Headlines News :
Home » » Lukas Ahal Tolok: Pasrah di Ujung Senjata

Lukas Ahal Tolok: Pasrah di Ujung Senjata

Written By ansel-boto.blogspot.com on Monday, March 17, 2008 | 4:42 PM


Ketika ia dan beberapa teman ditodong dengan senjata oleh orang tak dikenal, ia pasrah dalam doa. “Tuhan, ampunilah saya karena saya sangat berdosa di hadapan-Mu! Itulah doa saya,” kenang Lukas Ahal Tolok.

AWAL-awal menjalani kehidupan rumah tangga, suasana kehidupan keluarga pasangan suami-isteri (Pasutri) Lukas Ahal Tolok dan Anjella Demarice Suan tak menentu. Setiap kali bertengkar, pilihannya adalah perceraian.

Jika amarah dua pasangan ini memuncak, benda-benda tajam seolah mau ikut bicara. “Jadi, pilihan saya adalah pisah dan menjalani hidup masing-masing. Padahal, kami sudah disatukan lewat sakramen perkawinan,” ujar Lukas Ahal Tolok.

Sikap frontal dan cepat marah, memang masih membekas ketika ia hengkang dari kampung halamannya, Lerek, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, NTT. Padahal, saat itu Lukas masih di bangku kelas II SMA Swasthika Lewoleba, Kota Kabupaten Lembata.

Menurut Lukas, tahun 1979, ia melarikan diri tanpa sepengetahuan orangtua. Ayah dari Gian Frank Xavier Anjelo Fernando Tolok dan Sergio Jose Feliciano Benolo Tolok ini kemudian merantau ke Makassar. Tekadnya waktu itu adalah menjadi anggota ABRI (TNI), khususnya Resimen Penggempur Komando Angkatan Darat (kini Kopassus). “Setelah berada di Makasaar cita-cita itu buyar. Saya kemudian bekerja di bengkel Mersedes Benz,” kenang Lukas.

Taruhan doa dan prestasi kerja saat itu, bagi Lukas adalah segala-galanya. Tak heran, Lukas dikirim bengkel Mersedez Benz mengikuti pelatihan, training di Ciputat, Jakarta Selatan. “Tapi di Jakarta, saya mulai merasa bahwa pekerjaan yang saya geluti tidak sesuai dengan bakat saya. Karena itu, saya mengundurkan diri,” cerita Lukas.

Lepas dari perusahaan itu, bukan berarti nganggur di ibukota. Segala pekerjaan yang halal, coba ia jalani. Awalnya, pada malam hari Lukas bekerja sebagai tenaga satuan pengaman (satpam) di PT Mugi, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Dan keinginan melanjutkan studi muncul terus. Siang, satpam ini belajar di SMIP dan pagi mengajar Bahasa Inggris di SMEA Sanctus. Siang ia sekolah sedangkan pagi mengajar mata Bahasa Inggris.

“Saat di bangku kelas II SMIP, dipercayakan mengajar Bahasa Inggris untuk kelas III SMEA,” ujar Lukas tertawa. Maklum, modal Bahasa Inggris sudah ia peroleh di SMA Swasthika Lewoleba, Lembata.

Menyadari Talenta

Diam-diam, satpam ini memiliki bakat menyanyi. Ia mengakui, talenta ini adalah rahmat Tuhan. Tapi, jauh sebelumnya ia tak pernah menyadari bakat menyanyi. Nah, karena tak punya uang setamat dari SMIP tahun 1987/1988, ia bergabung dengan Group Musik U-Brothers.

“Kami tampil kalau ada acara-acara pernikahan, acara perpisahaan di kelas III dan sejenisnya. Saat itu juga ia sering ikut show Group Musik Black Sweet,” katanya lagi.

Ketajaman sebagai seorang calon penyanyi terus terasah. Ia bertekad dan berusaha memperhatikan bagaimana cara mengolah vokal yang baik dari Black Sweet. Baik itu saat show di daerah ataupun tampil di televisi.

Keinginan yang besar menjadi seorang penyanyi selalu jadi harapannya. Ia akhirnya membeli sebuah buku yang memuat bagaimana teknik mengolah vokal yang baik. “Ternyata, teknik olah vokal yang dilakukan Black Sweet itu tak jauh berbeda dengan yang ditulis dalam buku itu,” jelasnya.

Jiwa petualangan Lukas belum pupus. Ia menceritakan, tahun 1991, ia ke Bali dan bekerja di sebuah kantor perjalanan wisata. Posisinya memang sangat menjanjikan. Lagi-lagi, ia tak betah hanya karena merasa hanya duduk dan bekerja di belakang meja.

“Saya kemudian bergabung dengan teman-teman dari Medan, Ambon dan lain-lain untuk nyanyi di hotel-hotel,” ujar Lukas.

Memutuskan Menikah

Sejak dari Bali, Lukas mulai percaya diri untuk menyanyi bersama teman-temannya. Tak ayal, mereka sering bernyanyi untuk menghibur tamu-tamu negara saat berlangsung sidang PATA/IATA. Merasa sudah mapan, Lukas mencari pendamping hidupnya. Ia mendekati Anjela Demarice Suan, gadis asal Timor Tengah Selatan (TTS), NTT.

Melalui rencana yang matang, pasangan ini memutuskan untuk menikah. “Kami menikah tanggal 4 Juni 1994 di Gereja Keluarga Kudus Cibinong, Jawa Barat. Kami diberkati Romo Lory Pr,” kenang Lukas. Padahal, sebelumnya, ia harus bolak balik Jakarta – Bali untuk urusan nyanyi. Jadi, “Masa pacaran kami singkat dan acara pernikahan pun sederhana,” lanjutnya.

Awal menjalani kehidupan keluarga, bagi pasangan ini memang berat. Setiap kali berbeda pendapat, ujungnya adalah bicara soal cerai. Kalau tidak bicara soal cerai, maka benda-benada tajam selalu mau ikut bicara dalam pertentangan pasangan ini. “Saya pernah ke Pengadilan Agama di Bogor untuk meminta cerai,” cerita Lukas.

Cobaan

Ada satu pengalaman yang tak pernah Lukas lupakan. Dalam sebuah perjalanan show ke sebuah pulau di Provinsi Maluku, ia dan beberapa rekan sesama group nyanyi mendapat cobaan maut.

Ketika kapal yang mereka tumpangi merapat di dermaga, muncul beberapa pria yang membawa senjata tajam, senapan otomat kemudian menghadang mereka. “Kami diperintahkan tak boleh bergerak. Kalau bergerak, maka nyawa akan melayang,” ujarnya.

Lukas dan teman-temannya memang tak bisa banyak ngomong. Saat itu, ia malah menyarankan teman-temannya agar menenangkan hati dan berdoa menurut agama dan kepercayaan mereka masing-masing.

Sedangkan, ia menyiapkan diri untuk berdoa Salam Maria dan Bapa Kami. “Selain doa Salam Maria dan Bapa Kami, saya berdoa begini, ‘Tuhan, Ampunilah aku. Aku sangat berdosa kepada-Mu! Doa itu tak pernah aku lupa,” katanya dengan nada rendah.

Dari peristiwa penghadangan di Ambon itu, Lukas merasa dilahirkan kembali. Pasalnya, ia merasakan kuasa Tuhan yang begitu hebat terjadi padanya. Maka, mulailah Lukas mengungkapkan rasa syukur itu dengan mengeluarkan album-album rohani.

”Tiga album rohani saya merupakan ungkapan terima kasih saya. Saya mengikuti apa yang Tuhan maui pada saya dan keluarga saya,” ujar Lukas yang baru saja meluncurkan album ketiga Agustus 2002.

Kaset rekaman album rohani pertama itu pun bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga, tetapi untuk gereja. “Saya ke pastor Paroki Katedral Bogor dan saya katakan mau mempersembahkan album saya ini untuk gereja,” ujar Lukas mengisahkan hasil kerjanya itu. (Ansel Deri/Ernie Botoor)  
Ket Foto: Penyanyi yang juga mantan tenaga satuan pengaman alias security Lukas Ahal Tolok dan istrinya, Demarice Suan.
Foto: Dok. Ansel Deri
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger