Headlines News :

Darurat Kekerasan di Papua

Written By ansel-boto.blogspot.com on Monday, December 31, 2012 | 5:09 AM

Oleh Cypri Jehan Paju Dale
Direktur Sunspirit for Justice and Peace

Kekerasan semakin menambah berat derita Papua. Di pengujung tahun ini, kontak senjata menewaskan 3 anggota polisi dan 2 warga sipil di Lani Jaya. Di Manokwari, seorang warga sipil meregang nyawa di ujung laras aparat, memicu amuk massa yang melumpuhkan kota. Di Merauke, seorang pendeta perempuan ditembak anggota TNI. Rangkaian insiden itu menambah panjang catatan kekerasan tahun 2012.

Tahun ini juga terjadi eskalasi benturan horizontal antarberbagai kelompok, baik antarsesama Papua, seperti di Timika, maupun antara Papua dan non-Papua, seperti di Abepura pada Juli 2012. Marak pula kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkup domestik. Secara keseluruhan korban langsung kekerasan mencapai ribuan orang, tidak kurang dari 100 orang meninggal dunia.

Rentetan kekerasan itu merusak sendi tatanan sosial dan relasi antarmanusia, kelompok, dan institusi. Kekerasan itu bukan lagi berupa insiden sporadik yang terpisah satu sama lain, melainkan rangkaian berpola umum (sistemik), berwujud dalam perilaku dan tindakan aktor-aktor individual, sosial, dan politik. Itu terjadi pada level rumah tangga (domestik), antarkelompok masyarakat berbeda klan, suku, agama, kelas ekonomi, dan orientasi politik (sosial), serta antara masyarakat dan negara (politik).

Situasi Papua mengarah ke darurat kekerasan. Dalam istilah Hobbes, bellum omnium contra omnes, kekerasan semua melawan semua.

Multidimensi Kekerasan

Konstruksi segitiga kekerasan Johan Galtung membantu kita memahami multidimensi kekerasan di Papua dan memikirkan solusinya secara baru. Galtung dalam Theory of Violence membagi kekerasan atas tiga tingkat: kekerasan langsung, struktural, dan kultural.

Kekerasan langsung, mulai dari kekerasan di dalam rumah tangga hingga perang atau operasi militer, adalah wujud kasatmata dari kekerasan. Kekerasan struktural tertanam dalam struktur-struktur sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Kekerasan model ini termanifestasi dalam berbagai bentuk ketidakadilan, eksploitasi, represi, dan marjinalisasi. Kekerasan kultural ada dalam pola perilaku, kerangka berpikir, ideologi, bahasa, dan falsafah. Kekerasan jenis ini, walau tak kasatmata, melegitimasi kekerasan langsung dan struktural.

Masyarakat asli/adat yang termarjinalisasi dalam proses pembangunan dan eksplorasi sumber daya alam adalah contoh kekerasan struktural. Tengoklah kondisi hidup orang Amungme di Mimika atau orang Waris-Senggi-Web di Keerom. Ketika korporasi tambang, kayu, dan perkebunan mengeruk untung di tanah leluhur mereka, mayoritas orang asli hidup dalam kemiskinan, tanpa pelayanan pendidikan dan kesehatan yang memadai, tanpa akses pada listrik, air bersih, dan jalan.

Pada aras horizontal, masyarakat asli dipaksa bersaing dengan ”pendatang” yang jumlahnya kini melebihi penduduk asli. Penduduk non-Papua umumnya mendiami kota dan menguasai sentra-sentra ekonomi. Kombinasi berbagai faktor, seperti keterampilan, etos, modal, dan jejaring, menyebabkan pendatang lebih menikmati kesempatan dan hasil pembangunan. Kesenjangan ekonomi asli dan pendatang, selain persoalan politik, jadi sumber ketegangan baru di Papua.

Dua wujud kekerasan itu dilegitimasi dan dilanggengkan oleh kekerasan kultural. Dalam kaitan dengan konflik politik, relasi pemerintah pusat dengan elemen masyarakat Papua masih diwarnai ketidakpercayaan. Orang Papua yang kritis langsung digeneralisasi sebagai separatis dan dihabisi aparat negara, sementara desakan mereka untuk dialog yang jujur tak kunjung ditanggapi.

Secara ekonomi, ideologi kapitalis-liberal membuka Papua bagi investasi berbasis eksploitasi SDA dan membiarkan masyarakat adat yang polos bersaing dengan pemodal dalam pertarungan yang asimetris. Secara sosial budaya, kekerasan kultural mewujud dalam budaya patriarkat untuk kekerasan domestik serta mentalitas sukuisme-rasisme untuk konflik sosial. Inilah akar kultural rangkaian kekerasan di Papua.

Jadi, kekerasan di Papua bukanlah semata-mata insiden, melainkan kondisi darurat lingkaran setan yang brutal, bersumber pada komplikasi kekerasan langsung, struktural, dan kultural.

Pembangunan Transformatif

Tak ada cara lain menghentikan kekerasan selain dengan menghentikan kekerasan. Mengutip Gandhi, tidak ada jalan menuju perdamaian, damai itulah jalannya. Konkretnya?

Pertama, potong mata rantai kekerasan dengan stop kekerasan politik. Semakin banyak aktivis Papua disiksa dan dibunuh, makin dalam antipati mereka terhadap Indonesia. Semangat Papua merdeka tidak sekadar hidup di hutan gerilya, tetapi juga dalam sanubari korban kekerasan aparat dan kekejaman pembangunan.

Kedua, tegakkan hukum sipil serta perbaiki kapasitas aparat untuk mengelola konflik sosial dan mengatasi amuk massa. Di tengah komplikasi konflik vertikal dan horizontal, pemerintahan pada semua level di Papua semestinya dibekali kemampuan fasilitasi dan resolusi konflik.

Ketiga, wujudkan pembangunan yang transformatif. Salah satu akar konflik Papua adalah paradoks pembangunan. Jangan percepat atau perpanjang pembangunan eksploitatif dan represif. Sejumlah agenda pembangunan transformatif itu sudah sering disuarakan, di antaranya ”selamatkan manusia dan alam Papua”; penuhi hak-hak dasar, kontrol migrasi; laksanakan kebijakan afirmatif dalam UU Otonomi Khusus; dan stop eksploitasi alam, ibu bumi mereka.

Keempat, hentikan diskriminasi dan memandang rendah orang asli Papua. Pengalaman pahit orang Papua selama 50 tahun melahirkan apa yang disebut memoria passionis, pengalaman penderitaan kolektif. Butuh pengalaman manis, solidaritas, keadilan, dan empati untuk memulihkannya. Selain itu, akar lain dari budaya kekerasan di Papua juga harus direfleksikan dan diubah oleh orang Papua sendiri. Orang Papua mesti belajar hidup dalam keberagaman dengan berbagai kelompok suku bangsa, sambil dengan penuh percaya diri membangun masa depan mereka sendiri.
Sumber: Kompas, 29 Desember 2012

Gadis Pelelang Keperawanan "Terdampar" di Bali

Anda masih ingat Catarina Migliorini? Ya, dia adalah gadis Brasil berusia 20 tahun yang melelang keperawanannya seharga Rp 7,5 miliar, yang konon hasil dari lelang ini akan digunakannya untuk kepentingan amal.

Nah, Catarina ternyata hingga saat ini masih perawan karena sang pemenang lelang pria Jepang bernama Natsu belum mengambil "hadiah"-nya. Catarina kini sedang menuju ke Australia, tetapi dia kini "terdampar" di Bali sembari menunggu Pemerintah Australia mengabulkan permohonan visanya.

Justin Sisely, pembuat film Australia yang mendokumentasikan Catarina, berencana, hubungan seks Natsu dan Catarina akan dilakukan di atas pesawat terbang yang akan membawa mereka dari Bali menuju Australia untuk menghindari masalah hukum di Indonesia.

Awalnya, Catarina dijadwalkan kehilangan keperawanannya pada November lalu. Namun, menurut juru bicara Justin Sisely, Frank Thorne, rencana itu berubah karena beberapa hal.

"Perubahan ini menyesuaikan dengan perkembangan pembuatan dokumenter," kata Thorne kepada The Huffington Post.

"Saat ini, semua proyek ditunda hingga tahun baru. Jadi, kami belum bisa banyak berkomentar saat ini," lanjut Thorne.

Jika visa Catarina dikabulkan Pemerintah Australia, proses produksi dokumenter ini selanjutnya akan dilanjutkan di Negeri Kanguru.

"Setelah visa Catarina dikabulkan, kami akan melanjutkan proses penyempurnaan dokumenter di Australia," kata Juston Sisely kepada Huffington Post melalui surat elektroniik.

"Saya yakin sistem hukum Australia tidak berkeberatan dengan lelang dan lain-lainnya. Itulah sebabnya mengapa proses selanjutnya kami lakukan di sana," ujar Justin.

Jika dilanjutkan di Australia, proses dokumenter ini akan menggagalkan upaya Jaksa Agung Brasil Joao Pedro de Saboia Bandeira de Mello Filho untuk menyelidiki kasus lelang keperawanan ini. Jaksa Agung Brasil curiga kasus ini tak lebih dari sebuah kasus penyelundupan manusia.
Sumber: Kompas.com, 27 Desember 2012
Ket foto: Catarina Migliorini

2013

Oleh Sarlito Wirawan Sarwono
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Tahu-tahu sudah mau tahun baru lagi. Waktu zaman mahasiswa dulu (zaman Orde Lama), malam tahun baru berarti patungan carter bus kota (dulu mereknya Robur, bikinan Hungaria), pakai jas dan dasi (dulu belum ada gaya punk rock), jemput cewek-cewek mahasiswi (tinggalnya semua di daerah Menteng, anak-anak elite bangsa pada masa itu), dan cari tempat-tempat dansa di hotel-hotel seperti Hotel Des Indes (di Harmoni) atau Hotel Indonesia (Bali Room).

Kami datang lewat tengah malam supaya sudah banyak tamu pulang dan banyak kursi kosong, masuk tak perlu pakai tiket lagi dan band masih main. Tujuan kami memang cuma mau dansa-dansi doank sesudah puas keliling-keliling kota sambil niup-niup terompet menunggu tengah malam, pergantian tahun, di dalam bus atau di tepi jalan. Di zaman Orde Baru, saya sudah lebih mapan. Kadang-kadang saya mendapat undangan, kadang-kadang juga diajak teman untuk malam tahun baruan.

Salah satu cewek yang di zaman Orde Lama ikut di Bus Robur, di zaman Orde Baru ikut lagi sama saya, tetapi sebagai ibunya anak-anak (kini sudah punya anak tiga, tetapi masih okelah dibawa ke pesta). Dari sore sudah nongkrong berdesak-desakan (satu meja untuk 10 orang diisi 12 orang), sambil makan (tambah gendut, makin sesak lagi kursinya), sambil dansa-dansi, gaya tahun 1960-an: jive, cha-cha, waltz, foxtrot dan rhumba (belum ada yang bisa salsa). Pas jam 00.00 nyanyi Auld Lang Syne, tiup-tiup terompet dan cium kanan, cium kiri.

Semua aja dicium, kenal gak kenal. Kalau ada istri orang yang cantik, biarin gak kenal juga disamperin dan dicium saja. Namanya juga usaha. Di zaman Reformasi ini, semangat untuk bertahun baru sepertinya sudah berubah. Bukannya tidak mau senang-senang bertahun baruan, tetapi beberapa tahun terakhir ini formatnya selalu nonhotel.

Lokasinya selalu rumah salah satu keluarga, ngumpul bareng keluarga dan teman-teman dekat, acaranya bakar-bakar daging sapi, kambing, ayam, ikan, udang, dan cumi-cumi. Kalau teman-teman saya pemain band kebetulan tidak dapat job malam tahun baruan, kami ajak untuk meramaikan acara, nyanyi-nyanyi, joget-joget. Sampai lombo, sampai loyo, sampai lewat tahun baru.

Tapi khusus untuk tahun 2012 yang segera berakhir ini, ada yang menurut saya unik karena belum pernah ada sebelumnya, yaitu baying-bayang hari kiamat. Diawali dengan film Holywood keluaran tahun 2009 yang bertajuk 2012, orang sudah mulai waswas tentang kiamat yang akan terjadi tahun ini. Bagaimana ya, kalau beneran terjadi? Tapi waswasnya orang Indonesia tidak segawat kekhawatirannya orang Amerika.

Banyak orang Amerika, saking rasionalnya, yakin sekali bahwa kiamat akan jatuh pada 21 Desember 2012 karena pada tanggal itulah berakhirnya kalender suku bangsa Maya yang dibuat 6.500 tahun yang lalu. Pada tanggal itu, sebuah planet Nibiru yang juga ditemukan oleh suku bangsa Maya akan menabrak bumi dan kiamatlah kita. Maka macam-macamlah kelakuan orang-orang pintar di AS itu agar selamat dari kiamat (wong kiamat, kok selamat, kontradiksi, kan).

Salah satunya adalah memelihara kelinci agar bisa dimakan dagingnya dan tidak perlu nyetok bahan makanan dari supermarket dan tidak perlu menyimpannya di lemari es. Logis juga, kalau ada lemari es, mau dapat listrik dari mana? Tapi orang-orang pinter di Amerika yang keblinger soal kiamat ini bukan barang baru.

Di tahun 1997, 39 orang anggota sekte Heaven’s gate ramai-ramai bunuh diri massal di California bagian selatan karena percaya bahwa kiamat akan tiba sesuai dengan ramalan kitab Injil versi mereka sendiri. Di tahun 2011, seorang pendeta bernama Harold Camping menyiarkan lewat radionya, Family Broadcast, bahwa kiamat akan jatuh pada 21 Mei 2011. Banyak pendengar yang fanatik dan percaya menjual harta miliknya untuk menyebarluaskan berita tentang kiamat itu.

Tentunya ramalan itu tidak terbukti, tetapi Camping tidak putus asa. Dia undurkan tanggal kiamat menjadi 11 November 2011. Ternyata tidak terjadi lagi. Tampaknya si Camping yang sudah berusia 90 tahun itu merasa bahwa kiamatnya sendiri sudah dekat, tetapi dia tidak mau sendirian sehingga mengajak-ajak orang lain sedunia. Tentu saja ramalan kiamatnya orang Maya juga tidak terbukti.

Buktinya malah Anda semua masih bisa membaca artikel ini sesudah tanggal 21 Desember 2012 itu. Tapi tidak berarti di masa depan tidak akan ada lagi orang yang percaya pada tanggal jatuhnya hari kiamat. Namun yang pasti itu bukan orang Indonesia. Orang Indonesia, terlepas dari apa pun agamanya, percaya bahwa hari kiamat itu rahasia Tuhan. Tidak ada orang yang bisa meramalnya walaupun dengan ilmu dan teknologi secanggih apa pun.

Begitulah kita dididik oleh para orang tua kita dan guru-guru kita semua. Tapi orang Indonesia masih percaya pada rahasia alam seperti jodoh, pangkat, rezeki, dan sebagainya, yang masih bisa ditembus dengan kekuatan gaib, arwah, roh halus, bahkan doa sehingga tempat-tempat bertapa seperti Gunung Kawi tidak pernah sepi. Khususnya menjelang tahun-tahun baru sekarang ini, para peramal pun panen order dari stasiun-stasiun televisi.

Ramalan mereka macam-macam, ada bencana ini-itu, akan datang pemimpin Ratu Adil atau Satrio Piningit dan sebagainya dan banyak orang percaya. Primbonnya bukan kalender Maya, tetapi ramalan Joyoboyo. Padahal kalau kita replay ramalan para peramal (yang namanya seram-seram itu) dari tahun yang lalu, pada akhir tahun berikutnya terbukti banyak yang tidak benar.

Anehnya, orang masih tetap saja percaya pada ramalan-ramalan bohong seperti itu, sementara ramalan yang sudah pasti jitu justru tidak digubris. Misalnya, Jokowi sudah meramalkan bahwa walaupun sudah tujuh alat keruk yang dikerahkan untuk membersihkan pintu air, kalau masyarakat tetap saja membuang sampah (bukan hanya sampah dapur, melainkan juga sampah kasur, bahkan sampah lemari es atau pesawat televisi) ke sungai atau saluran air itu, pasti pintu air akan mampet lagi dan banjir akan terulang.

Nyatanya masyarakat masih membuang sampah dan ketika sekarang hujan mendera Jakarta dan banjir melanda, Jokowi malah ditagih janjinya, ”Katanya mau membuat Jakarta bebas banjir? Mana buktinya?” Masya Allaaah .... 

Sekarang apa yang harus kita lakukan dalam malam Tahun Baru 2013? Makan-makan, nyanyi-nyanyi, bahkan dansa-dansi (istilah sekarang: ajebajeb) buat yang masih doyan, ya silakan saja. Namanya juga menyambut tahun baru. Tapi jangan lupa doa. Agama apa pun, sangat baik kalau kita berdoa.

Doa itu secara psikologis menguatkan harapan-harapan dan mengukuhkan niat kita untuk melakukan sesuatu yang baik. Dalam Islam, kalau sudah berniat baik, maka sudah dicatat pahalanya di register malaikat walaupun belum berbuat apa-apa. Lain lagi kalau niatnya jahat. Kalau baru berniat saja, niat jahat belum dicatat. Niat jahat baru dicatat jika sudah dilaksanakan.

Tapi buat kita yang orang baik-baik, jangan sampai tidak melaksanakan niat dan doa kita. Petani yang berniat mencangkul sawahnya sudah mendapat pahala, tetapi tidak mungkin ia panen padi kalau ia tidak benar-benar mengayunkan cangkulnya. Petani itu boleh jadi mati masuk surga dengan tabungan pahala berkat niat-niat baiknya, tetapi ia meninggalkan anak istrinya yang kelaparan.

Sebaliknya, kalau sudah ketahuan ada orang berniat jahat, misalnya mau ngebom hotel tempat orang dansa-dansi, walaupun malaikat belum mencatat dosanya, Densus 88 sudah harus menangkapnya sebelum dia benar-benar melaksanakan niatnya itu. Selamat Tahun Baru 2013.
Sumber: Sindo, 30 Desember 2012 

Demokrat Akhirnya Tetapkan Benny-Nope

Written By ansel-boto.blogspot.com on Saturday, December 29, 2012 | 12:43 PM

DPP Partai Demokrat akhirnya menetapkan pasangan Benny Kabur Harman-Wellem Nope sebagai calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 2013-2018 untuk bertarung dalam arena pemilu gubernur pada 18 Maret 2013.

"Tadi malam (Jumat, 28/12 malam, red), DPP Partai Demokrat telah menetapkan Benny-Nope sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur," kata Sekretaris DPD Partai Demokrat NTT Jonathan Kana ketika dihubungi di Kupang, Sabtu.

Ia mengatakan setelah adanya keputusan dari DPP Partai Demokrat maka DPD Partai Demokrat NTT akan segera mendaftar pasangan tersebut di KPU NTT untuk bertarung dalam arena Pilgub NTT 2013.

Pendaftaran bagi calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur NTT telah dibuka KPU NTT sejak 26 Desember 2012 dan akan berakhir pada 2 Februari 2012.

Kandidat yang sudah mendaftar adalah pasangan "incumbent" Frans Lebu Raya-Benny Litelnoni (Frenly) yang diusung PDI Perjuangan dan koalisi sejumlah partai politik.

Selain itu, pasangan Esthon L Foenay-Paul Tallo yang diusung Partai Gerindra dan koalisi partai politik, juga telah mendaftar di KPU NTT pada 28 Desember 2012 atau dua hari setelah pasangan Frenly.

Kana mengungkapkan proses penetapan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur NTT dari Partai Demokrat berlangsung cukup alot dan panjang, sehingga baru diputuskan Jumat (28/12) malam.

Ketika ditanya soal partai koalisi yang bakal mendukung Demokrat untuk pasangan calon tersebut, ia mengatakan saat ini pihaknya masih sedang melakukan komunikasi dengan sejumlah partai koalisi karena Partai Demokrat belum memenuhi syarat untuk mengusung calon sendiri.

Dia menambahkan, Partai Demokrat hanya memiliki tujuh kursi di DPRD NTT, sehingga tidak cukup mengusung calon sendiri karena harus membutuhkan tambahan dua kursi.

Karena itu, tidak ada pilihan lain kecuali mencari mitra koalisi untuk bersama-sama mengusung pasangan dari Partai Demokrat.

"Kami sedang membangun komunikasi politik dengan beberapa partai politik yang memiliki perwakilan di DPRD NTT, karena Partai Demokrat membutuhkan tambahan dua kursi untuk bisa mengusung calon," ujarnya.

Dia berharap, dalam waktu satu atau dua hari ke depan ini, semua hal yang berhubungan dengan partai koalisi sudah terselesaikan, sehingga pasangan Benny-Nope segera didaftarkan ke (KPU).
Sumber: Antara, 29 Desember 2012.
Ket foto: Benny K Harman, Calon Gubernur NTT usungan Partai Demokrat
Sumber foto: Repro Tempo.co/Imam Sukamto

Jalan Terjal Menuju Keadaban Politik

Oleh Benny Susetyo
Pemerhati Sosial

TERKUAKNYA berbagai kasus korupsi di negeri ini di satu sisi menunjukkan realitas buruk politik kita dan di sisi lain bisa menjadi secercah harapan pemberantasan korupsi. Satu per satu pejabat yang terlibat mulai diusut keterlibatannya. Publik menunggu akankah secercah harapan itu merupakan kesungguhan penegak hukum untuk memberantas korupsi atau sekadar angin lalu.

Sepanjang 2012, publik menunggu penuntasan beberapa skandal besar korupsi yang sejauh ini kabur. Skandal-skandal korupsi itu sudah jelas menunjukkan bahwa pemerintahan yang selama ini mencitrakan diri sebagai `bersih' dan `pemberantas koruptor' nyatanya sama sekali tak terbukti.

Wajah peradaban politik semakin suram karena korupsi yang tampak dibiarkan dan tidak dianggap sebagai masalah serius. Terutama ketika bagian utama kekuasaan justru berada sangat dekat dengan skandal tersebut. Semua serba-ditutupi, dipolitisasi, direkayasa, dan bahkan masih dicitrakan sedemikian rupa agar tampak baikbaik saja. Seperti yang terjadi di era Orde Baru, korupsi yang berada dekat di areal kekuasaan memang nyaris tak bisa disentuh oleh hukum. Tapi kita semua diingatkan, membiarkan korupsi khususnya yang berada di areal kekuasaan hanya akan membuat keadilan akan mati, cepat atau lambat.

Kekuasaan telah melenakan penguasa. Kekuasaan yang semestinya menjadi alat untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat, nyatanya diselewengkan hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan. Kita mendapatkan pelajaran utama, bahwa kekuasaan beserta birokrasi di dalamnya sangat rentan disalahgunakan bila tidak dipegang orang-orang yang sungguh-sungguh ingin menciptakan kebaikan untuk negeri ini. Kekuasaan hanyalah medium kejahatan bagi para politisi karbitan untuk memperkaya diri sendiri.

Terbuai Kekuasaan

Kekuasaan yang telah diraih sering menjadi bumerang untuk melupakan rakyatnya. Ritus seperti ini terus berlangsung tanpa ada perubahan untuk memperbaiki apa sebenarnya yang ingin diperjuangkan sebuah partai politik.

Rakyat sudah tahu saat ini tampaknya jurus elite politik kita begitu lihai dalam memainkan kata-kata. Kata-kata mereka sulit diprediksi, karena kata-kata yang keluar dari elite politik kerap membias dan bercabang. Ini membuat komitmen mereka sulit untuk dipertanggungjawabkan kepada publik. Publik kerap dikecoh dengan `akrobat' politisi dan kata-kata manis para elite. Padahal di balik permainan kata-kata tersebut, terdapat intrik yang mengelabui.

Ini terjadi karena partai politik, tempat mereka digembleng, sejak awal tidak memiliki kepekaan terhadap mereka yang tertindas. Tema `tertindas' hanya dijadikan sebagai alat politik semata, tetapi mereka tidak memiliki political will untuk memperjuangkan kesejahteraan bagi mereka. Partai politik di Tanah Air tercinta ini sering menjadikan rakyat miskin sebagai tumbal. Suka tidak suka, inilah wajah kepolitikan kita.

Visi mereka tidak digerakkan kesadaran bahwa dalam berpartai berarti membangun sebuah keadaban politik untuk menuju sebuah habitus baru: habitus solidaritas dan kesetiakawanan. Nilai-nilai itu belum menjadi acuan dalam segala kebijakan penguasa.

Elite politik pun enggan belajar dari fenomena bahwa rakyat sudah tidak memiliki kepercayaan yang akurat terhadap partai. Bahkan rakyat juga sudah mulai meninggalkan tokoh-tokoh anutannya. Hal itu merupakan manifestasi dari kekecewaan rakyat. Kekecewaan itu lahir dari akumulasi tindakan elite politik yang tidak sering memenuhi harapan akan terciptanya tata keadilan.

Akibatnya, keadilan sejauh ini hanya dimiliki mereka yang memiliki kekuatan ekonomi dan akses kekuasaan. Jumlah mereka sangat sedikit, tapi mereka inilah yang mampu mengendalikan republik ini. Tangan mereka sangat berkuasa untuk mengatur kebijakankebijakan yang kerap merugikan golongan rakyat luas.

Golongan kecil ini mengatur dan mengintervensi kebijakan negara, dan tanpa disadarinya terus-menerus memerosokkan rakyat ke dalam sebuah lumpur pekat. Lumpur pekat itu membuat kaum miskin tetap miskin. Kaum miskin terpola sebagai kaum tak berdaya. Akibatnya, adalah bahwa kebijakan negara kerap membuat kaum miskin dalam posisi yang tidak memiliki daya tawar.

Sistem dan Budaya Korup

Masalah korupsi di negeri ini sudah begitu mendarah daging sehingga orang yang bersih bisa tersangkut melakukan korupsi karena berada dalam sistem dan budaya yang korup. Masalah ini sangat serius karena menyangkut masa depan gelap negeri ini.

Namun, para politisi dan penyelenggara negara belum juga menganggap sebagai sesuatu yang serius. Dapat di lihat dari perilaku politisi kita yang tidak bisa keluar dari pola politik pragmatis untuk keuntungan dirinya sendiri. Kepentingan masa depan bangsa sudah tak lagi menjadi bagian dari perilaku kehidupan politik mereka. Yang dipikirkan hanyalah jabatan dan uang. Dalam merancang dan menjalankan beragam kebijakan, yang diutamakan adalah dirinya ‘mendapat apa’, bukan bagaimana rakyat mendapat tempat yang adil di negeri ini.

Politik kita benar-benar telah kehilangan keadabannya. Para politisinya cenderung buas, terutama ketika hasrat untuk meraih kedudukan dilakukan tanpa memperhatikan etika dan keutamaan publik. Inilah wajah masa depan politik Ind donesia yang dapat kita lihat h hari ini. Perebutan jabatan dan permainan uang menjadi roh utamanya. Etika dan paham keutamaan publik hanya menjadi pemanis mulut.

Uang menjadi faktor paling penting dibandingkan dengan gagasan dan ideologi. Partai politik telah menjadi alat untuk memenuhi hasrat pribadi-pribadi daripada merupakan persemaian gagasan dan perjuangan ideologi. Semua demi uang dan jabatan. Rakyat hanyalah kamuflase dalam pidato-pidato politisinya.

Inilah yang membuat negeri kita semakin hari tidak semakin kuat, malah semakin rapuh dan keropos. Bangunan politik hanya dilandasi dengan kepentingan material. Akibatnya, politik menjadi sandera an para pemodal. Karena yang dipikirkan adalah kepentingan pribadi, politik sudah tak lagi sanggup me mikirkan kepentingan kemanusiaan. Tidak ada lagi kepedulian yang nyata untuk melindungi rakyat kecil, semua itu hanya sandi wara media.

Kekuasaan pun cenderung digunakan untuk melayani `yang punya uang'. Ia tak bisa keluar dari lingkaran setan itu. Rakyat adalah konsumen yang bila ia tak memiliki uang, ia tak mendapatkan pelayanan. Kekuasaan cenderung menginjak yang miskin. Politik lalu bukan menjadi tempat yang nyaman untuk memperjuangkan kepentingan publik. Politik adalah untuk memenuhi hasrat material pribadi atau golongan-golongan. Politik kita mengalami disorientasi yang sangat fatal, dan parahnya itu sudah membudaya ke segala aspek kehidupan.

Jalan Terjal

Jalan terjal menuju keadaban politik kita pun semakin jauh. Samar-samar dapat kita lihat betapa kekuasaan politik digunakan secara sewenangwenang untuk melayani kepentingan pribadi, golongan, dan kroni-kroni. Suka tidak suka itulah yang terjadi di era reformasi ini.

Kita membutuhkan perubahan secepat-cepatnya, atau semua ini akan mewarnai wajah gelap masa depan kita. Kita membutuhkan momentum untuk berubah sebelum semuanya terlambat. Indonesia bukanlah milik generasi hari ini saja, melainkan akan diwariskan pada generasi mendatang.

Kita harus menegaskan kembali makna berpolitik dan berkekuasaan, mengembalikan makna berpolitik untuk kepentingan perjuangan semesta, untuk membangun Indonesia menjadi negara yang makmur dan luhur. Berpolitik bukan jurus aji mumpung untuk sekedar meraih kekuasaan. Berpolitik adalah seni untuk membangun kemajuan bangsa.

Politik bukan bisnis, di mana segala transaksi bermotifkan nilai ekonomis. Berpolitik adalah untuk membangun bangsa ini dengan penguasa yang berpihak kepada rakyat, bukan kepada mereka yang memiliki uang semata. Semua komponen bangsa ini bertanggung jawab untuk mengingatkan agar politisi kita berjalan sesuai koridor dan etika. Agar mereka tidak salah arah dalam menuntun bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik.
Sumber: Media Indonesia, 28 Desember 2012

Presiden-Wakil Presiden Hadiri Perayaan Natal Nasional

Written By ansel-boto.blogspot.com on Thursday, December 27, 2012 | 8:48 PM


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono serta Wakil Presiden Boediono didampingi Ny Herawati Boediono menghadiri perayaan Natal Nasional 2012 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (27/12/2012) malam.

Perayaan Natal itu juga diikuti jajaran menteri, pimpinan lembaga tinggi negara, duta besar negara sahabat, serta seribuan jemaat.

Tema Natal tahun ini, yakni "Allah Telah Mengasihi Kita". Adapun subtema, yakni "Mari kita berbagi sukacita dan damai Natal agar semua orang hidup penuh harapan."

Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2012 Nafsiah Mboi, yang juga Menteri Kesehatan, mengatakan, melalui tema itu, umat Kristiani mengajak bangsa Indonesia untuk bersama-sama membangun hubungan antarsesama manusia dengan menjauhi segala hal yang merusak.

Perayaan Natal juga diisi kegiatan bakti sosial di sejumlah daerah, yakni di Waypanji Lampung Selatan, Pulau Yapen Papua, Kabupaten Asmad Papua, Singkawang Kalimantan Barat, dan Tanah Toraja Sulawesi Selatan.

Bakti sosial itu berupa pengobatan gratis, pembagian sembako, peralatan sekolah, pakaian, alat-alat pertanian, uang dan semen untuk rehabilitasi rumah penduduk dan rumah ibadah, baik gereja maupun masjid.
Sumber: Kompas.com, 27 Desember 2012
Ket foto: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bersama Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi (kiri), dan Wakil Presiden, Boediono (kanan)

Pesan Sosial Natal 2012

Oleh Velix Wanggai
Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah

Di akhir tahun 2012 ini, kaum Kristiani di Tanah Air merayakan Hari Natal dengan penuh sukacita. Pelaksanaan kebaktian dan misa natal di gereja Katedral dan gereja lainnya di Jakarta berlangsung khidmat, meskipun beberapa titik kota Jakarta diguyur hujan. Natal menjadi salah satu titik sentral dari peribadatan iman Kristiani. Alkitab memang tidak memberi informasi tentang 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus, tetapi Natal sudah identik dengan tanggal 25 Desember.

Di dalam sejarahnya, Kristus lahir di Betlehem, Yerusalem, daerah Palestina yang saat ini dibawah penguasaan zionis Israel. Sejarah kelahirkan Kristus penuh dengan kesederhanaan. Di dunia spiritual Islam (tasawuf), para sufi sering mempersonifikasi dirinya dengan Isa Al-Masih, sosok yang menjauhi kemewahan duniawi. Menurut sejarah para Nabi yang diyakini kaum Muslim, Nabi Isa adalah sosok yang terlampau sederhana jika dibandingkan dengan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman yang sangat kaya raya.

Para pengkhutbah Kristiani pun sering mewacanakan Hari Natal sebagai hari yang penuh kesederhanaan. Hal ini sangat kontekstual dengan kondisi kehidupan modern yang penuh dengan kehidupan mewah dan serba gemerlap. Dengan kemewahan dan kegelimangan harta, terkadang manusia mudah melupakan sesamanya, bahkan melupakan Tuhannya. Itu sebabnya, pesan-pesan natal selalu mengarahkan umat Kristiani untuk berdamai dan berbagi dengan sesama.

Pesan-pesan natal juga sarat dengan semangat kesetiakawanan sosial nasional yang kini sedang digemakan di seluruh penjuru Tanah Air. Selaku Ketua Umum Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) Tahun 2012-2013, tanggal 20 Desember yang ditetapkan sebagai HKSN berkelindan dengan 25 Desember sebagai Hari Natal. Keduanya bisa dipadukan di dalam satu tarikan nafas berbagi untuk sesama.

Perkataan "Nashara" (Nasrani) di dalam Al-Qur'an berarti "para penolong" dapat dihubungkan dengan sifat-sifat Kristus yang suka menolong setiap orang yang mengalami kesusahan. Di dalam Alkitab, dijelaskan bahwa Kristus datang untuk membebaskan domba-domba yang sesat dari keluarga Israel. Sikap ini tentu menjadi tauladan bagi umat Kristiani dan semua komponen bangsa untuk selalu berbagi dan memberi pertolongan pada sesama saudara sebangsa yang masih membutuhkan bantuan.

Kita adalah bangsa yang besar, terdiri dari pelbagai suku bangsa dan bahasa, juga agama. Kebersaran itu akan terjaga dari perpecahan apabila kita mampu merawat keragaman yang kita miliki. Pengalaman sejarah bangsa Indonesia sudah sangat jelas, dimana peran semua kelompok suku dan agama bahu-membahu. Kemiskinan dan keterbelakang yang masih melilit sebagian dari masyarakat kita tak akan kunjung teratasi tanpa kesediaan kita untuk saling memberi pertolongan.

Dari sisi kebijakan, pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden SBY telah mengeluarkan program pengentasan kemiskinan lewat paket program pro-rakyat, berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT), Kredit Usaha Rakyat (KUR), Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri perkotaan dan perdesaan maupun paket rumah, angkutan dan listrik murah serta penataan kehidupan kumuh perkotaan dan perkampungan nelayan.

Sila keadilan sosial memayungi semua bangsa Indonesia. Dengan sila itu, kebijakan pembangunan di era Presiden SBY berorientasi inklusif. Artinya, tidak ada yang lebih berhak menikmati pembangunan itu melainkan menjadi hak semua warganegara. Semangat Kasih Kristus yang diibaratkan seperti sungai terus mengalir tiada henti. Kita harapkan air kasih dari telapak tangan dan jari-jemari saudara-saudara umat Kristiani itu tidak harus memilih-milih ke arah mana saluran berkat itu akan mengalir, karena kita semua adalah bersaudara.

Di dalam pilar kebangsaan itu, mari kita saling menghormati. Kita jaga kerukunan antarsesama pemeluk agama itu dengan sepenuh hati. Mari kita menjaga kesyahduan ibadah Natal 2012 ini dengan sikap toleran dan persaudaraan kebangsaan. Ajaran Natal Kristus tentang solidaritas untuk berbagi dengan sesama, sesungguhnya menjadi pesan penting dari solidaritas kebangsaan dan pencerminan watak sosial falsafah Negara Pancasila.
Sumber: Jurnal Nasional, 27 Desember 2012

Jefri Riwu Kore: Saya Dukung FRENLY


Anggota DPR RI asal Partai Demokrat, Jefri Riwu Kore mengaku dirinya tidak mendukung pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT yang diusung oleh Partai Demokrat dalam hajatan Pilgub NTT 2013-2018.

“Secara pribadi, saya dukung FRENLY (Frans Lebu Raya-Benny Litelnoni). Ini merupakan balas jasa saya atas sikap PDI Perjuangan yang mendukung saya maju sebagai Calon Walikota Kupang kali lalu. Itu yang saya ingat. Lagi pula FRENLY masih yang terbaik dan layak untuk dipilih lagi. Buktinya, semua survei menempatkan pak Frans di nomor urut 1,” ujar Jefri kepada sergapntt.com saat menghadiri natal bersama Gubernur NTT, Frans Lebu Raya di rumah jabatan (Rujab) Gubernur NTT di Jalan El Tari Kupang, Rabu (26/12/12) malam.

FRENLY sendiri diusung oleh PDI Perjuangan, PKB, PPP, HANURA, PKS dan telah mendaftar ke KPU Provinsi NTT pada Rabu (26/12/12) siang,  pukul 12.00 Wita.

Menurut Jefri, sejauh ini Partai Demokrat belum menetapkan paket calon gubernur dan wakil gubernur. “Saya juga termasuk tim 9. Tapi saya hanya ikut rapat pertama saja. Di hari-hari terakhir ini, saya tidak ikut rapat, karena saya sedang liburan di Kupang. Tapi,,, ada tiga figur calon gubernur yang sudah diusulkan ke majelis pertimbangan Partai Demokrat, yaitu Benny K Harman, Anita Gah dan Benny Bosu. Soal siapa yang ditetapkan, kita tunggu saja,” paparnya.
Sumber: sergapntt.com, 26 Desember 2012.
Ket foto: Anggota DPR RI dari Partai Demokrat Jefri Riwu Kore

Pertautan Politik dan Hukum

Written By ansel-boto.blogspot.com on Wednesday, December 26, 2012 | 6:21 PM

Oleh Sudjito
Guru Besar & Ketua Program Doktor Ilmu Hukum
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta

Partai Demokrat sedang dilanda “puting beliung”, porak-poranda, dan beberapa korban berjatuhan. Silaturahmi nasional (silatnas) yang semestinya diwarnai canda-tawa dalam keakraban dan jalinan kasih sayang justru berbalik dan bertolak belakang.

Saling mencaci, memaki, bahkan mengusir dari ruang sidang. Dalam kerangka menjaga nasionalisme, realitas politik praktis seperti ini layak dipandang sebagai warning sekaligus sampel yang mewakili watak dan jati diri partai politik pada umumnya di Indonesia. Terkait dengan realitas demikian, para pengamat mencoba membuat prediksi. Dengan bekal pengalaman dan kemampuan akal (rasio) dikemukakan berbagai pandangan.

Misalnya ini: ”Tantangan ke depan yang harus dihadapi Demokrat lebih besar daripada peluang yang bisa diraihnya. Akan sulit bagi Demokrat untuk bisa mendapatkan kembali momentum emas pada Pemilu 2004 dan 2009 yang membuktikan masa keemasan partai setelah memperoleh dukungan rakyat dengan suara meyakinkan pada pemilu legislatif dan pemilihan presiden” (Tajuk Sindo, 17/12). Prediksi masa depan partai besar yang sedang berkuasa memang layak diperhitungkan.

Bagaimanapun soliditas partai itu akan berpengaruh terhadap masa depan bangsa dan negara.Pengaruh itu akan positif ataukah negatif, tergantung komitmen partai itu terhadap dasar dan tujuan kita bernegara. Dalam berbagai kesempatan saya katakan bahwa pada keotentikannya, politik itu mulia. Politik dipelajari, diajarkan, dan dipraktikan untuk mengatur dan mengendalikan kekuasaan dalam pemerintahan demi melindungi dan menyejahterakan warganya.

Di situ kekuasaan hanyalah alat (as a tool) semata, sementara kesejahteraan warga (nation) merupakan fokus perhatiannya. Kekuasaan yang menurut Lord Acton cenderung korup perlu dikendalikan berdasarkan aturan (hukum) agar digunakan sebagaimana mestinya. Jadi, penggunaan kekuasaan itu atas dasar aturan dan bukan atas dasar kekuatan.

Semua aturan hanya dapat disebut sebagai hukum bila di dalamnya sarat muatan nilainilai moralitas dan integritas. Kejujuran, kesalehan, profesionalitas merupakan rohnya hukum. Pada gilirannya, berpolitik berdasarkan hukum menjadi santun, enak didengar ketika bicara, indah dilihat ketika bertindak, dan sejuk di hati karena dipraktikan dengan simpati, penuh empati, tanpa emosi. Pertautan antara hukum dan politik memang telah ada sejak kelahirannya.

Akan tetapi, ketika politik mendominasi atau mempermainkan hukum, rangkaian tindakan pemberantasan korupsi, pengisian jabatan menteri sampai proses peradilan tidak jauh dari sandiwara, kepura-puraan, yang ujungnya adalah kekuasaan. Menjadi menarik disimak pernyataan seorang tokoh Partai Demokrat bahwa kader partai yang bermain sinetron dalam politik, apalagi dengan peran antagonis, bicara keras dan kotor, melukai perasaan ketua partai pantas dilengserkan. Lengser dapat diartikan turun dan kembali pada asalmuasalnya.

Kembali ke asalmuasal tidak mesti bermakna buruk. Dalam perspektif hukum, merupakan kewajiban moral bagi setiap manusia untuk memahami hukum sampai ke dasar asal-muasalnya.Mengapa? Karena hukum sebagai norma/kaidah dalam keotentikannya merupakan “rumah nilai-nilai”. Nilai kebenaran (logika), kebaikan (etika), dan keindahan (estetika) merupakan kebutuhan rohaniah-spiritual manusia.

Nilai-nilai itu perlu terus dihadirkan dalam kebersatuan dengan peraturan maupun sikap dan perilaku manusia. Apabila cara berhukum terjaga demikian, berpolitik atas dasar hukum dipastikan rasional, santun, dan indah. Kehidupan bernegara hukum pun akan menjadi tata titi tentrem, nir ing sambekala, jauh dari kegaduhan maupun anarki ditukikkan lebih dalam lagi, asal-muasal hukum memberi dasar (fondasi) kerohanian kuat bahwa interaksi antar sesama manusia wajib dilakukan dengan “cinta”.

Elemenelemen cinta ada tiga, pertama, sanggup berkorban demi yang dicintai. Benarkah kita cinta kepada tanah air, bangsa dan negara ataukah justru mengorbankannya demi kepentingan pribadi? Kadar pengorbanan adalah ukurannya. Kedua, memberi kasih-sayang. Artinya, berinteraksi dengan sesama dilakukan dengan kelembutan. Suara hati yang didengar. Senyuman ramah yang diberikan. Kesejukan hati yang jadi idaman.

Ketiga, pelayanan setiap saat. Kecintaan manusia kepada Tuhan tecermin ketika dia mampu mengabdikan hidup dan kehidupannya hanya untuk mendapatkan keridaan-Nya. Kecintaan kita kepada bangsa dan negara perlu dibuktikan dengan bekerja secara profesional, transparan dan akuntabel sesuai dengan posisi, tugas dan amanah masingmasing. Dalam ihwal kasih sayang, kita bisa belajar dari alam. Lihatlah, kasih-sayang pohon, air, dan udara. Mereka menyebar kelembutan tanpa membeda-bedakan.

Setiap makhluk-entah manusia, harimau, semut, kambing —yang berteduh di pohon dipayungi dengan keteduhan daun-daunnya. Air, di mana pun berada, rela menjadi habitat bagi ikan, tanpa membedakan besar atau kecil, rela pula diminum manusia tanpa membedakan apakah dia pejabat ataukah rakyat jelata. Udara di mana pun rela dihirup oksigennya tanpa pernah minta bayaran. Semuanya memberikan kasih-sayang dengan lembut, tulus, dan ikhlas.

Asal-muasal hukum sebagai ”rumah nilai-nilai” memberi inspirasi bagi terwujudnya negara hukum sebagai ”rumah nyaman bagi semua penduduknya”. Itulah pikiran cerdas dan obsesi Satjipto Rahardjo (2000) tentang negara hukum Indonesia. Di negara hukum itu kebencian sudah dikikis habis sehingga yang tersisa hanyalah kasih sayang.

Meminjam kata-kata Robert Thurman dari Harvard University tentang ”enlightenment transcends all dichotomies”, bila diperluas dalam konteks bernegara hukum, maka dikotomi antara aku atau kamu, pusat atau daerah, pejabat atau rakyat mesti dirombak dan dibangun menjadi ”kita sebagai bangsa”. Jangan lupa, hukum dan politik yang dalam praktik berhadap-hadapan dan cenderung saling menyalahkan dapat dipersatukan kembali dalam bingkai kasih-sayang.
Sumber: Seputar Indonesia, 26 Desember 2012

Lamaholot Tidak Bakal Utuh Untuk Frans Lebu Raya


Warga Lamaholot atau disebut juga Watan Lema yang terdiri dari Flores Bagian Timur, Solor, Adonara, Lembata dan Alor tidak bakal utuh untuk calon gubernur dari Lamaholot, Frans Lebu Raya. Pasalnya ada beberapa persoalan yang mengganjal yang akan mempengaruhi keutuhan warga Lamaholot dalam Pemilukada gubernur NTT saat ini.

Pernyataan itu disampaikan tiga tokoh Lamaholot masing-masing  Mikhael Masa Patty dari Watan Adonara dan Ibrahim Imang serta H. Saleh Orang dari Watan Alor yang dihubungi secara terpisah, Minggu (23/12) melalui telepon seluler.

Masan Patty yang juga sebagai salah satu inisiator pembentukan Ikatan Keluarga Asal Lamaholot (IKAL) Kupang tahun 2007 lalu mengatakan,  tujuan pembentukan IKAL saat itu adalah sebagai wadah berhimpun masyarakat Watan Lema yang sedang mengadu nasib di kota Kupang.

Kemudian lanjut mantan Kapolres Timor Tengah Utara ini,  setahun kemudian yakni 2008 bersamaan dengan digelarnya Pemilukada Gubernur NTT, warga IKAL diarahkan untuk memenangkan Frans Lebu Raya yang saat itu berpasangan dengan Esthon Foenay. Perjuangan itupun membuahkan hasil dan mengantar mereka menjadi gubernur dan wakil gubernur NTT periode 2008-2013.

“Kekompakan hingga keberhasilan itu kemudian muncullah ikhtiar warga IKAL saat itu memenangkan figur Lamaholot yang akan maju bertarung dalam even pemilukada. Namun, ketika pilkada Kota Kupang yang diikuti oleh salah seorang anggota IKAL yakni Daniel Hurek, komitmen awal itu tidak dikobarkan. Orang Lamaholot di kota Kupang dikotak-kotakkan oleh kepentingan orang perorangan dan Parpol tertentu. Akhirnya orang Lamaholot terjun bebas. Karena itu jangan berharap banyak bagi warga Lamaholot baik di kota Kupang dan dimana saja untuk bersatu mendukung figur Lamaholot yang bertarung saat ini,” kata Masan Patty.

Hal senada juga disampaikan Ibrahim Imang dan Saleh Orang. Menurut mereka, warga Lamaholot baik yang berada di Watan Lema dan di Kota Kupang serta daerah lainnya di NTT tidak bisa diharapkan untuk secara bulat mendukung Frans Lebu Raya warga Lamaholot.

“Tentu siapa yang menabur angin akan menuai badai. Kalau kemarin pilkada Kota Kupang semua warga Lamaholot disatukan untuk mendukung orang Lamaholot yang bertarung sesuai dengan komitmen awal pembentukan IKAL, maka Pilgub ini tentu akan berlanjut. Ya, kita lihat saja nanti,” kata Saleh Orang.

Mantan Anggota DPRD Kota Kupang dari Fraksi Partai Golkar ini berpendapat, untuk menyatukan kembali keutuhan Lamaholot, semua tokoh di Kota Kupang harus duduk bersama dan menyatukan pikiran.

Berbeda dengan Saleh Orang, Ibrahim Imang menegaskan, sudah sangat terlambat untuk mempersatukan kembali warga IKAL di Kupang juga di daerah Watan Lema, karena sebagian besar sudah “terluka”.

“Kita sekarang terjun bebas. Yang pasti kami dari watan Alor sudah tidak akan diajak kompromi lagi mendukung figur Lamaholot dalam Pilgub tanggal 18 Maret 2013  mendatang. Kenapa harus terjadi seperti ini, saya harap petinggi Lamaholot merefleksikan diri dengan baik,” kata mantan Direktur Pemasaran PT Bank NTT ini (Oni).
Sumber: floresbangkit.com, 24 Desember 2012.
Ket foto: Frans Lebu Raya

Natal 2012


Oleh Putu Wijaya
Sastrawan

Memasuki bulan Desember, bahkan sejak sebulan sebelumnya, berdengung lagu white chrismast diseluruh dunia. Kendati dikawasan yang tidak sedang diguyur salju atau tidak pernah mengenal salju. Lagu yang menyambut hari natal itu meluncur di sela-sela kesibukan manusia. Dia telah menjadi bagian dari ritual untuk menyambut kehadiran kembali sebuah hari raya.

Hari saat para pemeluknya mengendorkan urat syaraf, mawas diri, menahan emosi, menyatukan pikiran dan perasaan pada sang pencipta. Suatu hari yang benar-benar dua puluh empat jam meniupkan angin damai, rasa bersyukur, instrospeksi dan retrospeksi agar mampu melihat ke depan dengan lebih jernih, menapak lebih baik, mencintai dan bersaudara dengan sesama.

Kehadiran hari raya, natal, serta hari-hari raya lainnya adalah sebuah berkah. Ada pikiran mulia yang telah menciptakan adanya hari raya-hari raya, natal dan hari-hari raya yang lain, yang kemudian menjadi ventilasi dalam kekisruhan dan kesumpekan beraneka warna perbedaan dan pertentangan yang ada di dunia. Karena pada hari raya itu setiap pemeluk/ umat masing-masing memadamkan emosi pertentangan dan perbedaan, untuk dapat meluruskan pikiran ke bawah kaki-Nya.

Perang pun mengunci mulut senjatanya, perselisihan dan pertentangan serta kesalah pahaman diakhiri dengan berjabatan tangan dan saling maaf memaafkan. Saling menyapa menghapuskan kemarahan untuk dapat kembali menyambung persaudaraan di dalam perbedaan apalagi persamaan.

Kehadiran sebuah hari raya, hari yang dianggap suci, memberikan irama baru yang segar pada kehidupan. Di dalam kalender, penanggalan hari raya selalu ditulis dengan warna merah. Bukan sebuah kebetulan, dalam lampu-lampu pengatur lalu lintas, warna merah berarti harus berhenti. Memberikan kesempatan pada arus lalu lintas dijalur lampu hijau mengalir leluasa.

Hari raya bagaikan sebuah simbol tempat setiap orang untuk memadamkan "Api" yang bergolak dalam batinnya untuk membiarkan "keteduhan" menggantikan untuk berkobar. Hari raya dengan demikian adalah sebuah seruan damai yang tidak diteriakkan dengan tangan terkepal, muka bengis, apalagi senjata, tapi sebuah bisikan yang sangat halus tapi meluluhkan.

Pada hari raya, setiap orang yang sehari harinya getol dan berambisi untuk merebut kemenangan dan sukses besar, menggemboskan dirinya. Luapan semangat individualnya terkikis , bahkan kadang kala habis. Itulah saat ia, setelah satu tahun, bahkan mungkin bertahun tahun melupakan asal usulnya, mendusin kembali. Ia akan rindu kepada kampung halaman, sanak saudara, handai taulan serta lingkungan masa kecilnya. Dan biasanya tanpa berfikir ekonomis seperti biasanya, ia akan membuka dompet atau menguras tabungannya untuk "pulang" agar bisa kembali bertemu dengan masa lalunya.

Demikianlah hari raya, natal dan lain-lainnya, telah dengan sangat rahasia tetapi indah, memanusiakan kembali manusia. Idiologi, panutan, aliran bahkan keyakinan tertentu tentang tujuan kehidupan yang semula begitu perkasa dan mengubah manusia menjadi "mesin" yang bahkan kadangkala bisa "tuli, bisu dan dableg", renyah kembali. Manusia menjadi kembali sederhana dan menghargai serta membutuhkan ikatan persaudaraan dengan manusia lain.

Sebuah lagu telah menjadi sebuah jembatan untuk menyadarkan kembali manusia pada kehadiran manusia lain. Walaupun lirik lagunya memang indah tapi arti dari lagu itu sendiri yang memberikan irama peringatan kepada kemanusiaan, telah menjadikan lagu bukan hanya semata mata lagu, tapi sebuah mantra. Sekali setahun mantra itu terdengar dinyanyikan oleh tahun-tahun yang terus berjalan atau berganti tanpa menunggu persetujuan manusia atau kekuasaan, membentuk sebuah siklus bahwa kemanusiaan dan persaudaraan, di dalam perbedaan walau sering dilupakan atau dibasmi oleh manusia atau kelompok manusia, akan terus berdegub dengan gagahnya.

Hari raya, semua hari raya, natal dan sebagainya adalah tempat untuk berharap bahwa perdamaian yang tak henti-hentinya dikejar oleh manusia, yang dengan susah payah diperjuangkan dengan "senjata" bukan sesuatu harapan kosong. Tetapi untuk memperjuangkannya, menjadikan sesuatu yang nyata, bukan otot yang diperlukan, bukan kegarangan yang diperlukan, bukan senjata dan pembunuhan-pembunuhan yang diperlukan, tapi keikhlasan. Selamat Hari Natal.
Sumber: Jurnal Nasional, 26 Desember 2012
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger