Headlines News :
Home » » Alfred Riedl: Tidak Ada yang Bisa Mengintervensi

Alfred Riedl: Tidak Ada yang Bisa Mengintervensi

Written By ansel-boto.blogspot.com on Monday, January 03, 2011 | 4:26 PM


Dia membuat sepak bola Indonesia kembali menjadi tontonan menarik. Sentuhannya telah membuat kesebelasan Indonesia mengalami perubahan besar. Para pemain menggoreng bola dengan teknik menawan dan melakukan kerja sama tim yang padu. Mereka bermain agresif dan seakan haus gol. Para penggemar pun memberi dukungan gegap gempita.

Kendati gagal mengantar tim nasional menjadi juara piala AFF 2010, posisi Alfred Riedl tetap aman sebagai pelatih Indonesia. Pria asal Austria ini dinilai cukup berhasil dan mendatangkan harapan untuk membawa tim nasional menjadi juara saat Indonesia menjadi tuan rumah SEA Games, November mendatang.

Tim Garuda dengan pemain naturalisasi seperti Christian Gonzales dan pemain blasteran Irfan Bachdim mendapat begitu banyak pujian. Selama kompetisi AFF, hampir semua media memberitakan tim nasional. Firman Utina dan kawan-kawan selalu diserbu penggemar, bahkan saat menjalani latihan. Para pemain juga diboyong ke sana-kemari menjelang final. Mereka sarapan di rumah Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie dan menghadiri acara doa di sebuah pesantren di Jakarta Barat.

Bekas pelatih tim nasional Vietnam ini awalnya diragukan bisa membawa pasukan Garuda berprestasi ketika Indonesia kalah telak 1-7 oleh Uruguay dalam pertandingan persahabatan Oktober lalu. Riedl mulai merebut hati masyarakat Indonesia saat tim nasional tampil trengginas dalam Piala AFF. Indonesia menang sempurna di babak penyisihan sampai semifinal.

Setelah kalah 0-3 oleh Malaysia di final pertama, Riedl sempat mengatakan terganggu oleh media dan kegiatan berlebihan yang tidak perlu. Komentar itu membuat merah kuping pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Setelah turnamen berakhir, Manajer Andi Darussalam Tabusalla meminta Riedl mengklarifikasi pernyataannya di media. Riedl pun menjawab beda soal kunjungan ke rumah Aburizal setelah menang melawan Filipina. "Kami senang dan merasa terhormat mendapat undangan itu," katanya.

Riedl melatih tim nasional Indonesia sejak pertengahan tahun lalu. Dia dikontrak selama dua tahun dengan gaji US$ 16 ribu (sekitar Rp 145 juta) sebulan. Riedl meramu tim dengan tangan dingin dan disiplin. Bekas penyerang yang pernah bermain di sejumlah klub Austria ini tak segan mencoret pemain karena mangkir latihan. "Saya harus menularkan sikap mental disiplin seperti di Vietnam ke Indonesia," ujarnya.

Kamis pekan lalu, Riedl yang didampingi asistennya, Wolfgang Pikal, menerima Yandi M. Rofiyandi, Cheta Nilawaty, Tito Sianipar, dan fotografer Dwianto Wibowo dari Tempo. Dia terlihat santai dengan jaket tim nasional dan celana training-nya. Penggemar yang masih bergerombol di Hotel Sultan beberapa kali menyerbu untuk menyalami. Riedl mengatakan antusiasme masyarakat itu membuat tim nasional semangat. Tak aneh, meski baru selesai menjalani turnamen panjang, "Saya tak merasa lelah," katanya.

Kesebelasan Indonesia berhasil menang dalam pertandingan final kedua, tapi gagal menjadi juara. Apakah Anda puas dengan penampilan tim?
Mereka bermain sangat bagus sejak saya melatih di Indonesia. Para pemain juga mempunyai mental tak kenal menyerah. Ini sangat bagus buat tim. Kami kurang beruntung saja karena sebenarnya bisa mengejar selisih gol 0-3 ketika kalah di Kuala Lumpur. Sepak bola sarat dengan yang namanya keberuntungan. Indonesia hanya kurang beruntung sehingga tak menjadi juara. Kami hanya melakukan sedikit kesalahan. Tapi itu menunjukkan bahwa kami telah bekerja keras.

Apakah Anda percaya akan faktor keberuntungan dalam pertandingan?
Iya. Saya tahu itu. Anda bisa baca di buku, berapa persen keberuntungan dibutuhkan untuk memenangi pertandingan. Tak selamanya tim terbaik menjuarai turnamen.

Permainan Malaysia cukup solid dan beberapa kali membahayakan gawang Indonesia....
Saya tidak melihat Malaysia sebagai tim pada pertandingan itu. Saya hanya melihat satu-dua pemain yang menciptakan peluang berbahaya. Pada babak kedua juga sebenarnya sama, tapi tim Indonesia bermain sangat terbuka. Tentu saya mengucapkan selamat kepada tim Malaysia. Tapi mereka bukan tim yang paling kuat. Tim paling kuat saya kira Indonesia. Ini fakta, bukan karena saya pelatih Indonesia.

Kesebelasan Indonesia seperti tertekan dan hilang akal saat bertanding di kandang lawan. Apa yang terjadi?
Di Malaysia, pertandingan berjalan biasa. Kita bisa menguasai pertandingan dan tak ada masalah. Tapi Maman membuat kesalahan besar sehingga mengubah segalanya. Ini seharusnya tak terjadi dalam tim Indonesia. Saya tak tahu mengapa pemain seperti takut setelah gol pertama. Pemain belakang bingung dan tak ada peluang gol. Jadi saya menerima kekalahan dengan skor 0-3 itu. Dengan permainan waktu itu, saya percaya kalau kita tak kebobolan gol pertama, kita bisa menahan imbang 0-0.

Sebelum terjadinya gol, Markus meminta pertandingan dihentikan karena ada sorotan laser dari penonton Malaysia....
Itu insiden yang sangat buruk. Saya bersyukur tak terjadi di sini pada pertandingan kedua. Markus adalah kiper yang sangat sensitif sehingga mungkin berpengaruh ke hasil pertandingan. Saya tak bisa mengatakan laser yang membuat kita kalah. Laser berpengaruh buruk karena terjadi sebelum gol.

Apakah benar Anda tak setuju pertandingan dihentikan sementara ketika terjadi insiden laser?
Saya tak punya kekuatan untuk setuju atau tidak dan menghentikan pertandingan. Kapten tim yang seharusnya pergi ke wasit dan meminta menghentikan pertandingan. Tapi kapten tak mengetahui soal ini karena wasit tak menjelaskan begitu babak pertama selesai. Saya juga tak diberi penjelasan sehingga tak bisa memberi tahu kapten. Jadi Markus meminta pertandingan dihentikan.

Apakah itu menunjukkan kurangnya koordinasi dalam tim?
Tidak. Apa yang Anda bicarakan? Apakah Anda mencari kesalahan kami? Silakan tanya kepada wasit, bukan kami. Wasit tak memberi tahu kami, apa yang harus dilakukan ketika terjadi lagi tindakan penonton yang menyorotkan laser.

Benarkah Anda pernah berdebat soal strategi tim dengan pejabat PSSI sebelum bertanding dengan Malaysia?
Tak ada orang yang bisa mengintervensi. Saya yang menentukan keputusan akhir. Semua hal yang berkaitan dengan tim, keputusan akhirnya ada di tangan pelatih. Saya bertanggung jawab terhadap tim. Saya yang pertama ditendang kalau tim gagal.

Anda pernah mengatakan bahwa tim nasional terlalu banyak mendapat intervensi?
Saya tak pernah mengatakannya. Saya bilang tak ada intervensi. Saya membuat jadwal latihan dan rencana seluruh tim tanpa intervensi siapa pun, termasuk PSSI. Semuanya adalah keputusan saya. Sederhana saja, kalau kalah, itu tanggung jawab saya dan kemenangan milik tim.

Mengapa tim nasional diizinkan melakukan kegiatan di luar latihan selama kompetisi, seperti sarapan di rumah Ketua Partai Golkar Aburizal Bakrie dan berkunjung ke pesantren?
Ya, kita harus berangkat ke sana. Kenapa tidak? Kan masih jauh dari pertandingan final. Masih ada enam hari sehingga tak menjadi masalah. Kita juga sesekali harus melakukan kegiatan di luar latihan. Kita sesekali keluar supaya tak jenuh. Kita senang dan merasa terhormat mendapat undangan itu. Kita tak bisa mengabaikannya. Tapi kita tak tahu ternyata banyak orang yang datang. Kami tak akan melakukan kegiatan itu kalau sudah dekat dengan pertandingan.

Mengapa Anda melarang pemain tampil di media massa?
Saya membolehkan pemain diwawancarai tapi tak setiap saat. Saya hanya membolehkan wawancara begitu selesai latihan. Kami harus kooperatif dan tak bisa mengabaikan pers. Selama di Kuala Lumpur, kami melarang pemain diwawancarai dan difoto. Pemain harus selalu bersama, termasuk makan, sehingga pemain tak bisa keluar. Kami harus melindungi pemain.

Selama latihan banyak pendukung yang datang untuk menonton dan bersorak....
Tak jadi masalah. Kalau pemain tak bisa menangani itu, bagaimana dia bisa menghadapi seratus ribu penonton. Ini risiko pemain bola. Pemain seharusnya termotivasi ketika melihat banyak yang bersorak. Kami sama sekali tak merasa terganggu. Kami tetap melakukan pekerjaan dengan profesional. Kami juga berlatih tertutup tanpa pers dan masyarakat dengan cara profesional.

Bagaimana proses Anda menjadi pelatih tim Indonesia?
Saya bertemu dengan Wolfgang Pikal (kini asisten pelatih) di Vietnam pada 2008. Selesai kontrak dengan Laos pada awal 2010, kebetulan Indonesia membutuhkan pelatih tim nasional. Pikal tahu saya sedang tak terikat kontrak dan memberi tahu bahwa Indonesia sedang mencari pelatih. Saya coba, barangkali Indonesia membutuhkan jasa saya. Saya mulai melatih sejak Mei lalu.

Bagaimana Anda melihat tim nasional Indonesia sebelum datang ke sini?
Saya sangat menghormati tim Indonesia. Tapi saya tak tahu persis apa yang harus dilakukan sebelum datang ke sini. Ketika melatih Vietnam, saya selalu senang melawan Indonesia karena kami selalu menang. Sekarang ini harus terjadi sebaliknya. Saya harus mengubah mental, determinasi, dan lain-lain dari tim nasional.

Apa perbedaan ketika Anda melatih di Vietnam dengan di Indonesia?
Ketika mulai melatih di Vietnam, saya melihat sikap mentalnya berada di level yang lebih tinggi. Sikap mental dan disiplin. Saya harus menularkan sikap mental seperti itu di Indonesia.

Kenapa Anda tak pernah terlihat tersenyum?
Karena saya harus menghadapi orang-orang seperti Anda, ha-ha-ha....

Alfred Riedl
Tempat dan tanggal lahir:Wina, Austria, 2 November 1949
Karier:Pemain
- 1967-1972 Austria Wien
- 1972-1974 Sint-Truiden
- 1974-1976 FC Antwerp
- 1976-1980 Standard Li�ge
- 1980 FC Metz
- 1981-1982 Grazer AK
- 1982-1984 Wiener Sportclub
- 1984-1985 VfB M�dling
Pelatih
- 1990-1991 Austria
- 1993-1994 Olympique Khouribga
- 1994-1995 Al-Zamalek
- 1997-1998 liechtenstein
- 1998-2001 Vietnam
- 2001-2003 Al-Sa-miya
- 2003-2004 Vietnam
- 2004-2005 Palestina
- 2005-2007 Vietnam
- 2008-2009 Xi M�ng Hai Ph�ng FC
- 2009-2010 laos
- 2010 Indonesia
Sumber: Tempo, edisi 3 Januari 2011
Ket foto: Alfred Riedl

SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger