Headlines News :
Home » » Pembunuhan Yohakim Langodai: Mama Udu Bertemu Pitang

Pembunuhan Yohakim Langodai: Mama Udu Bertemu Pitang

Written By ansel-boto.blogspot.com on Friday, February 12, 2010 | 9:59 AM

Saksi Marsiana Mujuna Wa Udu alias Mama Udu mengungkapkan fakta baru dalam sidang pemeriksaan saksi pembunuhan Yohakim Laka Loi Langodai (55) di Pengadilan Negeri (PN) Lewoleba, Kamis (11/2/2010) siang.

Mama Udu mengaku bertemu terdakwa Muhamad Pitang mengemudikan mobil merah, Selasa (19/5/2009) sore, sekitar pukul 17.00 Wita, di sekitar Bandara Wunopito, Lewoleba.

Di dalam mobil Suzuki Vitara warna merah milik terdakwa Theresia Abon Manuk alias Erni Manuk, juga terdapat pemiliknya Erni Manuk. Saat itu, Erni Manuk duduk di kursi deret depan sebelah kiri.

Sementara pada kursi deretan tengah atau kedua dari kursi deretan depan, duduk terdakwa Bambang Trihantara dan Mathias Bala Langobelen. "Erni duduk di samping Pitang. Di bangku kedua, tepat di belakang Erni ada Bala, dan di belakang kursi Pitang, duduk Bambang. Saya kenal mereka semua," ungkap Mama Udu, memberi kesaksian dalam lanjutan sidang kasus pembunuhan Yohakim Langodai.

Sidang itu dipimpin Ketua Majelis Hakim, JPLTobing, S.H, M.Hum, hakim anggota Wempy WL Duka, S.H, dan Gustav Bless Kupa, S.H. Mama Udu memberikan kesaksiannya untuk terdakwa Bala dan Pitang.
Sidang yang dijejali pengunjung itu, hadir Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Lewoleba, Didik Setyawan, S.H, M.Hum, Jeremias Pena, S.H, dan Herdian Rahardi, S.H. Hadir juga saksi Adriana Elisabet Solo, istri terdakwa Lambertus Bedi Langodai, memberikan kesaksian untuk suaminya.

Selain Elisabet Ele, tukang cuci di Lamahora, saksi petunjuk memberi kesaksiannya bertemu saksi kunci, Yohana Langodai. Keponakan Yohakim ini, bersama-sama dengan Yohakim masuk ke Bandara Wunopito, Selasa (19/5/2009) siang.

Sidang kasus pembunuhan Yohakim ini dilanjutkan lagi hari ini, Jumat (12/2/2010) dengan menghadirkan terdakwa Erni Manuk, dan Bambang. Berkasnya displit dari terdakwa Bedi, Bala dan Pitang.

Mama Udu mengungkapkan, saat bertemu itu, Pitang sempat menurunkan kaca mobil dan menegurnya. "Mama Udu, mau ke mana?" tanya Pitang, duduk di kemudi kendaraan yang telah menjadi barang bukti sitaan kasus pembunuhan. "Saya mau ke tempat kos," jawab Mama Udu. Setelah bertegur sapa sesaat itu, mobil berlalu meninggalkannya.

Saksi Elisabeth Ele, mengungkapkan, ia bertemu Yohana Langodai (saksi kunci dalam kasus pembunuhan ini) di tengah perjalanan saat Yohana kembali ke rumahnya dari Bandara Wunopito, Selasa (19/5/2009) sekitar pukul 12.00 Wita. "Yohana mengatakan, dia pulang dari bandara karena menunggu bapak besar (Yohakim) terlalu lama pergi melihat proyek," kata Ele, menjawab majelis hakim.

Saat itu, saksi Adriana Elisabet Solo, istri Bedi Langodai juga mengungkapkan berbagai kesaksiannya seputar keberadaan suaminya pada Senin (18/5/2009) dan Selasa (19/5/2009). Selebihnya, perempuan yang telah hengkang ke Maumere pasca suaminya ditangkap dan dimasukkan ke sel sejak pertengahan tahun 2009 sampai saat ini, tak mengetahuinya.

Ia tahu suaminya terlibat dalam kasus kematian kakak kandungnya, ketika ditangkap di rumahnya di Lamahora dan dikenakan sebagai tersangka saat itu. Keterlibatan suaminya, diakuinya lebih banyak diikutinya dari media cetak. Dela, demikian istri Bedi disapa, ketika diambil keterangannya, tidak disumpah majelis hakim. Pasalnya, Bedi keberatan. Keduanya masih terikat perkawinan resmi.

Dela menjelaskan, pada Senin (18/5/2009), saat kembali dari Gedung Dekenat Lembata mengikuti acara healthy life, sekitar pukul 12.00 Wita, ia bertemu Bedi di Salon Erni di Wangota. Bedi sedang menggunting rambutnya, sedangkan Dela creambath. Usai di salon, pasangan suami istri kembali ke rumah mereka di Lamahora.

Pada Selasa (19/5/2009), Bedi berprofesi sebagai kontraktor ini keluar rumah sekitar pukul 09.00 Wita. Ia berangkat ke rumah rekannya, Paskalis Witak, sesama kontraktor di bilangan Lamahora, arah barat rumahnya.

Keduanya membicarakan proyek yang mereka kerjakan bersama-sama di Wailolong, Kecamatan Omesuri. Setela bertemu Paskalis, Bedi menuju Kantor Bapedalda Lembata menanyakan tender proyek di kantor itu. Setelah itu mereka kembali ke rumah sekitar pukul 14.30 Wita.

Sempat istirahat sejenak, Bedi mengambil stick biliar dan pergi bermain biliar bersama sahabatnya. Bedi baru kembali ke rumah sekitar pukul 19.00 Wita. "Waktu dia pergi, saya katakan jangan lama-lama dan pulang istirahat. Kalau mau main kartu di rumah saja. Malam itu (Selasa malam) mereka main kartu sampai pukul 12.00 (24.00 Wita)," kata Dela.

Pada Rabu (20/5/2009) sekitar pukul 10.00 Wita, Bedi berangkat ke Lewoleba (kota). Namun tak diketahui apa urusannya dan kembali ke rumah sekitar pukul 12.00 Wita. Bedi makan dan istirahat, sedangkan Dela ke rumah tetangga.

"Saya ke tetangga, datanglah ibu Mar memberitahu saya bahwa besa Kim (bapak besar, panggilan untuk Yohakim oleh keluarganya) meninggal di kwat (sebutan bakau oleh orang Lembata). Saya bangunkan Bedi. Dia kaget, bangun dan menangis, sambil memeluk tiang tembok di teras rumah kami," kisah Dela.

Mendengar kabar kematian itu, Dela pergi memberi kabar kepada sanak famili lainya. Ketika kembali ke rumahnya, Bedi telah pergi ke hutan bakau di bandara, bersama keluarga dan masyarakat lainnya.

Dela mengungkapkan selama hidup, pergaulan kakak beradik Yohakim dan Bedi, serta semua saudaranya, berjalan baik tanpa konflik berat. Mereka sangat menaruh hormat kepada Yohakim, sebagai anak sulung dalam keluarga.

Dela mengakui, suaminya tak banyak bercerita tentang sebab musabab kematian Yohakim, dan siapa pelakunya. Ketika masih diliputi suasana duka, Bedi sering berdiskusi dengan pelayat mengenai siapa pelaku yang membunuh kakaknya. (ius)
Sumber: Pos Kupang, 12 Februari 2010
Ket foto: Erni Manuk dan Bambang Trihantara
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger