Oleh Thomas
Koten
Direktur Social
Development Center
Ada pemandangan
yang kurang elok terpancar dari sidang paripurna DPR dalam membahas kebijakan
pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) di Gedung DPR, 30/3
lalu. Pemandangan yang kurang elok itu bukan terpancar dari perdebatan sengit
antara para anggota fraksi di DPR, yang diwarnai walkout fraksi PDIP dan
Hanura, melainkan dari akrobat politik yang diperagakan sejumlah fraksi dari
parpol yang tergabung dalam kapal koalisi pendukung pemerintahan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Kapal politik
koalisi yang dibuat pada pemilu 2009 lalu tampaknya kembali oleng.
Penumpang-penumpang koalisi berbobot besar seperti Golkar, PAN, PPP, terutama
PKS mulai tak karuan lantaran ingin mencari aman sendiri. Politik pencitraan
penuh pragmatisme pun dikemas parpol-parpol itu demi mencari rasa aman politik
menyongsong Pemilu 2014.
Penorama politik
pencitraan seperti itu hampir serupa dengan yang terjadi pada sidang bailout
Bank Century tahun 2010. Kapal koalisi ketika itu hampir karam dan pecah. Hanya
saja dalam kasus BBM ini PKS sendiri yang secara tegas menyatakan menolak
kenaikan harga BBM, sedangkan Golkar, PAN, dan PPP terkesan bermain politik
abu-abu: di satu sisi tetap mendukung kebijakan pemerintah menaikan harga BBM
sesuai kesepakatan koalisi, namun di sisi lain ingin tetap mendapat simpati
rakyat dengan kalkulasi politiknya sendiri. Masing-masing yakin memiliki
kebenaran politik.
Kesejatian
Etis Koalisi
Bagaimana
mengerling akrobat politik seperti diperagakan parpol-parpol koalisi? Yang
jelas, setiap fraksi di DPR yang bertikai dalam kaitan kebijakan pemerintah
untuk menaikan harga BBM itu masing-masing meyakini kebenaran politiknya. Hanya
saja, kebenaran dalam politik koalisi tersebut tidak lebih daripada kebenaran
transaksional sesuai kepentingan bersama yang saling menguntungkan, bukan
kebenaran obyektif.
Selama kebenaran
itu dirasa tidak menguntungkan partai, kebenaran itu menjadi kebenaran
sendiri-sendiri. Sebaliknya, selama traksaksi itu menggiurkan kedua belah
pihak, maka kebenaran bisa dikompromikan. Meski akhirnya parpol-parpol itu
dicap sebagai “pengkhianat koalisi‘, tidak soal. Yang penting keuntungan
politik bisa dipetik.
Tampak jelas,
kebenaran politik yang ditemukan dalam sidang paripurna DPR tersebut sangat
pragmatis alias sementara dan langsung luntur oleh traksaksi politik yang
terbangun kemudian. Apalagi dalam sejarah pertarungan politik di negeri ini
tercatat tidak ada keberanian cukup tulus-murni dari para politisi dalam
memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan membela kepentingan bangsa dan negara
secara penuh. Sehingga, begitu sulit menemukan partai atau politisi yang tampil
sebagai “pendekar‘ kebenaran sejati di negeri ini. Padahal, kebenaran sejati
sangat dibutuhkan saat ini di tengah situasi karut marut dengan ragam
kehancuran akhlak publik.
Tidak aneh jika
yang terlihat adalah mengentalnya egoisme para anggota fraksi: yang
diperjuangkan dalam sidang paripurna itu adalah untuk memenangkan kepentingan
partai. Dengan begitu, kontrak politik dan komitmen koalisi diangkat lagi.
Sebagai partai yang pernah berikrar dalam koalisi, apa pun alasannya, harus
memenangkan pertarungan di sidang paripurna, tidak peduli etis atau tidak.
Memang, tatkala
janji koalisi ditagih dan transaksi politik baru dibangun, para politisi yang
tergabung dalam barisan koalisi tidak akan berdaya karena di antara mereka,
jatah kekuasaan sudah dibagikan. Sebab, koalisi adalah kesepakatan politik dari
sejumlah partai dengan kompensasi pembagian jatah kekuasaan demi bersama-sama
menopang kebijakan-kebijakan pemerintah. Kekuatan koalisi terletak pada
komitmen atas kesepakatan awal saat koalisi dibangun.
Karena itu,
tatkala dalam sidang paripurna kenaikan harga BBM “dibangun‘ kembali koalisi,
di mana janji koalisi kembali ditagih, maka di sana mau tidak mau kesepakatan
harus dibuat lagi demi menciptakan kesejatian politik koalisi. Di sini,
kesejatian koalisi atau sisi etis koalisi adalah membangun politik yang jauh
dari orientasi pragmatisme politik masing-masing. Yang ada adalah kepentingan
bersama peserta koalisi.
Okelah, kadang
para politisi yang tergabung dalam koalisi kurang nyaman ketika mereka harus
menghadapi situasi politik atau kebijakan politik yang tidak menguntungkan
partai politiknya dan hanya lebih menguntungkan partai penguasa. Tetapi, di
situlah konsekuensi politik berkoalisi: bukan hanya bergabung dan menyatakan
kesetiaan politik dalam situasi politik yang menguntungkan partainya. Namun
jika dirasa kurang menguntungkan, serta merta meninggalkannya. Tetapi yang
benar adalah harus tetap mempertahankan kebersamaan politik, meski pahit.
Konsistensi
Politik
Satu hal yang
tidak boleh diabaikan dalam politik adalah kepercayaan-kepercayaan politik
rakyat tetap melekat pada partai politik dus politisi di dalamnya adalah
konsistensi dalam politik. Dalam hal ini, inkonsistensi PKS dalam berkoalisi,
meski di satu sisi menginginkan agar citra dan popularitasnya di depan rakyat
terjaga dengan menunjukkan diri sebagai partai pahlawan rakyat dengan cara
bersama rakyat menolak kenaikan harga BBM, tetapi di sisi lain dapat menjadi
bumerang hilangnya kepercayaan rakyat. Karena, di mata rakyat PKS dapat dinilai
sebagai parpol yang gemar berselingkuh dan berkhianat, alias hanya mencari enak
sendiri.
Konsistensi
politik merupakan perekat tetap terbangunnya kepercayaan rakyat terhadap para
politisi. Sebab, di situ pula letak kematangan dan kedewasaan dalam berpolitik.
Rakyat tidak suka dengan sikap kekanak-kanakan dalam politik alias infantilisme
politik. Bagaimana mungkin rakyat mempertaruhkan kepercayaan politiknya kepada
politisi-politisi yang dilekati perilaku kekanak-kanakan alias infantil? Inilah
persoalan penting yang mesti direfleksikan secara terus-menerus dalam
berpolitik.
Sumber: Jurnal
Nasional, 3 Apr 2012

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!