Oleh Dr Markus Solo Kewuta SVD
Staf Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat
Beragama Vatikan
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah
dengan orang yang menangis!“ (Roma 12:15) adalah salah satu realisasi ajaran
Kasih di dalam agama Kristiani yang ditulis oleh Rasul Paulus di dalam suratnya
kepada jemaat di Roma.
Ajaran kasih dengan
dua dimensi yang saling berkaitan erat, yakni Kasih akan Allah dan kasih akan
sesama manusia seperti diri sendiri, merupakan jantung ajaran Yesus Kristus dan
menjadi tolok ukur setiap keputusan magisterial dan perilaku moral Gereja.
Berkaitan dengan
ini, rasul Yohanes di dalam suratnya yang pertama di dalam Kitab Suci
Perjanjian Baru menulis demikian: „Jikalau seorang berkata: ‚Aku mengasihi
Allah‘, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa
tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang
tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi
Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya“ (1Yoh 4:20-21).
Kata-kata Paulus
dan Yohanes di atas kedengaran sederhana tetapi tidak sesimpel itu. Keduanya
berbicara tentang solidaritas dan sambung rasa antar sesama umat beragama tanpa
perbedaan. Di dalam konteks kebhinekaan sebuah masyarakat, kata-kata di atas
memiliki nilai fundamental dan merupakan sebuah nasihat emas, atau paling
kurang menginspirasi, menuju satu masyarakat majemuk yang kompak, rukun, damai
dan bahagia.
Akan terasa aneh
kalau seorang tetangga meninggal dunia, lalu pada saat yang sama tetangga
sebelah rumah menggelar sebuah pesta musik dan berbuat seolah-olah tidak ada
apa-apa di sekitarnya. Atau ketika seorang sahabat merayakan ulang tahun,
sahabat yang lain bermasa bodoh karena alasan tertentu. Atau ketika tetangga
atau seorang sahabat lulus sekolah, diwisuda, mendapat sebuah penghargaan, atau
sebuah job bergengsi dan orang beramai-ramai memberikan selamat, malah sahabat
atau tetangga yang lain melarikan diri ke persembunyian hingga peristiwa itu
berlalu. Atau seorang tetangga menang loteri dan bersukaria. Tetangga yang lain
malah menangis tersedu-sedu sampai memutuskan relasi.
Bukankah dengan
bersikap dan bertingkahlaku demikian, relasi persahabatan dan ketetanggaan akan
semakin renggang dan ada rasa „jauh“ di antara mereka?
Lumrah dan
universal
Ucapan selamat
adalah sebuah fenomen antropologis yang umum dan universal. Di berbagai
masyarakat dan budaya ada kebiasaan mengucapkan selamat hingga saling membagi
hadiah. Entah kapan lahir ucapan selamat kepada orang yang sedang berbahagia
dan turut berduka bersama mereka yang sedang berduka, tidak ada data valid. Tetapi
jelasnya ini sebuah kebiasaan tua.
Di dalam cerita
Yunani kuno tentang olimpiade yang dimulai tahun 776 sebelum Masehi, sudah ada
ritual ucapan selamat kepada sang pemenang berupa peletakan mahkota atau tiara
dari seutas daun laurea di atas kepalanya. Bukan nilai materi yang ditekankan
di sini, melainkan tanda solidaritas di dalam rasa gembira bersama si pemenang.
Kegembiraan adalah
sesuatu yang indah dan patutlah menyebarluas. Kegembiraan yang dibagi-bagi akan
semakin berlipat ganda. Sebaliknya kesedihan yang dibagi-bagi akan semakin
berkurang dan meringankan beban hidup. Ini pertama-tama menyangkut rasa. Bukan
tentang apa, mengapa dan bagaimana sehingga seseorang bersukacita.
"Selamat Natal“
Setiap kali
merayakan Natal pasti ada sedikit keributan menyangkut ucapan selamat. Tahun
ini beberapa sahabat menyampaikan kegundahannya kepada saya dengan nada kesal.
Mereka tidak diberikan ucapan selamat. Tetangga dan sahabat yang tahun lalu
mengucapkan selamat Natal, tahun ini membatalkan kebiasaan itu. Yang lain
bersikap apatis.
Mengucapkan "Selamat Natal“ harusnya pertama-tama tidak perlu dilihat dari kacamata dogma.
Di dalam lingkup budaya lain, ucapan selamat Natal ternyata tidak banyak
dipermasalahkan. Hal ini dipermudah melalui bahasa yang digunakan karena tidak
menunjukan keterkaitan langsung dengan perkara dogma.
Di dalam bahasa
Inggris orang menggunakan “Merry Christmas atau happy Christmas”. Dari beberapa
arti yang ada, pada intinya dimaksudkan “Natal yang menyenangkan atau Natal
yang membahagiakan”. Bahasa Jerman menggunakan “frohe Weihnachten atau
froehliche Weihnachten”. Artinya kurang lebih sama dengan rumusan bahasa
Inggris di atas, yakni “Natal yang menyenangkan atau membahagiakan”. Bahasa
Italia menggunakan “buon Natale” artinya Natal yang baik, atau Natal yang
menyenangkan dan membahagiakan. Yang ditekankan di sana adalah suasana. Bukan
apa, mengapa atau bagaimana di balik suasana itu.
Lalu di mana
persoalannya dengan bahasa Indonesia? Persoalannya terletak pada interpretasi.
Banyak yang menerapkan pemikiran bahwa dengan mengucapkan selamat Natal, orang
turut mengakui peristiwa iman yang sedang dirayakan oleh umat Kristiani. Malah
ditakuti pula bahwa dengan mengucapkan selamat Natal, iman orang akan luntur
dan bisa masuk neraka. Jelas ini interpretasi sepihak saja. Jujur, kalau
menanyakan umat Kristiani, apakah mereka mengharapkan hal di atas ketika
menerima ucapan selamat dari non-Kristiani, mereka pasti menggelengkan kepala
tanda tidak sepakat.
Secara pribadi,
setiap kali menerima ucapan selamat Natal dari orang-orang non-Katolik, yang
pertama-tama muncul spontan dalam benak adalah rasa terima kasih dan gembira.
Saya melihat mereka sebagai orang-orang baik. Kebanyakan dari mereka adalah
orang-orang yang beragama dengan benar dan matang. Saya menaruh rasa hormat
kepada mereka. Tidak sulit pula untuk bersahabat dengan mereka. Saya tidak
pernah berpikir sedetikpun bahwa ketika mengucapkan selamat, mereka sedang
menerima dan mengamini, apalagi turut percaya pada apa yang saya imani.
Bahasa Indonesia
tidak mengenal formulasi ucapan lain selain kata “selamat”. Kata “selamat”
merupakan kata serapan dari bahasa Arab dengan akar S-L-M (Sin, Lam, Mim) dan
berarti kedamaian, kesucian, penyerahan diri, dan ketundukkan. Jadi sebenarnya,
dengan mengucapkan selamat kepada orang yang sedang merayakan pesta keagamaan,
kita bukan saja turut berbahagia dan bersambung rasa sebagai manusia dan
sesama, tetangga, sahabat atau kerabat, melainkan juga menginginkan agar dengan
merayakan pesta keimanan itu, mereka lebih merasakan kedamaian, kesucian,
penyerahan diri dan semakin tunduk menyembah Tuhan mereka. Ini adalah sesuatu
yang khas dan indah yang kita miliki sebagai pengguna kata selamat. Ucapan
selamat Natal atau peristiwa keagamaan apapun harus dipaham dalam konteks ini.
Tidak ada yang salah.
Tidak ada larangan
tertulis
Kita harus akui
bahwa Kitab Suci agama-agama tidak memuat larangan secara eksplisit. Artinya
Tuhan tidak melarang umatNya untuk saling bersalaman ketika merayakan
pesta-pesta keagamaan. Dari sini lahir tafsir dan qiyas (analogi) yang
bervariasi. Itulah sebabnya mengapa praktek di kalangan umat beragama dan juga
di dalam komunitas agama sendiri juga berbeda-beda.
Berdasarkan fakta
ini, sudah harus menjadi pertanyaan bagi setiap pemeluk agama: Apakah Tuhan
betul-betul tidak ingin supaya manusia dari agama yang berbeda-beda saling
mengucapkan selamat? Kalau demikian keinginanNya, mengapa Dia sebaliknya
mendeklarasikan bahwa perbedaan-perbedaan yang ada adalah ciptaan dan
kehedankNya agar manusia saling mengenal? Bukankah larangan untuk memberikan
selamat kepada umat beragama lain sebagai sarana untuk saling mengenal,
kontraproduktif terhadap kehendak Tuhan di atas?
Oleh karena
ketiadaan uniformitas sikap dan posisi berkaitan dengan pertanyaan ucapan
selamat, pada akhirnya bisa diidentifikasi minimal dua kelompok manusia:
pertama, orang-orang yang beragama secara seimbang dan matang akan tetap
mengucapkan selamat kepada orang lain yang berbeda agama. Mereka melakukannya
semata-mata oleh karena tuntutan kemanusiaan. Mereka tidak mengkuatirkan
pengaruh negatip apapun terhadap kualitas iman mereka. Biasanya semakin matang
dan seimbang seseorang beriman dan beragama, semakin dia terbuka terhadap orang
lain yang berbeda. Kedua, orang-orang yang tidak berakar kuat di dalam iman dan
agamanya, atau beriman dan beragama secara tidak seimbang, akan tetap menolak
untuk mengucapkan selamat kepada umat beragama lain.
Kelompok kedua di
atas lebih suka merawat keputihan dogma daripada berbelarasa dengan sesama.
Kalau misalnya mereka sedang berjalan di atas reruntuhan bangunan oleh karena
tsunami dan mendengar jeritan seorang yang sedang sekarat dan meminta tolong
untuk diselamatkan nyawanya, entahkah mereka akan serta merta menolong
menyelamatkan nyawa orang tersebut oleh karena tuntutan kemanusiaan? Ataukah
mereka malah bertanya dahulu, apa agama orang itu lalu membolak-balik dogma
untuk menemukan keputusan?
Soal kemanusiaan
dan bukan dogma
Ketika seseorang
mendapat ucapan selamat atas kelulusan dari sebuah ujian, orang yang memberikan
ucapan selamat tidak berurusan sedikitpun dengan sah tidaknya kelulusan itu.
Dia hanya ingin membagi rasa sukacita dengan dia yang sedang bergembira. Sah
tidaknya kelulusan adalah wewenang internal Sekolah.
Demikian pula
ketika mengucapkan selamat kepada seorang yang berulang tahun, orang tidak
bermaksud untuk menyetujui pasangan suami-istri yang melahirkan anak itu, atau
mengamini kelahiran orang itu dari pasangan A dan B. Entah orang itu lahir dari
siapa, entah dia anak sah atau anak haram, entah dia anak orang kaya atau orang
miskin, itu semua bukan merupakan kategori-kategori yang memutuskan.
Dogma atau aqidah
adalah kaidah-kaidah atau ajaran-ajaran agama yang bersifat mengikat, unik dan
fundamental. Dia memperjelas keunikan identitas sebuah agama dan dengan itu
memperjelas pula perbedaan agama tersebut dari agama-agama lainnya. Oleh karena
itu dogma selalu bersifat mutlak dan tidak ada tawar-menawar. Akan tetapi perlu
dipertanyakan, di manakah dimensi kemanusiaan agama yang universal yang bisa
menghubungkan umat beragama yang berbeda-beda? Atau apakah beragama justru
ibarat membangun sebuah menara gading?
Sejatinya, misi
agama-agama di dunia jauh lebih luas daripada sekedar menjaga dogma. Di dalam
perbedaanya, agama-agama harus tetap bisa menunjukan misi kemanusiaan demi
terwujudnya persatuan dan kesatuan, kenyamanan, saling pemahaman, rasa saling
respek, tali persaudaraan dan persahabatan, relasi kekerabatan dan ketetanggaan
yang indah.
Ucapan selamat
adalah penerapan dogma keagamaan ke level kemanusiaan yang bersifat universal.
Inilah yang disebut „commonalities“ atau nilai-nilai komunal, atau nilai-nilai
bersama di dalam agama-agama. Di dalam konteks ini dikenal sebuah prinsip bahwa
“commonalities unite rather than separate”, artinya nilai-nilai bersama yang
diakui keluhuran dan kebenarannya secara bersama-sama, selalu akan
mempersatukan dan bukan mencerai-berai, walaupun di tatanan dogma berbeda.
Di dalam ilmu
dialog lintas agama, penerapan nilai-nilai kemanusiaan yang universal di dalam
kehidupan sehari-hari ini disebut “dialog kehidupan” (dialogue of life).
Artinya, orang-orang dari agama-agama berbeda-beda mengambil inisiatip bebas,
tanpa tekanan, tanpa paksaan, tetapi semata-mata dituntut oleh rasa kemanusiaan
dan oleh relasi keseharian, untuk saling mengucapkan selamat dan membagi rasa
suka dan duka sebagai sahabat, tetangga, kerabat dan kolega. „Bergembira
bersama-sama, menangis bersama-sama“; merasa senasib dan sepenanggungan. “Hodie
misi, cras tibi“, kata sebuah pepatah Latin. Artinya: Hari ini giliran saya,
besok giliran anda.
Mengenal orang lain
adalah upaya saling bertemu dan mengetahui pemeluk-pemeluk agama lain dengan
lebih jelas agar lenyap segala prasangka dan semua pemikiran negatif lainnya.
Dengan saling bersilahturahmi, orang merasa dekat satu sama lain. Di dalam
suasana keakraban ini merasa saling menguatkan dan menghibur, menikmati
indahnya persaudaraan, persahabatan dan ketetanggaan. Sungguh indah kebersamaan
dan persaudaraan di dalam perbedaan. Bukankah rasa sayang satu sama lain lahir
dari saling mengenal? Dikenal maka disayang. Demikian pepatah yang kita kenal
bersama.
Sikap kritis di
dalam beragama boleh. Kejelasan identitas agama itu mutlak. Tetapi kalau segala
sesuatu cenderung direduksi ke dalam persoalan dogma, kita tidak akan pernah
merasa dekat satu dengan yang lain. Di lain pihak, kita sama-sama tahu bahwa
perkara dogma dengan segala teori yang seluk-beluk adalah perkara tinggi yang
tidak menjangkau setiap orang, apalagi orang-orang kebanyakan pada tingkat akar
rumput.
Dengan melarang
mengucapkan selamat kepada pemeluk agama lain dengan alasan dogma, maka di saat
yang sama kemanusiaan dikorbankan. Lebih dari itu, akan timbul kekacauan
pemahaman dan praktek yang sudah sedang terjadi. Pengaruh-pengaruh negatif lain
terhadap relasi-relasi yang baik dan rukun yang sudah ada dan terjalin dengan
susah payah pun pasti terasa. Apalagi di negara kita ada banyak keluarga beda
agama.
Sikap umat Katolik:
Mengucapkan selamat tanpa rasa takut
Gereja Katolik
melalui Dewan Kepausan untuk Dialog antar Umat Beragama (Pontifical Council for
Interreligious Dialogue, PCID) selalu mengirimkan ucapan selamat kepada umat
beragama lain di seluruh dunia, tanpa kecuali. Sikap yang terbuka ini
didasarkan atas dokumen Konsili Vatikan II bernama „Nostra aetate“ (Dewasa
Kita) yang meletakan dasar-dasar teologis dan sosio- antropologis terhadap era
keterbukaan baru Gereja Katolik.
Di zaman ini sekat
sosial sudah semakin menipis. Frekwensi pertemuan manusia dari berbagai
latarbelakang terjadi semakin intensip. Manusia dari berbagai agama dan budaya
hidup berdampingan. Tidak ada jalan lain bagi manusia selain membuka diri untuk
saling bertemu, saling mengenal, bertukar pikiran dan saling memperkaya.
Sesungguhnya kebenaran setiap agama itu mutlak dan eksklusif. Akan tetapi
disadari pula bahwa setiap agama memiliki kemampuan untuk memancarkan sinar
kebenaran yang turut menerangi dan mengilhami agama-agama lain. Inilah yang
disebut oleh “Nostra aetate” sebagai „ray of truth“ atau sinar kebenaran yang
mengilhami itu.
Sejak tahun 1967
Sri Paus atas nama Gereja Katolik seluruh dunia, dalam hal ini didaulatkan
melalui PCID, tak henti-hentinya mengirimkan Ucapan Selamat Idul Fitri kepada
umat Islam di seluruh dunia. Banyak pemuka agama Islam membacakannya di hadapan
umat pada perayaan itu, atau ditempelkan pada sebuah tempat strategis agar bisa
dibaca oleh banyak orang. Di banyak negara, hal ini sudah menjadi alasan dan
motivasi silahturahmi yang sehat dan sangat menyenangkan.
Setelah Idul Fitri
berakhir, berbagai surat ucapan terima kasih datang dari tokoh-tokoh Islam di
berbagai wilayah dunia. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Gereja Katolik,
terutama kepada Sri Paus lewat PCID yang sudah memberikan perhatian kepada
mereka dan turut bersukacita bersama mereka pada perayaan keagamaan yang
penting itu.
Apakah dengan
mengucapkan selamat Idul Fitri ini umat Katolik seluruh dunia merasa terganggu
atau menderita kelunturan iman? Apakah dengan itu umat Katolik sudah mengakui
kebenaran peristiwa turunnya al-Qur’an (nuzul al-Qur’an) di akhir bulan suci
Ramadan, dan dengan itu sudah pula mengamini seluruh isi al-Qur’an? Apakah
dengan demikian umat Katolik seluruh dunia telah mengalami krisis kelunturan
iman berjamaah, atau sedang mencampur-adukan dogma agama? Tidak! Iman Katolik
tidak berkurang sedikitpun. Malah bertambah pahala melalui berkat dan rahmat
dari Tuhan karena sudah melakukan hal yang baik. Inilah perwujudan dogma
Kristiani yang berasaskan ajaran Kasih Yesus Kristus. Kasih tidak mengenal
perbedaan. Malah musuh pun dikasihi dan didoakan.
Agama hadir di sini
untuk menjadikan kita semua orang-orang baik, seratus persen umat beragama,
seratus persen manusia. Agama tidak boleh melunturkan rasa kemanusiaan
seseorang, malah sebaliknya memperkuat, mempertebal dan meningkatkannya.
Agama harus juga
bisa memberikan kesaksian kepada orang lain bahwa kebenaran iman terbukti bukan
karena dia dikunci rapih di dalam peti dogma, atau karena sukses merendahkan
dan menginjak martabat orang lain yang berbeda keyakinan, melainkan karena iman
yang diyakini kebenarannya itu justru bisa mengkomunikasikan diri dan
mengejawantah di dalam nilai-nilai moral yang bisa diterapkan di dalam
kehidupan bersama untuk memajukan kesejahteraan orang banyak. Kalau agama belum
atau tidak bisa membantu mensejahterakan orang banyak, termasuk yang berada di
luar dari komunitas sendiri, maka tidak ada alasan untuk mengklaim bahwa agama
tersebut adalah sebuah rahmat atau berkat bagi alam semesta dan manusia
sejagad.
Penulis sebagai
salah satu anggota Dewan Kepausan di atas yang secara rutin turut mempersiapkan
ucapan selamat kepada para pemeluk berbagai agama di dunia, merasa senang dan
gembira karena bisa melakukan sesuatu yang indah dan bermanfaat untuk mendukung
dan memajukan upaya saling menghormati dan saling memahami. Ada berbagai nilai
kemanusiaan universal dan lebih mendesak untuk ditonjolkan di dalam ucapan itu.
Nilai kebersamaan, persatuan, rekonsiliasi atau pengampunan, kekeluargaan,
solidaritas, kesetiakawanan, dan lain-lain, yang kebetulan sedang dialami dan
dirayakan oleh umat beragama tersebut turut didukung secara khusus.
Bukankah
nilai-nilai di atas penting untuk diangkat dan didukung sebagai langkah konkret
menuju sebuah kehidupan bersama yang lebih sejatera dan makmur? Lebih dari itu,
Gereja Katolik biasanya menyampaikan di dalam ucapan tertulis itu pula tema
tertentu yang dipandang penting sesuai tuntutan waktu sebagai topik permenungan
bersama.
Urusan dogma dan
kebenaran agama sejatinya adalah urusan internal agama tersebut dengan
Tuhannya. Jelas bahwa isi wahyu dan isi Kita-kitab Suci berbeda-beda. Opini
tentang kebenaran agama orang lain juga berbeda-beda.Tak perlu ada diskusi dan
debat. Toh masih ada segelintir umat beragama yang cenderung memprotes dan
menghina pemeluk agama lain hanya karena mengimani sesuatu yang berbeda.
Sebetulnya obyek sanggahan dan kritikan adalah Tuhan. Dari Tuhan pula harusnya
mereka yang mengeritik menerima jawaban yang paling sahih. Jawaban itu adalah
iman. Kalau tidak seiman, jelas tidak akan paham.
Setiap orang
beriman memiliki juga kesempatan dan hak serta kewajiban untuk menjelaskan
kebenaran iman dan agamanya kepada orang lain. Akan tetapi hal ini hanya bisa
dia lakukan di dalam koridor-koridor linguistik dan gestilukasi yang terbatas.
Di lain pihak, aspek misteri Tuhan tidak akan pernah dijangkau oleh manusia.
Kedalaman hikmat Tuhan tidak akan pernah bisa diselami oleh manusia. JalanNya
bukanlah jalan manusia.
Apakah ketika
seseorang merasa bisa menjelaskan Tuhan dengan menggunakan pendekatan matematis
atau empiris, orang itu dianggap sudah sukses mengungkapkan dengan sempurna
kebenaran tentang Tuhan? Tentu tidak. Yang tidak bisa dibahasakan oleh manusia
dan tidak bisa dipaham oleh otak manusia yang kecil, janganlah serta merta
dikatakan salah.
Marilah kita
berusaha untuk lebih fokus pada kebenaran agama kita masing-masing, menjalankan
ajaran agama kita secara benar, jujur dan kaffah sehingga agama kita tidak menakutkan
orang lain, melainkan sebaliknya menjadi berkat bagi dunia.
Tanggungjawab para
Pemimpin Agama
Adalah pertama dan
utama merupakan tanggungjawab pempimpin-pemimpin agama atau orang-orang publik
agamais untuk mengajarkan sikap kedewasaan atau keseimbangan dalam beragama
kepada setiap pemeluknya. Yang memiliki massa, entah itu melalui TV, Radio,
Surat Kabar, Media Sosial, atau mimbar, jauhkanlah segala ujaran kebencian dan
diskriminatif. Hindari pula hoax dan fake news. Di dalam situasi-situasi krisis,
setiap kata yang memuat rasa kebencian dan adu domba, akan mudah mendapat
gaungnya.
Para pemimpin
adalah orang-orang pertama yang paling bertanggungjawab terhadap keimanan orang
banyak. Menyadari posisi yang begini penting, setiap kesempatan di dalam masa
jabatan seorang pemimpin agama hendaknya dilihat sebagai anugerah Tuhan untuk
menabur sebanyak mungkin kebaikan.
Para pemimpin
agamalah yang seharusnya mengajarkan kepada umat masing-masing, bahwa
mengucapkan selamat kepada orang beragama lain adalah pertama-tama soal
kemanusiaan dan bukan aqidah. Dua hal ini berbeda. Mengucapkan selamat adalah
sebuah kesempatan yang baik untuk menyampaikan keinginan dan aspirasi secara
tidak langsung agar mereka yang sedang merayakannya bisa semakin berkembang di
dalam keimanan dan menjadi manusia-manusia saleh.
Indonesia masih
dijadikan oleh banyak negara lain sebagai contoh kerukunan dalam
keanekaragaman. Bangga kalau bisa dijadikan contoh. Tetapi kalau melihat suhu
intoleransi yang semakin naik, ditambah lagi dengan larangan mengucapkan
selamat yang cukup meresahkan dan mengganggu rasa satu nusa, satu bangsa, satu
bahasa kita, dan bahayanya bisa menjadi seperti „api dalam sekam“ bagi
kelompok-kelompok yang selama ini sudah berhaluan lain, entahkah kita masih
layak dan berbangga menjadi negara panutan?
Mari terus berjuang
untuk memberikan kesaksian kepada dunia bahwa dulu kita tidak pernah
mempermasalahkan ucapan selamat kepada satu sama lain. Sekarang juga sikap ini
tidak berubah. Yang berpikir dan bertindak lain tidak mewakili sikap dan posisi
masyarakat kita pada umumnya.
Kita semua tetap
bangga dan bersyukur menjadi orang Indonesia yang selalu merayakan perbedaan.
Kita merayakannya karena kita tahu merawat perbedaan-perbedaan kita dan tahu
pula memilah-milah masalah dan menemukan solusinya secara damai. Kita tidak
dengan mudah memperalat isu-isu SARA yang ujung-ujungnya membawa penderitaan
bagi kita semua. Sebaliknya kita lebih menghormati kemanusiaan dan
keindonesiaan kita yang merangkul sebagai ibu pertiwi.
Bhineka Tunggal Ika
adalah semboyan kita. Walaupun kita berbeda, artinya bahwa kita sama-sama
mengakui perbedaan-perbedaan kita sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas
kita yang bernama Indonesia, tetapi apapun yang terjadi, kita tidak akan mudah
dicerai-beraikan oleh apa dan siapapun, apalagi oleh perbedaan iman dan agama
yang sudah ada berabad-abad lamanya.
Kita tetap satu
Indonesia yang besar yang berada di atas segala perbedaan. Kita sudah selalu
„tertawa bersama mereka yang tertawa, dan menangis bersama mereka yang
menangis“. Dan itulah yang sudah membuat kita menjadi bangsa besar dan panutan
bagi dunia. Inilah kekhasan dan keunikan Indonesia yang ingin kita terus
sumbangkan kepada dunia.
Sumber: Facebook Pastor Markus tanggal 29 Desember 2018

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!