpa mereka ini kepada Koalisi Perlindungan Anak (KPA) untuk menuntut keadilan dari Menhuk dan HAM terhadap RS.

Namun, Kepala LP Cipinang Wayan Sukerta saat dimintai konfirmasi mengaku bahwa hingga saat ini tidak ada laporan mengenai tindakan pelecehan seksual yang dilakukan RS di dalam tahanan.

"RS dipenjara sejak tahun 2004 karena kasus pemalsuan identitas, penganiayaan, dan penggelapan. Keberadaannya juga selalu dijaga oleh petugas dan tidak ada laporan tentang pelecehan seksual sampai saat ini," ujar Wayan.
Sumber: Kompas.com, 29 Juli 2010
Ket foto: Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar dan LP Cipinang, Jakarta Timur.
Foto: dok. google.co.id

Pemuda NTT Minta Tambang Dihentikan

Puluhan mahasiswa dan aktivis dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tergabung dalam Forum Pemuda NTT Penggerak Keadilan, Kamis (29/7/2010), menggelar unjuk rasa di depan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta.

Mereka menuntut pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM untuk menghentikan semua aktivitas penambangan dan menutup perusahaan-perusahaan pertambangan yang masih beroperasi di wilayah NTT.

Mereka menilai keberadaan perusahaan-perusahaan pertambangan di wilayah NTT tidak memberikan keuntungan bagi penduduk sekitar dan justru menjadi "monster" perusak ekosistem alam. "Kami mendesak pemerintah pusat dan kementerian terkait untuk segera menutup semua perusahaan pertambangan di wilayah NTT," kata Thomas Harming Suwarta selaku Sekretaris Jenderal Forum Pemuda NTT, di depan Kementerian ESDM, Jakarta.

Sebelumnya, massa Forum Pemuda NTT ini menggelar aksi di depan Tugu Proklamasi, kemudian melakukan longmarch dan aksi di depan Istana Merdeka, dan berakhir di Kementerian ESDM.

Setelah menggelar aksi beberapa menit di Kementerian ESDM, sejumlah perwakilan Forum Pemuda NTT ini diperkenankan masuk dan berdialog dengan perwakilan dari Kementerian ESDM.

Menurut Thomas, kondisi alam NTT yang terdiri dari pulau-pulau kecil tidak cocok untuk aktivitas pertambangan. Keberadaan perusahaan pertambangan hanya akan merusak kondisi ekosistem alamiah NTT.

"Secara geologis, NTT berada dalam ring of fire, lingkaran gunung api aktif yang rawan bencana. Kegiatan penambangan hanya akan menimbulkan bahaya bencana alam," terang Thomas.

Dia menjelaskan, sejak beberapa tahun terakhir, investasi sektor pertambangan di NTT makin mengalami peningkatan secara masif. Data menunjukan, di Kabupaten Manggarai Barat terdapat 8 Izin Usaha Pertambangan (IUP), Manggarai 23 IUP, Manggarai Timur 16 IUP, Ngada 11 IUP, TTU 82 IUP, Sumba Timur dan Sumba Barat Daya masing-masing 2 IUP.

"Pertambangan tidak menghasilkan keuntungan bagi masyarakat seperti yang selalu dijanjikan dan dikampanyekan pemerintah daerah. Masyarakat NTT tetap miskin meski sudah puluhan tahun tanahnya ditambang," tutur Thomas.

Tidak hanya faktor ekses dari aktivitas penambangan, Thomas mengatakan, banyak perusahaan pertambangan yang beroperasi di NTT tidak mengikuti aturan perundangan terkait, seperti UU Minerba, Kehutanan, Lingkungan Hidup, dan regulasi lainnya.

"Semuanya terjadi di ruang tertutup dan tidak pernah melibatkan masyarakat seperti diamanatkan UU Minerba Nomor 4 tahun 1999 . Karena itu, kami menduga kuat adanya praktik mafia pertambangan ilegal yang melibatkan sejumlah pejabat," tegasnya.
Sumber: Kompas.com, 29 Juli 2010
Ket foto:Salah satu potret kegiatan pertambangan di Kalimantan Selatan. Tuntutan sejumlah elemen masyarakat NTT di Jakarta kepada pemerintah untuk menghentikan kegiatan pertambangan di NTT terus dilakukan.
Foto ilustrasi: www.hasanzainuddin.wordpress.com


Pelatihan Jurnalistik 350 Siswa di Ende

Diklat Kompas untuk pertama kalinya memberikan pelatihan jurnalistik untuk siswa SMA di luar pulau Jawa, dengan memberikan pelatihan kepada 350 siswa SMAK Syuradikara, di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pelantihan selama empat hari dimulai hari Rabu (28/7) dan dijadwalkan berakhir Sabtu (31/7/2010). "Anak-anak kami di Flores ini sangat berminat pada jurnalistik terutama berkaitan dengan praktik jurnalistik di lapangan, seperti mencari berita, membuat foto, dan sampai menerbitkan suratkabar. Pelatihan ini diharapkan akan semakin menumbuhkan minat mereka dalam jurnalistik. Apalagi selama banyak warga Flores yang menjadi jurnalis di media nasional," ujar Pater Khanis Bhila SVD, Kepala Sekolah SMAK Syuradikara, saat pembukaan di Aula Syuradikara, Ende, Rabu (28/7/2010).

Manajer Diklat Kompas, Tonni Widiastono pada acara jurnalistik ini menegaskan, pelatihan jurnalistik di Ende ini selain yang pertama dilakukan oleh Diklat Kompas untuk siswa SMAK di luar Jawa, jumlah siswa yang mengikuti pelatihan itu yakni 350 orang ini juga rekor jumlah peserta.

Sebelumnya, dalam pelatihan jurnalistik di Pualau Jawa paling banya dihadiri hanya 250 siswa. Selain itu, menurut Tonni, Kompas juga perlu memberikan pelatihan kepada siswa-siswa di Flores erat berkaitan dengan sejarah berdirinya Harian Kompas yang tahun ini berusia 45 tahun.

"Saya menyebutkan anda semua saudara-saudara karena orang Flores banyak terlibat dan berjasa dalam berdirinya Kompas," ujar Tonni. Penjelasan ini berkaitan dengan sekitar 5.000 tandatangan dari Orang Flores yang diperlukan untuk terbitkan harian Kompas pada 28 Juni 1965.

Pelatihan jurnalistik ini bukan saja memberikan teori menulis berita, feature, juga soal dunia multimedia seperti internet, video, dll. Para siswa juga akan bergerak ke lapangan tak ubahnya wartawan, mencari berita sampai dengan menerbitkan surat khabar.

Dengan demikian mereka akan memahami dunia jurnalistik, dan bahkan suatu saat kelak mau menjadi wartawan entah di media nasaional. Lokal ataupun punya minat dalam menulis seperti menulis buku, opini dan sebagainya.
Sumber: Kompas.com, 29 Juli 2010
Ket foto: Manajer Diklat Kompas Tonni Widiastono.
Foto: dok. www.kubukubuku.blogspot.com

Quo Vadis Indonesiaku?

Oleh Herman Musakabe
Gubernur NTT 1993 – 1998

Ketahanan Daerah NTT sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Ketahanan Nasional, kondisinya tidak jauh berbeda dengan kondisi gatra-gatra yang telah diuraikan di atas. Yang berbeda hanya skala dan intensitas gangguan dan ancaman terhadap gatra-gatra itu dan bagaimana kiat pemimpin lokal (gubernur, bupati/walikota) menangani masalah-masalah yang berkembang di daerahnya. Masalah yang dihadapi di NTT dari waktu ke waktu masih berkisar seputar kemiskinan, pengangguran, masalah pendidikan dan SDM yang harus ditingkatkan kualitasnya, mungkin ditambah masalah lingkungan hidup setelah ada kegiatan pertambangan di daerah dan pencemaran laut akibat tumpahan minyak akhir-akhir ini.

Pada kesempatan ini saya hanya ingin memberi beberapa masukan dan saran untuk kebaikan Flobamora ke depan, sebagai berikut, pertama, pemilihan kepala daerah (pemilu kada) secara langsung oleh rakyat sebagai wujud demokrasi, ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi pemimpin terpilih mendapatkan legitimasi karena dipilih langsung oleh rakyat dan mendapat mandat penuh sebagai pemimpin, namun di sisi lain ekspektasi/harapan rakyat kepada sang pemimpin juga sangat besar.

Seringkali, terdapat kesenjangan/gap antara janji-janji kampanye calon pemimpin dan tim suksesnya dengan pelaksanaan setelah pemimpin terpilih menjalankan kepemimpinannya. Sebaiknya para calon pemimpin jangan berkampanye tentang hal-hal yang mustahil dilaksanakan seperti pendidikan gratis atau iming-iming bantuan sejumlah dana untuk desa-desa, tetapi berkampanyelah hal-hal yang realisitis. Misalnya meningkatkan minat baca masyarakat dengan mendirikan taman-taman bacaan atau perpustakaan di desa-desa. Dengan demikian, terlepas dari kalah atau menangnya calon, ia telah berbuat kebaikan dengan menyediakan fasilitas umum dalam upaya mencerdaskan bangsa. Begitu pula kehadiran sebagian pemimpin di tengah-tengah rakyat terasa berbeda waktu kampanye yang sangat dekat dengan rakyat di desa, tetapi setelah terpilih mengambil jarak dengan rakyat dan jarang turba ke desa-desa, kecuali untuk kegiatan seremonial.

Kedua, tugas para pemimpin pada hakikatnya adalah melayani masyarakat dan model kepemimpinan yang cocok untuk NTT adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership), yaitu lebih berorientasi melayani rakyat yang dipimpinnya dengan standar moral-spiritual ketimbang mengejar kekuasaan, materi dan uang. Materi dan uang itu akan sirna tetapi pelayanan kepada rakyat akan selalu dikenang. Yang penting bukan berapa tahun pemimpin memimpin (5, 10 tahun atau lebih), tetapi apa yang telah pemimpin buat bagi rakyat selama memimpin.

Ketiga, menentukan sasaran yang dapat dicapai dalam program kerja lima tahun ke depan. Kalau sasaran itu diperkirakan tidak dapat tercapai dalam lima tahun kepemimpinannya, sebaiknya jangan dijadikan tema kampanye karena rakyat akan meminta bukti pertanggungjawabannya kepada sang pemimpin.

Keempat, membentuk tim dengan memilih orang-orang berkualitas dan bekerja dengan tim. Sebaik apa pun visi, misi dan program yang dicanangkan, tetapi bila tidak didukung oleh SDM berkualitas dan memiliki komitmen kuat untuk menyukseskan program, maka sulit akan memperoleh keberhasilan. Pilihlah tim kerja manusia-manusia kaya arti yang memberi kontribusi, bukan orang miskin arti, apalagi berlawanan arti yang akan menjadi beban.

Kelima, mengakomodasi para pemimpin informal yang ada di daerah. Pemimpin formal tidak dapat bekerja sendiri tetapi harus didukung oleh para tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat setempat karena mereka memiliki massa atau pengikut. Sering kali komunikasi antara pemimpin formal dan tokoh-tokoh itu terkendala oleh aturan birokrasi yang kaku. Komunikasi ini perlu ditingkatkan demi keberhasilan pemimpin.

Di akhir tulisan ini, saya mendoakan rakyat NTT tercinta, para pemimpin formal dan informal yang ada di pelosok daerah yang sedang menghadapi pergumulan masalah-masalah sulit yang dihadapi. Semoga Tuhan memberi mereka kekuatan menghadapi kesulitan dan para pemimpin bekerja dengan hati nurani melayani rakyat yang dipimpinnya.

Hidup hanya singkat, maka pergunakanlah waktu kronos sebaik-baiknya untuk bekerja dan berdoa (ora et labora) bagi kepentingan rakyat. Pergunakanlah waktu kairos sebagai peluang untuk berbuat kebaikan dengan melayani sesama, terutama rakyat yang sangat memerlukan pertolongan keluar dari kesulitannya. Jadilah manusia kaya arti yang berguna dan memberi kontribusi bagi orang lain dan tanah Flobamora tercinta. Menanam kebaikan bagi sesama akan menuai hasilnya waktu memasuki waktu aion, yaitu waktu abadi dalam kehidupan yang akan datang sesudah kehidupan fana di dunia ini. Tuhan memberkati.
Sumber: Pos Kupang, 29 Juli 2010

RI-Timor Leste Berlakukan Pas Lintas-Batas

Written By ansel-boto.blogspot.com on Wednesday, July 28, 2010 | 7:14 PM

Setelah dilakukan serangkaian pembahasan, pas lintas-batas (PLB) bagi warga Indonesia dan Timor Leste di sepanjang garis perbatasan kedua negara, akhirnya secara resmi diberlakukan.

"Perlu ada tekad dari kedua pemerintahan untuk memberi kemudahan sesuai undang-undang yang berlaku di kedua negara bagi warga yang bermukim di perbatasan negara. PLB ini memberi kemudahan bagi warga yang tinggal di wilayah perbatasan kedua negara," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa kepada pers di kompleks Kedutaan Besar Indonesia di Dili, Timor Timur, Rabu petang.

Natalegawa beserta rombongan melakukan kunjungan resmi ke negara itu untuk memimpin Pertemuan Keempat Komisi di Tingkat Menteri (JMC), bersama koleganya Menteri Luar Negeri Timor Leste Zacharias A da Costa.

Selain itu, sejumlah pertemuan terpisah empat mata dengan para pemimpin Timor Leste telah dijadualkan untuk Natalegawa, yaitu dengan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta, dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao.

Dua agenda penting yang mengisi forum tertinggi di tingkat menteri itu adalah pemberlakuan PLB dan Perjanjian Perhubungan Udara di antara kedua negara.

"Masyarakat kedua negara diketahui sejak dahulu secara tradisional saling berkunjung karena mereka terikat tali persaudataan dan kekerabatan. Dengan PLB ini, mereka bisa saling berkunjung dan melakukan aktivitas perekonomian di pasar-pasar tradisional," kata Natalegawa.

Berdasarkan pasal-pasal perjanjian atas pemberlakuan PLB itu, katanya, PLB berlaku bagi warga kedua negara yang benar-benar bermukim di garis perbatasan.

"Untuk saling berkunjung, mereka kini tidak perlu lagi membayar visa dan lain-lain yang tidak kecil biayanya dengan proses yang cukup rumit bagi mereka," katanya.

Menurut Natalegawa, sejauh ini satu pintu lintasbatas resmi dengan pasar tradisionalnya, telah siap menjadi titik pemberlakuan PLB.

"Motaain di wilayah kita dan Batugade di wilayah mereka sudah siap, baru ke delapan titik lain, kemudian beranjak ke penggal-penggal garis perbatasan yang belum selesai penetapannya," katanya.

Menurut rencana, kedua pemerintahan sepakat untuk menetapkan sembilan pintu perlintasan di garis perbatasan kedua negara sebagai titik-titik pemberlakuan PLB itu.

Kesembilan titik itu adalah Motaain-Batugade, Metamauk- Salele, Napan Bawah- Bobometo, Builalo-Memo, dan Haekesak Turiskain.

Selanjutnya Haumusu C/Wini-Wini, Haumeniana-Passabe, Laktutus-Belulik Leten, dan Pos Oepoli Sungai-Citrana.

Pemberlakuan PLB itu sendiri telah lama dinantikan oleh masyarakat di garis perbatasan kedua negara, baik itu di Kabupaten Belu, Kabupaten TTU, dan Kabupaten Kupang, NTT. Ketiga kabupaten ini berbatasan langsung dengan Distrik Bobonaro dan Distrik Suai serta Distrik Oekusi, yang menjadi enklav Timor Leste di wilayah Provinsi NTT.

Secara kesejarahan, adat dan kekerabatan, masyarakat di sepanjang garis perbatasan kedua negara itu memiliki nenek moyang dan budaya serta bahasa yang sama. Dengan begitu, perlintasan warga di garis perbatasan ini sangat kerap terjadi.

Salah satu pasar tradisional terbesar yang dibangun Indonesia di perbatasan Indonesia dan Timor Leste terdapat di Mota Ain, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. Kompleks pasar itu sendiri telah berdiri sejak empat tahun lalu, namun hingga kini belum difungsikan karena beberapa hal.

Keberadaan pasar tradisional di sisi Indonesia itu juga mendapat tanggapan dari pihak Timor Timur, yang juga membangun pasar serupa di dekat Batugade, Distrik Bobonaro.

Sejak meraih kedaulatannya pada 2002 lalu, berbagai komoditas keseharian masyarakat di negara itu banyak disuplai dari pintu lintasbatas resmi Mota Ain.

Bahkan, suplai avtur untuk keperluan penerbangan di negara itu juga disuplai dari Depo Pertamina Atapupu, yang berlokasi sekitar 11 kilometer dari Mota Ain.
Sumber: Antara, 28 Juli 2010
Ket foto: Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Foto: dok. google.co.id

FUL, Kok Begitu Cepat Pergi...

Sabtu (24/7/2010) sore, beberapa saat setelah saya membuka Facebook, tiba-tiba saya mendapatkan kiriman dari seorang teman. Setelah dibuka, ternyata pengirimnya M Syaifullah, sahabat saya yang tinggal di Balikpapan, Kalimatan Timur.

Mula-mula, FUL, begitu kami menyapanya di Kompas, menanyakan posisi saya: apakah sedang di Palembang atau Jakarta? Saya kemudian menjawab, “Saya sedang di Palembang”. Saya kemudian menanyakan posisi dia: apakah di Balikpapan atau Banjarmasin? Dia balik menerangkan bahwa dirinya sedang di Balikpapan.

Setelah itu, FUL bertanya lagi, apakah saya sedang di kantor atau di rumah? Saya lalu mengabarkan bahwa saya sedang sendirian di rumah. FUL kemudian membalas, “Sama dong. Kita sama-sama jomblo dan jablai (jarang dibelai)”. Saya pun mengirim pesan dengan mengatakan: “Iya, beginilah nasib kita. Sama-sama jauh dari keluarga”. (Keluarga FUL tinggal di Banjarmasin, sedangkan keluarga saya tinggal di Jakarta).

Selepas itu, kami pun bercerita beberapa saat tentang urusan internal karyawan Kompas. Di akhir chating, dia menyampaikan proficiat atas terpilihnya Sumatera Selatan sebagai tuan rumah Sea Games 2011.

Dia sempat menganjurkan agar dibuat suatu liputan menarik terkait pesta olahraga masyarakat Asia Tenggara tersebut di Palembang. Saya mengatakan, “Usulan menarik itu pasti diperhatian. Thanks”.

Setelah saya mengirimkan pesan tersebut, FUL tak lagi membalas. Informasi yang muncul di Facebook saya menerangkan, sahabat tersebut telah mematikan akun Facebook-nya. Kejadian ini sebetulnya aneh bagi saya sebab pengalaman selama ini, kalau chatting dengan FUL, dia pasti pamit kalau hendak mematikan akunnya.

Sekitar satu jam saya menunggu balasan pesan lagi dari FUL, tetapi ternyata yang ditunggu itu tidak datang juga sehingga saya pun memutuskan mematikan internet. Namun, sungguh mengagetkan ketika pada Senin (26/7/2010) pagi, saya mendapatkan kabar, temanku FUL telah pergi untuk selamanya. Padahal, saat chatting itu, dia sama sekali tidak menyinggung tentang kondisi kesehatannya.

Saya mengenal FUL sejak tahun 1997 ketika masih sama-sama bertugas sebagai wartawan Kompas di Kalimantan. Dia tugas di Samarinda, sedangkan saya di Pontianak. Bahkan, ketika pada Oktober 2001, saya pindah ke Jakarta, dia pula yang menggantikan saya di Pontianak.

Selama berkali-kali bertemu dengannya, FUL selalu menampakkan sikap yang sangat santun dan rendah hati. Nada suaranya pun tenang dan pelan. Beberapa kali kami mencoba memancing dia agar memperlihatkan emosi dan amarahnya, sikap itu begitu sulit ditampakkan Syaifullah.

“Syaifullah itu termasuk orang yang tidak tahu marah. Orang ini terlalu santun dan baik hati. Sulit bagi kita untuk mendapatkan kepribadian seperti dia pada wartawan kebanyakan saat ini,” kata Dismas Aju, wartawan surat kabar nasional di Pontianak.

Namun, kini semuanya telah terjadi. Sang Maha Kuasa telah memanggilnya untuk pergi mendahului kita. Semoga FUL mendapatkan tempat terbaik di sisi-NYA. Selamat jalan kawan.... (Jannes Eudes Wawa)
Sumber: Kompas.com, 26 Juli 2010
Ket foto: alm. Muhammad Syaifullah

Sudah Cacat Diperkosa Pula

Pepatah sudah jatuh di timpah tangga lagi, tepat untuk Bunga (bukan nama sebenarnya) Gadis yang punya bawaan cacat (bisu dan tuli) itu diperkosa oleh Andreas Awurin Dore (36) di kali mati Waikomo (Kecamatan Nubatukan, Kebupaten Lembata, NTT), saat korban membuang hajat. Aksi bejat tersebut terjadi Senin (19/7/2010) sekitar pukul 18.00 Wita.

Saat ini kasus pemerkosaan itu telah ditangani penyidik Polres Lembata. Andreas Dore pun telah diringkus dan ditahan. Pelaku diancam dengan pasal 385 KUHP, dengan ancaman pidana penjara selama 12 tahun.

Informasi yang dihimpun FloresStar menyebutkan, kasus itu bermula saat Bunga sedang buang air besar (BAB) di kali mati tersebut. Maklum ketiadaan kamar mandi dan water closed (wc) di rumah, sehingga Bunga menuju kali mati. Saat itu ia melewati depan rumah Andreas, yang juga tetangga dekat korban.

Beberapa menit setelah Bunga berjalan ke kali mati itu, Andreas pun mengikutinya dari belakang. Ketika bertemu, Andreas memaksa korban untuk melayaninya.

Bunga yang terlahir dalam kondisi cacat itu, tidak mengerti dengan perilaku Andreas. Saat Andreas menanggalkan pakaiannya pun Bunga menuruti saja.

Korban baru melakukan perlawanan, ketika Andreas mulai melakukan aksinya dengan meremas buah dada korban. Lantaran korban berontak dan berusaha berteriak, pelaku menutup mulut korban dengan tangannya. Tindakan pelaku itu menimbulkan luka goresan pada bibir korban, sekitar tiga centimeter.

Tidak puas dengan sekali permainan, Andreas pun memperdaya korban untuk melayani nafsu birahinya yang kedua kali. Saat itu Bunga dipaksa melakukan oral seks. Apa mau dikata, Bunga pasrah.

Puas dengan aksinya, Andreas mengenakan kembali pakaiannya dan juga pakaian korban, membersihkan sisa-sisa tanah dan rerumputan yang melekat di baju korban lalu menyuruhnya pulang. Saat itu sekitar pukul 19.00 Wita.

Merasa sudah aman, pelaku pun buru-buru meninggalkan lokasi tersebut. Setelah tiba dirumah, pelaku lantas bergegas meninggalkan rumah mengikuti istri dan ketiga anaknya yang sedang berada di Eropaun. Saat itu Andreas menggunakan jasa ojek.

Ternyata, peristiwa itu membawa trauma bagi Bunga. Olehnya setiba di rumah Bunga langsung menceritakan kepada adiknya, Maria Nogo Udjan (23), bahwa dirinya telah diperlakukan oleh sesorang. Saat itu Bunga menuturkan kejadian yang dialaminya dengan bahasa tubuh.

"Saat sampai di rumah, kakak langsung tunjukan bibirnya yang tergores, dan dadanya yang memerah karena ulah pelaku. Tapi kami tidak tahu kalau pelaku juga memperkosanya," tutur Maria kepada FloresStar di unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Mapolres Lembata, Sabtu (24/7/2010) siang.

Lapor Polres Lembata

Ikhwal kasus pemerkosaan itu baru terungkap setelah korban dibawa kedua orang tua dan adiknya Maria, melaporkan kasus itu ke Polres Lembata, Rabu (21/7/2010) sekitar pukul 18.00 Wita.

Setelah menerima laporan itu, penyidik Polres Lembata langsung memeriksa korban dan orang tuanya. Setelah itu polisi bergerak menuju rumah pelaku. Sayangnya oknum bersangkutan tidak berada di rumah.

Diperoleh informasi bahwa pelaku melarikan diri ke rumah pamannya di Golo, sekitar 10-15 kilo meter dari Waikomo, tempat tinggal pelaku dan juga korban.

Berkat bantuan warga setempat, pada malam itu juga polisi berhasil meringkus Andreas. Oknum pelaku kemudian dibawa ke Mapolres Lembata dan ditahan.

Kapolres Lembata, AKBP. Marthin JH Johannis, S.H melalui Kasat Reskrim Bayu Wicaksono, S.H, S.IK mengatakan tindakan Andreas itu dijerat dengan pasal 285 jo pasal 286, dan atau pasal 290 ayat 1, KUHP.

"Isi ayat itu, barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita untuk bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama 12 tahun."

Menurut Bayu, pasal KUHP itu dijatuhkan karena pelaku memaksa korban yang mengalami cacat mental (bisu dan tuli) melakukan hubungan perkawinan, dan juga memaksa korban untuk oral seks bersamanya, sehingga menyebabkan korban mengalami trauma dalam kesehariannya.

Sementara itu, Andreas yang ditemui FloresStar, Sabtu (24/7/2010) siang, di ruang PPA Polres Lembata, usai diperiksa, mengaku saat itu dirinya masih dalam keadaan mabuk, karena baru menenggak satu jerigen tuak putih ukuran lima liter. Tuak itu diminumnya seorang diri di Pasar Pada siang harinya, setelah menjual sayur keliling.
Sumber: Pos Kupang, 26 Juli 2010
Ket foto ilustrasi: Gadis korban perkosaan. Foto: dok. google.co.id

Kasus Air Bersih di Lamalera, Ada Calon Tersangka

Calon tersangka kasus proyek jaringan air minum bersih di Desa Lamalera, sudah dikantongi polisi. Dalam waktu dekat, penyidik akan menetapkan tersangka kasus proyek pemasangan jaringan pipa di desa itu.

"Pengusutan kasus proyek pemasangan pipa air bersih di Desa Lamalera itu, sudah pada tahap pemeriksaan saksi. Calon tersangka akan segera ditetapkan setelah diterima hasil audit BPKP. "

Demikian Kapolres Lembata, AKBP. Marthin JH Johannis, S.H melalui Kasat Reskrim Polres Lembata, AKP. Bayu Wicaksono, S.H, S.IK, saat ditemui FloresStar di ruang kerjanya, Sabtu (24/7/2010) siang.

Wicaksono mengemukakan hal tersebut setelah dikonfirmasi soal penanganan sejumlah kasus yang direkomendasikan Panitia Khusus (Pansus) DPRD Lembata beberapa waktu lalu.

Dikatakannya, dalam proyek pemasangan pipa air bersih di Desa Lamalera itu, beberapa saksi sudah diperika. Sedangkan tiga kasus lainnya masih menunggu hasil audit dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan NTT.

Menurut dia, walau kasus pipanisasi itu penyidik sedang memeriksa saksi, namun pihaknya belum ditetapkan tersangka. Penetapan tersangka itu masih menunggu hasil audit BPKP yang hingga kini belum diterima penyidik.

"Indikasi pidananya jelas ada. Sebab ada dana yang sudah diambil tetapi realisasi di lapangan belum sama sekali. Untuk sampai pada penetapan tersangka, kami membutuhkan hasil audit BPKP untuk mengetahui kerugian yang ditimbulkan dalam proyek ini terhadap negara. Dari hasil audit itu bisa diketahui pasal mana yang dapat dikenakan kepada para tersangka," jelas Bayu.

Bayu sangat mengharapkan hasil audit BPKP yang sedang dilakukan di Kupang, dalam waktu dekat sudah diterima sehingga bisa digunakan penyidik untuk menetapkan pasal yang tepat guna menjerat para pihak yang terlibat dalam kasus tersebut.

Mengenai tiga kasus lain yang juga direkomendasikan pansus DPRD Kabupaten Lembata yakni item pembangunan pengaman DAS Waikomo, jaringan pipanisasi di Desa Lebe, dan penghilangan Kapal Lomblen 1, hingga saat ini, penyidik masih menunggu hasil audit BPKP.

"Dua kasus lainnya masih tunggu audit BPKP dan tim akademisi. Sedangkan untuk kasus Lamalera kami sudah sampai pada tahap pemeriksaan saksi. Soalnya, fisik proyek itu tidak ada tapi dananya sudah cair 30 persen. Makanya kami ambil langkah cepat dengan mengambil keterangan dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya," jelas Bayu.
Sumber: Pos Kupang, 26 Juli 2010
Ket foto: Anak-anak nelayan Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Kebutuhan air minum di desa nelayan ini menjadi persoalan lain yang dihadapi warganya. Foto: dok. www.alex.dordeduca.ro

Presiden Mahmoud Ahmadinejad: Paul Si Gurita Alat Propaganda

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menilai, gurita bernama Paul merupakan simbol propaganda negeri-negeri Barat. Lebih jauh, ia menyebut Paul lambang kerusakan mental "musuh-musuh" Iran di wilayah Barat.

Paul, yang hidup di Oberhausen Sea Life Centre, Jerman, menjadi salah satu fenomena di Piala Dunia 2010. Paul meramal sejumlah pertandingan, termasuk ramalan final di mana Spanyol akan menang atas Belanda, dan benar semua.

Nama Paul pun bergaung di seluruh dunia dan mendapat respons beragam. Ada yang membencinya dan ada juga yang menganggapnya pahlawan, terutama masyarakat Spanyol.

Menurut Ahmadinejad, Paul merupakan alat propaganda dan penyebar takhayul. Ia pun mengaku menyesali luasnya dampak fenomena Paul ini. "Mereka yang memercayai hal semacam ini tidak bisa menjadi pemimpin global," kata Ahmadinejad.
Sumber: Kompas.com, 28 Juli 2010
Ket foto: Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.
Foto: dok. www.musadiqmarhaban.wordpress.com

Pindahkan Ibu Kota

Oleh A Sonny Keraf
pemerhati Lingkungan Hidup &
dosen Universitas Atma Jaya Jakarta

Kemacetan Jakarta dan sekitarnya, yang menjadi sorotan utama Kompas dalam beberapa hari terakhir, kiranya tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomis (Kompas, 26/0710). Kerugian yang dialami juga menyangkut kerugian sosial dan psikis.

Secara psikis, Jakarta sangat tidak sehat, bukan saja karena terjadi polusi yang parah, melainkan juga karena kemacetan di jalan raya menimbulkan berbagai tekanan psikologis atau stres.

Demikian pula, secara sosial, kemacetan di jalan membuat relasi sosial menjadi penuh konflik, tidak saja di antara para pengendara di jalan, tetapi juga berdampak sampai ke kantor dan rumah tangga. Hubungan sosial penuh ketegangan akibat beban psikis yang dialami di jalan.

Oleh karena itu, sesungguhnya Jakarta bukan hanya sebuah kota yang sangat tidak ramah lingkungan, melainkan juga sangat tidak ramah secara sosial dan psikis. Dengan kondisi seperti itu, kiranya pembenahan transportasi umum, termasuk perluasan, penambahan, dan keterpaduan atau sinergi transportasi umum tidak akan banyak membawa hasil memadai. Itu hanya solusi jangka pendek sementara.

Yang dibutuhkan untuk jangka panjang adalah terobosan lebih radikal dan revolusioner. Kami mengusulkan tiga solusi. Sembari membenahi transportasi umum dan solusi lain yang bersifat tambal sulam, kendati sangat perlu, ketiga solusi harus segera diputuskan pemerintah pusat.

Pindahkan ibu kota

Usul pertama, pindahkan ibu kota. Ini usul dan langkah paling radikal. Banyak negara melakukan itu dan berhasil mengatasi kemacetan di ibu kota negaranya. Bung Karno, presiden pertama, telah berpikiran visioner menyiapkan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sebagai calon ibu kota RI sejak 1960-an.

Melanjutkan visi Bung Karno, sebaiknya ibu kota baru berada di luar Jawa, khususnya di Indonesia bagian timur. Ada banyak keuntungan positif untuk itu.

Pertama, pemindahan ibu kota jangan dilihat sebagai beban ekonomi karena besarnya dana yang dialokasikan. Ini harus dilihat sebagai peluang ekonomi yang sangat menggiurkan untuk membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang yang akan mengerjakan persiapan, pembangunan, dan relokasi ibu kota tersebut. Akan dibutuhkan waktu 5-10 tahun untuk realisasi, dan itu peluang ekonomi yang sangat baik.

Kedua, dari segi politik, pemindahan ibu kota ke luar Jawa dan Indonesia bagian timur (IBT) akan serta-merta menggeser episentrum pembangunan nasional dari Jawa dan Indonesia bagian barat (IBB). Ini akan menjadi sebuah langkah dan peluang pemerataan pembangunan ke IBT untuk memberi kesempatan lebih besar bagi berkembangnya wilayah luar Jawa, khususnya IBT.

Ketiga, selain untuk mengatasi kemacetan di Jakarta dan sekitarnya, ini sekaligus menjadi peluang untuk membangun sebuah ibu kota baru dengan tata ruang, jaringan, dan pola transportasi yang jauh lebih ramah lingkungan, ramah secara sosial dan psikis, atau jauh lebih manusiawi.

Kita bangun ibu kota baru dengan sistem transportasi multimoda yang ramah lingkungan, nyaman, aman, dan mudah dijangkau. Kita bangun sebuah ibu kota baru dengan hutan kota yang asri, tempat-tempat rekreasi umum yang ramah secara sosial, dengan berbagai fungsi sosial yang futuristik untuk kehidupan modern, tetapi dengan warna etnik yang khas.

Pilihan di Kalimantan lebih diutamakan mengingat Kalimantan bebas dari pusat gempa.

Penyebaran kementerian

Usul kedua yang jauh lebih moderat, semua kementerian disebar ke beberapa wilayah RI sesuai dengan kondisi provinsi kita. Ambil saja sebagai contoh, Kementerian Kehutanan di Kalimantan atau Papua. Kementerian Kelautan dan Perikanan di Ambon. Kementerian Perindustrian di Surabaya. Kementerian Pendidikan di Yogyakarta.

Kemudian Kementerian Pariwisata di Bali. Kementerian Perdagangan di Jakarta atau Batam. Kementerian ESDM di Kalimantan atau Sumatera. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal di IBT agar benar-benar fokus pekerjaannya lebih diarahkan untuk pembangunan daerah tertinggal di IBT, dan seterusnya.

Cara ini akan menarik banyak pihak untuk mendesentralisasikan usaha atau minimal kantor pusatnya mengikuti kantor kementerian untuk memudahkan kegiatan usahanya. Maka, tak lagi semua perusahaan berkantor pusat di Jakarta.

Dari segi tata kelola pemerintahan, tidak ada banyak kendala karena berbagai rapat kabinet bisa dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi komunikasi modern.

Pembatasan

Kalau usulan kedua masih dianggap merepotkan karena berbagai kendala teknis menyangkut koordinasi lintas kementerian, usul ketiga yang sangat soft adalah pembatasan pembangunan di beberapa bidang. Namun, ini merupakan sebuah keharusan paling minim yang tidak boleh tidak segera dilaksanakan.

Tepatnya, usul ini berupa larangan bagi pembangunan baru untuk minimal tiga bidang. Pertama, tidak boleh ada lagi penambahan pembangunan mal atau pusat perbelanjaan baru di Jakarta. Apabila perlu, tidak boleh ada lagi penambahan mal baru di Jabodetabek. Dengan larangan ini, tidak akan ada lagi penambahan urbanisasi tenaga kerja baru ke Jakarta untuk bekerja di pusat-pusat perbelanjaan dan pertokoan tersebut.

Kedua, tidak boleh ada lagi hotel baru dibangun di Jakarta. Dengan otonomi daerah, seharusnya berbagai kegiatan pemerintahan telah dilaksanakan di daerah. Oleh karena itu, seharusnya daerahlah yang didorong membangun hotel baru sejalan dengan bergeraknya uang ke daerah.

Ketiga, sudah saatnya pembangunan universitas baru dilarang di Jakarta dan sekitarnya. Dengan jalan itu, pemerintah berketetapan untuk mengembangkan universitas baru, negeri dan swasta, yang berkualitas dan murah di daerah. Tenaga-tenaga dosen muda di daerah diberi kesempatan memperoleh pendidikan lanjutan di luar negeri untuk kembali mengajar di daerah.

Sementara dosen-dosen berkualitas di Jawa diberi kesempatan mengajar di daerah dan tidak perlu berpusat di Jakarta atau Jawa. Dengan jalan ini, putra-putra daerah, para calon mahasiswa, bisa mendapat peluang memperoleh pendidikan tinggi di daerahnya sekaligus mengabdi di daerahnya setelah lulus kelak.

Ketiga usulan mengandaikan persoalan kemacetan Jakarta harus diputuskan pada level pemerintah pusat, presiden dan kabinet, dengan melibatkan DPR. Ini harus menjadi sebuah keputusan politik nasional yang akan sangat menentukan nasib Jakarta dan nasib bangsa seluruhnya ke depan.
Sumber: Kompas, 28 Juli 2010

11 Kasus Pemerkosaan Terjadi di Lembata

Selama Januari hingga Juli 2010 terjadi 11 kasus pemerkosaan di wilayah hukum Kepolisian Resor (Polres) Lembata. Dari 11 kasus ini, sembilan di antaranya sudah dilimpahkan ke kejaksaan, dan sebagiannya sudah diputuskan di pengadilan.

Kasus pemerkosaan yang terjadi di wilayah Polres Lembata pada umumnya menimpa anak-anak di bawah umur. Dari 11 kasus yang terjadi pada tahun 2010, sembilan diantaranya menimpa anak-anak di bawah umur. Sedangkan dua lainnya menimpa anak di atas usia 20 tahun. Beberapa kasus memiliki pelaku lebih dari satu orang.

Hal ini dijelaskan Kapolres Lembata, AKBP Marthin J. H. Johannis, S. H, melalui Kasat Reskrim, Bayu Wicaksono, S.H, S.Ik, kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Sabtu (24/7/2010).

Bayu menjelaskan, kasus pemerkosaan ini sering terjadi dengan berbagai modus, termasuk menggunakan jasa ojek sehingga sering menyulitkan penyidik untuk meringkus para pelaku.

"Biasanya ada yang pakai jasa ojek. Jadi ojeknya muat anak-anak sekolah terus dibawa ke suatu tempat yang sudah ditunggu pelaku, kemudian dilakukan secara bersama-sama. Karena itu, hingga saat ini dari 11 kasus ada dua pelaku yang masih dalam pencarian polisi," jelas Bayu.

Menurut Bayu, dua orang yang kini dalam daftar pencarian orang adalah pelaku bersama sehingga sebagian pelakunya sudah ditahan polisi untuk diproses secara hukum.

"Polisi tetap mencari dua tersangka yang terlibat dalam kasus pemerkosaan untuk diproses secara hukum. Pergerakan mereka tetap kami pantau," jelas Bayu.

Ia berharap masyarakat mendukung polisi dengan memberikan keamanan dan penjagaan terhadap anak gadis mereka agar tidak menjadi korban pemerkosaan berikutnya.

Demikian pula jika ada warga yang mengetahui keberadaan pelaku pemerkosaan yang masih dalam pencarian polisi agar menghubungi Polres Lembata di nomor 41110 atau langsung melaporkannya ke Polres Lembata maupun ke polsek terdekat.

Kasus pemerkosaan terakhir yang ditangani Polres Lembata, yakni kasus pemerkosaan seorang gadis cacat mental, bisu dan tuli oleh Andreas Wurin Dore (36). Kasus itu terjadi di Waikomo, Senin (19/7/2010), mengakibatkan korban trauma.

Pelaku sudah diamankan polisi setelah menerima laporan dari keluarga, Rabu (21/7/2010) malam. Andreas diancam pasal 285 junto 286 dan atau pasal 290 ayat 1 KUHP.
Sumber: Pos Kupang, 27 Juli 2010
Ket foto ilustrasi: Korban perkosaan. Selama Januari hingga Juli 2010 terjadi 11 kasus pemerkosaan di wilayah Polres Lembata, NTT. Foto: google.co.id

Obituari: Wartawan yang Santun Itu Telah Tiada

Written By ansel-boto.blogspot.com on Tuesday, July 27, 2010 | 1:42 PM

Wartawan sekaligus Kepala Biro Kompas Kalimantan Muhammad Syaifullah kembali ke hadapan-Nya pada usia 43 tahun. Almarhum ditemukan telah meninggal dunia di rumah dinasnya di Perumahan Balikpapan Baru Blok S II Nomor 7, Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (26/7) pagi.

Almarhum pertama kali ditemukan oleh Wahyu Hidayat, rekan almarhum (mantan wartawan Trans TV di Balikpapan) dan Tri Widodo (wartawan SCTV di Balikpapan), sekitar pukul 09.00, dalam posisi telentang di atas karpet di depan televisi di ruang keluarga. Tangan kanan almarhum masih memegang remote televisi. Wajahnya membiru, serta keluar busa dari mulut dan sedikit darah dari hidung.

”Saya ditelepon Pak Benny B Prasetyo (wartawan RCTI di Samarinda) pukul 07.30. Lalu pukul 08.00 ditelepon Mbak Isnainijah (istri almarhum). Keduanya meminta saya menengok rumah yang ditempati Mas Ful karena teleponnya tidak diangkat oleh almarhum,” ujar Wahyu, yang kemudian menelepon Tri Widodo. Keduanya lalu memeriksa ke rumah dan mendapati almarhum sudah tiada.

Almarhum tinggal sendiri di rumah itu sejak diangkat sebagai Kepala Biro Kompas Kalimantan dua tahun lalu. Istrinya, Isnainijah Sri Rohmani (41), serta dua putri mereka, Nadila Amajida (12) dan Najmi Izza Sabrina (6), masih tinggal di Banjarmasin.

Syaifullah, yang menunaikan ibadah haji dua tahun lalu, kerap menulis masalah lingkungan dan pertambangan di Kalimantan, terutama kerusakan hutan, penebangan kayu liar, dan penambangan batu bara.

Syaifullah terakhir kali mengirim berita ke Redaksi Kompas di Jakarta tentang tanah longsor di Tarakan, Sabtu lalu pukul 19.15. Pada hari Minggu pukul 15.00, Syaifullah tidak dapat dihubungi ketika dikontak dari Desk Nusantara di Jakarta.

Sementara Isnainijah melakukan kontak terakhir dengan almarhum Sabtu pukul 22.00. Namun, hari Minggu hingga malam, ia tidak dapat menghubungi telepon seluler Syaifullah. Telepon rumah pun tidak diangkat.

Senin pagi, Isnainijah meminta beberapa wartawan rekan almarhum di Balikpapan dan Samarinda mengecek rumah.

Menurut Isnainijah, sebelum meninggal almarhum tidak menyampaikan keluhan. ”Namun, ia memiliki penyakit hipertensi,” ujarnya.

Semalam, pukul 21.22, jenazah Syaifullah diberangkatkan dari Balikpapan menuju kampung halaman di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, melalui jalan darat, untuk dimakamkan di sana pada hari ini.

Dalam perjalanan yang akan memakan waktu 10 jam itu, Isnainijah mengatakan, ia ikhlas menerima kepergian suaminya.
Penyakit lama

Bagian Kedokteran dan Kesehatan Rumah Sakit Bhayangkara Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Timur menyatakan, Muhammad Syaifullah meninggal dunia karena penyakit lama. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Rumah Sakit Bhayangkara Kepolisian Daerah Kaltim Komisaris Besar Djoko Ismoyo menyatakan itu Senin malam. ”Ini masih hasil sementara karena masih menunggu hasil pemeriksaan organ di bagian forensik Surabaya,” katanya.

Dari otopsi ditemukan adanya penggumpalan darah di otak, yang memicu pecahnya pembuluh darah. ”Dengan melihat kondisi jantung dan ginjal, kami sementara ini menyimpulkan bahwa penyebab kematian adalah karena penyakit kronis yang diderita sejak lama,” tutur Djoko.

Terkait dengan busa di mulut Syaifullah, menurut Djoko, karena lidahnya menyumbat tenggorokan.

Di Jakarta, Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komisaris Jenderal Ito Sumardi mengungkapkan, dari 18 item hasil otopsi, tim forensik tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Syaifullah.

Kepala Polresta Balikpapan Ajun Komisaris Besar A Rafik mengatakan, di tubuh almarhum tidak ditemukan tanda-tanda bekas penganiayaan. Di dekat jasad almarhum terdapat obat sakit kepala dan gelas berisi sedikit sirup.

Barang-barang almarhum diamankan polisi, antara lain tas berisi dua kamera, dompet, dua telepon seluler, dan obat-obatan.

Selidiki serius

Sehubungan dengan meninggalnya Syaifullah, beberapa kalangan menduga hal itu terkait dengan berita yang dibuatnya. Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers Agus Sudibyo, misalnya, meminta Polri serius menyelidiki dan mengungkap kasus kematian Syaifullah.

”Sekarang kan banyak kecurigaan terutama di masyarakat. Kematian Syaifullah ada kaitannya dengan pemberitaannya selama ini soal perusakan lingkungan hidup dan aktivitas pertambangan batu bara yang merusak hutan,” ujar Agus.

Secara terpisah, Ketua Bidang Pemberantasan Korupsi dan Mafia Hukum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin, di Jakarta, menyatakan prihatin atas meninggalnya Syaifullah. ”Sebaiknya menunggu hasil otopsi. Polri harus terbuka dan menyampaikan hasil penyelidikan apa adanya,” katanya.

Ketua Umum Perhimpunan Jurnalis Indonesia Ismed Hasan Putro pun mengharapkan meninggalnya Syaifullah diinvestigasi. Sementara Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring mengatakan turut berbelasungkawa.
Sumber: Kompas, 27 Juli 2010
Ket foto: almahrum Muhammad Syaifullah alias Ipul. Foto-foto: dok. Kompas

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger