Headlines News :

Penyanyi Taiwan Ngaku Diminta Jual Tubuh Jika Mau Terkenal

Written By ansel-boto.blogspot.com on Tuesday, August 31, 2010 | 6:07 PM

Penyanyi Taiwan Estrella Lin mengungkapkan buruknya industri hiburan di Korea Selatan. Estrella mengaku ia pernah diminta melakoni hubungan seks jika mau dirinya terkenal.

Dilansir Korean Herald Selasa (31/8/2010), Estrella merupakan mantan personel grup 3EP Beuaties. Untuk berkarir di Korea, ia bergabung di sebuah agensi artis.

Agensinya tersebut pernah menawarinya untuk menjual tubuhnya demi kepopulerannya. Estrella diminta berhubungan seks dengan para bos di dunia hiburan.

"Aku dipaksa untuk menghibur para investor dengan seks. Tapi aku tidak mau melakukannya. Aku tidak takut diprotes orang Korea karena pengakuanku ini, karena apa yang aku katakan memang benar," ujar Estrella.

Bukan hanya diminta menjual tubuh, ia juga harus memalsukan tahun kelahirannya. Perempuan kelahiran 1980 itu dianggap terlalu tua, sehingga harus mengubahnya menjadi 1985.

Kini Estrella sudah kembali ke Taiwan. Ia pun membuat buku yang isinya tentang kebobrokan industri hiburan di Negeri Gingseng tersebut.

Sebelum Estrella mengungkapkan keburukan industri hiburan di Korea, kasus serupa juga pernah terungkap di negeri tersebut. Kasus jual tubuh oleh para artis itu terungkap melalui aksi gantung diri bintang serial Boys Before Flowers Jang JaYeon. Jang JaYeon dikabarkan bunuh diri karena dipaksa melakukan hubungan seks dengan para investor.

Setelah kematian Jang JaYeon itu, survei pun dilakukan Komnas HAM Nasional Korsel pada para selebriti. Komnas HAM melakukan survei terhadap 111 aktris lama dan 240 aktris baru.

Dari survei itu, sekitar 60 persen responden melaporkan telah mendapat rayuan seksual dari orang-orang yang bisa mempengaruhi karir mereka.

Atas pertanyaan spesifik yang diajukan Komisi HAM Nasional, 22 persen aktris yang diwawancara mengaku mereka pernah 'dipaksa atau diminta' oleh agen-agen mereka untuk memberikan kenikmatan seksual. Sedangkan lebih dari enam persen mengaku pernah mengalami kekerasan seks.
Sumber: detik.com, 31 Agustus 2010
Ket foto: Estrella Lin

Soal Pembubaran Ahmadiyah: Menag Harus Tarik Pernyataannya

Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif mengatakan, Menteri Agama Suryadharma Ali harus menarik pernyataannya soal rencana pembubaran Ahmadiyah. Cendikiawan Muslim tersebut khawatir ucapan Menteri Agama akan menciptakan gesekan di tingkat akar rumput.

"Saya khawatir kelompok-kelompok garis keras semakin bertindak sewenang-wenang," kata Syafii ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (31/8/2010) di Jakarta.

Syafii juga khawatir, pernyataan Menteri Agama dijadikan alasan atau pembenaran kelompok garis keras untuk melakukan perusakan terhadap rumah-rumah ibadah Ahmadiyah.

Seharusnya, sambung Syafii, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, mengedepankan dialog untuk menyelesaikan masalah ini. Terlebih, Ahmadiyah telah berada di Indonesia sejak tahun 1925. Ahmadiyah juga tidak pernah melakukan tindakan-tindakan kekerasan ketika menjalankan kegiatan ibadahnya.

Tokoh Islam senior ini juga meminta Menteri Agama tak sembarangan melontarkan pernyataan. "Soal Ahmadiyah, Kementerian Agama harus melakukan kajian-kajian. Undang pihak-pihak untuk memiliki second opinion," katanya.

Seperti diberitakan, Menteri Agama Suryadharma Ali seusai rapat dengar pendapat antara pemerintah dan DPR di Gedung DPR, Senin (30/8/2010), menyatakan pemerintah akan segera membubarkan Ahmadiyah.

Menteri berpegang pada dalil, ajaran Ahmadiyah menyimpang dari ajaran Islam terutama menyangkut keyakinan soal Nabi Muhammad dan Al Quran. Kementerian terkait akan membicarakan soal pembubaran ini selepas Lebaran.
Sumber: Kompas.com, 31 Agustus 2010
Ket foto: Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif

Kapolri: Tidak Ragu Tindak Ormas Anarkis

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengatakan telah menginstruksikan jajaran kepolisian untuk tidak ragu menindak oknum anggota organisasi masyarakat yang melanggar hukum dan anarkis.

"Kalau ada tindakan kekerasan yang dilakukan oleh mereka dan tidak boleh ada lagi keragu-raguan anggota melakukan tidankan tegas di lapangan. Itu yang paling penting," kata Kapolri di Kantor Presiden Jakarta, Selasa.

Bambang Hendarso mengatakan saat ini tengah diproses revisi undang-undang tentang ormas dan pihaknya menunggu hasil revisi tersebut.

"Kesimpulan DPR yang disampaikan kemarin harus ada tindak lanjut. Ada tim yang bahas dulu jadi masih proses panjang untuk revisinya. Sekarang kita berusaha dari kepolisian untuk bisa memberikan suatu pengayoman dan perlindungan bagi masyarakat yang membutuhkan satu tindakan cepat dari kepolisian," katanya.

Sejumlah tindakan anarkis dan perkelahian antaranggota ormas yang terjadi di Jakarta maupun di sejumlah daerah lainnya kerap membuat masyarakat khawatir dan takut sehingga diharapkan aparat kepolisian bertindak tegas.
Sumber: Antara 31 Agustus 2010
Ket foto: Kapolri Bambang Hendarso Danuri

Sang Naga Menanti Laga ke 13

Promotor berencana, cedera pula yang menentukan. Dua kali rencana pertarungan Chris John, 30 tahun, melawan Fernando David Saucedo, petinju Argentina, berakhir dengan kegagalan. Pertama kali, pada 22 Mei lalu, di Bali. Namun lonceng pertandingan urung dipukul. Chris mengalami cedera bahu.

Jadwal baru dirancang lagi: 26 Juli, di Jakarta. Eh, gagal maning atau urung juga. Lagi-lagi cedera yang jadi penyebabnya. Kali ini Chris tertimpa cedera pada tulang iga. Saat berlatih tanding dengan Roy Tuamanihuruk, juara nasional kelas ringan, tulang rusuknya retak. Lumayan berat. "Dokter menyuruh saya istirahat tiga pekan," katanya.

Setelah masa istirahat, pertengahan Agustus lalu, Chris merasa kondisi tubuhnya membaik. Namun untuk bertanding belumlah fit. "Baru 80 persen," katanya. Dengan kondisi seperti itu, dia baru bisa berlatih ringan seperti jogging dan push-up. Dalam perkiraannya, awal September kelak dia sudah bisa terbang ke Perth, Australia, untuk berlatih.

Dengan Saucedo? "Belum tentu dengan dia," katanya saat bertandang ke kantor Tempo, Kamis dua pekan silam. Menurut Chris, karena terjadi pengunduran dua kali, bisa saja lawannya sudah punya jadwal berbeda yang diatur promotornya. Jadi belum jelas, Chris akan berhadapan dengan siapa, di mana, dan kapan. "Namun diperkirakan November nanti akan tanding," katanya santai.

Memang tak tampak raut khawatir atau stres di muka Chris meski nasibnya belum pasti. Dia tampak percaya benar bahwa promotornya akan mengurusnya dengan baik. Chris, yang sore itu mengenakan kaus warna gelap bertulisan huruf kanji, tampak santai dan banyak berkelakar dengan Tempo selama sekitar satu setengah jam. "Wah, ini giliran saya yang 'diserang' bertubi-tubi," katanya sambil tertawa karena harus gelagapan menjawab aneka pertanyaan kami-yang sering tidak serius.

Chris memang tidak bergaya sok jago. Jika ngobrol santai, mungkin orang lupa betapa menyakitkannya pukulan bertubi-tubi yang dilancarkan Chris. Dia dengan santai menjawab pertanyaan seperti, "Bagaimana rasanya kalau dipukul bagian selangkangan?" "Wah, langsung gelap." Atau, "Kalau bertinju di ring, bisa menerapkan strategi dengan sadar atau lebih banyak refleks?" Chris menjawab, "Ya, lebih banyak spontan."

Meski "spontan", enam tahun sudah, sejak merebut gelar pada Oktober 2003 melalui pertandingan melawan Oscar Leon, Chris John masih anteng dengan gelarnya sebagai juara tinju dunia kelas bulu versi WBA. Belum ada petinju yang bisa merebutnya. Prestasi yang luar biasa. Dua petinju kelas dunia yang sempat dimiliki negeri ini, yakni Elly Pical dan Nico Thomas, tak sempat mempertahankan gelar dalam waktu sepanjang itu.

Kehebatannya itulah yang sempat mengundang rasa ingin tahu Tempo. Suatu ketika, Tempo sangat ingin merasakan pukulan petinju yang dijuluki The Dragon alias Sang Naga. Caranya? Dengan menggunakan sarung tinju yang besar, sehingga kekuatan tinjunya sedikit berkurang. Atau yang paling nekat, wajah Tempo dilekatkan di sansak. Biarlah Chris memukuli sepuas hati sansak itu. Efek pukulannya pasti terasa telak di wajah.

Hal itu sempat dikatakan kepadanya, saat dia baru saja mengalahkan Hiroyuki Enoki, dua tahun silam, di apartemennya di kawasan Jakarta Pusat. Chris tak menanggapi permintaan itu. Dia hanya tersenyum. Segurat senyum yang bisa berarti: jangan main-main dengan tinjunya. Dan, pada saat bertandang ke Tempo, dia kembali diingatkan akan "tantangan" itu. Kali ini dia menjawab tidak. "Berat, kalau harus memukul wartawan Tempo," katanya sambil tertawa.

Catatan rekor pertandingannya adalah jawabannya. Selama bertanding 45 kali, dia tidak pernah kalah. Separuhnya dimenanginya dengan knock out alias lawannya tersungkur. Muka Enoki yang lebam, ketika dia meraih Super Champion dua tahun silam, adalah bukti betapa tidak enaknya kepalan Chris bila mendarat di wajah. Jadi rencana Tempo yang ingin menerapkan "jurnalisme partisipatif"-mencoba bogem Chris-itu untung tak dilayani si empunya tinju.

Chris John adalah sedikit dari atlet Indonesia yang selalu menyenangkan hati penggemarnya. Persis seperti aksi Susi Susanti pada masa jayanya. Pebulu tangkis peraih emas Olimpiade 1992 ini selalu tampil mengesankan dan jarang kalah. Lawannya pun selalu dibuat tunggang-langgang mengejar shuttlecock. Begitu pula Chris. Meski disebut sebagai petinju dengan gaya boxer dan boleh dikata tak memiliki pukulan yang mematikan alias killing punch, penampilannya selalu ciamik.

Tentu semua itu tidak jatuh seketika dari langit. Chris merintisnya sejak usia lima tahun. Kala itu, Djohan Tjahjadi, bapaknya, yang bekas petinju amatir, mengenalkan olahraga gebuk-gebukan ini. Awalnya sederhana saja. Anak keduanya ini tergolong hiperaktif alias tak bisa diam. Karena hanya tinju yang dikuasainya, Djohan pun mengenalkannya kepada anaknya itu.

Di usia remaja, dia terjun ke arena amatir. Chris memulai debutnya dengan cara yang aneh: meninju lawan dengan mata terpejam. Maklum, dia masih demam panggung. Langkah berikutnya, dia mantap dengan tinju.

Meski meraih emas untuk wushu di SEA Games, dia tetap memilih tinju. Pilihan yang tidak keliru. Kariernya meroket. Sewaktu tampil di arena tinju yang diselenggarakan di televisi swasta, Chris selalu mendapat perhatian. Akhirnya, pada 1999, dia pun beroleh gelar juara nasional setelah mengalahkan almarhum Muhammad Alfaridzi, petinju asal Bandung.

Pertandingan itu diingatnya sebagai yang paling berat. Dua kali dia nyusruk mencium kanvas. Meski akhirnya menang, dia babak-belur. Bahkan tulang hidungnya sempat bergeser. "Saya tidak terlalu merasakan sakit saat diobati. Karena saya antara sadar dan tidak," katanya sambil mesem.

Chris menyadari, tinju adalah olahraga yang berisiko. Tak terkecuali juara dunia seperti dirinya. Bertarung tiap ronde selama tiga menit kerap membuat kesadaran menguap. Telinga yang berdengung, mata yang sembap, kepala pening akibat terpukul, dan fisik yang letih menjadi sebuah perpaduan yang sangat tidak menyenangkan. "Pada saat istirahat, sebenarnya perintah pelatih tidak sepenuhnya bisa saya tangkap. Apalagi ketika bertinju, teriakan pelatih di sisi ring sulit ditangkap. Mengerti lima puluh persennya saja sudah bagus," katanya serius.

Semua itu tak lantas hilang ketika pertandingan usai. Di ruang ganti, tubuh yang letih baru terasa. Kesadaran pun tak langsung pulih. "Ada teman saya yang juga petinju, saat dia selesai bertanding tiba-tiba bangkit karena dia teringat jemuran pakaiannya yang belum diangkat," ujar Chris sambil tergelak.

Meski mengaku tak pernah mengalami kejadian separah itu, selepas bertanding dia baru merasakan kesadarannya kembali. Ternyata banyak keindahan yang terlewatkan. Salah satu yang selalu tak tertangkap perhatiannya adalah kemolekan gadis-gadis ring yang membawakan papan ronde. Chris biasanya baru sadar telah kehilangan pemandangan yang memukau jutaan pasang mata penonton, ketika dia melihat rekaman pertandingan. "Damn, kok waktu bertanding saya tidak melihat mereka," katanya tergelak.

Namun perjuangannya sepadan dengan yang diperolehnya. Ketenaran dan kekayaan adalah hasilnya. Untuk satu pertandingan, dia bisa mendapatkan bayaran hingga Rp 2 miliar.

Meski begitu, semua itu tidaklah abadi. Dalam hitungannya, paling pol bisa bertarung dalam lima tahun ke depan. "Bertinju hingga usia 35 tahun pasti berat," katanya.

Berkaca pada pengalaman para pendahulunya, Chris berupaya mempersiapkan masa depannya dengan baik. Jalan ke sana sudah dia rancang. Bersama Anna Maria Megawati, istrinya yang juga mantan atlet wushu, dia tengah membangun sport center di kawasan Cinde, Semarang. "Tidak saja untuk wushu, tapi juga olahraga tinju atau karate. Saya punya banyak teman yang bersedia menjadi pelatih," katanya optimistis.

Jauh sebelum itu, dia sudah memulai beragam bisnis. Membuka rumah kos, membuat merchandise dirinya, dan membuka usaha warung Internet di Semarang. Sayang, katanya, sekarang ini usaha itu sedang melempem. "Sudah kebanyakan warnet di sana," kata Chris.

Lalu apa obsesinya? "Saya sudah sangat senang dengan pencapaian seperti sekarang," katanya. Konsentrasinya kini adalah menghadapi laganya yang ke-13 dengan kemenangan. Seperti yang sudah-sudah: agar sabuk juara tetap melingkar di perutnya.
Sumber: Tempo edisi 27/39 tanggal 30 Agustus 2010
Ket foto: Chris John (paling kanan) bersama Presiden dan Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono.
Dok foto: www.presidenri.go.id

Pria Ini Koleksi 17 Gadis Bawah Umur

 
BEJAT memang ulah PS, inisial pria yang juga mucikari, dengan mengoleksi 17 gadis bawah umur untuk ditawarkan kepada peminat.

PS (27) telah berhasil mengoleksi sekian banyak gadis bawah umur untuk "dijual" dengan bandrol mulai Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Penawaran dilakukan PS dengan telepon seluler yang dikirim ke beberapa pelanggannya.

Beruntung, polisi jajaran Polresta Surabaya berhasil menggerebeknya saat sedang transaksi di Hotel Fortuna Surabaya. Tanpa perlawanan dan tak bisa berkutik, PS pun digelandang ke Mapolresta untuk penyelidikan lebih lanjut, Senin (30/8/2010).

Di depan polisi, PS mengakui bahwa ia masih memiliki banyak gadis belia yang siap "dijual". Klop dengan penemuan polisi yang juga menghadirkan gadis-gadis itu dengan inisial SD dan VI dengan usia di bawah 17 tahun.

Kasat Reskrim Polresta Surabaya AKBP Anom Wibowo mengatakan, pihaknya membongkar kasus ini setelah menerima informasi bahwa pelaku seorang mucikari dan memiliki gadis-gadis yang masih belia.

Menurutnya, tarif untuk SD dan VI berkisar hingga Rp 1 juta. Dari jumlah tersebut, pelaku mengambil bagian mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 700.000. Tidak hanya itu, PS juga masih mendapat keuntungan dari pelanggannya.

Selain memeriksa pelaku dan para gadis yang statusnya sebagai saksi, polisi juga menyita barang bukti berupa akta kelahiran asli SD yang terlahir di Surabaya, 30 Agustus 1994, satu lembar ijazah madrasah tsanawiyah, serta ponsel merek Nokia.

Kini PS meringkuk di sel tahanan Mapolresta Surabaya dan masih menjalani pemeriksaan untuk membongkar kasus ini lebih lanjut.

"Perbuatan yang dilakukan pelaku ini termasuk trafficking karena melakukan jual-beli anak di bawah umur. Gadis-gadis yang ditawarkannya berusia mayoritas di bawah 17 tahun," tutur Anom.

Ketika ditangkap, pelaku sedang menawarkan gadis berusia 16 tahun berinisial SD dan VI yang berusia 17 tahun. Kedua gadis itu warga Surabaya. Dari hasil pemeriksaan, PS sudah menjual dan memiliki koleksi 17 gadis di bawah umur yang siap "dijual".

Polisi menduga, PS merupakan jaringan trafficking yang meresahkan masyarakat dan memiliki jaringan khusus untuk merekrut gadis-gadis belia tersebut.

Atas perbutannya, tersangka dijerat pasal 2 juncto Pasal 17 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) atau Pasal 88 UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya paling lama 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 600 juta.
Sumber: Kompas.com, 31 Agustus 2010
Ket foto ilustrasi: google.co.id

Merindukan Elite Pemimpin Bermoral

Oleh Thomas Koten
Direktur Social Development Center

Esai ini dimulai dengan sebuah pertanyaan, mengapa orang senang melakukan korupsi dan berbagai tindakan amoral lainnya? Pertanyaan sederhana ini sebenarnya sudah jauh-jauh hari diajukan oleh seorang etikus kenamaan Robert Spaeman dengan rumusan yang agak berbeda, mengapa orang harus hidup bermoral, seperti harus bebas dari korupsi dan tidak melakukan aneka tindakan amoral lainnya. Selanjutnya, bagaimana mencari pendasaran yang rasional atas tuntutan-tuntutan hidup moral di zaman modern agar dapat membantu publik untuk tidak berperilaku amoral?

Menurut F Ceunfin, seorang ahli filsafat yang meneliti perihal etika modern, hidup secara baik dan menjauhkan diri dari tindakan-tindakan amoral merupakan suatu kewajiban setiap manusia dalam kehidupan bersama, yang dalam etika Kant disebut sebagai kewajiban kodrati. Di samping itu, tindakan berbuat baik, menurut Ceunfin, juga merupakan suatu keharusan, karena di sanalah membuat orang menjadi bahagia.

Kebahagiaan hidup hanya dapat ditemukan lewat hidup yang berbagi dalam tindakan berbuat baik tersebut. Dalam hal mana, tindakan yang menghasilkan kebaikan bagi orang lain untuk meringankan beban hidupnya merupakan alternatif yang paling sempurna.

Karena itu, tindakan amoral seperti korupsi merupakan tindakan yang bukan saja membuat diri dan orang lain tidak bahagia, tetapi tindakan yang sangat menyengsarakan batin, menodai nurani dan merusak tatanan kehidupan moral masyarakat. Perilaku orang yang tidak bermoral menunjukkan dirinya tidak memahami arti dan tujuan hidup di dunia ini, yakni menggapai kebahagiaan. Dengan kata lain, mengapa orang senang melakukan korupsi? Jawabannya, karena dia tidak mengetahui apa tujuan hidupnya di dunia.

Kebahagiaan

Kebahagiaan hidup, itulah yang mesti dicari dan diciptakan oleh setiap orang, yang menurut Alasdair MacIntyre dalam bukunya After Virtue (1981), dengan lebih dulu mencari dan menetapkan keutamaan-keutamaan hidup dalam kesejatian kemanusiaannya. Untuk memahami itu, hendaknya dilihat jauh ke belakang dengan mempelajari keutamaan-keutamaan Aristoteles yang dikaitkan dengan keutamaan-keutamaan hidup masyarakat Yunani kuno.

Pada masa Yunani kuno, keutamaan dalam hidup manusia adalah menjadi manusia yang sempurna nan-unggul. Manusia-manusia unggul adalah manusia-manusia yang berprestasi, bebas dari perilaku-perilaku amoral. Dalam syair-syair Homerus, Iliade dan Odyseus, keutamaan (baca: keunggulan) manusia diperlihatkan dalam perang dan olahraga membela kehormatan negara. Manusia sejati atau yang berkeutamaan adalah prajurit-prajurit negara (polis) dan para olahragawan yang prestasinya dapat mengangkat kehormatan negara.

Untuk menggapai kebahagiaan lewat keutamaan-keutamaan hidup dan penciptaan prestasi-prestasi, menurut Plato, harus dipenuhi dengan sikap pengendalian diri, kebijaksanaan dan kebaikan sebagai idea tertinggi, sebagaimana kebahagiaan. Maka, kebahagiaan yang sesungguhnya berada dalam diri setiap manusia.

Jadi, kebahagiaan tidak bisa ditukar dengan materi apa pun. Materi hanya dapat membuat manusia bahagia jika ia dapat menyisihkan sebagian materinya untuk orang lain. Inilah yang kemudian menurut Spaeman, bahwa kebaikan hati, cinta dan persahabatan merupakan fenomena moral paling mendasar dalam kehidupan publik.

Tetapi, yang menjadi problema zaman modern, keutamaan manusia dikaitkan dengan kepemilikan harta, kekuasaan dan status sosial. Menjadi orang terhormat yang dianggap memiliki keutamaan hidup berarti mapan secara ekonomi dan terhormat secara status sosial dan politik. Akhirnya, manusia zaman ini berusaha menukar dan/atau membeli kebahagiaan dengan uang dan kekuasaan.

Ternyata, dalam realitasnya, kebahagiaan yang dicari semakin jauh, tidak terjangkau. Banyak orang kaya yang hidupnya jauh dari bahagia. Mungkin karena sebagian hartanya adalah hasil korupsi, yang akhirnya menggiring mereka ke balik terali besi, atau karena alasan materialisme lainnya. Demikian juga tak sedikit mantan pejabat yang ikut digiring ke dalam penjara karena membeli dan menggunakan kekuasaan dengan uang. Ujungnya, keharmonisan masyarakat terusik dan konflik sosial menyebar.

Untuk itu, kata MacIntyre, bahwa di samping bahaya moral massa kini berada dalam kerancuan yang parah, perilaku dan kualitas hidup moral publik pun mengalami kemunduran. Dengan demikian, yang diharapkan, bahkan dirindukan adalah tampilnya negara (pemimpin) bermoral untuk mengarahkan publik ke hidup yang berkeutamaan.

Pemimpin negara bermoral yang dirindukan adalah, pertama, menata dan membawa warganya kepada hidup yang lebih terhormat dan bermartabat lewat keberhasilan-keberhasilan hidup. Sebab, dengan keberhasilan, warga negara dapat memperoleh kebahagiaan hidupnya. Kedua, negara memberikan pendidikan dan menerapkan hukum serta memberikan contoh-contoh hidup yang bermoral, khususnya dari kaum elite negeri dengan menjauhkan diri dari tindakan korupsi dan perilaku amoral lainnya.

Pendidikan di sini adalah pendidikan moral dan/atau keutamaan-keutamaan hidup moral. Dengan pendidikan moral, terutama sejak anak usia dini, misalnya, akan membuat anak didik atau warga dapat mengembangkan kepekaan moralnya dan membentuk hati nurani yang jernih yang memungkinkan mereka untuk selalu bertindak sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat. Dengan demikian, setiap warga dapat membimbing diri dengan keputusan-keputusan etik dan moral yang terukur hingga dapat mencapai kehidupan yang berkeutamaan dan membahagiakan.

Penerapan hukum harus dilakukan secara tegas dengan mengutamakan keadilan rakyat di atas segala-galanya. Hukum bukan hanya milik orang-orang kuat, tetapi harus menjadi milik seluruh warga. Warga harus menemukan kebahagiaan dalam hukum.

Maka, kehidupan moral bangsa dan negara pun dapat menjadi baik. Negara yang bermoral adalah negara yang kualitas hidup moral bangsanya baik. Negara yang memungkinkan setiap warganya menemukan kebahagiaan hidupnya dalam setiap aspek. Kebahagiaan hidup menurut Immanuel Kant adalah postulat akal budi moral.
Sumber: Suara Karya, 31 Agustus 2010

Ba`asyir Jalani Pemeriksaan Jantung di Mabes Polri

Pimpinan Pondok Pesantren Al Mukmin, Sukoharjo, Jawa Tengah, KH Abu Bakar Ba`asyir Selasa menjalani pemeriksaan jantung di Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri.

"Ustad Abu menjalani pemeriksaan jantung yang dilakukan oleh dokter dari polri dan hasilnya normal," kata kerabat dekat Ba`asyir, Hasyim Abdulah di Jakarta, Selasa.

Ba`asyir menjalani pemeriksaan jantung dengan alat rekam Elektrokardiogram (EKG), dimana sebelumnya tim dari Medical Emergency Rescue Committe (Mer-C) meminta polri melakukan pemeriksaan terhadap Amir Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), ujarnya.

"Saat masuk kemari ustad mengeluhkan sakit di dadanya, saat diperiksa Mer-C jantungnya ada yang bengkak, karena ustad memang ada sejarah penyakit jantung," kata Hasyim.

Ba`asyir ditangkap jajaran Polresta Banjar, tepat di depan markas Polresta Banjar, Senin (9/8) sekitar pukul 08.15 WIB.

Ba`asyir kemudian dibawa dengan menggunakan mobil Nopol L 3752 ED dengan dikawal mobil polisi Nopol 45-VII dan tiba di Mabes Polri Jakarta, Senin pukul 12.35 WIB.

Amir JAT ditangkap karena diduga menerima laporan rutin terkait rencana peledakan bom di Indonesia.

Ba`asyir, sempat memberikan ceramah di Masjid Al Ikhwanul Qorim, Jalan Babakan Priangan V No 34 Bandung, Jumat (6/8) malam, sebelum ditangkap Densus 88 di depan Mapolresta Banjar.
Sumber: Antara, 31 Agustus 20100
Ket foto: Ustad Abu Bakar Ba`asyir

Menag: Ahmadiyah Memang Harus Dibubarkan

Menteri Agama Suryadharma Ali menegaskan, kelompok Ahmadiyah memang harus dibubarkan karena dinilai mengganggu kerukunan umat beragama di Indonesia. Keberadaannya bertentangan dengan inti ajaran agama Islam.

"Ahmadiyah harus dihentikan karena bertentangan dengan ajaran pokok agama Islam. Kalau harus dihentikan, kan tidak boleh lagi lanjutkan aktivitas-aktivitasnya," ungkapnya seusai bertemu pimpinan MPR RI, Selasa (31/8/2010).

Suryadharma mengatakan, Ahmadiyah telah menyulut amarah masyarakat karena masih terus melanjutkan aktivitasnya. Namun, kondisi itu masih bisa diredam kepolisian. Ajaran Ahmadiyah membuat banyak umat Islam merasa ajaran Islam dihina dan dinistakan.

Lagipula, lanjutnya, ajaran ini sudah dilarang di sejumlah negara. "Kalau enggak segera ambil keputusan tegas, potensi konflik akan ter-maintain dan meningkat serta bisa menimbulkan konflik sosial. Dengan demikian, menurut saya, Ahmadiyah harus dibubarkan," ucapnya.

Suryadharma menegaskan lagi bahwa sikapnya mengacu pada SKB tiga menteri yang sudah dikeluarkan sebelumnya. Pimpinan-pimpinan Islam dan ormas-ormas Islam juga diizinkan memberikan pembinaan bagi jemaah Ahmadiyah agar kembali ke ajaran Islam.

"Semua pilihan itu ada risikonya. Tapi, menurut saya, risiko yang paling benar itu membubarkan, bukan membiarkan," tandasnya.
Sumber: Kompas.com, 31 Agustus 2010
Ket foto: Menteri Agama Suryadharma Ali

Demokrasi atau Kleptokrasi

Oleh Susanto Pudjomartono
wartawan senior

Reaksi publik yang keras menentang keputusan pemberian grasi dan remisi kepada sejumlah koruptor saat hari proklamasi kemerdekaan menunjukkan beberapa hal.

Pertama, masyarakat umumnya kian gemas dan muak terhadap korupsi sehingga grasi dan remisi dipandang sebagai pelunakan sikap Pemerintah dalam memberantas korupsi. Kedua, sekali lagi Pemerintah keliru membaca mood publik.

Keputusan ini telah menaikkan tingkat kemarahan publik terhadap Pemerintah. Apalagi berbagai hal yang terjadi akhir- akhir ini, seperti bom elpiji dan naiknya harga barang konsumsi, telah menambah resah masyarakat. Masyarakat bisa-bisa mulai meninggalkan sikap apatis-pasif yang nrimo (menerima apa adanya). Ini jelas bisa memicu rasa frustrasi publik ke arah negatif yang lebih keras.

Ketiga, efek jera yang diharapkan akan muncul lewat pemberian hukuman kepada para koruptor ternyata tidak berhasil. Bahkan, rasa malu untuk korupsi sudah hilang, terlihat dari kian besarnya jumlah kasus korupsi. Bangsa kita telah berubah.

Rasa bersalah pada hati nurani karena melakukan kejahatan kian terkikis habis. Semua yang serba palsu kini seperti dihalalkan, seperti surat keterangan sakit dokter, asal-usul kekayaan yang serba absurd, konsumerisme dan materialisme yang tak mengenal solidaritas sosial, serta kepongahan yang menduniawi.

Seorang mantan menteri zaman Orde Baru pernah bercerita, salah seorang temannya yang juga eks menteri dan telah selesai menjalani hukuman karena korupsi lebih memilih menjalani tambahan hukuman kurungan daripada harus membayar denda beberapa miliar rupiah. Jelas itu perubahan persepsi orang terhadap korupsi. Kini korupsi dianggap sebagai kegiatan yang ”cepat menguntungkan” meski punya risiko tinggi.

Padahal, selama ini kita percaya kombinasi tindakan tegas terhadap korupsi dan penggalakan rasa malu dan rasa bersalah bisa meredam korupsi. Kini jelas bahwa kita telah gagal memberantas korupsi. Korupsi kian menggila. Para koruptor kebal dan tidak takut terhadap ancaman hukuman. Rasa malu dan rasa bersalah bukan lagi penghalang.

Bangsa permisif

Salah satu penyebab, kita telah makin menjadi bangsa yang ”terlalu pemaaf”, bahkan juga kepada musuh-musuh kita. Kita cenderung mengejar harmoni, kehidupan yang tenang, dan perdamaian. Korupsi telah diakui dan dinyatakan sebagai tindak pidana ekstrem dan musuh utama bangsa, tetapi kita tak mau dan tidak berani tegas menindaknya. Malah terkesan, para koruptor ikut menyabotase usaha penindakan terhadap korupsi ini.

Pemaafan diakui didasarkan pada tingginya rasa perikemanusiaan kita karena melihat terpidana dianggap sakit dan tidak mampu bangkit lagi. Tetapi, mengapa rasa kasihan kita tidak tersulut melihat penderitaan rakyat miskin, kaum duafa dan papa yang kurang makan, kurang gizi, dan tak mampu mengecap pendidikan layak? Tiadanya solusi nyata membuat kita sekali lagi tenggelam dalam teater retorika, berteriak-teriak keras tanpa tindakan nyata.

Belakangan, ada yang mengusulkan agar kita meniru Latvia dan China yang dianggap berhasil menghapuskan korupsi. Ini kekeliruan. Dalam daftar Transparency International, Latvia masih urutan ke-58 negara terkorup dan peringkat China malah naik dari 57 (2001), ke 72 (2008) dan 79 (2009).

Studi korupsi oleh Minxin Pei, Direktur Carnegie Endowment, pada 2007 mengungkapkan, korupsi mengakibatkan kerugian sekitar 3 persen dari GDP atau sekitar 86 miliar dollar AS per tahun. Namun, jumlah koruptor yang tertangkap dan dijatuhi hukuman tak sampai 3 persen, hingga korupsi dianggap kegiatan yang high return, tetapi low risk.

Hukuman mati di China dapat dikenakan pada 68 jenis kejahatan, termasuk korupsi dan penyelundupan heroin. Namun, pekan lalu Pemerintah mengajukan RUU, antara lain, berisi ketentuan bahwa 13 jenis kejahatan menyangkut ekonomi dan yang tidak menyangkut kekerasan akan dicabut dari daftar hukuman mati. RUU telah diajukan ke parlemen dan hampir pasti memperoleh persetujuan.

Hukuman mati di China dengan ditembak mati atau diinjeksi merupakan rahasia negara, hingga tidak jelas berapa yang sudah menjalaninya. Ada dugaan, mencapai ribuan setiap tahun. Korupsi di China meluas terutama sejak 1980-an saat ekonomi pasar mulai diterapkan.

Salah satu alasan korupsi meluas adalah karena kekuasaan dipegang oleh Partai Komunis China. Tidak adanya LSM dan media yang bebas menyebabkan tak ada kontrol atau pengawasan masyarakat terhadap korupsi. Menurut buletin partai, jumlah pejabat yang terlibat korupsi pada 2009 tercatat 106.000, naik 2,5 persen dari 2008.

Negara kleptokrasi

Lantas, apa yang harus dilakukan jika efek jera lewat ditumbuhkannya budaya malu dan rasa bersalah tidak ampuh lagi untuk mengganyang korupsi di Indonesia? Apalagi apabila pemerintah setengah hati, ditambah lagi upaya sistematis sementara kalangan, termasuk di DPR, untuk melemahkan upaya pemberantasan korupsi.

Pada akhir 1960-an saat Operasi Bhakti untuk pemberantasan korupsi dilakukan, muncul pertanyaan: siapa yang harus diganyang lebih dulu, ikan besar atau ikan kecil? Kini pertanyaan itu tak relevan lagi. Korupsi sudah melibatkan pejabat kecil maupun besar.

Upaya reformasi birokrasi, termasuk peningkatan remunerasi pegawai negeri, tak mengurangi ”nafsu” calon koruptor. Khotbah para ulama juga belum bisa meredakan niat untuk korupsi. Iming- iming gaya hidup mewah atau setidaknya berkecukupan lebih manjur dibanding ancaman hukuman di bumi dan dunia fana.

Belakangan, ada usul untuk menerapkan sistem hukum pembuktian terbalik bagi mereka yang disangsikan sumber kekayaannya. Kita bisa meniru Korea Selatan yang mengenakan sanksi sosial: pejabat (dan keluarganya) yang hidup mewah kelewatan dan disangsikan asal-usul hartanya dapat dikucilkan masyarakat.

Kita sering menyebut diri sebagai bangsa besar, murah senyum, beradab tinggi, dan menghargai pahlawan. Rasanya kini kita harus menambahkan satu moto lagi: bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat memberantas korupsi, penyelewengan dan nepotisme.

Kita juga membanggakan diri sebagai negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Setelah 65 tahun merdeka, Alih-alih betul-betul menjadi negara demokrasi, kita bisa tersungkur menjadi negara kleptokrasi (negara yang diperintah oleh para maling).
Sumber: Kompas, 31 Agustus 2010

Nurul Izzah: Saya Ini Seorang Patriot

Written By ansel-boto.blogspot.com on Monday, August 30, 2010 | 6:06 PM

 

SERANGAN terhadap pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, dan keluarganya seperti tak pernah pupus. Belum selesai tuduhan sodomi terhadap Anwar, giliran putri sulungnya, Nurul Izzah, dituding sebagai pembocor rahasia negara. Sejak hari pertama Ramadan, sinyal serangan itu sudah muncul di situs sosial Twitter.

Nurul dituduh tak patriotik lantaran bicara kepada media di Indonesia tentang kapal selam Prancis yang dibeli Tentara Diraja Malaysia yang bermasalah secara teknis. Tudingan itu diucapkan Menteri Pertahanan Malaysia Ahmad Zahid Hamidi dan bekas Ketua Angkatan Muda Keadilan Muhammad Zaid yang kini menjadi pendukung pemerintah. "Saat itu saya cuma menjawab pertanyaan wartawan," ujarnya.

Dalam wawancara dengan Kompas, Nurul mengkritik pemerintah Malaysia karena memberikan komisi sangat besar kepada Syarikat Perimekar Sdn., Bhd., lebih dari 500 juta ringgit, untuk pembelian kapal selam itu. Hal serupa sebetulnya sudah disampaikan dalam sidang Dewan Rakyat dengan sang menteri. "Semua ini sudah diketahui publik, bahkan dunia," ujarnya kepada wartawan Tempo Yophiandi.

Mengapa Anda dituduh membocorkan rahasia negara?
Isu utama sebetulnya bukan lantaran saya bercakap dengan media. Tapi saya merujuk pada pernyataan terbuka Menteri Pertahanan, yang menjawab masalah yang dihadapi soal kapal selam yang dibeli Kerajaan Malaysia. Hal itu dinyatakan menteri di parlemen pada Maret 2010. Soal ini sudah diketahui umum sebelumnya, lalu bagaimana bisa ini mengguncang pertahanan negara? Saya juga tak punya maklumat terperinci tentang pergerakan di laut Tentara Diraja Malaysia. Saya hanya menjawab pertanyaan wartawan saat itu. Mereka sudah dengar itu, karena sudah dipublikasi dari rapat di Dewan Rakyat. Jadi jangan menghina kecerdasan orang lain.

Bukankah Komisi Antirasuah Malaysia juga sedang menyelidiki kasus ini?
Komisi berlebihan sebesar 500 juta ringgit seharusnya tak diberikan kepada Syarikat Perimekar Sdn., Bhd., yang adalah syarikat anak emas, dalam pembelian kapal selam tersebut. Kasus ini sedang diselidiki Komisi Antirasuah Malaysia. Isu sebenarnya bukan pertahanan negara, melainkan soal ekonomi. Tapi jadi melebar dan dipakai untuk menyerang saya. Mereka tak berani berhadapan dengan kebenaran dan melawan rasuah habis-habisan. Saya juga menyatakan perlu kesediaan menyidik kasus ini karena pihak Prancis sedang menyidik hal yang sama. Semua ini sudah diketahui umum. Lalu bagaimana saya bisa dikambinghitamkan?

Pemerintah menggunakan wawancara Anda untuk menjelekkan oposisi?
Ketika saya diwawancarai media dari Indonesia, isu ini sudah diketahui dunia lewat media sebelumnya. Sehingga saya tak melihat ini adalah perkara. Jadi ini bukan hal besar. Saya melihat ini sebetulnya serangan menjelang pemilihan umum. Ini menjadi indikasi karena pemilu semakin dekat. Mereka mau menyerang kredibilitas siapa saja pemimpin oposisi. Karena rata-rata kan pemimpin UMNO, Barisan Nasional, sering melawat ke Indonesia, tapi mereka tak punya isu yang menyerang mereka. Namun kepada saya, mereka menyerang untuk mengelak dari masalah sebenarnya, yaitu komisi yang berlebihan, politik uang, mengurus ekonomi yang tak cakap.

Anda tak capek meladeni mereka, kritik Anda soal korupsi dan ekonomi dibelokkan menjadi membocorkan rahasia negara?
Saya ini seorang patriot, saya sayang negara saya. Tentu, saya akan terus bicara tentang manajemen ekonomi yang tak cakap dilakukan pemimpin negara, dalam hal ini membeli kapal selam. Ini bentuk constructive engagement. Tak ada perkara lain yang saya sebut di tanah air saya ulangi di Indonesia. Kita jangan jadi hipokrit, kita wajib mengkritik kerajaan. Karena kami, rakyat Malaysia, ingin hasil yang terbaik.

Anda siap menghadapi jerat hukum?
Tak ada masalah. Saya malah baru saja memberikan nomor telepon saya kepada penyelidik untuk menyelidiki pernyataan saya. Saya tak akan lari dari prinsip saya dan pernyataan yang saya berikan. Tapi sayangnya, sebelum polisi menyelidik, sudah dilemparkan tuduhan, fitnah kepada saya. Saya rasa ini tak adil. Mereka tak menghormati prosedur hukum. Sudah membuat laporan polisi ya sudah diam saja. Kalau Anda sudah mempengaruhi jalannya penyelidikan, mana ada profesionalisme.

Bagaimana dengan ayah dan keluarga Anda?
Ayah baik-baik saja, sehat. Ya, kami di Malaysia sepertinya sudah biasa diserang begini. Bukan kami saja, juga pemimpin oposisi yang lain. Ayah kan juga diserang kalau pergi ke luar negeri, disebut macam-macam.
Sumber: Tempo edisi 27/39 tanggal 30 Agustus 2010
Ket foto: Nurul Izzah

Ampun

Oleh Goenawan Mohamad
wartawan senior dan budayawan

TAHUN 1815. Dari penjara Bagne de Tulon, setelah 19 tahun dikurung, terpidana dengan No. 24601 itu dibebaskan. Tak punya lagi tempat kembali, ia berjalan tanpa arah, lama dan sendirian.

Ia sebenarnya belum bebas. Hukum mengharuskannya membawa paspor kuning, tanda ia bekas orang rantai. Tapi sebab itu ia tak diterima menginap di losmen mana pun. Maka putus asa, bromocorah itu hanya bisa membaringkan tubuhnya di tepi jalan. Dengan rasa marah dan pahit.

Tapi ini bukan kisah seorang yang marah dan pahit. Les Miserables yang termasyhur itu oleh Victor Hugo dirangkai jadi cerita kehidupan Jean Valjean, si No. 24601 yang berubah.

Kita ingat bagaimana kejadiannya: tiba di Digne, kota kecil di Prancis Selatan, Valjean ditampung menginap oleh Uskup Myriel. Ia diberi makan malam dan tempat tidur-dan dibiarkan bersendiri.

Malam itu, tanpa ada orang yang mengawasinya, Valjean mendapatkan kesempatan. Ia ambil pisau, sendok, garpu, dan alat-alat perak buat jamuan yang ada di kamar itu. Ia pun melarikan diri.

Tapi tak bisa jauh. Polisi menggeledah bekas terpidana yang berjalan mencurigakan di dinihari itu. Pada bromocorah itu mereka temukan benda-benda milik keuskupan.

Valjean pun dibawa menghadap Uskup Myriel. Saya bayangkan bagaimana ketakutan dan putus asanya Valjean. Ia tahu, kini ia akan dikurung seumur hidup. Dulu, di kota kecil kelahirannya, Faverolles, di musim dingin tahun 1795 ia mencuri roti dari sebuah kedai karena kelaparan.

Tapi hanya karena itu ia dipenjarakan lima tahun. Hukuman itu diperpanjang sampai 19 tahun karena Valjean beberapa kali tertangkap mau melarikan diri. Kini nasib lebih buruk menantinya.

Tapi sesuatu yang tak terduga terjadi. Kepada polisi, Uskup Myriel mengatakan bahwa Valjean tak mencuri apa pun. Barang-barang perak itu diberikan kepada tamunya yang kelaparan untuk bekal, kata Uskup.

Bahkan pagi itu, di hadapan polisi, padri yang baik hati itu menyerahkan lagi sebatang penyangga kandil dari perak, seraya mengingatkan Valjean akan janjinya-meskipun laki-laki itu tak pernah berjanji apa-apa-bahwa ia akan jadi orang baik.

Valjean pun bebas. Kejadian itu mengguncang hatinya. Tapi tak hanya itu. Hari itu ia-seorang lelaki perkasa-merampas uang 50 sous dari seorang anak. Tapi kali ini ia menyesal. Ia cari anak itu di seantero kota, untuk mengembalikan uang itu. Tapi tak ketemu....

Kisah Jean Valjean adalah kisah pertobatan. Sejak hari itu ia jadi orang baik yang penolong. Tapi yang luar biasa di sini ialah bahwa sebenarnya Uskup Myriel tak mengharapkan itu. "Janji" yang disebutnya pagi itu hanya fiktif: sang uskup berbohong agar Valjean bebas dari hukuman.

Katakanlah dengan itu ia juga memaafkan, tapi maafnya bukan sejenis barter. Dalam barter, X memberi sesuatu kepada Y karena ia mengharap Y memberikan sesuatu sebagai imbalan. Maaf sang uskup adalah maaf yang ikhlas, tanpa syarat.

Tapi keikhlasan adalah perkara yang pelik. Memberi maaf tanpa syarat juga bisa menyembunyikan sebuah supremasi: aku memberi kau sebagai isyarat bahwa aku lebih dari kau. Bila demikian halnya, maaf itu bukanlah berarti hilang atau dilupakannya sebuah perbuatan yang membuat sang pelaku nista. Malah maaf itu menegaskan nista itu.

Maaf tanpa syarat, maaf tanpa supremasi, mungkin lebih pas disebut pengampunan yang murni. Tapi akhirnya, bila kita ikuti Derrida, "pengampunan", dalam arti semurni-murninya, adalah "mengampuni hanya apa yang tak dapat diampuni", le pardon pardonne seulement l'impardonnable.

Dalam acuan seperti itu, bahkan maaf yang tanpa syarat dari Uskup Myriel kepada Jean Valjean bukanlah pengampunan yang dibayangkan Derrida, sebab kejahatan yang terjadi pada dasarnya bisa diampuni: pelakunya seorang yang takut mati kelaparan.

Persoalannya: adakah kekejian yang demikian rupa hingga sama sekali tak dapat diampuni, hingga pengampunan kepadanya sebuah perbuatan yang benar-benar tanpa pamrih? Adakah "radical evil" dalam pengertian Hannah Arndt, yang "menumbangkan semua ukuran yang kita kenal"?

Jawabannya tak gampang. Ukuran kita bergantung kepada siapa kita. Memang ada kekejian dalam kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz dan Dachau, atau dalam "kepulauan gulag" yang dibangun Stalin, atau yang dilakukan sejumlah Maois fanatik semasa Revolusi Kebudayaan di Cina, atau pembunuhan dan penyiksaan yang dilakukan terhadap orang-orang kiri oleh Orde Baru di Indonesia.

Kekejaman itu belum tentu keji menurut ukuran yang universal, tapi mungkin yang dimaksud dengan radical evil ditentukan oleh intensitas perasaan para korban di suatu masa, di suatu tempat. Sebagai konsekuensinya, pengampunan yang ikhlas terhadap perbuatan itu hanya bisa ditentukan oleh mereka yang jadi korban di suatu masa, di suatu tempat.

Tapi, tidakkah, seperti tersirat dalam ungkapan Derrida sendiri, pengampunan murni itu mustahil?

Memang mustahil, dan bisa malah melanggar apa yang dikehendaki hidup yang adil. Tapi mungkin kita dapat menerimanya sebagai imbauan ke dalam diri-untuk menggugat sejauh manakah kita mengubah diri kita sendiri waktu memaafkan.

Tak jarang aku, sang korban, merasa lebih agung ketimbang yang bukan korban, apalagi ketimbang sang pelaku kejahatan. Kadang-kadang pula kita lupa, dalam memaafkan ada godaan keangkuhan, sebagaimana si kaya yang memberi derma untuk menunjukkan kekayaannya.

Sebab itu pengampunan yang murni jangan-jangan tak dimaksudkan sebagai pengampunan. Tindakan Uskup Myriel mengharukan karena ia bukan mengampuni, tapi membebaskan seseorang dari siksaan-dan membebaskannya pula dari kepastian nasib yang ditentukan masa lalu. Valjean, seorang bromocorah yang ke mana-mana harus membawa paspor kuning, tak seterusnya harus nista.
Sumber: Tempo edisi 27/39 tanggal 30 Agustus 2010

Lambertus Akui Dimintai Tolong Buatkan Draf Perjanjian

Mantan pengacara Andi Kosasih, Lambertus Palang Ama, mengaku dirinya sekadar dimintai tolong oleh kliennya untuk membuat draft perjanjian pengalihan tanah. Draft perjanjian tersebut diajukan Andi untuk membantu Gayus Tambunan membuka blokir rekeningnya.

“Saya hanya melakukan apa yang mereka inginkan,” kata Lambertus saat bersaksi untuk terdakwa Komisaris Polisi Arafat Enanie di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (30/8). Lambertus menambahkan, dia tak mengerti tujuan pembuatan draft tersebut.

Pada 3 Agustus 2009, Lambertus mengungkapkan dirinya melakukan pertemuan di Hotel Sultan Jakarta, bersama Gayus, pengacara Gayus Haposan Hutagalung, dan Andi Kosasih. Dalam pertemuan itu, Lambertus dibicarakan soal pembuatan draft perjanjian. “Di situ Gayus dan Haposan yang bahas. Saya tidak tahu, fungsi Andi disitu apa.”

Setelah itu, Andi minta tolong padanya, selaku kuasa hukum untuk dibuatkan draft perjanjian kerjasama pengalihan tanah seluas sekitar dua hektar.

Kesaksian Lambertus itu bertentangan dengan surat dakwaan yang dibuat Jaksa Penuntut Umum untuk terdakwa Andi Kosasih. Jaksa Muhammad Rum dalam dakwaannya menyebut, Haposan dan Lambertus sepakat untuk mengondisikan agar Gayus tidak ditahan. Keduanya juga sepakat untuk ‘menyelamatkan’ uang Gayus sebesar Rp 28 miliar yang diblokir penyidik Bareskrim Mabes Polri.

Surat perjanjian palsu kerjasama bisnis antara Gayus dan Andi lantas dibuat. Surat tersebut menyatakan seolah-olah uang yang berada di beberapa rekening Gayus pada Bank Panin dan BCA yang diblokir penyidik Bareskrim Mabes Polri adalah milik terdakwa.

Surat perjanjian tanggal 26 Mei 2008 itu dibuat tanggal mundur, untuk menunjukkan seolah-olah perjanjian tersebut dilakukan Gayus-Andi saat Gayus belum tersangkut kasus. Andi seakan-akan menyetor US$ 2,81 juta atau senilai Rp 28 miliar. Uang tersebut dipalsukan sebagai uang hasil pembangunan ruko.

Setelah perjanjian selesai dibuat, pada 14 September 2009, Andi mengajukan pembukaan blokir terhadap rekening Gayus di Bank Panin dan BCA. Setelah itu, Haposan dan Lambertus meminta Arafat dan AKP Sri Sumartini memeriksa terdakwa Andi sebagai saksi yang mengakui sebagai pemilik uang Gayus.
Sumber: Tempo Interaktif, 30 Agustus 2010
Ket foto: Lambertus Palang Ama
Foto: Repro Tempo Interaktif , 30 Agustus 2010

Tes Keperawanan ala Pegawai Pos

Gara-gara mencurigai anak gadisnya tak perawan lagi Nikolaus da Costa, 47 mencoba mengetes kegadisan anak kandungnya. Nikolaus bukan seorang dokter. Ia hanya pegawai Pos Idonesia Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Karena bukan dokter alat tes yang digunakan juga bukan peralatan medis. Tes dilakukan dengan cara mengajak berhubungan intim.

Ceritanya, selama ini Nikolaus menaruh curiga kepada anak kandungnya, sebut saja Bunga, 20 tahun. Ia mencurigai anaknya yang tercatat menjadi mahasiswi salah satu mahasiswa perguruan tinggi swasta Kupang itu sudah pernah berhubungan intim dengan kekasihnya.

Kecurigaan ini berawal saat kekasih Bunga bersama temannya menginap di rumah Nikolaus. Selama empat hari lamanya, kekasihnya yang orang Surabaya, Jawa Timur itu menginap di rumah beratap seng dan berdinding bebak itu. "Mereka menunggu kiriman ongkos pulang dari orang tuanya," kata ibu kandung korban, Elvira da Costa, 40 tahun, kepada Tempo akhir pekan lalu.

Karena curiga itu, Nikolaus kemudian memutar akal. Tepat pada 6 Agustus 2010 sekitar pukul 08.00 WITA, rupanya strategi yang dilancarkan Nikolaus berhasil. Saat ketiga anaknya yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan SMP sudah berangkat ke sekolah, tinggallah dia, Bunga, istrinya, dan seorang putranya yang masih berumur 4 tahun di rumah.

Karena istri dan putranya dianggap menghalangi aksinya, akhirnya Nikolaus meminta istrinya belanja ke pasar. Ia berikan uang Rp 120 ribu kepada istrinya. Berangkatlah sang istri dengan mengajak anaknya itu ke pasar.

Di sinilah, niat itu di mulai. Begitu kondisi rumah sepi, Nikolaus menarik anaknya ke kamarnya. "Saya tahu kamu tidak perawan lagi. Sekarang saya mau tes, karena kamu sudah tidur dengan pacar kamu kan," kata Nikolaus.

Spontan sang anak terkejut. Tanpa banyak kata, lalu Nikolaus mulai melancarkan serangan. Mula-mula ia membuka celana korban lalu meraba-raba kemaluan korban. Tak hanya itu sang ayah juga mencabut bulu kemaluannya.

Sang anak tak tinggal diam. Ia berteriak minta tolong. Namun Nikolaus mengancam akan membunuhnya. Beruntung sebelum tes keperawanan dilakukan sang istri datang. Saat itu ia melihat Bunga sedang menangis. "Karena masih ada bapaknya ia tak mau menceritakan," kata Elvira.

Begitu si bapak berangkat kerja, Bunga pun mengungkapkan semua ulah bapaknya tadi. Betapa kagetnya Elvira. Beberapa hari berselang ia pun nekad melaporkan peristiwa itu kepada kepolisian setempat.

Nikolaus tetap ngotot tak berniat memperkosa anaknya. Ia hanya mencurigai anaknya sudah pernah tidur dengan pacarnya. "Saya penasaran dan hanya ingin mengecek, apakah benar anak saya tidak perawan, tidak lebih dari itu," katanya.

Namun menurut Kepala satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polresta Kupang, AKP Yeter Selan, apa yang dilakukan Nokolaus hanyalah modus belaka. "Itu hanya alibi sebenarnya pelaku hendak memperkosa anaknya," katanya.
Sumber: Tempo Interaktif, 30 Agustus 2010
Ket foto ilustrasi: korban perkosaan.
Foto: dok. google.co.id

Castro: Osama Bin Laden Agen CIA

Mantan Presiden Kuba Fidel Castro mengeluarkan pernyataan kontroversial. Castro mengatakan pemimpin Al Qaeda Osama Bin Laden adalah agen badan intelijen Amerika Serikat (CIA).

Bin Laden selalu dipanggil dan dibayar tiap kali mantan Presiden AS George W Bush membutuhkannya. Menurut Castro, Bush membutuhkan Bin Laden untuk menakut-nakuti dunia.

Castro mengaku mengetahui hal ini setelah membaca dokumen yang diposting di 'Wikileaks'. Dia juga menuduh Bin Laden bekerja untuk gedung putih. "Bush selalu didukung oleh Bin Laden, dia adalah bawahan Bush," kata Castro.

Menurut Castro, setiap saat Bush ingin menebar rasa takut dan membuat pidato soal itu, Bin Laden akan muncul dan mengancam orang dengan sebuah cerita tentang apa yang dia lakukan.

Castro juga mengatakan ribuan halaman dokumen rahasia milik pemerintah Amerika yang dimuat di Wikileaks itu juga menunjukkan siapa pemimpin Al Qaeda yang benar-benar bekerja.

Castro membuat pernyataan ini setelah bertemu dengan Daniel Estulin, penulis tiga buku tentang rahasia Bilderberg Club, sebuah klub rahasia yang memanipulasi ekonomi dan sistem politik. Anggota klub ini bekas Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Henry Kissinger, pejabat eropa terkemukan dan para eksekutif bisnis.
Sumber: Tempo Interaktif, 29 Agustus 2010
Ket foto: Fidel Castro

Setelah Besan Pulang dari Salemba

KANTOR itu menyempil di lantai dasar Gedung Raudha, bangunan tua bercat kusam di Jalan Terusan Kuningan, Jakarta Selatan. Pintunya dari kayu, kecil, dan tak mencolok. Tak ada papan nama atau keterangan apa pun sebagai identitas perusahaan yang berkantor di sana. Wajarlah jika tak banyak yang tahu kalau Aulia Pohan, besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hari-hari ini berkantor di sana.

Sejak dinyatakan bebas bersyarat dua pekan lalu, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia itu kembali pada rutinitasnya sebelum dibui. Kantor kecil di Kuningan itu adalah milik PT Bitung Sarana Mulia, perusahaan keluarga pembuat kapal nelayan. "Setiap pekan, memang selalu sempat ke sana," kata Nico Sompotan, kawan dekat Aulia Pohan, ketika dihubungi Tempo pekan lalu.

Dua pekan terakhir, nama Aulia kembali jadi pembicaraan. Rumahnya di kawasan Kebayoran Baru sempat diserbu jurnalis pada hari-hari pertama setelah kebebasannya, 18 Agustus lalu. Publik curiga, pemberian remisi atau pengurangan hukuman untuk Aulia dilakukan karena statusnya sebagai kerabat RI-1. Komisi Pemberantasan Korupsi pun mengaku kaget. "Kok, semudah itu mendapat remisi?" kata Haryono Umar, Wakil Ketua KPK.

Meski Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar dan sejumlah politikus Fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat buru-buru menjelaskan ihwal remisi Aulia, persepsi khalayak sudah kadung miring. "Seharusnya tidak ada remisi untuk koruptor," kata Haryono menyesalkan.

Aulia Pohan tampaknya tak terlalu ambil pusing. Dihubungi pekan lalu, dia mengaku tengah bersiap berkeliling ke rumah sejumlah kerabat di luar kota. "Saya sekarang harus ke Karawang, lama tidak bertemu keluarga di sana," kata Aulia. Buat dia, yang lebih penting adalah meluruskan pandangan anak dan cucunya kelak tentang kasus korupsi Bank Indonesia yang menyeretnya ke penjara Salemba. "Saya sudah menulis buku, supaya mereka tahu ceritanya seperti apa."

Selama satu setengah tahun di penjara, menulis buku adalah kesibukan utama Aulia. Total ada tiga buku yang ditulisnya di rumah tahanan Brimob di Kelapa Dua, Depok, sebelum dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Salemba, Jakarta Pusat. Dua buku membahas kebijakan moneter dan pengalamannya mengelola bank sentral. Satu buku lagi dengan judul Kata Orang, Saya Ini Korban Politik, menceritakan kronologi kasus yang menyeretnya ke balik terali besi.

Nico Sompotan memastikan tidak ada pihak yang disudutkan dalam buku itu. "Dia tidak sakit hati," katanya. Lalu apa isinya? "Pengalaman dia saja, termasuk mengingatkan bahwa ada juga pelaku yang tidak masuk penjara," katanya tertawa. Ketika ditanya soal ini, Aulia hanya berujar pendek, "Itu kan sudah jadi rahasia umum, semua orang sudah tahu."

Aulia pertama kali diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi pada Februari 2008. Ketika itu dia menjadi saksi untuk kasus suap Bank Indonesia ke anggota Dewan Perwakilan Rakyat sebesar Rp 100 miliar pada 2003. Suap itu diberikan sebagai pelicin agar pembahasan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan Bank Indonesia berjalan lancar.

Dalam pemeriksaan terungkap bahwa keputusan memakai dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia untuk menyuap anggota legislatif adalah keputusan kolegial Dewan Gubernur Bank Indonesia. Karena itulah, pada November 2008, Komisi menahan Aulia dan tiga koleganya sesama deputi gubernur: Aslim Tadjudin, Bun Bunan Hutapea, dan Maman Soemantri.

O.C. Kaligis, pengacara Aulia, mencatat sejumlah kejanggalan dalam penanganan kasus ini. "Dalam berkas, ada tanda tangan Anwar Nasution, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia saat itu. Namun dia malah tak pernah tersangkut," katanya. Di persidangan, Kaligis menghadirkan sejumlah saksi ahli yang menegaskan bahwa dana Yayasan Perbankan Indonesia bukan uang negara. "Tapi itu juga diabaikan," katanya.

Di pengadilan tingkat pertama, Aulia divonis empat setengah tahun penjara. Namun hukumannya terus berkurang dalam proses banding hingga kasasi. Terakhir, dia hanya divonis tiga tahun penjara oleh Mahkamah Agung. Berbulan-bulan dia menghuni tahanan khusus di Markas Komando Brigade Mobil Kepolisian, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Ia baru dipindahkan ke Rumah Tahanan Salemba pada April lalu.

"Aulia sempat sakit pada pekan pertama di dalam penjara," kata Nico Sompotan. Penyakit Aulia, menurut kawan dekatnya ini, lebih disebabkan oleh stres dan ketakmampuan menerima fakta bahwa dia kini penghuni bui. Ketika itu, dokter khusus kepresidenan dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto sempat dikirim untuk memeriksa kondisinya yang memburuk.

Setelah terapi, Aulia berangsur bisa menerima kenyataan. "Dia mulai rajin lari pagi di lapangan Brimob setiap hari," kata Nico. Setelah itu, jadwalnya di penjara mulai teratur. Setelah olahraga dan menerima tamu, mertua Agus Harimurti Yudhoyono ini pun mulai menulis. Awalnya hanya berupa coretan-coretan di kertas. Lama-lama semakin banyak dan menumpuk. "Dia tidak bisa menulis di komputer jinjing, jadi naskah awalnya berupa tulisan tangan," kata Nico. Kumpulan tulisan itulah yang kini diterbitkan.

Aulia sendiri tak mau berkomentar tentang pengurangan hukumannya. Namun, lewat O.C. Kaligis, dia menegaskan bahwa remisi adalah haknya sebagai narapidana setelah menjalani sepertiga masa hukumannya. "Sebenarnya orang yang mempersoalkan remisi Aulia ingin membidik Presiden," kata Kaligis sinis. Dia menantang pihak yang protes untuk mengubah peraturan tentang remisi narapidana. "Aturannya memang begitu. Kalau tidak suka, ya, ubah saja undang-undangnya."

Kaligis juga membantah Aulia sudah berada di luar penjara jauh sebelum masa pembebasan bersyarat, dua pekan lalu. "Kalau izin ke dokter, itu biasa," kata Kaligis. Menurut Nico, Aulia memang sempat menjalani operasi gigi di dokter langganannya di Pondok Indah. "Tapi itu pun dilakukan pada Juli 2010, setelah masa asimilasi," katanya.

Pada masa asimilasi yang ditetapkan satu bulan sebelum pembebasan, Aulia bebas keluar penjara pada siang hari. "Dia mulai masuk kerja, tapi malamnya, kembali tidur di Salemba," kata Nico. Besar kemungkinan, pada masa-masa itulah, ada orang yang memergoki Aulia dan menudingnya mendapat perlakuan khusus. "Padahal, tak sekali pun Aulia pernah membicarakan kasusnya dengan Presiden," kata Nico.

Sejak bebas, selain berkeliling menjenguk keluarganya, Aulia sibuk mengelola Bitung Sarana Mulia. Perusahaan itu punya sebuah bengkel pembuat kapal di Manado, Sulawesi Utara. Selain melayani pesanan perorangan, mereka sesekali mengikuti tender pengadaan kapal di Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Selain di sana, Aulia tercatat sebagai Komisaris Utama Petra Energy International, perusahaan jasa di bidang pengeboran minyak dan gas bumi. Posisinya yang lain, sebagai komisaris sebuah bank menengah, tapi ia dicopot ketika ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi, dua tahun silam. Selain itu, dia mengelola sebuah pesantren di Jawa Timur.

Di tengah sorotan media yang begitu gencar, Sabtu dua pekan lalu Aulia hadir dalam pesta perayaan ulang tahun kedua cucunya, Almira Tunggadewi. Nyonya Ani Yudhoyono hadir, tapi suaminya tidak. Seorang kerabatnya menyatakan Presiden sebenarnya hendak hadir tapi dibatalkan begitu mengetahui pers ada di sekitar lokasi, Jalan Ampera, Jakarta Selatan. Acara ini tampaknya memang dirahasiakan dari kuli tinta. Wartawan Tempo mengetahui acara itu setelah mendapat kabar dari seorang warga Ampera yang terganggu oleh hilir-mudik kendaraan Pasukan Pengamanan Presiden. Berkemeja batik ungu, seragam dengan istri dan anaknya, Aulia tiba dan meninggalkan acara, diam-diam.

Sampai badai kontroversi seputar kebebasannya mereda, Aulia tampaknya lebih suka menjauh dari keramaian. Bahkan di kantornya sendiri, di Gedung Raudha, kehadirannya tak terlampau mencolok. "Nanti saja kita bertemu, kalau semua ini sudah selesai," katanya lewat telepon. (Wahyu Dhyatmika)
Sumber: Tempo edisi 30 Agustus 2010
Ket foto: Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Aulia Pohan.
Dok. foto: repro VIVANews.com

Obama Tak Gentar Disebut Muslim

Presiden AS Barack Obama mengaku tidak khawatir dengan hasil jajak pendapat belakangan ini yang menyebutkan seperlima warga AS percaya bahwa ia Muslim.

Obama sebagai penganut Nasrani menegaskan bahwa yang namanya "fakta tetap fakta". Dalam wawancaranya dengan NBC Nightly News, Minggu (29/8/2010), Obama menuding kebingungan publik terhadap agama yang dianutnya disebarkan oleh "jaringan pengacauan informasi yang terorganisasi".

Obama mengaku waktunya hanya akan terbuang percuma apabila ia harus sibuk mengurusi rumor yang berkembang seperti juga tudingan bahwa ia tidak dilahirkan di AS.

Obama menjelaskan tentunya ia tidak akan "menempel akta kelahiran di dahinya" hanya untuk meyakinkan publik bahwa ia Kristen. Obama menambahkan agama yang dianutnya lebih penting untuk diyakini warga AS ketimbang kabar isapan jempol.
Sumber: Kompas.com, 30 Agustus 2010
Ket foto: Presiden Amerika Serikat Barack Husein Obama

Kasus Pembunuhan di Lembata: Korban Dipukul Lalu Diiris-iris

Kasus pembunuhan Katharina Kidi (50) di Desa Todanara, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata pada Rabu (3/3/2010) silam, memendam cerita yang sungguh tragis.

Korban dipukul di kepala sehingga terjatuh, lalu pelaku membalikkan tubuh korban dan mengiris-iris pahanya. Korban akhirnya meninggal dunia karena kehabisan darah.

Hal itu terungkap dalam sidang kasus pembunuhan Katharina Kidi, di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Lembata, Rabu (25/8/2010) siang. Sidang itu menghadirkan saksi mata, Kristina Kewa.

Kewa menuturkan pada saat itu, hari masih pagi. Sekitar pukul 09.00 atau 10.00 Wita. Saat itu ia berada di kebun yang berjarak sekitar 100 meter dari kebun korban, Katharina Kidi (50).

Ketika sedang bekerja, tiba-tiba ia mendengarkan ada suara yang memanggil dirinya. Setelah ia mendekat baru diketahui bahwa yang memanggilnya adalah Theodorus Ola, yang saat itu sudah berada di kebun Katharina Kidi yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP).

Tatkala ditanya untuk apa dirinya dipanggil, Kewa mengaku tidak tahu. Ia menghampiri Ola hanya karena dipanggil untuk turut berada di TKP.

Saat itu, kenang Kewa, ia berdiri pada jarak sekitar 10 meter dari korban yang adalah mertuanya sendiri. Ia melihat dengan jelas Ola mendatangi korban dari belakang dan langsung memukul tengkuknya sebanyak satu kali, yang menyebabkan korban terjatuh dan pingsan.

Mungkin tidak puas dengan hanya memukul korban, Ola kemudian membalikkan tubuh korban dengan muka menghadap ke tanah, dan langsung mengiris-iris paha korban dengan parang yang sudah dipegang. Irisan parang itu sekitar tiga sampai empat kali.

Akibatnya darah mengucur dari luka tersebut. Darah yang mengalir tak heti-henti itu diduga menjadi sebab korban meninggal dunia karena kehabisan darah.

Namun Kewa yang juga adalah anak mantu korban, tidak dapat berbuat banyak. Soalnya ia diancam oleh Dominikus Demon (41), yang berada di lokasi bersama Simon Sili Gere.

Saat kejadian, Simon Sili Gere berdiri pada jarak sekitar lima meter dari korban. Saat itu Simon peran menjaga keamanan lokasi kejadian.

"Dominikus Demon dan Simon Sili Gere, masing-masing berdiri sekitar lima meter dari korban. Mereka tidak hanya melihat ke arah Theodorus Ola yang sedang melakukan tugas membunuh korban, tetapi juga melihat keliling untuk memastikan tidak ada orang lain yang melintas di jalan tersebut," jelas Kewa.

Berulang kali, Kewa ditanya, mengapa dirinya tidak langsung melaporkan kejadian ini kepada suaminya, ia mengatakan takut dengan ancaman Dominikus Demon bahwa kalau dirinya membuka rahasia itu kepada orang lain, maka nasibnya akan sama dengan yang dialami mertuanya.

"Saya tidak cerita siapa-siapa, termasuk suami saya. Karena saya takut dengan ancaman Demon. Dia (Demon) bilang, kalau kamu macam-macam, kamu juga akan sama dengan mama mantu kamu," jelas Kewa, menirukan ancaman Demon.

Terhadap kesaksian Kewa, terdakwa Simon Sili Gere, membantah. Dia mengatakan dirinya tidak berada di TKP dan berperan sebagai pengawas untuk memastikan proses pembunuhan ini berjalan sesuai rencana.

Namun Kewa juga yang sudah disumpah tetap pada pendiriannya. "Saya melihat dengan jelas Simon Sili Gere berada di TKP," tandas Kewa.

Bantah Keterangan Kewa

Sementara itu, Dominikus Demon (41) yang juga dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang kasus ini, membantah semua keterangan Kewa bahwa ia juga berada di TKP dan mengambil peran yang sama dengan yang dilakukan terdakwa Simon Sili Gere.

Demon mengatakan, pada hari itu ia bersama istrinya ke kebun dan tidak mengetahui apa yang terjadi di kebun korban. Soalnya kebunnya berbeda arah dengan kebun korban. Pada hari Rabu (3/3/2010) itu, ia bersama kelompok tani membersihkan kebunnya.

"Pada hari itu, saya jalan dengan istri sekitar jam 08.00 WITA, ke kebun dan baru kembali pada sore hari, sekitar pukul 03.00 (15.00) WITA. Waktu itu saya bawa air untuk beri minum sapi. Saya bawa tiga jerigen kecil, sedangkan istri saya junjung satu ember matex. Jadi saya tidak tahu apa yang terjadi di TKP," jelas Demon.

Demon juga mengaku baru tahu pada sore hari, mengenai hilangnya korban, melalui keponakan yang datang ke rumah, kemudian membakar lampu untuk ikut mencari korban.

"Waktu itu saya juga tidak ikut, karena dalam beberapa hari terakhir sebelum peristiwa pembunuhan itu, saya rasa ada diikuti oleh orang lain. Makanya saya takut akan dibunuh. Waktu itu saya takut keluar rumah mencari korban," tutur Demon.

Untuk itu, dia mengatakan dirinya mencabut sebagian isi dari berita acara pemeriksaan (BAP) yang dibuat oleh penyidik Polres Lembata. Itu dilakukan karena pada saat pemeriksaan, ia disiksa dan dipaksa untuk mengaku bahwa benar ia ada di TKP saat kejadian.

Sidang ini dipimpin ketua majelis hakim, Gustav Bless Kupa, S.H, didampingi Galih Bawono, S.H, M.Hum, dan Sry Haryanto, S.H, dihadiri Jaksa Penuntut Umum (JPU), Arif M Kanahau, S.H, dan Jermias Penna, S.H.

Sedangkan terdakwa Simon Sili Gere, didampingi penasehat hukumnya, As Do Making, S.H. Usai pemeriksan saksi, langsung dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa, Simon Sili Gere.
Sumber: Pos Kupang, 26 Agustus 2010
Ket foto ilustrasi:google.co.id

Kepala BP Migas Priyono: Kita Terengah Kalau Hanya Membicarakan Minyak

SELAMA tujuh tahun belakangan keran produksi minyak seperti tersendat. Tahun ini, produksi minyak hanya 800 ribuan barel. Saat membacakan Nota Keuangan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2011, Presiden Yudhoyono hanya mematok target di bawah sejuta barel tahun depan, tepatnya 970 ribu barel per hari.

Indonesia terakhir mengecap produksi minyak di atas sejuta barel pada 2003. Toh, Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Priyono mengatakan produksi justru telah membaik, asal gas ikut diperhitungkan. "Harus fair," ujarnya.

Produksi minyak nasional memang turun, tapi temuan di sumur justru memperlihatkan gas melimpah. Bila produksi minyak dan gas bumi digabung, angkanya setara dengan pencapaian 2003. Priyono mengatakan semua negara penghasil minyak dan gas selalu berbicara tentang oil equivalent.

Di sela kesibukannya, Priyono menerima Nugroho Dewanto, Yandi M. Rofiyandi, dan fotografer Dwianto Wibowo dari Tempo di kantornya, Rabu pekan lalu. Bekas direktur di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ini menjelaskan berbagai masalah di lapangan, termasuk soal Lapindo dan konsep bright and green, untuk merangkul masyarakat di sekitar lokasi penambangan minyak.

Apa kendalanya sehingga produksi minyak kita sulit ditingkatkan?
Kita cerita dari awal dulu. Minyak dan gas bumi pernah menjadi andalan pemerintah. Penerimaan dari minyak dan gas bumi mencapai 60 persen dari APBN ketika zaman Soeharto. Pada 1980-an, sejumlah pengusaha minyak mengatakan Indonesia akan beralih ke industri gas karena dalam beberapa penemuan lebih banyak ketemu gas, misalnya di Balikpapan dan Tangguh.

Mengapa waktu itu temuan gas tak dikembangkan?
Ketika itu komoditas gas memang tak menarik karena minyak murah. Apalagi subsidi pemerintah cukup besar untuk bahan bakar minyak sehingga enggak ada yang peduli terhadap masalah itu. Ada penemuan gas dalam jumlah besar di Sumatera Selatan oleh ConocoPhillips, tapi susah ditawarkan ke dalam negeri. Orang lain lebih jeli melihat bahwa gas akan menjadi komoditas primadona karena lebih bersih dan murah.

Jadi produksi gas itu malah dijual ke luar negeri?
Iya. Mulai 1997 sampai 2001, kondisi politik Indonesia sangat luar biasa. Tak ada investasi baru. Lalu keluar Undang-Undang Migas 2001 sehingga market melihat positif. Namun mereka belum yakin pelaksanaannya. Undang-undang bagus, tapi bisa saja implementasinya tidak investment friendly. Jadi butuh tiga tahun lagi untuk sosialisasi. Jadi selama 1997-2004 hampir dikatakan tak ada investasi baru. Mereka yang sudah di sini juga tak melakukan investasi baru karena menunggu arah pemerintah yang terlihat belum stabil.

Mengapa perusahaan minyak besar yang sudah di sini juga tak mau investasi?
Sampai 2004 memang investasi sangat kecil. Perusahaan besar juga mengalami penurunan. Naiknya berat sekali karena tidak dijaga sejak 1998 sampai 2004. Investornya bingung dengan situasi itu. Berat untuk mendorong investasi baru. Seandainya ada penemuan besar pada 1998-2004, bisa kita pelihara sekarang. Lantaran eksplorasi terlambat, penemuan besar cuma di Cepu.

Sebetulnya Cepu kan sumur lama?
Iya, Pertamina puluhan tahun di sana dan aktivitasnya lumayan. Lalu Exxon kembali dan ketemu. Mereka hanya memperdalam lubang yang sama.

Bagaimana mencapai target pemerintah menaikkan produksi minyak hingga 970 ribu barel per hari?
Kita terengah-engah kalau hanya membicarakan minyak. Tapi, bila bicara tentang minyak dan gas bumi, kita masih bisa bernapas. Saat ini produksi minyak dan gas kita sudah sama dengan 2003. Jadi sudah pulih. Gas seharusnya diperhitungkan sehingga mendapat profil lebih fair. Jadi jangan ngomong barel terus. Negara penghasil minyak dan gas selalu ngomong-nya oil equivalent.

Bila melihat potensinya, apakah industri minyak Indonesia masih menarik bagi investor asing?
Data PricewaterhouseCoopers mengatakan daya tarik terbesar di Indonesia adalah geologinya. Jadi resource-nya masih sangat menarik. Tapi hal lain, seperti kepastian hukum, masih mengganjal. Setelah pemerintahan mapan, mereka kembali berinvestasi. Tapi, ketika muncul masalah cost recovery dua tahun lalu, mereka stop lagi.

Bagaimana BP Migas membantu mendorong iklim investasi?
BP Migas sebenarnya dibentuk bukan seperti Direktorat Jenderal Migas. Anggarannya saja tak masuk APBN, tapi dari minyak yang dihasilkan. Kami mendapat alokasi satu persen dari minyak yang dihasilkan. Kami mengelola kontrak dengan perusahaan minyak sehingga bila ada sengketa, tidak menyeret pemerintah. Jadi seperti bumper. Fungsi BP Migas pengawasan dan pengendalian manajemen operasi.

Mestinya pemerintah yang lebih berperan dalam menciptakan iklim yang lebih kondusif untuk investor?
BP Migas tak membuat kebijakan umum. Hanya mengurus kebijakan operasional, misalnya tumpang-tindih lahan. Sebenarnya itu juga bukan tugas BP Migas, karena ketika pemerintah memberikan lahan, seharusnya bebas masalah. Tapi kejadiannya tak begitu. Dari gubernur oke, tapi dihalangi di tingkat kabupaten sehingga berhenti, seperti yang terjadi di Aceh. Jadi informasi akan dibuka lahan itu tak sampai kepada aparat terendah.

Apa yang dilakukan BP Migas agar pengawasan lebih efisien?
Pengawasan migas larinya ke masalah prosedur operasi dan efisiensi. Dan efisiensi larinya ke cost recovery. Sebenarnya sistem pengawasan sudah bagus. BP Migas sudah mengawasi saat mereka mengajukan program kerja. Kami melihat keuntungan pemerintah dari program kerja itu. Kalau sudah oke, baru dilihat efisiensinya. Setelah pemerintah aman dan harganya memper, baru kami setujui. Sekarang proyek besar di atas sepuluh triliun akan melekat ke grup pengawasan proyek. Sebelumnya tak ada, jadi kita percaya saja.

Bagaimana cara mengaudit jumlah produksi minyak yang dikelola asing?
Perusahaan asing itu yang punya banyak. Exxon di dalamnya ada perusahaan lain dan biasanya mereka terdaftar di bursa luar negeri. Kalau ada mekanisme kerja yang merugikan perusahaan itu, pasti sahamnya jatuh. Semua orang mengawasi, bukan hanya Exxon-nya, melainkan pemegang saham. Kecil kemungkinan mereka mau main di situ.

Apa kecurangan yang masih mungkin mereka lakukan?
Bukan curang, tapi mencuri kesempatan. Adu pintar. Jadi bukan maling dan kriminal. Misalnya proyek pengadaan barang dari teman-temannya sendiri. Mereka, misalnya, membawa dari Amerika dengan spek lebih hebat. Padahal bisa saja tak perlu alat hebat.

Apakah ada ketentuan menggunakan kandungan lokal dalam pengadaan barang?
Muatan lokal menjadi parameter dalam pemenangan tender. Bobotnya 35 persen dan sekarang yang kita kelola sudah 70 persen.

Apakah BP Migas ikut mengawasi operasionalisasi Lapindo yang bermasalah?
BP Migas tak diberi tanggung jawab mengawasi dan memberikan izin berkaitan dengan kepentingan publik, misalnya kerusakan lingkungan dan potensi kecelakaan. Pemerintah yang pegang. Saya juga tak ingin berpolemik soal Lapindo, tapi sejak awal sudah terlihat ada jalur patahan. Kalau bergerak dan ada aktivitas, akan muncul kejadian.

Kalau diketahui ada patahan, mestinya kan tak boleh ada kegiatan pengeboran....
Ketika memberikan daerah eksplorasi, seharusnya pemerintah tak memberikan daerah patahan. Memang bencana alam enggak bisa diprediksi. Selama ratusan tahun memang tak terjadi apa-apa di jalur patahan.

Bagaimana penanganan sumur lama yang tak masuk skala ekonomi perusahaan minyak besar, tapi sesungguhnya ekonomis bagi perusahaan kecil?
Saya sudah bikin gambaran ketika masih di Ditjen Migas. Seumpama jalan, kita mengatur jalur bus, mobil, motor, sepeda, dan jalan kaki. Undang-undang mengatakan bahwa industri ini bisa dikelola koperasi dan badan usaha milik daerah. Tinggal bagaimana membuat jalurnya. Pemerintah harus segera membuat dan melaksanakan jalur-jalur ini.

Berapa potensi semua sumur kecil itu dibanding produksi nasional?
Kalau seluruh Indonesia, secara volume metrik tak lebih dari 10 ribu barel dari ribuan sumur yang ada.

Sekarang banyak sumur itu telantar....
Betul, karena tarik-tarikan lahan Pertamina begitu besar. Pertamina tak mengelola, tapi juga tak melepas lahan itu. Seharusnya ada mekanisme saling menguntungkan, misalnya harga. Saya pernah mengatakan jual saja dengan harga crude international. Pertamina enggak rugi, kok. Nanti pengusaha wajib memelihara lingkungan. Jadi fee-nya dari harga minyak, bukan 10 persen dari harga minyak.

Apakah ada pembatasan pengelolaan sumur oleh perusahaan asing?
Karena financial engineering kita sangat lemah. Perusahaan minyak biasanya meminjam uang untuk mengelola sumur. Masalahnya, perusahaan minyak Indonesia, termasuk Pertamina, tak memiliki rating hebat sehingga mendapatkan uang pinjaman dengan bunga tinggi. Jadi tak ekonomis.

Bagaimana peluang perusahaan lokal untuk mengambil alih sumur yang sudah habis masa kontraknya?
Pertama, harus diperhitungkan biaya operasi yang tinggi karena bunga tadi. Kedua, perusahaan nasional sekarang tak memiliki research and development yang canggih untuk minyak dan gas. Dengan kondisi ini, ada pertanyaan apakah mereka akan seefisien perusahaan asing. Kepentingan BP Migas hanya menjaga agar produksi minyak jangan sampai turun. Silakan diambil siapa saja. Tentu kita mendukung Pertamina. Tapi jangan sampai sudah dikasih, malah produksinya turun. Setelah itu, saling menyalahkan. Penyakit bangsa kita kan saling menyalahkan.

Bagaimana peran perbankan nasional dalam industri migas?
Saya pernah bicara dengan asosiasi perbankan. Saya ngomong proyek perusahaan minyak di Indonesia, seperti Exxon US$ 4 miliar, di Makassar US$ 7 miliar, dan Blok Masela US$ 17 miliar. Saya bersemangat memperlihatkan potensinya. Jawaban mereka: "Pak Pri ngomong gede banget. Tahu enggak, sirkulasi semua perbankan di Jakarta hari ini cuma US$ 2 miliar."

Mengapa bank tak pernah bergandengan dengan industri migas?
Pertama, perusahaan minyak belum percaya pada perbankan kita. Kedua, bank kita takut masuk ke perusahaan minyak karena dianggap satu paket dengan eksplorasi. Memang aneh, ada industri subur makmur, tapi tak nempel ke perbankan. Ketika krisis global 2008, suasana psikologis perbankan jelek. Tapi industri migas ternyata tak jadi masalah karena pembiayaannya dari luar negeri.

Bagaimana supaya bank nasional bisa turut dalam industri migas ini?
Seharusnya bank melekat di eksploitasi. Saya meminta perusahaan minyak memakai perbankan nasional, paling tidak dalam transaksinya. Dengan kawin paksa ini uang mengalir. Bank kita basah terus sehingga kuat. Sekarang cash management perusahaan minyak juga sudah di bank nasional. Lebih lanjut, saya ingin mereka menaruh dana perbaikan lahan di bank kita. Uang ini dulu enggak tahu di mana, sekarang harus di bank nasional.

Bagaimana perkembangan formula cost recovery setelah menjadi bahan perdebatan di Dewan Perwakilan Rakyat?
Cost recovery ribut karena ada temuan Badan Pemeriksa Keuangan yang menyatakan ada 33 item di wilayah abu-abu karena perusahaan membebankan biaya yang tak jelas. Tidak ditulis dalam kontrak, tapi juga tak dilarang. Temuan itu dispute, bukan penggelembungan biaya. Jadi tidak ada tindak pidana yang merugikan negara. BP Migas mengeluarkan 17 item dari 33 temuan BPK itu.

Bagaimana mengatasi kendala berupa penolakan penduduk dan pemerintah setempat terhadap kegiatan eksplorasi minyak?
Penyakit daerah tak merasa diuntungkan oleh industri migas. Migas tak memiliki produk menarik yang dijual ke publik. Untuk itu, kita membuat produk yang diinginkan daerah, yakni listrik. Biasanya di area proyek terang, tapi di kampung sebelah gelap. Dengan listrik, roda ekonomi tumbuh. Kita sudah mulai di Jambi. Perusahaan juga harus memperhatikan sanitasi, air, dan kerusakan lingkungan. Kita namakan produk ini bright and green.

Apakah produk bright and green itu masuk dalam corporate social responsibility (CSR)?
CSR kan tak masuk dalam cost recovery, produk ini masuk. Produk ini menunjang program pemerintah. Kami harapkan ada perubahan ekonomi. Kalau rakyat sudah diuntungkan, pasti fasilitas produksi akan dijaga.

R. Priyono
Tempat dan tanggal lahir:
Pati, Jawa Tengah, 12 September 1956

Pendidikan:
Sarjana Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung, 1976

Karier:
Kepala BP Migas, 2008-sekarang
Direktur Pembinaan Usaha Hulu, Direktorat Jenderal Migas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2006-2008
Kepala Subdirektorat Pengelolaan Wilayah Kerja, Direktorat Jenderal Migas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2003-2006
Kepala Subdirektorat Eksplorasi, Direktorat Jenderal Migas, 2001-2003.
Sumber: Tempo, 30 Agustus 2010
Ket foto: R. Priyono
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger