Headlines News :
Home » » Obelisk di Tengah Lapangan Santo Petrus Vatikan

Obelisk di Tengah Lapangan Santo Petrus Vatikan

Written By Ansel Deri on Monday, October 24, 2016 | 11:56 PM

Berkunjung ke Vatikan tentu menjadi kerinduan setiap umat Katolik di seluruh penjuru dunia. Apalagi menginjakkan kaki di lapangan Santo Petrus Vatikan. Salah satu obyek penting yang bakal memanjakan mata yakni obelisk atau tiang batu tunggal. Tetapi ikhwal obelisk ini, orang kerap bertanya.

ANGGOTA Pontifical Council for Interreligious Dialogue atau Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama Pastor Dr Markus Solo Kewuta SVD, memberikan penjelasan sekilas tentang obelisk atau tiang batu tunggal hasil kompilasi dari berbagai sumber. Menurut Pastor Markus, imam SVD kelahiran Lewouran, Flores Timur, 4 Agustus 1968, tentang karya siapa, sulit dikatakan. Namun, ia menambahkan, obelisk berasal dari kota Alexandria, Mesir. Tiang batu tunggal ini dikerjakan pada awal abad masehi di bawah Pemerintahan Kaiser Augustus.

“Waktu itu Mesir dan sebagian wilayah Timur Tengah, termasuk Israel, berada di bawah prefekrur kekaisaran Roma. Antara tahun 37 dan 41 di era kepemimpinan Kaiser Caligula, ia mentransportasi obelisk itu ke Roma dan mendarat dengan kapal besar melalui laut tengah di pelabuhan Civita Vecchia. Dari sana ditarik oleh sekitar 300 kuda ke area Vatikan,” ujar Pastor Markus Solo kepada saya dari Vatikan, Senin (24/10 2016) siang.

Lebih jauh ia menjelaskan, awalnya obelisk ini bukan tempatnya di lapangan Santo Petrus tapi diberdirikan di atas Circus Caligula yang meliputi wilayah Basilika Vatikan saat ini hingga Campo Santo. Diriwayatkan bahwa Kaiser Nero menyiksa Santo Petrus Rasul Yesus persis di atas circusnya dan di sekitar obelisk itu.

Oleh karena itu obelisk itu dinamakan juga Pyramis Beati Petri. Artinya Piramide Beato Petrus. Baru tahun 1586 Paus Sixtus V menyuruh memindahkan obelisk dari wilayah Campo Santo menuju tengah lapangan sekarang ini.

Arti obelisk menurut pastor yang mendalami Bahasa Arab di Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, minimal ada tiga. Pertama, secara historis menjadi kenangan relasi sejarah perpolitikan antara kekaiseran Roma purba dan Mesir yang juga waktu itu jadi wilayah kekaiseran Roma.

Kedua, secara religius, menjadi saksi penderitaan kemartiran Santo Petrus. Ketiga secara teologis, obelisk yang adalah simbol pemujaan dewa matahari kini memiliki salib di puncak yang berarti menjadi simbol kehadiran Yesus Kristus, sol invictus dan term teologis, yang artinya matahari yang tak terkalahkan (dalam kontradiksi terhadap dewa matahari purba yang bisa terkalahkan).
Ansel Deri
Ket foto: Obelisk atau tiang batu tunggal di lapangan Santo Petrus Vatikan. 
Foto: dokumen Pastor Markus Solo Kewuta SVD
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger