Oleh
Fransiskus Borgias
Doktor Indonesian Consortium for
Religious Studies (ICRS)-UGM;Dosen Fakultas Filsafat Unpar Bandung
DALAM sejarah
perjuangan di Amerika Latin, ada banyak teolog pembebasan yang mempunyai daya
inspirasi kuat bagi pemikiran politik dan gerakan perubahan sosial. Misalnya,
Gustavo Gutierrez, Leonardo Boff, Clodovis Boff, Jon Sobrino. Lalu, Joao
Severino Croatto, Jose Baptista Comblin, Enrique Dussel, dan Rubem Alves.
Dari sekian banyak
teolog pembebasan di Amerika Latin, secara khusus saya tertarik dengan tokoh
yang terakhir itu, Rubem Alves. Hal itu karena ia mempunyai pemikiran
sosial-politik yang menarik untuk dipakai membedah pelbagai wacana ideologi
pembangunan yang kini gencar diwacanakan di Indonesia, di saat tahun-tahun
politik ini.
Dalam buku
monumentalnya tentang teologi pembebasan, A
Theology of Hope (1969: 67-100) ia pernah mengemukakan gagasan yang disebut
humanisme politis. Menurut Alves, humanisme politis ialah suatu wacana dan
proses kreatif berakhir-terbuka yang selalu menegaskan dan juga percaya bahwa
hari esok lebih baik bisa terwujud. Masa depan yang lebih cerah bisa digapai.
Cita-cita hari esok
yang lebih sempurna bukan mimpi di siang bolong (wishful thinking). Bahkan, upaya mewujudkan hari esok yang lebih
baik sudah bisa dimulai sekarang ini. Humanisme politik tidak pernah
mewacanakan pesimisme tentang masa depan terkait dengan entitas politik,
semisal negara ataupun sekadar sebuah masyarakat kecil.
Menurut Alves,
humanisme politis mempunyai tiga unsur pokok. Pertama, ia tidak mengakui
finalitas dari struktur-struktur inhuman yang ada sekarang ini dan mencekik.
Struktur inhuman
itu, bukanlah bab terakhir dalam perjalanan sejarah. Yang ia maksudkan ialah
kalau misal sekarang ini ada struktur opresif yang menyebabkan hidup manusia
menjadi tidak manusiawi serta dilanda sengsara dan kepedihan, Alves yakin bahwa
struktur-struktur inhuman yang opresif itu suatu saat bisa ditiadakan. Alves
berpandangan bahwa struktur-struktur inhuman itu bukan merupakan bab terakhir
sejarah manusia.
Kedua, orang harus
terus berharap bahwa masa depan akan mencakup upaya penyingkiran bentuk-bentuk
opresif yang kini merajalela. Sekilas poin kedua ini tidak berbeda dengan poin
pertama. Akan tetapi, keduanya sangat berbeda satu sama lain. Poin pertama
berfokus pada yang sekarang ini, pada masa sekarang, dan di sini. Sementara
itu, poin kedua berfokus pada perubahan yang sedang mendatangi. Jadi, dia
berorientasi futuristis, walau tetap berpijak dan berangkat dari masa sekarang
dan di sini.
Ketiga, Alves
percaya bahwa kemanusiaan dan hanya kemanusiaan sajalah (dan bukan sesuatu yang
lain) yang bisa mendatangkan perubahan-perubahan itu dan menciptakan
struktur-struktur yang mendorong keadilan bagi manusia.
Poin ketiga ini
sangat optimistis tentang kemanusiaan. Ia mempunyai evaluasi yang sangat
positif akan kemanusiaan. Humanisme politis ini mempunyai corak dasar
optimistis, yaitu masyarakat yang jauh lebih baik dari yang sekarang ini ada,
bisa dicapai, dan diwujudkan.
Pada dasarnya
program pembangunan ialah upaya untuk membuat kehidupan manusia menjadi lebih
baik, mengalami sebuah peningkatan. Karena itu, pembangunan ialah pembebasan
juga. Saya bisa memahami bahwa di era 1990-an, Romo Mangunwijaya pernah
mengemukakan pandangan bahwa wacana pembangunan ialah kata lain untuk
pembebasan.
Gagasan yang tepat
untuk teologi pembebasan (yang saat itu dicurigai berbau marxistis) di
Indonesia ialah teologi pembangunan. Jika istilah teologi pembebasan dinilai
terlalu revolusioner dan bahkan terkesan radikal-subversif, istilah teologi
pembangunan terasa lebih halus. Mengandung nada eufemistis yang memperhalus
wajah garang teologi pembebasan. Padahal jika ditilik dengan baik, sesungguhnya
substansinya sama, yaitu pembebasan dan peningkatan mutu kehidupan manusia
juga.
Wujud nyata
Dalam derap langkah
menjelang tahun politik yang panas ini, muncul pelbagai wacana yang saling
bersaing dan bahkan bertabrakan. Sebuah televisi swasta nasional bahkan membuat
polarisasi antara wacana optimistis dan wacana pesimistis terkait dengan masa
depan bangsa ini. Televisi itu mengkaitkan masing-masing wacana itu dengan dua
kubu kandidat presiden kita yang sedang bersaing.
Kiranya apa yang
diupayakan Presiden Jokowi saat ini ialah wujud nyata dari cita-cita dasar
humanisme politis itu. Dalam empat tahun masa pemerintahannya, beliau sudah
berbuat banyak untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik lagi di masa yang
akan datang (walau bencana menggerogoti kita). Pembangunan yang dicanangkan
Presiden Jokowi selama ini kiranya telah berhasil membuat Indonesia naik tingkat
(peringkat) menjadi lebih baik.
Dari pelbagai
laporan televisi dan media masa lainnya, saya merasa bahwa kita sudah lebih
baik. Misalnya, tol yang berhasil dibangun dan diselesaikan pada masa Presiden
Jokowi jauh lebih panjang daripada masa-masa sebelumnya.
Bendungan, bandara,
pelabuhan laut, tol laut, dan jalan raya tersebar di seluruh pelosok negeri.
Peretasan isolasionisme Papua berupa pembangunan infrastruktur jalan raya yang
masif, pengentasan keterbelakangan pembangunan di perbatasan, kartu sehat dan
kartu pintar, serta kebijakan satu harga BBM untuk seluruh Indonesia.
Masa pemerintahan
Jokowi sungguh menghadirkan humanisme politis di Indonesia. Tanpa bermaksud
kampanye mendukung petahana, saya mau mengakhiri tulisan ini dengan mengatakan
bahwa humanisme politik itu erat terkait dengan mentalitas dan spiritualitas
tokoh. Hal itu ada pada diri Jokowi. Karena itu, semboyan ‘kerja-kerja-kerja’,
bukanlah semboyan kosong dan yang asal bunyi, melainkan semboyan transformatif
menuju masa depan yang lebih baik dan lebih meningkat.
Sumber: Media Indonesia, Sabtu, 29 Desember 2018

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!