Headlines News :
Home » » Vande Sebut Rujab Bupati sebagai TKP Pembunuhan Lorens Wadu

Vande Sebut Rujab Bupati sebagai TKP Pembunuhan Lorens Wadu

Written By Ansel Deri on Tuesday, June 09, 2015 | 4:30 PM

PATER Vande Raring, SVD menyebut-nyebut Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Lembata sebagai tempat kejadian perkara (TKP) kasus pembunuhan Lorensius Wadu, 8 Juni 2013 silam.

"Ada kemungkinan Lorens Wadu dihabisi di Rumah Jabatan Bupati Lembata," ujar Vande Raring sambil mengacung-acungkan tangannya menunjuk Rujab Bupati Lembata di Lewoleba.

Vande Raring melontarkan pernyataan tersebut ketika melakukan orasi dalam unjuk rasa mengenang kematian Lorens Wadu dua tahun silam. Unjuk rasa itu berlangsung di samping kiri Rujab Bupati Lembata, persis di depan Kantor Bupati Lama, Senin (8/6/2015) petang.

Selain Vande Raring, orasi itu dilakukan secara bergilir oleh lima orator lainnya, yakni Ali Kedang, Aleks Murin, Romo Willy Ola Baga, Pr (Pastor Paroki Sta. Maria Benneaux Lewoleba), Simon Lake Odel dan Silvester Wutun, teman dekat Lorens Wadu.

Vande Raring menyebutkan, sudah genap dua tahun, yakni 8 Juni 2013-8 Juni 2015, Lorens Wadu meregang nyawa di tanah Lembata. Namun dalam rentang waktu tersebut, belum semua oknum yang diduga terlibat dalam kasus tersebut diproses secara hukum. Ada empat oknum sudah mendekam di balik jeruji besi dan telah berstatus sebagai narapidana, tapi ada pula yang masih berkeliaran. Bahkan, ada oknum tertentu yang hingga saat ini belum disentuh oleh hukum.

Dari hasil investigasi yang dilakukan Forum Penyelamat Lewotanah Lembata (FP2L), kata Vande Raring, jasad Lorens Wadu yang ditemukan di kebun pisang, kemungkinan dibunuh di Rujab Bupati Lembata. Ironisnya, sampai saat ini aparat kepolisian belum berhasil mengungkap hal itu.

Ia juga menyebutkan, Romo Yermi, salah satu pastor di Lewoleba, telah dimintai keterangan oleh penyidik tentang kasus tersebut. Kepada penyidik, kata Vande Raring, Romo Yermi telah menyebutkan beberapa oknum yang diduga terlibat dalam kasus itu.

Aleks Murin dalam orasinya melontarkan pernyataan kritis tentang kasus yang merenggut nyawa Lorens Wadu. Ia membeberkan rangkaian proses hukum yang menurutnya tidak dilakukan secara optimal oleh aparat penegak hukum di daerah itu.

Ia mengatakan, ada sejumlah kejanggalan yang terkuak dari proses penanganan kasus itu. Handphone (Hp) milik korban, misalnya, hingga kini tidak diketahui rimbanya. Nomor Hp yang dipunyai korban juga sudah raib entah ke mana.

Selain itu, tandas Alex Murin, pakaian yang dikenakan korban tidak diketahui lagi. Sementara hasil investigasi FP2L menyebutkan sebelum korban ditemukan telah meregang nyawa, ada pertemuan di rumah jabatan bupati Lembata. Ada juga video terkait kasus itu, namun ia tidak memperlihatkan video tersebut.

Ia menyatakan dirinya bersama FP2L akan membantu aparat kepolisian mengungkap tuntas kasus tersebut. Ia juga memberi apresiasi kepada aparat penegak hukum, karena tiga oknum yang diduga turut terlibat dalam kasus itu kini diproses kembali. Tiga oknum itu, yakni DW, BR dan TR.

Kapolres Lembata, AKBP Wresni HS Nugroho, S.T mengatakan, pihaknya sedang memeriksa sejumlah saksi yang terkait dengan kasus tersebut.

"Proses hukum kasus ini jalan terus. Baru-baru ini penyidik mengambil keterangan saksi Romo Yermi. Keterangan saksi itu akan terus didalami guna dilakukan pengembangan," ujar Kapolres Wresni, Senin (8/6/2015) petang.

Disaksikan Pos Kupang, aksi damai itu berlangsung aman dan tertib. Sejumlah warga ikut dalam aksi tersebut. Beberapa pedagang dari Pasar Pada dan warga lainnya hadir dalam aksi itu. Terlihat pula sejumlah biarawati dan anggota DPRD Lembata. 
Sumber: Poskupang.com, 9 Juni 2015 
Ket foto: Pater Vande Raring, SVD sedang menunjuk rumah jabatan Bupati Lembata sebagai lokasi pembunuhan Lorens Wadu, saat berorasi dalam aksi demo, Senin (8/6/2015). 
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger