Headlines News :
Home » » Ketika Refly Harun Mundur

Ketika Refly Harun Mundur

Written By Ansel Deri on Tuesday, July 07, 2015 | 10:55 PM

RABU, 1 April 2015, Refly Harun mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara. Ia meninggalkan kantornya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Sebelum bercerita tentang mundurnya pakar hukum tata negara itu, kita membaca terlebih dahulu dua pepatah atau proverbia Latin yang lahir ratusan tahun lalu di Kerajaan Romawi kuno. Kedua pepatah ini tidak paralel dengan alasan Refly Harun mundur, tetapi hanya untuk bahan tambahan renungan bagi pegawai atau petugas istana.

Pepatah pertama berbunyi, Exeat aula, qui vult esse pius. Menurut kamus Proverbia Latina yang disusun BJ Marwoto dan H Witdarmono, terjemahan langsung pepatah itu adalah "Barang siapa ingin menjadi orang baik, hendaklah meninggalkan istana". Terjemahan bebasnya seperti ini, "Kalau ingin tetap menjadi orang baik, janganlah masuk dalam struktur kekuasaan".

Pepatah Latin kuno lainnya yang mirip dengan itu berbunyi, Animo magis quam corpore aegri sunt. Terjemahannya, "Mereka (yang berkuasa) lebih banyak (terkena) sakit jiwa daripada sakit badan".

Pepatah pertama diciptakan penyair istana Kerajaan Romawi bernama Marcus Annaeus Lucanus (hidup tahun 39 sampai 65). Ia bekerja sebagai penyair istana Kaisar Nero (memerintah tahun 54 sampai 68). Karya syair epos Lucanus yang terkenal adalah "Pharsalia", yakni tentang perang saudara (Bellum civile) antara Julius Caesar dan Pompeius.

Kalangan istana tidak suka kepada Lucanus dan menuduhnya bersekongkol dengan berbagai pihak untuk menjatuhkan raja. Akhirnya, Lucanus dihukum mati. Namun, Lucanus tidak sakit jiwa.
Dua kebebasan

Kembali ke soal mundurnya Refly Harun. Jumat dua pekan lalu, ia mengatakan tidak keberatan soal mundurnya ditulis bersama kedua pepatah itu dan kisah Lucanus.

Alasan Refly mundur antara lain (yang bisa ditulis di sini) berkaitan dengan kebebasan teknis dan kebebasan prinsip. "Kebebasan teknis ini berkaitan dengan pemilihan waktu atau jam kerja di kantor. Saya mau membantu istana, tetapi saya tidak bisa bekerja di kantor dengan waktu reguler seperti yang ditentukan di kantor Setneg," ujarnya.

Berkaitan dengan kebebasan prinsip, Refly mengatakan ingin bisa kritis di kalangan intern tempat bekerja sekaligus bisa diumumkan di publik. "Saya tidak bisa mengkritik masalah intern tanpa dipublikasikan. Kalau hanya kritis di dalam, publik tidak tahu kerja saya di dalam, tidak transparan," ujarnya.

Selain itu, Refly mundur untuk memberikan pelajaran tentang keberanian mengatasi masalah post power syndrome kepada siapa pun.

Kisah Lucanus juga tidak paralel dan tidak sama persis dengan peristiwa Refly meninggalkan kantornya di Kompleks Istana Kepresidenan. Kesamaannya hanya "pernah bekerja di dalam istana". Bagaimana pendapat Anda? Selamat merenung, para pegawai istana. Jangan marah, ya, kalau ada hujan kritik, nanti bisa sakit. 
Sumber: Kompas, 7 Juli 2015 
Ket foto: Refly Harun
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger