Alumnus Magister Teologi Kontekstual STFK Ledalero,
sedang Studi Master Jurnalistik di Jakarta
sedang Studi Master Jurnalistik di Jakarta
"Hanya satu tujuan kita. Potensi yang kita miliki dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Apalah artinya potensi ini kita pendam? Apakah kita hanya berbangga diri bahwa daerah ini punya banyak potensi, tapi kita tidak memberdayakannya. Tinggal kita memilih, apakah batu ini tetap batu atau bisa diubah menjadi roti bagi kehidupan kita sendiri?
Jika kita ingin batu ini berubah menjadi roti, maka kita perlu membuka diri, mendukung segala usaha mengubah bongkahan batu yang mengandung emas ini dieksplorasi dan dieksploitasi oleh investor untuk kemajuan daerah kita sendiri." (Pos Kupang.com, 19 Januari 2011).
Saya mengutip tulisan wartawan Pos Kupang, Gerardus Manyela, di atas sebagai pijakan untuk membahas lebih jauh petuah yang meluncur dari mulut Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi NTT, Yohanes Bria Seran, dalam kasus pertambangan di Wanggameti, Sumba Timur. Saya membaca dan berpikir berulangkali tentang pernyataan itu -yang menurut saya- mengandung makna konotatif, yaitu makna yang tidak pernah ada dalam catatan sejarah kenyataan. Cuma kiasan yang dimaksudkan untuk menggerakkan orang ke arah yang positif. Tapi boleh jadi Kadis Pertambangan NTT ini lebih tahu bahwa ada fakta di sudut bumi yang mana ada batu bisa diubah menjadi roti.
Mungkin roti yang dimaksud adalah kesejahteraan yang sering menjadi impian dalam kampanye pertambangan. Tapi benarkah rakyat menikmati kesejahteraan itu? Jangan-jangan pemerintah berselingkuh dengan investor hanya untuk mengajak rakyat berziarah ke langit mimpi. Sebab menurut sastrawan Mark Twain, tambang adalah lobang besar menganga yang digali oleh para pembohong. Saya tidak percaya bahwa pemerintah NTT tengah menggali kebohongan di atas tanah Sumba, tapi bila kita mendengar cerita dari lokasi lingkar tambang di Flores-Lembata, tambang itu penuh kebohongan. Di Lembata misalnya, rakyat dipaksa untuk percaya bahwa limbah pertambangan akan diubah menjadi aqua segar. Belum lagi kasus di tanah Congka Sae, Manggarai. Apakah pemerintah NTT pernah tahu tentang kebohongan investor pertambangan itu kepada rakyat? Atau jangan-jangan pemerintah NTT bahagia kalau rakyatnya sendiri dibohongi? Atau lebih jauh lagi, jangan-jangan pemerintah NTT juga menjadi korban kebohongan investor atau pura-pura tidak tahu bahwa ia dibohongi investor atau bagian dari konspirasi kebohongan terstruktur?
Setan: Jalan Pintas
Mari kita kembali pada kata-kata Kadis Pertambangan NTT: mengubah batu jadi roti. Konfrater saya, yang doktor Kitab Suci di Generalat SVD Roma, Pater Dr. Lukas Jua, SVD, memberikan pendasaran biblis. Kata-kata ini diucapkan oleh setan/iblis untuk mencobai Yesus (bdk. Mat 4:3; Luk 4:3) dan diucapkan ketika Yesus sangat lapar setelah berpuasa di padang gurun 40 hari lamanya. Dalam situasi lapar setan memberi jalan ke luar yang paling gampang - ubah batu jadi roti, tapi Yesus menolaknya. Mengapa? Ini berkaitan dengan statusNya sebagai Anak Allah yang dikatakan pada bagian awal dari kata-kata setan itu: "Jika Engkau Anak Allah..." (Mat 4:3; Luk 4:3). Dalam pembaptisan di Sungai Yordan Yesus telah dinyatakan sebagai Anak Allah (Mat 3:17; Luk 3:22,38) dan setan mau mencobai Yesus justru berkenaan dengan status Anak Allah itu.
Setan mau agar Yesus menggunakan kuasaNya sebagai Anak Allah untuk membuat mukjizat, yaitu mengambil jalan yang paling mudah untuk mengatasi masalah kelaparan. Tapi Yesus menolaknya karena Yesus tidak mau menggunakan kuasa untuk kepentinganNya sendiri. Dia juga membuat mukjizat seperti perbanyakan roti bagi lima ribu orang (Mat 14:13-21), tapi demi kepentingan orang lain yang lapar. Selain itu, dalam mukjizat perbanyakan roti itu, orang-orang diberi makan setelah mereka mendengarkan Sabda Allah. Alasan mengutamakan Sabda Allah daripada kepentingan material adalah alasan penolakan Yesus terhadap godaan iblis itu.
Selain mengutamakan Sabda, Yesus menolak setan karena pemahaman setan tentang Anak Allah dan pendekatan yang dipakai setan bertentangan dengan pemahaman dan pendekantanNya. Setan mengutamakan kuasa dari Anak Allah dan menggunakan pendekatan kuasa, komando dan jalan pintas. Sebaliknya, Yesus memahami Anak Allah sebagai anak terkasih Bapa (Mat 3:17), yang mendengarkan suara Bapa dan taat kepadaNya. Pendekatan yang sesuai dengan kehendak Bapa ialah jalan salib.
Tambang: Solusi Instan yang Merusak
Satu hal yang saya tangkap dari penafsiran biblis tersebut adalah bahwa ajakan untuk mengubah batu menjadi roti berasal dari setan/iblis. Setan ingin jalan pintas, menerabas, bermental instan, cari gampang dan ingin enak. Orangtua memberi nasihat bahwa orang malas itu bantal setan. Setan tidak mau bekerja keras tapi menginginkan hasil yang cepat, bila perlu siap jadi. Kita bisa mengerti mengapa setan ingin batu-batu itu dijadikan roti. Untung bahwa iblis masih meminta Yesus untuk menggunakan kuasaNya untuk mengubah batu jadi roti. Coba kalau iblis tidak meminta Yesus tapi langsung makan batu-batu itu seperti roti, bisa kita bayangkan apa jadinya perut iblis itu. Bukankah bagi si iblis, segala sesuatu mungkin?
Yesus menghendaki kita berproses untuk hidup secara layak. Sebuah proses yang berlangsung secara jujur dan tulus. Tanpa embel-embel kepentingan politik birokratis yang akut. Proses itu menuntut kerja keras yang didasari pertimbangan kelanjutan hidup di masa depan. Proses yang tidak berpikir instan, mau cepat hasil, bila perlu dengan cara-cara yang menerabas. Orang yang berpikir instan selalu memakai pendekatan komando dan main kuasa. Maka teror, ancaman dan gertakan akan menjadi bahasa kesehariannya. Semua itu berlangsung di bawah kibaran bendera semangat pelayanan. Kadang dibalut dengan ayat-ayat kitab suci tanpa memperhatikan latar belakang teks dan konteks penerapannya. Bukankah setan pun pandai mengutip ayat kitab suci?
Orang tahu bahwa tambang itu mengandung daya rusak yang masif. Lingkungan hancur. Tanah dan air tercemar. Betapa susah alam kembali pulih. Tapi kampanye tentang kebaikan dan kemuliaan tambang terus ditebar. Malah di tengah fakta kehancuran dampak negatif pertambangan, rakyat NTT masih dihibur dengan ungkapan bahwa tambang bisa mengubah batu-batu di NTT menjadi roti untuk kesejahteraan rakyat. Sebuah hiburan yang tidak lucu di tengah derasnya penolakan rencana tambang. Seandainya, Kadis Seran bisa mengubah batu-batu di NTT menjadi roti, maka kita tidak perlu lagi mempercayakan pemerintah propinsi dan kabupaten untuk terus mendesain kehancuran lingkungan di NTT. Pasti tidak ada lagi busung lapar, rawan pangan dan gagal panen. Tentu tidak ada lagi filosofi program "Anggur Merah" dan program 'jagungisasi' dan belakangan pasca kunjungan SBY: program 'lombokisasi', dan 'garamisasi'.
Kita berharap agar kata-kata 'mengubah baru jadi roti' itu terimplementasi dalam kerja keras pemerintah NTT untuk menggalakkan potensi pertanian, perikanan, peternakan dan pariwisata. Pemerintah mungkin bisa belajar dari inspirasi gagasan untuk menanam gaharu yang tengah dikembangkan oleh Robert Ependando di Flores. Pemerintah juga akan lebih dikenang bila dalam jejaring kerja sama dengan kalangan agama (gereja) menggagas pendirian sekolah bertaraf akademi (misalnya ATMI) yang mendidik anak-anak di NTT untuk lebih kreatif dalam menciptakan lapangan kerja di tengah potensi NTT ini sebagaimana yang sedang digagas oleh beberapa tokoh NTT. Ketimbang merepresi rasionalitas rakyat sederhana NTT dengan informasi seputar tambang yang lebih berpretensi penyesatan.
Pada 27-30 Januari 2011, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) bersama Poros Photos (kumpulan fotografer genre social documentary photography) menggelar diskusi dan pameran foto bertajuk "29 Rupa Daya Rusak Tambang" di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di sudut pameran, ada sebuah meja makan lengkap dengan piring dan gelas. Di dalam piring itu diletakkan bongkahan batu bara. Sedangkan gelas berisi tailing (limbah pertambangan beracun). Pesannya terang : ketika tanah kita suatu saat habis dirusakkan pertambangan maka kita tidak lagi akan menemukan padi, jagung, sayur dan ubi-ubian sebagai makanan serta sumber air sebagai minuman. Bisakah beras, jagung, umbi dan sayur diganti bongkahan batu bara, bijih besi, pasir mangan dan emas? Bisakah limbah tambang menjadi air minum kita? Meminjam kata-kata Kadis Seran: bisakah roti itu muncul dari bongkahan batu bara, emas, mangan dan biji besi?
Saya tidak percaya bahwa mereka yang saat ini getol menganjurkan tambang menjadi orang pertama yang memakan bongkahan batu bara, biji besi, pasir mangan dan emas sebagai ganti nasi, jagung dan umbi-umbian (baca: roti). Apalagi meminum limbah tambang seolah-olah air tanah yang segar. Maka, mereka yang saat ini berteriak terima tambang mestinya merasa malu saat makan nasi, jagung, sayur dan ubi serta minum air segar dari rahim tanah bumi NTT ini. Sudah adakah rasa malu itu?
Sumber: Pos Kupang, 19 Februari 2011

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!