Headlines News :

Artikel Terbaru

Ahmad Dhani 'Keok' dalam Hitungan 2 Lembaga Survei

Written By Ansel Deri on Thursday, February 16, 2017 | 3:19 PM

LEMBAGA survei dari Rakata Institute menyatakan, Bupati Petahana Bekasi Neneng Hasanah Yasin-Eka Supriatmadja mengungguli empat pasangan calon lainnya dalam ajang Pilkada 2017.

Hasil survei ini serupa dengan lembaga lainnya dari Jaringan Survei Indonesia (JSI) bahwa pasangan nomor urut 5 juga unggul.

"Perolehan suara pasangan Neneng Hasanah Yasin-Eka Supriatmadja sebesar 38,77 persen," ujar Direktur Rakata Institute, Eko Kuswanto pada Kamis (16/2).

Eko mengatakan, pasangan berikutnya yaitu Sa'duddin-Ahmad Dhani yang memperoleh suara 25,55 persen.

Disusul pasangan independen Obon Tabroni-Bambang Sumaryono yang memperoleh suara 17,45 persen. Lalu diikuti oleh Meiliana Kartika Kadir-Abdul Kholik yang mendapatkan suara 11,24 persen.

Terakhir, pasangan independen Iin Farihin-KH. Mahmud yang hanya memperoleh suara 6,93 persen.

Eko menjelaskan, metode yang digunakan dalam survei ini adalah random sampling atau sampel acak. Lembaganya menempatkan 47 relawan yang bertugas di 47 tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar pada 23 kecamatan di Kabupaten Bekasi.

Dia memperkirakan, toleransi kesalahan atau margin of error pada hitung cepat ini -/+ sebesar tiga persen pada tingkat kepercayaan 99 persen. Artinya perolehan hasil suara dari calon kandidat pada penghitungan cepat ini bisa bergeser ke atas atau bergeser ke bawah sebesar 3 persen. "Untuk Pilkada kali ini, tingkat partisipasi pemilihan sebesar 60,16 persen," tambahnya.

"Secara statistik, pasangan Neneng Hasanah Yasin-Eka Supria Atmaja unggul signifikan atas empat pasangan lainnya. Dengan demikian, mereka diprediksi akan memenangkan pemilihan Bupati Bekasi," tambahnya.

Meski begitu, Eko mengungkapkan hasil quick count Pilkada Kabupaten Bekasi versi Rakata Institute ini bukan hasil resmi pemilihan.

Sementara untuk keputusan hasil perolehan suara atau pemenang pemilihan Bupati 2017, menunggu ketetapan resmi dari KPU Daerah Kabupaten Bekasi pada satu hingga dua pekan lagi.

Rakata Institute merupakan salah satu lembaga survei dan hitung cepat yang terdaftar di KPU DKI Jakarta, Banten & Bekasi.

Rakata Institute juga telah 25 kali menyelenggarakan penghitungan cepat selama periode 2008-2015.

Terakhir saat Pilkada Serentak 2015 lalu, dengan hasil presisi dan dapat dipertanggungjawabkan, serta cepat dapat diketahui publik hanya beberapa jam setelah proses perhitungan suara selesai. 
Sumber: tribunnews.com, 16 Februari 2017 
Ket foto: Ahmad Dhani

Ruhut: Kasihan Pak SBY...

JURU Bicara Tim Pemenangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat, Ruhut Sitompul, mengaku sudah memprediksi kekalahan pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni pada Pilkada DKI Jakarta.

Ia menyatakan, langkah Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mencalonkan anak sulungnya pada Pilkada DKI merupakan ulah para pembisik di dekat SBY.

"Kasihan Pak SBY. Pak SBY ini terpengaruh sama pembisik-pembisiknya saja. Enggak enak kan jadinya, ini seperti Pak SBY lawan Ruhut, Ruhut yang menang. Aku enggak kaget Agus kalah. Sudah pasti kalah kok," kata Ruhut, saat dihubungi, Rabu (15/2/2017).

Ruhut menuturkan, dulu dia merupakan orang pertama yang melarang SBY mencalonkan Agus pada Pilkada DKI. Menurut Ruhut, Agus memiliki masa depan yang cemerlang di militer.

"Aku kan yang paling enggak setuju anaknya mundur. Tanya orang, tanya Presiden (Jokowi). Aku pernah nitip anaknya (SBY) kok biar jadi jenderal, tapi ya sudahlah. Yang penting aku happy. Ahok-ku menang sama Djarot," lanjut Ruhut.

Hasil quick count Pilkada DKI Jakarta versi Litbang Kompas, pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni memperoleh 17,37 persen, Ahok-Djarot 42,87 persen, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno 39,76 persen.  
Sumber: Kompas.com, 15 Februari 2017 
Ket foto: Agus Harimurti Yudhoyono dan Ruhut Sitompul

Pembunuhan Kim Jong-nam, WNI Asal Serang Ditangkap

KEPOLISIAN Malaysia menahan wanita kedua yang diduga terlibat dalam pembunuhan Kim Jong-nam, saudara tiri dari pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. Wanita tersebut merupakan warga negara Indonesia.

"Ia teridentifikasi dari CCTV bandara dan ditahan seorang diri. Dia diidentifikasi sebagai Siti Aisyah, 25 tahun, dari Serang, Indonesia, berdasarkan paspornya," kata Inspektur Jenderal IGP Khalid Abu Bakar, seperti dilansir Channel News Asia yang mengutip Bernama, Kamis, 16 Februari 2017.

Polisi mengatakan pengumuman resmi penangkapan wanita asal Serang tersebut akan disampaikan kemudian hari.

Kepada Tempo, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri, Lalu Iqbal, mengatakan masih memverifikasi laporan ini

Duta Besar Korea Utara untuk Indonesia, An Kwang Il, mengatakan juga tengah memeriksa laporan ini, dalam pesan pendek kepada Tempo.

Rabu kemarin, polisi Malaysia menahan seorang wanita pemegang dokumen Vietnam terkait dengan kasus pembunuhan Kim Jong-nam. Polisi Malaysia mengatakan sedang mencari "beberapa" tersangka asing lainnya sehubungan dengan pembunuhan tersebut.

Tersangka pertama yang ditahan di Kuala Lumpur International Airport 2, Doan Thi Huong, berusia 29 tahun, yang membawa paspor Vietnam, akan disidangkan di pengadilan pada hari Kamis. Polisi mengatakan ia ditahan selama satu malam di Selangor setelah penangkapannya.

"Kami mencari tersangka lain," ujar kepala polisi negara bagian Selangor, Abdul Samah Mat. Namun dia menolak mengatakan berapa banyak yang sedang dicari atau kebangsaan mereka.

Dua wanita tersebut diduga beraksi pada Senin, 13 Februari 2017, saat Kim Jong-nam tengah bersiap naik pesawat ke Makau, di mana ia telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya di pengasingan.

Polisi Malaysia mengatakan Jong-nam, 45 tahun, dengan reputasi playboy, sedang berjalan melewati ruang tunggu keberangkatan ketika ia diserang. Gambar dari CCTV bandara yang muncul di media Malaysia menunjukkan seorang tersangka berparas wanita Asia mengenakan baju atasan putih dengan tulisan "LOL".

Jenazah Jong-nam kini berada di Rumah Sakit Kuala Lumpur untuk diautopsi. Namun hasilnya belum dirilis.

Media Malaysia, mengutip sumber-sumber resmi yang tak disebut namanya, menyatakan Korea Utara telah meminta jenazah putra pertama mendiang pemimpin Korea Utara, Kim Jong-il, itu. Namun Abdul Samah mengatakan pada Rabu bahwa tak ada yang datang dan jenazah akan tetap berada di kamar mayat sampai diklaim pihak keluarga.

Meski demikian, pejabat kedutaan Korea Utara terlihat mengunjungi departemen forensik rumah sakit menggunakan kendaraan diplomatik pada Rabu sore dan malam harinya. 
Sumber: Tempo.co, 16 Februari 2017 
Ket foto: Kim Jong Nam

Daripada Demokrat, PDI-P Prioritaskan Lobi PAN, PKB, dan PPP

PARTAI Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) akan mengajak partai politik pendukung pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan 1 Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni untuk mendukung pasangan calon nomor pemilihan 2 Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.

Berdasarkan hasil hitung cepat dari berbagai lembaga, Agus-Sylvi gugur dalam Pilgub DKI Jakarta 2017. Sementara Ahok-Djarot akan melawan pasangan nomor pemiligan 3 Anies Baswedan-Sandiaga Uno di putaran kedua nanti.

Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto mengatakan, partainya akan memprioritaskan lobi ke Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional dan Partai Persatuan Pembangunan. Pasalnya, ketiga partai tersebut merupakan rekan koalisi PDI-P di pemerintahan Jokowi Widodo-Jusuf Kalla.

Sementara, satu partai pendukung Agus-Sylvi lain, yakni Partai Demokrat, menyatakan sebagai penyeimbang di koalisi tingkat pusat.

"Partai-partai yang mengusung Pak Jokowi-JK, yakni PKB, PAN dan PPP merupakan skala prioritas untuk kami ajak berdialog," kata Hasto di rumah Megawati, Kebagusan, Jakarta Selatan, Rabu (15/2/2017).

Hasto mengatakan, pada dasarnya, partai pengusung Ahok-Djarot saat ini juga memiliki fundamental sebagai partai pendukung pemerintahan Jokowi-JK.

Selain PDI-P, Ahok-Djarot didukung Golkar, Nasdem, Hanura, dan PPP kubu Djan Faridz yang semuanya sudah menyatakan dukungan ke pemerintah. Oleh karena itu, Hasto meyakini koalisi dengan sesama partai pendukung pemerintah bisa berjalan lebih kompak.

"Kita akan memantapkan barisan dengan seluruh partai pengusung dengan para relawan. Dan kita membentuk tim bersama yang akan betul-betul mencermati seluruh strategi dari hari ke hari untuk menghadapi putaran kedua," ucap Hasto. 
Sumber: Kompas.com, 16 Februari 2017 
Ket foto: Sekjen PDI P Hasto Kristiyanto

Saat Ditelepon Agus dan Sylvi, Ahok Titip Salam buat SBY

CALON gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan dua, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, menitip salam kepada mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat ditelepon oleh pasangan calon gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan satu, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, pada Rabu (15/2/2017) malam. Agus adalah putra sulung SBY.

"Semalam sudah telepon, sudah ngomong. Saya kirim salam juga kepada Bapak SBY begitu," kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (16/2/2017).

Ahok yang merupakan gubernur petahana DKI Jakarta itu mengatakan, hubungannya dengan Agus dan Sylviana terjalin baik. Dia dan Sylviana lama bekerja sama di Pemprov DKI Jakarta.

"(Hubungan) saya sama Pak Agus baik kok. (Hubungan) saya sama Bu Sylvi juga baik selama ini, kami sudah kenal baik kan," kata Ahok.

Juru bicara tim pemenangan Ahok-Djarot, Raja Juli Antoni, sebelumnya menceritakan, Sylviana menelepon Ahok saat Ahok kembali dari kediaman Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri ke Kompleks Pantai Mutiara pada Rabu malam. Sylviana menelepon Ahok ke nomor ajudan pribadi Ahok.

Ajudan pribadi Ahok kemudian menelepon balik ke Sylviana. Setelah tersambung, mantan Deputi Gubernur DKI bidang Pariwisata dan Kebudayaan itu meminta untuk berbicara dengan Ahok. Lalu, Sylviana mengucapkan selamat kepada Ahok. Sylviana kemudian memberikan teleponnya kepada Agus.

Ahok berterima kasih atas ucapan selamat yang disampaikan Agus-Sylvi tersebut. Ahok juga mengajak Agus untuk bertemu.

Agus-Sylvi memberikan ucapan selamat kepada Ahok-Djarot karena unggul dalam Pilkada DKI 2017 berdasarkan hitung cepat sejumlah lembaga survei. Pasangan Agus-Sylvi sendiri menempati posisi terakhir dalam hasil hitung cepat itu.

Hasil hitung cepat Litbang Kompas, misalnya menyebutkan, suara pasangan Ahok-Djarot berada di posisi pertama dengan perolehan 42,87 persen. Di posisi kedua pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dengan 39,76 persen. Sementara itu, Agus-Sylviana menempati posisi ketiga dengan 17,37 persen.

Hasil penghitungan tersebut berdasarkan data dari 400 TPS yang dijadikan sampel, dengan total pemilih 227.453. Metode penentuan TPS dengan menggunakan teknik penarikan sampel secara acak sistematis berdasarkan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) di DKI Jakarta. 

Sumber: Kompas.com, 16 Februari 2017 
Ket foto: Basuki Tjahaja Purnama & Agus Harimurti Yudhoyono

Lapangan Pertarungan

Oleh R William Liddle 
Profesor Emeritus Ilmu Politik
Ohio State University, Columbus, Ohio, AS 

KALAU begitu berhentilah: urusan kita di Lapangan Pertarungan bukan untuk bertanya, melainkan untuk membuktikan kekuatan kita. Kepada semua penghinaan yang kau lemparkan, terima jawaban ini: tombak melayangku. (S Iliad, Jilid 20)

Pada awal masa jabatannya, Presiden Donald Trump mengeluarkan sejumlah perintah eksekutif yang mengejutkan banyak orang. 

Perintah yang paling kontroversial: melarang selama tiga bulan imigrasi dari tujuh negara mayoritas Muslim, yaitu Iran, Irak, Suriah, Yaman, Lebanon, Sudan, dan Somalia; melarang selama 120 hari semua pengungsi dari negara apa pun; serta melarang sampai waktu yang akan ditentukan semua pengungsi dari Suriah. Sementara ini, pelaksanaan perintah itu ditunda oleh keputusan hakim federal, tetapi Trump berjanji naik banding. 

Dari mana asalnya kebijakan ini? Tentu Presiden Trump sendiri yang bertanggung jawab, tetapi kita bisa melihat pengaruh kuat tiga anggota teras timnya: Letnan Jenderal (Purn) Michael Flynn, Stephen Bannon, dan Jeffrey Sessions. 

"Lapangan Pertarungan" 

Field of Fight (Lapangan Pertarungan) diterbitkan tahun lalu oleh Flynn dan sejarawan Michael Ledeen. Selama kampanye presidensial, Flynn termasuk anggota tim sukses Trump yang paling gigih membela calonnya. Ketika Trump dilantik bulan lalu, ia langsung diangkat sebagai Asisten Presiden Urusan Keamanan Nasional, dan ditugasi menciptakan strategi baru untuk menghadapi tantangan-tantangan masa kini di bidangnya. 

Apa inti tantangan-tantangan itu? Judul Lapangan Pertarungan diambil dari Iliad, syair kepahlawanan Yunani kuno ciptaan Homerus. Epik itu menggambarkan Perang Troya yang melibatkan dewa dan manusia, panjang, dahsyat, dan menentukan masa depan bangsa Yunani. 

Dalam Lapangan Pertarungan, musuh utama Amerika adalah "Islam radikal dan sekutunya". Islam radikal sudah menggantikan fungsi kaum fasis dan Nazi pada paruh pertama dan kaum komunis pada paruh kedua abad ke-20. Tutur Flynn: "Musuh ini merupakan lawan hebat yang tak mungkin ditaklukkan dalam waktu singkat. Namun, kita tahu bagaimana melakukannya sebab kita pernah mengalahkan gerakan-gerakan massa mesianis." Lagi pula, "Syarat pokok untuk memenangi perang apa pun adalah kesediaan dan kebulatan tekad untuk membuat semua hal yang diperlukan untuk menang." 

Flynn merincikan empat "sasaran strategis" untuk mengalahkan kelompok Islam radikal. Pertama, pilihan pemimpin yang tepat. Segala unsur kekuatan nasional harus dimobilisasi di bawah kepemimpinan seorang jenderal yang bertanggung jawab langsung kepada presiden. Kalau ia tidak berhasil, harus dipecat dan digantikan jenderal lain. 

Kedua, no safe havens, tak ada daerah terlindung. Kita harus memaksakan para Islamis radikal untuk keluar dari tempat persembunyiannya agar mereka bisa ditangkap atau dibunuh. 

Ketiga, pemisahan tegas antara kawan dan lawan. Bantuan semua negara dan aktor lain yang bersikap pro-Islamis radikal harus segera berakhir, atau akan dipaksakan berhenti oleh AS. Dalam hal ini, bukan hanya negara seperti Iran dan aktor seperti Hezbollah yang dituding. Rusia juga disalahkan sebagai negara "yang tidak berhasil memerangi kaum jihadi di negeri sendiri, dan juga bersekongkol dengan Iran". 

Sasaran terakhir: perang terhadap Islamisme selaku ideologi. Mungkin perbedaan yang paling mencolok antara sikap Trump dan pendahulunya terletak di sini. Baik George W Bush maupun Barack Obama selalu memuji Islam sebagai agama besar dan terhormat. Mereka berusaha keras untuk merangkul warga AS yang beragama Islam dan menemani orang Islam di negara lain. Masalah yang kita hadapi, tegas mereka, bukan konflik antar-peradaban, melainkan terorisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok terpinggir seperti Al Qaeda dan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). 

Sebaliknya, Flynn sedari dulu mencanangkan kebenciannya, setidaknya terhadap Islamisme selaku ideologi. Namun, ideologi itu selalu dikaitkan erat dengan agama. Misalnya, pada bulan Agustus 2016 ia jelaskan di CNN: "Kita sedang menghadapi suatu 'isme' baru, Islamisme, yang merupakan kanker ganas dalam tubuh 1,7 miliar orang di bumi ini yang harus dilenyapkan dari tubuh itu." 

Nasionalis kanan 

Kalau Flynn menitikberatkan ancaman Islamisme radikal, Stephen Bannon berobsesi dengan sovereignty, kedaulatan nasional AS. Bannon menjabat di Gedung Putih sebagai Asisten Presiden untuk Strategi. Ia mulai diketahui umum pada 2012 tatkala ia memimpin laman kanan nasionalis Breitbart. Laman itu suka menyebarkan macam-macam kebohongan yang juga diyakini Trump, misalnya bahwa dalam Pemilihan Presiden 2016 jutaan pemilih ilegal memilih lawannya, Hillary Clinton. 

"Kelas menengah, pekerja laki-laki dan perempuan di dunia. sudah lelah dikuasai oleh partai Davos," keluh Bannon ketika ia berpidato di Vatikan pada 2014. Di Davos, Swiss, ada pertemuan tahunan pejabat dan pebisnis pro-globalisasi. Lagi pula, warga AS asli tidak bisa dapat pekerjaan di industri teknologi tinggi sebab "jurusan teknik di universitas- universitas kita penuh orang dari Asia Selatan dan Asia Timur". 

Menurut Bannon, keran imigrasi perlu ditutup sama sekali, baik buat pekerja terampil maupun rendahan. Warga negara-negara Muslim memikul beban tambahan sebab AS sedang berperang untuk menyelamatkan "Barat Yudeo-Kristen". Di Vatikan, Bannon bersitegas bahwa "setiap hari kita menghindar dari pengertian realitas perang ini, skala dan kejamnya, adalah hari yang nanti kita pasti sesalkan." 

Jeffrey Sessions adalah senator pertama dari Partai Republik yang mendukung Trump. Selama kampanye, ia tak pernah goyang, meski terungkap dalam sebuah video bahwa Trump suka meraba alat kelamin perempuan tanpa izin. Sessions berasal dari Alabama, daerah dengan ekonomi terbelakang dan masyarakat putih yang punya reputasi rasis. Banyak konstituennya menganut agama Kristen konservatif, tempat perempuan diajak untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik ketimbang bekerja di luar. 

Kini Sessions dianggap intellectual godfather, autor intelektual, tindakan-tindakan keras Trump. Menurut sebuah analisis berbobot di The Washington Post, ideologi Sessions dilandasi visceral aversion, penolakan bawaan, kepada globalisme tanpa jiwa. Persisnya: Sessions melawan keras perdagangan bebas, persekutuan internasional, dan imigrasi orang non-putih. 

Perlu diketahui, ide-ide ini tak pernah dianut oleh mayoritas besar pemimpin Partai Republik, termasuk Presiden Ronald Reagan, George HW Bush, dan George W Bush. Hampir semua pemimpin Republik di Kongres kini mendukung kebebasan ekonomi global, jaringan aliansi militer dan politik internasional yang diciptakan secara non-partisan pasca-Perang Dunia II, serta imigrasi tanpa pembatasan berdasarkan ras. Akan tetapi, partai mereka dicaplok tahun lalu oleh Trump, yang mengaku banyak dibantu oleh kecakapan politik Sessions "yang legendaris". 

Apakah kebijakan keras Trump akan dilanjutkan meski pelaksanaannya ditunda oleh hakim federal dan dikecam keras dari berbagai jurus dalam dan luar negeri? Jawaban Trump sendiri: "Percayalah kepada saya. Saya telah belajar banyak selama dua minggu terakhir, dan terorisme merupakan ancaman yang jauh lebih besar daripada pengertian umum masyarakat. Tetapi kita akan menanganinya. Kita akan menang." 
Sumber: Kompas, 16 Februari 2017

Pesan Profetik

Written By Ansel Deri on Monday, February 13, 2017 | 1:13 PM

Oleh Jannus TH Siahaan 
Pengamat Sosial Kemasyarakatan; 
tinggal di Pinggiran Bogor, Jawa Barat 

ADA pesan menarik dari Soeharto sebelum ia benar-benar melepas baju kebesarannya sebagai presiden negeri ini. Tentu, baginya bukan perkara mudah berpisah dari baju kekuasaan yang telah ia kenakan hampir 32 tahun. 

Menjelang lengser keprabon, dengan sisa-sisa suaranya yang sudah tak bertenaga, ia menyatakan akan segera turun dan siap "mandito", menjadi pendeta. Ya, menjadi pendeta dalam maknanya yang luas. Menjadi pendeta bermakna menjalani kehidupan penuh kesucian diri. 

Dua kosakata dalam dua ungkapan;lengser keprabon dan madeg panditoadalah kata-kata yang populer dari Soeharto saat diucapkannya di hadapan kaderkader Golkar. Arti lengser keprabonadalah mengundurkan diri secara sukarela dari kedudukan presiden. Adapun madeg pandito dimaksudkan sebagai orang tua yang bijaksana, yang akan tinggal di sebuah "pertapaan" dan selalu bersedia memberi nasihat kepada siapa pun yang membutuhkan. Pak Harto ingin jadi pandito; tempat memohon nasihat. 

Menjadi manusia suci 

Seandainya setiap pemimpin mengawali tugas-tugas kepemimpinan dan pelayanan kepada rakyat dengan konsepmandito, tentu roda kehidupan akan terus berputar tak jauh dari centrumnya: Tuhan. Sungguh! Seandainya Soeharto me-mandito-kan diri sejak hari pertama menjadi presiden, akhir kepemimpinannya akan jadi catatan suci bagi bangsanya. Sejatinya, setiap orang yang memanggul amanah kepemimpinan dan pelayanan adalah pemangku pesan profetik dari Tuhan. 

Setiap pemimpin yang telah diambil sumpah jabatannya, ia sudah mengenakan busana ketuhanan, mewarisi tugas-tugas kenabian dan menjadi manusia suci yang siap menjaditangan-tangan Tuhan yang maha pemurah. Pantang baginya melakukan sesuatu mengatasnamakan golongan, apalagi ambisi pribadi dan keluarganya. Seperti para nabi yang saleh, maka seorang pemimpin, dan terutama pemimpin bangsa, adalah manusia paling saleh dan paling suci dari kalangannya. 

Tentu tidak layak orang yang penuh kotoran berambisi mengenakan jubah kenabian. Busana kenabian, jika jatuh dan digunakan oleh orang-orang tak bertanggung jawab, akan melahirkan kenestapaan bagi orang lain. Untuk mengurai benang kusut kehidupan, setiap bangsa membutuhkan turun tangannya orang-orang suci. Orang-orang suci bukan semata mereka yang disematkan "jabatan" pendeta pada dirinya. Sifat kependetaan bisa melekat kepada siapa saja. 

Thomas Merton dalam Mysticism in the Nuclear Age memberikan peringatan yang pas untuk kita renungkan saat ini: saat di mana orang-orang yang seharusnya sudah mandito, tetapi masih ikut terlibat, dan bahkan menambah kusut persoalan bangsa. "Anda tidak bisa menyelamatkan dunia hanya dengan sebuah sistem. Anda tak dapat meraih kedamaian tanpa kedermawanan. Anda tidak bisa mendapatkan keteraturan sosial tanpa hadirnya orang-orang suci, kaum moralis dan para nabi." 

Kedermawanan adalah sifat para nabi, manusia suci dan mereka yang istikamah yang berputar-putar hanya di sekitar rumah Tuhan. Memberi kesempatan kepada setiap orang agar dapat memimpin dengan benar dan baik adalah sifat kedermawanan. Sifat ini dapat juga dilihat dari kebesaran hati seseorang untuk tidak mengganggu ketika semua orang tengah berjuang menyelamatkan biduk di tengah gelombang kehidupan yang ganas. Tidak dermawan seseorang jika lebih senang mendahulukan diri, keluarga, dan kelompoknya daripada kepentingan khalayak. 

Kedermawanan hanya dapat tumbuh dengan baik dalam diri manusia yang baik pula. Manusia yang berkembang secara jasmaniah dan rohaniah. Bukan hanya subur tubuhnya, melainkan kering rohnya. Bukan yang menjulang secara teori, tetapi menukik moralnya. Ia adalah tipikal manusia yang menjalani kehidupan material dan spritual sekaligus. Kalau tidak, maka kecemasan Jean Jacques Rousseau akan jadi kenyataan: "Semakin banyak orang pandai, semakin sulit dicari orang jujur." 

Bagi filosof kenamaan Perancis ini, manusia masa kini lebih senang mengembangkan akal kognitifnya ketimbang mempertajam sentuhan akal rohaninya. Akibatnya, setiap kesengsaraan rakyat hanya diukur dengan angka dalam statistik. Jumlah rakyat yang miskin cuma berarti angka dan uang. Semakin besar jumlah angka kemiskinan semakin berlipat keuntungan yang siap mereka peroleh. Semakin lebar jurang disparitas si kaya yang si miskin, semakin panjang harapan menumpuk harta dan mempertahankan kekuasaan. 

Sifat dan sikap semacam ini menghinggapi nyaris semua pemimpin dari semua kalangan dan profesi. Sebuah kejahatan yang sistemik dan dilakukan secara berjemaah. Seperti dogma. Dari legislatif, eksekutif, hingga yudikatif. Dari pimpinan organisasi politik hingga organisasi keagamaan. Dari pimpinan organisasi kemasyarakatan pemuda hingga mereka yang memimpin komunitas veteran. Veteran perang, veteran agamawan, hatta para mantan lulusan sekolah tertentu yang sudah jadi veteran. Mereka bergerak sesuai dogma. Masif! Seragam. Masing-masingmemaksakan kehendaknya kepada yang lain yang juga bangsanya sendiri. 

Mereka pelayan rakyat 

Sejatinya setiap orang lahir membawa pesan kenabian. Pesan kemaslahatan untuk diri, keluarga dan lingkungannya. Pesan untuk saling menyelamatkan dan saling membahagiakan. Sebab, tak ada kebahagiaan seseorang tanpa campur tangan orang lain. Pesan agar bisa saling menghormati bukan saling menistakan. Pesan untuk siap menerima perbedaan di antara kesamaan. Bukan pesan yang hanya membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. 

Manusia adalah makhluk dua dimensi. Radio dua band yang dianugerahi kemampuan menangkap pesan gelombang pendek dan gelombang panjang. Karena terdiri dari fisik dan nonfisik, manusia bisa menyimpan firman Tuhan dalam dirinya. Ia bisa merasakan deras air mata si miskin di tengah gemerlap kehidupan yang menipu. Ia harusnya mampu menangkap pesan kenabian dan isyarat dari Tuhan yang mahaperkasa di tengah keteraturan alam semesta. 

Hari Rabu, tanggal 15 Februari 2017, pemilihan kepada daerah diselenggarakan serentak. Ini akan jadi momentum menunggu calon-calon manusia suci dari seluruh Tanah Air. Kepada mereka, akan dititipkan masa depan kehidupan kita, paling kurang untuk lima tahun ke depan. Mereka adalah para pelayan yang tengah dipersiapkan mengenakan busana kenabian. 

Camkan dan ingatlah! Kalian akan mengemban pesan profetik. Jangan berandai-andai akan mandito ketika sesal sudah tak berguna. Mari tetap berharap kita tidak jauh dari Tuhan.
Sumber: Kompas, 13 Februari 2017
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger