Headlines News :
Home » , » Yayasan Kesehatan untuk Semua: Ojek Juru Selamat

Yayasan Kesehatan untuk Semua: Ojek Juru Selamat

Written By Ansel Deri on Saturday, February 06, 2016 | 11:16 PM


Dulu kuda satu-satunya moda transportasi untuk menyelamatkan nyawa ketika wabah diare menyerang. Kini, ojek sepeda motor menjadi “ambulans” penyelamat.

WABAH diare menyerang. Banyak korban berjatuhan karena wabah menyerang tanpa perlawanan. Peristiwa sekitar tahun 1980-an di Tobi wutung, Larantuka Flores Nusa Tenggara Timur itu membekas dalam lubuk hati Mansetus Balawala. Setiap penderita diare sangat sulit mendapatkan pertolongan medis yang memadai. Hal ini dikarenakan jarak yang jauh ke rumah sakit dan minimnya sarana transportasi.

Pater Petrus Maria Geurts, SVD, Pastor Paroki Paroki St Maria Bintang Laut Waipu kang Ile Ape sebenarnya memiliki kemauan keras untuk membantu penderita diare. Namun ia tidak bisa berbuat banyak. Pastor kelahiran Belanda ini, tinggal jauh di Waipukang, pusat paroki. Sementara kebanyakan korban diare tinggal di daerah terpencil.

Pada masa itu hanya kuda yang bisa dipakai mengantar pasien diare ke rumah sakit di kota. Apalagi, kondisi alam masih liar dan terjal. Akibatnya, banyak korban wabah diare tak dapat diselamatkan. Kematian ibu dan anak akibat wabah ini menjadi sedemikian merajalela.

Lahir dari Doa

Kejadian puluhan tahun lalu itu mengins pirasi Mans, panggilan akrab Mansetus Balawa, untuk mengembangkan pelayanan kesehatan dengan sepeda motor. Dulu orang memanfaatkan kuda untuk membantu masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan. Ketika zaman semakin maju, Mans mengganti kuda itu dengan sepeda motor untuk menolong masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan.

Mans menjalani masa mudanya di Surabaya. Di kota pahlawan ini Mans menyelesaikan kuliah S1 dan sempat bekerja sebagai wartawan Koran Fakta setahun. Setiap kali ada kabar duka dari kampung hatinya disayat pilu. Ia mengenal daerahnya, jauh dari kota, sehingga orang kesulitan mendapat pelayanan kesehatan. Mans membayangkan bisa mengatasi masalah ini.

Akhirnya Mans pulang ke Flores dan menetap di Larantuka. Ia ingin membantu orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Gagasan melahirkan program manajemen sistem transportasi (MST) untuk pelayanan kesehatan di pedesaan terus hadir dalam benaknya.

Keinginan itu mulai terwujud ketika pada 2000 ia berdiskusi dengan petugas kesehatan dan penyuluh lapangan keluarga berencana di Larantuka. Dalam diskusi itu terungkap bahwa penyebab tingginya angka kematian ibu dan anak di Flores Timur adalah terlambat mendapat pertolongan. Keterlambatan ini lebih disebabkan oleh minimnya sarana transportasi, baik transportasi umum untuk masyarakat maupun untuk petugas kesehatan.

Pada 2002, Mans bersama beberapa temannya mendirikan Yayasan Kesehatan Untuk Semua (YKUS). Melalui Yayasan itu, Mans menggulirkan program MST. YKUS mencoba mengatasi kendala transportasi dengan memanfaatkan sepeda motor untuk mendekatkan akses kesehatan kepada masyarakat.

Menurut Mans, wilayah Flores Timur dan NTT umumnya memiliki keterbatasan akses transportasi. Kendaraan umum hanya masuk ke desa sekali dalam seminggu. “Bayangkan saja untuk sakit yang serius, tentu bisa berakhir dengan kematian. Itu kebanyakan terjadi pada ibu hamil dan anak-anak,” kata pria kelahiran Holoriang, Lembata, 5 Januari 1973 ini.


Ojek Penyelamat


Saat ini sebelas unit sepeda motor dan belasan “tukang ojek penyelamat” selalu siap melaksanakan tugas. Yang dimaksud “tukang ojek penyelamat” adalah para petugas kesehatan yang bekerjasama dengan YKUS. Untuk membantu operasional pelayanan kesehatan, YKUS memfasilitasi petugas kesehatan itu dengan memberikan sepeda motor. Dengan begitu, masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan di tempat. Pelayanan kesehatan seperti ini bisa menekan biaya bagi masyarakat dan mereka tak perlu bersusah payah ke kota.

Maria Yasinta, bidan pegawai tidak tetap di Bukit Saburi, Pulau Adonara ini menyambut baik pelayanan kesehatan menggunakan sepeda motor ini. “Kami selalu bekerja sama dalam kegiatan posyandu bersama. Saya juga ikut ke Papua untuk presentasi program pelayanan kesehatan dengan sepeda motor di sana.” ujar wanita ber-usia 37 tahun ini.

Begitu pula dengan Markus Masan Bali, seorang petugas kesehatan di Kecamatan Solor Barat, Flores Timur. Ia mengaku, kehadiran YKUS memungkinkan pelayanan kesehatan di kampung-kampung bisa terjangkau. Dengan modal satu unit sepeda motor, Markus bergerak membantu mengantar orang-orang di Solor Barat untuk berobat. “Saya belajar dari sosok seorang anak muda seperti Mans yang punya semangat melayani,” ujarnya.

Sebelumnya untuk berobat ke pusat-pusat pelayanan kesehatan di kota, ongkos yang dikeluarkan jauh lebih tinggi dari biaya pengobatan. YKUS menjembatani persoalan masyarakat ini dengan ojek motor sebagai “ambulans”, menjadi penyelamat masyarakat dari ancaman maut.

Program ini memberikan kemudahan dalam hal layanan cepat. Misalnya, pelayanan imunisasi, posyandu, rujukan untuk pasien gawat darurat, dan beragam kegiatan lainnya. “Sepeda motor menjadi pilihan. Pertimbangan kami, jenis kendaraan ini lebih mungkin menjangkau pedesaan. Dengan akses jalan yang sulit sekalipun, sepeda motor jadi juruselamat pasien,” katanya. Ojek sepeda motor bisa berfungsi sebagai “ambulans” yang mengangkut pasien ke pusat pelayanan kesehatan di kota, atau menjadi kendaraan petugas kesehatan untuk datang ke desa-desa terpencil.

Dihargai

Aktivitas yayasan rupanya mendapat perhatian dari Migran Care, sebuah Yayasan yang bergerak dalam bidang advokasi buruh migran. Karena perhatian mereka mengurus orang-orang kecil di pedesaan tahun 2013, Migran Care melibatkan YKUS ikut menangani isu buruh migran. Melalui Program Maju Perempuan untuk Penanggulangan Kemiskinan, YKUS membantu di tiga desa yakni Dulitukan, Tagawiti, dan Beutaran, di Kecamatan Ileape, Lembata. Migran Care ingin memastikan upaya perlindungan buruh migran dimulai dari desa sebagai basis buruh migran.

Atas kiprah ini Mans pernah diundang sebagai salah satu panelis pada Konferensi Nasional “Hukum dan Penghukuman” yang diselenggarakan Pusat Studi Kajian Wanita Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia bekerjasama dengan Komnas Perempuan di Pusat Studi Gender UI De pok, tahun 2010.

Tahun 2009, YKUS diganjar penghargaan Best Practices dari Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BPKTI). Tak berhenti sampai disitu, beragam penghargaan silih berganti diraih Yayasan ini. Pada tahun 2010, YKUS meraih Satu Indonesia Award dari PT Astra International Tbk dan 2012 memperoleh MDG Award dari Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Pencapaian Millennium Development Goals dan The USAID Indonesian Social Innovator Award kategori Serving the Last Mile.

Beragam prestasi tidak membuat mereka sekadar bertepuk dada. Dari waktu ke waktu mereka berusaha untuk semakin meningkatkan pelayanan. “Doa dan kerja menjadi taruhan dalam pelayanan kami. Tak pernah terpikir mendapat penghargaan. Kalaupun ada sebagai orang Katolik, saya pikir itulah cara Tuhan memandang karya kami,” kata Mans. 
Ansel Deri 
Sumber: Hidup edisi No. 4, 24 Januari 2016 
Ket foto: Masyarakat Riangkotek, Kecamatan Lewolema, Flores Timur, salah satu desa dampingan sedang menunggu pelayanan kesehatan (1) dan Mansetus Balawala (2)
SEBARKAN ARTIKEL INI :

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger