Aminoto
Kosin menampilkan 17 lagu bertema cinta yang diramu dalam simfoni orkestra di
konser amal "Heart for NTT" di Auditorium Eagle, Kuningan Place,
Sabtu 31 Maret 2012.
Ketujuh belas lagu itu diaransemen ulang oleh Aminoto dengan memasukkan unsur etnik, pop, dan jazz. "Semua lagu-lagunya bertemakan cinta," kata Aminoto usai konser, Sabtu 31 Maret 2012.
Tujuh belas lagu itu antara lain: Indonesia dalam Tarian, medley Indonesia Pusaka-Rayuan Pulau Kelapa, Negeriku, I Dream a Dream, Hope, Unfailing Love, Pine Tree, Bridge Over Troubled Water, When a Man Loves a Woman, dan Cinta Indonesia.
Simfoni orkestra dibuka dengan Indonesia dalam Tarian. Ketika lampu diredupkan, penonton dikejutkan dengan teriakan dari belakang panggung. Muncul tiga orang penari mengenakan baju adat Kalimantan dengan dua bulu panjang menyerupai tanduk, menyeruak di tengah penonton. Seruan penari laki-laki itu disambut entakan drum dan alat musik lainnya. Ketiga penari laki-laki itu menari di bawah panggung.
Tiga menit berikutnya, muncul penari perempuan yang mengenakan pakaian adat Sumatera berwarna hijau sambil membawa piring-piring di tangannya di atas panggung. Musik beralih ke etnik Sumatera. Beberapa menit kemudian, tiga penari perempuan mengenakan kemben merah dan jarik atau kain Jawa dengan luwes melenggang di belakang penari piring.
Acara yang digagas Yayasan Tunas Mulia Adi Perkasa dan sekolah musik SevenStrings ini menghadirkan musisi Sandhy Sondoro, Dira Sugandi, Gabriel Harvianto, Oktav Tumbel, dan pemain flute dari Korea Selatan Song Solnamoo.
Acara ini bertujuan menggalang dana untuk proses transformasi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Komitmen bagi transformasi NTT ini berawal dari keterlibatan yayasan sejak empat tahun lalu di dusun kecil bernama Koko. Salah satunya dengan membangun sarana dan kualitas pendidikan serta kesehatan.
"Lebih baik membangun desa dan pendidikan anak-anak. Supaya besarnya mereka nggak tawuran dan pukul-pukulan kayak demo kemarin," kata Aminoto.
Ketujuh belas lagu itu diaransemen ulang oleh Aminoto dengan memasukkan unsur etnik, pop, dan jazz. "Semua lagu-lagunya bertemakan cinta," kata Aminoto usai konser, Sabtu 31 Maret 2012.
Tujuh belas lagu itu antara lain: Indonesia dalam Tarian, medley Indonesia Pusaka-Rayuan Pulau Kelapa, Negeriku, I Dream a Dream, Hope, Unfailing Love, Pine Tree, Bridge Over Troubled Water, When a Man Loves a Woman, dan Cinta Indonesia.
Simfoni orkestra dibuka dengan Indonesia dalam Tarian. Ketika lampu diredupkan, penonton dikejutkan dengan teriakan dari belakang panggung. Muncul tiga orang penari mengenakan baju adat Kalimantan dengan dua bulu panjang menyerupai tanduk, menyeruak di tengah penonton. Seruan penari laki-laki itu disambut entakan drum dan alat musik lainnya. Ketiga penari laki-laki itu menari di bawah panggung.
Tiga menit berikutnya, muncul penari perempuan yang mengenakan pakaian adat Sumatera berwarna hijau sambil membawa piring-piring di tangannya di atas panggung. Musik beralih ke etnik Sumatera. Beberapa menit kemudian, tiga penari perempuan mengenakan kemben merah dan jarik atau kain Jawa dengan luwes melenggang di belakang penari piring.
Acara yang digagas Yayasan Tunas Mulia Adi Perkasa dan sekolah musik SevenStrings ini menghadirkan musisi Sandhy Sondoro, Dira Sugandi, Gabriel Harvianto, Oktav Tumbel, dan pemain flute dari Korea Selatan Song Solnamoo.
Acara ini bertujuan menggalang dana untuk proses transformasi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Komitmen bagi transformasi NTT ini berawal dari keterlibatan yayasan sejak empat tahun lalu di dusun kecil bernama Koko. Salah satunya dengan membangun sarana dan kualitas pendidikan serta kesehatan.
"Lebih baik membangun desa dan pendidikan anak-anak. Supaya besarnya mereka nggak tawuran dan pukul-pukulan kayak demo kemarin," kata Aminoto.
Sumber:
Tempo.co, 1 April 2012
Ket
foto: Dira Sugandi
Foto: dok. Heart For NTT

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!