Headlines News :

Masih Menulis Buku di Usia 88 Tahun

Written By ansel-boto.blogspot.com on Sunday, January 15, 2012 | 9:33 PM

Biara Santo Arnoldus Janssen (BSA) Larantuka terletak dekat Gereja Katedral di kota Reinha itu. Di depannya berdiri STMK Bina Karya Larantuka yang diasuh oleh Serikat Sabda Allah (SVD). Dari tempat ini siapa pun dapat menikmati kesibukan Kota Larantuka.

Deru mesin kapal motor yang meninggalkan Pelabuhan Larantuka terdengar jelas. Di depan sana, Pulau Solor dan sebagian Adonara terlihat kokoh dipermainkan lautan biru nan tenang.

Di biara yang asri itulah Pater Alex Beding, SVD kini  menjalani hari-hari tuanya. Usianya genap 88 tahun pada tanggal 13 Januari 2012.  Ia masih setia membaca dan menulis. Refleksi-refleksinya senantiasa setia mengisi lembaran sejarah. Di antara deretan huruf-huruf ia meninggalkan pesan yang akan setia berbicara dalam konteks apapun. Bisa dinikmati dan memberi manfaat untuk generasi yang akan lahir kemudian.

Tentang aktivitas membaca dan menulis, Pater Alex melukiskan sebagai berikut seperti dikutip Steph Tupeng Witin, SVD dalam buku “Bersyukur dan Berharap, Kenangan 60 Tahun Imamat Alex Beding, SVD (Ledalero 2011, hal 30-32).

“Sejak kecil saya sudah berkenalan dengan membaca. Di rumah saya membaca Bintang Timoer yang Om saya dapat dari guru-guru. Waktu di sekolah Vervolgschool Larantuka saya pernah curi-curi baca novel  Saija dan Adinda dari rak buku bapa asrama P Thijssen. Di seminari Mataloko di kelas 1 pada waktu les bahasa Melayu, P Van Trier menyuruh saya ambil buku cerita dari biliknya, kemudian kami mendengarkan dia membaca dongeng-dongeng. Dalam pelajaran bahasa Belanda saya suka mendengar tentang sastra Belanda yang kaya dengan penulis-penulis besar. Yang bahasanya enak.

Waktu di seminari tinggi saya diajak P Boumans untuk membuat naskah buku lalu bersama Fr. Anton Sigoama kami menyusun buku kecil tentang Santa Maria dari Fatima. Sejak itu selain cinta saya bertumbuh terhadap Bunda Maria, saya senang kalau bisa menulis supaya dibaca orang lain.

Nah dengan tugas yang diberikan kepada saya untuk belajar bahasa di perguruan tinggi sebagai benuming saya setelah tamat di Ledalero, saya merasa bahwa pembesar saya ingin membantu saya di jalan di mana ada sedikit bakat ke arah itu. Terutama P Bouma yang memberi kepada frater-frater bimbingan dalam pengetahuan bahasa Indonesia, saya kira dia sebagai rektor punya suara yang mendukung penunjukan saya untuk studi bahasa, padahal saya sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan itu.”

Kebiasaan membaca dan menulis sejak bocah serta  pengetahuan bahasa yang mendalam baik bahasa Indonesia maupun sejumlah bahasa asing, merupakan salah satu kunci sukses Alex Beding sepanjang kariernya. Dia tidak hanya cakap dan piawai menulis, mengedit dan menerbitkan buku serta mengelola majalah DIAN dan KUNANG-KUNANG selama belasan tahun. Dia juga cerdas menerjemahkan buku dalam bahasa Inggris, Belanda dan Jerman ke dalam Bahasa Indonesia.

Kebiasan membaca dan menulis itu masih ditekuninya dengan serius pada usia sepuh sekarang.  Saat ditemui wartawati FloresStar, Syarifah Sifah di biara Arnoldus Janssen Larantuka, Senin (30/1/2012), Pater Alex Beding  tengah menggarap sebuah tulisan  di depan komputer dalam ruang kerjanya di biara itu. Ruang kerjanya apik dan lengkap dengan alat tulis-menulis, perpustakaan mini, koran-koran dan majalah dan sejumlah barang yang berkaitan dengan dunia kerjanya.

Pater Alex masih penuh semangat dan ramah sewaktu menerima kehadiran Syarifah. Pater Alex pun langsung berbagi cerita. Mengisahkan ziarah kehidupannya sejak seminari terus kuliah di UGM Yogyakarta dan pindah ke UI Jakarta namun belum selesai studi sudah dipanggil untuk mengajar di Seminari Mataloko, Ngada. Setelah mengabdi di Mataloko sekitar 11 tahun dia pindah ke Ende tahun 1970 dan mendirikan Penerbit Nusa Indah serta melahirkan Majalah DIAN dan KUNANG-KUANG. Setelah 15 tahun di Ende pada tahun 1985, Pater Alex  pindah ke Larantuka tahun untuk mengurus sekolah.

“Dan, baru dua tahun saya mengajar di SD saya dapat tugas baru dari pemimpin saya di Roma untuk menerjemahkan dokumen  dari bahasa Jerman, Belanda dan Inggris. Itu memang keahlian saya,” katanya.

Pada usia 88 tahun, secara fisik Pater Alex Beding  masih sehat. Ia mengucapkan puji syukur kepada Tuhan yang telah memberinya umur panjang dengan tubuh dan jiwa yang tetap sehat. “Saya ucapkan puji syukur kepada Tuhan yang memberi saya kesehatan di akhir umur saya. Walau umur sudah 88 tahun satu bulan tapi saya tetap sehat. Sakit-sakit ringan itu biasa dan cepat sembuh,” ujarnya.

Pater Alex Beding kini sedang mempersiapkan sebuah buku yang akan terbit dalam waktu dekat. Buku tersebut berisi sejarah perjuangan dua imam dan uskup pasa masa sebelum Indonesia merdeka. “Puji Tuhan buku yang saya tulis ini walaupun tidak seperti buku besar,  namun saya berharap bisa menjadi kenang-kenangan buat kita semua. Saat ini sudah sampai di pertengahan,” kata Pater Alex yang belum memberi judul buku tersebut.

Menurut Pater Steph Tupeng Witin, SVD, Pater Alex juga sedang menerjemahkan dokumen dari Bahasa Belanda dan Jerman sebagai bahan untuk penulisan buku tentang para misionaris yang berkarya di Pulau Lembata. Kemampuan bahasa asing dalam dirinya tidak meluntur sedikit pun sampai usia hampir 90 tahun. Suatu anugerah yang luar biasa untuk tokoh pers NTT ini. Tokoh peradaban Flobamora.

Sejarah telah mencatat kiprah  Pater Alex Beding dalam dunia intelektual di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kita dapat membaca itu pada buku-buku karya tangannya maupun terjemahan. Sebanyak kurang lebih 37 buku dan banyak artikel yang tersebar di berbagai majalah dalam dan luar negeri menggambarkan kekuatan dahsyat dari karya tulisnya.

Berbagai penghargaan, baik dari kalangan Gereja maupun pemerintah mencerminkan penghormatan atas karya intelektual yang menerangi peradaban masyarakat di mana saja karya-karya itu berbicara. Di bumi Flores dan Lembata, tanah Flobamora maupun di berbagai belahan dunia lainnya.

Maka sudah layak dan sepantasnyalah bila kita mengucapkan selamat berbahagia dan terima kasih untuk semua jasa dan pengorbanan Pater Alex Beding, SVD. Intan imamat adalah kebahagiaan seluruh umat yang mengalaminya dalam hidup dan karya Pater Alex. Sejak dari tena laja Lamalera  hingga kini di biara Arnoldus Janssen Larantuka.  (dion db putra/habis)
 Sumber: Flores Star, 2 Februari 2012
Ket foto: Pater Alex Beding, SVD

Foto: hurek.blogspot.com

Resensi: Memaknai Keseharian

Ada banyak peristiwa dan pengalaman hidup yang kita alami berlalu begitu saja tanpa ada jejak makna yang membekas untuk dijadikan refleksi diri. Lazimnya orang baru mengamati serta mengambil hikmah dari peristiwa-peritiwa besar, seperti musibah gempa, banjir, longsor, dan lain-lain.

Tidak banyak orang yang melakukan internalisasi terhadap peristiwa-peristiwa kecil —atau mungkin dianggap remeh temeh— di sekitar kita, sebab itu dianggapnya hal yang biasa sehingga tak perlu repot-repot memikirkannya. Mana pernah kita merenungi makna gelas yang jatuh pecah? Yang timbul dalam hati, paling rasa sesal dan eman. Karena kita tahu, barang itu berharga, bagus dan juga mahal.

Hanya Stephie Kleden-Beetz, penulis buku ini, yang memaknai pecahnya gelas (simbol keduniawian) sebagai pengingat kalau semua di muka bumi adalah fana, maka kita diajak untuk mencari yang abadi, yaitu Kebesaran Tuhan Sang Pencipta. Pepatah Jerman mengatakan, Glueck und glas wie leicht bricht das (kebahagiaan dan kaca betapa mudah pecah).

Stephie, yang pernah tinggal cukup lama di Eropa, dan kini ia di Malang, hendak mengajak pembacanya agar memaknai sekaligus merenungi setiap peristiwa-peristiwa yang kita alami dalam keseharian. Dalam ‘seni menulis’, Stephie tidaklah kalah dengan adiknya, Ignas Kleden. Ia sangat lihai dan piawai menganyam huruf menjadi kata, lalu menyusunnya berbentuk untaian kalimat yang bernas, padat, dan berkarakter.

Tentang hakikat miskin dan kaya, misalnya, Stephie menceritakan. Suatu hari, seorang ayah kaya-raya mengajak putranya berkeliling melihat keluarga-keluarga miskin. Maksud utamanya ialah agar putranya sadar betapa kayanya mereka dibandingkan dengan orang lain yang tidak mampu. Dalam perjalanan pulang, terjadilah percakapan antara ayah dan anak.

Si ayah menanyakan kepada anaknya: “katakan apa yang telah kamu pelajari dari pengalaman ini?” Jawab si anak: “… kita punya kolam renang yang bagus, luas, di tengah taman. Mereka punya teluk indah yang tak berujung; kita punya lampu taman mahal buatan luar negeri. Mereka punya bintang di langit setiap malam; kita punya teras belakang yang luas menjangkau pekarangan, tapi mereka punya seluruh alam semesta; kita punya sejengkal tanah untuk hidup dengan pajak bumi yang tinggi. Mereka punya ladang luas untuk hidup selamanya; kita punya banyak pembantu yang melayani, tapi mereka saling melayani dan saling menolong; kita punya tembok dan pagar tinggi untuk melindungi harta benda kita, tapi mereka punya teman untuk melindungi mereka (hlm. 34-35).

Pilihan judul Merajut Kata-kata, sebenarnya bukanlah simpulan dari keseluruhan tema permenungan Stephie, tapi lebih pada sikap dirinya dalam mencerna realitas, yang kemudian ia narasikan lewat bait-bait kata indah dan eksotis. Keistimewaan lain dari buku ini selain karena gaya bahasa tulisnya, juga didukung oleh daya pikat ilustrasi gambar yang sangat memesona, mengiringi setiap tema.

Membaca buku ini sebaiknya dinikmati dalam suasana hati yang tenang, agar kandungan isinya terserap masuk ke lubuk sanubari. Sebab bila tidak mampu menjiwainya, sungguh disayangkan, karena panorama makna di balik peristiwa-peristiwa yang diungkap Stephie itu, dibarengi pula dengan ungkapan-ungkapan hikmah, baik berdasarkan kutipan dari perkataan filusuf, sastrawan, teolog, dan Al-Kitab.

Pada hemat saya, Stephie menempuh setidaknya tiga strategi dalam menyusun buku setebal 159 halaman ini. Pertama, ada kalanya Stephie bertutur lancar, mengalir deras, menceritakan apa yang ia amati di sekitarnya. Ini bisa disimak pada uraianya tentang “Api dan Lidah”, yang menganjurkan kita untuk menjaga ucapan. Di akhir tulisan, ia mengutip Santo Yakobus (Yak 3: 3-8), lidah (pun) adalah api, yang berarti bisa membakar.

Kedua, di bagian lain, Stephie tampak tidak semua secara langsung menceritakan pengalamannya sendiri, tapi berdasakan kisah dari teman atau orang-orang terdekatnya, atau kadang pula menarasikan ulang hasil bacaan yang pernah ia temukan di sejumlah buku. Seperti pada tema “Temanku Guru Matematika”, yang menceritakan tentang seorang bapak penjual galon air bekas, bercita-cita hendak membelikan handphone untuk ulang tahun anaknya. Padahal, pendapatannya tidaklah banyak. Cuma tiga puluh ribu perhari. Itu pun kalau beruntung.

Singkat cerita, saat pulang ke rumah, bapak itu membagi hasil jerih payah penghasilannya itu dengan cara membagi dua: separuh untuk sesuap nasi, dan separuhnya lagi untuk ditabung demi membahagiakan anak terkasih. Maka tidaklah heran, saat waktunya tiba, mata anak dan istrinya basah, tetapi tak ada suara yang keluar karena disumbat oleh rasa haru dan bahagia. Hidup memang bukan matematika, melainkan seni dengan berbagai rahasianya. Dan rahasia terbesar tentulah cinta (hlm. 55-56).

Ketiga, Stephie menerapkan metode penulisan dengan terlebih dulu mengantongi beberapa ungkapan bijak, lalu setelah itu dicari serta menyusun kisah yang dapat membalut utuh ungkapan itu. Contoh yang paling tepat atas metode ini, ada pada tema “Ingin Tahu”, yang di dalamnya terdapat ungkapan atau pernyataan Santo Agustinus dalam Confessions, tahun 397 Masehi, “Jauh sebelum langit dan bumi diciptakan, Tuhan telah merancang ruang untuk rasa ingin tahu”.

Akhirnya, tampaklah kalau Stephie adalah seorang pembaca buku yang tekun, dan seorang yang taat memegang ajaran-ajaran iman Kristen. Mutiara hikmah yang sengaja ditaburkan oleh Stephie tentu saja memberikan surprise berharga bagi pembacanya. Strategi ini tentu menjadi langkah efektif untuk membuat tulisan tidak monoton, dan betah membacanya.

Ali Usman, pecinta buku, dan pegiat espeje community di Yogyakarta

Judul : Merajut Kata-kata
Penulis : Stephie Kleden-Beetz
Penerbit : Kanisius
Cetakan : I, Mei 2011
Tebal : 159 halaman


Sumber: kantongbuku.blogspot.com

Perang Ideotik Libya

Oleh Jusman Dalle 
Humas Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Makassar 2009/2011 dan Analis Society Research And Humanity Developmnet (SERUM) Institute. Penulis tinggal di Makassar. E-mail: jusmandalle@rocketmail.com

Badai demokrasi benar-benar telah melanda sekaligus mengubah wajah dunia Arab. Dari artikuasi di mimbar-mimbar demonstrasi, hingga bermetamorfosa menjadi bahasa moncong-moncong senjata. Pun kini Libya yang tak jua berhenti bergolak. Setelah diamuk pemberontak pro demokrasi dari rakyatnya sendiri, Muammar Khadafi harus menghadapi kolaborasi Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Inggris dan NATO.

Bukan tanpa alasan negara-negara barat tersebut turun tagan. Tapi aksi Khadafi yang secara sporadis menyerang warganya, para pemrotes pro demokrasi hingga menghilangkan 6.000 jiwa. Pemimpin despotik yang telah berkuasa selama empat dekade itu, menganggap pemberontak sebagai kelompok Al Qaeda yang harus ditumpas.

Perang saudara pecah, antara yang pro dan anti Khadafi. Melihat banyaknya korban rakyat sipil, Jumat (18/3), Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi untuk menegakkan zona larangan terbang dan menempuh semua langkah-langkah yang memungkinkan penyelamatan nyawa rakyat sipil dari serangan pasukan Khadafi . Penegakan zona lapangan terbang ini dimaksudkan untuk mencegah serangan udara oleh pasukan Khadafi.

Berbekal resolusi PBB yang diikuti oleh restu dari 22 pemimpin negara dari AS, Uni Eropa dan Arab tersebut, Amerika Serikat, Prancis, Inggris, dan Jerman yang kemudian di iikuti oleh Nato, menyerang markas-markas militer Khadafi. Satu tujuan, melumpuhkan kekuatan militer yang sebelumnya membabibuta, menyerang rakyat sipil anti Khadafi.

Melalui elaborasi serangan udara dan laut, aksi militer secara perdana oleh Prancis berlangsung pada Sabtu (19/3) malam. Dengan 12 jet tempur selama dua jam, tak kurang dari 110 rudal anti baja dihujankan kearah markas-markas milter Libya.

Dalam logika perang, yang pasti bahwa akan ada korban baik harta maupun nyawa, terlebih lagi masa depan bangsa yang menjadi arena perang tersebut. Lima hari pasca serangan, tercatat korban berjatuhan, baik oleh agresor AS Cs, terlebih lagi bagi Libya. Dari pihak agresor, satu pesawat Prancis dan satu Pesawat AS diberitakan ditembak jatuh oleh pasukan Khadafi di wilayah Njela, Tripoli dan Sirte 600 kilometer sebelah timur Tripoli.

www.detiknews.com memberitakan bahwa hingga Jumat (25/3) korban yang banyak jatuh justru dari masyarakat sipil. Tercatat lebih 100 warga Libya menjadi korban serangan pasukan kolaisi sejak 6 hari melancarkan serangan, seperti disampaikan juru bicara pemerintah Libya, Moussa Ibrahim.

Walau mendapat kecaman dari berbagai negara, di antaranya dari Rusia, Cina, Iran dan anggota Organisasi Konferensi Islam, serangan angkatan perang koalisi ke negeri Muammar Khadafi tersebut, tak jua dihentikan. Bagai angin lalu. Bahwa telah ada legitimasi dari Dewan Keamanan PBB atas serangan tersebut. Perang, menjadi bahasa pergaulan Barat pada mereka yang tak patuh dengan titah Paman Sam.

Akhirnya, rakyat Libya yang ingin kebebebasan berdemokrasi, harus menyaksikan tanahnya bersimbah darah dan malamnya diwarnai desingan peluru. Ongkos demokrasi memang mahal. Dan hasilnya tak selalu indah seperti yang melayang di dalam angan.

Kepentingan Ekonomi

Masih lekang di ingatan kita, dan bahkan jejak bayangan serta wujud aslinya kini masih ada di Irak dan Afganistan. Dua negara itu terus bergolak dan terpuruk. Afganistan yang diduduki oleh Agresor dibawah komando NATO, hampir setiap hari meminta tumbal nyawa dari rakyat sipil.

Sejak di duduki angkatan militer Barat pada dekade awal tahun 2.000, kehidupan bangsa itu pun kian buram, tak tentu arah dan masa depan. Setali tiga uang, Irak hingga kini masih terus bergolak. Pasca tumbangnya rezim Saddam Husein yang di tuding menyimpan senjata pemusnah massal –walau dikemudian hari, terang-terangan tudingan itu tidak terbukti-, negeri kayak minyak itu dilanda perang saudara, perang antar suku.

Bahwa mengobarkan perang, mencipta konflik, dengan dalih demokrasi dan membela hak-hak sipil sudah merupakan strategi AS untuk mengangkangi kekayaan alam di suatu negara. Sederhana saja, "biarkan mereka terus berperang, fasilitasi dengan senjata dan susupkan intel untuk melakukan provokasi, memperpanjag durasi perang dan kesibukan mereka. Pada akhirnya kita bebas menjarah dengan datang sebagai pahlawan". Logika sederhana yang menjadi grand strategi pengusaan suatu wilayah oleh AS.

Kita bisa menyaksikan buktinya. Di Irak, setelah jatuhnya Saddam, dibuka tender bagi ladang-ladang minyak. Tercatat 120 perusahaan berpartisipasi dalam tender. Hasilnya 1/3 dari total perusahaan tersebut, yaitu sekitar 35 perusahaan asing yang lolos. Bisa ditebak, bahwa raksasa minyak global yang menyumbang pajak bagi kas Barat, khususnya AS dan sekutunya mendominasi. Di antaranya, BP PLC, Chevron Corp., Exxon Mobil Corp., Royal DutschShell PLC, Lukolil Holdings, Edison International SpA, dan lain-lain.

Negara-negara yang mbalelo dari titah Paman Sam, yang tidak bisa ditelikung, hanya memiliki satu opsi, yaitu perang. Perang yang dilakukan tentu melalui legitimasi lembaga Internasional semacam PBB yang disetting untuk kepentingan mereka.

Beberapa negara Timur Tengah yang pemerintahnya despotik, diktator dan jauh dari nilai-nilai demokrasi, namun tunduk pada keinginan Paman Sam, tetap saja dibiarkan. Misalnya Arab Saudi, Bahrain, Yaman, Suriah, Kuwait, Mesir (era Mubarak), dan Tunisia (era Ben Ali). Perlakuan berbeda terjadi dengan Irak (era Saddam Husein), Iran dan Libya serta negara-negara yang tak mudah ditelikung.

Menarik apa yang dikatakan oleh ketua MPR Taufik Kiemas, bahwa kedatangan angakatan perang AS Cs ke Libya murni dilatar belakangi oleh emas hitam (baca: minyak). Dicontohkan, bahwa saat ini masih banyak negara lain yang tidak demokratis dan terus dilanda konflik sosial, namun luput dari perhatian AS Cs, karena negara-negara tersebut merupakan negara miskin. Seperti Zimbabwe, Somalia, dan Rwanda.

Kita ketahui, bahwa Libya merupakan salah satu negara pengekspor dan pemiliki cadangan emas hitam (baca : minyak) terbesar di Afrika. Dengan kapasitas produksi 1,7 juta barel per hari, Libya masih memiliki cadangan minyak sebesar 44 miliar barel.

Tanpa maksud untuk menggeneralisir, namun fakta telah terpampang. Di depan mata dunia, AS Cs melakon ganda. Berkawan dengan yang manut dan murka pada yang dianggap membangkang. Apatah lagi, pasca rontoknya ekonomi AS dan barat secara umum oleh krisis 2008 yang lalu, mereka butuh dana segar untuk proses akselerasi ekonomi ditengah kebangkitan ekonomi Cina (negara komunis) yang awal tahun ini menjadi Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS. China sukses mengerser Jepang yang selama ini merupakan sektu AS.


Kepentingan Ideologi


Di sisi lain, kepentingan ideologi juga menjadi hantu bagi AS. Bahwa Negara-negara yang kini bergerak menguasai ekonomi global, adalah mereka yang anti kapitalis. Atau paling tidak, mandiri secara ideologi. Misalnya Cina dengan ideology komunis, atau Indonesia yang menjadi Negara dengan pertumbuhan ekonomi terpesat ke 3 setelah Cina dan India, yang mayoritas masyarakatnya adalah Islam. Seperti juga Libya yang kaya minyak, namun dipimpin oleh penganut sosialisme yang anti kapitalis.


Selama ini, kebutuhan energy AS banyak dipasok oleh negara berkembang, yang kini perlahan menjadi negara maju. Artinya bahwa AS akan kehabisan pasokan energi untuk menjalankan laju industrinya, jika tidak segera mencari ladang-ladang segar dan baru. Kekhawatiran AS pastinya menjadi stimulus atas berbagi jalan untuk melanggengkan hegemoni. Maka perang atas nama demokrasi telah dibajak oleh kepentingan ideologi, ekonomi dan politik (ideotik).

Gold and glory. Karena memang, selayaknya demokrasi menihilkan perang. Bukankah demokrasi harus dicapai secara humanis dengan tetap menghargai hak-hak hidup manusia lain? 
Sumber: detik.com, 28 Maret 2011

Petrus Bala Pattyona, Menjadi Sampel dan Kajian Akademis

Written By ansel-boto.blogspot.com on Friday, January 13, 2012 | 9:54 PM

DUNIA kepengacaraan sudah lama ia geluti.  Ia termasuk salah satu pengacara papan atas negeri ini. Malang melintang di ibukota  hingga daerah-daerah di seluruh negeri ini.  Seringkali ke luar negeri.

Ia membela orang-orang kecil. Tukang becak, petani, pengusaha, para pejabat dan siapa pun termasuk membela Ratna Sari Dewi Soekarno, istri mendiang Soekarno karena kontroversi "foto-foto telanjang" dalam buku  Madam Shuga.

Dialah Petrus Bala Pattyona, anak kampung dari Kluang, Desa Belabaja, Kabupaten Lembata. Pikiran, pandangan dan pengalaman pengacara kondang ini  disampaikan  kepada wartawan Pos Kupang, Paul Burin, yang mewawancarainya di Jakarta, belum lama ini.     

Pengalaman Anda begitu banyak. Tetapi, yang menarik adalah pada tahun 1998, Anda  menjadi pengacara Ibu Dewi Soekarno. Bisa Anda ceritakan?
Kasus  Ibu Dewi Soekarno  itu muncul karena pertama dia sebagai tokoh. Dia adalah  istri Presiden RI, Soekarno. Ada pertentangan kebudayaan. Di Jepang, dalam kasus  foto-foto telanjang, itu hal biasa. Mereka tetap melihat dalam konteks art, seni. Tetapi, di Indonesia terjadi penolakan luar biasa.

Bagaimana awalnya Anda berkenalan sehingga menjadi pengacaranya?
Saya nggak  tahu. Saya juga tak pernah berkontak langsung dengannya. Hanya, suatu ketika ia menelepon saya dan menyampaikan bahwa dia adalah Dewi Soekarno (nama asli Ibu Dewi adalah Naoko Nemoto). Dia bilang  bahwa telah membaca berbagai berita di luar negeri tentang kiprah saya. Saat itu ia menyampaikan ingin berkonsultasi. Ketika itu kami menyepakati untuk bertemu di Singapura. Ia bahkan menanyakan apakah saya familiar dengan Singapura? Saya katakan ya, karena sudah sering ke sana. Ketika itu ia menyampaikan akan menginap di Hotel Mandarin Singapura. Saya pun berangkat ke Singapura dan di sana kami berdiskusi. Ia menceritakan duduk perkara kasus ini. Saat itu ia mengatakan, akan ke Indonesia untuk menjelaskan persoalan ini.

Anda membela Ibu Dewi dalam konteks apa?
Begini ceritanya. Masalahnya seputar hak-hak kepemilikan foto-foto itu. Di Indonesia, salah seorang wartawan menuliskan tentang foto-foto syur itu tanpa mencantumkan kredit/hak cipta dari foto-foto itu. Seakan-akan wartawan Indonesia yang menjepret Ibu Dewi. Padahal, hak ciptanya adalah seorang fotografer asal Jepang yang kini berusia 70 tahun. Namanya, Mr Hideki Fuji. Ia kini tinggal di kaki Gunung Fuji. Memang, sebagian foto-foto itu dijepret di Indonesia antara lain di Bali. Inilah yang membuat fotografer Jepang itu marah. Lalu saling menggugat. Sebagai pengacara, saya ke Jepang. Saya menanyakan ke Departemen Kehakiman Jepang. Masalahnya menjadi jelas. Pemegang  hak  foto-foto adalah Mr Hideki Fuji.

Tahun 1998 juga Anda membela sebuah kasus unik di Bekasi. “Burung” klien Anda dijepit oleh polisi dan diolesi balsem sehingga membengkak. Bisa diceritakan?
Benar, klien saya disiksa oleh polisi. Tujuannya jelas agar ia dapat mengaku sebagai pelaku kasus pembunuhan. Saya melihat ada celah yang justru menarik. Ketika bertemu, klien saya ini menceritakan persoalan itu. Ia tak bisa kencing karena “burungnya” dijepit, diolesi dengan balsem hingga menjadi bengkak. Saya persoalkan masalah ini. Saya bilang, ini salah tangkap karena memang ia mengaku tak melakukan pembunuhan serta melanggar hak asasi manusia (HAM). Justru kasus ini dianggap oleh Presiden Soeharto sebagai kasus tercepat yang diungkap polisi. Presiden memanggil polisi dan memberikan penghargaan pada pagi hari. Pada sore hari, saya buat ulah dengan menggelar konferensi pers. Saya membeberkan data-data bahwa polisi salah tangkap dan telah terjadi pelanggaran HAM. Ribut besar.  Saat itu Komnas HAM baru terbentuk. Saya kemudian membuat laporan ke komisi ini. Di sana, saya laporkan bahwa tindakan polisi mengoles “burung” tersangka sebagai pelanggaran HAM berat. Saya foto burungnya sebagai bukti. Semua orang mencercah polisi. Mereka bilang polisi kejam, polisi sadis.

Apakah Anda tak diancam?
Polisi mengancam saya. Tapi, saya tak takut. Esoknya saya buat pengaduan. Saya gugat polisi hingga terjadi keributan di pengadilan. Sidang akhirnya dikawal ketat tentara. Karena kasus ini panas, sidang tak dilakukan di Pengadilan Negeri Bekasi tapi pindah ke GOR Bekasi. Terjadi perdebatan. Semua pengacara  turun tangan membela saya. Saya seakan menjadi bintang berita.

Ada mobil kawan saya dirusaki, wartawan menulis mobil saya yang ditimpuki. Seorang kawan pengacara  berlagak memukul kepala saya, wartawan memberitakan bahwa polisi memukul kepala saya dan seterusnya. Sebelum sidang dipindahkan ke GOR Bekasi, polisi mengejar saya. Saat itu seorang wartawan menguntit dan menemui  saya tengah berlindung di ruang panitera di PN Bekasi. Saya tahu dia ingin membuat berita besar. Dia minta kepala saya diguyuri air, baju saya dirobek sebagai bukti telah terjadi penganiayaan.

Sang wartawan ini menyuruh saya duduk seakan tak berdaya. Ia menyuruh saya bicara sedikit gagap. Ia syuting. Usai  wawancara, saya mau keluar, dia setting lagi. Saat keluar dikawal dua orang tentara. Jadi, dengan visualisasi itu tanpa kata-kata saja sudah  menunjukkan situasi mencekam. Sore hari berita geger lagi. Besok sidang, semua pengacara se-Jakarta datang dan memberikan advis.

Sebenarnya di mana posisi pengacara dalam membela klien?
Seorang pengacara harus bisa menyodorkan bukti-bukti. Seperti kasus korupsi. Pernyataan polisi atau jaksa yang menyebutkan bahwa pejabat ini terlibat korupsi. Itu kan pernyataan yang membentuk opini publik. Tugas pengacara adalah mencari data apakah benar pernyataan itu. Pengacara juga harus memperjuangkan hak-hak kliennya. Bagi saya beracara adalah tugas kemanusiaan. Membela mereka yang tersandung.

Ada pendapat yang menyebutkan pengacara kadang bermuka dua, tiga dan seterusnya. Artinya ia menjadi kaki tangan polisi, jaksa atau hakim?
Itu nggak benar. Bagi saya seorang pengacara itu membela apa adanya. Jangan membalikkan persoalan. Jangan putih menjadi hitam atau hitam menjadi putih. Sehingga kadangkala ada pengacara yang tak dipercaya lagi karena sikap-sikap yang tak terpuji. Orang kan cerita dari mulut ke mulut. Saya pernah bela kasus korupsi wakil walikota Medan. Di satu sisi karena kelalaian dia. Kita minta supaya hukuman seringan-ringannya.

Atau kasus Arifin di Kupang itu. Putusannya kontroversial. Dua orang hakim yakni Pak Jonson Miramangi dan Ibu Marice Dilak berpendapat bahwa dakwaan tak terbukti. Sedangkan ketua majelis hakim berpendapat bahwa Arifin terbukti dan harus dihukum satu tahun penjara. Memang, perbedaan pendapat itu hal biasa. Tapi, dengan keputusan itu keluarga terdakwa protes. Protes itu dilakukan karena di luar persidangan hakim ketua ini bermain mata dengan keluarga. Ia meminta tiket pesawat dan fasilitas karaoke dan masih banyak permintaan lainnya. Lalu, dengan data-data itu klien mengirim dokumen ke komisi yudisial agar hakim itu diperiksa. Kasusnya sedang dalam penanganan dan kemungkinan yang bersangkutan dipecat.

Anda pernah dipanggil oleh DPR untuk menjelaskan tentang hak-hak kekebalan profesi advokat. Mengapa?
Dalam kasus pembelaan saya terhadap Zarima menjadi sangat unik. Ketika itu Polda Metro Jaya menangkap saya dengan alasan saya  memalsukan surat di pengadilan. Tapi, saat diperiksa, saya menggunakan hak-hak kekebalan profesi. Kasus saya inilah menjadi  alasan DPR memanggil saya untuk menjelaskan dalam hal apa saja seorang pengacara itu ditangkap baik di dalam dan di luar pengadilan. Ketika menjalankan tugas di pengadilan, seorang advokat memiliki hak-hak kekebalan. Akhirnya UU itu ditetapkan. Jadi, kasus-kasus yang saya alami menjadi sampel dan kajian akademis. Di beberapa buku tentang profesi pengacara, nama saya menjadi referensi studi kasus.


Selalu Bersahaja...

PETRUS merantau ke Jakarta setelah menamatkan SMA PGRI Lewoleba tahun 1979. Mengikuti kakaknya Yos Pattyona yang sudah menjadi orang di Jakarta. Sipenmaru di UI ia ikut tapi tak gol. Akhirnya ia memilih kuliah Universitas Jayabaya, Jakarta. Kuliah cuma tiga setengah tahun. Pada semester pertama indeks prestasinya (PI) 3,7. Inilah yang membuat sang kakak Yos Pattyona  dan istrinya Ibu Mia Botoor (alm) senang.

Tamat dari Jayabaya tahun 1985. Seorang pastor dari Kupang menawarinya menjadi dosen di Unika Widya Mandira Kupang. Sempat ke Kupang, namun Petrus memilih kembali ke Jakarta. Suatu ketika ia  ke Kampus Jayabaya, ia mendapatkan pengumuman bahwa sebuah LBH di Jakarta mencari para voluntir untuk magang menjadi pengacara.

Syaratnya, IP sekian. Merasa memenuhi syarat itu Petrus mendaftar dan akhirnya mengikuti seleksi dan lulus. Para calon voluntir yang mendaftar  200 orang, tapi yang diterima  cuma 20 orang.

Sejak awal LBH Jakarta sudah menyampaikan bahwa pekerjaan ini tak digaji. Tiap hari hanya diberi uang makan sebesar Rp 1.500, ambil tiap hari Jumat. Bagi Petrus ini merupakan kesempatan baginya untuk menerapkan ilmu yang diperoleh. Banyak pengalaman yang diperolehnya. Dalam masa magang ini bersama RO Tambunan pernah menggugat iklan gudang garam. Ia pernah menangani kasus mutilasi di Sukabumi dan  membela pedagang di Cirebon.

Dengan pengalaman itu ia kemudian bergabung berturut-turut dengan RO Tambunan, Maruli Simorangkir dan sebagai patner bersama Ruhut Sitompul dan rekan. Ia terus belajar mencari pengalaman. Tahun demi tahun seiring dengan pergerakan waktu  karier dan ekonominya semakin menanjak.

Petrus mengatakan, uang yang ia peroleh itu  ia "tandai" dengan membeli mobil, membangun rumah, membeli tanah, berinvestasi dan kegiatan sosial lainnya.

Meski sibuk Petrus  yang tinggal di daerah Ciganjur, Jakarta itu dekat dengan penduduk setempat yang rata-rata penduduk asli. Rumahnya selalu ramai. Ia menganggap mereka sebagai keluarga sendiri. Tak ada sekat. Di sekitar rumahnya ia membeli beberapa  areal tanah. "Satu areal tanah ini harganya sudah miliar, ama," kata anak bungsu dari tujuh bersaudara ini ketika bersama Pos Kupang melihat dari dekat beberapa areal tanahnya.

Yang menarik ialah pada sebuah lahan Petrus menanami dengan berbagai tanaman yang kini sudah berbuah. Ada buah rambutan, mangga, advokat, pisang, asam lembata yang terkenal manis itu dan masih banyak lagi tanaman buah-buahan. Ketika musim petik ia membaginya kepada warga setempat.

Di tengah lahan ia membangun sebuah gubuk dan dinamai Oring (kebun) Lembata, lengkap dengan peta Pulau Lembata. Sebenarnya Petrus ingin menghadirkan suasana di kampungnya yang sejuk di bawah kaki Gunung Labalekan itu. Dalam keseharian lelaki ini selalu bersahaja. Dengan siapa pun meski sudah menjadi pengacara papan atas.

Biodata
Nama    : Petrus Bala Pattyona, S.H, M.Hum
Lahir        :  Kluang, Desa Belabaja, Lembata, 6 Oktober 1960
Istri            : Magdalena Doren
Anak          : Martin Bala Pattyona
Pendidikan  S1 (1985), S2  (2000) di Universitas
Jayabaya, Jakarta
Ayah        : Arnoldus Wolo Pattyona
Ibu        :  Yuliana  Ance Ndoen
Saudara    :  Yoseph Pattyona, Frans Rubo, Nikolaus Ndoen, Theresia Sula Pattyona, Paulus Ruben Pattyona dan Paulus Genere Pattyona.

Kasus-kasus besar yang pernah ditangani antara lain:
1. Pembunuhan Gita Sutan Azwar dan adiknya di Los Angeles
2. Kasus keluarga Cendana (bela Ari Sigit satu tim dengan Juan Felix Tampubolon, Elsa Syarif, Nudirman Munir)
3. Kasus Sekretaris Kabinet/Dipo Alam yang digugat oleh Metro TV
4. Wakil Walikota Medan dalam kasus korupsi di KPK
5. Kasus Nunun Nurbaeti
6. Kini sedang menangani perkara  pembobolan uang El Nusa Rp 160 M di Bank Mega.
Sumber: Pos Kupang Minggu, 15 Januari 2012
Ket foto: Petrus Bala Pattyona

Wanita Ini Diberkahi Dua Vagina

Fenomena aneh berkaitan dengan anatomi tubuh manusia kerap kali terjadi. Kali ini, keanehan dimiliki oleh seorang wanita asal kota High Wycombe, Buckinghamshire, Inggris, bernama Hazel Jones.

Perempuan berparas cantik berusia 27 tahun ini memiliki keganjilan pada organ seksualnya yang mungkin hanya dapat ditemukan satu kasus di antara jutaan wanita di dunia. Ya, Jones didiagnosis oleh para ahli memiliki dua vagina.


Kondisi yang dalam istilah medis disebut
uterus didelphis ini membuat Jones dianugerahi dua uterus (rahim) dan dua serviks (leher rahim) yang berbeda. Diakui Jones, keanehan itu tak pernah disadarinya di saat masa remaja dan pubertas. Hanya saja, ia kerap dilanda rasa sakit yang luar biasa serta pendarahan yang hebat ketika memasuki masa menstruasi. 

Kendati begitu, Jones mengaku bersyukur dan tetap nyaman dengan keanehan yang dimilikinya. Ia juga tak pernah merasa malu untuk mengakui keganjilan pada tubuhnya.


"Ketika saya mengetahui apa yang saya alami, saya mengatakannya pada semua orang. Saya kira ini luar biasa. Jika ada perempuan yang ingin melihatnya, saya dengan senang hati akan menunjukkannya. Ini bukan sesuatu yang memalukan buat saya," ujar Jones dalam sebuah wawancara dengan
ITV.

Sementara itu, Dawn Harper, dokter ahli yang mendampingi Jones, menjelaskan bahwa keanehan itu disebabkan adanya proses yang kurang sempurna dalam pembentukan organ seksual semasa dalam kandungan.


"Ketika dalam proses pembentukan janin, perempuan awalnya memiliki dua saluran. Keduanya lalu menyatu, sedangkan bagian
septum akan pecah dan membentuk jadi satu uterus. Pada sekira satu di antara 3.000 kasus, septum ini tetap bertahan dalam uterus. Tetapi, bila benar-benar membentuk menjadi dua uterus yang terpisah kasusnya sangat jarang," papar Harper.

Hazel mengaku, awalnya ia merasa tidak merasa nyaman saat melakukan hubungan seks dengan pasangannya. Tetapi, kini ia tidak lagi mengalami efek samping dari kondisinya itu. Ia juga menolak tawaran operasi karena khawatir kalau prosedur itu justru akan meninggalkan bekas luka atau jaringan parut yang tak dikehendakinya.


Saat masih remaja, Jones juga pernah menyangka dirinya mengalami
cystitis dan infeksi saluran kemih karena kerap mengalami sakit yang hebat pada bagian tengah septum. "Saya selalu mengalami sakit keram yang luar biasa dan mens yang sangat banyak.  Kini saya tahu bahwa masa haid saya bisa sangat buruk karena saya punya dua rahim. Jadi kalau saya hamil, saya harus sangat berhati-hati jangan sampai hamil di rahim yang satunya lagi," paparnya.

Dr Harper menambahkan, Jones kemungkinan akan melewati proses persalinan yang tidak biasa dan perlu menjalani operasi caesar karena memiliki uterus yang berukuran lebih kecil. Jones juga harus menjalani dua kali tes
pap smear untuk memeriksakan kemungkinan terkena kanker serviks. 
Sumber: Kompas.com, 12 Januari 2012
Ket foto: Hazel Jones, perempuan yang dianugerahi dua vagina

Pengelolaan Energi Libya Pasca-Qadhafi


Oleh Marwan Ja’far
Ketua Fraksi Partai Kebangkita Bangsa DPR RI

Riwayat sang revolusioner kini telah berakhir oleh gerakan revolusi rakyat sipil yang mengarus bersama irama revolusi Timur Tengah. Di kampung kelahiran sekaligus markas terakhir pendukung loyalisnya di Sirte, pada 20 Oktober lalu, Qadhafi diberondong dengan senjata oleh rakyatnya sendiri. Rakyat yang dalam rentang panjang menyimpan dan mengakumulasi bara dendam kesumat akibat sikap represif sang tiran. Seperti ditulis Larry Diamond (1992), kaum revolusioner adalah entitas yang kerap hadir mewakili jiwa dan semangat zaman yang tengah bergolak.

Libya bisa menjadi penanda kehancuran tirani oleh demokrasi, dan seiring dengan itu sekaligus menjelma menjadi medan perburuan baru ladang-ladang minyak. Inilah yang "mengganggu" pemikiran banyak kalangan, bagaimana nasib Libya setelah kematian Qadhafi ihwal urusan minyak.

Sulit dielakkan fakta bahwa perang sering kali berakhir dengan penjarahan dan perampokan sumber daya dan kekayaan alam suatu negara. Tanpa perlu berkutat menyingkap teka-teki, faktanya seperti yang sekarang dilakonkan Dewan Transisi Nasional (NTC) yang mengendalikan pemerintahan di Libya setelah runtuhnya dinasti kekuatan Qadhafi. Bukan lagi bisik-bisik, rupanya NTC sudah membuat kesepakatan untuk memberikan 35 persen pengolahan minyak mentahnya kepada Prancis sebagai tanda terima kasih atas dukungan penuh dalam gerakan revolusi menggulingkan Qadhafi. Bahkan, sebelum Qadhafi tewas, perdana menteri interim Libya, Mahmoud Jibril, mengatakan minyak Libya sudah mulai diproduksi setelah ditutup akibat perang.

Perburuan Emas Hitam

Libya memiliki cadangan 47 miliar barel minyak, dan merupakan negara penghasil minyak terbesar ke-9 di dunia, serta negara yang paling kaya minyak di Afrika. Kekayaan miliaran barel minyak ini menjadikan Libya faktor penting bagi stabilitas energi dunia. Libya bukan hanya penghasil minyak. Negeri di Afrika Utara ini juga memiliki cadangan gas 54 triliun kubik. Hampir 95 persen minyak Libya diekspor ke negara-negara Barat dan Eropa. Negara-negara Barat dan Uni Eropa, sesudah perubahan politik di Libya, serta mendekatnya Muammar Qadhafi ke Barat dan dibukanya terusan Suez membuat ratusan perusahaan minyak dan gas melakukan investasi di Libya.

Eksplorasi besar-besaran dilakukan perusahaan minyak Barat, seperti British Petroleum, Exxon, Total, Occidental Petroleum, Marathon Oil, dan Oil and Amerada Hess yang telah menandatangani eksplorasi minyak dengan pemerintah Libya. Kerja sama dengan perusahaan Barat semakin terbuka sejak 2003 dan 2004, ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa mencabut sanksi atas Libya, dan pada 2006, Amerika Serikat mencabut status Libya yang selama ini dituduh sebagai negara teroris. Negara-negara Barat selama 19 tahun absen dalam investasi minyak di Libya. Sekarang Barat mendapat pasokan minyak dari Libya.

Tampaknya tidak hanya menyangkut kelangkaan energi minyak yang akan dialami Barat, tapi langkah-langkah menuju recovery ekonomi Barat yang dilanda krisis dan resesi akan terganggu bila tidak dilakukan langkah ofensif. Di sisi lain, dengan cara berbeda, mengobarkan perang dan menciptakan konflik dengan dalih demokrasi dan membela hak-hak sipil juga merupakan strategi Barat mengangkangi kekayaan alam suatu negara.

Pada akhirnya, kita bebas menjarah dengan datang sebagai pahlawan. Ini logika sederhana yang menjadi grand strategy penguasaan suatu wilayah oleh Barat. Amerika sendiri dikenal sebagai salah satu negara Barat yang masih menggunakan stock strategy, yaitu semacam upaya menimbun hasil sumber daya alam, khususnya minyak, sebagai jalan keluar krisis energi mendatang.

Kita bisa menyaksikan buktinya. Di Irak, setelah jatuhnya Saddam Hussein, segera dibuka tender bagi ladang-ladang minyak. Tercatat 120 perusahaan berpartisipasi dalam tender. Hasilnya sepertiga dari total perusahaan tersebut, yaitu sekitar 35 perusahaan asing, yang lolos. Bisa ditebak bahwa raksasa minyak global yang menyumbang pajak bagi kas Barat, khususnya Amerika dan sekutunya, secara agresif akan mendominasi.

Beberapa negara Timur Tengah yang pemerintahnya despotik, diktator, dan jauh dari nilai-nilai demokrasi, tapi tunduk pada keinginan Barat tetap saja dibiarkan. Misalnya Arab Saudi, Bahrain, Yaman, Suriah, Kuwait, Mesir (era Mubarak), dan Tunisia (era Ben Ali) diperlakukan berbeda dengan Irak (era Saddam Husein), Iran, Libya, serta negara-negara yang tak mudah ditelikung.

Jelas sudah bahwa keterlibatan Amerika dan sekutunya dalam revolusi di Libya dilatarbelakangi oleh emas hitam (baca: minyak). Tanpa minyak yang menggiurkan, mustahil pasukan sekutu mau bersusah-payah melakukan agresi militer ke Libya, dengan alasan membantu perjuangan rakyat sipil dari penindasan hak asasi manusia rezim pemerintahannya. Sekali lagi, inilah penjelasan mengapa pasukan sekutu tidak mau susah-susah menyerbu Suriah atau Yaman yang kini bergolak: karena kedua negara tersebut tergolong miskin mineral. Bandingkan pula, saat ini masih banyak negara yang tidak demokratis dan terus dilanda konflik sosial, tapi luput dari perhatian Barat, karena negara-negara tersebut merupakan negara miskin, seperti Zimbabwe, Somalia, dan Rwanda.

Hegemoni Barat

Tanpa bermaksud menggeneralisasi, tapi fakta telah terpampang. Di depan mata dunia, Barat berlakon ganda. Berkawan dengan yang tunduk dan murka kepada yang dianggap membangkang.

Ketika serangan udara militer sekutu ke basis-basis pertahanan Libya, bagi oposan Libya, serangan sekutu merupakan berkah dari langit, yang akan membebaskan negara kaya minyak itu dari genggaman diktator Qadhafi. Inilah bentuk kolaborasi dengan asing yang transaksional. Dan kini patriotisme menjadi mimpi di siang bolong di Libya. Setelah meluluhlantakkan bumi Libya, dan memakzulkan Qadhafi, pasukan asing yang "berjasa" itu pasti meminta imbalan.

Terlebih dengan semakin rontoknya ekonomi Barat akibat krisis 2008, dan ancaman depresi ekonomi pada tahun-tahun mendatang. Mereka butuh dana segar untuk proses akselerasi ekonomi di tengah kebangkitan ekonomi Cina yang telah menjelma menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika. Cina sukses menggeser Jepang yang selama ini merupakan sekutu Barat.

Di sisi lain, kepentingan ideologi juga menjadi hantu bagi Barat yang begitu agresif membantu upaya menggulingkan Qadhafi. Kita tahu negara-negara yang kini bergerak menguasai ekonomi global adalah mereka yang antikapitalis, atau paling tidak mandiri secara ideologi. Misalnya Cina dengan ideologi komunis. Di era pemerintahan Qadhafi, ternyata aliansi Cina-Libya sudah terjalin begitu kuat.

Selama ini kebutuhan energi Amerika banyak dipasok oleh negara berkembang, yang kini perlahan menjadi negara maju dan juga membutuhkan energi untuk akselerasi pertumbuhan ekonominya. Artinya, Barat akan kehabisan pasokan energi jika tidak segera mencari ladang-ladang segar dan baru. Kekhawatiran mereka pasti menjadi stimulus atas beragam jalan untuk melanggengkan hegemoni.
Sumber: Koran Tempo, 13 Januari 2012

Gaji Pegawai Negeri Naik Tahun Ini

Written By ansel-boto.blogspot.com on Friday, January 06, 2012 | 8:47 AM

Tahun ini rekening pegawai negeri sipil bakal tambah gembung. Pemerintah memastikan adanya kenaikan gaji pegawai negeri sipil 10 persen tahun ini.

Kenaikan itu mencakup tunjangan kinerja, remunerasi, honorarium tetap, tunjangan khusus, dan lembur. Selain itu, ada pemberian gaji ke-13 dan kenaikan uang lauk-pauk.

"Di 2012 ada peningkatan kesejahteraan pegawai," kata Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati dalam paparan Arah Kebijakan Fiskal 2012 di kantornya kemarin.

Dengan kenaikan itu, gaji terendah pegawai negeri Rp 2.256.100 (gaji pokok dan tunjangan). Itu untuk pegawai golongan I-A dengan masa kerja satu tahun dan belum kawin.

Adapun upah pegawai negeri tertinggi untuk golongan IV-E dengan masa kerja 32 tahun dan tidak kawin Rp 5.688.600. Standar untuk TNI/Kepolisian RI, dari Rp 2.912.200 untuk tamtama masa dinas dua tahun sampai Rp 4.197.800 untuk perwira tinggi golongan IV-D dengan masa kerja dua tahun.

Kenaikan uang makan pegawai negeri dari Rp 20 ribu menjadi Rp 25 ribu, dan uang lauk-pauk untuk anggota TNI/Polri dari Rp 40 ribu menjadi Rp 45 ribu. Kenaikan tersebut juga berlaku untuk anggota TNI/Polri.

Kebijakan kenaikan gaji ini sesuai dengan janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pidato kenegaraan di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada 16 Agustus tahun lalu. "Ini upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat," kata Presiden.

Rencana kenaikan disetujui parlemen saat pembahasan anggaran pendapatan dan belanja negara tahun anggaran 2012, Oktober tahun lalu. Dengan kenaikan ini, total alokasi belanja pegawai mencapai Rp 215,7 triliun, naik dari alokasi APBN Perubahan 2011 yang besarnya Rp 182,7 triliun.

"Kebijakan ini bagian dari upaya reformasi birokrasi," kata Ketua DPR Marzuki Alie. Marzuki berharap kenaikan itu diimbangi dengan peningkatan kualitas pegawai.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetyanto, menyambut gembira kebijakan kenaikan gaji tersebut. "Ini bentuk fairness pemerintah dalam daya beli pegawai," ujarnya. 

Kenaikan ini dinilai cukup beralasan melihat perbandingan pegawai swasta yang juga naik. Dengan kenaikan tersebut, Tony berharap kualitas pegawai negeri tak kalah dibanding pegawai swasta.

Dalam hitungan Tony, kenaikan gaji pegawai tak akan terlalu membebani anggaran. Angkanya tidak sebesar beban subsidi bahan bakar minyak yang diprediksi membengkak hingga Rp 140 triliun tahun ini.

"Itu bukan masalah besar," katanya. Dia menandaskan, beban akibat kenaikan gaji sudah terukur, berbeda dengan korupsi yang tak terbatas. "Ini yang harus dilawan," ujarnya.

Kebijakan negara tetangga Singapura yang menurunkan gaji pegawai negeri, termasuk pejabatnya, kata Tony, bukan pembanding yang sepadan untuk Indonesia.

Di negara jiran itu memang ada kebijakan pemotongan gaji pegawai. "Gaji Perdana Menteri di sana jauh di atas gaji Presiden Amerika Obama," ucapnya.
Sumber: Tempo.co.id, 6 Januari 2012
Ket foto: Anny Ratnawati

Soal Saham Garuda, Demokrat Sebut itu Manuver Nazar

Written By ansel-boto.blogspot.com on Thursday, January 05, 2012 | 11:49 AM

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Ahmad Mubarok, menegaskan  partainya tidak pernah meminta Muhammad Nazaruddin membeli saham Bank Mandiri maupun saham perdana Garuda Indonesia.

"Dia bisa memakai nama siapa saja yang dia mau, tetapi itu sebetulnya tindakan dia sendiri," ujarnya saat dihubungi Tempo, Rabu, 4 Januari 2012.

Mubarok mengungkapkan, sewaktu Nazaruddin dalam pelarian, manajemen Mandiri Sekuritas menghubungi pengurus partai menanyakan rencana penarikan saham Garuda.  Dia menuding Nazar berusaha menarik saham Garuda dengan memalsukan tanda tangan, tapi gagal. "Saat itu saya menyatakan tidak tahu," katanya.

Nazaruddin, terdakwa kasus suap wisma atlet yang juga mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, diketahui pernah memborong saham perdana Garuda Indonesia pada 2011. Ia membeli saham melalui lima perusahaan, yaitu PT Permai Raya Wisata, Exartech Technology Utama, Cakrawala Abadi, Darmakusumah, dan Pacific Putra Metropolitan.

 "Total pembayaran sebesar Rp 300,85 miliar. Terdiri atas Rp 300 miliar untuk pembelian 400 juta lembar saham, dan fee Rp 850 juta untuk Mandiri Sekuritas," demikian tercatat dalam dokumen yang dimiliki Tempo.

Harga saham Garuda, yang semula Rp 750 per lembar, kemudian ambles menjadi Rp 600 pada pembukaan perdagangan. Akibatnya, Nazar marah-marah dan meminta agar duitnya dikembalikan.

Alasannya, "Duit itu saweran dari kawan-kawannya. Kalau tidak, akan dilaporkan ke polisi," begitu ia mengancam Direktur Utama Mandiri Sekuritas Harry Supoyo. Pihak Mandiri menegaskan, uang tidak bisa dikembalikan.

Tempo, yang menelusuri alamat kantor PT Darmakusumah yang disebutkan berada di Jalan K.H. Abdullah Syafei 9, Tebet, Jakarta Selatan, tak menemukan keberadaan perusahaan tersebut. Adapun Menara Jaya di Jalan Warung Buncit 27, Jakarta Selatan, yang disebut sebagai kantor PT Permai Raya Wisata, dalam keadaan terkunci.

Selain saham Garuda, sumber Tempo di Partai Demokrat mengatakan Nazar awalnya juga ingin membeli saham Bank Mandiri senilai Rp 1 triliun. Nazar mengatasnamakan Partai Demokrat.

Ketika itu Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini meminta konfirmasi apa benar Partai Demokrat mau membeli saham Bank Mandiri sebesar Rp 1 triliun, "Kami bilang tidak ada perintah partai, itu keinginan pribadi Nazaruddin saja."

Pakar hukum Yenti Garnasih berpendapat, Nazaruddin bisa dijerat dengan pasal pencucian uang jika terbukti membeli saham Garuda dengan menggunakan duit hasil tindak pidana. "Kalau didapat dari tindak pidana korupsi, dapat dipastikan itu pencucian uang," ujarnya.

Untuk menjerat Nazar dengan pasal tindak pidana pencucian uang, Komisi Pemberantasan Korupsi tak perlu menunggu keputusan pengadilan. "KPK harus mencari unsur korupsi dan pencucian uang itu bersamaan," kata pengajar di Universitas Trisakti itu.

Kuasa hukum Nazar, Elza Syarief, menyatakan Demokrat memojokkan kliennya karena membantah keterlibatan partai dalam pembelian saham Garuda dan Bank Mandiri. "Kok sekarang Nazaruddin dipojokkan?" ujarnya.
Sumber: Tempo.co.id, 5 Januari 2012
Ket foto: Ahmad Mubarok

Yahoo! Akhirnya Punya Bos Baru

Setelah empat bulan tanpa bos, Yahoo! akhirnya menunjuk Scott Thompson sebagai CEO baru mereka Rabu waktu AS. Thomson adalah "orang luar" Yahoo! yang ditunjuk perusahaan yang didesak para pemegang sahamnya untuk dijual.

Thompson sebelumnya adalah Presiden PayPal, anak perusahaan eBay.

Penunjukan resminya diumumkan pada 9 Januari nanti, menggantikan mantan CEO Carol Bartz yang dipecat lewat telepon September lalu.

Thompson pernah menyebut Yahoo! sebagai ikon industri dengan sejarah yang kaya. Yahoo! sendiri tengah berjuang tetap hidup dalam beberapa tahun belakangan.

Perusahaan ini terpaksa tak lagi tergantung pada bisnis intinya dulu, yaitu mesin pencari online. Dalam soal aliran likuiditas pun, Yahoo! tersusul oleh Google dan Facebook.

Thomson tak ingin sesumbar atas jabatan barunya di Yahoo!. "Saya harus banyak belajar, dan masih terlalu dini kok...namun kami akan mencari cara untuk berinovasi dan bersaing," katanya seperti dikutip CNN.com.

Pendiri Yahoo! Jerry Yang dan empat anggota direksi lainnya secara pribadi telah berikrar untuk tidak menjual Yahoo!, namun sejumlah pemegang saham telah menekan direksi untuk menjualnya.

Tapi pemilihan orang luar seperti Thomson telah menjauhkan upaya menjual Yahoo! itu.
Sumber: Antara, 5 Januari 2012
Ket foto: Scott Thompson
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger