Oleh Beginda Pakpahan
Analis Politik
dan Ekonomi Global UI
KITA akan menutup tahun 2017 dan
akan memasuki tahun 2018. Dalam konteks pelaksanaan politik luar negeri Indonesia,
kita berada di antara pelbagai capaiannya pada tahun 2017 dan tantangannya pada
2018.
Lalu, apa pelbagai
capaian politik luar negeri Indonesia 2017? Selanjutnya, apa pelbagai tantangan
politik luar negeri Indonesia 2018?
Capaian 2017
Pada 2017, Indonesia
melaksanakan beberapa hal penting. Pertama, Indonesia ikut mendorong dan
mendukung ASEAN sampai mencapai usia 50 tahun, terutama berkontribusi
memelihara perdamaian dan menjaga stabilitas di Asia Tenggara. Indonesia kerja
bersama sembilan negara ASEAN lain mendorong semua pihak yang berkepentingan di
Asia Pasifik untuk berkontribusi positif dalam perdamaian dan stabilitas di
Laut China Selatan, mengupayakan sentralitas dan kesatuan ASEAN serta menjaga
proses pembentukan Masyarakat ASEAN.
Kedua, Indonesia
bekerja sama dengan negara-negara ASEAN melawan ekstremisme dan terorisme di
Asia Tenggara, seiring dengan meningkatnya kehadiran Negara Islam di Irak
Suriah (NIIS) di Maute, Filipina. Pada Juni 2017, Indonesia, Malaysia, dan
Filipina bersama-sama menjaga keamanan di perairan Sulu dan Sulawesi dalam
rangka melawan terorisme di Asia Tenggara. Secara spesifik, setiap angkatan
bersenjata dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina membangun pusat komando di
Tarakan (Indonesia), Tawau (Malaysia), dan Bongao (Filipina) dalam rangka
memantau pergerakan para militan dan orang asing yang masuk ke atau keluar dari
Marawi, Filipina selatan.
Ketiga, Indonesia
aktif dalam melaksanakan diplomasi kemanusiaan untuk meredakan krisis yang
terjadi di Rakhine, Myanmar. Indonesia menawarkan dan mengupayakan formula 4+1
kepada Myanmar sebagai solusi atas krisis kemanusiaan tersebut. Formula itu
terdiri dari pemulihan keamanan, menahan diri untuk tak melakukan pendekatan
kekerasan, perlindungan bagi semua penduduk Myanmar tanpa melihat apa agamanya,
dan memberikan akses bantuan kemanusiaan dan pembangunan bagi para korban.
Indonesia mendekati Myanmar dengan konstruktif supaya Myanmar mau meredakan
krisis yang terjadi di wilayahnya dan membuka akses bantuan kemanusiaan.
Indonesia juga mendekati Bangladesh untuk kesediaan negara tersebut melindungi
para pengungsi dari Rakhine yang saat ini ada di sana.
Keempat, Indonesia
cukup aktif dalam forum regional dan internasional dalam pelbagai isu. Pada
2017, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Indian Ocean
Rim Association (IORA). Dalam KTT IORA, 5-7 Maret 2017, Indonesia mendorong
disepakatinya Kesepakatan Jakarta bagi negara-negara IORA yang mencakup
pelbagai bidang. Indonesia mendorong agar IORA menjadi platform penghubung
untuk mengisi kekosongan kerja sama dan keterkaitan antara arsitektur regional
Asia Pasifik yang sedang berevolusi dan belum optimalnya kerja sama antarnegara
di wilayah Samudra Hindia.
Pada 7-8 Desember
2017, Indonesia menjadi tuan rumah Bali Democracy Forum (BDF) ke-10 yang
diadakan di Tangerang, Banten. Tema yang diangkat oleh Indonesia adalah Does
democracy deliver? BDF adalah forum kerja sama antarnegara yang bertujuan
memajukan perdamaian, demokrasi, dan moderasi melalui tukar pikiran dan berbagi
pengalaman antara pemerintah dan masyarakat sipil di Asia Pasifik dan dunia di
pelbagai bidang.
Setelah kebijakan
terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump perihal status Jerusalem awal
Desember 2017, Indonesia mendorong agar isu Jerusalem dan masalah Palestina
dibawa ke KTT Luar Biasa OKI di Turki pada 13 Desember 2017 dan ke sidang Dewan
Keamanan PBB.
Tantangan 2018
Pada 2018, politik
luar negeri Indonesia akan menghadapi pelbagai tantangan.
Pertama, persaingan
negara-negara besar di Laut China Selatan (LCS) dan ketidakpastian situasi di
Semenanjung Korea. Indonesia perlu melaksanakan politik luar negeri bebas aktif
dengan mengupayakan persatuan ASEAN dan menjaga sentralitasnya. Tujuannya
adalah memelihara perdamaian di LCS, mende-eskalasi krisis di Semenanjung
Korea, dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara. Persaingan
negara-negara besar yang sedang terjadi di Asia Tenggara dan Timur bisa
dimitigasi dengan penguatan peranan Indonesia dan ASEAN dalam pembentukan
arsitektur kerja sama politik, keamanan, dan ekonomi di Asia.
Kedua, peningkatan
kegiatan terorisme global yang sedang melanda Asia Tenggara. Indonesia perlu
berperan aktif dalam menghadapi ekstremisme dan terorisme yang terjadi di Asia
Tenggara karena krisis Marawi di Filipina adalah contoh konkret kehadiran NIIS
di kawasan tersebut. Kerja sama Indonesia dan negara-negara ASEAN beserta
negara-negara mitra ASEAN perlu ditingkatkan dan diperkuat dalam rangka
mencegah berkembangnya ekstremisme dan memberantas pelbagai kegiatan terorisme.
Ketiga,
ketidakpastian politik dan ekonomi dunia, mulai dari kerja sama bilateral,
regional, multilateral, sampai situasi global. Pelaksanaan kebijakan politik
dan ekonomi dari AS yang mengedepankan kepentingan negara itu berdampak
terhadap pelbagai kerja sama dan situasi dunia. Pengetatan regulasi dan
peningkatan bea impor ke AS, keluarnya AS dari Trans-Pacific Partnership (TPP),
melemahnya perhatian AS terhadap Agenda Pembangunan Doha dan Dispute Settlement
Body/The Appellate Body di The World Trade Organization, dorongan AS untuk
revisi kerja sama The North American Free Trade Agreement (NAFTA) dan kebijakan
terbaru Presiden Trump atas status Jerusalem adalah pelbagai perubahan dunia
yang perlu diantisipasi oleh negara dan organisasi regional/internasional di
dunia, termasuk Indonesia.
Tak bisa
dimungkiri, ekonomi AS masih merupakan ekonomi terbesar dunia sejak abad ke-20
sampai saat ini. Menurut data Bank Dunia, AS menguasai lebih dari 24 persen
dari seluruh produk domestik bruto (PDB) dunia tahun 2016. Pada 2016, AS adalah
tujuan ekspor terbesar Indonesia dengan nilai perdagangan 15,68 miliar dollar
AS. Meskipun China mengganti posisi AS sebagai tujuan ekspor terbesar pada
periode Januari-Oktober 2017, dengan nilai 16,9 miliar dollar AS, tetapi pada
periode yang sama posisi AS sebagai tujuan ekspor Indonesia masih signifikan
karena berada di posisi kedua terbesar dengan total nilai 14,2 miliar dollar
AS.
Konsekuensinya.
Indonesia perlu mengantisipasi pelbagai perubahan itu dengan mengoptimalisasi diplomasi
ekonominya, seperti membuka pasar-pasar baru dengan Afrika dan Amerika Latin
serta meningkatkan kerja sama ekonomi di antara negara-negara selatan. Semoga
pemerintah dan rakyat Indonesia dapat merespons dengan efektif pelbagai
tantangan politik luar negeri Indonesia 2018.
Sumber: Kompas, 21 Desember 2017

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!