Headlines News :

Ujian Partai Demokrat

Written By ansel-boto.blogspot.com on Tuesday, May 31, 2011 | 5:10 PM

Oleh Ansel Deri
Kader Partai Demokrat &
Tenaga Ahli (A-558) DPR RI

PARTAI Demokrat kembali memasuki ujian. Dua kader dan petinggi partai masuk dalam pusaran arus dugaan skandal suap di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia. Isunya bermula dari dugaan suap proyek pembangunan Wisma Atlet Sea Games Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan. Nilai kerugian negara mencapai Rp 200 miliar.

Selain melibatkan orang dalam Kemenpora, tersiar pula nama Direktur Pemasaran PT Anak Negeri Mindo, Rosalina Manulang, dan Direktur Pemasaran PT Duta Graha Indah, Mohamad El Idris, yang masuk dalam skandal itu.

Isu itu kian panas tatkala dua petinggi Partai Demokrat terseret dalam pusaran arus dugaan skandal suap. Pertama adalah Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhamad Nazaruddin (Nazar). Kedua, Wakil Sekretaris Jenderal, Angelina Patricia Pingkan Sondakh (Angie). Keduanya saat ini juga tercatat sebagai anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI.

Ujian

Jauh sebelum itu, Partai Demokrat, Dewan Pembina, dan kader-kadernya juga mendapat ujian black campaign. Melalui buku Membongkar Gurita Cikeas karya George Junus Aditjondro yang terbit pada 2010, George, doktor lulusan Cornell University, Ithaca, New York, menuding Partai Demokrat menang fantastis karena suara pemilihnya naik tiga kali lipat dalam satu periode pemerintahan dari sekitar tujuh menjadi sekitar dua puluh persen.

Penggalangan dana yang luar biasa serta besarnya pembelian suara (vote buying) oleh para kadernya memainkan peranan yang besar melonjaknya angka pemilih Partai Demokrat dan calon presidennya.

Dengan kata lain, kemenangan SBY bukan hanya karena kehebatan kharismanya, yang dikemas oleh Fox Indonesia dalam iklan-iklan bernilai jutaan rupiah di media cetak dan elektronik dibarengi klaim-klaim kesuksesan periode kepresidenan yang pertama.

Resistensi Partai Demokrat terhadap penggunaan hak angket DPR mengungkapkan skandal Bank Century menjadi indikasi betapa besarnya keinginan petinggi partai itu menutupi hal-hal yang mencurigakan dalam pemberian dana talangan yang jauh melebihi yang sudah disepakati oleh parlemen.

Tak hanya itu. George juga membeberkan adanya sorotan masyarakat terhadap deposan terbesar Bank Century, khususnya Siti Hartati Murdaya dan Boedi Sampoerna. Hartati, kader Partai Demokrat dan pemilik Pekan Raya Jakarta (PRJ) bersama Boedi, melalui kelompok bisnisnya disebut-sebut menggelontorkan dana untuk kampanye Partai Demokrat dan calon presidennya.

Soal korupsi

Upaya memberantas korupsi di Indonesia sudah menjadi komitmen SBY dan Partai Demokrat. Sejak terpilih pada periode pertama dan dilanjutkan pada periode kedua, korupsi menjadi agenda penting lain yang dikerjakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pendiri Partai Demokrat.

Selama menjadi presiden, banyak pejabat dan kader Partai Demokrat yang terbukti melakukan korupsi dijebloskan di tahanan. Komitmen ini terus menyata selama mengemban mandat rakyat.

Dalam kasus yang diduga melibatkan dua kader Partai Demokrat: Nazar dan Angie, misalnya, SBY juga mempersilahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan lembaga penegak hukum untuk mengungkapkan kasus itu secara transparan dan akuntabel.

Dengan demikian masyarakat juga mengikuti tentang kebenaran dari apa yang diduga. Presiden meminta agar publik menunggu hasil penyelidikan KPK terlebih dulu. Ini penting karena komentar-komentar publik sering tidak bisa dibedakan mana yang fakta dan mana yang analisis.

Kasus dugaan keterlibatan Nazar dan Angie disebut-sebut merupakan bumerang bagi SBY. Mengapa? Dua kader itu adalah tokoh publik dan kasus dugaan suap itu terjadi di kementerian yang dipimpin kader Partai Demokrat.

Agenda rakyat

Salah satu agenda penting pemerintahan SBY adalah masalah korupsi. Korupsi sudah pasti jadi musuh bersama. Itu yang juga pernah ditegaskan SBY saat menyampaikan pidato menyambut Hari Antikorupsi se-Dunia di Istana Negara Jakarta pada 8 Desember 2009.

Memberantas korupsi tidak saja untuk menyelamatkan setiap rupiah uang rakyat, namun juga untuk membangun sebuah kesadaran baru bahwa korupsi adalah pengkhianatan terhadap amanat penderitaan rakyat.

Korupsi adalah perbuatan tercela secara moral, etika, dan agama. Korupsi adalah sebuah kejahatan yang menimbulkan kerugian luar biasa bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

Korupsi adalah tindakan asosial dan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi. Korupsi adalah sebuah keonaran yang menghancurkan nilai-nilai dan solidaritas kemanusiaan. Karena itu, ia (korupsi) menjadi musuh bersama (Pos Kupang, 29/1 2010).

Selain masalah korupsi yang juga menjadi konsern SBY, ada banyak agenda rakyat yang butuh kerja keras mengatasinya. Agenda ini juga pernah tertuang dalam buku SBY-Boediono: Membangun Indonesia yang Sejahtera, Demokratis, dan Berkeadilan.

Sekurangnya ada lima agenda, yaitu (i) peningkatan kesejahteraan rakyat, (ii) perbaikan tata kelola pemerintahan, (iii) penegakan pilar demokrasi, (iv) penegakan hukum, dan (v), pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.

Namun, di tengah upaya pemerintah dan rakyat mengejar ketertinggalan di berbagai bidang kehidupan, praktik korupsi sepertinya tumbuh subur. Tak hanya melibatkan pejabat pemerintahan, tetapi juga elit partai politik.

Bagi kader Partai Demokrat, pesan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum sangat tepat. Dalam situs pribadinya, www.bunganas.com, 17 Oktober 2010, Anas meminta agar politik cerdas dan santun mesti dijadikan merk dagang Partai Demokrat.

Partai harus membangun budaya organisasi. Basisnya adalah etika dasar berpolitik yang cerdas, bersih, dan santun. Jika semua itu menjiwai hati dan sanubari kader, ujian-ujian berat seperti kasus yang diduga membelit para kader dapat diminimalisir. 
Sumber: Pos Kupang, 24 Mei 2011

Semara Duran Antonius: Dirjen Bimas Katolik

Dirjen Bimas Katolik yang baru, Semara Duran Antonius, bertekad terus mengembangkan program kemitraan yang terbukti kian mendekatkan pemerintah dengan Gereja Katolik di Indonesia.

Kedekatan pemerintah dan Gereja itu penting. Demikian, Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia, Semara Duran Antonius, menegaskan kembali keyakinannya. Kedekatan itu mewujud dalam berbagai program kemitraan antara Ditjen Bimas Katolik dengan kalangan hirarki dan awam yang merupakan unsur dalam Gereja Katolik Indonesia.

Ditemui di Sekolah St Theresia Depok, Senin 16 Mei 2011, pria kelahiran Flores Timur ini kembali menegaskan tekadnya itu. “Kami bertugas melayani masyarakat. Kami tidak bisa bekerja sendiri, tapi harus bekerjasama dengan Gereja. Itu hukumnya!”

Sejak pendahulu

Ia berkisah, Ditjen Bimas Katolik merintis jalinan kemitraan ini sejak kepemimpinan Sukotjo Atmojo, lalu ke Stef Agus. Anton Semara yang waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Ditjen Bimas Katolik ikut membidani program kemitraan ini. Setelah dilantik secara resmi sebagai Direktur Jenderal Bimas Katolik pada 5 Mei 2011 lalu, ia menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk terus melanjutkan program kemitraan, karena terbukti mampu menciptakan keharmonisan antara pemerintah dan Gereja.

Ia tidak menampik kenyataan bahwa pada masa lalu hubungan antara pemerintah dan Gereja Katolik tidak semanis saat ini. Ia mengakui, ada kesan kurang baik yang melekat dalam diri aparat pemerintah, yang mengusik keharmonisan itu. “Kami mencari orang untuk diberi bantuan saja susah. Padahal, duit ada,” ungkapnya sambil tertawa.

Kini, kondisinya sudah jauh berbeda. Program kemitraan yang dirintis para pendahulunya membuahkan kepercayaan dan harapan dari masyarakat. Bimas Katolik mewujudkan kemitraan itu dalam berbagai proyek bantuan dana. “Saya bilang ke karyawan kalau kemitraan itu sampai lepas, berarti kecelakaan, itu kesalahan pertama bagi kami.”

Konsepnya jelas. Menurut Anton Semara, dalam berbagai proyek bersama antara pemerintah dan Gereja, pemerintah tidak akan masuk ke wilayah ajaran iman. “Iman dan taqwa adalah wewenang Gereja dan itu tidak bisa diganggu oleh siapa pun,” tegas pria dengan gaya bicara lancar dan terbuka ini.

Ditjen Bimas Katolik menjalankan tiga program, dengan dana yang bersumber pada APBN. Yaitu, program yang bersifat dukungan berupa manajemen internal, program urusan agama, dan program pendidikan agama dan keagamaan.

Dua program terakhir, yaitu program urusan agama maupun pendidikan agama dan keagamaan langsung bersentuhan dengan masyarakat, meliputi urusan-urusan pembangunan tempat ibadat, pengadaan, pembinaan guru agama, katekis, pengadaan buku pelajaran agama, bantuan untuk sekolah tinggi pastoral, dan kegiatan keagamaan.

Biasanya bantuan dana itu langsung diberikan kepada yang memerlukan. Syaratnya, demikian Anton Semara, pihak yang membutuhkan bantuan dana harus mengirimkan proposal kepada Bimas Katolik. “Kami ada tim penelaah yang bertugas mempelajari permohonan-permohonan dari masyarakat,” terangnya.

Struktur Ditjen Bimas Katolik sampai ke tingkat kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Dengan demikian, pengajuan proposal tidak harus disampaikan ke pusat di Jl M.H. Thamrin No 6, tetapi bisa diajukan ke pembimas daerah. “Kami menerima banyak permohonan, sehingga tim harus bijak memutuskan. Ada permohonan yang dikabulkan sesuai permintaan, ada juga yang kurang,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, permohonan harus mendapat pengesahan atau sepengetahuan pejabat Gereja setempat, misalnya uskup atau pastor paroki. “Ini soal pengamanan saja,” tegasnya.

Dalam soal permohonan dana, ia berpesan, janganlah Gereja merasa meminta-minta kepada Bimas. “Itu uang rakyat yang berasal dari pajak yang kita bayar. Kami itu penyalurnya.”

Justru dalam urusan penyaluran dana ini, pihak Bimas Katolik merasa perlu berhati-hati, supaya tidak mengesankan pemerintah mau ikut campur terlalu jauh dalam urusan Gereja. “Kalau ada kegiatan-kegiatan Gereja dalam tataran kemitraan, kami bertanya apa yang bisa kami lakukan,” imbuhnya.

Jiwa guru

Anton Semara, lulusan IKIP Sanata Dharma Yogyakarta, diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil dengan pangkat II/b pada 1 Maret 1979 di Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia. ”Saya lebih senang mengajar di depan kelas. Sewaktu jadi pegawai, belum ada jabatan apa-apa, saya mengajar. Pulang kerja pukul empat sore, saya mengajar sampai pukul tujuh malam. Pulang ke rumah tinggal sisa-sisa tenaga,” tuturnya mengenang.

Meski berjiwa guru, selama 31 tahun berkarir, Semara justru lebih banyak mengurus keuangan. Ia mengaku, 75-80 persen ruang lingkup pekerjaannya bersentuhan dengan uang. Di antaranya, sebagai Pjs Kasubbag Anggaran dan Pjs Kabag Keuangan. Hingga diangkat sebagai Sekretaris Ditjen Bimas Katolik (25 Januari 2006), urusannya tak lepas dari uang.

Sebagai Dirjen baru, meskipun sempat menjadi Pjs selama setahun, suami Maria Ema Duli ini mengaku tidak mempunyai mimpi muluk-muluk. “Sederhana saja. Saya ingin menjadi teladan yang baik di tengah masyarakat. Kehadiran kami memang untuk itu, dan semua pegawai Bimas Katolik harus menyadari hal itu,” tegas Semara.

Ia sendiri, selain berkarya di pemerintahan, juga sempat berkiprah di parokinya, St Herkulanus Depok. Ia dikenal sebagai dirigen handal. “Dirigen yang dirjen,” demikian umat mengenalnya sekarang.

Selain itu, Anton Semara mengemban kepercayaan sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Yohanes Paulus yang mengelola Sekolah St Theresia, dari tingkat KB sampai SMP. “Ini periode kedua kepengurusan saya,” pungkasnya. (Anton Sumarjana)

Semara Duran Antonius

Lahir : Flores Timur, 24 Mei 1953
Istri : Maria Ema Duli (56)
Anak:
• Willy Brodus Eko B (25)
• Marcelinus Kebesa Raya Tokan (Alm)
• Embrensia Novita Kewa Kuma (14)

Pengalaman Jabatan:
• Pjs Kasubbag Anggaran (11 Agustus 1987)
• Pjs Kabag Keuangan (18 Februari 1992)
• Kabag Penyusunan Program dan Peraturan Perundang-undangan (23 Oktober 1998)
• Kabag Perencanaan dan Keuangan (27 Agustus 2001)
• Kasubdit Sarana Keagamaan Katolik (17 Juni 2004)
• Sekretaris Ditjen Bimas Katolik (25 Januari 2006)
• Direktur Jenderal (5 Mei 2011)

Sumber: HIDUP No. 25 Tanggal 19 Juni 2011

Duh, Demonstran Cewek Dites Keperawanan

Seorang jenderal senior Mesir mengakui ada "pemeriksaan keperawanan" terhadap perempuan-perempuan yang ditangkap dalam demonstrasi pada Maret lalu. Pengakuan itu merupakan yang pertama setelah sebelumnya pihak militer membantahnya.

Seorang jenderal Mesir mengakui bahwa militer melakukan pemeriksaan keperawanan kepada para demonstran perempuan yang ditangkap pada 9 Maret lalu.

Tuduhan itu terungkap dalam laporan Amnesty International yang dirilis setelah unjuk rasa 9 Maret. Dalam laporan itu disebutkan para demonstran perempuan dipukuli, disengat dengan listrik, digeledah dalam keadaan telanjang, diancam dengan dakwaan prostitusi, serta dipaksa menjalani pemeriksaan keperawanan.

Ketika itu, Mayor Amr Imam mengakui ada 17 demonstran perempuan yang ditangkap, tetapi dia membantah tuduhan "pemeriksaan keperawanan".

Kini tuduhan itu diakui oleh seorang jenderal yang meminta namanya tidak disebut, tetapi perwira itu membela dilakukannya pemeriksaan tersebut. "Gadis-gadis yang ditangkap itu tidak seperti anak-anak kita. Mereka tinggal di tenda dengan para demonstran lelaki di Lapangan Tahrir dan kami menemukan minuman beralkohol dan narkoba," ujarnya, seperti dikutip CNN, Senin (30/5/2011).

Sang jenderal mengatakan, pemeriksaan keperawanan itu perlu dilakukan agar nantinya para perempuan itu tidak mengklaim telah diperkosa oleh aparat Mesir.

"Kami tidak ingin mereka mengatakan bahwa kami sudah melakukan kekerasan seksual atau memerkosa mereka. Jadi, kami ingin membuktikan bahwa mereka sudah tidak perawan. Dan mereka memang sudah tidak perawan," kata sang jenderal.

Demonstrasi pada 9 Maret itu berlangsung di Lapangan Tahrir. Ketika itu militer Mesir menarik puluhan demonstran menuju gerbang Museum Mesir. Salah seorang demonstran yang disebut Amnesty International, Salwa Hosseini, mengisahkan pengalamannya kepada CNN. Dia mengaku dipaksa berbaring di tanah, dipukul, lalu disetrum dengan pistol kejut dan disebut pelacur.

"Mereka ingin memberi kami pelajaran. Mereka ingin kami merasa tidak bermartabat," ujarnya.

Perlakukan itu memburuk, kata penata rambut berusia 20 tahun itu, saat dia dan 16 perempuan lainnya dibawa ke pusat tahanan militer di Heikstep. Di tempat itu beberapa tahanan perempuan dipaksa menjalani "tes keperawanan".

Jenderal senior itu mengungkapkan, 149 orang yang ditahan setelah unjuk rasa 9 Maret diadili di pengadilan militer dan sebagian besar dijatuhi hukuman satu tahun penjara. Namun, pihak berwenang meralat kalimat itu menjadi "ketika mengetahui bahwa beberapa tahanan bergelar sarjana, kami memutuskan untuk memberikan mereka kesempatan kedua."
Sumber: Kompas.com, 31 Mei 2011
Ket foto: Para pengunjuk rasa Mesir menuntut mundurnya Presiden Mesir Hosni Mubarak di Alun-alun Tahrir, Sabtu (5/2). Aksi massa yang mencapai ratusan ribu orang ini sempat menghentikan berbagai sendi kehidupan di Mesir, termasuk pendidikan.

Berhubungan Intim Depan Publik, Artis Cina Dipenjara

Written By ansel-boto.blogspot.com on Tuesday, May 17, 2011 | 7:20 PM

Gara-gara aksinya mempertontonkan bagaimana berhubungan badan yang indah dan baik, seorang artis di Songzhuang, timur Beijing, digelandang ke penjara. Ia dipenjara dan harus menjalani hukuman kerja paksa selama setahun.

Cheng Li, nama artis gaek itu, melakukan hubungan badan bersama seorang perempuan di depan sejumlah orang di Museum Contemporary Art di Songzhuang. Dalam aksinya yang diberi judul Sensitive Zone itu, Cheng bersama pasangannya telanjang dan memperagakan bagaimana cara berhubungan intim.

Aksi cabul Cheng langsung menuai kontroversi. Tapi, melalui pengacaranya, Cheng membela diri dengan mengatakan aksi cabulnya itu merupakan bagian dari pertunjukan seni.

Menurut pengacaranya, Cheng melakukan itu karena dua alasan, yakni pertama untuk mengejek orang-orang yang terlalu mengkomersialkan seni kontemporer dan kedua untuk memperlihatkan keindahan berhubungan intim dan mengangkat kegiatan tersebut ke tingkat yang lebih tinggi, yang tidak kotor, jelek, dan jahat.

Tapi, alasan itu tak mampu membuat polisi berdamai. Empat hari setelah aksi cabul itu, Cheng ditangkap. Ia dituduh telah membuat kegaduhan dan kekacauan publik.

Ia ditahan di pusat penahanan di Tongzhou, dekat Jiangsu, timur Cina. Ia juga harus mengikuti kerja paksa sejak 24 April tahun lalu yang akan berakhir 23 Maret 2012. Cheng merencanakan akan banding.
Sumber: Tempo Interaktif, 17 Mei 2011
Ket foto: Cheng Li melakukan melakukan hubungan badan bersama patnernya di Museum Contemporary Art di Songzhuang.
Foto: dailymail.co.uk

Inilah Para Wanita Sohor yang Menjadi Mualaf dan "Humas" Muslim

Sebuah riset di Eropa menyebutkan jumlah mualaf perempuan jauh lebih banyak dari laki-laki. Meski demikian, riset yang dilansir oleh Christian Science Monitor beberapa waktu lalu itu tidak menyebut angka statistik yang pasti.

Sebelumnya, berbagai media ternama di Inggris menyebut meroketnya jumlah mualaf di negeri mereka -- sebagian besar motornya adalah kaum wanita.

Dilansir The Daily Star, mengutip studi Kevin Brice dari Swansea University, sebagian besar mualaf itu juga mengenakan jilbab, tetapi cenderung tidak setuju memakai cadar.

Penelitian yang dilakukan untuk organisasi keanekaragaman ras Faith Matters menemukan 5.200 orang masuk Islam di Inggris tahun lalu.

“Banyak wanita yang merasa jenuh dengan gaya hidup masyarakat Barat…. Mereka lebih suka pendekatan yang sifatnya lebih spiritual,” tulis The Daily Star mengutip Fiyaz Mughal, Direktur Faith Matters.

Bahkan, di antara mereka, ada juga beberapa yang sebelumnya telah menjadi pesohor. Kini, tak sekadar pindah agama, mereka juga aktif menjadi corong umat Islam.
Sumber: Republika, 10 Mei 2011
Ket foto: Kristiane Backer, mantan VJ MTV Eropa yang menganut Islam tahun 1990-an.

Razia PSK, Satu Kakek Lari Telanjang

Seringnya razia yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terhadap pekerja seks komersial (PSK) maupun pria hidung belang tak membuat para pelaku jera.

Seperti yang terjadi di kawasan rel kereta api Mangunharjo, Mayangan, Kota Probolinggo. Mereka tak sekadar nongkrong minum kopi dan mengisap rokok, tetapi juga menyalurkan hasrat seksualnya di pinggiran rel yang gelap.

Dalam operasi razia penyakit masyarakat oleh petugas Satpol PP Kota Probolinggo, Kamis (19/5/2011) dini hari, petugas memergoki seorang kakek tengah bermesraan bersama seorang PSK paruh baya.

Dalam suasana gelap itu, si kakek tak menyadari ada petugas yang mendekatinya. Sekitar 20 meter dari tempat mereka bermesraan, petugas menyorotinya dengan lampu senter besar yang cahayanya amat terang.

Si kakek pun terkaget. Tanpa berpikir panjang, dia langsung melarikan diri telanjang bulat sekencang-kencangnya ke areal persawahan jagung. Dia pun tak memedulikan si wanita yang menjadi teman kencannya. Si wanita juga tak kalah sigap. Usai ditinggal si kakek, ia lari dengan telanjang bulat pula. Keduanya lolos dari tangkapan petugas yang bermaksud membawa mereka untuk diberi pembinaan.

Dari operasi di lokalisasi rel KA tersebut, petugas menjaring empat wanita, dua di antaranya diketahui sebagai PSK yang menjadi langganan razia. Sisanya mengaku bukan PSK dan hanya kebetulan beristirahat di tempat itu seusai pulang kerja.

"Saya cuma apes, kebetulan lewat, tapi dikira PSK," ujar seorang wanita berusia 50 tahun asal Banyuanya, Kabupaten Probolinggo.

Selanjutnya, perburuan PSK dilanjutkan ke kawasan kamar kos di Jalan Cempaka dan Jalan Flamboyan, Kelurahan Pilang. Di Jalan Flamboyan, petugas membawa dua wanita. Seorang pria sempat merayu petugas agar keduanya tak diangkut ke kantor dan sebagai gantinya dia siap dibawa ke kantor. Namun, permintaan itu tak digubris. Kedua wanita dan si pria itu juga diangkut ke dalam truk.

Selain itu, di kawasan kamar kos yang terletak di belakang pabrik tekstil Eratex, petugas menjaring sepasang muda-mudi yang kebetulan tidur satu kamar. Mereka tetap diangkut meski beralasan sudah nikah siri.

Warga yang keluar rumah menyaksikan razia itu merasa lega setelah petugas melakukan razia. Pasalnya, warga setempat sering memergoki penghuni kos wanita dengan pakaian minim dan seronok di sana. "Tanpa malu mereka bermesraan di depan warga. Biasanya mereka datang dengan pasangannya rame-rame. Kami minta kos-kosan itu ditutup saja," kata Hamdi, warga setempat.

Sejumlah orang di tempat itu meminta Satpol PP tidak melakukan diskriminasi dengan hanya merazia sebagian kamar kos. "Jangan di sini saja. Kalau perlu, kos-kosan milik polisi di Triwung itu juga didatangi," ujar seorang warga.
Sumber: Kompas.com, 20 Mei 2011
Ket foto ilustrasi: Kompas.com

Anak Hamili Ibu Kandungnya

Kabar menghebohkan terdengar dari sebuah dusun di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Seorang ibu dengan delapan anak kini tengah hamil tujuh bulan. Dikabarkan, ayah dari bayi di dalam kandungannya itu adalah anak sulungnya sendiri.

Sang bapak yang merantau ke Malaysia sudah lima tahun tak memberi nafkah bagi istri dan delapan anaknya. Diduga, kondisi itu yang menjadi pemicu timbulnya perilaku seks menyimpang dari adat dan agama ini.

Semula, Rani (40) membantah kecurigaan para tetangganya. Namun, perut Rani yang terus bertambah buncit membuatnya tak bisa menyembunyikan aib keluarga. Rani semula beralasan dirinya diperkosa seorang pemuda desa. Karena telah membuat aib terhadap diri dan keluarganya, Rani mengaku membunuh sang lelaki dan menimbunnya di tengah sawah. Namun, alasan Rani tak segera meredakan kecurigaan warga dan para tetangganya.

Takut diseret ke kantor polisi karena alasan membunuh seseorang, ibu delapan anak ini kembali membuat alasan baru. Rani mengaku dirinya telah dihamili seorang pria asal Kabupaten Endrekang, Sulawesi Selatan. Saat itu Rani pun mengaku diperkosa saat bekerja sebagai buruh panen padi di Enrekang.

Warga dan aparat pemerintah desa setempat pun mendesak Rani agar pria yang telah menghamili dirinya bertanggung jawab atas janin dalam kandugannya. Alhasil, beberapa minggu kemudian Rani datang bersama seorang pria yang diklaim sebagai ayah dari anak di dalam kandungannya. Ini ditunjukkan dengan surat nikah dari KUA Enrekang lengkap dengan foto keduanya. Kecurigaan warga pun redah ketika itu.

Setelah sempat mereda lebih dari lima bulan, warga dan para tetangga Rani kembali menaruh curiga. Ini bermula dari pengakuan salah seorang anak korban yang masih berumur empat tahun. Anak korban bercerita kepada sanak tetangga jika ibunya dan Emang, kakak sulungnya, sudah lama tidur sekamar.

Cerita miring ini kembali menjadi gosip para tetangga dan warga sekampungnya. Sejumlah warga pun mendesak aparat dusun dan desa setempat untuk mengklarifikasi kabar tak sedap itu.

Setelah lama diinterogasi aparat desa secara beruntun, Rani akhinrya mengakui jika janin berumur tujuh bulan dalam kandungannya adalah perbuatan Emang, anak sulungnya.

Pengakuan itu tak hanya membuat geger para tetangga. Aparat desa setempat pun seolah disambar petir mendengar penuturan Rani.

Cerita ini dituturkan kepala desa dusun setempat, Sulaeman, Rabu (28/4/2011), yang mengaku sempat panik lantaran membayangkan risiko perbuatan ibu dan anak ini kelak setelah cerita pengakuan ini tersebar luas.

“Saya dan aparat desa lainnya pun bingung mencari solusinya. Ini bukan persoalan anak muda menghamili pacarnya, solusinya sederhana, tapi ini anak menghamili sang ibu,” ujar Sulaeman.

Penuturan mengejutkan juga diakui Emang, anak sulung yang selama ini bekerja sebagai buruh bangunan yang menopang kehidupan keluarganya.

Saat aparat desa sedang bermusyawarah mencari solusi untuk pasangan tak resmi ini, tiba-tiba Rani dan Emang menghilang dari rumah dan kampung halamannya. Rani menghilang Jumat petang lalu, sedangkan Emang meninggalkan rumah dan adik-adiknya sejak Sabtu pagi.

Tujuh anak Rani yang rata-rata masih kecil kini tinggal terpencar di sejumlah sanak keluarganya yang bersedia menampungnya.

Kepala desa menduga Rani dan Emang panik dan cemas lantaran takut jadi sasaran amuk warga dan sanak tetangga yang merasa ulah keduanya telah mencemari kampung halaman mereka.

Meski demikian, pengakuan Rani ini belum tentu benar. Sekalipun putra sulungnya telah mengaku, bukan tidak mungkin penyangkalan itu dilakukan Rani sama seperti dua kasus sebelumnya.
Sumber: Kompas.com, 28 April 2011
Ket foto ilustrasi: Kompas.com
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger