Headlines News :
Home » » Keteladanan dari Merdeka Utara

Keteladanan dari Merdeka Utara

Written By ansel-boto.blogspot.com on Thursday, August 24, 2017 | 11:14 AM

Oleh Maksimus Ramses Lalongkoe
Pengamat Politik &
Dosen Universitas Mercu Buana, Jakarta

KEHADIRAN Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono pada HUT ke-72 kemerdekaan RI di Istana Merdeka, bilangan Merdeka Utara, pekan lalu, tidak dapat dipandang sebagai hal yang biasa-biasa saja. Kehadiran presiden dua periode itu mengirimkan kabar gembira ke seluruh penjuru negeri ini. Kehadiran SBY juga seolah ‘menutup’ seluruh rangkaian acara HUT ke-72 RI yang dihadiri Megawati, BJ Habibie, Try Sutrisno, pimpinan parpol, dan tamu undangan serta berbagai kalangan dan latar belakang itu. Lalu mengapa kehadiran SBY menjadi perhatian publik luas?

Salah satunya karena selama dua tahun pemerintahan Presiden Jokowi, SBY tidak pernah menghadiri HUT RI di Istana Negara. Juga selama 10 tahun SBY menjadi orang nomor satu RI, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri tidak pernah menghadiri HUT RI di Istana Negara meskipun mendapat undangan resmi. Situasi kerenggangan hubungan dan saling menghindar antara SBY dan Megawati berlangsung bertahun-tahun. Kondisi itu pula yang dipersepsikan publik bahwa kedua tokoh ini sedang melakukan ‘perang dingin’. Tak ada yang mengetahui persis, apa sesungguhnya yang melatari keduanya saling menghindar dan saling mengkritik dengan nada-nada beraroma politis. Perang dingin ini juga tidak hanya terjadi antara SBY dan Megawati. Namun, tampak pula terjadi antara SBY dan Presiden Jokowi.

Sejak Jokowi dilantik menjadi presiden, SBY kerap memuntahkan pesan-pesan politik bernapas kritik yang dikemas dengan beragam nada, mulai nada rendah, sedang, hingga keras dan tajam, baik disampaikan melalui media massa maupun melalui media sosial. Kritikan-kritikan SBY tak jarang pula direspons istana dengan beragam cara. Semua fakta dan realitas perang dingin antartokoh itu masih tercatat dalam benak dan memori kolektif masyarakat Indonesia.

Sikap negarawan

HUT ke-72 RI ini bagai angin yang membawa kabar gembira, kabar yang menyejukkan dari la­ngit Merdeka Utara untuk warga Nusantara. Selain kabar gembira ini menarik perhatian publik luas, juga jadi suatu tontonan yang mengharukan bagi warga bangsa yang merindukan kebersamaan, kekompakan, dan perdamaian tulus di antara para tokoh bangsa. Butir-butir perdamaian itu tampak secara nyata melalui kebesaran hati Presiden Jokowi, SBY, dan Megawati yang mau bertemu, saling menyapa dan bersalaman dalam satu ruang kebersamaan yang hangat di HUT kemerdekaan RI itu.

Saling menyapa dan bersalaman ini pula yang memberikan pesan kuat dan bermakna sangat dalam bagi publik RI. Ketika para pemimpin bangsa ini bersatu dalam satu napas kebersamaan tanpa saling menjauhi dan saling membentangkan sayap perbedaan, RI menjadi bangsa yang besar, maju, dan kuat. Bangsa yang besar, maju, dan kuat hanya bisa terwujud manakala para tokoh dan pemimpinnya hadir sebagai anutan, kemudian sikap-sikap kenegarawanan, rendah hati, saling menyapa, dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.

Peristiwa langka dari Merdeka Utara telah memberikan pesan politik yang dahsyat kepada masyarakat Indonesia bahwa sosok Presiden Jokowi, SBY, dan Megawati telah menciptakan sejarah besar betapa pentingnya keteladanan melalui sikap rendah hati dan kenegarawanan mereka. Bila mengatakan sejujurnya, negeri ini sesungguhnya kehilangan banyak sosok negarawan yang mampu menjadi pemersatu dan perekat. Sebab, sosok negarawan bisa menjadi sandaran masyarakat manakala dinamika politik kian panas dan situasi bangsa mengalami keguncangan.

Dalam buku SBY, Selalu Ada Pilihan: Untuk Pencinta Demokrasi dan Para Pemimpin Indonesia Mendatang (2014), SBY dalam sebuah bagian buku itu mengatakan, pascapemilu selalulah berpikir untuk melakukan rekonsiliasi. Masa yang tidak mudah dihadapi seorang yang baru saja berkompetisi dalam sebuah pemilu adalah masa-masa awal dia (pemimpin) memulai tugasnya. Masa awal setelah terjadinya pergantian kepemimpinan politik dan pemerintahan. Artinya, ketika pemilu baru saja selesai dilaksanakan. ‘Dalam situasi seperti ini saya menganjurkan presiden yang baru saja dipilih dan memulai tugasnya segera berpikir tentang rekonsiliasi. Perlunya rekonsiliasi. Meskipun, terus terang hal ini tidak selalu mudah. Tetapi, saya berpendapat, bagaimanapun secara moral pihak yang menang harus mengambil inisiatif melakukan rekonsiliasi itu’ (hlm 504).

Langkah Jokowi menyatukan Habibie, Megawati, SBY, Try Sutrisno, Boediono, dan elite politik di dalam ruang istana adalah bagian penting bagaimana kenegarawanan, saling menghormati, dan rendah hati adalah pilihan sikap pemimpin yang selalu menaruh kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompok. Guru bangsa Syafii Maarif pada 2009 pernah menulis artikel di salah satu majalah, berjudul ‘Indonesia Memerlukan Negarawan’. Syafii Maarif dengan sapaan akrab Buya menguraikan, negarawan yang dimaksud ialah sosok yang bersedia larut membela kepentingan yang lebih besar yakni kepentingan bangsa dan negara secara keseluruhan.

Menganyam keteladanan

Semakin langka sosok negarawan di negeri ini memunculkan aneka gesekan di tengah masyarakat sebab tidak adanya tokoh anutan yang bisa menjadi rujukan bahkan cermin bagi masyarakat. Negarawan sejati melepaskan seluruh kepentingan pribadi dan kelompok demi bangsa dan negara. Ia juga berpikir melampaui apa yang tidak dipikirkan masyarakat umum dan semakin jauh dari cara berpikir transaksi pragmatis. Sikap negarawan dan pesan keteladanan ini telah ditunjukkan Presiden Jokowi, SBY, Megawati, BJ Habibie, Jusuf Kalla, di HUT ke-72 RI. Menganyam keteladanan tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia butuh mati raga. Namun, rakyat harus berani mengatakan, sosok seperti Presiden Jokowi, SBY, Megawati, Habibie, dan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga tokoh nasional untuk melepaskan bermacam kepentingan politik kelompok dan golongan demi kemajuan bangsa.

Tokoh-tokoh ini harus menjadi teladan yang layak digugu dan ditiru serta jadi contoh bagi masyarakat. Selain itu, para tokoh ini harus bisa mewariskan dan menularkan virus nilai-nilai luhur para pendahulu bangsa. Harus juga menyadari dengan sepenuh hati akan krisis negarawan yang dihadapi bangsa ini. Maka, perbedaan-perbedaan yang selama ini menjadi penyumbang kerenggangan perlu diakhiri demi persatuan, kesatuan, dan keutuhan bangsa dan negara. Kata bahasa Latin, concordia parvae res crescunt discordia maximae dilabuntur (persatuan memperkuat yang kecil, pertikaian mencerai-beraikan yang besar) bisa juga dijadikan pedoman bagi para pemimpin di level mana pun. Kini saatnya para tokoh nasional terus-menerus menunjukkan sikap negarawan, menganyam keteladanan, dan bersatu dalam satu kekuatan yang tulus. Keteladanan yang ditunjukkan dari Istana Negara, Merdeka Utara, adalah awal yang baik bagi Ibu Pertiwi di masa akan datang. Semoga.
Sumber: Media Indonesia, 23 Agustus 2017
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger