Headlines News :
Home » » Tonny Prawoto, Kemantapan Hati Memilih

Tonny Prawoto, Kemantapan Hati Memilih

Written By ansel-boto.blogspot.com on Thursday, August 02, 2007 | 10:50 AM

Salah seorang adik Tonny Prawoto terhenyak ketika menemukan jadwal Kursus Persiapan Perkawinan di saku celana kakaknya. Selama ini keluarganya tidak tahu jika ia menjalin hubungan dengan seorang gadis Katolik.

Meski berasal dari keluarga non Katolik, toh Tonny Prawoto memutuskan untuk mengikuti Yesus setelah menemui Justina, gadis pilihannya asal Sekadau, Kalimantan Barat (Kalbar).

Celakanya, kisah cinta keduanya luput dari keluarganya yang nota bene penganut agama non-Katolik taat. Sedangkan calon istri seorang penganut Katolik yang taat pula. Meski demikian, cinta dua sejoli ini telah mengalahkan segala rintangan.

Tonny mengakui, pihak anggota keluarganya sangat kaget bercampur sedih karena tiba-tiba saja ia mengemukakan rencananya menikahi gadis pilihannya dengan tradisi iman Katolik. Begitu pula dengan Mery Guntur, sahabat karib mereka.

“Kami sempat merasa kaget ketika dia mengungkapkan bahwa dia dan Yustina akan menikah di gereja Katolik,” tutur Mery yang selalu setia mendampingi mereka selama berkonsultasi dengan pastor.

Sedangkan keputusan Tonny Prawoto atas pilihannya ini menimbulkan kemarahan keluarga. Kemarahan kian memuncak setelah adik nomor ketiga menemukan jadwal Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) dalam saku celana milik pria ini.

Buntutnya, Tonny Prawoto “disidang” oleh seluruh anggota keluarga. Ia bahkan terus menuai protes atas keputusan itu. Meski demikian, ia mencoba dengan bijaksana memberikan pengertian kepada semua anggota keluarganya atas keputusannya itu.

”Saya sadar bahwa keputusan ini tidak diinginkan oleh seluruh anggota keluarga. Tapi saya yakin dan percaya bahwa inilah jalan hidup saya dan merupakan keputusan terbaik,” ungkapnya memberi alasan.

Perdebatan panjang di antara seluruh anggota keluarga akhirnya berakhir setelah ia meyakinkan mereka. Ia juga mendapat restu kedua orantuanya. Dan restu itu diyakini sebagai campur tangan Tuhan sehingga saat itu hatinya plong.

“Ambillah keputusan itu, Nak. Toh di kemudian hari kamu yang akan menjalaninya. Baik suka maupun duka,” kata Tonny menirukan kata-kata bijak ibunya.

Keluarga taat

Tonny Prawoto lahir di Jakarta pada 7 Oktober 1975. Ia berasal dari sebuah keluarga non-Katolik yang sangat taat beribadah. Dalam kehidupan sehari-hari, keluarganya termasuk taat menjalankan ajaran agamanya.

Ia menamatkan sekolahnya di SMA Trisula Jakarta Selatan. Selepas SMA, pria ini bekerja di Bank Surya. Bank itu terletak di kawasan elit Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.

Selama empat tahun ia bekerja di bank itu. Namun, pada pertengahan tahun 1997 krisis ekonomi melanda Indonesia yang berimbas pada likuidasi sejumlah bank. Termasuk Bank Surya, tempat ia bekerja.

Tonny akhirnya berhenti bekerja dari sana. Berbekal jiwa petualang dan semangat ingin bekerja di luar Jakarta, akhirnya Tonny memutuskan bertolak ke Bali. Ia ingin mencari pekerjaan apa saja di Pulau Dewata demi kelangsungan hidupnya kelak.

Dewi fortuna pun memihak padanya. Ia diterima bekerja di bagian administrasi PT Tri Khatulistiwa Fishindo (TKF). Perusahaan ini bergerak di bidang penangkapan dan pengeksporan ikan.

Sembari bekerja, ia juga terus menimbah pengalaman sebanyak-banyaknya. Tonny juga mulai bertemu dan mengenal orang-orang “penting” di kapal dan dapat berdialog bahkan melakukan meeting bersama. Apalagi iklim kerjanya sangat bagus. “Iklim kerja di perusahaan ini mendorong saya terus belajar dan bisa mengembangkan kemampuan saya,” cerita Tonny mengenang.

Jatuh cinta

Di perusahaan ini pula, ia menemukan gadis pilihannya, Yustina. Cinta dua manusia itu terus menggelora meski masih banyak kendala yang menghadang di depan mata. Dalam hati mereka yakin bahwa cinta mereka bisa mengantar keduanya menuju jenjang kehidupan rumah tangga.

“Saat-saat awal saya menghadapi banyak tantangan. Apalagi kami berbeda dalam hal yang sangat prinsip yaitu masalah agama. Toh saya tetap menunjukkan kepada Yustin bahwa saya serius memilih dia sebagai calon istri saya,” kata Tonny.

Tapi bagi Tonny, cinta bukan sekadar urusan perasaan. Semua harus dilewati dengan usaha dan kerja keras. Tak ayal, ia terus melakukan pendekatan dengan gadis kelahiran Sekadau, Kalimantan Barat itu. Ia tak segan-segan mengatakan cintanya pada gadis ini.

Tonny mengakui, 21 September 2000 adalah saat yang membahagiakan. Saat itu menjadi momen bersejarah dalam sejarah asmara mereka. Pasalnya, saat itu Tonny mengungkapkan perasaan cintanya kepada gadis pujaannya itu. Bak gayung bersambut. Cinta pria itu pun tak bertepuk sebelah tangan.

Keduanya melawati masa pacaran agar saling mengenal satu sama lain. Ketika Yustina mengikuti kebaktian di gereja, Tonny selalu mengantarnya. Ini menunjukkan ketulusan cinta. Sedangkan pada saat Tonny menjalankan ibadah Puasa, Yustina selalu mengingatkannya untuk menjalani dengan serius.

Dengan demikian bisa menambah pahala bagi mereka di kemudian hari. Oleh karena itu, selama menjalani masa pacaran, Tonny selalu berdoa dan memohon kepada Tuhan, sang Sumber Cinta. Ia selalu berdoa agar bila Yustin adalah belahan jiwanya maka ia diberi jalan.

Tinggalkan Bali

Setelah sepakat membangun rumah tangga, pada Oktober 2002 Tonny meninggalkan Bali menuju Jakarta. Keputusan itu juga segera diambil ketika sudah beredar isu bakal munculnya aksi terorisme di Bali.

Sedangkan Yustina tetap bekerja sebagai kasir di PT TKF. Di Jakarta, ia menyampaikan isi hati atas keputusannya menjalin hubungan dengan Yustina. Pihak keluarga pun tak keberatan. Untuk memantapkan rencana masa depan keluarga dengan Yustina, ia memutuskan bekerja di Carefour Cawang, Jakarta Selatan.

Nampaknya cinta kedua sejoli ini tidak mudah dipisahkan. Pada Desember 2002, Yustina menyusul ke Jakarta. Setelah melamar maka pada April 2003, gadis ini diterima sebagai karyawan Carefour Cawang, tempat di mana Tonny bekerja.

Seiring bertambahnya usia, Tonny merasa mampu dan siap membangun rumah tangga. Apalagi masa pacaran mereka memasuki tahun kelima. Sedangkan usianya hampir genap 30 tahun. “Saat itu saya memutuskan untuk menikah karena usia saya hampir tiga puluh tahun,” kata Tonny tersnyum sembari menunjuk sang istri yang duduk di sampingnya.

Ia mengisahkan, sekitar April 2004 keduanya mencari informasi bagaimana perkawinan bagi pasangan yang berbeda agama. Awalnya, mereka berkonsultasi di gereja melalui telepon. Suatu saat keduanya bertandang ke sebuah gereja di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Mereka berkonsultasi bagaimana melangsungkan sebuah perkawinan beda agama. Keduanya bertemu dengan Pastor Frans Pranata. Setelah bertemu mereka mendapat kemudahan. Pastor Frans menjelaskan bahwa sesungguhnya gereja tidak mempersulit perkawinan beda agama. Yang terpenting orang itu melaksanakan keyakinan itu dengan sungguh-sungguh.

“Jawaban Pastor Frans ini membuat saya makin semangat,” kata Tonny. Bahkan setelah menyampaikan keluarga dan mendapat jawaban dari keluarga, keduanya makin memantapkan langkah menuju jenjang perkawinan Katolik. “Puji Tuhan selama proses pengaturan surat-surat hingga pelaksanaan KPP berjalan lancar,” katanya.

Menikah

Setelah mengikuti mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) di Paroki St Ignatius Loyola selama tiga hari, pasangan ini menikah secara Katolik pada 23 Juni 2004 setelah keluarga merestui.

“Upacara Nikah Suci di Gereja St Petrus dan Paulus Sekadau, Keuskupan Sanggau, Kalimantan Barat dipimpin Pastor Wilhelmus Lae, CP. Upacara peresmian dihadiri keluarga besar dari pihak saya dan istri,” katanya bangga.

Tonny mengisahkan, hatinya semakin dikuatkan saat mendengar kotbah Pastor Wilhem tentang keluarga Katolik. Menurut Pastor Wilhem, keluarga Katolik harus mengikuti filosofi pelita. “Jika pelita itu hendak padam karena minyak kurang maka minyak harus selalu ditambah. Nah, dalam konteks keluarga maka jika dalam perjalanan hidup keluarga terjadi ketidakharmonisan perlu penyempurnaan kembali cinta suami istri,” lanjutnya.

Menyinggung tentang cita-cita yang ingin dicapai dalam keluarga, Tonny mengatakan ia ingin membangun keluarga yang rukun. Selain itu ia berjanji untuk mengikuti ajaran Katolik dengan sebaik-baiknya.

Bagi mereka, rejeki dan jalan hidup sudah ada dalam rencana Tuhan. Dalam bahasa yang berbeda, kata Tonny, manusia boleh merencanakan tetapi Tuhan jualah yang menentukan. ”Ini adalah keputusan saya sehingga saya akan menjalankan dengan sungguh-sungguh sesuai ajaran iman Katolik. Saya percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi keluarga saya,” katanya. (Ansel Deri/Konrad R. Mangu)
Sumber: HIDUP No. 36 Tahun ke-60 tanggal 3 September 2006
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger