Lulusan Terbaik
Akmil 2000;
Peserta Program the
Young Future Leader di Australia & Korea
Peringatan HUT TNI
tahun ini sedikit berbeda. Kini, landasan udara Halim Perdanakusuma, tempat
parade dan defile pasukan TNI, disemarakkan empat unit tank tempur utama (MBT)
jenis Leopard. Hal ini jadi daya tarik sendiri, tidak hanya bagi undangan
sipil, tetapi juga mereka yang berseragam.
Masih hangat
ingatan kita, dua tahun terakhir ini berkembang polemik tentang konsep
modernisasi untuk memenuhi postur kekuatan TNI yang ideal, termasuk pro kontra
pembelian Leopard. Sejumlah politisi dan pengamat pertahanan mempertanyakan
urgensi pembelian tank berat kelas 60 ton itu. Kontur medan, termasuk kondisi
infrastruktur jalan dan jembatan di Indonesia, dianggap tidak cocok bagi
manuver MBT.
Akan tetapi,
pendukung modernisasi TNI dari sejumlah elemen masyarakat juga cukup kuat
suaranya. Mereka berharap TNI semakin profesional dan selalu siap dengan
skenario terburuk ke masa depan. Realisasi bertahap kontrak pembelian 100 tank
paling canggih itu merupakan wujud nyata derasnya dukungan itu.
Dengan memiliki 100
Leopard dan alat utama sistem senjata (alutsista) modern lainnya, TNI menjadi
kekuatan tangkal efektif. Kekuatan TNI ini juga menjadi salah satu instrumen
bargaining power dalam kerangka resolusi damai. Artinya, paradoks "militer
yang kuat ditujukan bukan untuk perang, tapi untuk mencegah terjadinya
perang" tetap relevan.
Sejalan dengan
konsep pimpinan TNI, pembangunan kekuatan militer ke depan tidak hanya
diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan pokok minimum saja, tapi juga fokus
pada menjawab tantangan geopolitik dan keamanan di kawasan.
Militer modern
Sebagai negara besar,
baik segi demografi, wilayah, maupun kekayaan alam, tentu sangat rasional jika
Indonesia berkepentingan membangun kekuatan militer yang modern. Tujuannya,
selain menjamin keutuhan dan kedaulatan NKRI, juga mencegah terjadinya kerugian
ekonomi akibat pencurian sumber daya alam oleh pihak tertentu.
Pembangunan
kekuatan TNI ini tentu mengedepankan konsepsi regional balance of power agar
kita tidak terjebak untuk membentuk kekuatan militer agresif serta cermat dalam
memproyeksikan penggunaan kekuatan TNI di masa mendatang.
Di sisi lain, kita
memahami, perang dan damai ditentukan oleh manusia, bukan senjata. Karena itu,
baik memenangi peperangan atau memelihara perdamaian, sangat dibutuhkan
kehadiran prajurit-prajurit yang cerdas, loyal, dan andal di lapangan.
Kecanggihan senjata tentu penting untuk dikalkulasi, tetapi jadi kurang relevan
ketika sumber daya manusia yang mengawakinya lemah.
Hal ini semakin
nyata ketika kita memahami anatomi tantangan keamanan pada abad XXI yang
kompleks dan penuh ketidakpastian. Dengan demikian, dalam pembangunan kekuatan
TNI modern, penguatan aspek hard power harus mencakup pengembangan dan
peningkatan kualitas prajurit TNI.
Untuk mewujudkan
itu, ada tiga aspek penting yang perlu disiapkan. Pertama, kapasitas
intelektual. Melalui pendidikan dan latihan, TNI dapat mencetak
prajurit-prajurit profesional, yang memiliki kecakapan dan keterampilan dalam
melaksanakan tugas-tugasnya.
Namun, keterampilan
militer semata tidak cukup untuk menjawab kompleksitas permasalahan yang dihadapi.
Sebagai contoh, ketika mengemban misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan,
pasukan TNI harus dapat memahami sejarah konflik antara Israel dan Hizbullah.
Insiden kecil yang diakibatkan kesalahan prajurit dalam berinteraksi dengan
pihak bertikai, dapat mencederai upaya perdamaian.
Tantangan terbesar
tentunya pada perbedaan bahasa dan budaya. Karena itu, selain disiapkan untuk
tugas taktis, setiap prajurit wajib dibekali kemampuan komunikasi, diplomasi,
dan negosiasi, termasuk bagaimana memenangi hati dan pikiran masyarakat lokal.
Jati diri TNI
Kedua, jati diri TNI. Prajurit TNI adalah prajurit pejuang, yang memiliki ketahanan mental untuk tidak pernah menyerah dalam kondisi apa pun. Di tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, dan sehebat apa pun kekuatan militer kita ke depan, setiap prajurit harus senantiasa membumi, karena pada hakikatnya TNI berasal dari rakyat serta berjuang untuk rakyat dan kepentingan nasional. Karakter dan jati diri itu tidak boleh luntur dan harus ditumbuhkembangkan dari generasi ke generasi TNI selanjutnya.
Ketiga, nilai-nilai
kepemimpinan. Militer itu bisnisnya adalah kepemimpinan dan pemimpin itu
bisnisnya adalah mengambil keputusan. Walaupun kerap dihadapkan pada situasi
yang sulit dan berbahaya, pemimpin militer pada level apa pun wajib mengambil
risiko. Terlambat mengambil keputusan dapat berakibat fatal, yaitu gagalnya
tugas, bahkan gugurnya prajurit di medan pertempuran.
Sebaliknya,
keberhasilan operasi militer umumnya ditentukan oleh kepemimpinan yang berkualitas.
Pemimpin yang efektif dapat menentukan visi dan menjabarkan misi secara
gamblang kepada pengikutnya. Tidak hanya itu, ia juga mampu membekali
pengikutnya dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan tugas pokoknya.
Selanjutnya, untuk
mengatasi ketidakpastian global, pemimpin militer abad XXI wajib memiliki
sejumlah kemampuan serta adaptif dalam mengelola berbagai skenario operasi,
dari pertempuran hutan sampai pertempuran kota, dari lawan insurjensi sampai
lawan terorisme, dari penanggulangan bencana alam sampai pemeliharaan
perdamaian dunia.
Akhirnya, untuk
mewujudkan kekuatan TNI modern di masa depan, TNI tidak dapat berdiri sendiri.
Karena itu, di hari yang bersejarah ini, tepat kiranya jika TNI melakukan
refleksi dan kontemplasi untuk meningkatkan kinerja serta memantapkan komitmen
untuk bersinergi dengan seluruh komponen bangsa dalam rangka menjawab berbagai
tantangan keamanan pada abad XXI.
Sumber: Kompas, 5
Oktober 2013

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!