Empat belas tahun silam, 21-25 Januari 1998, Paus Yohanes Paulus II
mengunjungi Kuba. Kunjungan itu atas undangan pemimpin Kuba Fidel Castro. Dari
sudut pandang Vatikan, inilah perziarahan pastoral atau perziarahan sebagai
gembala yang dimaksudkan untuk memperkuat Gereja Katolik Kuba guna menghadapi
masa depan Kuba, apa pun bentuknya.
Dari sudut pandang Havana, inilah bagian dari usaha pemerintahan Fidel
Castro untuk mengintegrasikan Kuba dengan kehidupan belahan bumi Barat.
Kebijakan Castro itu didorong oleh peristiwa luar biasa yang terjadi di Uni
Soviet: runtuhnya rezim komunisme Uni Soviet dan bubarnya negara tersebut
menjadi banyak republik merdeka. Dengan hancurnya Uni Soviet, Kuba kehilangan
sumber subsidi yang telah lama dinikmati, ditambah lagi dengan embargo ekonomi
dari AS.
Akan tetapi, bila dilihat secara lebih luas, inilah sentuhan terakhir dalam
drama ideologi terbesar di akhir abad ke-20, yakni konflik antara humanisme
atheistik dan humanisme Kristiani. Komunisme, yang dianut Kuba, adalah ekspresi
humanisme atheistik. Dan, kedatangan Paus Yohanes Paulus II ke Kuba menawarkan
kembali humanisme Kristiani.
Dalam salah satu khotbahnya waktu itu, Paus Yohanes Paulus II mengatakan,
humanisme Kristiani itu membebaskan atau kemanusiaan dalam iman Kristiani
berarti pembebasan: manusia adalah ciptaan yang diberi kebebasan untuk
menentukan hidupnya.
Kenangan atas kunjungan Paus Yohanes Paulus II itu kemarin hidup lagi saat
Paus Benediktus XVI mengunjungi Kuba. Paus Benediktus XVI menyebut kunjungan
pendahulunya itu ”bagaikan angin sepoi-sepoi yang memberikan kekuatan baru pada
Gereja Kuba”.
Ia seperti menapaki kembali jalan yang dulu dilalui Paus Yohanes Paulus II.
Ia mengunjungi Kuba untuk ”perziarahan kemurahan hati” dan akan berdoa untuk
perdamaian, kebebasan, dan rekonsiliasi (The Christian Science Monitor,
26/3). Inilah bahasa lain dari ”perziarahan pastoral”, istilah yang dulu
digunakan Paus Yohanes Paulus II. Dulu, Paus Yohanes Paulus II disambut Fidel
Castro, kini Paus Benediktus XVI disambut Raul Castro. Keduanya mengenang
kunjungan bersejarah Paus Yohanes Paulus II.
Yang terjadi saat ini, menurut Brenda Carranza, seorang pakar studi-studi
keagamaan di Pontificia Universidade Catolica de Campinas, di Brasil, sama
seperti saat Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Kuba. Pemerintah Kuba butuh
membangun jembatan untuk berhubungan dengan dunia internasional. Dan, Gereja
Katolik membantu membangun jalan ke arah sana. Itulah sebabnya Raul Castro
mengatakan, Kuba yang sosialis memberikan kebebasan penuh untuk beragama dan
menjalin hubungan yang baik dengan Gereja Katolik.
Dengan mengatakan itu, ia berharap, lewat Gereja, Kuba dapat memperoleh
lagi legitimasi, lebih banyak kepercayaan, dan menarik investasi dari Barat.
Gereja barangkali memang bisa menjadi jembatan yang menghubungkan Kuba dengan
Barat. Kuba tidak bisa terus hidup ”di dalam tempurung”.
Oleh karena itu, Paus Benediktus XVI mengingatkan bahwa struktur Marxist
Kuba ”tidak lagi cocok dengan realitas (dewasa ini)”. Kuba harus mengadopsi
”model baru”. Model mana yang akan diambil Kuba? Model Rusia atau model China?
Yang pasti komunisme sudah mati! Komunisme terbukti gagal.
Sumber: Kompas.com, 28 Maret 2012
Ket foto: Paus Benediktus dan Raul
Castro

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!