
Sutradara Kathryn Bigelow membuat sejarah baru di dunia industri film. Dengan film drama perang Irak, The Hurt Locker, ia menjadi perempuan pertama sepanjang 82 tahun sejarah Oscar yang menyabet penghargaan untuk sutradara terbaik. Selain soal perjuangan perempuan, ini adalah kisah sukses film indie.
Pada Academy Awards ke-82, Bigelow membuktikan bahwa besarnya biaya pembuatan film bukanlah segala-galanya. The Hurt Locker (2008), film indie dengan biaya terendah sepanjang sejarah yang mampu menembus Oscar, akhirnya menumbangkan Avatar (2009).
Avatar adalah film yang disutradarai James Cameron, mantan suami Bigelow. Cameron pernah mengalahkan Bigelow pada ajang penghargaan Golden Globes, Januari lalu.
Namun, kali ini Bigelow menang telak. Dari 9 nominasi, ia memenangi 6 penghargaan, yaitu film terbaik, sutradara terbaik, penulis naskah film terbaik (Mark Boal), film editing, sound editing, dan sound mixing terbaik.
Ya, film dengan dana 11 juta dollar AS itu mempermalukan Avatar yang dibuat dengan biaya supermahal, mencapai 300 juta dollar AS. Avatar, dalam pergelaran yang berlangsung pada Minggu (7/3) itu, mengantongi sembilan nominasi, tetapi hanya membawa pulang tiga penghargaan untuk art direction, sinematografi, dan efek visual.
Dalam pidatonya, Bigelow mengungkapkan kegembiraan karena momentum ini adalah pengalamannya seumur hidup. Karyanya dipersembahkan untuk para serdadu laki-laki ataupun perempuan di medan perang. ”Semoga mereka pulang dengan selamat,” katanya.
Walau sering menggondol penghargaan dalam beberapa festival, tetapi penjualan The Hurt Locker hanya sekitar 20 juta dollar AS. Bandingkan dengan Avatar yang meraih 2,6 miliar dollar AS dan menjadi film terlaris sepanjang sejarah mengalahkan film Cameron lainnya, Titanic (1997).
Fungsi film
Akan tetapi, misi Bigelow menekuni film memang bukan untuk menjadi kaya. ”Saya selalu ingin membuat film. Ini adalah kesempatan baik mengkritisi dunia. Perang adalah sesuatu yang tercela,” katanya.
”Film adalah media yang baik untuk menyatakan sesuatu. Ini adalah perang yang tak akan pernah kita menangkan. Mengapa kita terus mengirim pasukan?” tutur Bigelow.
Dia adalah sutradara yang selalu memulai membuat film dengan riset kondisi sosial masyarakat. Dia tipikal sutradara yang suka mengambil sudut pandang orang pertama.
Maka, dalam film The Hurt Locker, ia tak bicara politik. Ia juga tidak bicara soal keputusan di tingkat elite pengambil kebijakan. Ia hanya mengangkat detail apa yang dilakukan tiga serdadu penjinak bom di medan perang.
Sebagai sutradara yang juga pelukis, dengan kanvas film ia menyuguhkan pemandangan pasukan elite angkatan darat penjinak bom yang menjalankan tugasnya. Drama terbentuk dengan sendirinya tanpa diprovokasi gambaran ”pihak ketiga”.
Bigelow mengakui tidak suka dengan kekerasan, tetapi kekerasan adalah fakta kehidupan. Film yang dibuatnya bukan soal kekerasan, melainkan tentang tugas dan pertempuran hidup di tengah tekanan luar biasa.
Maka, ”Jika kamu memegang cermin ke hadapan masyarakat dan di cermin itu kamu tak menyukainya, kamu tak bisa menghancurkan cermin itu,” kata Bigelow.
The Hurt Locker diproduksi tahun 2008 dengan mengambil lokasi syuting di Jordania, dekat perbatasan Irak. Film ini masuk penghargaan Oscar tahun ini karena baru diputar di Amerika Serikat tahun 2009 setelah ”kenyang” keliling dari festival ke festival. Rilis film ini pertama kali justru di Italia.
Tidak proporsional
Kemunculan Bigelow makin mengukuhkan sosok perempuan yang mengajar di San Francisco Art Institute ini menjadi pemimpin untuk memperjuangkan eksistensi perempuan di jagat penyutradaraan. Selama ini Bigelow merasa ada anggapan tak proporsional soal film yang disutradarai perempuan.
”Jika ada resistensi terhadap perempuan sutradara, saya hanya bisa memilih untuk mengabaikan isu itu dengan dua alasan: saya tak bisa mengubah status gender saya dan saya menolak untuk berhenti membuat film,” tuturnya.
”Tak relevan untuk bicara siapa yang menyutradarai film. Ini persoalan apakah kamu mau menghargai film itu atau tidak. Ke depannya, akan ada lebih banyak lagi perempuan yang menjadi sutradara. Ini terjadi bukan saja karena soal kesadaran, melainkan sebab memang memungkinkan,” paparnya.
The Hurt Locker juga memenangi penghargaan di ajang festival film indie, seperti Gotham Independent Awards 2009 sebagai film terbaik. Tahun 2009, sebelum banyak dibicarakan orang, film ini juga masuk nominasi Spirit Awards.
Spirit Awards adalah ajang penghargaan setingkat Oscar untuk film-film indie, yang memberi ruang kepada film-film berbiaya rendah dan isu pinggiran yang bukan isu utama industri film.
Selain berbiaya rendah, film Bigelow mengambil tema yang sudah dimuntahkan pasar film karena menganggap perang Irak adalah tema yang tak akan ditonton. Sebagian orang sudah memutuskan tidak akan menonton film perang karena pasti penuh dengan depresi. Bigelow berhasil keluar dari jebakan itu.
Tahun 2010 banyak yang berharap film ini masuk Spirit Awards, tetapi jelas tidak bisa karena sudah pernah dinominasikan. Spirit Awards ke-25 akhirnya didominasi film Precious: Based on the Novel ”Push” by Sapphire yang disutradarai Lee Daniels. Selain sutradara terbaik, film indie ini juga menyabet film terbaik.
Pada ajang Oscar, Precious juga menancapkan tajinya dengan nominasi film terbaik, aktris terbaik, aktris pendukung terbaik, penyutradaraan terbaik, penyuntingan film terbaik, dan naskah adaptasi terbaik. Precious akhirnya memenangi penghargaan Oscar untuk aktris pendukung terbaik yang diraih Mo’Nique.
Dengan hasil itu, film-film indie sudah sepantasnya dilirik. Seperti yang dilakukan Bigelow, film bukanlah alat mengukuhkan dominasi kehendak pasar, melainkan sarana menyuarakan aspirasi pinggiran. Itulah misi film. (WENN/BBC)
Kathryn Ann Bigelow
• Lahir: California, Amerika Serikat, 27 November 1951
• Pendidikan: - San Francisco Art Institute dan Whitney Museum's Independent Study Program
• Beberapa penghargaan: - Academy Awards atau Oscar 2010 untuk sutradara terbaik dan film terbaik The Hurt Locker (2008) - BAFTA Film Award 2010 untuk sutradara terbaik dan film terbaik The Hurt Locker - Critics Choice Award 2010 untuk sutradara terbaik The Hurt Locker - Directors Guild of America Award 2010 untuk pencapaian karier sutradara terbaik The Hurt Locker - Gotham Awards 2009 untuk film terbaik The Hurt Locker - Hollywood Film Award 2009 untuk sutradara tahun ini
• Filmografi antara lain: - The Hurt Locker (2008) - Mission Zero (2007) - K-19: The Widowmaker (2002) - The Weight of Water (2000) - Strange Days (1995) - Point Break (1991) - Blue Steel (1989) - New Order: Substance (1989) - Near Dark (1987) - The Loveless (1982) - The Set-Up (1978)
Pada Academy Awards ke-82, Bigelow membuktikan bahwa besarnya biaya pembuatan film bukanlah segala-galanya. The Hurt Locker (2008), film indie dengan biaya terendah sepanjang sejarah yang mampu menembus Oscar, akhirnya menumbangkan Avatar (2009).
Avatar adalah film yang disutradarai James Cameron, mantan suami Bigelow. Cameron pernah mengalahkan Bigelow pada ajang penghargaan Golden Globes, Januari lalu.
Namun, kali ini Bigelow menang telak. Dari 9 nominasi, ia memenangi 6 penghargaan, yaitu film terbaik, sutradara terbaik, penulis naskah film terbaik (Mark Boal), film editing, sound editing, dan sound mixing terbaik.
Ya, film dengan dana 11 juta dollar AS itu mempermalukan Avatar yang dibuat dengan biaya supermahal, mencapai 300 juta dollar AS. Avatar, dalam pergelaran yang berlangsung pada Minggu (7/3) itu, mengantongi sembilan nominasi, tetapi hanya membawa pulang tiga penghargaan untuk art direction, sinematografi, dan efek visual.
Dalam pidatonya, Bigelow mengungkapkan kegembiraan karena momentum ini adalah pengalamannya seumur hidup. Karyanya dipersembahkan untuk para serdadu laki-laki ataupun perempuan di medan perang. ”Semoga mereka pulang dengan selamat,” katanya.
Walau sering menggondol penghargaan dalam beberapa festival, tetapi penjualan The Hurt Locker hanya sekitar 20 juta dollar AS. Bandingkan dengan Avatar yang meraih 2,6 miliar dollar AS dan menjadi film terlaris sepanjang sejarah mengalahkan film Cameron lainnya, Titanic (1997).
Fungsi film
Akan tetapi, misi Bigelow menekuni film memang bukan untuk menjadi kaya. ”Saya selalu ingin membuat film. Ini adalah kesempatan baik mengkritisi dunia. Perang adalah sesuatu yang tercela,” katanya.
”Film adalah media yang baik untuk menyatakan sesuatu. Ini adalah perang yang tak akan pernah kita menangkan. Mengapa kita terus mengirim pasukan?” tutur Bigelow.
Dia adalah sutradara yang selalu memulai membuat film dengan riset kondisi sosial masyarakat. Dia tipikal sutradara yang suka mengambil sudut pandang orang pertama.
Maka, dalam film The Hurt Locker, ia tak bicara politik. Ia juga tidak bicara soal keputusan di tingkat elite pengambil kebijakan. Ia hanya mengangkat detail apa yang dilakukan tiga serdadu penjinak bom di medan perang.
Sebagai sutradara yang juga pelukis, dengan kanvas film ia menyuguhkan pemandangan pasukan elite angkatan darat penjinak bom yang menjalankan tugasnya. Drama terbentuk dengan sendirinya tanpa diprovokasi gambaran ”pihak ketiga”.
Bigelow mengakui tidak suka dengan kekerasan, tetapi kekerasan adalah fakta kehidupan. Film yang dibuatnya bukan soal kekerasan, melainkan tentang tugas dan pertempuran hidup di tengah tekanan luar biasa.
Maka, ”Jika kamu memegang cermin ke hadapan masyarakat dan di cermin itu kamu tak menyukainya, kamu tak bisa menghancurkan cermin itu,” kata Bigelow.
The Hurt Locker diproduksi tahun 2008 dengan mengambil lokasi syuting di Jordania, dekat perbatasan Irak. Film ini masuk penghargaan Oscar tahun ini karena baru diputar di Amerika Serikat tahun 2009 setelah ”kenyang” keliling dari festival ke festival. Rilis film ini pertama kali justru di Italia.
Tidak proporsional
Kemunculan Bigelow makin mengukuhkan sosok perempuan yang mengajar di San Francisco Art Institute ini menjadi pemimpin untuk memperjuangkan eksistensi perempuan di jagat penyutradaraan. Selama ini Bigelow merasa ada anggapan tak proporsional soal film yang disutradarai perempuan.
”Jika ada resistensi terhadap perempuan sutradara, saya hanya bisa memilih untuk mengabaikan isu itu dengan dua alasan: saya tak bisa mengubah status gender saya dan saya menolak untuk berhenti membuat film,” tuturnya.
”Tak relevan untuk bicara siapa yang menyutradarai film. Ini persoalan apakah kamu mau menghargai film itu atau tidak. Ke depannya, akan ada lebih banyak lagi perempuan yang menjadi sutradara. Ini terjadi bukan saja karena soal kesadaran, melainkan sebab memang memungkinkan,” paparnya.
The Hurt Locker juga memenangi penghargaan di ajang festival film indie, seperti Gotham Independent Awards 2009 sebagai film terbaik. Tahun 2009, sebelum banyak dibicarakan orang, film ini juga masuk nominasi Spirit Awards.
Spirit Awards adalah ajang penghargaan setingkat Oscar untuk film-film indie, yang memberi ruang kepada film-film berbiaya rendah dan isu pinggiran yang bukan isu utama industri film.
Selain berbiaya rendah, film Bigelow mengambil tema yang sudah dimuntahkan pasar film karena menganggap perang Irak adalah tema yang tak akan ditonton. Sebagian orang sudah memutuskan tidak akan menonton film perang karena pasti penuh dengan depresi. Bigelow berhasil keluar dari jebakan itu.
Tahun 2010 banyak yang berharap film ini masuk Spirit Awards, tetapi jelas tidak bisa karena sudah pernah dinominasikan. Spirit Awards ke-25 akhirnya didominasi film Precious: Based on the Novel ”Push” by Sapphire yang disutradarai Lee Daniels. Selain sutradara terbaik, film indie ini juga menyabet film terbaik.
Pada ajang Oscar, Precious juga menancapkan tajinya dengan nominasi film terbaik, aktris terbaik, aktris pendukung terbaik, penyutradaraan terbaik, penyuntingan film terbaik, dan naskah adaptasi terbaik. Precious akhirnya memenangi penghargaan Oscar untuk aktris pendukung terbaik yang diraih Mo’Nique.
Dengan hasil itu, film-film indie sudah sepantasnya dilirik. Seperti yang dilakukan Bigelow, film bukanlah alat mengukuhkan dominasi kehendak pasar, melainkan sarana menyuarakan aspirasi pinggiran. Itulah misi film. (WENN/BBC)
Kathryn Ann Bigelow
• Lahir: California, Amerika Serikat, 27 November 1951
• Pendidikan: - San Francisco Art Institute dan Whitney Museum's Independent Study Program
• Beberapa penghargaan: - Academy Awards atau Oscar 2010 untuk sutradara terbaik dan film terbaik The Hurt Locker (2008) - BAFTA Film Award 2010 untuk sutradara terbaik dan film terbaik The Hurt Locker - Critics Choice Award 2010 untuk sutradara terbaik The Hurt Locker - Directors Guild of America Award 2010 untuk pencapaian karier sutradara terbaik The Hurt Locker - Gotham Awards 2009 untuk film terbaik The Hurt Locker - Hollywood Film Award 2009 untuk sutradara tahun ini
• Filmografi antara lain: - The Hurt Locker (2008) - Mission Zero (2007) - K-19: The Widowmaker (2002) - The Weight of Water (2000) - Strange Days (1995) - Point Break (1991) - Blue Steel (1989) - New Order: Substance (1989) - Near Dark (1987) - The Loveless (1982) - The Set-Up (1978)
Sumber: Kompas, 9 Maret 2010
0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!