Headlines News :

Artikel Terbaru

Tahun Politik?

Written By Ansel Deri on Tuesday, January 09, 2018 | 4:03 PM

Oleh Budiarto Shambazy
Wartawan Kompas 1982-2017

JUDUL  di atas diakhiri dengan tanda tanya karena istilah “tahun politik” mengernyitkan dahi.

Dalam bahasa Inggris, tidak ada “political year”. Di negara-negara Barat dikenal sebutan “election year” (tahun pemilihan), merujuk pada pilpres atau pemilu yang diselenggarakan tahun tertentu.

Di sini bahkan Presiden Joko Widodo pun sudah beberapa kali mengucapkan kalimat “tahun politik” itu. Sebagian kalangan langsung teringat judul pidato Presiden Soekarno, “Tahun Vivere Pericoloso” dalam perayaan Proklamasi 17 Agustus 1964. Ada juga sejumlah kalangan menyingkat “tahun politik” menjadi “tapol”, entah apa maksudnya.

Istilah tahun politik salah kaprah karena 2018 lebih tepat disebut “tahun pilkada”. Ini merujuk pada penyelenggaraan pemilihan kepala daerah di provinsi dan kabupaten-kota di 171 lokasi. Beberapa tahun lalu berlangsung pilkada di 260-an lokasi, tapi ketika itu belum ada istilah “tahun politik”.

Tahun 2019 akan diselenggarakan pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) yang berlangsung serentak 17 April 2019. Kalau 2018 diistilahkan sebagai tahun politik, lalu 2019 tahun apa?

Kedua tahun tersebut memang mustahil dipisahkan. Apa yang terjadi pada tahun pilkada 2018, berkaitan erat dengan prospek pileg-pilpres 2019. Partai-partai yang moncer pada pilkada tentu berpeluang merebut suara secara signifikan pada pileg 2019, sementara yang kalah makin terpuruk.

Benarkah? Lalu bagaimana hubungan antara pilkada 2018 dengan pilpres 2019?

Ini masih jadi pertanyaan menarik, walaupun menurut berbagai survei Joko Widodo berpeluang besar terpilih lagi sebagai presiden 2019-2024. Jangan lupa, Prabowo Subianto juga masih berpeluang meskipun hasil beberapa survei masih menempatkan dia di urutan kedua.

Bisa jadi 2018 disebut sebagai tahun politik karena spekulasi tentang siapa yang akan menjadi cawapresnya Jokowi dan Prabowo. Pendaftaran capres-cawapres dijadwalkan Agustus 2018, atau sekitar 7-8 bulan dari sekarang. Ini waktu yang tidak lama bagi Jokowi maupun Prabowo, yang mempunyai pilihan cawapres lumayan banyak.

Tapi jangan cepat-cepat terpukau dengan 2018-2019 karena yang namanya tahun politik sudah terjadi sejak 16 November 2016, sewaktu Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama ditersangkakan karena menista agama. Cerita selebihnya, Anda sudah tahu.

Jadi sebenarnya kita sudah kenyang dengan tahun politik sepanjang 2016-2017. Sebagian warga bahkan sudah muak dengan gonjang-ganjing politik yang sempat mempermainkan isu-isu SARA. Rasa bangga dan optimisme terhadap masa depan politik bangsa ini dikubur dalam-dalam oleh berbagai fitnah serta ujaran kebencian SARA.

Kini ada bahaya politisasi agama ala Jakarta akan diviralkan ke pilkada 2018, terutama di provinsi-provinsi di Pulau Jawa.

Kecebong vs Kampret

Saat ini, gonjang-ganjing politik sejak 2016 saling menghadap-menghadapkan dua kubu yang membelah Indonesia, yakni antara kubu pro-Jokowi versus anti-Jokowi. Dalam istilah media sosial, antara kubu kecebong melawan kubu kampret.

Ya, Indonesia telah terbelah atas dua kelompok binatang. Dan, keterbelahan itu akan dengan mudah ditemukan begitu Anda membuka gawai setiap pagi.

Siapa yang bisa mengakhiri keterbelahan ini? Jawabannya: ya diri kita masing-masing.

Caranya? Ya dengan meyakini bahwa politik kita belum bangkrut. Relakanlah hak Anda dengan mengandalkan nurani dan akal sehat saat mencoblos, jangan golput. Seperti  dalam sepak bola, kalau jagoan Anda menang syukurilah dan jika kalah terima dengan besar hati.

Kita sudah 20 tahun jungkir-balik bersama mengawali era baru bernama Reformasi sejak 1998. Kita yakin demokrasi pilihan yang terbaik setelah hidup dalam penindasan 32 tahun Orde Baru. Memang selama era Reformasi kita masih dalam tahap menjalani demokrasi yang prosedural, tetapi semakin terkonsolidasi dan berkualitas.

Tentu saja demokrasi senantiasa menghadapi ancaman, seperti yang terjadi 4 November 2016 ketika sebuah aksi berusaha dimanipulasi menjadi kerusuhan dengan harapan bisa berujung pada pemakzulan Presiden. Dan, ingatlah, ancaman serupa bukan tak mungkin bisa terjadi kembali tahun ini atau tahun-tahun mendatang.

Kinerja pemerintah memang belum sempurna, masih banyak yang harus dibenahi. Tak semua menteri tampil sesuai harapan sehingga sering muncul tuntutan merombak kabinet. Sejumlah kalangan pun, terutama dunia usaha, juga mengungkapkan kekecewaan terhadap kondisi ekonomi.

Namun, politik kita jauh dari gejala membusuk. Dari tahun ke tahun ia malah bertambah segar karena kepemimpinan nasional yang merakyat dan anti-korupsi, yang diamini oleh berbagai kalangan masyarakat sipil di dalam negeri dan diakui oleh dunia internasional. Selamat menikmati Tahun Politik 2018-2019! 
Sumber: Kompas, 8 Januari 2018

Presiden Bagikan 1.015 KIP dan 500 PKH di Rote Ndao

DALAM kunjungan kerjanya ke Provinsi Nusa Tenggara Timur, hari ini, Presiden Joko Widodo mendistribusikan langsung bantuan sosial dari pemerintah berupa Kartu Indonesia Pintar (KIP) bagi para pelajar dan Kartu Program Keluarga Harapan (PKH) bagi para keluarga prasejahtera. Kali ini, distribusi bantuan tersebut dilakukan di SMPN 4 Rote Barat Daya, Desa Lantera, Kelurahan Meoain, Kabupaten Rote Ndao.

Sebanyak 1.015 KIP dibagikan kepada para pelajar mulai dari SD hingga SMA/SMK pada kesempatan tersebut. Melalui kebijakan KIP, pemerintah berharap agar seluruh anak Indonesia mendapatkan akses kepada pendidikan yang layak. Demikian keterangan pers yang diterima dari Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden dari Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Selasa, (9/1) 2018.

Terdapat tiga skema pembiayaan bagi para pelajar melalui KIP itu. Kepada para pelajar tingkat SD, diberikan dana bantuan sebesar Rp 450 ribu per tahun. Untuk pelajar SMP, diberikan Rp 750 ribu. Sedangkan untuk tingkat SMA maupun SMK, diberikan dana bantuan sebesar Rp1 juta.

"Saya perlu ingatkan kepada anak-anakku semuanya agar anggaran yang ada di sini itu dipakai untuk hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan. Untuk beli seragam sekolah boleh, beli sepatu boleh, beli topi sekolah boleh, beli buku boleh, untuk bayar sekolah boleh. Beli pulsa boleh tidak? Tidak boleh," Presiden mengingatkan.

Adapun Kartu PKH diberikan kepada 500 keluarga prasejahtera. Presiden membagikan kartu PKH sebagai program perlindungan sosial yang menyediakan bantuan nontunai sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

"Kemudian untuk ibu-ibu, tadi sudah mendapatkan kartu PKH. Ada dana berapa di dalamnya? Rp 1.890rb. Saya titip uang itu betul-betul digunakan yang berkaitan dengan pendidikan dan gizi anak," kata Presiden.

Untuk diketahui, dana total yang tersedia dalam kartu PKH itu dapat diambil sebanyak empat kali melalui bank yang telah ditunjuk pemerintah. Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla memang sejak awal menjadikan sistem perbankan sebagai media penyaluran bantuan kepada masyarakat. Dengan diterapkannya sistem tersebut, penyalahgunaan dana bantuan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dapat semakin diminimalisir.

Selain menyerahkan KIP dan PKH, Presiden juga meresmikan Unit Sekolah Baru (USB) SMPN 4 Rote Barat Daya. 

Turut hadir mendampingi Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo dalam acara tersebut adalah Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, dan Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya. (Ansel Deri) 
Ket foto: Presiden Joko Widodo bersama seorang siswa (gbr 1) dan seorang petani (gbr 2) saat kunjungan kenegaraan di Rote Ndao, Selasa, (9/1). 

Kidung Natal

Written By Ansel Deri on Saturday, December 23, 2017 | 7:08 PM

Oleh Daoed Joesef 
Alumnus Universitas Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne 

MENJELANG Natal di tahun 1818, Klerikus Joseph Mohr, berusia 22 tahun, menemukan kerusakan cukup parah dari orgel Gereja St Nicholas. Rumah ibadat ini kecil, terletak di Oberndorf, sebuah desa di dekat Salzburg, Austria.

Mohr bingung. Kalaupun montir di Salzburg sanggup mereparasi orgel, berhubung jalan bersalju, begitu dia tiba di gereja, misa Natal pasti sudah selesai. Bagi pendeta muda ini, Natalan tanpa kidung yang diiringi alunan musik pasti hambar. Apalagi dia punya talenta musik.

Mohr berasal dari keluarga melarat, tetapi tak mau pasrah begitu saja pada nasib. Dia memanfaatkan talentanya, mencari uang dengan jalan bernyanyi, bermain biola dan gitar di depan umum, serta mengadakan pertunjukan keliling. Kerja keras dan talentanya menarik perhatian seorang rohaniwan dan menganjurkan dia untuk masuk seminari.

Dia dibaptis menjadi pendeta di tahun 1815 dan ditugaskan di Oberndorf tahun 1817. Di sini dia tidak hanya memimpin kebaktian sesuai ketentuan religius. Dia menimbulkan kekaguman di kalangan kongregasinya berkat ketangkasannya bermain gitar dan kepiawaiannya beralih dari musik rakyat ke aneka himne.

Kidung bersejarah

Ketika menghadapi masalah kerusakan orgel inilah Mohr mengunci diri di kamar studinya. Menyadari bahwa kidung tradisional Natalan tidak akan baik kedengaran apabila didengungkan melalui petikan dawai gitar, dia memutuskan untuk menciptakan suatu kidung baru.

Sambil menindih secarik kertas dengan tangan memegang pena bulu ayam, dia teringat pada satu keluarga jemaatnya yang baru-baru ini dia kunjungi ketika datang memberkahi bayi mereka yang baru lahir. Kenangan mengenai ibu yang menyelimuti bayinya agar tak kedinginan membuat pikiran Mohr melayang ke kelahiran lain dua ribu tahun yang lalu, kelahiran Kristus, juru selamat manusia.

Dia mulai menulis. Pena bulu ayamnya bergerak bagai dituntun oleh tangan yang tak kelihatan. Suatu refrein yang sangat menggugah tampil di atas kertas: "Stille Nacht, heilige Nacht", "malam kudus, sunyi senyap". Dia menceritakan mukjizat Natal dalam enam stanza. Kata-katanya mengalir lancar bagai langsung dari surga.

Waktu semakin mendesak. Pantun ciptaannya sudah selesai, tetapi masih perlu disiapkan berupa kidung guna dinyanyikan dalam misa tengah malam. Mohr memutuskan mengunjungi sahabat karibnya, Franz Xaver Gruber, usia 31 tahun, seorang guru sekolah di dekat Arnsdorf dan merupakan komponis yang lebih terampil daripada dia sendiri.

Walau hampir tak ada waktu untuk latihan ala kadarnya, Mohr dan Gruber sepakat tampil bersama. Mohr memetik gitar dan bernyanyi tenor, sementara Gruber bernyanyi bas. Sesudah setiap stanza, penyanyi koor gereja akan melantunkan refrein.

Pada tengah malam, di tengah-tengah hujan salju, para anggota jemaat berdatangan. Mereka kira orgel sudah direparasi dan bisa mengiringi Kidung Natal yang sudah biasa mereka nyanyikan dari waktu ke waktu. Namun, Mohr menjelaskan bahwa orgel masih belum bisa berfungsi. Walaupun begitu, misa tengah malam tetap diadakan disertai iringan musik. Dia dan Gruber telah menyiapkan suatu Kidung Natal khusus bagi kongregasi.

Bersamaan dengan bunyi gitar, suara-suara gabungan mengisi setiap pelosok gereja. Lantunan koor gereja bergabung secara harmonis pada tiap refrein. Semua anggota jemaat yang mendengar dengan khidmat sungguh terpesona dan segera mengagumi kidung baru yang semurni dan sesegar air Pegunungan Alpen. Akhirnya Mohr beralih ke peringatan misa dan kongregasi berlutut sambil berdoa. Perayaan Natal di Gereja St Nicholas berakhir memuaskan seperti sediakala. Suatu sukses yang sungguh tak terlupakan, diucapkan dari mulut ke mulut. Mereka sepakat untuk mengatakan bahwa kidung tidak hanya baru, tetapi ini baru kidung.

Meninggal dalam sengsara

Kelompok penyanyi Tyrol yang secara teratur tampil di berbagai pentas Eropa menambahkan "Stille Nacht, heilige Nacht" ke dalam repertoar mereka. Kidung Natal baru ini gemanya menyeberangi Lautan Atlantik dan memesona Amerika, menyeberangi Lautan Hindia dan memesona penghuni seluruh penjuru dunia. Kidung ini dinyanyikan dalam bahasa-bahasa lokal —Swahili, Jepang, Rusia, Korea, China, dan Indonesia— dengan khidmat sekaligus dengan rasa tenteram, damai, dan gembira. Beberapa penyanyi tenar pernah menyanyikannya.

Mohr tidak pernah menduga Kidung Natal yang digubahnya akan mencapai lubuk hati para insan di setiap pelosok dan penjuru dunia. Dia meninggal dalam kesengsaraan karena pneumonia pada usia 55 tahun. Ketika Herr Gruber meninggal tahun 1863, hak ciptanya masih diragukan.

Lama-kelamaan Kidung Natal sederhana ini terasa punya cukup kekuatan batin untuk mampu menciptakan kedamaian sejati. Ketika berlaku gencatan senjata dalam Perang Dunia I, para serdadu Jerman di parit-parit pertanahan mereka mulai menyanyikan "Stille Nacht", segera dijawab oleh para serdadu Inggris dengan lagu "Silent Night" dari parit pertahanan mereka. Kata berjawab, gayung bersambut. Anggota setiap pihak kemudian bermunculan di permukaan medan dengan melambaikan tangan masing-masing.

Selama perang serupa, di kamp tawanan Siberia, ketika serdadu Jerman, Austria, dan Hongaria melantunkan koor "Silent Night", komandan Rusia mengatakan kepada para tawanan dengan bahasa Jerman seadanya bahwa "… Malam ini, untuk pertama kalinya selama lebih dari setahun, saya mampu melupakan bahwa Anda dan saya dianggap bermusuhan…."

Ketika Cekoslowakia dikuasai oleh Nazi-Jerman tahun 1941, seorang perwira Jerman yang mengunjungi rumah anak yatim piatu bertanya apakah ada di antara mereka yang mampu menyanyikan "Stille Nacht". Dua anak maju dengan ragu-ragu, sebab di negeri ini yang berbahasa Jerman biasanya orang Yahudi. Melihat keraguan itu, sang perwira berkata lembut, "Jangan takut, bernyanyilah!"

Menjelang Natal di masa Perang Korea, seorang serdadu jaga Amerika mendengar langkah dari daerah musuh yang semakin mendekat. Dengan jari siap menembak, dia lihat sekelompok orang Korea muncul dari kegelapan malam sambil tersenyum. Selagi serdadu Amerika itu terbengong-bengong menyaksikan sikap musuhnya itu, mereka bernyanyi "Silent Night" dalam bahasa Korea, khusus untuk dia, seorang Amerika. Sesudah itu mereka mundur kembali, menyatu dengan kegelapan.

Suasana syahdu berkat sinergi kekuatan syair dan melodi Kidung Natal rupanya meresapi lubuk hati mereka, tak beda dengan suasana lubuk kalbu insan di seluruh dunia ketika seorang pendeta dan guru sekolah melantunkan Kidung Natal untuk pertama kalinya, 193 tahun lalu.

Malam kudus, sunyi senyap… Selamat Natal dan Tahun Baru…

(Bahan tulisan ini diperoleh dari berbagai sumber otentik,
di antaranya Per Ola danEmily d'Aulaire).
Sumber: Kompas, 23 Desember 2017

Pesan Politik Natal

Oleh Otto Gusti
Alumnus Hochschule für Philosophie Muenchen, Jerman;
Dosen Filsafat dan HAM di STFK Ledalero, Maumere, Flores 

RENCANA penyelenggaraan Perayaan Natal Bersama di Lapangan Monas dengan biaya anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Provinsi DKI Jakarta sempat memicu kontroversi (Media Indonesia, 21/12). Sejumlah warga mangajukan protes atas rencana ini. Alasannya, sekali lagi agama di sini dipakai sebagai instrumen di tangan penguasa untuk kepentingan politik pencitraan dan kontestasi demokrasi elektoral pada 2019.

Tentu aneh dan seharusnya patut dicurigai jika negara berpura-pura dermawan untuk mengatur perayaan Natal. Secara historis dalam peristiwa Natal, umat Kristen memperingati kelahiran seorang bayi yang kehadiran-Nya ditolak negara. Bayi tersebut bernama Yesus Kristus dan umat Kristen dalam cahaya iman memandang-Nya sebagai putra Allah. Sejak awal kehadiran di tengah dunia, bayi Yesus dianggap sebagai ancaman bagi para penguasa politik, ekonomi, dan agama.

Berbela rasa dan provokasi

Esensi dari pesan Natal ialah peristiwa Allah menjelma menjadi manusia. Dalam peristiwa Natal, umat kristiani merayakan Allah yang meninggalkan kebesaran dan masuk ke kerapuhan sejarah manusia yang fana. Natal adalah simbol radikalitas solidaritas Allah dengan manusia dan terutama dengan para korban yang terpinggirkan.

Keterlibatan Allah dalam sejarah manusia bertujuan mengangkat martabat manusia dan memancarkan sinar pengharapan. “Bangsa yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Harapan ini dinubuatkan Nabi Yesaya beberapa abad sebelum Yesus lahir.

Nubuat ini ibarat tetesan embun bagi bangsa Israel yang berada di tengah prahara ketakutan dan penjajahan di tempat pembuangan Asiria. Putra raja yang dijanjikan itu saleh seperti Musa dan para bapa bangsa, berani seperti Daud, dan bijaksana serta cinta damai seperti Salomo.

Kehadiran Yesus dipandang sebagai ancaman bagi para penguasa dunia lantaran cara hidup-Nya yang dipandang terlalu provokatif untuk dunia. Provokasi Yesus tidak bersifat kategorial, tapi total (Jon Sobrino, 2008). Bersifat total karena bertumbuh dari sebuah inkarnasi ke tengah dunia yang dikuasai kejahatan dan kegelapan dosa. Dalam dunia seperti ini tak mungkin Yesus bersikap netral, sebab bersikap netral berarti membiarkan kejahatan berkuasa. Atas nama Kerajaan Allah, Yesus beroposisi terhadap kerajaan kekelaman.

Penyaliban dan kematian Yesus merupakan konsekuensi logis dari cara hidup dan keberpihakan-Nya yang radikal kepada orang-orang miskin. Pewartaan dan praksis hidup Yesus adalah ancaman besar bagi para pemimpin agama dan politisi masa itu. Yesus adalah seorang figur kontroversial, bahkan provokatif. Hidupnya mengganggu kemapanan para penguasa, maka ia dibenci dan dihukum mati. Provokasi Yesus tidak bersifat artifisial untuk sebuah pencitraan, tapi eksistensial. Yesus atas nama Allah yang membebaskan dan berpihak pada orang-orang miskin membongkar berhala-berhala para pemuka agama yang berkolusi dengan para pengusaha hitam serta politisi korup berlagak santun dan saleh pada masanya.

Logos dan politik

Allah yang menjelma menjadi manusia dalam peristiwa Natal itu oleh penginjil Yohanes disebut sabda, bahasa, atau logos. Tanpa bahasa tak ada komunikasi antarmanusia, tak ada komunitas, agama, dan negara. Pemikir politik zaman Yunani Kuno, Aristoteles (384/383-322 SM), mengartikan manusia sebagai ‘zoon logon echon’–‘makhluk yang memiliki logos atau bahasa’. Bagi Aristoteles, manusia adalah makhluk berbahasa. Bahasa bagi Aristoteles adalah sarana komunikasi yang mempertemukan manusia dan membangun komunitas kolektif.

Aristoteles membedakan tiga tingkatan bahasa. Pada tingkatan pertama terdapat bahasa binatang berupa bunyi atau suara (phone). Lewat gonggongan, seekor anjing misalnya memberi tanda. Bahasa binatang hanya mengandung bunyi dan mengekspresikan nafsu atau rasa sakit. Pada level kedua dan ketiga terdapat bahasa manusia yang mengungkapkan asas manfaat (utilitarisme) dan kerugian, diskursus tentang yang baik dan buruk, yang adil dan ketidakadilan. Pada tingkat inilah muncul esensi dari yang politis pada manusia. Kesamaan pandangan bermuara pada lahirnya komunitas ekonomi dan politik.

Sebagai makhluk politis, manusia seharusnya melampaui gonggongan animalis ekspresi syahwat kekuasaan seperti dipertontonkan politisi. Politik harus mampu membangun komunikasi dan deliberasi rasional humanistis guna mencari kebenaran dan bertindak untuk kesejahteraan bersama. Dengan demikian, kebahagiaan sebagai tujuan akhir politik dapat tercapai. Untuk itu, logos atau bahasa politik harus steril terhadap manipulasi serta kebohongan publik. Bahasa politik adalah ekspresi kebenaran dan cahaya penuntun untuk bertindak etis. Kebenaran dan kebaikan sejati itu dalam bahasa Penginjil Yohanes hanya ditemukan dalam logos (Allah) yang merupakan sumber dan pencipta segala bentuk komunikasi yang memungkinkan terbangunnya solidaritas antarmanusia.

Dalam peristiwa Natal, logos itu menjelma menjadi manusia, mengangkat martabat manusia, dan menjadi terang yang menuntun perjalanan sejarah bangsa-bangsa. Semoga perayaan Natal dapat melampaui kesalehan privat-ritualistis, dan menjadi bara api spiritualitas yang membakar semangat guna menuntaskan masalah-masalah etika, sosial, dan moral yang tengah mendera bangsa Indonesia. 
Sumber: Media Indonesia, 23 Desember 2017
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger