Headlines News :

Artikel Terbaru

Viktor Bungtilu Laiskodat: Kisah Baju yang Jelek Dibandingkan Serbet

Written By Ansel Deri on Wednesday, April 25, 2018 | 10:45 PM

Pengalaman sekolah dan perjuangan Cagub Viktor Bungtilu Laiskodat selama remaja hingga sukses sebagai politisi dan pengusaha, penuh lika liku. Pernah jadi kuli gali lubang resapan air di Belo. Viktor yang berpasangan dengan calon wakil gubernur Josef A Nae Soi, mantan anggota DPR dua periode dan staf khusus Menteri Hukum dan HAM RI, ini juga menanam bawang untuk menambah uang saku. Pernah diledek karena bajunya lebih jelek dibandingkan serbet.

CORNALIA Wila Here (54) mengusap air matanya. Ia membetulkan posisi kursi plastik dan mempersilahkan penulis dan Johny Tengkere (Jete) duduk, saat kami menyambangi rumahnya di Jl Lapangan Tembak, Nunbaun Sabu, Kupang, pekan lalu. Warga Kelurahan Nunbaun Sabu, Kecamatan Alak, Kupang, itu terharu mengingat pengalaman bersama sahabatnya, Viktor Bungtilu Laiskodat, saat menimbah ilmu di bangku sekolah menengah pertama di Kupang.

Ibu Kuji –sapaan akrabnya– tak pernah menyangka, beberapa dari sahabat karibnya di masa sekolah, adalah orang-orang yang terbilang sukses di bidangnya. Sebut saja Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat, Ketua Umum Pertina 2016-2020 Brigjen Pol Drs Johny Asadoma, dan manan Rektor Universitas PGRI NTT Samuel Haning, dan lain-lain.

“Sebelum Pak Veki dan beberapa anggota keluarga pergi mengunjungi ibunya di Semau, beliau masih sempatkan diri ke rumah saya. Tiba-tiba beliau sudah di depan rumah saya. Saya bingung karena ada beberapa mobil parkir berderet di jalan depan rumah saya. Setelah saya lihat mukanya lama-lama, saya baru sadar kalau teman sekolah dulu. Saat itu saya menangis,” ujar Ibu Kuji didamping suaminya, Yosua A Huru (69), ibu kandung, dan anak-anaknya saat ditemui di rumahnya, Nunbaun Sabu.

Cerita serbet

Pengalaman saat masih menimbah ilmu bersama sahabatnya, Veki, di sekolah menengah pertama di Kupang tahun 1970-an, masih membekas dalam dinding memory Ibu Kuji. Nyaris setiap hari kadang Veki tak pernah memakai sepatu. Beju seragam sekolah, disisip di belakang baju kaos. Bukunya pun hanya dimasukkan di saku belakang celana seragamnya.

“Satu waktu Veki masuk sekolah. Dia hanya pake kaos yang kusut-kusut. Baju seragam disimpan dalam kaos dan ditaro di punggung.`Ada guru yang marah dengan penampilan Veki. Dia bilang, ‘Lu pu baju kaos itu jelek sekali. Beta punya serbet di rumah mangkali lebih bagus dari lu pu kaos itu’. Tapi, Veki cuek saja mendengar kata-kata itu. Peristiwa ini buat beta susah lupa. Tapi, kita kan sonde tau nasib orang. Hanya Tuhan saja yang tahu,” kata Kuji sembari mengusap matanya yang nampak sembab.

Menurut Lurah Oepura, Kota Kupang periode 1990-2005, Nomensen Muni, Viktor Bungtilu Laiskodat adalah tipikal pekerja keras. Beliau juga seorang yang cerdas dan tegas. Usai menyelesaikan sekolahnya di SMA PGRI Kupang tahun 1985, Viktor Laiskodat masih menyempatkan diri mencari uang sendiri dengan bekerja serabutan sebagai buruh kasar.

”Beliau pergi ke Belo, arah ke Sikumana. Di Belo dia gali lobang untuk tempat jebakan atau resapan air. Beliau juga pernah tanam bawang di kampung Noekele, Desa Tuatuka, Kupang Timur. Hasilnya dia jual untuk keperluan sehari-hari,” ujar Nomensen, yang menjadi induk semang Viktor Laiskodat selama Viktor sekolah SMA di Kota Kupang.

Menurut Nomensen, selama menjabat Lurah Oepura, Viktor Laiskodat juga masih menggeluti aktivitasnya sebagai penggali lobang untuk resapan air. Tak lama berselang, Viktor Laiskodat menghilang entah kemana. Namun, suatu waktu ada beberapa staf kelurahan menyampaikan bahwa Viktor Laiskodat sudah berangkat untuk merantau di Jakarta. Ada surat keterangan jalan dari Lurah Oepura.

“Saya tanya ke suami, kenapa ade Veki (Viktor Laiskodat) berangkat ke Jakarta Lurah sonde tahu. Rupanya saat itu di atas meja banyak surat sehingga suami tak ingat pasti. Tahu-tahu, ade Veki sudah di Jakarta. Kami hanya dengar dia kasi kabar bahwa dia sudah lulus kuliah dan mau kerja,” kata Ny Nomensen.

Bersinar

Boleh jadi, berkat doa kedua orangtuanya di Tubululin dan dukungan keluarga dan semangat kerja yang pantang menyerah, karier suami Julie Sutrisno Laiskodat ini terus bersinar. Anak kampung dari Tubululin ini terus mengukir prestasi gemilang di Jakarta. Usai menyelesaikan kuliahnya di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STIH) Jakarta, ia membangun firma hukum, Viktor B Laiskodat Law Firm, Jakarta.

Viktor, politisi kelahiran Oenesu, 17 Februari 1965 ini pernah menjabat anggota DPR RI masa tugas 2004-2009 Partai Golkar. Ia juga tercatat sebagai salah seorang inisiator Ormas Nasional Demokrat, cikal bakal Partai NasDem, yang mengusung Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia.

Setelah maju dalam bursa Pileg 2014 melalui Partai NasDem, ia akhirnya melangkah ke Senayan bersama Johnny G Plate. Viktor Laiskodat didapuk langsung sebagai Ketua Fraksi NasDem DPR RI oleh Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Sedang koleganya, Johnny Plate, mendapat kepercayaan sebagai Sekretaris Jenderal Partai NasDem sekaligus Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI.

Pada Pileg 2014, Viktor terpilih menjadi anggota DPR RI setelah mengumpulkan 77.555 suara dari Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur 2 (Dapil NTT 2). Dapil ini meliputi 10 kabupaten masing-masing Belu, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, dan Kota Kupang.

Saat ini, selain sebagai Ketua Fraksi NasDem, ia juga duduk di Komisi I yang membidangi pertahanan, intelijen, luar negeri, komunikasi dan informatika. Pada Pemilihan Presiden 2014, ia dipercaya sebagai Badan Pemenangan Pilpres Calon Presiden-Wakil Presiden yang mengantar Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden. (ansel deri/jdz) (bagian 2)

Viktor Bungtilu Laiskodat
Lahir : Oenesu, 17 Februari 1965

Pendidikan:

• SD Semau, Kupang
• SMP Negeri 1, Kupang
• SMA PGRI, Kupang
• Sekolah Tinggi Hukum Indonesia, Jakarta

Riwayat Pekerjaan:

• Pengacara di kantor Hukum Victor B. Laiskodat Law Firm
• Direktur PT Elok Kurnia Sejati
• Anggota DPR RI dari Partai Golkar 2004-2009
• Anggota DPR RI dari Partai NasDem 2014-2019
• Ketua Bidang Pertanian dan Maritim DPP Partai NasDem (2013-2018)
• Badan Pemenangan Pilpres Jokowi-JK (2014)
Ketua Fraksi NasDem DPR RI (2014-2019
Sumber: mediantt.com, 18 Februari 2018
Ket foto: Calon Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan Calon Wakil Gubernur Josef A Nae (gbr 1) dan bersama isteri, Julie Laiskodat, ibunda Orpa Kase dan anak-anaknya (gbr 2)

Manchester, Marawi, dan Melayu

Oleh Ansel Deri 
Staf Anggota DPR RI

TEROR kembali mengguncang tiga tempat berbeda di tiga negara susul-menyusul. Pada Senin (22/5) sekitar pukul 22.33 waktu Inggris atau Selasa (23/5) WIB, teror di Manchester Arena, tak lama setelah konser bintang musik dunia asal Amerika Serikat, Ariana Grande, berakhir. The Guardian mencatat, sebanyak 22 orang meninggal dan lebih dari 50 lainnya menderita luka-luka dalam aksi tragis itu. Mendagri Inggris, Amber Rudd, menyebut teror Manchester sebagai serangan biadab.

Teror juga terjadi di kota Marawi, Mindanao selatan, kurang lebih 800 kilo meter dari Manila. Pelaku tak lain adalah Maute, kelompok pemberontak Islamic State of Lanao, yang didirikan Abdullah Maute dan mendapat dukungan kelompok Abu Sayyaf. Kelompok yang bermarkas di Lanao del Sur, Filipina, ini diketahui mendapat dukungan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), kelompok militan jihad yang tidak diakui di Irak dan Suriah. Maute ingin mendirikan sebuah kekhalifaan di Filipina selatan.

Tatkala kelompok ini dikepung otoritas keamanan atas perintah Presiden Rodrigo Duterte, baku hantam tak bisa dihindarkan. Aparat keamanan setempat mengepung Marawi. Suara letusan pistol dan bom sejak Selasa (23/5) sore hingga Rabu pagi waktu setempat terdengar bersahutan. Tiga aparat keamanan tewas dan 12 warga terluka. Puluhan warga disandera teroris.

Katedral Santa Maria, Keuskupan Marawi, tak luput dari serangan. Pastor Teresito Suganob, yang sedang mempersembahkan Misa pagi, sekretaris paroki, dua karyawan dan sepuluh umat disandera. Para teroris mengancam menghabisi tawanan, jika pemerintah memaksa untuk membebaskan mereka. Teror Marawi membuat Duterte murka. “Kepada orang-orang sebangsaku yang pernah mengalami darurat militer, ini tak akan jauh berbeda dengan yang pernah diterapkan Presiden Marcos. Saya akan berlaku kejam,” ujarnya.

Teror juga terjadi di halte busway Kampung Melayu, Jakarta, Rabu (24/5). Dua bom meledak pukul 21.00 dan 21.05 WIB. Teror Melayu terjadi di tengah kegembiraan pawai obor sejumlah umat Muslim memasuki puasa Ramadhan. Aksi teror ini memakan korban sekitar 25 orang, baik dari aparat maupun warga sipil. Tiga anggota Polri Bripda Gilang, Bripda Ridho, dan Bripda Tsunami berikut dua orang yang diduga pelaku, menjemput ajal.

Motif teror

Teror Manchester, Marawi, dan Melayu menohok rasa kemanusiaan kita sebagai insan ciptaan Tuhan. Tatkala teror terjadi dan memakan nyawa dan harta benda, beragam reaksi muncul. Misalnya, aksi biadab itu melukai rasa kemanusiaan dan pelanggaran terhadap prinsip HAM universal. Sejarah mencatat, bom yang melumatkan menara WTC pada 11 September 2011 di New York, adalah wajah terburuk teror sepanjang sejarah.

Dalam konteks Indonesia, pertanyaan ini menarik. Teror bisa saja membawa kita pada kesimpulan sementara bahwa aksi itu menunjukkan minimnya wawasan kebangsaan pelaku. Aksi teror seolah membuat rasa nasionalisme retak dan tercabik-cabik. Teror melenyapkan kesempatan pemerintah dan masyarakat menuntaskan agenda pembangunan.

Zuhairi Misrawi dalam Pandangan Muslim Moderat (2010) menyebut, dalam konteks sebagai state, ada beberapa hal yang mendorong munculnya aksi terorisme. Pertama, ambisi kekuasaan. Dalam banyak pengalaman, terorisme atau kekerasan biasanya muncul dalam sebuah masyarakat yang memahami kekuasaan sebagai perebutan hidup-mati. Menjadi kekhawatiran bersama bila aksi terorisme ini tersimpan di belakangnya ambisi kekuasaan. Entah itu kekuasaan agama maupun politik sekuler.

Kedua, munculnya terorisme juga bisa dikaitkan dengan ketidakadilan sosial dan kesenjangan ekonomi. Bertambahnya jumlah pengangguran –seperti kata Todung Mulya Lubis, munculnya “disintegrasi sosial” akan membentuk sebuah kenekatan yang bermetamorfosa bagi terciptanya terorisme. Seorang warga negara tidak hadir sebagai “warga”, tetapi hadir sebagai “pribadi yang hampa”.

Ketiga, munculnya terorisme karena ketidakmampuan kita melahirkan alternatif pandangan yang mengakomodasi pluralitas, keadaban, dan kemanusiaan. Dalam banyak hal, kita masih menemui cara pandang keagamaan yang yang hanya terhenti pada tataran “saya” dan “aku”. Gejala disintergrasi dan formalisasi Syariat yang berkembang belakangan secara diam-diam ingin menampilkan egoisme dan keakuan. Padahal, sebagai bangsa yang dibangun di atas kebinekaan kita mesti melihat keberagaman sebagai rahmat Tuhan yang mesti diakomodasi dan diperkaya menjadi perekat bersama.

Philips J Vermonte dalam artikelnya, “Menangkal Terorisme Global” (2005) juga berpendapat, ada sejumlah alasan yang memproduksi terorisme. Pertama, kelompok-kelompok teroris di berbagai tempat dengan cermat memanfaatkan kemudahan yang ditawarkan oleh perkembangan pesat kemajuan teknologi dan komunikasi untuk mencapai tujuannya.

Kedua, tindak terorisme berlaku indiskriminatiif terhadap warga biasa yang tidak terkait langsung dengan tujuan politik yang hendak dicapai aksi teror yang dilakukan dan juga pada instalasi negara yang dipandang sebagai target yang sah dalam pemahaman konvensional atas konsepsi perang.

Ketiga, kelompok-kelompok teroris tidak lagi bergerak dalam sebuah situasi isolasi di mana fakta-fakta menunjukkan bahwa saat ini terorisme sulit dipisahkan dari berkembangnya organisasi kejahatan transnasional terorganisasi dalam berbagai ragam dan bentuknya. Mulai dari tindak kejahatan pencucian uang, perdagangan ilegal obat bius dan juga perdagangan senjata secara ilegal.

Perlu waspada

Insiden Manchester, Marawi, dan Melayu menyampaikan pesan penting bahwa teror masih jadi ancaman di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan informasi. Ia (teror) bersafari menembus ruang dan waktu. Di tingkat global, kelompok-kelompok teroris –seperti pernah diuraikan Andi Widjajanto– telah mengkristal dalam tiga identitas: militansi religius, ideologi, dan etnonasionalisme.

Teror seperti maling yang datang dan pergi tanpa diketahui. Teror bukan sekadar wacana tetapi terang benderang di depan mata. Teror Kampung Melayu adalah contohnya. Oleh karena itu kewaspadaan menjadi pilihan. Pertama, kemajuan teknologi memudahkan siapapun dan kelompok maupun mendapatkan akses informasi, tak terkecuali teroris. Oleh karena itu, untuk memantau potensi teror pemerintah perlu ikut memantau pergerakan pelaku diikuti proses penyadaran dan dialog melalui berbagai program pemberdayaan.

Kedua, dalam kenyataan aksi teror kian meluas tak hanya di tingkat nasional tapi global. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat regulasi di bidang pencegahan tindak pidana terorisme. Jika abai, teror tetap menemukan ruangnya.

Ketiga, teror juga lahir akibat kemiskinan, ketidakadilan, dan kesenjangan. Pada titik ini, peran semua pihak dipertaruhkan karena secara tidak langsung, pelaku teror juga produk sosial. 
Sumber: Suara Pembaruan, 5 Juni 2017
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger