Headlines News :

Artikel Terbaru

Viktor Bungtilu Laiskodat: Kisah Baju yang Jelek Dibandingkan Serbet

Written By Ansel Deri on Wednesday, July 11, 2018 | 10:45 PM

Pengalaman sekolah dan perjuangan Cagub Viktor Bungtilu Laiskodat selama remaja hingga sukses sebagai politisi dan pengusaha, penuh lika liku. Pernah jadi kuli gali lubang resapan air di Belo. Viktor yang berpasangan dengan calon wakil gubernur Josef A Nae Soi, mantan anggota DPR dua periode dan staf khusus Menteri Hukum dan HAM RI, ini juga menanam bawang untuk menambah uang saku. Pernah diledek karena bajunya lebih jelek dibandingkan serbet.

CORNALIA Wila Here (54) mengusap air matanya. Ia membetulkan posisi kursi plastik dan mempersilahkan penulis dan Johny Tengkere (Jete) duduk, saat kami menyambangi rumahnya di Jl Lapangan Tembak, Nunbaun Sabu, Kupang, pekan lalu. Warga Kelurahan Nunbaun Sabu, Kecamatan Alak, Kupang, itu terharu mengingat pengalaman bersama sahabatnya, Viktor Bungtilu Laiskodat, saat menimbah ilmu di bangku sekolah menengah pertama di Kupang.

Ibu Kuji –sapaan akrabnya– tak pernah menyangka, beberapa dari sahabat karibnya di masa sekolah, adalah orang-orang yang terbilang sukses di bidangnya. Sebut saja Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat, Ketua Umum Pertina 2016-2020 Brigjen Pol Drs Johny Asadoma, dan manan Rektor Universitas PGRI NTT Samuel Haning, dan lain-lain.

“Sebelum Pak Veki dan beberapa anggota keluarga pergi mengunjungi ibunya di Semau, beliau masih sempatkan diri ke rumah saya. Tiba-tiba beliau sudah di depan rumah saya. Saya bingung karena ada beberapa mobil parkir berderet di jalan depan rumah saya. Setelah saya lihat mukanya lama-lama, saya baru sadar kalau teman sekolah dulu. Saat itu saya menangis,” ujar Ibu Kuji didamping suaminya, Yosua A Huru (69), ibu kandung, dan anak-anaknya saat ditemui di rumahnya, Nunbaun Sabu.

Cerita serbet

Pengalaman saat masih menimbah ilmu bersama sahabatnya, Veki, di sekolah menengah pertama di Kupang tahun 1970-an, masih membekas dalam dinding memory Ibu Kuji. Nyaris setiap hari kadang Veki tak pernah memakai sepatu. Beju seragam sekolah, disisip di belakang baju kaos. Bukunya pun hanya dimasukkan di saku belakang celana seragamnya.

“Satu waktu Veki masuk sekolah. Dia hanya pake kaos yang kusut-kusut. Baju seragam disimpan dalam kaos dan ditaro di punggung.`Ada guru yang marah dengan penampilan Veki. Dia bilang, ‘Lu pu baju kaos itu jelek sekali. Beta punya serbet di rumah mangkali lebih bagus dari lu pu kaos itu’. Tapi, Veki cuek saja mendengar kata-kata itu. Peristiwa ini buat beta susah lupa. Tapi, kita kan sonde tau nasib orang. Hanya Tuhan saja yang tahu,” kata Kuji sembari mengusap matanya yang nampak sembab.

Menurut Lurah Oepura, Kota Kupang periode 1990-2005, Nomensen Muni, Viktor Bungtilu Laiskodat adalah tipikal pekerja keras. Beliau juga seorang yang cerdas dan tegas. Usai menyelesaikan sekolahnya di SMA PGRI Kupang tahun 1985, Viktor Laiskodat masih menyempatkan diri mencari uang sendiri dengan bekerja serabutan sebagai buruh kasar.

”Beliau pergi ke Belo, arah ke Sikumana. Di Belo dia gali lobang untuk tempat jebakan atau resapan air. Beliau juga pernah tanam bawang di kampung Noekele, Desa Tuatuka, Kupang Timur. Hasilnya dia jual untuk keperluan sehari-hari,” ujar Nomensen, yang menjadi induk semang Viktor Laiskodat selama Viktor sekolah SMA di Kota Kupang.

Menurut Nomensen, selama menjabat Lurah Oepura, Viktor Laiskodat juga masih menggeluti aktivitasnya sebagai penggali lobang untuk resapan air. Tak lama berselang, Viktor Laiskodat menghilang entah kemana. Namun, suatu waktu ada beberapa staf kelurahan menyampaikan bahwa Viktor Laiskodat sudah berangkat untuk merantau di Jakarta. Ada surat keterangan jalan dari Lurah Oepura.

“Saya tanya ke suami, kenapa ade Veki (Viktor Laiskodat) berangkat ke Jakarta Lurah sonde tahu. Rupanya saat itu di atas meja banyak surat sehingga suami tak ingat pasti. Tahu-tahu, ade Veki sudah di Jakarta. Kami hanya dengar dia kasi kabar bahwa dia sudah lulus kuliah dan mau kerja,” kata Ny Nomensen.

Bersinar

Boleh jadi, berkat doa kedua orangtuanya di Tubululin dan dukungan keluarga dan semangat kerja yang pantang menyerah, karier suami Julie Sutrisno Laiskodat ini terus bersinar. Anak kampung dari Tubululin ini terus mengukir prestasi gemilang di Jakarta. Usai menyelesaikan kuliahnya di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STIH) Jakarta, ia membangun firma hukum, Viktor B Laiskodat Law Firm, Jakarta.

Viktor, politisi kelahiran Oenesu, 17 Februari 1965 ini pernah menjabat anggota DPR RI masa tugas 2004-2009 Partai Golkar. Ia juga tercatat sebagai salah seorang inisiator Ormas Nasional Demokrat, cikal bakal Partai NasDem, yang mengusung Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia.

Setelah maju dalam bursa Pileg 2014 melalui Partai NasDem, ia akhirnya melangkah ke Senayan bersama Johnny G Plate. Viktor Laiskodat didapuk langsung sebagai Ketua Fraksi NasDem DPR RI oleh Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Sedang koleganya, Johnny Plate, mendapat kepercayaan sebagai Sekretaris Jenderal Partai NasDem sekaligus Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI.

Pada Pileg 2014, Viktor terpilih menjadi anggota DPR RI setelah mengumpulkan 77.555 suara dari Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur 2 (Dapil NTT 2). Dapil ini meliputi 10 kabupaten masing-masing Belu, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, dan Kota Kupang.

Saat ini, selain sebagai Ketua Fraksi NasDem, ia juga duduk di Komisi I yang membidangi pertahanan, intelijen, luar negeri, komunikasi dan informatika. Pada Pemilihan Presiden 2014, ia dipercaya sebagai Badan Pemenangan Pilpres Calon Presiden-Wakil Presiden yang mengantar Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden. (ansel deri/jdz) (bagian 2)

Viktor Bungtilu Laiskodat
Lahir : Oenesu, 17 Februari 1965

Pendidikan:

• SD Semau, Kupang
• SMP Negeri 1, Kupang
• SMA PGRI, Kupang
• Sekolah Tinggi Hukum Indonesia, Jakarta

Riwayat Pekerjaan:

• Pengacara di kantor Hukum Victor B. Laiskodat Law Firm
• Direktur PT Elok Kurnia Sejati
• Anggota DPR RI dari Partai Golkar 2004-2009
• Anggota DPR RI dari Partai NasDem 2014-2019
• Ketua Bidang Pertanian dan Maritim DPP Partai NasDem (2013-2018)
• Badan Pemenangan Pilpres Jokowi-JK (2014)
Ketua Fraksi NasDem DPR RI (2014-2019
Sumber: mediantt.com, 18 Februari 2018
Ket foto: Calon Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan Calon Wakil Gubernur Josef A Nae (gbr 1) dan bersama isteri, Julie Laiskodat, ibunda Orpa Kase dan anak-anaknya (gbr 2)

Viktor Bungtilu Laiskodat: Saat Kecil Membantu Orangtua Pungut Rumput di Kebun

Karir dan perjalanan hidup setiap orang tak ada yang bisa tahu. Kerja keras, disiplin, tekun, dan dilandasi doa bakal mengantar orang bersangkutan meraih sukses dalam hidup. Calon Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, anak petani dari kampung Tubululin, Pulau Semau, Kupang, sudah membuktikan.

SEKITAR tahun 1970-an, (alm) Lazarus Laiskodat dan Orpa Kase membangun pondok kecil di kebunnya, kampung Tubululin, Kecamatan Semau Barat, Pulau Semau, Kabupaten Kupang. Semau adalah pulau yang berada di beranda Kota Kupang. Saat itu tak ada penduduk lain yang tinggal di Tubululin. 

Di kampung itu, pasangan suami-isteri petani sederhana, Lazarus Laiskodat dan Orpa Kase, berkebun untuk menghidupi keenam anak mereka sekaligus menyiapkan masa depan pendidikan. Seluruh anggota keluarga sederhana itu pulang kampung setelah lama tinggal di Oenesu, Pulau Timor.

“Setelah kami semua lahir di Oenesu, bapa dan mama memutuskan kami semua pulang kampung di Tubululin, Desa Otan, Semau. Bapa dan mama mau menjaga dan mengolah tanah dan kebun warisannya. Bapa dan mama mau kami sekolah semua agar kelak bisa berguna bagi kampung dan daerah,” kenang Penina Laiskodat (60), kakak perempuan Viktor Bungtilu Laiskodat.

Pungut rumput

Di Tubululin, Lazarus dan Orpa berkebun dan menghidupi ekonomi keluarga. Keenam anak mereka, Welem Hendrik Laiskodat, Penina Laiskodat, Yohanis Laiskodat, Ariance Laiskodat, Viktor Laiskodat, dan (alm) Paulus Laiskodat, juga ambil bagian membantu orangtua mereka di kebun, sembari melanjutkan sekolah di SD Negeri Otan, Semau Barat.

“Ade Veki (sapaan akrab kerabat dan kolega Viktor Bungtilu Laiskodat) juga ikut pungut rumput untuk taro di pematang. Kalau bapa dan mama abis tofa rumput, kami rame-rame angkat dan taro di pematang. Setiap pulang kebun atau sekolah, kami juga bantu bapa dan mama ambil air dari Uitao, jauh dari pondok kami di Tubululin,” lanjut Penina Laiskodat di kediamannya, Jl Kedondong, Oepura, Kupang.

Di pondok kecil yang mereka tempati, tak ada tempat tidur. Mereka semua tidur di tanah beralaskan tikar yang dianyam ala kadarnya. Sang bunda, Orpa, memiliki ketrampilan menganyam tikar dari daun lontar yang dipotong sang suami di kebun milik mereka.

“Jagung, kacang tanah, sayur-mayur dari kebun ditaro semua di dalam pondok. Kalau malam, binatang piaraan kami seperti anjing dan ayam juga kami kasi masuk di pondok. Pagi-pagi sebelum kami pigi sekolah, kami juga bantu bapa dan mama kasih makan piaraan kami. Pekerjaan seperti ini bikin kami sangat senang sebagai anak kampung,” kata Penina.

Selain itu, Penina dan adik-adiknya, termasuk Viktor Laiskodat, juga membantu kedua orangtua membersihkan padi dan jagung yang dibawa dari kebun sebelum diisi dalam wadah untuk dijemur di dalam rumah sekaligus pondok mereka. 

“Bapa dan mama potong buliran padi kemudian bawa ke pondok. Kami semua, termasuk ade Veki punya tugas injak untuk mendapatkan buliran padi. Setelah kami pisahkan, padi ini kami isi di wadah khusus dari daun lontar kemudian taro di atas tempat khusus agar kena asap api,” katanya sembari tertawa.

Doa dan kerja

Kesadaran hidup sebagai pengikut setia Kristus juga nampak dalam kehidupan keluarga petani ini di Tubululin maupun Otan dan sekitarnya. Usai makan malam, doa kepada Tuhan adalah rutinitas sebelum dan usai melakukan tugas maupun pekerjaan. Doa bagi keluarga ini selalu seiring-sejalan.

“Bapa dan mama selalu kasi ingat agar kami sonde boleh lupa berdoa. Ramah kepada siapa saja, bergaul tanpa pilih-pilih orang. Dalam urusan pendidikan, bapa dan mama ingin kami semua sekolah agar ikut memajukan kampung dan daerah di mana saja kami berada. Mereka ingatkan kami mesti sekolah biar besok-besok jadi orang. Kami semua diajarkan selalu bersyukur kepada Tuhan dalam segala situasi dan pekerjaan, giat bekerja serta bergaul dengan orang tanpa melihat sekat apapun,” lanjut Penina.

Menyadari diri orangtua tani, semangat juang anak-anak petani Lazarus dan Orpa untuk sekolah guna meraih cita-cita tak pernah padam. Usai tamat di SD Negeri Otan, Yakomina dan kaka sulungnya, Hendrik Laiskodat naik sampan atau perahu menuju Kupang dan masuk SMP Negeri 1 Kupang.

Begitu juga sang adik, Veki Laiskodat. Setamat SD Negeri Otan tahun 1977, ia segera menyusul dua kakaknya untuk melanjutkan pendidikannya di kota karang. Mereka tinggal di gang buntu, Oeba, di rumah Dr Hendrik Ataupah. Ny Ataupah, istri antrolog Nusa Tenggara Timur kelahiran Oekabiti, Timor, itu masih kerabat dekat ibu Orpa Kase.

“Kami tinggal di rumah Pak Ataupah di gang buntu. Istri Pak Ataupah masih kerabat dengan mama kami. Selama kami tinggal di gang buntu, ade Veki jalan kaki sekolah di SMP Negeri 1 sampai tamat. Kami sangat senang karena dari sini kami belajar disiplin dan kerja keras seperti pesan bapa dan mama di Tubululin,” kenang Penina.

Salah seorang warga Kupang Bruce King Nitte, mengaku Viktor Laiskodat adalah salah satu dari banyak putera NTT yang tergolong fenomenal. Meski beliau anak petani yang lahir dan besar dengan kondisi yang serba minim seperti kebanyakan anak-anak kampung di tanah Flobamora, toh, Viktor Laiskodat membuktikan diri sebagai pribadi yang tangguh dan sukses merenda karir di rantau dengan jejaring pergaulan luas.

“Setahu saya Pak Viktor Laiskodat itu salah satu putera NTT di rantau yang bisa menginspirasi banyak anak kampung di seantero Flobamora bagaimana merantau yang baik, punya etos kerja, menjaga setiap kepercayaan, dan loyal dalam tugas dan pekerjaan yang dipercayakan,” ujar Bruce, lulusan Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

Bruce menambahkan, selain Viktor Laiskodat yang sukses mengemban karier di bidang hukum, banyak pula putera-puteri NTT yang memberi pelajaran bagaimana potensi mereka luar biasa besar ketika berada di rantau seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Misalnya di pendidikan, hukum, jurnalistik, sosial politik, dan keagamaan.

“Di bidang hukum banyak putera-puteri NTT yang hebat. NTT punya pengacara hebat seperti Gabriel Mahal, Agustinus Dawarja, Petrus Selestinus, Petrus Bala Pattyona, dan lain-lain. Belum lagi di dunia jurnalistik. Misalnya, om Rikar Bagun, Don Bosko Selamun, Gaudensius Suhardi, Primus Dorimulu, Claudius Boekan dan lain-lain. Menurut saya, Pak Viktor Laiskodat dan sederet nama ini adalah sebagian sosok putera-putera NTT yang sukses di bidangnya masing-masing dan selalu menginspirasi kami sebagai anak muda,” katanya. (ansel deri/jdz) (bagian 1)
Sumber: mediantt.com, 17 Februari 2018 
Ket foto: Calon Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat bersama ibunda terkasih, Orpa Kase (tengah), dan Calon Wakil Gubernur Josef A Nae (gbr 1); saat diterima secara adat di Kupang (gbr 2)

Catatan Kritis atas UU Antiterorisme

Written By Ansel Deri on Tuesday, June 05, 2018 | 11:27 AM

Oleh Al Chaidar
Program Studi Antropologi
Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe

DEWAN Perwakilan Rakyat akhirnya mengesahkan revisi Undang- Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme (UU Antiterorisme) dalam rapat paripurna yang digelar 25 Mei 2018.

UU Antiterorisme yang baru saja disahkan dalam Rapat Paripurna DPR ini tetap mengedepankan hak asasi manusia. Salah satu terobosan dalam UU baru ini adalah semua korban terorisme di masa lalu akan mendapat perlindungan negara, baik dalam ketentuan pemberian santunan, pengobatan, rehabilitasi, maupun kompensasi, baik warga negara Indonesia maupun orang asing.

Revisi UU ini sebenarnya berangkat dari hal sederhana tentang definisi terorisme. Definisi tentang terorisme yang sebenarnya tidak krusial, malah menjadi perdebatan yang alot selama proses dua tahun revisi UU No 15/2003 ini.

"Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik atau fasilitas internasional dengan motif politik, ideologi, atau gangguan keamanan." Definisi ini sebenarnya sudah cukup untuk kebutuhan legislasi, tidak seperti dalam definisi terorisme yang akademis di mana unsur-unsur millenarianism, fundamentalisme, dan radikalisme mesti dielaborasi lebih lanjut dalam kajian dan penelitian teoretis.

Pengesahan revisi UU No 15/2003 mengenai terorisme dinilai mendesak sejak kekalahan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) di Filipina dan Suriah. Sudah lebih dari 15 tahun UU antiteror ini tidak direvisi, sementara perkembangan terorisme semakin brutal, sadis, dan gila. Teror menyeruak hampir di semua sektor kehidupan di banyak negara kebangsaan di berbagai belahan dunia.

Bahkan, terorisme NIIS telah hadir di Jalan Thamrin (2016) dan Kampung Melayu (2017), Jakarta, di beranda terdekat di negeri ini. Kehadiran terorisme yang tak terpahami preseden dan motif lainnya di luar motif teologi eskatologis di mana kematian dipandang sebagai cara pintas memasuki surga. Kematian dipakai untuk menakut-nakuti musuh agama yang tak terdeskripsikan, dalam suatu "perang" yang tak pernah terdengar deklarasinya sekalipun.

Terorisme "tamkin"

Ada satu persoalan krusial yang belum terakomodasikan dalam UU Antiterorisme yang baru disahkan ini. UU baru ini tidak menerapkan konsep terorisme tamkin (terorisme teritorial) yang menjadi masalah terorisme penting abad ini. Terorisme tamkin inilah yang kemudian menjadi pangkal perseteruan di antara Polri dan TNI dalam hal tugas pokok dan fungsi mereka untuk menangani terorisme.

Kisruh pembagian wewenang di antara Polri dan TNI dianggap menempatkan Indonesia dalam risiko yang tak perlu. Ada perubahan signifikan terhadap sistematika UU, menambah bab pencegahan, bab soal korban, bab kelembagaan, bab pengawasan, kemudian soal peran TNI yang itu semua hal baru dibandingkan dengan UU sebelumnya.

Memang harus juga diakui bahwa UU yang sebelum ini menghambat polisi untuk bergerak jika pelaku sudah terbukti sebagai pelaku terorisme. Kewenangan mencegah pelaku dalam aksi sangat lemah. UU yang terbaru dapat memberikan wewenang lebih pada Polri untuk melakukan fungsi pencegahan. Penanganan terpadu dan efektif butuh payung hukum yang lebih kuat. UU ini malah memberikan peneguhan untuk lembaga yang menjalankan program deradikalisasi yang sebenarnya tidak perlu dimasukkan dalam UU.

Pemerintah Indonesia melalui DPR sudah berhasil merevisi UU No 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang tertunda akibat perdebatan alot seputar pembagian wewenang di antara polisi dan militer.

Secara teoretis, pelibatan militer di dalam menangani terorisme sudah dibahas oleh banyak peneliti tentang kemunculan strategi qital tamkin (perang di daerah pembebasan) yang menjadi ciri khas kelompok teroris teritorial. Sebutlah seperti MIT (Mujahidin Indonesia Timur), GAM (Gerakan Aceh Merdeka), RMS (Republik Maluku Selatan), OPM (Organisasi Papua Merdeka), ASG (Abu Sayyaf Group).

Menurut saya, terorisme teritorial harus ditangani secara khusus oleh TNI (misalnya, Koopsusgab). Terorisme tamkin ini, jika ditangkap, implikasi yuridisnya adalah akan diadili di sidang pengadilan humaniter atau pengadilan militer.

Kamil Salamah (1994: 181) telah membahas bahwa terorisme teritorial punya basis ideologi agama yang kuat. Teroris yang menerapkan strategi perang teritorial (Djelantik dan Akbar, 2016: 90) harus dihadapi aparat keamanan yang memiliki kemampuan tempur yang memadai.

Thomas Koruth Samuel (2016: 53) dan Al Chiadar (2015: 245) juga sudah membahas betapa penanganan yang salah terhadap teroris tamkin menunjukkan kurangnya kesadaran teritorial dari para pemimpin politik sebagaimana terlihat di Thailand, Filipina, dan Suriah. Sidney Jones (2015) juga sudah mengingatkan kita akan kemunculan qital tamkin yang dimiliki oleh teroris teritorial yang berbeda dengan qital nikoyah yang hanya melakukan strategi hit and run di berbagai lokasi. Terorisme tanzhim (non-teritorial) cukup ditangani dan dihadapi oleh polisi, dan jika teroris tanzim ditangkap cukup disidangkan di pengadilan negeri atau pengadilan sipil.

Perubahan dari strategi nikoyah ke strategi teritorial inilah yang harusnya diagregasi dan diartikulasikan secara tepat di dalam UU Antiterorisme yang baru ini. Sebab, hal yang saat ini menjadi fokus jihadis adalah nikoyah atau melukai, menyerang, dan melumpuhkan orang yang mereka anggap sebagai "kafir" dalam sistem taksonomi hukum mereka yang keliru.

Bagi kelompok teroris yang berideologi Wahabi Takfiri ini, yang paling penting adalah tamkin, yaitu menguasai sebuah wilayah dengan pemimpin yang paham ilmu syar'i (hukum agama) dan fiqhul waqi' (hukum politik). Para ulama mereka yang dianggap sebagai intelektual organik telah mengeluarkan sejumlah fatwa brutal dan sadis yang mengingkari nilai-nilai kemanusiaan yang beradab. UU Antiterorisme yang baru ini masih jauh dari harapan untuk bisa mengimbangi fatwa-fatwa teror yang semakin hari kian biadab.
Sumber: Kompas, 4 Juni 2018
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger