Oleh Paulus
Mujiran
Alumnus Program
Pascasarjana
Magister Administrasi Publik
Universitas Diponegoro, Semarang
Nasib koalisi pendukung
pemerintahan SBY-Boediono tampaknya kian tidak solid. Hal itu tercermin dari
tidak kompaknya partai-partai koalisi dalam mendukung rencana pemerintah
menaikkan harga BBM. Jika dipetakan, hanya Partai Demokrat sendiri yang
konsisten dan berani bersikap tegas mendukung rencana pemerintah menaikkan
harga BBM. Tidak tegas atau ragu-ragunya partai-partai koalisi dalam mendukung
rencana kenaikan harga BBM karena mereka takut kehilangan popularitas dan
simpati rakyat.
Mereka pun
cenderung bersikap mendua antara mendukung dan tidak. Kaki kanan berpijak dalam
koalisi pemerintah yang mendukung kenaikan harga BBM, sementara kaki kiri
berada di kalangan rakyat yang tidak menghendaki kenaikan harga BBM. Maka jika
secara cermat melihat rumusan akhir sidang paripurna DPR mengenai opsi kenaikan
harga BBM, tampak ambiguitas partai-partai koalisi.
Rumusan Pasal 7
ayat 6a UU APBN-P 2012 memang memberi ruang atau kewenangan kepada pemerintah
untuk menaikkan/menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Kewenangan
itu hanya dimiliki pemerintah jika harga minyak dunia lebih tinggi/rendah 15
persen ketimbang asumsi harga minyak dunia dalam APBN-P sebesar US$105 per
barrel selama enam bulan. Tetapi pasal 7 ayat 6 secara tegas tidak memberi
kesempatan pemerintah menaikan harga BBM.
Keputusan rapat
paripurna DPR ini secara tidak langsung merupakan kekalahan telak Partai
Demokrat dan kemenangan Partai Golkar. Betapa tidak, Demokrat yang sejak awal getol
mendukung rencana kenaikan harga BBM justru gagal melobi sesama koalisi untuk
mendukung rencana itu. Golkar pun mengklaim, hasil akhir paripurna merupakan
kemenangannya dan klaim bukti bahwa Golkar telah memenuhi aspirasi rakyat yang
menolak kenaikan harga BBM.
Dalam rapat
paripurna pengesahan RUU APBN-P 2012, Fraksi Partai Golkar memang mengusulkan
rumusan Pasal 7 ayat 6a: kenaikan harga BBM dapat dilakukan dengan syarat harga
minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Oil Price/ICP) naik atau turun
15 persen dari rata-rata ICP selama enam bulan terakhir. Tawaran FPG ini
kemudian diikuti empat fraksi partai politik pendukung koalisi: Fraksi Partai
Demokrat, Fraksi Partai Amanat Nasional, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan,
dan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.
Sikap Fraksi
Partai Golkar yang kemudian berbalik arah menawarkan opsi abu-abu tidak lepas
dari sikap sebelumnya yang sudah terang-terangan menyatakan menolak kenaikan
harga BBM. Partai Golkar tampaknya tidak mau kehilangan muka di kalangan mitra
koalisinya sehingga mengusulkan ide alternatif munculnya pasal siluman yang
memberi kesempatan kepada pemerintah menyesuaikan harga BBM manakala ICP naik
atau turun 15 persen dalam enam bulan.
Sikap Partai
Golkar yang melunak tidak lepas dari pertemuan antara Presiden SBY dan Ketua
Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie yang mungkin saja terjadi deal-deal
politik di antara keduanya. Opsi yang ditawarkan Fraksi Partai Golkar membuat
pemerintah serta merta mudah menyesuaikan harga BBM. Tidak ada yang bisa
menjamin harga minyak dunia akan terus naik sehingga rata-rata dalam enam bulan
bisa mencapai US$120,75 per barel atau 15 persen di atas asumsi APBN-P 2012.
Apalagi faktor
mendasar yang memengaruhi harga minyak dunia, yakni kondisi perekonomian
global, cenderung tidak pasti, bahkan memberikan sentimen negatif atau
menurunkan harga minyak. Dengan kata lain, sikap Fraksi Partai Golkar menjadi
bukti sejak awal, dengan syarat itu tidak mudah pemerintah menaikan/menurunkan
harga BBM. Tak pelak, inilah kemenangan Partai Golkar yang kemudian dirayakan
dengan pidato Ketua Umum Aburizal Bakrie.
Yang menarik,
sikap Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) karena secara mengejutkan memilih
bergabung dengan partai-partai oposisi menolak kenaikan harga BBM. Ada banyak
alasan mengapa PKS memilih berpihak kepada mereka yang menolak kenaikan harga
BBM. Alasan sederhana, PKS tidak mau kehilangan simpati rakyat terutama dalam
perhelatan pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta. Dalam Pilkada DKI
Jakarta, PKS mencalonkan Hidayat Nur Wahid, mantan Ketua MPR RI.
Dengan tokoh
sekaliber Hidayat Nur Wahid, PKS tidak mau tampak abu-abu di mata konstituen
Jakarta yang terkenal amat fanatik. Maka, meski berisiko ditendang dari koalisi
pendukung pemerintah, PKS pun berani bersikap sangat tegas. Ini sekaligus
menjadi tamparan bagi pasangan SBY-Boediono dan partai pendukung koalisi:
beranikah mendepak PKS dari koalisi pemerintah? Keberadaan PKS saat ini memang
menjadi anak “nakal‘ yang menyulitkan.
Di satu sisi,
keberadaan PKS sangat diperlukan bagi pasangan SBY-Boediono karena memperkuat
bangunan koalisi. Pada saat yang sama, sikapnya yang cenderung nakal pada
angket Century dan mafia pajak menyebabkan elit Demokrat kian jengah dengan
perilaku PKS. Bukan berarti SBY-Boediono lantas berani mengeluarkan PKS dari
koalisi pendukung pemerintah. Ada banyak pertimbangan yang memaksa SBY-Boediono
tetap mempertahankan PKS, meski berulangkali justru membuat Demokrat merasa
sulit.
Lepas dari semua
itu, proses yang alot dalam rencana kenaikan BBM telah memberikan pelajaran
sangat berharga. Pemerintah pun dengan keputusan paripurna BBM tidak begitu
saja menaikkan harga BBM. Pemerintah, seperti kata SBY, hendak mengambil sikap
soal kenaikan harga BBM sebagai opsi terakhir. SBY pun menyatakan penghematan
energi, percepatan konversi bahan bakar minyak ke gas, mengoptimalkan
penerimaan negara lewat pajak dan pertambangan serta penghematan keuangan
kementerian/ lembaga serta pemerintah daerah.
Rakyat pun
akhirnya lega karena aspirasi mereka didengar. Aksi unjuk rasa yang nyaris
berubah menjadi aksi anarkistis pun direspons oleh para wakil rakyat yang tidak
memutuskan kenaikan harga BBM per 1 April 2012. Harapan kita bersama, semoga
situasi kondusif yang kembali terjadi belakangan ini dapat terus terpelihara
sehingga pemerintah dapat terus bekerja untuk rakyat.
Sumber: Jurnal
Nasional, 3 Apr 2012

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!