Headlines News :
Home » » Dr Paulinus Yan Olla, MSF: Menarik Sebagai Negara Muslim Terbesar

Dr Paulinus Yan Olla, MSF: Menarik Sebagai Negara Muslim Terbesar

Written By Ansel Deri on Friday, October 16, 2009 | 12:03 PM

Dr Paulinus Yan Olla, MSF mendapat kepercayaan sebagai Sekretaris Jenderal MSF masa kerja 2007–2013. Sebelumnya, 2001–2007 ia mendapat kepercayaan sebagai anggota Dewan Jenderal saat menempuh studi doktoral.

KEPERCAYAAN itu tentu merupakan kebanggaan sekaligus tantangan berat bagi Pastor Paulinus tatkala tinggal di Benua Eropa. Kehadirannya saat menempuh pendidikan doktoral di Roma dan mendapat kepercayaan duduk di Dewan Jenderal MSF se-Dunia juga memberi warna tersendiri bagi Gereja Indonesia.

“Indonesia selalu dipandang sebagai negara Muslim terbesar di dunia, maka kehadiran sebagai imam Katolik menarik perhatian. Imam dari Indonesia yang belajar di Eropa jelas dilihat sebagai bentuk persiapan yang baik untuk kepentingan Gereja di Indonesia,” ujar Pastor Paulinus melalui surat elektronik (e-mail) dari Roma, Italia, Selasa, (8/9).

Kepercayaan itu tak pernah terlintas dalam pikiran Pastor Paulinus. Semua berjalan apa adanya. Sejak Oktober 2000, ia mulai mengikuti kuliah bidang Teologi Spiritual di Istituto di Spiritualità Teresianum, Roma. Pada 2004, ia mempertahankan tesis doktoral di bidang Teologi Spiritual di Teresianum.

Sejak 2001, saat masih berstatus mahasiswa doktoral ia terpilih sebagai anggota Dewan Jenderal MSF untuk masa kerja hingga 2007. Tahun 2007 Pastor Paulinus terpilih kembali menjadi Sekretaris Jenderal MSF masa kerja 2007-2013 sehingga ia harus tetap di Roma untuk tugas-tugas tersebut.

Menuju Roma

Pastor kelahiran kampung Seoam, Desa Eban, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Keuskupan Atambua, Nusa Tenggara Timur itu mengemukakan sekilas menjadi misionaris di Roma. Setelah ditahbiskan menjadi imam, Pastor Paulinus tidak pernah berpikir untuk ke Roma. Bersama salah seorang rekannya, mereka masih ditugaskan melanjutkan studi S-2 Teologi di Kentungan sambil bekerja di Paroki Banteng Yogyakarta dan mengajar di Universitas Sanata Dharma untuk Kuliah Moral, sebuah mata kuliah dasar umum.

Usai kuliah S–2, ia mendapat tugas sebagai Direktur Seminari Don Bosco, Keuskupan Samarinda, Kalimantan Timur. Kemudian mendapat kepercayaan sebagai Pastor Kepala Paroki Santa Maria Banjarbaru, Keuskupan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Setelah delapan tahun berkarya di Kalimantan, ia mendapat kesempatan melanjutkan studi doktoral bidang Teologi Spiritual di Istituto di Spiritualità Teresianum Roma.

Pastor Paulinus menempuh rute panjang. Dari Jakarta, ia terbang menuju Kuwait. Setiba di Ibu Kota negeri yang pernah diserobot Sadam Husein itu, Pastor Paulinus harus menunggu lima jam sebelum menuju jalan menuju Roma. Akhirnya, pada 22 Juni 2000, tepat pada perayaan hari Ulang tahunnya yang ke-37, imam ini menginjakkan kaki di Kota Roma. “Penerbangan dan perjalanan berlangsung aman. Pengumuman selalu dalam bahasa Inggris yang kurang jelas ditambah bahasa Arab yang tidak saya mengerti,” ceritanya. Hal ini beralasan karena tak ada persiapan khusus. Tugas di Kalimantan tidak memungkinkan ia menyiapkan bahasa-bahasa yang diperlukan untuk belajar di Italia.

Di Roma pun ia mengalami tantangan. Tantangan pertama adalah menguasai bahasa Italia yang cukup berbeda dengan struktur bahasa Indonesia atau Inggris. Tantangan budaya, selain dengan budaya lokal (Italia) juga dalam benturan dengan mahasiswa negara-negara lain yang berbaur dalam Collegio Internasional Olandese milik Konferensi Uskup-uskup Belanda di Roma.

“Di sana hadir imam dari semua benua dan budaya kosmopolitan. Setelah bekerja di Jenderalat pun tantangan budaya tetap ada karena anggota Dewan Jenderal yang berasal dari empat benua membawa muatan budaya masing-masing dalam hidupnya. Perlu terus-menerus dialog untuk memahami cara hidup dan tingkah laku yang berbeda, termasuk cara berdoa,” lanjut Pastor Paulinus.
Menyesuaikan diri

Menurut Pastor Paulinus, tidak ada cara khusus selain melihat situasi konkrit dan orang-orang yang dihadapi kemudian berusaha menyesuaikan diri. Kemampuan hidup bersama diuji melalui dialog untuk menemukan situasi yang nyaman bagi semua dengan mempertahankan perbedaan gaya hidup yang ada.

Meski demikian, masih banyak rekan-rekan imam yang berbaik hati membantunya. Pertama kali tiba, misalnya, ia dibantu rekan-rekan dari MSF walaupun dari bangsa lain. Setelah sebagai mahasiswa, komunikasi dengan imam maupun biarawan-biarawati dari Indonesia melalui forum Irrika atau Ikatan rohaniwan-rohaniwati Indonesia di kota Abadi sangat membantunya.

“Di Jenderalat kami pun didukung rekan rekan Indonesia lainnya yang bekerja di berbagai Jenderalat dalam forum Rehat atau Rekan Hidup antar-Tarekat. Sharing keberhasilan, kekecewaan dan ikatan sebagai saudara diadakan secara teratur untuk saling meneguhkan menghadapi tugas-tugas kongregasi masing-masing,” jelas Pastor Paulinus.

Komunikasi seperti ini menjadi penting. Apalagi, salah satu kendala adalah soal bahasa. Tahun pertama menjadi tahun penderitaan karena di Collegio Olandese bahasa yang dipergunakan sehari-hari adalah Inggris. Sedangkan di universitas semua ceramah kuliah dan soal ujian diadakan dalam bahasa Italia. Nah, jika tanpa persiapan yang memadai maka hidup sehari-hari dirasakan sebagai beban. Maklum saja. Bahasa Inggris yang dipelajari di Indonesia sebatas untuk membaca buku ilmiah.

“Percakapan sehari-hari menjadi tersendat. Masalah ini hanya teratasi setelah pada musim panas saya melewatkannya melalui kursus intensif di Dublin, Irlandia. Tinggal di rumah orang biasa dan belajar bahasa di Institut Bahasa di sana kemudian sangat menolong untuk kehidupan di Collegio dan dalam penulisan tesis doktoral saya,” kisah Pastor Paulinus.

Meski demikian, kesulitan dalam bahasa Italia diatasi sendiri dengan berjalannya waktu. Tesis walaupun ditulis dalam bahasa Inggris, dipertahankan dalam bahasa Italia. Dalam proses penulisan tesis akhirnya menambah pula penguasaan bahasa lain yang sangat vital yakni Perancis, Jerman, dan Spanyol.

Tugas Jenderalat

Pastor Paulinus mengemukakan, tugas utama di Jenderalat adalah bersama Jenderal dan dewannya (4 orang) memperhatikan dan mengarahkan jalannya kehidupan Kongregasi. Dari tugas utama itu ada kewajiban untuk mengunjungi para imam MSF di seluruh dunia. Pada periode yang lalu, misalnya, ia mengunjungi dan memperhatikan wilayah-wilayah Asia, Perancis, dan Madagaskar yang berbahasa Perancis dan USA yang berbahasa Inggris. Selain itu, kunjungan ke berbagai negara menjadi program tetap yang diadakan oleh Jenderalat setiap tahun.

Saat tercatat sebagai mahasiswa atau mengemban tugas di Jenderalat bukan berarti bebas tantangan atau godaan. Godaan utama sebagai mahasiswa dan kemudian di Jenderalat pada tahun-tahun awal adalah tiadanya kontak langsung dengan umat. Sebagai mahasiswa, sepanjang minggu yang digulati hanya tumpukan buku dan kegiatan rutin ke universitas. Hilangnya kontak dengan umat, diakuinya, bisa membawa krisis dalam menghayati identitas sebagai imam. Imamat seakan tidak difungsikan untuk pelayanan.

“Sedangkan di Jenderalat ketika tidak ada kunjungan ke berbagai komunitas di luar Italia, banyak waktu dihabiskan untuk rapat-rapat, rencana-rencana strategis untuk kehidupan Kongregasi. Banyak rapat sering menguras tenaga karena menghadapi juga keputusan-keputusan yang diajukan dari seluruh dunia ke Jenderalat. Putusan menyangkut nasib konfrater lain dan perjalanan imamat sering diambil dengan hati sedih atau prihatin,” kenang Pastor Paulinus.
Anak Guru Kepala

Pastor Paulinus lahir di kampung Seoam, Desa Eban, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupetan TTU, NTT pada tanggal 22 Juni 1963. Ia terlahir sebagai anak pertama dari 6 bersaudara pasangan Amatus K. Olla (alm) dan Theresia Naben (almarhumah). Seorang adiknya, Sr. M. Beatriks Olla PRR, kini sedang bekerja dan belajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Ayahnya adalah seorang guru dengan jabatan kepala sekolah SD Seoam I. Sebagai guru, ia mengabdi selama hampir 30 tahun. Sempat menjabat Kepala Kantor Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Miomaffo Barat, TTU. Sempat pula menjadi anggota DPRD TTU sebelum akhirnya dipanggil Tuhan setahun lalu. Sedang sang ibu, Theresa adalah ibu rumah tangga. Ia wafat tatkala Pastor Paulinus duduk di SMP.

Menurut Pastor Paulinus, sejak kecil tidak pernah ada yang mengarahkan untuk menjadi imam. Dalam keluarga besar ada pamannya yang pernah menjadi bruder. Beberapa lainnya menjadi imam. Kesadaran akan panggilan seakan muncul tanpa refleksi. Keyakinan akan adanya panggilan hanya bertumbuh ketika menjalani tahun-tahun pertama di Seminari Menengah Lalian di Atambua, Timor.

Namun, ia mengaku ada peristiwa lain yang membawanya pada pilihan menjadi imam. Saat masih SD, ada imam misionaris SVD di parokinya yang selama tiga malam berturut-turut menayangkan film hitam putih yang mengisahkan seluruh sejarah keselamatan. Mulai dari panggilan Abraham sampai kebangkitan Yesus. Saat itu, Paulinus kecil ikut menikmatinya selama tiga malam berturut-turut. Durasi filmnya lumayan lama karena dimulai pukul 21.00 malam sampai pagi. Nampaknya minat akan hal keagamaan merasuk hati tanpa disadari.

Begitu pula persiapan untuk komuni pertama agak lama. Mulai dari kelas 2 sampai kelas 4 SD. Begitu lama sehingga ada rasa rindu dan tidak sabar. Hal lain yang membentuk hidup rohani adalah kakek dari pihak ibu yang ditugaskan menjadi guru agama. Ia menjadi kader misionaris Belanda. Ia hidup sebagai petani namun di malam hari mengumpulkan para katekumen dewasa untuk mengajarkan katekismus dan persiapan komuni. “Ceritera-ceritanya selalu menarik karena dibawakan dalam bahasa setempat dan sangat merakyat. Ia pun menjadi idola dan disegani seluruh kampung. Saya pun ingin menjadi seperti dia,” cerita Pastor Paulinus.

Figur lain yang tak kalah penting saat ia belajar teologi adalah pribadi St Paulus. Bagi Paulinus, Paulus menjadi misionaris yang ia hormati, segani dan berusaha untuk meneladaninya. Bahkan saat menulis tesis doktoralnya, imamatnya secara lebih mendalam tersentuh oleh pribadi Jean Berthier, pendiri MSF.

“Jean Berthier adalah imam Perancis di akhir abad 19 yang berusaha dengan segala kemampuannya mewartakan Injil secara populer melalui kotbah-kotbah dan buku-bukunya yang tersebar dan sangat berpengaruh sampai sebelum Vatikan II. Dari dia saya belajar mendaratkan teologi saya, terutama merambah bidang-bidang sosial, politik, dan kemasyarakatan melalui tulisan-tulisan misalnya di Kompas atau majalah Rohani. Pendiri saya sangat dikenal di Jurnal Katolik de la Croix di zamanya, dan buku-bukunya menjadi buku bacaan yang direkomendasi sebagai buku wajib di Seminari Tinggi antara lain di Kesukupan Grenoble,” ujar Pastor Paulinus bangga.

Bagi Pastor Paulinus, pada dasarnya imamat sebuah rahmat dan sapaan pribadi Tuhan untuk orang yang terpanggil. Ia berdiri di atas dasar relasi pribadi dan pengalaman dikasihi Allah. Pengikraran kaul religius dan imamat hanya mengukuhkan secara sakramental pengalaman dasar itu. Oleh karena itu, yang sudah dan terus didoakan dalam tugas imamat adalah kesatuan dengan Kristus yang dirayakan dalam Ekaristi setiap hari.

“Semakin hari semakin berusaha menyatukan diri dengan-Nya dan membiarkan Roh Kudus berkarya dalam kehidupan karena saya yakin bahwa terus-menerus dikasihi Allah yang adalah Bapa. Sebuah hidup triniter dalam kesederhanaan hidup harian sebagai imam,” kata imam yang mengambil moto tahbisan yang dikutip St Paulus dalam 2 Kor 12: 9-10: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna... Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” 
Ansel Deri/Hermien Botoor

Dr Paulinus Yan Olla, MSF

Lahir         : Seoam, Desa Eban, TTU 22 Juni 1963
Orangtua : Ayah Amatus K. Olla dan ibu Theresia Naben.
Saudara : 
1. Margaretha Olla
2. Regina Olla
3. Sr. M. Beatriks Olla, PRR
4. Ursula Maria Olla
5. Herman Yoseph Olla

Riwayat Pendidikan:
• SMP Xaverius Putri Kefamenanu, TTU tahun (Januari 1976- Juli 1979 kebijakan pemerintah menjadikan SMP berlangsung 3,5 tahun).
• SMA Seminari Lalian St Imakulata Lalian, Atambua, September 1979-Juni 1983.
• Novisiat MSF di Salatiga tahun 1983 – 1984.
• Studi Filsafat dan Teologi di Kentungan Yogyakarta tahun 1984-1994.
• Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Putain, Keuskupan Agung Kupang tahun 1987-1988.
• Tahbisan Imam di Yogyakarta tahun 1992.
• S-2 di Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma (Kentungan) tahun 1994.
• S-3 bidang Teologi Spiritual di Istituto di Spiritualità Teresianum, Roma, Italia, tahun 2004
dengan tesis Missionary Spirituality of Jean Berthier. A Searching for a Missionary Spirituality in the light of the Redemptoris Missio, No. 87 – 91.

Riwayat Penugasan:
• Pastor pembantu Paroki Banteng Yogyakarta, 1992-1994. Saat yang sama Mahasiswa S2 dan Pengajar Kuliah Moral di Santa Dharma dan AKS Tarakanita Yogyakarta sejak tahun 1990.
• Direktur Seminari Don Bosco, Keuskupan Samarinda, Kalimantan Timur tahun 1995-1997.
• Pastor Kepala Paroki Santa Maria Banjarbaru, Kalimantan Selatan tahun 1997-2000.
• Melanjutkan studi doktoral di Istituto di Spiritualità Teresianum, Roma, Italia tahun 2000.
• Anggota Dewan Jenderal MSF se-Dunia tahun 2001-2007, ia mendapat tugas mengunjungi dan memperhatikan wilayah-wilayah Asia, Perancis, dan Madagasakar
• Sekretaris Jenderal MSF tahun 2007-2013.
• Sebagai Sekjen MSF baru, tetap memperhatikan wilayah-wilayah yang menjadi tanggungjawabnya pada periode yang lalu dengan tambahan juga ke wilayah Amerika Latin.

Di luar tugas sebagai imam, Pastor Dr Paulinus Yan Olla, MSF juga menulis artikel-artikel sosial-politik dan kemasyarakat. Di Indonesia, artikel-artilelnya kerap muncul di Kompas, harian terbesar di Indonesia. Menulis artikel kerohanian di Majalah Hidup dan Rohani. Artikel rohaninya dimuat juga dalam bahasa Portugis di Majalah Convergência dan dalam bunga rampai Penerbitan IFIBE, Passo Fundo di Brasil.
Sumber: HIDUP edisi 4 Oktober 2009
Dok foto: Fb Pastor Paulinus Yan Olla MSF
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger