Headlines News :
Home » » Robohnya Suara Rakyat

Robohnya Suara Rakyat

Written By ansel-boto.blogspot.com on Tuesday, March 13, 2012 | 2:30 PM

Oleh Tandi Skober
Penasihat Kebudayaan Indonesia Police Watch

UNGKAPAN demokrasi Manunggaling Kawula Gusti yang memosisikan kawula dan gusti sebagai kesatuan substansional--suara kawula adalah suara gusti--telah mengilhami teolog Abad Pertengahan, Alcuin (735-804). Ia menyodorkan frase fals itu kepada Raja Charles Agung bahwa Vox Populi Vox Dei (Suara Rakyat adalah Suara Tuhan).

Pada saat yang sama, para teolog Korea mengembangkan konsep minjung (rakyat) sebagai pilar utama demokratisasi. “All political theology, should be no more and no less than folk political theology, political theology of the people,‘ (C Song, 1982). Artinya, semua teologi politik seharusnya menjadi teologi politik rakyat dan teologi politik tentang rakyat.

Benarkah suara rakyat adalah suara Tuhan? Tentu, hanya Tuhan dan waktu yang kelak memberi tanda. Meski begitu, lima abad lalu, dari pelabuhan terbesar ketiga di Nusantara, Cimanuk, konon pernah terjadi perdebatan seputar Vox Populi Vox Dei. Wong Dermayu menyebutnya peradilan Kantong Bolong. Frase manunggaling kawula-gusti yang diterjemahkan bahwa kawula adalah rakyat dan Gusti adalah Tuhan berseberangan dengan mindset penguasa masa itu yang memosisikan penguasa sebagai emanasi Ilahiah yang bersifat otonom dan tunggal.

Perahu Langit

Kantong Bolong adalah personifikasi nagarabatin di hamparan akar rumput Dermayu pada pertengahan abad ke-16. Ia dikenal sebagai sosok idiot bertubuh jangkung melengkung bersuara serak-serak basah berwajah aneh yang ngangenin. Era itu, rakyat di Pelabuhan Cimanuk bertawaf dalam pusaran transisi sinkretisme dari Hindu ke Islam.

Pelabuhan Chiamo (baca: Cimanuk) seperti dututurkan Tome Pires dalam Summa Oriental (1513-1515) maupun Joao de Barnos dalam da Asia, Decada IV disebut sebagai pusat peradaban Sunda paling penting. Sungai Chiamo adalah tanda batas yang memotong seluruh pulau dari laut ke laut. Kepala Pelabuhan dikenal sebagai penyembah berhala. Meski kerap terjadi konflik pencitraan antara manusia Jawa dan Sunda, tapi Cimanuk diyakini sebagai kota besar, pusat perdagangan nan elok dipandang mata.

Dalam pusaran inilah Kantong Balong menjadi idola di dataran akar rumput. Sebab, kantong Bolong mendekonstruksi orientasi duniawi ke ruang steril ukhrawi. Ia tuding saudagar yang menguasai Pelabuhan Cimanuk sebagai bayang-bayang mentalitas tak terpuji. Salah satu dari cacat besar sekaligus beban berat saat menyebrangi siratalmustakim adalah wong ati saudagar.

Pada temu-temu tertentu, Kantong Bolong kerap tampil sebagai dalang serbet. Ia katakan bahwa dalam ruang awang-uwung ketika peradaban terjerat oyod mingmang, maka yang tersisa adalah realitas ketuhanan dan selarik puisi Layang Kalimasada. Selarik puisi itu adalah ageman milik Prabu Yudhistira usai amarah Bratayudha mematikan empat saudaranya.

Yang malang, Yudhistira selalu gagal memaknai kandungan puisi Layang Kalimasada itu. Beruntung ada sosok darwish berbaju gamis mengajarkan makna yang terkandung dalam surah Layang Kalimasada itu. Puisi itu adalah dua kalimat syahadatin. Yudhistira sumringah. Selembar surga menjadi perahu langit, ruh Yudhistira kembali ke pangkuan Ilahi. Apa artinya, demokrasi khas Dermayu memosisikan penguasa sebagai iluminasi Ilahiah sekaligus seniman nagara batin yang linuwih. Untuk itu perlu pemilihan bersifat terbuka sehingga secara nyata kesenimanan itu memancar secara benar adanya.

Dari tanah retak Cimanuk inilah muncul teologi kerakyatan bahwa hanya suara rakyat yang bisa menentukan siapa yang layak menjadi penguasa. Demokrasi kawula-gusti ini menjadi pembicaraan di kalangan Kasultanan Ceribon. Tersebab itu, Kesultanan Ceribon mengutus Nyi Endang Darma Ayu untuk membenahi kalbu rakyat Cimanuk. Wanita cantik itu diberi tugas untuk mencuri sarpa kandaga berupa patung ular yang terbuat dari emas untuk melemahkan Kerajaan Galuh pada 1521. Langkah awal untuk hal itu, Nyi Endang kudu membebaskan rakyat Cimanuk dari ajaran sesat Kantong Bolong sekaligus “menaklukan‘ penguasa Pelabuhan Cimanuk bernama Raden Wiralodra.

Maka, peradilan kawula-gusti pada 1528 M pun digelar. Nyi Endang memaparkan bahwa suara rakyat bukan suara tuhan, tapi pada posisi tertentu adalah suara hantu. Mayoritas umat manusia pada zaman Nabi Nuh AS menentang dakwah Nabi Nuh AS, zaman Nabi Isa AS menentang dakwah Nabi Isa AS, juga di era Nabi Muhammad SAW. Artinya, suara mayoritas rakyat malah bertentangan dengan ajaran Tuhan.

Kantong Bolong kian terpuruk. Terlebih lagi saat Nyi Endang memaparkan ayat-ayat Allah SWT yang menunjukkan celaan terhadap mindset mayoritas. “Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.‘ (Al Baqarah:243) “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya,‘ (Al-An'aam: 116). “Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya,‘ (Yusuf: 103)“ Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,‘ (Al-A'raaf: 187)

Kursi kuasa tidak bisa diputus berdasarkan Vox Populi Vox Dei atau Manunggaling Kawula-Gusti khas Kantong Bolong. Hanya Ahlul Halli wal ‘Aqdi, yaitu kalangan ulama, ahli fiqih dan orang-orang yang mumpuni dalam bidangnya masing-masing yang mampu menempatkan siapa menduduki kursi apa. “Ki Sanak Kantong Balong, “ujar Nyi Endang, ‘Hal aneh ketika bumi dicacah kuasa dan memutuskan kerumitan dengan cara menyembah pada pendapat banyak manusia. Ini lakon ling lang lung. Sebab kebanyakan manusia itu bersepakat di atas kekufuran kepada Allah SWT. Mereka merekayasa fajir dan dhalim sebagai kesepakatan yang tidak terjelaskan.‘

Lemah Abang

Tidak dijelaskan siapa kalahkan siapa. Yang bisa dijelaskan adalah adanya sayatan darah Kantong Bolong menetes ke tanah tiap kali Kantong Bolong memaparkan esensi dari demokrasi Kawula-Gusti. Sayatan darah merah itulah yang menjadi cikal-bakal berdirinya pedukuhan Lemah Abang (Tanah Merah) Sekober Indramayu.

Hingga 1965--saat saya menimba ilmu di sekolah rakyat--tidak saya temukan tajug apalagi masjid di Lemah Abang, Sekober. Manusia Lemah Abang lebih memilih ruang oyodmingmng ketimbang pemikiran cerdas istikamah Nyi Endang Darma Ayu. Pada malam-malam tertentu didaur ulang tuturan Kantong Bolong sebelum sirna dari ruang muram Dermayu “Benjing amenanging kala tida,wong duwur dadi umbul-umbul,wong cilik tengal-tengul nyedoti umbel.‘
Sumber: Jurnal Nasional, 13 Mar 2012
SEBARKAN ARTIKEL INI :

1 comment:

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger