Headlines News :
Home » » Rahasia Keunikan Masyarakat Asli Sentani

Rahasia Keunikan Masyarakat Asli Sentani

Written By Ansel Deri on Saturday, June 20, 2015 | 9:31 PM

DENGAN luas 9.635 hektare, Danau Sentani menjadi danau terbesar di Papua. Danau ini berada di selatan Kota Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura. Letaknya tepat di lereng Pegunungan Cycloops,  yang memagari danau yang terbentang di antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura ini.

Ada sekitar 22 pulau kecil tersebar dari barat ke timur. Sebagian besar dihuni masyarakat asli atau suku-suku di Sentani. Di area danau ini terdapat 24 kampung yang tersebar di pesisir dan pulau-pulau kecil yang ada di tengah danau itu. Setiap kampung begitu unik dan penduduknya memiliki tradisi masing-masing. Misalnya penduduk Pulau Asei yang terkenal dengan kerajinan kulit kayunya. Sedangkan di Desa Taturi, penduduknya mahir membuat lukisan batu.

Menurut Pilipus M. Kopeuw, STh, MPd, peneliti dan putra asli Sentani, penyebutan “suku Sentani” terhadap seluruh penduduk Sentani sebetulnya tidak pas. Sebab setiap kampung memiliki suku tersendiri. Dari Kampung Yoka, yang paling ujung, Waena–tempat menuntut ilmu–, Sebeaiburu, Puay, Ayapo, Asei Kecil dan Asei Besar, Netar, Ifar Besar, Ifar Kecil (Ifale), Hobong, Yobhe, Yabuai, Putali, Abar, Atamali, Yoboi, Simporo, Babrongko, Dondai, Kwadeware, Yakonde, Sosiri, hingga Doyo Empat Kampung, semuanya dihuni suku yang berbeda-beda dan mempunyai ondofolo (kepala adat) sendiri-sendiri. Setiap kose (Kepala Suku) pun memiliki nama suku sendiri-sendiri.

Dalam satu kampung biasanya ada satu ondofolo dan lima kose. Artinya, satu kampung bisa dihuni minimal enam suku. Jadi kalau ada 24 kampung, ada 144 suku yang ada di wilayah Sentani.

Namun, kendati dihuni suku yang beragam, kampung-kampung ini disatukan oleh satu hal: kesamaan legenda. Sebuah legenda setempat menyebutkan masyarakat yang pertama kali menetap di Danau Sentani berasal dari Papua Nugini. Leluhur mereka ini datang dengan mengendarai naga.

Masyarakat asli Sentani mencukupi kebutuhan mereka dengan mencari ikan, kerang (kheka), dan siput (fele). Mereka juga menanam umbi-umbian, seperti singkong atau ketela pohon (kasbi), keladi, dan ubi jalar, serta pisang dan sayuran. Hutan sagu pun terbentang luas, tapi bukan hasil budi daya, melainkan pemberian Sang Pencipta. Ikan-ikan tidak pernah dikembangbiakkan, tapi tidak pernah habis meskipun jutaan ekor diambil setiap hari.

Hal unik lain dari masyarakat asli Sentani yaitu adanya alat pembayaran sendiri berupa manik-manik, kapak batu (tomako), dan gelang batu (ebha). Ada tiga macam manik-manik, yaitu haye, hawa, dan nokhong. Tomako juga terdiri atas tiga jenis, yakni pendek (yun seki), sedang (relae) dan panjang (ebha bhuru). Alat-alat pembayaran ini masih berlaku dalam pembayaran mas kawin saat pernikahan.

Dalam Festival Danau Sentani 2015 yang digelar pada 19-23 Juni mendatang, pengunjung dapat mengenal suku-suku tersebut. Anda bisa, misalnya, naik perahu dari desa ke desa untuk melihat kehidupan yang indah di Sentani.  Jangan lupa menikmati keunikan tradisi Sentani, menyantap sagu, juga berenang di danau. Atau bisa juga sekadar menikmati panorama di tepian Danau Sentani nan cantik. Di salah satu desa, yaitu Tuturi, terdapat lukisan batu yang terdapat di tepi danau. Suasananya yang bersahabat serta embusan anginnya memberikan ketenangan tersendiri bagi pengunjung.  Festival Danau Sentani 2015 memberi Anda kesempatan untuk mengenal  keunikan masyarakat asli salah satu wilayah di tanah Papua ini. 
Sumber: Tempo.co, 20 Juni 2015 
Ket foto: Rahasia keunikan masyarakat asli Sentani.

SEBARKAN ARTIKEL INI :

1 comment:

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger