Headlines News :
Home » » Pastor Lamberto Lalung Namang, SVD: Menjadi Pelayan di Ujung Bumi

Pastor Lamberto Lalung Namang, SVD: Menjadi Pelayan di Ujung Bumi

Written By Ansel Deri on Sunday, June 14, 2009 | 6:36 PM

SETIBA di Chile, ia melayani umat sepenuh hati. Berbagai kepercayaan diberikan padanya. “Saya datang dengan hati yang tahu mencinta dan membiarkan diri dicintai,” ujar Pastor Lamberto.

Pilihan hidup sebagai imam, mengantar Pastor Lamberto Lalung Namang, SVD menjadi misionaris di Chile. Pastor Lamberto, begitu imam asal Atawolo, Lembata, NTT ini disapa umatnya, tiba di Chile pada 12 Januari 1991. Ia menceritakan, jauh sebelum tahbisan imam, melalui Petitio Misionis, setiap kandidat melamar ke tiga tempat. Baik dalam maupun luar negeri.

“Pada putaran pertama, pilihan saya tiga negara yaitu Chile, Filipina, dan Indonesia. Saat itu ada 32 orang rekan imam seangkatan. Para petinggi serikat baik tingkat jenderalat di Roma maupun tingkat provinsi (Ende) mengharapkan kami melamar keluar negeri,” ujar Pastor Lamberto di Jakarta.

Harapan para petinggi serikat beralasan. Saat itu banyak permintaan dari luar negeri di mana serikat berkarya. Sayangnya, pada putaran pertama hanya sedikit imam yang melamar keluar negeri. Para petinggi pun mulai marah. Ia dan rekan-rekan imam melamar ulang. Saat lamaran kedua, ada tiga calon negara ia pilih. Maka pada urutan pertama, kedua, dan ketiga, ia hanya memilih Chile.

Pastor Lamberto pun buka kartu bahwa pilihan itu adalah pilihan primordial. Chile merupakan negara yang terletak di ujung paling selatan benua Amerika. Negara yang berada di “ujung bumi”. Pilihan ini juga masih ada kaitan dengan semangat petualang orang muda yang ingin mewartakan Sabda Tuhan “sampai ke ujung bumi” tanpa memikirkan resikonya.

Saat pengumuman, ia merasa bangga. Namun, pada waktu bersamaan hatinya bergolak. Sempat ia bertanya dalam hati. Apakah keputusan ini sungguh definitif. Atau masih bisa ditawar-menawarkan. Kecemasan yang muncul saat itu yakni harus meninggalkan ibu dan adik-adiknya. Sedangkan, ayahnya yang merantau ke Tanjung Pinang sejak ia berumur setahun lebih (1962) belum juga kembali ke kampung halaman.

Rute Panjang

Setelah mempersiapkan segala dokumen yang diperlukan, Pastor Lamberto memulai perjalanannya dengan maskapai penerbangan Lufthanza. Imam ini menempuh perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng menuju Bangkok (Thailand). Penerbangan dilanjutkan ke Frankfurt (Jerman), Rio de Jeneiro (Brasil), Sao Paulo (Brasil) dan terus ke Santiago.

Ia mengakui, melihat rute penerbangan dan jarak yang ditempuh dari Jakarta hingga Santiago maka rute Frankfurt ke Santiago adalah yang paling jauh. Dan saat masuk di Chile yang berbahasa Spanyol, ia sudah mengikuti kursus pendalaman Bahasa Inggris selama dua bulan.

Seorang misionaris jika dipanggil menjadi “Duta Sabda” maka ia tentu sudah disiapkan untuk bisa menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang bersifat “baru” dan “berbeda”. Kesimpulan ini, ujarnya, ditarik sesudah ia mengalami kesulitan menyangkut iklim, budaya dan lingkungan. Chile, misalnya, memiliki empat musim yakni panas, gugur, dingin, dan semi. Masing-masing berlangsung selama tiga bulan.

“Seiring berlalunya waktu dan melewati berbagai kesulitan maka otomatis kita akan menarik kesimpulan sendiri bagaimana mengatasi semua kesulitan itu. Saya salut dengan sifat penyayang umat. Mereka selalu memperhatikan apa yang kurang pada kita. Saat kita merayakan hari ulang tahun, Natal maupun Paskah, mereka menghadiahkan celana panjang, pakaian atau sepatu sesuai musim sekalipun harganya mahal,” ujarnya.

Kultur dan Sosial

Pastor Lamberto mengaku, kalau sekadar latar belakang kultur Indonesia dengan Chile, sebenarnya tidak ada masalah. Tapi, soal agama yang sedikit unik. Orang Chile merasa lebih katolik dari Indonesia. Sebanyak 70 persen dari 16 juta jiwa penduduknya beragama Katolik. Mereka sangat heran karena orang Asia jumlah penganut Kristiani hanya 3 persen. Begitu pula Indonesia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, bisa mengirim misionaris ke Chile.

“Mereka merasa terpukul. Ini terlebih pada masyarakat biasa yang tidak punya banyak wawasan tentang Gereja dan hakekatnya yang misioner. Gereja yang melampaui segala bentuk front atau dinding yang memisah,” katanya.

Ia punya pengalaman tahun 1993 saat ia mempersembahkan misa pemberkatan nikah suci di salah satu paroki tetangga. Saat itu ada seorang umat menyampaikan dengan nada protes. Kata umat itu, ia merasa malu dan tidak setuju kalau Indonesia yang Islam bisa mengirim orangnya untuk mengajar orang Chile yang Katolik.

Imam ini pun tak kehilangan akal menjawabnya. Ia mengatakan, memang benar bahwa mayoritas orang Chile beragama Katolik. Sedang Indonesia dengan mayoritas beragama Islam. Tapi, apa artinya kalau panggilan imam tidak ada. Yang namanya Katolik berarti universal. Ada di Chile ada juga di Indonesia.
Hormati Imam

Pastor Lamberto menceritakan, mayoritas orang Chile beragama Katolik. Mereka sangat menghormati dan menghargai para imam. Seorang imam, apa lagi misionaris yang sudah meninggalkan keluarga, bahasa, dan kebudayaannya maka ia selalu diterima.

Mereka punya sebuah nyanyian folklor. Si vas para Chile. Artinya, kalau nanti Anda pergi ke Chile. Penggalan lanjutannya seperti ini: “….dan anda akan merasakan sendiri. Betapa orang Chile sangat mencintai temannya (amigo) orang asing.” Folklor ini ditujukan khusus untuk orang asing yang berada di Chile.

Mereka menganggap, misionaris asing selain pewarta Kabar Baik, juga teman umat. Karena itu ia tidak perlu cemas kalau orang Chile tidak akan menerimanya. Pastor Lamberto juga kerap sharing dengan sesama saudara setanah air yang ada di Chile. Bahwa orang Eropa punya kemudahan dalam banyak hal untuk diterima orang Chile karena mereka punya uang, wajah, dan sebagainya.

“Kita datang dari Indonesia hanya membawa diri seadanya. Tapi bukan berarti kita tidak bisa memberi sesuatu. Dalam konteks misi, justru kita punya yang paling penting. Kita punya hati. Dan bukan sembarang hati melainkan hati yang tahu mencinta dan tahu membiarkan diri untuk dicintai. Itu yang saya praktekkan,” katanya.

Ia punya pengalaman selama empat tahun bekerja sebagai animator misi dan sempat berkeliling di sebagian besar Chile. Ada empat keluarga di kota dan propinsi berlainan sempat memberikan kunci rumah mereka. Kapan saja ia mau ia bisa membuka rumah itu.

“Seorang imam projo bilang, ‘Lamberto, saya orang Chile dan sampai sekarang belum pernah ada kenalan yang memberikan saya kunci rumahnya seperti kamu’. Tapi, pemilik rumah memberikan saya kunci rumahnya untuk saya,” lanjutnya.

Pionir

Pastor Lamberto mengaku, ia bersama Pastor Yoseph Muda, mereka tiba di Chile sebagai imam misionaris asal Indonesia pertama. Sebagai pionir, mereka lebih banyak berjuang sendiri. Terutama dalam hal bahasa, kebiasaan, pastoral, dan sebagainya. Perjuangan ini dibarengi dengan keterbukaan dan kerelaan untuk dibantu oleh orang lain. Tak ayal, seiring waktu yang berlalu, ia pun terus menunaikan tugas-tugasnya dengan baik bersama umat.

Saat ini, misalnya, ia sedang menyelesaikan tugasnya sebagai pastor paroki. Ini sesuai Plan Pastoral dari keuskupan. Nah, berdasarkan petunjuk program itu, ia menyusun program sendiri bersama umat sebagai. Sejak ia menangani paroki tahun 2004, ada beberapa program pastoral paroki yaitu Paroki Misioner (misionera), Paroki Solider (solidaria), dan Paroki Pewarta (kerygma, evangelizadora).

“Ketiga karakter itu menjawabi program keuskupan dan realitas paroki kita. Juga berkaitan dengan karisma serikat. Paroki kita merupakan paroki kota propinsi. Ia merupakan paroki yang paling luas dibanding dengan sebelas paroki lainnnya di kota ini,” ujarnya.

Dari delapan stasi, termasuk pusat paroki, empat darinya merupakan stasi paling miskin dengan konsekuensi banyak perampok dan penjahat, banyak trafik dan konsumsi narkoba. Situasi ini mendorong umat untuk solider. Artinya, umat bekerja keras membantu keluarga-keluarga miskin dan melarat. Bantuan itu berupa makanan, pakaian, obat-obatan dan sebagainya.

Ada realitas lain yang ia hadapi. Setiap tahun umat semakin menjauh dari gereja. Sedang di sisi lain makin berkembangnya sekte-sekte baru. Makanya, gereja pun memandang perlu menerapkan suatu pastoral yang sifatnya lebih agresif. Paling kurang menarik kembali mereka yang telah menjauh. Atau sedapat mungkin mempertahankan yang ada.

Di sini, kata Pastor Lamberto, dibutuhkan suatu program misioner yang permanen: mewartakan Sabda ad-intra dan ad-extra. “Kita tidak bisa merasa puas dengan umat yang datang ke misa hari minggu, karena jumlah itu hanya sedikit. Program ini berhasil karena mendapat dukungan dari umat, tetapi terlebih karena umat adalah protagonis utama,” jelasnya.

P Lamberto Lalung Namang, SVD

Lahir                    : Atawolo, Lembata, Nusa Tenggara Timur
Tahbisan Imam : Hokeng, Flores Timur 15 Juni 1990
Alamat                 : Parroquia San José Obrero
                                Manuel Rodriguez 310
                                Población Granja
                               Casilla 109 (Kotak Pos)
                               RANCAGUA–VI Región
                               CHILE

Tugas-tugas di Chile
· Pastor Parroquia San José Obrero Chile : Oktober 2004–Februari 2005
· Tugas di selatan Chile : Februari 1995–April 1988
· Animator Misi SVD Chile di Santiago : April 1998–Februari 2002
· Pastor Pembantu di Chile : Februari 2002–akhir 2003
· Pastor Parroquia San José Obrero Chile : Januari 2004–sekarang.

Tugas sampingan Gereja Lokal:
· Direktur Karya Kepausan dan sekaligus Ketua Komisi Misi tingkat keuskupan sejak 2005–sekarang.
· Diangkat oleh Uskup menjadi Pastor Pembimbing Marriage Encounter tingkat keuskupan sejak pertengan 2006–sekarang.
· Pastor Pembimbing Legio Mariae tingkat keuskupan sejak 2004–sekarang.

Tugas sampingan di tingkat Kongregasi:
· Anggota Dewan Propinsi SVD Chile sejak 2005–akhir 2007.
· Rektor Wilayah SVD Provinsi Chile sejak 2005–akhir 2007. 
Ansel Deri

Ket foto: Pastor Lamberto Lalung Namang, SVD (berdiri) saat merayakan Ulang Tahun Imamat ke–15 di Chile bersama para rekan imam dan suster. (gbr 1). Pastor Lamberto bersama anak-anak di tempat tugasnya. (gbr 2). Foto-foto: Dok. pri. 
Sumber: HIDUP edisi 14 Juni 2009
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger