Peneliti Senior CSIS
Bulan depan, pertengahan Mei 2012, adalah tahun ke-14 pasca-terjadinya
peristiwa yang membuat luka batin bangsa Indonesia. Namun, petaka yang amat
memilukan itu ternyata dapat menggerakkan bangsa Indonesia mengubah bencana
menjadi energi nasional yang mampu menjungkirbalikkan rezim kekuasaan yang
represif. Pada saat bersamaan, bangsa Indonesia memperoleh kesempatan untuk
bangkit dan memahat tatanan kekuasaan yang beradab.
Sejarah peradaban umat manusia memang merupakan pergumulan antara tragedi
dan peradaban. Kebudayaan ternyata tidak hanya dibangun atas dasar ide-ide
besar yang cemerlang dan mulia, tetapi sering kali juga harus melalui berbagai
tragedi yang mengiris hati (Charles Segal, 1981, Tragedy and Civilization).
Dalam sekejap, tatanan kekuasaan Indonesia berubah. Kendali kekuasaan
negara yang semula hanya di tangan segelintir elite, atas nama reformasi dan
demokrasi, menjadi kapling-kapling politik yang dijadikan medan pertarungan
kepentingan elite politik baru. Kebebasan menjadi mantra yang tidak jarang
menjadi kekuatan anarkis yang mulai sulit dikendalikan.
Namun, di balik ingar-bingar demokrasi, rakyat sebagai pemegang kedaulatan
tetap menjadi penonton. Bahkan, mereka diperlakukan sebagai kasta yang selalu
menjadi obyek, komoditas politik, dan korban oleh perilaku sesat para elite
politik. Benih-benih peradaban politik diinjak-injak oleh elite politik yang
mengatasnamakan rakyat. Oleh karena itu, sinar yang memancar dari keterbukaan
politik, sebagai lentera penuntun ke arah tatanan kekuasaan yang beradab,
semakin meredup.
Manajemen kekuasaan yang salah urus mengakibatkan rakyat tetap diimpit
kesulitan hidup. Karena itu, rakyat semakin meragukan demokrasi yang selalu
didengungkan sebagai bangunan politik yang memuliakan kekuasaan, dapat
dijadikan sarana mewujudkan kemakmuran dan keadilan.
Rakyat justru menyaksikan jagat politik Indonesia keruh lebih dari satu
dasawarsa karena tercemar perselingkuhan transaksi kepentingan dan politik
dagang sapi. Akibat perilaku politik serong itu, lahirlah ribuan makhluk
politik yang mempunyai karakter dan perilaku Buto Cakil yang mendominasi
makrokosmos perpolitikan di Indonesia.
Konon, tokoh raksasa ceking bergigi mencuat ke atas, berdagu maju, dan
mempunyai watak angkara murka itu diciptakan pada zaman pemerintahan Sultan
Agung. Kemunculannya dalam pewayangan disebut adegan cakilan, sekadar
meramaikan suasana karena ia bukan bagian dari pakem dalam lakon apa pun.
Kehadirannya selalu diikuti dengan kematian, sangat cepat. Biasanya Buto Cakil
berkelahi dengan kesatria dan berakhir tragis karena gerakannya tidak
terkontrol, takabur, pongah, dan terburu nafsu sehingga ia mati tertikam
kerisnya sendiri. Ia menjadi lambang seseorang yang sering kena petaka karena
watak dan perilakunya yang serakah dan grusa-grusu.
Apa yang terjadi dalam jagat pakeliran tidak banyak berbeda dengan dunia
politik di Indonesia dewasa ini. Bedanya, tampilan fisik para Buto Cakil di
negeri ini lebih tampan dan cantik, kelimis, berbusana mewah, berperilaku
santun, murah senyum, serta kadang kala bersikap dermawan. Namun, watak dan
perilaku mereka seperti Buto Cakil dalam mengejar kenikmatan kekuasaan.
Agresivitas dan libido kekuasaan mereka dapat dipastikan semakin menggila
menjelang kompetisi akbar memperebutkan kekuasaan tahun 2014. Gejala tersebut
sudah sangat kasatmata, hampir semua kebijakan publik bermuatan agenda interes
politik kelompok sempit. Mereka juga seakan adu cepat mengajukan jago-jago
mereka meski masih berlumpur berbagai persoalan.
Politik mati rasa para Buto Cakil tersebut mengakibatkan masyarakat
merindukan kembali rezim kekuasaan yang 14 tahun dikutuk dan dicerca karena memonopoli
kebenaran. Memori publik dengan cepat digoda oleh kenangan sensasional dan
fatamorgana rezim masa lalu yang dianggap bisa menjamin tersedianya kebutuhan
dasar yang terjangkau. Impian tersebut sangat berbahaya karena rezim yang
represif dan otoriter tidak hanya memproduksi banyak Buto Cakil, tetapi juga
akan menciptakan berhala yang bernama Rahwono yang sangat sakti dan tidak dapat
mati. Ia adalah raksasa berkepala 10 dan bertangan 20 yang jauh lebih serakah
daripada Buto Cakil.
Oleh sebab itu, saat ini seluruh rakyat Indonesia justru harus
mengonsolidasikan diri melawan para Buto Cakil. Jangan pernah tergoda dengan
mimpi yang menyesatkan. Bangsa Indonesia mempunyai modal kesejarahan yang dapat
menjadi fondasi kehidupan yang lebih baik sehingga telah mampu mengukir
pakemnya sendiri sebagai bangsa yang mempunyai cita-cita luhur. Episode ini
pasti akan dilampaui, sebagaimana pesan dari kearifan lokal di atas karena
kesemrawutan politik di negeri tercinta ini hanya sementara, sebagaimana adegan
cakilan dalam jagat pakeliran.
Namun, dengan syarat bangsa Indonesia harus mampu menciptakan kesatria
pembela rakyat, tahan terhadap godaan kekuasaan, dan berpolitik karena
panggilan hidup. Rakyat juga tidak boleh menyerah membangun kekuatan yang dapat
memaksa para Buto Cakil bertekuk lutut memenuhi kehendak rakyat. Kekuatan
rakyat yang terbukti mampu membangun energi nasional harus dapat pula
membuktikan mampu membangun peradaban politik yang amanah bagi kepentingan
rakyat banyak.
Sumber: Kompas, 17 April 2012

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!