"Citra pariwisata di Kupang dan NTT umumnya bisa rusak karena pengelola Bandara Internasional El Tari Kupang tidak memberikan rasa aman dan nyaman bagi para wisatawan, terutama wisatawan mancanegara," kata anggota Komisi X DPR RI, Diaz Gwijangge, S.Sos, ketika dihubungi Pos Kupang per telepon ke Jakarta, Rabu (16/2/2011).
Menurut legislator Partai Demokrat itu, pihaknya akan segera menghubungi manajemen PT Angkasa Pura I selaku pengelola Bandara El Tari Kupang agar segera mencari dan menemukan barang berharga dan uang milik misionaris asal Indonesia itu.
"PT Angkasa Pura I harus bertanggung jawab atas kehilangan uang dan barang Pastor Piet. Jika tidak maka citra pariwisata bisa rusak. Tentu itu yang tidak diinginkan pemerintah maupun masyarakat NTT," kata Diaz.
Anggota DPR asal Papua itu meminta agar keamanan dan kenyaman Bandara El Tari Kupang harus dijaga dan terus ditingkatkan demi menjaga citra pariwisata nasional, terutama Pariwisata NTT menyusul masuknya Taman Nasionl Pulau Komodo sebagai salah satu nominator tujuh keajaiban dunia oleh New7Wonders Foundation.
Sebelumnya, Diaz menerima surat pengaduan dari Pastor Piet Payong, SVD, perihal kehilangan barang-barang berharga dan uang di Bandara El Tari Kupang. Dalam laporan yang diterima, kata Diaz, misionaris yang saat ini bertugas sebagai pastor di Gereja St Maria Parish, Trenyo, Agusan del Sur, Mindanao, Filipina, itu kehilangan tas jinjing berisi sebuah lap top, paspor, uang senilai Rp 20 juta dan sejumlah dolar serta sebuah telepon genggam.
Barang-barang tersebut hilang di bagian pemeriksaan barang (x-ray) Bandar Udara El Tari Kupang, Jumat 18 Juni 2010. Saat itu imam yang sedang cuti di Indonesia itu hendak menuju Larantuka, Flores Timur.
Pastor Piet menguraikan kronologi peristiwa yang dialaminya. Bermula saat ia memasuki ruangan chek in di Bandara El Tari pada pukul 06.00 Wita tanggal 18 Juni 2010. Saat itu terdapat dua orang calon penumpang berada di depannya dan masih menjalani pemeriksaan oleh petugas.
Pada saat bersamaan, tas jinjingnya itu diletakkan ke mesin detektor. Namun, saat hendak mengambil tas di ruang chek in, ternyata sudah hilang dalam hitungan menit.
Saat itu ia langsung komplain ke petugas jaga namun terkesan melempar tanggung jawab. Petugas memintanya untuk mencari, namun barang itu tak ditemui. "Saya berusaha mencari tapi tak ada. Bahkan saya minta agar diumumkan melalui pengeras suara," kata Diaz menirukan kata-kata pastor.
Menurut Diaz, seharusnya pihak pengelola bandara bertaraf internasional itu memberikan rasa aman dan nyaman bagi para wisatawan. Dengan demikian, tekad Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia dan Pemerintah Propinsi NTT menggaet wisatawan mancanegara bisa terwujud sehingga mendatangkan devisa bagi negara dan daerah.
"Kita tahu, NTT dengan obyek wisata yang potensial merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan mancanegara. Karena itu, pengelola bandara semestinya memberikan rasa aman bagi wisatawan. Bagaimana mereka mau berlibur ke sejumlah obyek wisata menarik di NTT kalau keamanan dan kenyamanan mereka terganggu," katanya.
Menurutnya, NTT menyajikan sejumlah obyek wisata alam dan budaya andalan yang sangat digandrungi wisatawan domestik dan mancanegara. Oleh karena itu, semua pihak terkait harus ikut memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para wisatawan atau pengunjung yang datang ke NTT.
"Jangan sampai upaya kerja keras Pemerintah Propinsi NTT mempromosikan pariwisata daerah ini kepada dunia luar dicederai dengan perilaku oknum aparat seperti yang menimpa Pastor Piet," tandas Diaz.
Sumber: Pos Kupang, 17 Februari 2011
Ket foto: Anggota DPR RI Diaz Gwijangge
Ket foto: Anggota DPR RI Diaz Gwijangge
0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!