Oleh Max Regus
Doktor Lulusan Graduate
School of Humanities, University of Tilburg, Netherlands;
Sekarang menetap di
STKIP St Paulus Ruteng, Flores, NTT
TAHUN 2018 sebentar lagi pamit dari hadapan
kita semua. Kita dapat menderetkan sekian banyak pencapaian yang menyejukkan
jiwa kebangsaan. Bagaimanapun, pada tahun ini, juga tidak terelakkan, sebagian
pemandangan menggembirakan seolah disembunyikan dari pandangan kita. Pada
bentangan garis sosial-politik, tercetak banyak cerita yang hendak mengingatkan
kita betapa kenyamanan dan kematangan hidup sebagai bangsa rasanya masih jauh.
Pertama, di sisi
politik, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan sejumlah term yang memicu
beragam tanggapan, di antaranya sentilan beliau tentang tata laku politik model
‘sontoloyo’ dan ‘genderuwo’. Barangkali, jika ingin menggabungkan keduanya,
penampilan politik ini bisa dibilang sebagai ekspresi perilaku politikopat. Kelakuan
politik yang menisbikan keadaban, sembari membesarkan ketakutan di ruang
publik.
Kedua, di sisi sosial,
duka tiada henti membingkai peristiwa pahit gempa dan tsunami di sejumlah
daerah. Dari Lombok dan Palu, ada pesan duka yang dikirimkan ke relung-relung
sanubari keindonesiaan.
Keindonesiaan
Di atas panggung
keindonesiaan, Presiden Jokowi melakukan abstraksi substansial atas laku
politik kita pada hari-hari ini. Celoteh politiknya beberapa waktu lalu, dengan
beberapa alasan, menghebohkan tetapi terutama penting untuk kita. Pertama, pada
empat tahun masa kekuasaannya, Jokowi amat jarang mengeluarkan pernyataan
seperti ini. Sepertinya, ada sisi lain dalam jiwa politik Jokowi yang baru
terbuka. Beliau ternyata memiliki sikap yang tanpa tedeng aling-aling menabrak
laku politik yang menjijikkan.
Kedua, juga
menghebohkan karena orang seperti sedang mengenal Jokowi 'yang lain'. Seorang
politikus, yang ternyata mampu 'menggebrak' panggung pertarungan politik dengan
'sodokan-sodokan' mematikan, dengan komunikasi yang tajam, serentak mengusik
sikap anggap remeh banyak pihak terhadapnya selama ini.
Ketiga, lebih daripada
dua aspek personal di atas, Jokowi hendak membuka apa yang membentang di
panggung persaingan perebutan kekuasaan di 2019. Beliau terutama ingin
mengingatkan publik atas munculnya kekuatan politik yang cenderung secara sadis
mengiris etika politik demi meraih kekuasaan. Sekaligus hendak melawan fenomena
itu secara terbuka. Beliau tidak ingin rakyat (publik) terkubur dalam ruang
gelap pesimisme, apatisme, dan ketakutan. Tidak ingin melihat demokrasi kembali
rapuh (fragile democracy) (Landau, 2015).
Ungkapan politik
'genderuwo dan sontoloyo', jika dirunut utuh, terhubungkan dengan satu tema
gerutuan Jokowi tentang sikap korup politik bangsa ini. Korupsi adalah ancaman
dan serangan nyata untuk tubuh bangsa ini. Tentu, tidak hanya merujuk pada
ukuran ini, korupsi juga niscaya ditarik pada simpul-simpul yang bersentuhan
secara substantif dengan perilaku dan budaya politik (kekuasaan). Korupsi,
sebagai kejahatan politik, hanya sebagai satu puncak gunung es dari keseluruhan
bongkahan persaingan politik, dengan mesin kebohongan yang terus menghasilkan
insinuasi keji di ruang sosial (Bennett, 2016).
Semuanya ini
menjelaskan bagaimana keindonesiaan kita terkurung pada rasa tidak segan dalam
diri pelaku politik, yang di satu pihak hanya berhasrat tunggal memuaskan
egoisme secara brutal, sedangkan di pihak lain dengan keji meremukkan etika
demokrasi demi memenuhi kesenangan politik sempit. Ini menjadi tragedi bagi
keindonesiaan. Sebuah tragedi ketika elite politik lebih suka meraih kepuasaan
puncak pada jalan penjagalan demokrasi. Di Indonesia, korupsi, dan kejahatan
politik sejenisnya, berkecambah pada ranah ini.
Kepedihan
Sekurang-kurangnya,
'duka' yang memedihkan di sekitar kisah bencana alam tahun ini dapat dibaca
dalam tiga kepingan makna yang erat bertautan. Ketiganya dapat saja ditaruh
dalam ikhtiar bersama membentuk satu kesadaran baru tentang Indonesia sebagai
'negeri yang terkepung duka'.
Makna pertama
berkaitan dengan begitu pentingnya kita memiliki pengetahuan akan 'kerentanan'
basis geografis negeri kita. Nyatanya, berada di atas sekian banyak lempengan
bumi yang saling berdesakkan dan bertumbukkan memperhadapkan kita pada risiko
pahit munculnya bencana yang tidak pernah bisa diduga.
Berikutnya, rentetan
bencana gempa bumi, mulai Pulau Lombok, kemudian guncangan dan tsunami yang
melanda kawasan Palu dan Donggala, adalah kondisi yang tidak terelakkan. Kita
berada dalam suatu ruang--kita seolah terkunci pada jeruji 'ketidakberdayaan'.
Rentetan bencana alam ini memang muncul begitu bertubi-tubi. Di hadapannya,
seolah tidak ada lagi sejengkal tanah tersisa untuk kita dapat menaruh pijakan
dengan aman. Rasa keterancaman akibat bencana alam datang menggerus keyakinan
dalam ruang batiniah kita bersama.
Kita, pada makna
kedua, menemukan pengalaman keterlemparan pada 'situasi batas'. Kita sedang
berdiri di garis akhir, lalu mendadak tahu bahwa kita ternyata bukan
siapa-siapa. Kita bukan apa-apa. Sekarang, kita secara benderang melihat
bagaimana segenap suprastruktur sosial, politik, kebudayaan, agama
terdefinisikan sebagai simbol 'ketidakberdayaan' mutlak di hadapan gelombang
bencana alam ini.
Kesadaran akan
'situasi batas' memunculkan dua sisi dari momentum paling menentukan. Pertama,
kita niscaya belajar dan menerima kerapuhan sebagai bagian dari keberadaan
kita. Kerapuhan itu muncul dari keadaan tidak berkutik kita di hadapan
gelombang bencana. Kita, di sisi sebelahnya, semestinya secara bijak mengakui
bahwa kerentanan alamiah menuntut kita menumbuhkan dan menghormati dan
menghidupi 'ada bersama' (co-existence)--bukan saja antarmanusia--melainkan
juga dengan alam (ecological co-existence).
Kedua, keberhasilan
menemukan makna 'ketidakberdayaan' bukan sebuah penjelasan akan kekalahan kita.
Dengan bencana alam yang datang mendera, negeri ini tidak sedang 'jatuh' ke
dalam sumur tanpa dasar. Sebaliknya, kita sedang meniti langkah di lorong
waktu--meski tertatih-tatih--yang menyisakan temaram cahaya di ujungnya.
Kairos sosial-politik
Cahaya itu, pada 2019,
semestinya mampu mengantar kita pada kesadaran metafisik-konstruktif. Kegetiran
akibat bencana kehidupan selalu dapat dikelola sebagai kekuatan untuk
menyatukan, mendukung, dan menghidupkan baik harapan maupun keberanian yang
masih tersedia begitu banyak di kedalaman Ibu Pertiwi.
Mata kita memang
dengan nanar sedang menatap kehancuran fisik dan etika politik fatal. Namun,
duka sosial dan kerusakan politik, secara spiritual, adalah juga menjadi
momentum penuh rahmat menuju kebaikan dan keselamatan (Kairos) sosial-politik.
Pertama, sejumlah
sontekan Jokowi dari podium pidato, selain secara parsial dianggap sebagai
serangan politik, juga sebetulnya dapat digunakan sebagai basis autokritik bagi
kekuasaannya sendiri dan terutama pelaku politik sekarang ini. Ini bisa
dianggap sebagai persiapan menyongsong tahun politik 2019.
Ini bisa dimengerti
sebagai semacam peringatan dan koreksi diri konstruktif sebelum para pelakon
politik 'sontoloyo, genderuwo', dan sejenisnya, semakin tersesat menjadi
gerombolan politikopat bagi publik dan bangsa ini.
Kedua, melalui bencana
alam (tsunami dan gempa) yang datang menampar kita, sebuah makna penting lain
menyentuh pengalaman terdalam dari keberadaan kita. Di garis ini, misalnya,
duka bagi sebagian dari antara kita, terutama sama saudara yang berada langsung
di pusat bencana, niscaya menjadi 'energi' sosial bagi sebagian dari antara
kita--bahkan seluruh negeri.
Bencana gempa dan
tsunami sepanjang 2018 memang telah membawa pergi begitu banyak hal, baik kehidupan, harta
benda, maupun segenap basis-basis material dari kebersamaan kita sebagai satu
bangsa. Namun, bencana tidak boleh membawa pergi dan melenyapkan apa yang kita
percayai sebagai 'basis filosofis-humanistik' keindonesiaan kita. Pada tahun
mendatang, kita bersama mesti mampu dan iklas, sambil meninggalkan sekat-sekat
sosial, politik, dan kultural, menyelamatkan negeri yang terkepung duka ini di
tahun ini.
Jokowi hendak membuka
apa yang membentang di panggung persaingan perebutan kekuasaan di 2019. Beliau
terutama ingin mengingatkan publik atas munculnya kekuatan politik yang
cenderung secara sadis mengiris etika politik demi meraih kekuasaan. Sekaligus
hendak melawan fenomena itu secara terbuka. Beliau tidak ingin rakyat (publik)
terkubur dalam ruang gelap pesimisme, apatisme, dan ketakutan. Tidak ingin
melihat demokrasi kembali rapuh (fragile democracy).
Sumber: Media Indonesia,
19 Desember 2018

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!