Headlines News :
Home » » Tradisi Belis, Budaya 'Mencekik Leher' Warga NTT

Tradisi Belis, Budaya 'Mencekik Leher' Warga NTT

Written By Ansel Deri on Sunday, July 26, 2015 | 7:34 PM

MEMBERI belis atau mas kawin berupa gading gajah adalah hal lumrah di kalangan masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya di Flores.

Pemberian belis menjadi istimewa dan terlihat elit lantaran harganya mahal karena belis berupa gading gajah ini amat jarang ditemukan di NTT. Meski tergolong memeras kocek, tapi mereka beranggapan hal ini mampu melejitkan pamor dan status sosial di mata warga.

"Di NTT mana ada gajah, mau cari di mana gajah. Menurut cerita dahulu orang portugal menukar hasil bumi dengan gading. Gading itu lah yang menjadi spesial di sini," kata Thomas asal Flores kepada merdeka.com, Sabtu (22/2).

Thomas menambahkan kini belis berupa gading gajah nyaris tidak ada lagi orang membelinya. Kebanyakan belis diberikan kepada calon mempelai pria kepada wanita merupakan warisan.

"Saya 4 tahun lalu beli belis harga Rp 40 juta itu hanya kecil. Kalau yang besar bisa Rp 150 juta. Beli Rp 40 juta hasil tawar dengan keluarga calon istri dulu," kata warga asli Larantuka, Nando.

Nando mengucap syukur karena sang istri tidak memberatkan keluarganya. Apalagi pekerjaan Nando hanya seorang sopir sewaan.

"Biayanya berat, saya habis beratus-ratus juta bawa 1 kambing juga dan 1 babi belum makanan-makanan lainnya," kenang dia.

Belis yang diserahkan ke istrinya yang orang Lembata pun, didapat dari kakak perempuannya.

"Kakak saya jual belis Rp 40 juta itu dicicil. Sekarang semua belis berputar saja jual belinya," tanda dia.

Sekali lagi dia bercerita mengenai beratnya harga belis bagi warga NTT yang sebagian besar masih bekerja di sektor pertanian dan perkebunan. Bahkan sampai-sampai banyak orang mengadu nasib ke luar negeri sebagai TKI jika dia atau sanak saudaranya hendak menikah.

"Berat! Tapi mau gimana itu tradisi. Ada tetangga saya minta 7 belis (gading), itu ada, karena ibunya dulu dapat 7 jadi dia harus dapat 7," sambung Nando.

Oleh karena itu, kini sebagian laki-laki yang keberatan dengan penyerahan belis punya taktik khusus biar tetap bisa menikahi perempuan idaman mereka. Tetapi cara itu sepertinya kurang patut dilakukan lantaran menabrak norma kesusilaan.

"Sekarang banyak laki-laki yang buat wanitanya hamil dulu jadi harga belis turun dan dia bisa menikah," ucap rekan nando, Thomas.

Meskipun amat berat biaya belis, tapi sepanjang sejarah tidak ada aksi curi mencuri belis.

"Belis tidak bisa dicuri uang bisa, kalau ada curi belis itu akan kembali lagi dengan sendiri oleh yang mengambil. Itu benda keramat," tutur Nando.

Bicara mengenai belis, beberapa kali Nando mengelus dada dan sesekali menunduk. Memang tradisi penyerahan belis tidak bisa dihindarkan olehnya. Tetapi keharusan menyerahkan belis tak disangkal membuat Nando pusing.

Dia sampai harus berutang hingga meminta uang kepada orang tua serta menabung jika dia serius ingin menikahi tambatan hatinya. Kebudayaan belis justru ancaman di tengah perekonomian warga NTT makin menghimpit. 
Sumber: Merdeka.com, 23 Februari 2015 
Ket foto: Gading gajah
SEBARKAN ARTIKEL INI :

1 comment:

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger