Headlines News :
Home » » Mekanisme Kambing Hitam

Mekanisme Kambing Hitam

Written By Ansel Deri on Friday, September 11, 2015 | 1:31 PM


Oleh Fidelis Regi Waton 
Alumnus Filsafat Politik 
Universitas Humboldt, Berlin, Jerman 

ANJLOKNYA rupiah beberapa waktu silam membangkitkan kepanikan. Terlepas dari pelbagai langkah analisis seputar penyebab devaluasi dan upaya strategis untuk keluar dari belenggu finansial dimaksud, muncul riak radikalisasi berbau rasis-diskriminatif di dunia maya. Kembali dihembuskan kebencian terhadap warga Indonesia etnis Cina (Tionghoa) sebagaimana yang pernah terjadi tahun 1998, biarpun telah ada legalisasi anti rasial dan diskriminasi melalui UU No. 40/2008.

Mekanisme mendiskreditkan pihak atau kelompok tertentu khususnya minoritas selalu dilemparkan di tengah badai krisis, kegagalan, kemalangan dan bencana. Solusi malas, naif dan edan ditampilkan dengan menyalahkan pihak lain tanpa landasan yang sahih dan logis tersebut merupakan patos sosial sejak sediakala. Adam mempersalahkan Eva dan Eva menjadikan ular sebagai biang jatuhnya sejoli manusia perdana ke dalam dosa.

Raja Odipus dalam mitologi Yunani karya Sopokles dipersalahkan ketika wabah pes melanda negerinya. Epidemi pes ditafsir sebagai hukuman atau kutukan dewata akibat kejahatan kriminal dan kebobrokan moral sang raja yang membunuh ayahnya dan menikahi ibundanya. Akibat rasa malu Odipus menusuk matanya dan melarikan diri ke pengasingan. Pesepak bola Kolumbia, Andres Escobar yang melakukan gol bunuh diri, didakwa sebagai biang kegagalan timnya pada Piala Dunia 1994 dan ditembak mati di tanah airnya.

Fakta menjadikan pihak lain yang tak bersalah sebagai tumbal dikenal dengan istilah, kambing hitam" (scapegoat) yang berasal dari tradisi religio-kultur Yahudi-biblis. Kata hitam dalam term ini tidak ada kaitannya dengan warna kambing, melainkan akibat kesalahan terjemahan William Tyndale. Pada hari Yom Kippur (hari pendamaian atau rekonsiliasi), diadakan ritual unik yakni imam agung meletakkan tangannya pada kepala seekor kambing jantan; bukan untuk memberkatinya, melainkan sebagai simbol transfer segala dosa umat Israel. Hewan ini kemudian dibuang ke padang gurun yang secara metaforis sebagai penghapusan segala dosa dimaksud (korban kolektif).

Penulis Perancis Rene Girard menandaskan bahwa kehidupan bersama manusia bukan saja menghadirkan harmoni, melainkan bermuatan persoalan antropologis yang besar. Mekanisme kambing hitam baginya bagaikan instrumen yang memicu reproduksi kekerasan dalam masyarakat.

Fenomen ini bersifat permanen dan laten, yang pasti akan tampil ke permukaan kapan saja. Sebagaimana dalam legenda Yunani, selalu dicari subjek terhadap bencana yang tak bisa dijelaskan. Dalam bahasa agama, pribadi-pribadi atau kelompok tertentu (lazimnya minoritas) dijadikan sebagai personifikasi kejahatan. Banyak perempuan tak bersalah khususnya yang telaten dalam mengolah ramuan berkhasiat, dikejar dan dibakar pada abad pertengahan karena dituduh sebagai tukang sihir yang mendatangkan bala, hama, penyakit dan kematian.

Selama periode 1430-1780, sekitar 50.000 orang dibasmi dengan dugaan dan tuduhan sebagai penyihir. Motif tunggal di baliknya hanyalah kebutuhan akan kambing hitam.

Mekanisme kambing hitam juga berkaitan erat dengan pengelakan untuk mengakui kesalahan sendiri dan kreasi musuh bersama agar eksistensi dan keutuhan kebersamaan tidak goyah atau dihidupkan di tengah kesuraman. Kambing hitam dalam konteks ini sebagai proyeksi kesalahan sendiri, plasebo untuk krisis, perekat kesinambungan kohesi sosial dan instrumen politik. Filsuf Sokrates yang memahami perannya sebagai "lalat liar yang mengusik" dihukum mati dengan meneguk racun, lantaran dituduh meracuni generasi muda melalui ajaran dan dialog kritisnya terhadap tradisi yang menghambat kekritisan.

Yesus dari Nazaret yang menentang agama Yahudi yang legalistis-formalistis wafat sebagai korban konspirasi religio-politik di negeri-Nya. Minoritas Yahudi diaspora dituduh bersalah ketika wabah pes melanda Eropa. Mereka diduga meracuni sumur dan mata air. Adolf Hitler menampilkan politik demagogisnya di tengah kekisruhan sosial-politik di Jerman dan tanpa tedeng aling-aling ia kembali menjadikan kaum minoritas Yahudi sebagai biang keburukan sosial-ekonomi. Begitu keji tak terkirakan warga bangsa Yahudi yang menjadi korban kebrutalan politik genocide Hitler.

Para penguasa politik acapkali sengaja memgembangbiakkan kambing hitam demi menyalurkan amarah dan mengalihkan perhatian publik yang tidak puas terhadap kinerja pemerintahan. Tak jarang mekanisme kambing hitam digunakan sebagai ekspresi rasa rendah diri, frustrasi dan agresi terhadap kekuatan eksternal maupun vertikal yang lebih kuat entah secara ekonomi dan finansial maupun secara politik dan budaya.

Agresi dan frustrasi dimaksud disalurkan ke arah horisontal. Sumber frustrasi dipersonifikasi dan yang bersalah secara serakah diidentifikasi. Badai raksasa kapitalisme global yang mendera dengan akibat fluktuasi finansial dilawan dengan cara menuduh kelompok tertentu dalam negeri yang dianggap lebih kuat secara finansial dan ekonomi.

Realitas kambing hitam mendapat padang yang subur di lingkup pendidikan baik nonformal maupun formal. Orangtua dan para pendidik yang narsistis, yang berorientasi prestasi dan prestise serta tidak kompeten di bidang pedagogis-humanis menganakemaskan yang satu dan memojokkan yang lain. Pandangan pedagogis yang keliru dan iklim yang tidak sehat ini harus dieliminasi.

Menuduh dan menjadikan yang lain sebagai kambing hitam hanya dilakukan oleh pihak yang naif dan infantil. Manusia dan bangsa yang dewasa harus mengambil langkah pertama untuk kembali ke dirinya sendiri di tengah kemalangan dan jujur mengakui kesalahannya sendiri. Atmosfir humanis ini seyogyanya ditopang secara juridis oleh hukum dan aturan yang bukan saja dirumuskan, melainkan secara konsekuen diterapkan melawan siapa saja yang menyebarkan isu, bertutur-kata dan berperilaku yang rasis dan diskriminatif.
Sumber: Pos Kupang, 10 September 2015
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger