Tak terasa Kabupaten Lembata hasil pemekaran dari
Kabupaten Flores Timur kini memasuki usianya yang ke 14 tahun. Tidak banyak
yang memberikan arti pada HUT ini , namun Keluarga Mahasiswa dan Pemuda Lembata
Jabodetabek (Kemada-Baja), merasa terpanggil untuk merayakannya.
Sore menjelang malam, Sabtu, (12/10/2013), bertempat di Margasiswa-Mangga Besar, Jakarta, telah berkumpul para mahasiswa Lembata juga para undangan yang datang menjawabi undangan panitia yang diketuai Karel Botoor. Tidak banyak sesepuh dan masyarakat Lembata Jabodetabek yang hadir. Hanya tampak Thomas Ataladjar, Benyamin Molan, Willi Dasion, Maximus Lado Purab, dan Ansel Deri, di antara para mahasiswa. Hadir juga Ketua Formadda Romo Kristo Tara, namun justru menjadi perhatian adalah kehadiran aktivis HAM sekaligus penerima Yap Thiam Hien, Mama Yosefa Alomang dan Pater John Jonga Pr.
Pater John Jonga malam itu diminta untuk memimpin misa, sementara Mama Yosefa diberi kesempatan untuk membagi ceritra bersama mahasiswa Lembata. Usai misa dan bincang-bincang bersama Mama Yosefa, acara dilanjutkan dengan dialog interaktif yang juga menjadi perhatian undangan malam itu.
Mahasiswa Harus Peduli
Saat diberi kesempatan berbicara, Mama Yosefa beberapa kali menyinggung soal pentingnya kepedulian mahasiswa akan situasi ketidakadilan yang ditemui dalam masyarakat. Berangkat dari pengalaman bersama mahasiswa Papua, Mama Yosefa juga mengajak agar para mahasiswa Lembata untuk saling membantu agar dapat segera mandiri dan terjun dalam kehidupan masyarakat.
“Saya sudah beberapa kali ke Flores. Orang Flores itu pintar-pintar. Sekolah tinggi-tinggi. Tapi saya lihat Flores belum banyak berubah,” ujarnya disambut tepuk tangan undangan yang hadir.
Mama Yosefa juga menyinggung soal ketidakadilan perempuan dan peran gereja. Dikatakannya, hingga saat ini belum banyak perhatian terhadap kesetaraan perempuan. Sementara soal gereja, ia mengharapkan gereja tetap menjadi ibu untuk semua orang.
“Saya ke Manggarai. Saya lihat ibu-ibu dan perempuan duduk masak di belakang. Saya ke belakang, saya ajak mereka untuk maju duduk depan. Situasinya hampir sama dengan kami di Papua, tapi jangan sampai itu dibiarkan,” ujarnya.
Lembata 14 Tahun
Usai misa dan berbagi pengalaman dengan Mama Yosefa, acara malam itu dilanjutkan dengan dialog interaktif yang mengambil tema ”Lembata Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan”, dipandu Alexander Aur Apelabi.
Sesepuh Masyarakat Lembata Jakarta, Thomas Ataladjar malam itu didaulat memaparkan sejarah perjuangan otonomi hingga menjadi sebuah kabupaten seperti saat ini. Dalam pemaparannya dia mengatakan, perjalanan otonomi Lembata saat ini mesti merujuk pada Statemen 7 Maret 1954.
Menurutnya, dari Statemen 7 Maret 1954 ini kemudian Lembata bisa menjadi satu kabupaten seperti saat ini. Di antara Statemen 7 Maret hingga menjadi kabupaten, sudah banyak pihak yang mengorbankan waktu dan tenaga baik untuk memuluskan otonomi maupun untuk memikirkan Lembata setelah otonomi.
Thomas juga mengingatkan generasi Lembata terutama para mahasiswa yang hadir malam itu untuk tidak melupakan sejarah. Dari sejarah menurutnya dapat menguraikan titik pijak program pembangunan. Dia juga memberikan apresiasi terhadap inisiatif orang muda lembata yang malam itu mau merayakan HUT Otonomi Lembata.
“Orang muda Lembata memiliki peran strategis dalam perjalanan sejarah Lembata. Dari Statemen 7 Maret hingga kegiatan-kegiatan sampai saat ini selalu dimulai dari orang muda. Karena itu, jangan berkecil hati, justru Lembata ada saat ini karena peran orang muda,” tegasnya.
Pantauan FBC, walau dialog berlangsung dalam waktu yang pendek, namun terkesan efektif dan membawa respon serta tanggapan positif dari peserta yang hadir dari tema-tema pembangunan yang ditanyakan Aleks Aur Apelaby sebagai pemandu.
Beberapa persoalan yang yang diangkat, sejarah Lembata dan pentingnya otonomi, kepemimpinan politik baik era Piter Boli Keraf, Ande Duli Manuk, maupun saat ini era Yance Sunur. Pertanyaan yang tak bisa dihindarkan adalah apakah politik pembangunan yang domotori generasi politik Lembata saat ini sudah menjawabi cita-cita masyarakatnya?
Acaranya HUT Lembata yang dilaksanakan Kemada-Baja dengan ketua Alex Amutoda ini terbilang sukses. Namun selalu saja meninggalkan keheranan, mengapa momentum yang begitu baik untuk Lembata ini, tidak diminati orang Lembata sendiri yang terlihat dari tidak banyak masyarakat Lembata yang datang. (Ben)
Sumber: floresbangkit.com, 15 Oktober 2013.
Ket foto: Penerima Yap Thiam Hien Mama Yosefa
Alomang

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!