Headlines News :

Wabub Lembata: Tidak Ada Kerusakan Akibat Gempa

Written By ansel-boto.blogspot.com on Tuesday, October 30, 2012 | 10:27 AM


Wakil Bupati Lembata, Nusa Tenggara Timur, Viktor Mado Watun, mengatakan, tidak ada kerusakan serius akibat empat kali guncangan gempa yang melanda wilayah itu.

"Kami semua berlarian keluar rumah tetapi tidak ada kerusakan bangunan yang serius. Memang ada tembok rumah warga yang retak, tetapi tidak ada yang roboh," kata Mado Watun melalui telepon genggam dari Lembata, Senin.

Dalam percakapan dengan Antara dari Kupang, Mado Watun mengatakan, masyarakat sangat ketakutan saat gempa kedua dan ketiga karena dirasakan sangat kuat di wilayah Lembata dan sekitarnya.

Tetapi intensitas turun pada gempa ke empat kalinya karena kemungkinan kekuatan gempa tidak sama dengan gempa kedua dan ketiga.

"Sekarang ini masyarakat masih banyak yang berada di luar rumah. Mereka masih trauma karena takut terjadi gempa susulan," katanya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kupang, Senin melaporkan telah terjadi empat kali gempa di Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kupang Margiono menjelaskan, gempa pertama terjadi pada sekitar pukul 14.00 WITA berkekuatan 4,3 Skala Richter (SR), kedua 51, SR, ketiga 5,3 SR dan terakhir 4,3 SR.

Pada gempa yang kedua dan ketiga, guncangan cukup keras sehingga dirasakan hingga di Pulau Adonara, Larantuka Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Alor.

Dia menambahkan, gempa pertama berada pada koordinat 8.13 derajat Lintang Selatan (LS), dan 123.46 derajat Bujur Timur (BT), berada 32 km barat laut Lembata, dengan kedalaman pusat gempa (episentrum) 10 km.

Gempa kedua terjadi pula di 34 km barat laut Lembata, berkekuatan 5,1 SR, pukul 13.34 WIB, berada pada lokasi dengan koordinat 8.11 derajat Lintang Selatan (LS) dan 123.48 derajat Bujur Timur (BT).

Gempa yang kedua ini di 34 km di barat laut Lembata, dengan kedalaman pusat gempa 10 km.

Gempa terakhir tercatat terjadi pada posisi 40 km, barat laut Lembata, terjadi pada pukul 15.40 WITA.

Lokasi gempa berada pada 8,06 Lintang Selatan (LS) dan 123.46 Bujur Timur (BT) atau 40 kilometer Barat Laut Lembata, dengan kedalaman pusat gempa (episentrum) 10 ribu km.
Sumber: Antara, 29 Oktober 2012
Ket foto: Wakil Bupati Viktor Mado Watun

Kuasa Rakyat Menentukan Pemimpinnya

Oleh Puti Guntur Soekarno
Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan

BANYAK hikmah dan kebijaksanaan bisa dipetik dari perjalan an proses demokrasi di Indonesia. Terutama, demokrasi memberikan ruang belajar bagi rakyat. Negara demokratis menjadi kuat jika ada kemampuan mengambil pelajaran hikmah dan kebijaksanaan dari apa yang terjadi. Itulah fungsi pendidikan politik yang terbuka bagi kuasa rakyat. Itulah bagian dari kedewasaan politik yang dibutuhkan dalam proses demokratisasi. Kedewasaan politik semacam itu yang saya nilai sebagai sebuah kecerdasan publik.

Kedewasaan publik dalam berdemokrasi, salah satunya, tampak dalam kesadaran rakyat untuk menentukan pemimpinnya. Kemampuan memilih pemimpin publik berdasarkan pertimbangan adanya karya politik pemimpin sangat menunjukkan itu semua. Kuasa dalam memilih pemimpin didasarkan pada karya politik yang bervisi kerakyatan dan kebangsaan. Itu tentu baik untuk demokratisasi di Indonesia ke depan.

Karya Politik

Karya bagi seorang pelukis adalah lukisan, karya bagi seorang arsitek adalah lanskap dan bangunan, karya bagi seorang penari adalah kreasi tari, karya bagi seorang musikus adalah mementaskan musik atau mencipta tembang dan lagu. Bangsa Indonesia sejak dahulu memiliki karya yang bagus. Para empu menghasilkan keris yang hingga saat ini pun keberadaannya diakui sebagai warisan budaya dunia oleh PBB.

Bagi seorang pemimpin politik, tentunya karya politiknya adalah tindakan dan kebijakan yang juga sangat dibutuhkan.

Patut disyukuri, demokrasi kita hari ini dalam politik masih menyisakan ruang dialog bagi masyarakat untuk dapat memilah siapa pemimpin yang akan dipilihnya. Siapakah pemimpin yang memiliki karya. Siapakah pemimpin yang memang memihak kepentingan rakyat banyak. Itulah kedewasaan politik yang berharga.

Kita saksikan bagaimana peranan pers nasional menjadi bagian yang sangat penting dalam memublikasikan karya p politik seorang pemimpin. Mis salnya saja yang ramai akhirakhir ini ialah pemberitaan mengenai Gubernur DKI Jakarta yang baru, yaitu Joko Widodo. Ada pernyataannya yang saya catat, “Saya ingin tahu kesulitannya menyelesaikan masalah itu (penggusuran), ternyata tidak ada kesulitannya. Masalahnya hanya komunikasi dengan warga saja, melakukan pendekatan individu. Ini sudah berpuluh-puluh tahun tidak diselesaikan.“

Pendekatan pribadi Jokowi yang persuasif mampu menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan kebijakan pemerintah dengan dukungan dari warganya. Itulah hikmah yang bisa diambil. Dalam era demokrasi, ketika watak partisipatoris dikerjakan dan musyawarah untuk mufakat benar-benar diterapkan, ternyata respons masyarakat Indonesia begitu besar. Itulah hal positif yang dapat kita ambil sebagai hikmah kebijaksanaan. Karya politik dalam kebijakan dan tindakan pemimpin politik sangatlah penting, terutama jika semua itu didasarkan pada visi kerakyatan yang kuat.

Visi Kerakyatan

Watak `kerakyatan' sesungguhnya menjadi dasar penting yang menjadi bintang penunjuk arah bagi seorang pemimpin. Pemerintah ialah alat kekuasaan dan dasar negaralah yang menyedia kan seperangkat nilai dasar yang menjadi kewajiban bagi pemimpin untuk menjalankannya agar pemerintahan berjalan sesuai dengan amanat penderitaan rakyat. Tidak hanya secara moral dan etika.

Lebih dari itu, harus dikerjakan dalam praktik kekuasaan di mana pun tingkatannya. Kita sebagai bagian dari bangsa dan negara Indonesia dapat memberikan sumbangsih yang dapat kita berikan kepada negara. Sekecil apa pun, ketika itu membawa manfaat bagi rakyat, tidak akan ada kesiasiaan dalam perjuangan.

Kedewasaan politik rakyat akan terlihat dalam kemampuannya menentukan siapa pemimpinnya. Sering kali pemimpin adalah cerminan dari kehendak dan apa yang terjadi pada masyarakatnya. Untuk itu, pentingnya pendidikan politik terus dilakukan haruslah disadari agar masyarakat mendapatkan pemimpin yang bisa mengemban amanah penderitaannya.

Banyak yang dapat diteladani dari para pemimpin rakyat. Panglima Besar Jenderal Soedirman, misalnya, harus bergerilya dalam keadaan sakit-sakitan. Bung Karno membuat kebijakan reforma agraria dan peraturan bagi hasil untuk pertambangan demi melindungi ekonomi nasional. Di negara lain, Aung San Suu Kyi berjuang gigih bersama anak-anak muda dan rakyat Burma (Myanmar) untuk menolak junta militer dan memperjuangkan kehidupan demokratis bagi rakyat.

Evo Morales di Bolivia menggugat hegemoni liberalisme. Watak kerakyatan itu sangatlah penting, sebab dapat menyatukan banyak orang dengan asal usul, keyakinan, dan agama berbeda untuk menjadi bagian dari kekuatan baru. Rakyat bukan hanya menjadi sebuah konsep abstrak yang sering dilontarkan para elite di panggung tanpa persentuhan dan kehadiran jiwa mereka di dalam perbuatan pemimpin. Rakyat Indonesia dari ujung paling barat sampai timur kepulauan Indonesia dapat dipastikan sangat merindukan seorang pemimpin yang mau mendengar kehidupan mereka. Mengerti, dan sekaligus merasakan jiwa mereka yang semakin terpinggirkan dalam kehidupan demokrasi yang menempatkan uang di atas segalanya saat ini.

Sebuah harapan lama tentang keadilan yang hilang dalam arus demokrasi di Indonesia saat ini menjadi lahan yang menanti bagi keterlibatan anak-anak muda dan generasi masa depan Indonesia untuk terjun di dalam kancah perjuangan. Setiap manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar dan bangsa pemimpin.

Suara dan antusiasme rakyat menjadi harapan tersendiri bagi perubahan. Rakyat mem butuhkan keadilan dan seorang pemimpin yang mampu mewujudkan visi kerakyatan dalam karya politiknya akan mampu menciptakan keadilan itu. Kemenangan perjuangan rakyat merupakan kristalisasi perjuangan rakyat itu sendiri. Kuasa rakyat menentukan pemimpin dapat menjadi peluang bagi anak-anak muda bangsa Indonesia yang sanggup melangkah maju dan berbuat layaknya seorang pemimpin.

Menjadi penting tentunya untuk melembagakan hal itu dalam kebijakan dan sistem rekrutmen kepemimpinan ke depan demi kemajuan dan kejayaan bangsa Indonesia. Bangsa kita perlu mengader sebanyak-banyaknya calon pemimpin masa depan. Sudah cukup lama kita terpuruk.

Bangkitlah sebagai satu bangsa yang kuat. Berdirilah di atas kedua kaki sendiri. Bersatu dan berjuang bersama rakyat rasanya harus dikerjakan putra-putri bangsa Indonesia. Think and rethinking juga shape and reshaping, ambillah hikmah dari apa yang terjadi. Jangan sampai dosa sejarah terbebankan kepada generasi kita karena ketidakmampuan menyelamatkan dan meneruskan perjuangan untuk kejayaan bangsa Indonesia. Kembali kepada rakyat, sebab kuasa rakyatlah yang menentukan pemimpinnya.
Sumber: Media Indonesia, 30 Oktober 2012

Gempa Bumi, Warga Lembata Panik


Gempa menguncang Lewoleba, Lembata Senin (29/10/2012) petang, Pukul 14.00 wita. Gempa terjadi beruntun terjadi tiga kali dan getaran-getaran kecil. 

Guncangannya cukup besar terjadi dua kali, Pukul 14.00 dan 14.26 wita. Getaran itu membuat panik masyarakat Kota Lewoleba dan berhamburan keluar ruangan.

Disaksikan Pos Kupang, beberapa kelompok yang menyelengarakan kegiatan, berbondong keluar ruangan. Dari rumah penduduk, ada yang membopong orang tua keluar ruangan, melindungi kemungkinan terburuk gempa. Banyak yang menelepon keluarga untuk waspada.

Informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata merilis data yang dikeluarkan Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung (BVMBG) Bandung menyebutkan Pusat gempa pada pukul 14.26 wita berada pada 10 KM sebelah utara pulau Lembata, pada kedalamam 40 km dengan kekuatan 5,3 skala richter.

Sedangkan gempa pertama pukul 14.00 mengguncang Lembata, dengan pusat gempa berada di darat 92 KM Barat Daya Keerom, Papua, Mag 4.9 SR.

Gempa pukul 14.00 dan 14.26 wita cukup kuat. Sehingga membuat panik masyarakat Kota Lewoleba. 

Masih ada getaran-getaran kecil susulan lainnya membuat masyarakat tetap berjaga di luar ruangan. Sampai berita ini diturunkan, belum ada pengaduan. Tetapi mereka tetap waspada.
Sumber: Pos Kupang, 29 Oktober 2012
Ket foto ilustrasi: Senin 29 Oktober 2012, gempa bumi melanda Pulau Lembata, NTT dan Kabupaten Keerom, Papua. 

Mati Satu Tumbuh Seribu

Oleh M Sobary
Esais & Anggota Pengurus Masyarakat Bangga
Produk Indonesia untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi

Kita lahir di sini, dan dengan heroik menyebut ini negeri tanah tumpah darahku.Di tanah ini pada detik-detik pertama kita menghirup udara segar.

Kemudian kita makan dari bahan-bahan yang tumbuh di bumi ini. Lalu kita minum air yang memancar dari dalamnya. Kita bangga menamakan ini tanah airku. Inilah Ibu Pertiwi: Ibu kesuburan, ibu kasih sayang, ibu kehidupan, yang di atasnya kita berjalan, di atasnya kita membangun rumah,di atasnya kitakawin-mawin,berkeluarga, beranak, dan bercucu. Kita ingat,para pahlawan berjuang, dan bertaruh nyawa, gugur buat negeri ini. Kuburan kita penuh jasad para pahlawan.

Beberapa di antaranya mati muda, sebelum sempat menikmati arti hidup sesungguhnya. Tapi, mereka sudah menjadi syuhada, yang rela berkorban untuk kita. Penyair Chairil Anwar pun berteriak: “Kenang, kenanglah kami,yang kini terbaring antara Kerawang dan Bekasi”. Lalu dengan jiwa syahdu, sambil menundukkan wajah, kita menyanyi: “Gugur satu tumbuh seribu....” Kita meminta maaf pada arwah para pahlawan,yang kita terlantarkan, dan jutaan yang tak kita kenang jasanya. Mereka terserak di tengah-tengah makam rakyat biasa, tanpa identitas, tanpa selembar pita merah,dan tanpa air mata duka yang mengiringi kepergiannya.

Di masa revolusi bahkan beribu-ribu jumlahnya, yang gugur di kali, di pematang sawah, di tegalan,di jalan desa,di bawah pohon randu, di belakang masjid, dan juga di hutan-hutan pertahanan terakhir, yang betul-betul menjadi terakhir dalam arti sebenarnya. Ketika tiap saat terdengar tembang duka, “gugur satu tumbuh seribu” tadi, kita bertanya: Apakah kita ini bagian dari yang tumbuh seribu itu?

Apa jasa kita dalam hidup ini? Kita menikmati kesuburan bumi pertiwi, makan buahbuahnya yang segar, dan bulir-bulir padinya yang mengenyangkan, atau talas, singkong, jagung dan bahanbahan makanan lain untuk bertahan hidup, tapi kita lupa bersyukur? Kita mencintai semua jenis tanaman di bumi ini dan membela mereka dengan sekuat tenaga, ketika tanaman kita hendak dihancurkan bangsa lain, yang memiliki kepentingan politik ekonomi lain, selain buat kesejahteraan kita?

Kita tak peduli akan jerit tangis petani kita—juga petani tembakau—yang diancam kelestariannya oleh kekuatan asing yang berkolaborasi dengan mereka yang berkhianat pada Tanah Air,dan bangsanya, tanpa rasa dosa? Kita tak peduli pada para pemilik industri rumah tangga yang memproduksi kretek, yang dicekik oleh peraturan pemerintah kita sendiri, yang di belakangnya berdiri kepentingan asing yang serakah?

Kita diam seribu bahasa menyaksikan semua aset ini dicaplok raksasa asing yang serakah, tetapi bermurah hati memberi dukungan dana pada mereka yang menyebut diri berjuang demi bangsa, padahal hakikatnya mereka berjuang buat melebarkan jalan bagi raksasa asing, dan bangsa asing yang kelewat ngileruntuk menguasai aset bisnis tembakau kita? Kita diam saja melihat industri-industri kretek di dalam negeri, milik anak negeri, tumbuh dari tradisi, menjadi mahakarya tak tertandingi ini hendak dilenyapkan bangsa asing yang memiliki kepentingan yang asing bagi kita?

Sebaliknya, dengan mentalitetinlander yang terbungkukbungkuk, kita membiarkan industri rokok asing, beroperasi di negeri ini, tanpa berbagi kesejahteraan dengan anak-anak negeri? Kita biarkan mereka menjadi raksasa yang hanya punya satu mata: memupuk pertumbuhan—tanpa membagi— profit dan kemakmuran dengan kita? Mereka lebih suci sehingga kita puji-puji? Mereka lebih mulia hingga kita puja seolah tanpa cela? Apakah duit telah menjadi segalanya? Begitu banyak orang yang buta karena mata telah ditutup harta.

Namun, masih tak malu menyebut diri berjuang, dan pura-pura tak tahu apa bedanya dana bantuan,yang khusus untuk mencelakai anak negeri, dibanding dana bantuan antarnegara, atau dana LSM untuk membangun keswadayaan kita. Perjuangan itu ibadah dan mulia.Tapi,apa arti ibadah dan kemuliaannya bila kita tak menyertakan apa yang namanya rasa tulus? Kita sudah menjadi terlalu pandai, terlalu kosmopolitan, dan menganggap rasa tulus tidak begitu relevan?

Duit hanya duit. Harta hanya harta. Sifatnya sejak abad delapan belas mungkin tetap sama.Tapi, kekuatan ideologi di baliknya dan pesona material yang membungkam manusia alangkah kuatnya. Duit membungkam manusia untuk rela menggelapkan kebenaran. Harta bisa menutup mata agar kita tak peduli akan ancaman pihak yang kelawatkaya pada mereka yang hampir tak punya apa-apa. Kita bisa bicara filsafat netralitas, dan jiwa yang tak terlibat. Kau benar, silakan benar. Dia salah, silakan salah. Kita tidak ikut-ikutan. Jangan bawa-bawa aku. Netralitas dijadikan landasan untuk tak berbuat.

Netral dianggap suci, sesuci tetes embun pada jam tiga pagi, ketika semua jenis kekotoran belum menyentuh dunia ini. Tapi, pandangan ini mengabaikan sejarah, mengabaikan para pejuang. Sejarah penuh pemihakan. Tak ada sejarah yang isinya tukang bersemadi. Sejarah selalu memihak karena isinya para pejuang, yang tak mungkin tak memihak. Aktor sejarah, dalam sejarah Sartono Kartodirdjo, termasuk petani, petani, dan petani. Juga aktor sejarah hari ini. Mereka pun sebagian terdiri atas kaum tani,juga kaum tani tembakau Temanggung.

Mereka meneruskan tradisi perjuangan para pendahulu,yaitu Pasukan daerah Kedu, yang gagah berani, mendukung Perang Jawa, di bawah Pangeran Diponegoro,yang dalam waktu pendek membikin kumpeni nyaris gulung tikar.Mereka bukan hanya terlibat.Sebaliknya, mereka menggelar medan perang,dan tak gentar melihat, atau merasakan sendiri, darah menetes dari tubuhnya. Para pejuang hari ini, apa yang Kau lakukan? Tunggu. Jangan bicara tentang netralitas.

Para pejuang tak berfilsafat lagi karena berjuang lebih dari sekadar renungan filsafat. Mereka mengambil posisi, membela Ibu Pertiwi dan semua anak negeri, yang dinodai. Bagi pejuang, berlakulah adagium puitik Chairil: sekali berarti, sudah itu mati. Kita optimistis: “Mati satu, tumbuh seribu?”
Sumber: Sindo, 29 Oktober 2012

KPU Langsung Mulai Verifikasi Faktual Parpol Peserta Pemilu 2014

Written By ansel-boto.blogspot.com on Monday, October 29, 2012 | 7:23 AM




Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan 16 parpol yang lolos verifikasi administrasi. KPU langsung melanjutkan dengan verifikasi faktual parpol peserta Pemilu 2014.

"Hari ini semua berkas langsung dikirim ke daerah semuanya disertakan supervisi ke provinsi dan kabupaten/kota dan besok sudah mulai verifikasi faktual," kata Ketua KPU Husni Kamil Malik kepada detikcom, Senin (29/10/2012).

Husni menuturkan, Verifikasi faktual parpol peserta Pemilu 2014 akan dilakukan secepat mungkin. "Kalau verifikasi faktual yang dilakukan itu di tigkat kabupaten/kota sampai tanggal 20 November 2012," katanya.

Nantinya setiap parpol yang dinyatakan tidak lolos verifikasi faktual akan diberi kesempatan melakukan satu kali perbaikan. KPU memberikan ruang bagi parpol untuk melengkapi apa yang sudah ada di berkas administasi namun belum terlihat di lapangan.

"Setelah diverifikasi faktual nanti diberi kesempatan satu kali perbaikan. nanti baru diverifikasi kembali," ujarnya.

Sebelumnya, KPU telah mengumumkan 16 parpol yang lolos verifikasi administrasi. 16 parpol yang lolos dan akan mengikuti verifikasi faktual parpol peserta Pemilu 2014 adalah:

1. Partai Nasional Demokrat (NasDem)
2. PDI Perjuangan
3. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
4. Partai Bulan Bintang (PBB)
5. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
6. Partai Amanat Nasional (PAN)
7. Partai Golkar
8. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
9. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
10. Partai Demokrasi Pembaruan (PDP)
11. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI)
12. Partai Demokrat (PD)
13. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
14. Partai Keadilan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB)
15. Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN)
16. Partai Persatuan Nasional (PPN)
Sumber: detik.com, 29 Oktober 2012
Ket foto: Kantor KPU di Jl Imam Bonjol, Jakarta

WIN dan Pengembangan Industri Pedesaan

Oleh Haryono Suyono
Mantan Menko Kesra dan Taskin

WIN atau Persatuan Wredatama Kementerian Perindustrian, minggu lalu mengumpulkan sekitar 800 anggotanya dari seluruh Indonesia untuk acara silaturahmi dan bersama-sama mengenang masa lalu di Kantor Kemenperin di Jakarta. Para lanjut usia (lansia) sebagai bagian dari sekitar 25 juta lansia Indonesia atau bagian dari satu miliar penduduk lansia dunia itu umumnya tampak cerah dan masih mempunyai semangat tinggi. Seiring dengan kemajuan zaman, makin baiknya pelayanan kesehatan dan dukungan ekonomi yang membaik, sekitar 15 persen lansia termasuk penduduk yang menderita karena miskin atau sakit-sakitan. Sisanya lebih dari 85 persen masih sehat dan segar seperti para wredatama dari Kemenperin itu.

Pertemuan itu dihadiri para sesepuh dan mantan Menteri Perindustrian, antara lain Dr Ir Hartarto dan Dr Fahmi Idris serta mantan pejabat eselon I, II dan III lainnya. Hadir pula Sekjen Kemenperin yang mewakili menteri perindustrian karena sedang menghadiri Sidang Kabinet. Suasana yang meriah dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh seluruh peserta dengan semangat tinggi. Rasa haru tampak sekali dari wajah para pahlawan pembangunan industri Indonesia tersebut.

Suasana ceria bertambah dinamis karena setelah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, para anggota WIN menyanyikan hymne dan mars wredatama. Lagu itu cukup membakar kesadaran peserta, bahwa biarpun sudah pensiun tetapi harus tetap berjuang untuk kesejahteraan dan kejayaan bangsanya. Tepuk tangan keharuan menggema dalam ruang pertemuan yang di masa lalu menjadi kebanggaan para anggota. Para pensiunan Kemenperin yang tergabung dalam WIN masih tetap tegar memenangkan pembangunan melawan kebodohan dan ketidak-mampuan.

Dalam suasana seperti itu, Ketua Persatuan Wredatama Kemenperin Ir Doddy Soepardi, mantan dirjen yang dinamik, membuka pertemuan dengan melaporkan membanjirnya para peserta yang semula hanya dibatasi sebanyak 600 peserta, karena daya tampung ruang pertemuan, sampai saat terakhir sudah lebih dari 800 peserta hadir dalam pertemuan akbar terbuka itu. Para tamu tidak bisa ditolak karena mereka mendengar dari rekannya dan sangat ingin ikut menyemarakkan pertemuan sekaligus bernostalgia. Biarpun duduk berdesakan tidak dirasakan mengganggu dan justru membuat suasana bertambah akrab. Biarpun kurang nyaman, namun mereka sangat antusias dan tidak mau absen dalam pertemuan nostalgia tersebut. Informasi antar-peserta menjadi penghubung yang sangat ampuh sebagai wujud persaudaraan di antara para peserta.

Setelah mendengarkan laporan Ketua Persatuan Wredatama Kemenperin yang sekaligus menjanjikan tersedianya sekitar 150 paket door price, para peserta dengan tekun mendengarkan wejangan dari sesepuh yang mereka hormati, Dr Ir Hartarto yang mereka anggap sebagai salah satu Menteri Perindustrian pada zaman Pak Harto yang merintis dan mengembangkan banyak program dan kegiatan industri di Indonesia.

Pak Hartarto yang masih tetap memiliki suara bariton secara terperinci dan jelas memaparkan pengalamannya di masa lalu ketika membantu Pak Harto mengembangkan langkah-langkah awal perindustrian besar di Indonesia. Dengan penuh kebanggaan diberikannya penghargaan kepada banyak rekan-rekannya di kalangan wredatama sekarang, yang di masa lalu banyak membantu sebagai dirjen atau karyawan lain yang dengan berani di tempatkannya di berbagai industri yang dibangun pemerintah.

Pikiran-pikiran dan rancangan masa lalu serta antisipasinya terhadap masa depan bangsa masih sangat brilian dan patut dipertimbangkan untuk kemajuan bangsa menghadapi persaingan yang makin tajam dan sengit dewasa ini. Pak Hartarto biarpun sudah tidak lagi menjabat menteri, mempunyai antisipasi masa depan yang gemilang, utamanya menjelang tahun 2030 yang akan mengangkat bangsa ini menjadi bangsa besar dan jaya.

Sebelum Menperin RI memberikan sambutannya, saya selaku Ketua Umum PWRI mengajak seluruh anggota WIN untuk terjun ke masyarakat di desa dan kampung masing-masing membangun budaya kerja industri, ikut merintis pembangunan industri kecil dan mikro di desa dan menjadi penyambung dari kegiatan entrepreneur dalam bidang industri di pedesaan. Mereka diajak membangun budaya industri dan cinta produk dalam negeri sejak anak usia sangat dini, agar gagasan membangun manusia yang sadar industri dapat dimulai pada saat usia sangat dini.

Para anggota WIN dapat menjadi bapak angkat bagi keluarga di desa dalam memilih kegiatan industri di tingkat pedesaan melalui posdaya. Para anggota WIN dapat menjadi perantara untuk mendapatkan pasokan bahan baku atau menjadi penyambung dari jaringan pemasaran bersama industri menengah dan besar yang dikelola masyarakat yang lebih mampu,

Menperin memberi perhatian yang tinggi terhadap para pensiunan yang tergabung dalam WIN dengan menyediakan kantor yang nyaman di lingkungan Kementerian agar pengurus WIN dan anggotanya bisa mengembangkan silaturahmi dengan baik dan tetap dapat memberikan sumbangan pikiran dan gagasan-gagasan cemerlang untuk kemajuan perindustrian di Indonesia. Menteri berharap agar silaturahmi juga dikembangkan di daerah-daerah, sehingga kesinambungan pembangunan dapat dipelihara demi masa depan yang lebih baik. Menteri menghargai prakarsa mempertemukan sesama pejuang pembangunan dalam bidang industri, sehingga perasaan persaudaraan dan kebersamaan dalam perjuangan yang panjang dapat berkesinambungan.

Puncak acara diisi dengan silaturahmi yang sangat akrab dan mengharukan diselingi dengan pembagian lebih dari 150 paket door price sumbangan rekan-rekan perusahaan industri yang dibangun di masa lalu. Atau, boleh jadi sebagai tanda tali kasih yang mengingatkan mereka akan perjuangan yang gigih membangun industri di Indonesia.
Sumber: Suara Karya, 29 Oktober 2012

Rhoma Irama Tunggu Realisasi Janji Jokowi



Dalam beberapa bulan terakhir, nama "Raja Dangdut" Rhoma Irama kerap disangkut-pautkan dengan pernyataannya soal Joko Widodo atau Jokowi. Apa komentar Rhoma setelah Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta?

Beberapa waktu lalu Rhoma dipanggil oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI Jakarta terkait ceramahnya mengenai Jokowi dan pasangan Jokowi dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Saat itu Rhoma menyatakan bahwa sebaiknya warga Jakarta memilih gubernur dan wakil gubernur yang seiman.

Oleh sejumlah pihak, pernyataan itu dianggap menyinggung masalah suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Setelah Panwaslu memeriksa kasus tersebut, Panwaslu memutuskan Rhoma tidak bersalah dan ceramah itu tidak melanggar isu SARA.

Setelah Jokowi dan Basuki dinyatakan menang dalam Pilkada DKI Jakarta, Rhoma sempat menolak memberikan komentarnya. Kini, setelah Jokowi dan Basuki memasuki usia dua pekan menjabat sebagai pemimpin Jakarta, Rhoma ingin melihat apakah Jokowi-Basuki dapat merealisasikan janji-janji mereka saat berkampanye.

"Kita lihat seratus harilah, apakah benar-benar mereka membawa perubahan secara fisik dan nonfisik. Nanti kita lihatlah," kata bintang film "Dawai Dua Asmara" itu saat ditemui di kawasan Cipayung, Jakarta, Minggu (28/10/2012).

Rhoma berharap Jokowi-Basuki dapat menata dan menyelesaikan permasalahan kota Jakarta. Ia juga berharap Jokowi bisa menciptakan Jakarta sebagai kota yang berlandaskan agama. "Harus mampu menciptakan masyarakat Jakarta yang agamis, yang (sesuai) Pancasila. Seharusnya, ya perubahan fisik dan nonfisik yang signifikan sesuai janji mereka," ujarnya.
Sumber: Kompas.com, 28 Oktober 2012
Ket foto: Rhoma Irama

Kekerasan Agama: Sebuah Refleksi

Oleh Tom Saptaatmaja
Kolumnis dan Aktivis Lintas Agama;
Alumnus STFT Widya Sasana Malang & Seminari St Vincent de Paul

Kita prihatin, masih saja terjadi kekerasan atas nama agama di negeri ini. Kekerasan bisa berupa serangan pada penganut yang seagama tapi berbeda mazhab seperti pada penganut Ahmadiyah dan Syiah.

Kekerasan juga bisa berupa pelarangan pendirian tempat ibadah lewat kebijakan otoriter kepala daerah dengan dukungan ormas keagamaan seperti kasus GKI Yasmin, atau penyegelan cukup banyak gereja berbagai kawasan di negeri ini.

Kekerasan seperti itu jelas tidak bisa dibenarkan. Dilakukan oleh siapa pun, disponsori lembaga apa pun, kekerasan itu sungguh merupakan sesuatu yang biadab dan merendahkan martabat luhur manusia. Jelas ada unsur pelanggaran HAM berat dalam kekerasan bernuansa agama tersebut.

Meski pihak penyerang atau yang menyegel menggunakan atribut dan simbol-simbol agama tetentu, kekerasan itu tetap tidak bisa dibenarkan oleh akal sehat kita.

Matinya Akal Sehat

Namun mungkin saja akal sehat kita memang sudah mati karena kekerasan, khususnya kepada kaum minoritas seperti Syiah, Ahmadiyah, umat kristiani, dsb, kadang malah sudah diketahui informasinya oleh aparat kepolisian. Kekerasan atas nama agama menjadi bukti bahwa setelah 67 tahun merdeka, kita ternyata masih sulit untuk bisa menerima perbedaan.

Yang berbeda dianggap sebagai sebuah aib dan pantas serta sah untuk dilenyapkan. Ini jelas merupakan bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita para pendiri bangsa agar Indonesia bisa menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi semua orang dari semua agama.

Padahal dulu negeri ini dikenal sebagai negeri yang ramah dan warganya bisa saling menghargai perbedaan. Kini tampaknya kita harus kembali dari nol untuk belajar menghargai keberagaman dan perbedaan.

Indonesia di mata dunia kini dipandang sebagai negeri penuh intoleransi. Indonesia lebih buruk daripada Israel. Itu karena di negeri Yahudi tersebut, baik Kristen atau Islam dengan segala aliran, justru terus tumbuh, meski kekejaman bangsa itu terhadap bangsa Palestina tidak bisa kita terima.

Menyedihkan bahwa sebagian warga kita telah memilih menjadi “bigot”. Dalam psikologi, istilah “bigot” menunjuk pada orang yang sangat kuat loyalitasnya pada kelompok tertentu, entah agama, etnis, partai politik, sekolah, kampus, kampung, dan sebagainya.

Orang semacam ini sama sekali sudah tak punya toleransi terhadap golongan lain yang yang tidak sepaham. Agama yang seharusya menjadi jalan pembebasan pun bagi penganut agama yang “bigot” justru bisa ditafsirkan sebagai alat untuk menindas yang berbeda. Orang “bigot” memang sangat mudah menghakimi orang lain. Kategori kafir dan sesat bisa dengan cepat meluncur.

Memperbincangkan tafsir, memang sebenarnya semua kekerasan itu bisa didorong oleh tafsir sehingga ketika seorang “bigot” punya tafsir yang banal atas agama yang dianutnya, maka dijamin pesan sejuk agama bisa dipelintir menjadi pesan penuh amarah. Pemahaman keagamaan yang sepotong, dijadikan sesuatu yang kebenaranya absolut.

Tuhan pun bisa ditafsirkan tidak toleran dan seolah hanya berpihak pada “agamaku” sendiri sebagai agama yang paling benar, sedangkan semua agama yang lain adalah sesat. Tuhan di mata para “bigot” seolah “sosok” yang haus kekuasaan dan gila hormat. Memang orang bebas menafsirkan, tapi jangan pernah memonopoli dan memaksakan tafsir pada pihak lain.

Tafsir seperti itu, ditambah sifat “bigot” semakin mendorong pemahaman keagamaan yang ekstrem. Ekstremitas atau radikalisme kini memang menjadi problem di banyak belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Banyak hal tak masuk akal terjadi, ketika pemahaman keagamaan sudah menjadi ekstrem.

Maka kita perlu menggunakan akal sehat kembali, karena akal sehat mati ketika kekerasan kian marak. Coba kalau kita sungguh berakal, tentu kita prihatin.

Jangankan mau menghunus pedang, mau mencubit sesama pun pasti tidak akan jadi kalau akal sehat dan nurani masih dipakai. Itu karena segala bentuk kekerasan sebenarnya merupakan tindakan yang tidak manusiwi lagi, lebih rendah daripada kelakukan binatang buas mana pun.

Padahal kalau orang gemar mengobral kekerasan atas nama agama, sebenarnya ini menjadi promosi yang buruk bagi agama yang kita anut. Kekerasan jelas merusak citra agama sebagai pembawa pesan perdamaian. Jika tanpa kekerasan atas nama agama saja, kita sudah dibuat muak maka kekerasan atas nama agama benar-benar membuat kita semakin muak.

Tidak heran, meski di negeri kita secara formal tidak ada pengakuan terhadap ateisme, tapi jika hendak dilakukan penelitian, kini cukup banyak orang khususnya di kota-kota besar lebih memilih menjadi ateis daripada beragama tapi memuja kekerasan. Karya dan pemikiran Daniel Denett, Christopher Hitchens, Richard Dawkin, atau Sam Haris yang ateis diam-diam banyak dibaca di kota-kota besar di negeri ini.

Kekerasan yang dilakukan oleh sebagian orang dengan membawa atribut agama, jika dikaji secara mendalam memang amat bertentangan dengan ajaran agama sebagai pembawa kebaikan, keadilan dan kedamaian.

Kekerasan juga amat bertentangan dengan kemanusiaan karena dalam setiap kekerasan pasti ada martabat manusia yang dilecehkan, termasuk di dalamnya kaum perempuan dan anak-anak. Pernahkah kita memikirkan masa depan anak-anak yang mengalami pengucilan, kehilangan akses pendidikan, bahkan status kependudukan, gara-gara agama yang dianut orang tuanya?

Biasanya yang dijadikan alasan adalah masalah akidah atau dogma atau rebutan klaim kebenaran. Padahal terkait sesat tidaknya sebuah agama, biarlah menjadi urusan Sang Pencipta saja. Tuhan tidak memerlukan juru bicara atau pembela, apalagi polisi atau hakim agama dan menghalalkan kekerasan. Masalahnya, bisa tidak kita sebenarnya untuk menerima perbedaan.

Silakan orang meyakini penafsiran keagamaan model apa pun, tapi biarkan juga orang lain punya keyakinannya sendiri. Jangan menghakimi keyakinan orang lain dengan paham kita, apalagi diekspresikan dalam tindak dan perilaku kekerasan terhadap yang lain.

Kembali ke Jati Diri Agama

Maka kita perlu kembali belajar untuk berbeda, tanpa perlu meletupkan kekerasan pada pihak lain. Semua agama membawa pesan damai dan damai ini sebenarnya harus dirasakan oleh orang-orang lain. Mari ingat bahwa negara ini bukan negara agama dan bukan dimaksudkan untuk melindungi satu agama atau aliran saja.

Semua penganut agama dijamin dalam konstitusi kita, khususnya UUD 1945 Pasal 28 E ayat 1 dan 2 serta UU No 39/1999 tentang HAM. Maka dalam bertindak, khususnya kepolisian, justru jangan membela satu kelompok saja, tapi semua perlu dilindungi. Polisi jangan memperkeruh keadaan, hanya karena ingin mencari selamat.

Yang suka memuja kekerasan, mari merenungkan kalimat Bawa Muhayaiddeen. Menurut Sufi dari Amerika Serikat itu, setiap penganut agama adalah musafir yang sedang mengembara di gurun pasir untuk menuju suatu tempat keabadian.

Kita ibaratnya sedang mencari air kesejukan di sebuah oasis untuk bekal dalam perjalanan panjang. Sesampai di oasis itu, sebagian besar manusia lupa mengambil air kesejukan karena lebih suka melihat perbedaan wadah air itu. Ada yang membawa wadah air dari logam, ada yang dari kuningan, ada yang dari kayu, dan sebagainya.

Manusia saling menyalahkan bahwa wadah yang dibawa orang lain salah karena seharusnya orang lain memakai wadah seperti yang dimilikinya. Mereka juga sering beradu pendapat, berkelahi bahkan saling membunuh.

Ketika waktunya telah habis, mereka tidak sempat mengisi wadahnya dengan air kesejukan. Tragis! Jadi mari kembali ke jati diri agama sebagai pembawa cinta kasih dan damai, bukan pembawa kebencian dan mengobral kekerasan.
Sumber: Sinar Harapan, 27 Oktober 2012

FPI Terancam tak Boleh Beraktivitas di Jabar

Written By ansel-boto.blogspot.com on Sunday, October 28, 2012 | 7:58 PM


Front Pembela Islam (FPI) terancam tak bisa beraktivitas di Jabar. Pemprov Jabar akan memberi surat teguran pada FPI terkait perusakan Masjid An Nasir di Jalan Sapari, Kamis (26/10/2012).

Jika dalam tiga kali surat teguran FPI tidak mengindahkannya, FPI akan dihapus dari daftar ke-ormasan Jabar tak boleh beraktivitas lagi di Jabar.

"Satu kali, dua kali, tiga kali, kalau tidak diindahkan, maka teguran itu akan jadi penghapusan (FPI) dari daftar keormasan di Jabar dan melarang kegiatannya," tegas Gubernur Jabar Ahmad Heryawan di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Minggu (28/10/2012).

Menurutnya, pemberian teguran jadi kewenangan Pemprov Jabar. Namun untuk pembubaran organisasi, itu bukan kewnangannya. "Itu kewenangan pemerintah pusat. Kewenangan kita hanya di situ," ucapnya.

Disinggung apakah surat teguran sudah disiapkan, Heryawan menyebut akan secepatnya. "Kita siapkan nanti," katanya.

Selain FPI, Heryawan juga akan mengeluarkan surat teguran untuk jemaat Ahmadiyah. "Jika diperlukan surat teguran kita berikan kepada siapapun, termasuk pada Ahmadiyah. Kita kan punya pergub yang melarang aktivitas jemaat Ahmadiyah. Pergub itu turunan dari SKB dan kesepakatan semua pihak, termasuk Ahmadiyah," jelas Heryawan.

Berkaca dari insiden perusakan Masjid An Nasir, ia mengajak semua pihak menaati hukum. Ia meminta FPI tidak berbuat hal serupa lagi dan Ahmadiyah tidak beraktivitas sesuai dengan pergub yang dikeluarkannya.

"Semua pihak harus taat hukum. Ahmadiyah harus taat hukum, FPI harus taat hukum juga," ajaknya.

Jika ternyata ada pelanggaran hukum, Heryawan mengimbau agar tidak ada pihak yang main hakim sendiri. "Jangan main hakim sendiri, jangan lakukan kekerasan. Hendaknya koordinasi, laporkan pada pihak berwenang," tandas Heryawan.
Sumber: detik.com, 28 Oktober 2012.
Ket foto: Gubernur Ahmad Heryawan
Sumber foto:www.pks-jabar.org

Sumpah Pemuda

Oleh Sarlito Wirawan Sarwono
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Satu atau dua minggu lalu, di Pekanbaru, pesawat tempur Hawk TNI jatuh di permukiman. Masyarakat berlomba dengan TNI. Yang satu mau nonton, yang lain mau mengamankan. Di antara masyarakat ada wartawan dengan kamera.

Salah satunya bernama Didik Herwanto (Riau Pos). Seorang tentara, Letkol (AU) Robert Simanjuntak, langsung mengejar, membanting, dan menginjak perut wartawan dengan teknik judo atau jujitsu yang cantik (apalagi dilakukan oleh seorang perwira senior yang sudah setengah baya). Kamera wartawan pun dirampas. Adegan yang hanya beberapa detik ini diulang-ulang setiap hari berkali-kali sehingga kesannya telah terjadi pelanggaran HAM berat.

Pastinya wartawan marah, solider, didukung massa seluruh Indonesia yang sudah tahu via media. Kepala Staf TNI AU minta maaf, tetapi demo malah makin marak. Pelanggaran UU Pers, katanya. Wartawan tidak boleh dicegah dalam mencari informasi untuk masyarakat. Letkol Simanjuntak pun mau dimutasi oleh pimpinan TNI, tetapi wartawan tidak setuju.

Harus dibawa ke pengadilan negeri. Nggak mau tahu, walaupun Simanjuntak anggota militer, tetap harus diadili di pengadilan negeri (yang berarti melanggar UU, loh). Singkatnya, TNI sudah pasti salah,wartawan so pasti benar. Tapi apa iya? Ketika wartawan mengikuti nalurinya untuk mencari berita, TNI pun punya naluri untuk mengamankan TKP. Mereka memang dididik seperti itu, seperti wartawan dididik mencari berita.

Pesawat terbang buat TNI adalah aset negara yang mungkin mengandung rahasia negara. Mungkin pilot terluka harus dievakuasi. Mungkin ada masyarakat terluka, perlu pertolongan cepat. Wilayah kecelakaan harus disterilkan sehingga wartawan yang spontan pasang kamera dianggap sebagai penghalang/pengganggu.

Secara refleks, TNI menelikung dan membanting wartawan ke tanah, ya wajarlah. Jangankan wartawan, setumpuk batu bata pun hancur berantakan dikarate oleh TNI. Memang mereka dilatih untuk itu. Kalau ketika ada kecelakaan pesawat, TNI langsung mempersilakan wartawan meliput dan memasang kursi-kursi untuk masyarakat yang mau menonton, bahkan menyediakan Aqua untuk yang haus, baru aneh itu namanya.

Pada saat berlangsung lobilobi terakhir sebelum UUD 1945 disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945, Sam Ratulangi, wakil dari Sulawesi,Tadjoedin Noor dan Ir Pangeran Noor, wakil dari Kalimantan, I Ketut Pudja, wakil dari Nusa Tenggara, dan Latu Harhary,wakil dari Maluku, datang ke Jakarta.

Mereka datang sendiri atas inisiatif sendiri dengan biaya dari nenek moyang sendiri, naik kapal laut selama beberapa hari yang waktu itu merupakan satu-satunya moda perhubungan antarpulau (tidak seperti sekarang, dengan penerbangan pesawat udara beberapa kali sehari ke setiap penjuru Indonesia, dengan biaya yang relatif terjangkau). Kedatangan mereka pas sekali sebelum UUD 1945 disahkan.

Mereka semua berkeberatan dan mengemukakan pendapat tentang bagian kalimat dalam rancangan Pembukaan UUD yang juga merupakan sila pertama Pancasila sebelumnya, yang berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.??? Pada Sidang PPKI I, yaitu pada18 Agustus1945, Hatta lalu mengusulkan mengubah tujuh kata tersebut menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Pengubahan kalimat ini telah dikonsultasikan sebelumnya oleh Hatta dengan 4 orang tokoh Islam, yaitu Kasman Singodimejo, Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, dan Teuku M Hasan. Mereka menyetujui perubahan kalimat tersebut demi persatuan dan kesatuan bangsa. Dan akhirnya bersamaan dengan penetapan rancangan pembukaan dan batang tubuh UUD 1945 pada Sidang PPKI I tanggal 18 Agustus 1945,Pancasila pun ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia.

Jelaslah bahwa rumusan Pancasila yang berlaku sampai hari ini sudah dipikirkan matangmatang oleh para pendiri bangsa ini, termasuk oleh para pemimpin besar umat Islam ketika itu. Dengan demikian tokoh-tokoh Islam pada waktu itu, termasuk Bung Hatta, telah menerapkan sila ketiga, Persatuan Indonesia, yang penjabarannya dalam Tap II/MPR/1978 dan Tap MPR No I/MPR/2003 tentang butir-butir Pancasila adalah mengutamakan persatuan bangsa, rela berkorban demi bangsa dan negara, cinta tanah air dan bangsa,serta bangga menjadi bangsa Indonesia.

Semangat itu pulalah yang telah melahirkan Sumpah Pemuda 1928.Saya kutipkan di sini sepenggal catatan sejarah dari Wikipedia, “Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (Ikatan Pemuda Katolik) di Waterlooplein(sekarang Lapangan Banteng). Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop (Gedung Bioskop Jawa Timur), dan rapat penutup di Gedung Indonesische Clubgebouw (Gedung Perkumpulan Indonesia) di Jalan Kramat Raya 106 ...

Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong (Pemuda) Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi. Di antara merekahadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie, namun sampai saat ini tidak diketahui latar belakang organisasi yang mengutus mereka.

Sementara Kwee Thiam Hiong hadir sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan, pemuda keturunan Arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab.” Dari secuil kutipan di atas tampak bahwa Republik Indonesia bukan bikinan, apalagi milik seseorang atau segolongan tertentu.

Dalam kutipan itu terbaca kata-kata Katolik, Islam,Tionghoa (China), Arab, Betawi, Sumatera, Celebes (sekarang: Sulawesi), Java (sekarang: Jawa), Batak (dari dulu sampai sekarang tetap Batak), dan tentu saja Indonesia. Para peserta Kongres Pemuda II di Jakarta tahun 1928 itu tidak bermimpi akan menjadi pahlawanpahlawan nasional, mereka hanya bercita-cita (istilah sekarang: punya visi) bahwa Republik Indonesia yang akan lahir entah kapan adalah negara kesatuan, bukan negara agama, negara etnik, maupun negara golongan.

Itulah sebabnya, ketika pada 1945 ada yang menginginkan kata-kata dari agama tertentu disisipkan dalam UUD 1945, langsung dilakukan koreksi, walaupun boleh jadi kata-kata itu sendiri tidak akan berpengaruh dalam praktik kehidupan sehari-hari dari warga negara yang beragama lain.

Didik Herwanto dan Robert Simanjuntak akhirnya saling bermaafan, berpelukan, dan katawa-ketiwi. Entah bagaimana caranya, kedua kubu menyadari bahwa konflik wartawan versus TNI adalah konflik kekanak-kanakan yang tidak ada gunanya. Lain halnya dengan konflikkonflik lainnya. Nasib orang Papua sebenarnya sama saja dengan orang Betawi atau orang Jawa lainnya.

Banyak yang miskin dan merasa tidak diperlakukan dengan adil. Bahkan etnik Papua adalah gudangnya juarajuara Olimpiade Fisika dan Matematika. Tapi mengapa orang Papua harus membawabawa bendera Bintang Kejora. Untuk apa? Timor Leste tidak menjadi lebih baik dibandingkan dengan ketika masih berstatusTimor-Timur. Sebaliknya, Aceh sekarang sudah mulai menikmati kemajuan perekonomiannya.

Begitu juga yang berjuang, berjihad fi-sabilillah, dengan bom dan mesiu. Untuk apa? Apa hasilnya kecuali korbankorban yang tidak berdosa? Semangat Sumpah Pemuda adalah bersatu, bukan berselisih, bertengkar, apalagi tawuran.

Kita memang berbeda-beda, tetapi selama kita lupakan perbedaan itu dan kita fokus ke persamaan cita-cita (untuk menyejahterakan rakyat, mencerdaskan bangsa, dan menjaga perdamaian dunia), insya Allah NKRI akan tetap bersatu.
Sumber: Kompas, 28 Oktober 2012

Ratusan Perawat RSUD Lewoleba Mogok Kerja

Written By ansel-boto.blogspot.com on Saturday, October 27, 2012 | 5:20 AM


Ratusan Karyawan Perawat pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lewoleba Lembata melakukan demonstrasi kepada manajemen Rs, Kamis (25/10/2012) pagi.

Mereka meninggalkan ruangan pelayanan mereka masing-masing dan berdiri di selasar rumah sakit itu. Ada yang duduk dan mengobrol satu sama lain.

Aksi mogok dimulai sekitar Pukul 07.80 wita sampai kedatangan bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur. Ketika ada teman yang baru tiba, teman mereka yang lain berteriak, mengajak mereka untuk bergabung dalam aksi itu. Jumlah perawat yang melakukan aksi itu adalah 110 perawat.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), dr. Geril Huar Noning tidak ada di tempat saat mogok. Ketika dihubungi per telepon genggamnya mengaku tidak tahu persoalan yang terjadi dengan para perawat yangg mogok kerja itu.

"Saya tidak mau komentar pak. Saya tidak tahu persoalannya apa? Mereka mau bicara, bicara saja," kata Geril dari balik telepon.

Dr. Geril baru tiba bersamaan dengan kedatangan Bupati Sunur sekitar pukul 09.00 wita. Para perawat pun diarahkan ke ruangan.

Sebelum melakukan dialog, bupati Sunur memanggil kepala-kepala unit ke ruangan direktur. Sempat menimbulkan keributan, karena perawat-perawat tidak mau diwakilkan.
Lima menit kemudian, Bupati keluar dan menemui ratusan perawat. Bupati mengawali sapaannya kepada perawat dengan memerintahkan kepala-kepala unit memilih beberapa perawat untuk kembali ke ruangan, melayani pasien.

Bahkan bupati mengancam tidak mendengarkan masalah mereka jika para perawat ini tidak mengutamakan pelayanan kepada orang sakit. "Saya minta kepala unit, perintahkan beberapa perawat kembali ke ruangan kerja. Kita semua dipanggil untuk melayani masyarakat. Saya tidak mau aksi ini menimbulkan persoalan baru. Saya tidak mau dengar besok-besok masyarakat mengeluh karena pelayanan kalian semua," kata Sunur di hadapan ratusan perawat.

Tidak terlihat ada yang meninggalkan Aula. Tetapi mereka menjamin bupati, pelayanan terhadap pasien tetap berlangsung.
Sumber: Pos Kupang, 26 Oktober 2012
Ket foto: Para perawat dan bidan di RSUDH Lewoleba berdemo kepada manajemen RSUD dengan melakuka aksi mogok. Mereka berdiri di selasar RSUDH, Kamis (25/10/2012) (gbr bawah) dan Bupati Yance Sunur (gbr atas)

Berkorban Tak Sekadar Berkurban

Oleh A Mustofa Bisri
Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah

Sama sekali bukan daging-daging dan darah-darah hewan itu yang mencapai Allah, melainkan ketakwaan. Pengorbanan.

Akhirnya, setelah sekian lama mendambakan dan tak kunjung mempunyai anak, permohonan Nabi Ibrahim agar dianugerahi anak dikabulkan oleh Tuhannya.

Allah menganugerahinya seorang anak yang sabar. Ketika si anak sudah cukup dewasa untuk membantu ayahnya bekerja, tiba-tiba sang ayah memberitahukan bahwa ada isyarat Tuhan untuk menyembelih si anak. ”Bagaimana pendapatmu?” kata sang ayah. Dengan tenang, si anak menjawab, ”Ayahku, laksanakan saja apa yang diperintahkan kepada ayah. Insya Allah ayah akan mendapatkan anakmu ini tabah.”

Ketika bapak-anak itu bertekad bulat berserah diri sepenuhnya untuk melaksanakan perintah Allah dan Nabi Ibrahim telah merebahkan anak kesayangannya itu di atas pelipisnya, ketika itu pula keduanya membuktikan kepatuhan dan kebaktian mereka. Dan, Allah pun mengganti si anak dengan kurban sembelihan berupa kambing yang besar.

Meskipun ritual kurban (dengan ”u”) konon sudah dilakukan sejak putra-putra Nabi Adam, Habil dan Qabil, peristiwa yang dituturkan dalam kitab suci Al Quran itulah yang jadi dasar persyaratan kurban setiap Idul Adha (Hari Raya Kurban).

Nabi Ibrahim rela mengorbankan putranya dan putranya ikhlas dijadikan kurban demi Tuhan mereka. Bagi Nabi Ibrahim dan putranya, Tuhan adalah nomor satu. Allah adalah segalanya. Siapa pun dan apa pun tidak ada artinya di hadapan-Nya. Demi dan untuk-Nya, apa pun ikhlas mereka korbankan; sampai pun anak atau nyawa sendiri.

Inti berkurban

Jadi, inti makna kurban di Hari Raya Kurban memang berkorban. Namun, lihatlah, bahkan untuk sekadar mengorbankan hewan, banyak orang mampu yang masih ”menawar-nawar” atau menitipkan kepentingan sendiri sebagai ”kompensasi”.

Apakah mereka ini mengira bahwa kurban (daging ternak) itu benar yang ”dituntut” Tuhan sebagai bukti kecintaan dan kebaktian? Tidak. Sama sekali bukan daging-daging dan darah-darah hewan itu yang mencapai Allah, melainkan ketakwaan. Pengorbanan. ”Tidaklah darah dan daging hewan kurban itu sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmu yang sampai kepada-Nya” (Al Quran 22:37).

Pengorbanan tidak hanya menyembelih kurban. Pengorbanan adalah atau mestinya merupakan pantulan dari kecintaan dan kebaktian itu. Dari pengorbanan, bisa diukur seberapa dalam kecintaan dan seberapa agung kebaktian seseorang.

Kita bisa saja mengaku cinta atau mengabdi kepada pujaan kita. Kita bisa saja menyatakan hal yang mulia demi Tuhan, demi tanah air, demi rakyat, demi siapa atau apa pun yang kita cintai. Namun, tanpa kesediaan kita berkorban untuknya, pernyataan itu tidak ada artinya.

Bahkan, jika kita menawar-nawar di dalam pengorbanan kita, kata ”demi”-”demi” itu hanyalah omong kosong belaka. Dalam pengorbanan, tak ada perhitungan untung-rugi atau tuntutan kompensasi apa pun. Dalam pengorbanan hanya ada ketulusan.

Hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi kepada Allah, seperti Nabi Ibrahim dan putranya, akan siap dan rela berkorban apa pun, yang paling berharga atau yang remeh, termasuk ego dan kepentingan sendiri—bagi dan demi Tuhannya. Demi melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi Tuhannya siap dan rela mengalahkan egonya dan mengesampingkan kepentingan sendiri.

Apabila Tuhan, misalnya, melarang perbuatan merusak, hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi Tuhannya akan menghindari perbuatan merusak meski bertentangan dengan kehendak-Nya. Dia, misalnya, tak akan melakukan perbuatan korupsi, tidak melakukan tindakan teror, tidak berurusan dengan narkoba, dan tindakan merusak lainnya, meski dirinya merasa berkepentingan untuk melakukan hal itu.

Pemimpin berkorban

Warga negara yang sungguh mencintai dan mengabdi tanah airnya akan dengan sendirinya siap dan rela berkorban apa saja bagi dan demi tanah airnya, meski tidak pernah menyatakannya. Sebaliknya, mereka yang sering menyatakan cinta tanah air, tetapi tidak sudi mengorbankan sedikit waktu dan pikiran untuk kepentingan tanah airnya, jelas mereka pembohong besar.

Pemimpin yang selalu menyatakan diri sebagai abdi rakyat, tetapi tidak pernah rela berkorban meski sekadar waktu dan perhatian untuk rakyat, bahkan lebih sering mengorbankan rakyat, cepat atau lambat pasti akan ketahuan palsunya dan rakyat akan mencampakkannya.

Akhirnya, Idul Adha atau Hari Raya Kurban juga sering disebut Lebaran Haji. Pada saat itu memang kaum Muslimin yang mampu sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.

Satu-satunya ibadah dan rukun Islam yang di negeri ini ditangani secara ”serius” oleh pemerintah. Ibadah ini pun memerlukan pengorbanan yang tidak kecil. Masih di Tanah Air, jemaah calon haji sudah harus mengorbankan waktu, harta, tenaga, pikiran, dan sering kali juga perasaan.

Dalam ritual haji, kaum Muslimin diingatkan dengan peragaan diri tentang kehambaan, kesetaraan, dan kefanaan manusia; bahkan tentang hari kemudian. Dengan demikian, jika itu semua dihayati, akan atau semestinya dapat mengubah sikap dan perilaku mereka. Konon salah satu tanda haji mabrur, yang pahalanya tiada lain: surga, ialah perubahan sikap perilaku.

Yang sebelum haji malas beribadah, misalnya, sesudahnya menjadi rajin. Sebelumnya sangar, sesudahnya santun. Sebelumnya korup, sesudahnya jujur. Demikian seterusnya. Bukan yang sebelum dan sesudah haji tetap saja sikap perilakunya atau malahan lebih buruk lagi. Wallahualam. Selamat Hari Raya Kurban, Selamat Lebaran Haji!
Sumber: Kompas, 25 Oktober 2012 

Penutupan Gereja dan Wihara di Aceh Tindakan Subversif

Written By ansel-boto.blogspot.com on Friday, October 26, 2012 | 9:05 AM


Perintah penutupan gereja dan wiraha di Banda Aceh oleh Pemerintah Kota Banda Aceh dinilai sebagai tindakan subversif terhadap konstitusi yang menjamin kebebasan setiap warga untuk beribadah. Hal itu dikatakan anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, dari Mekkah, Arab Saudi, melalui surat elektronik, Selasa (23/10/2012).

Eva dimintai tanggapan tentang perintah penutupan sembilan gereja dan lima wihara di Banda Aceh akibat Peraturan Gubernur Nomor 25 Tahun 2007 tentang Pedoman Pendirian Rumah Ibadah.

Persyaratan membangun rumah ibadah dalam peraturan gubernur (pergub) itu dinilai teramat berat. Sebuah rumah ibadah dapat memperoleh izin jika mendapat persetujuan dari 120 warga sekitar, dengan jumlah anggota jemaat lebih dari 150 orang, mendapat pengesahan dari lurah/kecik, serta ada surat rekomendasi dari Departemen Agama setempat.

Persyaratan itu jauh lebih berat dari ketentuan yang tertuang dalam Peraturan Bersama Dua Menteri yang mewajibkan ada 90 anggota jemaat, dengan dukungan 60 warga sekitar.

Eva lantas mengecam kebijakan Pemerintah Kota Banda Aceh (Pemkot Banda Aceh) itu. Tindakan tersebut bertolak belakang dengan sikap dunia internasional yang menjadikan Indonesia sebagai model Islam yang moderat. Selain itu, kata dia, tindakan Pemkot bertentangan dengan Islam di Indonesia yang selaras dengan dasar negara Pancasila.

Eva menuntut agar Kementerian Dalam Negeri memberikan peringatan keras kepada Wali Kota Banda Aceh dan meminta segera membatalkan kesepakatan penutupan tempat ibadah itu. Menurut dia, tidak boleh ada peraturan yang mengalahkan perintah UUD 1945 bahwa pemerintah harus menjamin kebebasan beribadah.

"Masih banyaknya perilaku subversif pemimpin dan elite daerah terhadap prinsip empat pilar berbangsa merupakan kemunduran demokrasi Pancasila. Pemerintah pusat harus menyelenggarakan sosialisasi empat pilar bagi penyelenggara negara, terutama kepada kepala daerah," ungkap Eva.
Sumber: Kompas.com, 24 Oktober 2012
Ket foto: Eva Kusuma Sundari
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger