Headlines News :
Home » » Cerita Bola dari Kaki Labalekan di Pulau Lembata

Cerita Bola dari Kaki Labalekan di Pulau Lembata

Written By ansel-boto.blogspot.com on Tuesday, December 16, 2008 | 6:59 PM


DI KAMPUNG saya, Kluang, Desa Belabaja, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, NTT, tradisi pertandingan bola kaki sudah dari jaman baheula. Menjelang Paskah suasana kampung-kampung di bawah kaki Gunung Labalekan menjadi hidup hanya karena bola kaki. Tiap kampung atau desa memiliki nama klub sepak bola sendiri.

Sayang, saat itu mungkin orang lupa mengabadikan sebuah nama beken sebagai julukan bagi tiap klub layaknya klub-klub nasional dan dunia. Di tingkat nasional, misalnya, sejumlah klub mengabadikan nama beken tim mereka seperti Macan Kemayoran buat Persija Jakarta, Mahesa Jenar buat PSM Semarang, Bondo Nekat alias Bonek untuk Persebaya Surabaya, Laskar Si Pitung untuk Persitara Jakarta Utara atau Ayam Kinantan buat PS Medan.

Sedang di tingkat dunia, kita kenal tim Panther untuk Jerman, Setan Merah untuk Manchester United, dan lain-lain. Kalau tim-tim nasional dan dunia punya nama beken, hal itu tak jauh berbeda dengan tim-tim sepak bola di kampung saya, Kluang, dan kampung-kampung di lereng Labalekan.

Mau tahu apa nama keseblasan kampung saya dulu? Namanya, POL. Ini singkatan dari Persatuan Olahraga Labalimut. Sedangkan desa Puor -kampung istri saya Hermien Rosalia Botoor- pake nama beken Spirit. Sedangkan Desa Atawai: Gempa atau Imulolong: Naradiring. Yang lain seperti Posiwatu, Liwulagang, Lamanuk, dan lain-lain tak ingat.

Kembali soal Labalimut. Nama ini milik tiga kampung: Kluang, Belabaja, dan Boto. Tapi nama Boto lebih beken di kalangan masyarakat di sekitar desa kami untuk menyebut setiap orang entah dusun Kluang, Belabaja maupun Boto.

Juga desa-desa di kecamatan tetangga, Wulandoni, Atadei, dan Lebatukan lebih familiar dengan nama Boto. Saya sendiri juga nggak tahu mengapa sampai begitu. Tapi, bisa juga karena warga dusun Boto adalah penduduk asli.

Sedangkan Kluang, khususnya, adalah warga “migran” dari Waibajar yang bergabung dengan Boto guna mengusir kaum penjajah. Konon, sebagai imbalan kami dihibahkan sebagian tanah orang Boto di bagian timur Boto.

Kini, kampung Kluang dan Belabaja, sudah berpisah mengikuti semangat reformasi. Katanya mau urus diri sendiri. Ya, kira-kira “bercerai”, tapi dengan cara damai. Dua kampung ini membentuk Desa Belabaja yang merupakan gabungan kampung Kluang dan Belabaja sendiri. Desa Belabaja punya klub. Namanya Persebaja: Persatuan Sepakbola Belabaja. Tapi sejak berlibur di kampung Agustus hingga Oktober lalu, belum ada bocoran soal nama beken klub kampung kami ini.

Kembali soal cerita bola kaki. Dulu menjelang Paskah, pertandingan bola kaki antar stasi (wilayah grejani) seperti wajib hukumnya. Tapi, saat itu tak ada konstum yang dikenakan para pemain. Kalaupun ada kaos yang agak baru buat pemain, itu pun kalau ada orang yang baru tiba dari Malaysia.

Jadi, kata orang tak ada rotan akarpun jadi. Para pemain mengenakan baju kaos seadanya. Ada juga kiriman orang kampung kami di Jakarta. Saya masih ingat, Pak Joseph Pattyona, pernah mengirim satu set baju pemain. Jumlahnya terbatas sehingga kalau ada pergantian pemain maka baju itu tinggal diover kepada pemain yang lainnya. Itu sudah mentradisi. Sekadar tahu saja. Pak Jos dan adiknya, pengacara nasional Petrus Bala Pattyona, SH, MH, juga penggila bola.

Tapi, kondisi itu bukan berarti mematahkan semangat orang-orang di kampung. Para pemainnya malah bertambah semangat karena momentum Paskah itu bisa menunjukkan kebolehan taktik dan teknik bermain. Bisa juga mendapat jodoh dari desa-desa atau stasi-stasi tetangga yang setia menyaksikan pertandingan bola kaki.

Selain itu, dukungan Pastor Paroki dan para kepala desa juga menjadi hal penting lainnya dalam memberikan dukungan selama kompetisi berlangsung. Tapi, apa hadianya? Ini masalahnya. Tak ada hadia. Hanya sebuah piala kecil yang bisa mendongkrak nama besar kampung.

Tapi kalau tiba kembali di kampung masing-masing? Para pemain akan dijamu Kepala Desa dan masyarakat dalam sebuah jamuan makan bersama. Dua atau tiga ekor babi siap dieksekusi dan menjadi lauknya.

Kini, tiap-tiap klub bola kaki sudah semakin maju. Peringatan Ulang Tahun RI tiap tahun menjadi momentum bagi tiap klub menunjukkkan kebolehannya. Tentu dengan taktik dan strategi yang lebih bagus. Berikut kostum yang lebih bagus pula.

Ada kebanggaan lain karena dari konsistensi yang terus terjaga sejak jaman baheula, ada sejumlah putra asli Desa Puor, di Lereng Gunung Labalekan ini sudah mengharumkan sepakbola.

Sebut saja dua bersaudara Polce Kia Botoor yang pernah memperkuat keseblasan Barito Putra, Kalimantan Timur dan Anton Kia Botoor, bekas pemain keseblasan Kupang yang kini menjadi pelatih.

Atau Marcel Bitol Blikololong, anak kampung Kluang yang kini pemain PSK Kupang dan pernah merumput di negeri Kanguru Australia. Marcel ini tinggal bersama kerabatnya, Valentinus Buka Pukan dan Apolonia Max Dae, yang berprofesi sebagai guru di Kupang.

Konsistensi dalam mengembangkan bakatnya bermain bola kaki, mengantarnya ikut mengharumkan nama NTT. Tak hanya di tingkat lokal, tetapi ke manca negara. Ya, itu sekadar cerita tertinggal penulis dari kampung halaman. Siapa tahu bisa berguna. 
Ansel Deri
Ket. Foto: Pemain kesebelasan Boto sedang bersiap-siap menghadapi kesebelasan Persebata Kabupaten Lembata, NTT dalam latih tanding di Kampung Kluang, Desa Belabaja, Nagawutun, Lembata, awal September 2008 lalu. Pemain bernomor baju 16 adalah Romo Samuel, Pr, Pastor Pembantu Paroki Santu Joseph Boto.
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger