Oleh Umbu TW Pariangu
Dosen Fisipol Undana, Kupang
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berkhianat! Itulah
garis besar pemberitaan media massa pasca-paripurna RAPBN-P 2012, Jumat (30/3)
terkait posisi PKS yang mengambil haluan berbeda dengan rekan koalisinya
(Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan
Pembangunan, dan Partai Kebangkitan Bangsa) yang mendukung kenaikan harga BBM.
PKS malah pasang badan dengan berbaur di barisan
gerbong oposisi yakni: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai
Gerindra dan Partai Hanura yang terang-terangan menolak penaikan harga BBM.
Empat partai ini setuju pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi asalkan harga
minyak mentah Indonesia naik minimal 15 persen selama enam bulan. Tubuh koalisi
pun meradang.
Pembelotan PKS dinilai oleh Partai Demokrat sebagai
pengkhianatan terhadap 11 butir kesepakatan Setgab Koalisi. Karenanya, sinyal
untuk mendepak keluar partai berlambang padi dan kapas itu dari koalisi pun makin
santer terdengar. Menurut Ketua Departemen Komunikasi Publik Demokrat Andi
Nurpati, rencana pencopotan PKS segera akan dikonsultasikan oleh Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) dengan para pemimpin partai koalisi di Sekretariat Gabungan
Koalisi.
Terhadap wacana ini, Sekretaris Fraksi, Abdul Hakim,
mengembalikan sepenuhnya kepada SBY. "Itu hak prerogatif Presiden sebagai
pemegang mandat rakyat. Kami persilakan bila dinilai terbaik untuk
rakyat," (Tempo.com/1/4). Menurutnya pula, PKS membangun koalisi bukan
dengan Partai Demokrat tetapi dengan SBY selaku Presiden. Alasan ini sering
menjadi apologi politik partai pendukung pemerintah saat “bermain kaki‘ di
parlemen terkait kasus Century dan pansus hak angket mafia.
Dalam wacana kenaikan harga BBM, Golkar pun sebenarnya
tidak secara jelas menyatakan sikapnya kalau tidak mau dikatakan mengambil
posisi di tengah-tengah (mid position). Partai Golkar baru tegas menolak
kenaikan harga BBM melalui Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Idrus Marham
(Kamis, 29/3) malam setelah beredar rumor Ketua Umum Partai Golkar Aburizal
Bakrie menyetujui kenaikan harga BBM. Dengan kata lain, model politik rangkap
(due politic) menjadi model klasik anggota koalisi memainkan jurusnya. Di depan
panggung “patriotik‘ menolak penaikan BBM agar mendapat simpati rakyat, namun
di belakang panggung mereka sebaliknya: sudah deal menyetujui penaikan BBM.
Sering terjadinya gangguan soliditas koalisi
pendukung pemerintahini karena nihilnya format ideologi yang mempersatukan
koalisi. Perekatnya hanyalah “kepentingan‘ yang membuat anggota koalisi mudah
subservient (tunduk) terhadap kepentingan pragmatis. Siasat politik
transaksional inilah yang dijadikan instrumen pelembagaan politik partai yang
mengganggu irama kerja koalisi dalam mendukung efektifitas kebijakan-kebijakan
pemerintah.
Integritas koalisi
Sikap politik PKS ini merupakan catatan merah bagi
masa depan koalisi. Dari aspek etika politik, jelas ini mengangkangi
kebersamaan koalisi. Bukan semata karena Demokrat merasa ditinggalkan mitra
koalisinya, namun pembangkangan PKS bisa melahirkan insentif bagi keberanian
Demokrat untuk menyelamatkan komitmen menegakkan integritas koalisi dalam
mengomunikasikan kebijakan-kebijakan pemerintah kepada publik.
Maka, usulan mendepak PKS dari gerbong koalisi adalah
sebuah keniscayaan. Pertama, dari segi disiplin, untuk memberikan preseden bagi
anggota koalisi yang lain untuk mempertajam ketaatan politiknya, mematuhi etika
dan fatsun koalisi. Jika sikap nakal PKS dibiarkan, secara internal akan
mempengaruhi bahkan merusak loyalitas anggota koalisi yang lain dan secara
eksternal akan menurunkan kewibawaan koalisi pemerintahan di hadapan publik.
Tidak elok jika PKS menjadikan gerbong Koalisi hanya sebagai sarana untuk
menempatkan tiga jatah menterinya di kabinet, sementara sikap partai di
parlemen malah bebas bermanuver untuk tidak sejalan dengan garis kebijakan
pemerintah.
Bahwa PKS tidak berkoalisi dengan partai tetapi
dengan Presiden, ini alasan diplomatis semata. Toh dalam kesepakatan awal,
Presiden sudah menegaskan, anggota koalisi wajib tunduk pada 11 butir
kesepakatan (code of conduct) koalisi yang intinya menjamin stabilitas
pemerintahan sampai 2014.
Kita tahu, wacana penaikan BBM yang disambut
demonstrasi rakyat--yang sebagiannya anarkistis--hampir di seluruh Tanah Air
kemarin diprediksi dapat memicu destabilitas pemerintahan. Bagi Partai
Demokrat, ini selayaknya akan menjadi ukuran kemurnian loyalitas untuk melihat
“siapa‘ yang tulus dan “siapa‘ yang lebih memilih mencari selamat sendiri saat
terjadi dilema dan masa sulit. Dalam keadaan demikian, kewajiban moral bagi
partai pendukung pemerintah untuk segaris dan membela kebijakan pemerintah
sebagai wujud fungsi keterwakilan pemerintahan secara keseluruhan.
Emette Redford (1969) mengatakan, sekali keterwakilan
dan prosedur obyektif berhasil dicapai dalam sebuah koalisi kepentingan, maka
yang paling menentukan adalah keabsahan nilai dari koalisi itu sendiri. Nilai
yang dimaksud adalah visi yang sama yang mengikat efektivitas kerja
pemerintahan atas dasar panduan bersama sebagai alasan fundamental di balik
kesepakatan kontrak politik.
Kedua, atas argumen di atas itulah, maka penjatuhan
sanksi tegas kepada PKS yang mbalelo terhadap koalisi diharapkan dapat
mempertahankan diferensiasi konfigurasi politik nasional antara kelompok oposan
dan propemerintah sehingga pengukuhan kultur dan pembelajaran proses
berdemokrasi bagi publik dapat berlangsung baik. Kalaupun PKS membela
langkahnya sebagai pembelaan terhadap kepentingan rakyat, itu pun sangat
diragukan. Hasil jajak pendapat Kompas (7/3/2011) menunjukkan hanya 21,2 persen
responden yang percaya langkah politisi Golkar dan PKS di balik hak angket
dimotivasi oleh kepentingan rakyat, sedangkan 64,1 persen responden tidak
mempercayainya.
Ketiga, pemecatan PKS akan membantu mereduksi
langgam politik klasik yang mengatakan bahwa kekuasaan hanya soal “siapa
mendapat apa dan bagaimana‘, atau “yang abadi dalam politik hanyalah
kepentingan‘. Membiarkan berkembang biaknya adagium ini dalam tradisi politik
elite-elite kita akan menggembosi energi pemerintah dalam menjalankan seluruh
visi-misinya serta dapat meracuni mandat demokrasi yang sudah dipercayakan
rakyat pada pemilu presiden kemarin.
Sumber: Jurnal Nasional, 4 Apr 2012

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!