
Permukiman yang didiami Hendrik Manbait (56) beserta keluarga di Kampung Oelnaimuti, Desa Naunu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin (8/3) petang, masih mencekam. Hari Minggu lalu, wilayah itu diserang pengungsi eks Timor Timur.
Kepala Kepolisian Sektor Fatuleu Ipka Alo Bali Tani bersama enam anggota bersiaga penuh di lokasi. Asap masih mengepul dari bekas kebakaran dan bangunan yang rusak dilingkari garis polisi.
Sejumlah rumah di lokasi kerusuhan itu adalah milik Hendrik Manbait dan keluarga. Lokasi itu sejak tiga tahun lalu menjadi pusat penambangan mangan. Hendrik Manbait dikenal sebagai keturunan ningrat dan tuan tanah.
Alex Neno Halan (23), menantu Hendrik Manbait, menuturkan, perkampungan yang mereka huni, Minggu siang, diserang sekitar 300 warga eks pengungsi Timtim yang mencari anggota keluarga mereka, Nunu Barros (18), yang menghilang sejak Senin (1/3) saat mencari mangan di lahan milik Hendrik Manbait.
”Saat itu yang bisa kami lakukan hanya lari menyelamatkan diri. Bapak (Hendrik Manbait) kena panah di lengan,” kata Alex. Hendrik Manbait kini mengungsi di Kepolisian Resor Kupang. Istrinya, Yohana Manbait, bersama tujuh anak, menantu, dan cucunya diungsikan ke Camplong.
Akibat penyerangan, demikian Alex dan Ipka Alo Bali Tani, enam rumah rusak, perabotnya dijarah, dan empat rumah lain dibakar. Penyerang juga membakar satu mobil Land Rover, dua motor, dua generator, mesin penggilingan padi, dan dua traktor tangan. ”Mereka menjarah uang tunai lebih dari Rp 415 juta,” katanya.
Kondisi Oesapa, Kota Kupang, Senin petang, pasca-bentrokan mahasiswa kondusif. Polresta menangkap 23 tersangka pelaku.
Wakil Gubernur NTT Eshton Foenay, Senin, meminta aparat keamanan menindak otak di balik penyerangan asrama mahasiswa. Ia juga mengimbau warga tidak main hakim sendiri.
Bentrokan itu mengakibatkan satu mahasiswa tewas, dua orang luka parah, sejumlah asrama mahasiswa rusak, dan sepeda motor dibakar.
Tapal batas
Pada Minggu siang, warga Desa Lamahala bentrok dengan warga Desa Horowura di Kecamatan Adonara Timur, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT, gara-gara rebutan wilayah tapal batas.
Akibatnya, 21 warga Desa Lamahala terluka, 9 orang di antaranya dilarikan ke RSUD Larantuka. Ada empat orang terkena tembakan.
”Bentrok dua desa sudah diupayakan beberapa kali pertemuan untuk damai, tetapi belum ada kesepakatan,” kata Kepala Polres Flores Timur Ajun Komisaris Besar Muhammad Syamsul Huda, Senin, yang dihubungi dari Ende, Flores.
Desa Lamahala terletak di tepi pantai Pulau Adonara, berdekatan dengan Waiwerang, ibu kota Kecamatan Adonara Timur. Desa Horowura letaknya 6 kilometer dari Waiwerang. Batas wilayah yang mereka persoalkan berada di utara Waiwerang. Wilayah yang disengketakan itu berupa bukit yang ditanami jagung.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Flores Timur Ajun Komisaris Made Pasek Riawan mengatakan, polisi sedang menyelidiki siapa pelaku penembakan. (ANS/SEM)
Kepala Kepolisian Sektor Fatuleu Ipka Alo Bali Tani bersama enam anggota bersiaga penuh di lokasi. Asap masih mengepul dari bekas kebakaran dan bangunan yang rusak dilingkari garis polisi.
Sejumlah rumah di lokasi kerusuhan itu adalah milik Hendrik Manbait dan keluarga. Lokasi itu sejak tiga tahun lalu menjadi pusat penambangan mangan. Hendrik Manbait dikenal sebagai keturunan ningrat dan tuan tanah.
Alex Neno Halan (23), menantu Hendrik Manbait, menuturkan, perkampungan yang mereka huni, Minggu siang, diserang sekitar 300 warga eks pengungsi Timtim yang mencari anggota keluarga mereka, Nunu Barros (18), yang menghilang sejak Senin (1/3) saat mencari mangan di lahan milik Hendrik Manbait.
”Saat itu yang bisa kami lakukan hanya lari menyelamatkan diri. Bapak (Hendrik Manbait) kena panah di lengan,” kata Alex. Hendrik Manbait kini mengungsi di Kepolisian Resor Kupang. Istrinya, Yohana Manbait, bersama tujuh anak, menantu, dan cucunya diungsikan ke Camplong.
Akibat penyerangan, demikian Alex dan Ipka Alo Bali Tani, enam rumah rusak, perabotnya dijarah, dan empat rumah lain dibakar. Penyerang juga membakar satu mobil Land Rover, dua motor, dua generator, mesin penggilingan padi, dan dua traktor tangan. ”Mereka menjarah uang tunai lebih dari Rp 415 juta,” katanya.
Kondisi Oesapa, Kota Kupang, Senin petang, pasca-bentrokan mahasiswa kondusif. Polresta menangkap 23 tersangka pelaku.
Wakil Gubernur NTT Eshton Foenay, Senin, meminta aparat keamanan menindak otak di balik penyerangan asrama mahasiswa. Ia juga mengimbau warga tidak main hakim sendiri.
Bentrokan itu mengakibatkan satu mahasiswa tewas, dua orang luka parah, sejumlah asrama mahasiswa rusak, dan sepeda motor dibakar.
Tapal batas
Pada Minggu siang, warga Desa Lamahala bentrok dengan warga Desa Horowura di Kecamatan Adonara Timur, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT, gara-gara rebutan wilayah tapal batas.
Akibatnya, 21 warga Desa Lamahala terluka, 9 orang di antaranya dilarikan ke RSUD Larantuka. Ada empat orang terkena tembakan.
”Bentrok dua desa sudah diupayakan beberapa kali pertemuan untuk damai, tetapi belum ada kesepakatan,” kata Kepala Polres Flores Timur Ajun Komisaris Besar Muhammad Syamsul Huda, Senin, yang dihubungi dari Ende, Flores.
Desa Lamahala terletak di tepi pantai Pulau Adonara, berdekatan dengan Waiwerang, ibu kota Kecamatan Adonara Timur. Desa Horowura letaknya 6 kilometer dari Waiwerang. Batas wilayah yang mereka persoalkan berada di utara Waiwerang. Wilayah yang disengketakan itu berupa bukit yang ditanami jagung.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Flores Timur Ajun Komisaris Made Pasek Riawan mengatakan, polisi sedang menyelidiki siapa pelaku penembakan. (ANS/SEM)
Sumber: Kompas, , 9 Maret 2010
Ket foto: Satu mobil milik Hendrik Manbait di Oelnaimuti, Desa Naunu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, dibakar dalam penyerangan yang dilakukan sekitar 300 warga eks Timor Timur, Minggu lalu. Hingga Senin (8/3), aparat kepolisian dari Polsek Fatuleu masih berjaga di lokasi. Foto: dok. Kompas, 9 Maret 2010.
Ket foto: Satu mobil milik Hendrik Manbait di Oelnaimuti, Desa Naunu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, dibakar dalam penyerangan yang dilakukan sekitar 300 warga eks Timor Timur, Minggu lalu. Hingga Senin (8/3), aparat kepolisian dari Polsek Fatuleu masih berjaga di lokasi. Foto: dok. Kompas, 9 Maret 2010.
0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!