Headlines News :

Artikel Terbaru

Iklim Esktrem di Musim Peralihan

Written By Ansel Deri on Wednesday, November 22, 2017 | 12:12 PM

Oleh Paulus Agus Winarso
Dosen Sekolah Tinggi 
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

HARI-hari ini kita memasuki iklim ekstrem, terutama di Pulau Jawa. Kondisi kering sepanjang Agustus-September 2017, berubah menjadi hujan lebat diawali dengan petir terkadang disertai angin kencang yang turun dari awan (down draft atau microburst).

Hujan lebat dengan intensitas tinggi ini —sama atau lebih dari 1 milimeter/detik— dalam 5 menit tertumpah air dengan volume 5 x 60 x 1 mm/detik= 300 mm, saat ini masih terjadi dalam waktu pendek. Padahal, sebelumnya, udara begitu panas. Apakah perubahan cuaca harian, mingguan, dan musiman yang ekstrem ini berbeda dari kondisi 20-30 tahun sebelumnya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya membuka catatan pribadi yang telah saya kumpulkan sejak 1977.

Hutan dan awan

Pada 1990 di berbagai kawasan di luar Pulau Jawa, sebutlah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, hutannya masih perawan. Hal ini membuat kegiatan awan konveksi yang membentuk awan badai kumulonimbus (Cb), menjadi jarang.

Awan Cb di awal menggiatkan tiga jenis badai, yaitu badai guntur (thunderstorm), angin kencang/badai (wind storm, kecepatan angin di atas 34 knots= 70 km/jam), dan hujan lebat (rain stormdengan intensitas hujan minimal 1 mm/detik).

Dengan berjalannya waktu, awan badai kian marak dan kini meluas hampir seluruh kawasan Benua Maritim Indonesia (BMI). Mudah tumbuhnya awan badai seiring dengan kondisi permukaan Bumi yang mudah tembus sinar surya, akibat penggundulan hutan. Pohon-pohon tinggi yang rimbun tidak hanya menghilang dari hutan, tetapi juga pohon-pohon di kota yang berganti dengan hunian, kawasan parkir, jalan atau kondisi lain, seiring pertambahan umat manusia.

Situasi dan kondisi lingkungan mikro, seperti di perkotaan ini, terus berkembang. Akibatnya, perubahan yang terjadi sudah bukan lingkup lokal atau regional, tetapi juga global. Bahkan, di BMI kini tidak dapat lagi menghindari amukan badai tropis.

Pada 2017 kondisi keragaman cuaca dan iklim diwarnai giatnya gejala global awal hingga pertengahan tahun sebagai kondisi global normal. Kemudian giat gejala El Nino 2017 yang hanya 2 bulan dengan dampak kekeringan 2-3 bulan di beberapa kawasan BMI bagian selatan.

Gejala El Nino dihapuskan oleh hadirnya gejala mirip La Nina yang menggiatkan hujan sepanjang Oktober 2017. Kondisi ini mengisyaratkan keragaman cuaca dan iklim yang diikuti dengan tiupan angin musim (angin muson). Namun, angin muson barat di musim hujan dan angin muson timur di musim kemarau tidak bertiup dengan baik seiring keragaman tekanan udara permukaan. Tiadanya kontras tekanan udara memicu gradienttekanan udara yang sama sehingga tak ada tiupan angin.

Karena aliran udara atau angin itu terjadi bila terjadi beda tekanan atau ada nilai gradient tekanan, seperti pada badai tropis yang gradient tekanannya tinggi. Bisa puluhan hingga ratusan milibar dalam jarak satuan atau puluhan kilometer bila sudah dalam kelas super badai tropis. Misalnya, taifun di Laut China Selatan dan hurricane di Laut Karibia, Amerika Serikat.

Untuk kawasan BMI gradient tekanan 1-3 milibar dalam jarak ratusan hingga ribuan kilometer. Bahkan dari catatan kegiatan awal badai tropis yang giat di dalam wilayah BMI, seperti badai tropis Vamei 2010 yang melewati Medan dan badai tropis Kirrily 2009 yang tumbuh di sekitar Maluku Tenggara dan bergerak menuju Pulau Seram, Maluku Tengah. Kedua badai tropis itu bertekanan masih di atas 1.000 milibar dan gradient tekanan kurang dari 3 milibar sehingga belum terjadi angin kencang, layaknya badai tropis yang menerjang Filipina atau Australia.

Awan badai masuk dalam kelompok awan konveksi, yaitu awan yang terbentuk oleh pemanasan permukaan yang basah. Pemanasan ini menggerakkan udara hangat dan basah ke atas dan terciptalah arus konveksi yang membentuk awan konveksi. Awan ini menjulang tinggi dari jenis towering Cumulus yang disebut awan Cb.

Sepanjang tahun

Awan jenis konveksi umumnya giat pada era kondisi cuaca dan iklim beragam sepanjang tahun dan meningkat pada masa peralihan musim. Perubahan terkait dengan berpindahnya garis edar Matahari dari belahan utara ke selatan (September, Oktober, November= SON) dan untuk (Maret, April, Mei= MAM) berpindahnya garis edar dari selatan ke utara.

Faktor lain adalah berubahnya tiupan angin seiring angin musim atau angin muson untuk kawasan belahan Bumi selatan BMI pada bulan-bulan SON yang biasanya dari timur berubah dari barat. Sebaliknya bulan-bulan MAM angin barat berubah dari timur.

Bulan-bulan yang berkaitan dengan masa peralihan, yaitu SON dan MAM, juga merupakan periode di mana garis edar Matahari berada di atas wilayah BMI. Sudah selayaknya pancaran radiasi surya yang optimal dan intens akan menggiatkan pemanasan permukaan yang berdampak terjadinya proses konveksi.

Bila pemanasan meluas ke seluruh kawasan BMI yang gundul karena deforestasi maupun pembangunan gedung yang masif, homogenitas suhu udara hangat akan terjadi yang kemudian diikuti dengan homogenitas kondisi tekanan udara permukaan. Hal ini yang menghasilkan gradient tekanan kecil atau nol. Akibatnya angin kurang bertiup.

Siang-sore, awan Cb akan giat di kawasan darat jauh dari pantai atau kawasan puncak bukit atau gunung, malam hingga pagi hari giat di laut/pantai atau lembah kawasan yang berbukit. Situasi dan perkembangan yang demikian sepertinya merupakan kondisi keragaman cuaca dan iklim untuk masa mendatang. 

Bisa disimpulkan, kondisi saat ini masih dalam kerangka masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan 2017/2018. Akhir tahun ini dan awal 2018 adalah puncak musim hujan.

Alangkah baiknya bila kita juga menyiapkan diri menghadapi kondisi keragaman cuaca dan iklim ini dengan mencermati data pada tahun-tahun sebelumnya, sekaligus mencari informasi perkembangan kondisi cuaca yang terbaru dan tepercaya. Informasi cuaca dan iklim juga telah tersebar dan disediakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di seluruh kawasan BMI.

Menilik tingkat keragaman cuaca dan iklim yang umumnya berinteraksi dengan kondisi tutupan lahan, maka kerusakan lingkungan harus segera diperbaiki untuk meminimalkan kondisi cuaca ekstrem. 
Sumber: Kompas, 21 November 2017

Balas Anies Baswedan, Ahok Jelaskan Dari Mana Honor Tim Gubernur


MANTAN Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok lewat timnya membantah tudingan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang menuding semua anggota tim gubernur untuk percepatan pembangunan pada era Ahok menggunakan dana swasta.

"Operasional gubernur selama Pak Ahok menjabat dibagikan setiap bulannya untuk operasional sekda (sekretaris daerah), lima wali kota, dan satu bupati," ujar tim Ahok lewat akun Instagram resmi milik Ahok, @basukibtp, Selasa, 21 November 2017.

Menurut tim Ahok, staf Ahok tidak digaji dengan melibatkan pihak swasta, melainkan menggunakan uang operasional yang secara rutin diterima gubernur. Uang operasional itu pun tidak digunakan sepenuhnya untuk Ahok sendiri.

Ahok menjawab tudingan Anies mengenai penggunaan dana swasta. Pembiayaan tim percepatan gubernur mencuat ketika Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI 2018 mencantumkan biaya Rp 28,5 miliar. Angka tersebut tergolong fantastis lantaran usulan awal yang tertuang dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah Rp 2,3 miliar atau naik lebih dari 10 kali lipat.

Anies mengatakan, dengan dana dari pemerintah, pihaknya tidak akan bergantung pada pihak swasta, sebagaimana yang dilakukan pada era Ahok. Menurut Anies, dia akan lepas dari keterlibatan pihak swasta untuk membiayai staf gubernur dan staf yang membantu gubernur dalam mengambil keputusan.

Ahok, via timnya, juga menjelaskan uang operasional Ahok diberikan untuk kegiatan sosial di beberapa lingkungan masyarakat. Biasanya, menurut tim Ahok, uang operasional digunakan untuk menebus ijazah warga Jakarta yang tidak mampu, menyumbang kursi roda, renovasi rumah warga, serta renovasi rumah ibadah, termasuk masjid dan gereja.

"Bahkan uang itu untuk menambah honor untuk para office boy dan cleaning service yang bekerja di sekitar kantor gubernur. Setiap ada kelebihan, uang operasional pun dikembalikan ke kas daerah," tutur tim Ahok mengakhiri penjelasan kepada Anies Baswedan. 
Sumber: Tempo.co, 21 November 2017 
Ket foto: Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok

Mati Ketawa Cara Setya Novanto

Written By Ansel Deri on Tuesday, November 21, 2017 | 1:55 PM

Oleh J Kristiadi
Peneliti senior CSIS

"KETUA DPR Setya Novanto menghindari langkah hukum mempertontonkan sikap tidak terpuji dari seorang pejabat negara terhadap rakyat dan hukum". Jusuf Kalla, "Kompas", Minggu (19/11).

Respons publik terhadap siasat Setya Novanto yang berkelit dari incaran Komisi Pemberantasan Korupsi untuk mempertanggungjawabkan dugaan skandal megakorupsi KTP elektronik menimbulkan beragam reaksi. Tidak sedikit yang meradang, geram, gemas, jijik, uring-uringan, serta kesal, sebagaimana diungkapkan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada kutipan di atas.

Beberapa hari sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyarankan kepada Novanto agar mengikuti hukum. Namun, dapat dipastikan banyak anggota masyarakat terpingkal-pingkal sampai terjungkal menyaksikan episode serial akrobat dan drama komedi, terutama episode saat Novanto dirawat di rumah sakit beberapa waktu lalu, dan kemudian kecelakaan tunggal menabrak tiang lampu pada Kamis malam lalu.

Ekspresi publik di media sosial menunjukkan skenario viktimisasi diri sebagai kemanjen (bahasa Jawa), jampi-jampi yang pernah mujarab, kini sudah usang, dicoba didaur ulang secara sembarangan sehingga rakyat merasa dibodohi habis-habisan. Spekulasi skenario loyalis Novanto mengharapkan klimaksnya, adalah yang bersangkutan dinyatakan "gegar otak" dan mengalami amnesia permanen. Namun, yang terjadi antiklimaks.

Setelah peristiwa tabrak tiang lampu, yang bersangkutan diperiksa penyidik sebagai tersangka dan kemudian ditahan di Rumah Tahanan KPK pada Senin (20/11) dini hari. Ajaibnya, setelah Novanto diperiksa, ia sanggup bangkit dari rasa sakit dan berdiri tegak seakan siap sepenuh hati untuk diadili.

Karena itu, alih-alih masyarakat bersimpati dan iba menyaksikan peristiwa itu, jurus itu justru menjadi bahan tertawaan publik. Media sosial dihujani sindiran, mulai dari mereka yang sakit hati sampai foto-foto yang membuat geli. Memang, tertawa dan humor dekat dengan politik. Misalnya, tahun 1980-an beredar buku yang sangat terkenal berjudul Mati Ketawa Cara Rusia (Dolgopolova (ed); 1982), yang merupakan kumpulan cerita kegelisahan rakyat Uni Soviet terhadap para elite politiknya.

Mungkin tahun mendatang akan terbit buku sejenis yang merangkai drama perpaduan komedi dan tragedi yang mengekspresikan kegelisahan rakyat Indonesia terhadap perilaku koruptor yang sudah kehilangan urat malunya. Dalam studi filsafat, humor adalah fenomena kemanusiaan yang mempunyai fungsi kritik sosial, maka mempunyai signifikansi sosial. Ketika ketegangan politik, sosial, dan budaya tidak mereda, humor menjadi salah satu senjata dan pelarian sosial. Ketika hasrat berkuasa menggebu-gebu, kebutuhan akan tertawa jadi penting (Henri Bergson, 1914, Laughter: An Essay on the Meaning of the Comic, terjemahan Cloudesley Brereton & Fred Rothwell).

Menghadapi kasus dugaan korupsi yang hampir menyentuh angka Rp 3 triliun, Novanto harus memusatkan perhatian pada megaskandal korupsi tersebut dengan sikap kesatria. Hanya dengan bersikap jantan dan perwira, ia dapat mengembalikan harga diri dan martabat pribadinya. Bersedia menjadi pelaku yang bekerja sama dengan penegak hukum untuk membongkar kejahatannya (justice collaborator), merupakan pilihan bijaksana, karena akan memberikan kontribusi bagi pemberantasan korupsi politik serta mewujudkan kehidupan politik yang bermartabat.

Agenda berikutnya adalah konsolidasi. Namun, konsolidasi tidak dilakukan alakadarnya, apalagi disertai siasat adu cerdik berebut kekuasaan. Kekhawatiran terjadinya pertarungan elite sudah tercium sejak dini. Karena itu, Partai Golkar sebagai partai kelas atas tentu banyak yang berkepentingan, terutama menghadapi Pilkada 2018 dan Pemilu Serentak 2019. Hampir dapat dipastikan setelah Novanto menjadi urusan KPK, baik mereka yang berpandangan harus taat hukum-dengan harapan Novanto bersedia mengundurkan diri-maupun mereka yang diam-diam membela Novanto akan berkompetisi merebut Partai Golkar sebagai bagian dari kekuatan dalam pertarungan kekuasaan dua tahun ke depan.

Oleh karena itu, konsolidasi harus mampu menemukan kembali roh dan cita-cita partai, yaitu merawat dan memuliakan kebinekatunggalikaan dan berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila serta berkarya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Agenda ini sangat mendesak mengingat partai berlambang beringin itu semakin tidak berdaya memihak rakyat karena dicengkeram kekuatan kapital dan dikendalikan oleh para pembiak kekuasaan (political entrepreneur). Gagasan besar itu semakin kabur karena tertutup oleh limbah polusi hasrat kuasa yang nyaris menghalalkan cara. Karena itu, konsolidasi harus komprehensif, yaitu meliputi konsolidasi ideologi, wawasan, dan organisasi. 

Dalam melakukan konsolidasi sebaiknya juga mengikutsertakan semua unsur yang masih mempunyai komitmen terhadap kejayaan Partai Golkar, termasuk tokoh-tokoh senior, sesepuh, dan pendiri. Mereka tersingkir dari Partai Golkar karena kekuatan sosial politik yang didirikan tahun 1960-an itu semakin dicengkeram oleh kapital.

Karena itu, skandal megakorupsi yang melibatkan Ketua Umum Partai Golkar dan sekaligus Ketua DPR itu harus dijadikan momentum kembalinya Partai Golkar sebagai pembela Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, serta mampu menyejahterakan rakyat. 
Sumber: Kompas, 21 November 2017
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger