Oleh Abdul Hakim MS
Direktur Riset
Developing Countries Studies Center (DCSC) Indonesia, Jakarta
Sejatinya, kenaikan harga BBM memang sesuatu yang tak terelakkan. Ketegangan
antara Iran dan AS di Selat Hormuz telah menjadi pemicu utama meroketnya harga
minyak dunia. Akibat pertikaian kedua negara, harga minyak global sampai
menembus 120 dolar AS per barel. Bahkan salah satu pejabat senior perminyakan
Kuwait, Ali al-Hajeri, menyatakan, jika ketegangan Iran-AS tak berhenti dalam
waktu dekat, harga minyak diprediksi bakal merangkak hingga 160 dolar AS per
barel.
Seiring dengan
lompatan harga minyak dunia tersebut, pemerintah menjadi kelimpungan
mengencangkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2012. Itu
dikarenakan, asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN tahun 2012 hanya
sebesar 90 dolar AS per barel. Untuk mempersempit gap yang ada, pilihan
rasional satu-satunya adalah dengan menaikkan harga BBM.
Adanya gap yang
curam antara ICP dan harga minyak dunia sebenarnya sudah terjadi setahun lalu.
Akibatnya, pemerintah harus menyediakan dana subsidi BBM sebesar Rp 165.2
triliun pada APBN tahun 2011. Padahal, alokasi dana untuk subsidi BBM pada
tahun tersebut hanya sebesar Rp 129.7 triliun. Sementara pada APBN tahun 2012,
pemerintah rencananya hanya akan memberikan anggaran dana untuk subsidi BBM
sebesar Rp 123,6 triliun. Namun lagi-lagi, karena harga minyak dunia tak kunjung
mengempis, pemerintah diperkirakan akan mengeluarkan dana hingga Rp 178,7
triliun.
Celakanya,
subsidi yang sangat besar itu ternyata tak sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat
miskin. Merujuk data Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), ternyata hampir
50 persen orang kaya di indonesia yang sebenarnya menikmati 90 persen subsidi
BBM. Sedangkan orang miskin yang mengenyamnya hanya sekitar 4 persen saja.
Merujuk kondisi
di atas, tidak mengherankan apabila kemudian Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum
PDI Perjuangan yang menggariskan diri sebagai partai oposisi, mendorong
pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Saran ini ia kemukakan pada Januari 2012
lalu kala harga minyak dunia belum menyentuh level 120 dolar AS per barel. Menurut
putri Bung Karno ini, konflik yang tak kunjung mereda antara AS-Iran di Selat
Hormuz, akan terus menjadikan ketidakpastian harga minyak global. (tempo.co,
Selasa, 12 Januari 2012)
Pengalaman
sebagai presiden yang juga pernah dengan terpaksa menaikkan harga BBM karena
lilitan masalah APBN, menyebabkan Megawati memahami betul apa yang sedang
dihadapi oleh Presiden SBY. Dorongan agar pemerintah menaikkan harga BBM adalah
solusi realistis untuk keluar dari jeratan devisit anggaran.
Menariknya, apa
yang diingini Megawati tiga bulan lalu berubah ketika pemerintah betul-betul
akan menaikkan harga BBM. PDI Perjuangan malah menolak keras dengan berbagai
cara, mulai dari lewat pernyataan keras di media massa hingga pemajangan
spanduk di jalanan. PDI Perjuangan seolah ingin menegaskan bahwa partainya
adalah pendukung wong cilik.
Yang lebih
menarik lagi, upaya penolakan tersebut tak cukup dengan jalur resmi, yakni
melalui DPR yang memiliki akses langsung untuk membahas rencana kenaikan ini
dengan pemerintah. Partai moncong putih ini juga berupaya menggunakan 'parlemen
jalanan' melalui pemasangan spanduk bertuliskan penentangan terhadap kenaikan
harga BBM.
Memang, kenaikan
harga BBM ini merupakan isu seksi yang bisa menuai simpati publik. Akan tetapi,
hal itu seyogianya tak kemudian membuat sikap berubah-ubah. Kala PDI Perjuangan
telah menentukan sikap mendukung kenaikan, jangan kemudian berubah hanya karena
ingin menuai simpati rakyat.
Politisasi BBM
Ambivalensi PDI
Perjuangan dalam menyikapi kenaikan harga BBM ini tentu menimbulkan tanda tanya
besar, apakah PDI Perjuangan hanya menjadikannya sebagai ajang untuk politik
pencitraan? Apakah PDI Perjuangan yang menggariskan diri sebagai opisisi,
menggunakan isu kenaikan BBM agar bisa berbeda dengan pemerintah? Ataukah,
sikap mendua ini untuk kepentingan penegasan kembali bahwa mereka adalah
partainya wong cilik?
Jika
pertanyaan-pertanyaan itu benar, maka sikap penolakan yang dilakukan PDI
Perjuangan tak lebih hanya sebagai wujud politisasi. Sikap ambivalensi bisa
ditafsirkan bahwa elite PDI Perjuangan hanya menjadikan isu-isu kesulitan hidup
rakyat sehari-hari untuk memenuhi hasrat politik jangka pendek mereka.
Dalam situasi
seperti ini, tentu publik dituntut untuk lebih cermat dalam memilah-milah mana
elite politik yang benar-benar berjuang demi rakyat dan mana elite politik yang
berjuang untuk kepentingan politik mereka sendiri. Sudah saatnya, publik
mengetahui bahwa sikap resisten terhadap pemerintah bukanlah ukuran valid guna
menilai bahwa elite politik bersangkutan berjuang bagi kepentingan masyarakat
luas. Apalagi, sikap resisten tersebut tak disertai perilaku konsisten, seperti
yang terjadi di PDI Perjuangan.
Idealnya, dalam
menyikapi kenaikan harga BBM, hendaklah partai politik bersikap ajek. Jika
telah memandang kenaikan harga BBM sebagai sebuah keniscayaan, janganlah
kemudian menelan ludah sendiri. Sudah tak zamannya lagi politik kita disertai
dengan sikap 'pagi tempe sore kedelai', karena hanya menguatkan dugaan adanya politisasi
semata.
Oleh karena itu,
ada baiknya para politisi mulai belajar bersikap elegan. Sudah waktunya partai
politik memunculkan diri sebagai wadah yang memiliki karakter. Sikap ambivalen
hanya akan menghambat perkembangan demokrasi kita yang sudah mulai mapan.
Sumber: Suara
Karya, 5 April 2012

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!